Bagai kehilangan sesuatu yang berharga, kini kedua mata Kyuhyun menjadi gelap. Wajahnya terlihat pucat. Dengan tubuh yang kaku bagai mematung, ia hanya bisa berdiri sambil menyaksikan semua itu, tanpa sanggup bergerak sedikitpun. Tubuhnya seakan mati rasa.

Saat ini yang berada dalam pandangan Kyuhyun, adalah sepasang manusia yang tengah berciuman dalam pelukan erat.

.

.

Rasa sakit yang kurasakan saat melihatnya bahagia dan itu bukan karena aku.

.

.

Bahkan sampai aku mati pun, kurasa aku takkan pernah sanggup membuatnya mencintaiku.

.

.

AlvinaVin presents...

''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''

Park of Memories

Chapter 7

Pairing: KyuWook / New pairing: MiWook

Cast: Kyuhyun, Ryeowook, Sungmin, Yesung, Siwon, Kibum, Heechul, and Zhoumi

(Pairing dan Cast bisa bertambah seiring berjalannya waktu)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Disclaimer: Tokoh yang ada dalam ff ini sepenuhnya milik diri mereka masing-masing.

Warning: Switch gender, OOC, AU

''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''

.

.

Yesung sebagai satu-satunya namja yang kini berada di dekat Kyuhyun, memutuskan untuk menepuk bahu sang teman dengan pelan dari belakang.

"Kyuhyun..." panggilnya perlahan, namun tak kunjung mendapatkan balasan.

Dengan kesabaran yang Yesung miliki, ia membiarkan tangannya tetap berada pada bahu Kyuhyun dan bermaksud menunggu sampai namja itu meresponnya.

"Yesung, tolong..." ujar Kyuhyun dengan suara yang terdengar lemah. "Tolong... bawa aku pergi dari sini."

GLEK!

Yesung terkejut akan suara dan pernyataan yang diutarakan Kyuhyun. Seketika pikirannya terhenti, terfokus akan apa yang baru saja diucapkan oleh temannya itu. Yesung tetap terpaku selama beberapa detik, kemudian ia tersadar, menarik tangan Kyuhyun dengan perlahan, dan membawa namja itu untuk pergi.

''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''

Di dalam sebuah kamar...

"Ini seperti kisah dimana seseorang yang mempunyai hubungan khusus dengan seseorang ternyata disukai oleh seseorang yang lain."

PLAK!
Sungmin memukul lengan Yesung kasar.

"Ah! Kenapa kau senang sekali memukulku?" protes Yesung tak terima atas perlakukan Sungmin padanya.

"Kau memang pantas mendapatkannya," ucap Sungmin bermaksud mencibir. "Jangan dengan santainya menggunakan kata seseorang untuk perandaian sementara salah satu dari tiga seseorang itu sendiri sedang terpuruk disini."

Keduanya segera menoleh ke arah seorang namja yang sejak tadi memang ada bersama mereka. Seorang namja yang sejak tadi juga duduk di lantai sama seperti keduanya. Namja yang tepatnya bernama Cho Kyuhyun.

"Kyu, apakah kau baik-baik saja?"

Sungmin dan Yesung memandang Kyuhyun dengan pandangan khawatir.

Kyuhyun tetap terdiam. Tak kunjung memandang wajah keduanya. Ia mengalihkan pandangannya, membiarkan dirinya terus menerawang jauh dan samar. "Dadaku rasanya sesak sekali. Kenapa rasanya sakit?"

Sungmin dan Yesung pun hanya bisa terdiam. Terus memperhatikan Kyuhyun, membuat keduanya merasa miris.

"Eotteokhae..." gumam Kyuhyun. Suaranya terdengar parau. "Eotteokhae... eotteokhae..."

BRAK!

"Mian membuat kalian lama menunggu," ujar Kibum yang baru saja membuka pintu sebuah kamar tempat dimana Kyuhyun, Yesung, dan Sungmin sejak tadi berada. "Ini aku bawakan es teh manis beserta kue bolu untuk kalian."

Bisa ditebak bahwa saat ini mereka semua tengah berada di rumah Kibum.

