Duh, maaf ya updatenya telat banget! Soalnya Purinsha sibuk sama PR juga sakit beberapa hari - sebenernya sekarang juga masih sakit. Aku bakalan coba untuk lebih disipline lagi deh. Maaf ya, silahkan baca


Chapter 6: The Memories

Shikamaru memandang keluar jendela dengan wajah muram. Matanya merah bengkak karena terbangun semalaman. Ia hanya terus memandang langit, seakan mencari sesuatu di sana. Sesuatu yang dapat mengusir kepedihan hatinya.

'Apa-apaan ini? Memangnya kenapa kalau aku tak bisa bertemu Temari lagi?' tanya Shikamaru dalam hati dan memukul jendela pelan dengan kepalan tangannya.

'Ia cuma orang asing bagiku, bukan siapa-siapa. Justru bagus 'kan kalau aku tidak berhubungan lagi dengannya.'

'Ya itu benar, ia melakukan hal yang benar. Jika aku terus berhubungan dengan Temari terlalu dalam maka aku akan menjadi pihak yang terluka.'

'Ini adalah yang terbaik.'

Shikamaru menghela napas. Ia berusaha melupakan rasa sakit yang menyerang dadanya. Meskipun ia sendiri tidak mau mengakuinya namun hari-harinya terasa jauh lebih berarti sejak ia bertemu dengan Temari.

Shikamaru tidak memiliki teman.

Orang tuanya pun mengabaikannya.

Lalu, hari-hari Shikamaru pun terasa hampa sampai ia tak memiliki kenangan yang layak untuk di kenang. Sampai ia merasa bosan untuk setiap harinya. Sampai ia merasa kalau ia ini tidak 'hidup'.

Shikamaru adalah anak yang terlahir di tengah keluarga yang harmonis, memiliki otak encer dan juga di kelilingi teman-teman yang baik. Sekilas semuanya tampak begitu bahagia. Ya benar, memang saat itu ia merasa begitu bahagia. Ia adalah seorang anak laki-laki biasa yang memiliki senyum ceria dan juga bersemangat

Sangat berbeda dengan dirinya yang sekarang.

Waktu memang sangat kejam. Waktu bisa mengubah kehidupan orang teramat dastris. Bila sekarang Shikamaru memikirkan seperti apa 'dunia'nya saat ia masih duduk di bangku SD, seperti dua dunia yang terpisahkan dengan jarak yang sangat jauh.

Bagaikan terang dan gelap. Sangat berlawanan.

Hari-hari yang dipenuhi kenangan indah dan juga senyum tawa. Kini ia melalui hari dengan penuh kekosongan dan tanpa arti.

Tentu itu semua ada alasan dan sebabnya.

Hal pertama yang mengubah kehidupan Shikamaru menjadi 180 derajat adalah pertengkaran kedua orang tuanya.

Ia lupa sejak kapan orang tuanya bertengkar. Namun, sayangnya ia masih ingat pertengkaran pertama keduanya.

Flash Back

Shikamaru saat masih berumur 7 tahun. Ia sedang asik membuat gambar di atas kertas di meja makan. Di sekitarnya bertebaran crayon dengan berbagai warna dan juga kertas-kertas yang dipenuhi berbagai macam gambar.

Tangannya dengan lincah menggambar berbagai bentuk yang ia inginkan. Ia kemudian tersenyum saat melihat gambarnya sekali lagi.

Gambar dirinya dan kedua orang tuanya. Ia berada di tengah dengan ayah dan ibunya menggandeng tangannya. Inilah gambaran kecil dari keluarga harmonis Nara.

PRANG!

Shikamaru terkejut dan segera berdiri dari kursi dan mencari sumber arah suara.

"Apa-apaan kamu!?"

"Kamu itu yang 'apa-apaan'!!"

Shikamaru mendengar suara dua orang yang saling berteriak satu sama lain. Ia memacu kakinya untuk berlari jauh lebih cepat.

Ia memiliki firasat tidak enak.

Ia telah sampai di ruang keluarga, mulutnya hendak terbuka untuk menanyakan apa yang tengah terjadi sebenarnya namun ia segera berhenti begitu melihat apa yang ada di depannya.

Kedua orang tuanya yang sangat ia cintai.

Kedua orang tua yang ia percaya adalah orang yang patut diteladani.

Kini sedang bertengkar.

Shikamaru hanya bisa terpaku. Ia melihat ibu dan ayahnya saling berteriak satu sama lain. Mereka mempeributkan hal yang langsung ia mengerti. Terima kasih untuk otaknya yang jenius.

Intinya, dari semua teriakan random yang mereka keluarkan. Ada orang 'ketiga' di antara mereka. Atau setidaknya, itulah yang dicurigai ibunya.

Dan, inilah yang terjadi. Mereka saling berteriak, memahari, dan Shikamaru pun merasakan hawa panas di sekitar mereka.

Ibunya, Yoshino, melempari berbagai perabot pecah belah di sekitarnya untuk melampiaskan kekesalannya. Ayahnya, Shikaku hanya berusaha untuk mengelak dari apa yang diteriakan Yoshino padanya.

Tentunya sebagai seorang anak, pemandangan itu adalah mimpi terburuk mereka. Air mata Shikamaru mengalir seiring dengan angannya yang berharap ini cuma mimpi. Ia ingin menghentikan pemandangan mengerikan yang ada di depannya. Suaranya serak karena isak tangisnya namun orang tuanya sama sekali tak bisa menanggapi.

Mereka berdua seakan menganggap Shikamaru tak ada di sana.

Mereka berdua seakan melupakan keberadaan Shikamaru.