Kibum pun mulai melangkah masuk ke dalam kamarnya sambil membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman, lalu meletakkan nampan tersebut di lantai, tepat di dekat ketiga tamunya. Mendadak, raut wajah Kibum pun berubah saat menyadari atmosfer dalam kamarnya sedang kurang baik.

"Gwenchana?" tanya Kibum pelan.

"Ah, ini kami sedang membicarakan tentang Kyuhyun," ucap Sungmin sedikit terbata.

"Kyu, gwenchana?" tanya Kibum, kali ini langsung pada sumbernya.

Kyuhyhun tak menjawab.

Mendapati suasana yang tak bersahabat, Yesung pun memandang Sungmin dengan tatapan yang seolah meminta Sungmin untuk bicara pada Kibum sekarang.

Sungmin yang mengerti maksud Yesung pun kembali angkat bicara. "Masalah yang dialami Kyuhyun sepertinya ada hubungannya dengan namja yang tadi eonni ceritakan."

Pernyataan Sungmin membuat Kibum sedikit tersentak. "So—soal... namja tadi?"

"Kami tidak yakin. Hanya saja kemungkinan besar namja yang sedang kita curigai adalah namja yang menemui eonni tadi pagi, yang eonni bilang adalah adiknya teman eonni," jelas Sungmin membuat Kibum semakin penasaran.

"Tolong ceritakan apa masalah Kyuhyun yang sebenarnya."

Yesung dan Sungmin pun kembali berpandangan seakan meminta satu sama lain untuk memberikan penjelasan lebih lanjut pada Kibum.

"Kumohon beritahu aku. Jebal," pinta Kibum yang akhirnya meluluhkan kedua temannya itu.

"Tadi aku sempat datang ke rumah sakit bersama Kyuhyun untuk menjenguk Ryeowook," ucap Yesung sementara Kibum fokus mendengarkan penjelasannya dan Sungmin hanya bisa berharap-harap cemas. "Saat kami sedang berada di depan kamar Ryeowook, kami mendengar ada suara tawa yang cukup keras. Lalu kami pun berinisiatif untuk mengintip melalui celah pintu yang ada. Saat kami mengintip... kami menemukan Ryeowook ada disana, sedang bersama seorang namja."

"MWO?!" pekik Kibum.

Sungmin menimpali. "Aku menduga bahwa namja itu adalah namja yang eonni ceritakan padaku."

Butuh waktu bagi Kibum untuk mencerna apa yang Yesung dan Sungmin katakan.

"Apa yang namja itu lakukan disana? Seperti apa ciri-cirinya?" tanya Kibum bertubi-tubi.

"Saat aku mengintip, aku melihat namja itu mengobrol dengan Ryeowook."

"Lalu ciri-cirinya?"

"Tinggi dan..." Yesung tampak berpikir sejanak. "Sepertinya tampan."

"Jeongmal?"

"Ne."

"Hmmm... sepertinya memang dia," ujar Kibum cukup yakin. "Seingatku dia memang tinggi dan tampan."

"Apakah dia benar-benar tampan?" tanya Sungmin terlihat antusias.

Kibum dan Yesung pun mengangguk secara bersamaan.

Wajah Sungmin mencerah seketika. "Ckckck, aku jadi penasaran seperti apa tampangnya."

Melihat respon Sungmin, Kibum dan Yesung mulai menggumamkan hal yang sama dalam benak masing-masing. 'Dasar, dengar kata namja tampan saja langsung begitu.'

Mendadak mata Kibum dan Yesung menangkap gerak gerik Kyuhyun yang kini mulai membaringkan tubuhnya di atas lantai. Sungmin yang memperhatikan perubahan arah pandang keduanya pun memilih untuk mengikuti arah pandang mereka.

"Kyu, kenapa kau berbaring di lantai?" tanya Kibum pelan.

"Tak mungkin kan dia berbaring di atas ranjang noona," celetuk Yesung yang langsung mendapatkan geplakan dari Sungmin. "Aaah, mulai lagi."

"Jaga bicaramu," desis Sungmin sebal.

"Gwenchana..." lirih Kyuhyun. "Kalian lanjutkan saja bicaranya. Aku hanya sedang kacau."

Ketiganya mengerti dan menuruti perkataan Kyuhyun.

"Jadi masalah Kyuhyun sekarang itu soal dia punya saingan baru?"

"Ne." Yesung dan Sungmin menjawab bersamaan.

Tanpa ketiganya sadari, Kyuhyun yang sedang dalam posisi berbaring di atas lantai, kini tengah menangis. Bulir-bulir air mengalir turun dari kedua matanya yang telah basah oleh air mata. Sebagai seseorang yang terluka, hatinya merasa berat dan takut untuk mengungkapkan alasan sesungguhnya yang paling membuatnya terluka. Tetes demi tetes air mata yang bening itu kian membasahi wajahnya.

Kyuhyun menangis dalam diam. Ketiga orang yang kini berada di dekatnya tidaklah tahu apa yang paling membuat hatinya teriris.

Ia ingin membiarkan kesedihan itu berlalu...

Bersama dengan air mata dan rasa sesak yang pasti akan berhenti suatu hari nanti.

''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''

"Kenapa mereka semua bisa menginap di rumahmu?"

Kibum menarik napas dalam dan menghembuskannya. Dalam ruang tamu rumahnya yang saat ini tak ada siapapun, Kibum yang semula memilih untuk berdiri, kini mendudukkan dirinya di atas sofa. Tangan kirinya masih setia menggenggam ponsel yang sejak tadi ia dekatkan pada telinga kirinya. Tampaknya ia sedang melakukan pembicaraan dengan seseorang.

"Tiba-tiba saja mereka bertiga datang dan bilang butuh tempat untuk bicara, jadi aku langsung mempersilakan mereka masuk ke dalam kamarku," jelas Kibum pelan. Nada suaranya menunjukkan bahwa ia sudah lelah.

"Lalu?"

"Mereka terlihat lelah seperti habis terburu-buru. Suasana hati Kyuhyun juga kelihatannya sangat buruk, membuatku jadi ingin berbaik hati kepada mereka, makanya aku menawarkan mereka untuk menginap di rumahku saja."

"Lalu apa yang mereka bicarakan? Apa ada hubungannya dengan Kyuhyun?"

"Begitulah. Mereka membicarakan soal masalah Kyuhyun."

"Hmm... arra. Masalah apa yang sedang Kyuhyun hadapi?"

Awalnya Kibum terdiam. Kemudian dengan perlahan, ia mulai menceritakan semua yang terjadi. Dimulai dari pertemuannya dengan seorang namja, hingga apa yang Kyuhyun dan Yesung alami. Butuh waktu beberapa menit untuk menjelaskan seluruh peristiwa yang terjadi.

"Arraseo... aku sudah mengerti semua sekarang, tapi... apa kau tidak merasakan ada sesuatu yang aneh?"

"Sesuatu yang aneh? Mwo?"

"Bukankah tadi kau bilang keadaan Kyuhyun terlihat sangat buruk?"

"Ne." Kibum mengiyakan, reflek mengangguk.

"Kurasa ada hal lain yang membuatnya seperti itu, selain soal dia mendapatkan saingan baru."

Sesaat, kesunyian melingkupi keduanya.

"Siwon..."

"Hmm?"

Secercah senyuman mulai mengembang di wajah Kibum. "Kau memang pintar."

Suara tawa dari seorang namja yang Kibum panggil Siwon pun mulai terdengar. "Gomawo. Aku tahu aku memang pintar."

Setelahnya, Kibum tak menyahut. Ia membiarkan keheningan kembali muncul selama beberapa saat.

"Kenapa diam?"

"Ah, aku hanya sedang berpikir."

Siwon tak langsung membalas. Ia sedikit terkejut mendengar jawaban sang yeoja. "Berpikir? Mwoya?"

"Sebenarnya... dari awal aku sempat curiga soal itu."

"Soal..."

"Soal masalah Kyuhyun." Perkataan Kibum terhenti, kemudian ia kembali melanjutkan. "Dari awal aku sudah curiga kalau ada sesuatu yang sangat buruk terjadi padanya sampai-sampai dia jadi seperti itu. Rasanya aneh kalau Kyuhyun terlihat se-menyedihkan itu hanya karena Ryeowook bersama namja lain."