End of Flash Back

Sejak saat itulah, kedua orang tua Shikamaru menghapuskan keberadaan dirinya dari hati mereka. Sejak saat itulah, rumah yang kini mereka tempati jadi terasa seperti neraka kesunyian. Sejak saat itulah, tak pernah ada lagi tawa yang terdengar di rumah itu.

Shikamaru membiarkan dirinya jatuh ke ranjang. Hatinya kembali teringat akan luka lama yang sejak dulu tak bisa ia sembuhkan seorang diri.

Ia tak pernah berpikiran kalau hidupnya akan jadi seperti ini. Ia tak pernah berharap hidupnya akan jadi seperti ini. Ia tak pernah menginginkan hidupnya akan jadi seperti ini.

Ia tak bisa melupakan betapa pahit hidupnya setelah keharmonisan keluarganya retak dan kemudian hancur. Ia memang tak bisa menghitung berapa kali ia menangis di sudut kamar sambil mendengar pertengkaran orang tuanya. Ia tak tahu berapa kali ia merasa iri ketika melihat teman-teman sebayanya yang tersenyum bahagia bersama kedua orang tua mereka.

Dan, tentu, ia pun telah melakukan apa yang ia bisa untuk meraih kembali simpati kedua orang tuanya padanya.

Ia memang sedih melihat hubungan kedua orang tuanya yang ada di ambang kehancuran – bahkan sampai sekarang tak ada perubahan. Namun, yang paling ia sedihkan adalah bagaimana cara orang tuanya mengacuhkan dirinya.

Ia merasa sedih ketika orang tuanya menganggap ia bahkan tak berada di sana.

Shikamaru telah melakukan banyak hal untuk meraih kembali perhatian kedua orang yang telah membesarkannya. Mulai dari mendapat ranking pertama di sekolah, memenangkan beberapa perlombaan dalam bidang akademik ataupun berkelahi dengan teman sekelas.

Dan, semuanya hanya berakhir dengan kegagalan.

Ia berusaha menjadi anak yang baik, namun orang tuanya tetap tak memperdulikannya.

Ia berusaha menjadi anak yang nakal pun, orang tuanya tetap tak menoleh padanya.

Shikamaru merasa seperti anak yatim piatu.

Ia masih ingat, betapa sedih hatinya ketika ia mendapat penghargaan sebagai juara olimpiade matematika tingkat satu sekota. Orang tuanya tak ada di sana dan ia melihat juara-juara di bawahnya seperti juara kedua, ketiga ataupun yang lainnya mendapat sambutan bahagia dari orang tua mereka, mereka mendapatkan pujian dari orang tua mereka dan orang tua mereka bangga akan mereka. Saat itu, tiba-tiba Shikamaru merasa ada di dunia yang berbeda dengan mereka. Ia merasa hanya sendirian. Ia sangat sedih dan marah sampai ingin rasanya ia membanting piala dan piagam yang ada di tangannya.

Ia masih mengingat jelas semua itu.

Shikamaru menutup matanya, ia merasa matanya panas dan air sudah terkumpul di kelopak matanya.

Dan, yang membuat hidup Shikamaru menjadi hancur bukan hanya itu saja.

Hal kedua, teman-temannya....

Ya....Shikamaru adalah anak yang baik dulu. Tentunya ia dikelilingi banyak teman. Namun, saat ia masuk SMP...

Flash Back

Shikamaru berumur 13 tahun. Setelah bertahun-tahun menjadi anak broken-home, matanya yang innocent dan senyumnya sudah pudar dari wajahnya. Dan, belum selesai masalahnya itu, ia kembali mendapat masalah lain lagi.

"Shikamaru, selamat! Kau dapat nilai 100 lagi."

Inilah saat-saat yang paling dibenci Shikamaru. Saat gurunya mengumumkan berapa hasil nilainya – yang selalu dapat nilai sempurna. Jalan dari mejanya menuju depan kelas terasa sangat panjang, hal itu karena....

"Tuh kan, dia itu memang otak computer."

"Ih, dia itu sombong banget ya?"

"Sok banget sih."

"Kalau memang sudah pintar untuk apa sekolah?"

Shikamaru sebisa mungkin berusaha untuk tidak memperdulikan semua cibiran yang terasa menggema di telinganya. Ia sama sekali tidak senang akan semua itu.

Ia memang sangat pintar, atau malah masuk kategori jenius. Saat SD, teman-temannya tak begitu menyadari hal itu. Namun, sesudah masuk SMP, mereka mulai sadar. Shikamaru merasa heran dengan perubahan sikap teman-temannya. Entah kenapa, dalam sekejap rasanya semua orang jadi sirik padanya. Orang yang berusaha mendekatinya pun hanya orang-orang yang ingin memanfaatkan dirinya saja.

Itulah awal mula Shikamaru menutup dirinya.

End of Flash Back

Keluarga hancur dan teman pun tak ada. Itulah alasan mengapa hidup Shikamaru terasa tak berarti.

Karena menjadi anak baik pun tak ada yang senang ataupun bangga padanya, maka ia memilih menjadi anak badung yang tak peduli akan apapun.

Warna dalam hidupnya telah pudar. Suara dalam hidupnya pun telah lenyap. Entah apa lagi yang tersisa untuknya sekarang.

Sekarang.....

Terutama karena sekarang Temari pun ingin menghapuskan keberadaannya dari dalam hatinya.


Anehnya entah kenapa chapter ini kuketik tapi Temari sama sekali gak muncul. Mungkin ia bakal muncul untuk chapter besok. Nantikan saja.

Review please!!!!!!! Aku bener-bener butuh dukungan untuk terus ngelanjutin fic ini!!!!!