"Arra. Itu benar." Suara Siwon terdengar berat. "Kau membuatku semakin yakin."

.

.

Sementara itu...

.

~~Ryeowook's POV~~
"Hoaaam..."

Aku menguap lebar sembari merenggangkan tubuhku yang terasa pegal. Rasa kantuk yang besar mulai merasukiku.

"Kau sudah merasa ngantuk?" tanya namja itu sambil memperhatikanku lekat. Suara lembutnya sedikit mengejutkanku.

Aku pun mengangguk. Kubiarkan ketenangan menyisip di antara kami berdua.

Kupandangi namja itu, namja yang telah menemaniku sejak beberapa jam yang lalu. Namja yang semenjak tadi duduk di sebuah kursi, di samping ranjangku.

Inilah pertama kalinya namja itu datang menjengukku, seorang namja yang mengaku sebagai teman lesku. Berkatnya, aku baru tahu bahwa sebelum amnesia, aku sempat mengikuti les.

Ketika pertama kali ia masuk ke dalam kamar ini, aku pun sudah merasa tak asing dengannya. Wajahnya yang tampan terasa sangat familiar dalam ingatanku. Saat ia memperkenalkan dirinya padaku, saat itu juga bayangan akan masa lalu yang pernah kami lalui berdua langsung terlintas dalam pikiranku. Mungkin aku memang tak mengingat namanya, namun di balik amnesia yang kuderita, bahkan ketika aku tak bisa mengingat siapapun, ingatanku masih menyimpan memori akan dirinya. Hanya dia, satu-satunya orang yang masih kuingat setelah kecelakaan itu membuatku kehilangan seluruh ingatanku.

Zhoumi, itulah nama yang ia sebutkan saat ia memperkenalkan dirinya padaku. Nama yang unik bagi orang Korea sepertiku. Namun aku tak ingin mempermasalahkan itu. Fakta bahwa dialah satu-satunya orang yang ada dalam memori masa laluku, itulah yang menurutku jauh lebih penting dan membuatku sangat penasaran.

"Kurasa, lebih baik aku pulang saja sekarang," ucap namja itu tersenyum padaku. "Aku tak ingin mengganggu istirahatmu."

DEG! Aku tersentak. Senyum namja itu terlihat sangat menawan dan...

Omona... manis sekali...

"Wook-ah?"

"Ah, ne?" responku yang baru sadar setelah beberapa saat tercengang akan senyumannya.

"Aku akan pulang sekarang supaya kau bisa beristirahat dengan baik." Setelah mengucapkan itu, ia pun berdiri dari bangku yang semula ia duduki. Matanya tetap menatap kedua mataku.

"Besok aku akan menemuimu lagi. Aku janji." Ia kembali tersenyum tuk meyakinkanku.

Aku pun membalas senyumannya. Kemudian ia melambaikan tangannya padaku. Tak lupa ia mengucapkan selamat tinggal sebelum akhirnya keluar dari dalam kamar yang tenang ini.

Kulayangkan pandanganku pada sekekelingku. Kamar ini benar-benar sepi.

Hah... andai saja dia tak pulang dan menemaniku malam ini. Rasanya aku sedang tak ingin sendirian.

Saat ini, sendirian terasa sangat menyedihkan bagiku.

Aku ingin ada seseorang bersamaku disini.

~~Ryeowook's POV – END~~

.

.

PRAAANG!

Gelas kaca yang sedang dipegang oleh Heechul terlepas begitu saja dari genggamannya. Ia syok, seketika matanya membulat.

Tak ingin mengambil resiko dengan memungutnya, yeoja itu memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan mencari sapu untuk menyapu pecahan beling tersebut.

Sesudah ia menemukan sapu dan kembali ke kamar...

Terdengar deringan nada panggilan masuk dari HP-nya. Merasakan adanya firasat bahwa panggilan tersebut penting, ia pun memutuskan untuk menunda kegiatannya membersihkan pecahan-pecahan beling gelas dan segera menjawab panggilan tersebut.

"Yeoboseyo?" sapa Heechul di telepon.

"Chullie..."

"Siwon?" responnya reflek.

"Ne," balas Siwon mengiyakan. "Kau tidak tahu aku yang menelepon?"

"Ah, aku tadi lupa melihat layar dan langsung mengangkatnya." Heechul tertawa kecil. "Ada apa kau meneleponku?"

Siwon terdiam sejenak. "Aku ingin menceritakan soal Kyuhyun dan Ryeowook."

Heechul terkejut. "Ada apa dengan mereka?"

"Aku akan memberitahukannya padamu, tapi kau harus menolongku."

"Menolongmu?" Heechul mulai menautkan alisnya.

"Ne. Kurasa hanya kau yang bisa melakukannya."

.

.

Sementara itu...

Gelap dan sedih. Itulah yang bisa Kyuhyun rasakan setelah lampu kamar yang ia tempati dimatikan. Di sebelahnya, Yesung sedang tertidur dengan lelapnya tanpa sedikit pun tahu tentang apa yang kini terjadi pada Kyuhyun.

.

~~Kyuhyun's POV~~

Mereka berciuman.

Entah sudah berapa kali aku berusaha menghilangkan kejadian itu dari pikiranku, namun gagal, aku selalu memikirkannya.

Apakah itu benar? Mungkinkah aku salah lihat?

Andai saja aku salah lihat. Berkali-kali aku berharap itu bukan kenyataan.

Berpelukan...

Bahkan mereka berpelukan. Berpelukan seperti yang aku lakukan pada Wookie.

Kalau saja Yesung tidak sedang tidur, aku jamin kamar ini akan dipenuhi oleh suara nyanyianku.

"Kau masih belum tidur?"

DEG! Tiba-tiba saja suara Yesung terdengar, sukses mengagetkanku.

"Sudahlah Kyu, jangan dipikirkan. Namja itu memang menyukai Ryeowook, tapi belum tentu Ryeowook menyukainya," ucap Yesung menasehatiku.

Aku tak membalas apapun, hanya diam. Posisiku saat ini sedang berbaring membelakanginya, sehingga aku tak melihatnya.

"Ceritakanlah semua hal yang mengganggumu padaku. Aku akan mendengarkanmu."

Kata-kata Yesung membuatku terdorong untuk menceritakan hal yang kurahasiakan dari siapapun ini padanya.

"Ani, gwenchana... aku baik-baik saja," ucapku menolak bercerita. Kuputuskan untuk tetap berpegang teguh pada keputusanku sebelumnya.

"Ayolah, kau boleh cerita padaku, apapun. Katakan saja perasaanmu yang sesungguhnya, semua bebanmu. Itu akan membuatmu merasa jauh lebih baik."

"Mianhae. Aku tahu itu," lirihku. "Tapi saat ini aku memilih untuk tidak bercerita."

Sesaat keheningan melanda kami berdua.

"Arra..." ucap Yesung, lalu menghela napas. "Kapanpun kau ingin bercerita, aku siap mendengarkanmu."

Aku tersenyum sekilas. "Ne. Gomawo."

Mianhae...

Kenyataan bahwa Ryeowook berciuman sambil berpelukan dengan namja itu...

Aku tak ingin menceritakannya pada siapapun.

~~Kyuhyun's POV – END~~

''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''

Keesokan harinya...

"Annyeong Wookie!"

Mendadak terdengar suara sapaan yang sukses mengagetkan Ryeowook dari aktifitasnya yang semula sedang menonton TV. Yeoja itu pun segera menengok ke arah pintu dan mendapati namja yang kemarin ia temui, Zhoumi, tengah berdiri disana.

"Setelah bubar sekolah, aku pulang ke rumah untuk ganti baju dan langsung kesini," jelas Zhoumi dengan senyum yang selalu setia menghiasi wajahnya.

Ryeowook tak mengatakan apapun. Ia hanya membalas senyuman yang namja itu berikan padanya.

Selama beberapa saat, Ryeowook dan Zhoumi membisu. Keduanya mulai merasa canggung, akibat hati mereka yang terus bergetar.

"Bogoshipo..." lirih sang namja dengan suara lembut.

.

.

~~Flashback~~

.

~~Zhoumi's POV~~

Deg deg deg!

Entah mengapa, aku merasa lain sejak beberapa menit yang lalu, ketika aku memutuskan untuk duduk disini. Hatiku terus berdebar-debar. Wae? Apa ini karena...

Perlahan, aku kembali melirik yeoja yang berada di sebelah kananku. Kuperhatikan dirinya yang kini duduk manis di tempatnya dengan mata yang terus menatap lurus ke depan. Ia sedang mendengarkan penjelasan sang guru.

Ah... kenapa begini?

Rasanya aku ingin terus memandangi yeoja itu tanpa henti.

Andwae!

Bagaimana pun juga aku harus mendengarkan pelajaran!
Aku pun kembali menatap lurus ke depan dan memperhatikan penjelasan guru dengan seksama.

Kuakui yeoja di sampingku itu membuatku tak bisa fokus, membuatku berkali-kali memalingkan pandangan dari apa yang ada di depan hanya untuk meliriknya.

Namanya Ryeowook. Wajahnya menarik dan yang terpenting...

Ia membuat hatiku tak bisa tenang.

Kumohon liat aku. Lihatlah aku...

~~Zhoumi's POV - END~~

.

~~Flashback – END~~

.

.

Bogoshipo...

Pernyataan namja yang kini berdiri di depannya itu seakan mampu menghentikan detak jantung Ryeowook. Pernyataan Zhoumi padanya begitu mengejutkan.

Zhoumi hanya diam dan menunggu respon Ryeowook, sementara Ryeowook sendiri tak kunjung mengeluarkan sepatah katapun. Namja itu hanya bisa berharap-harap cemas di dalam hatinya.

Ryeowook sama sekali tak berani menatap mata Zhoumi. Kini yeoja itu tak tahu harus berbuat apa.

KRIET!

Mendadak terdengar suara pintu yang terbuka, sukses mengagetkan Zhoumi dan Ryeowook yang sedang berada dalam suasana tercekat. Zhoumi yang semula berdiri membelakangi pintu segera membalikkan tubuhnya.

Entah bisa dibilang kebetulan atau tidak, seseorang yang baru saja membuka pintu kamar itu adalah seorang namja yang tak asing bagi Ryeowook, seorang namja yang karena kedatangannya mampu membuat mata Ryeowook terbelalak. Bahkan, Zhoumi sebagai seseorang yang mengenal namja tersebut secara sepihak pun juga sama terkejutnya seperti Ryeowook. Saat ini seorang Cho Kyuhyun tengah berdiri di hadapan mereka.

Baik Ryeowook dan Zhoumi, keduanya tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.

Sejujurnya, tanpa mereka ketahui, Kyuhyun sebagai seseorang yang tiba-tiba saja mendapati keduanya sedang bersamanya juga sangat terkejut, bahkan jauh lebih terkejut dari yang kedua orang itu bisa rasakan.

Saat ini Kyuhyun benar-benar tercekat. Pemandangan yang ia saksikan telah membuat memori yang menyakitinya itu kembali terputar.

.

~~Kyuhyun's POV~~

Andwae... andwae...

Lupakan. Kumohon lupakan...

Sekuat mungkin aku berusaha menghentikan memori itu merasukiku, namun memori itu terus bermain dalam pikiranku bagaikan sebuah kaset yang terus berputar tanpa henti.

Kubiarkan kedua mataku terus memandang ke arah yang lain. Sedikitpun aku tak mampu menatap mereka.

Ah... dadaku terasa kian sesak.

Sesak sekali!

Perlahan kubalikkan tubuhku yang terasa melemah. Dengan tangan yang kian lemas, kubuka pintu tersebut pelan.

KRIET...

Lalu aku pun keluar dari dalam kamar tersebut dan tak lupa kembali menutup pintu yang telah kubuka itu.

Kini aku berdiri membelakangi pintu kamar itu. Perasaanku tetap tak berubah, tetap terasa berat dan menyesakkan.

BRUK!

Kaki yang terasa semakin lemas membuatku jatuh berlutut. Mataku terus menatap kosong.

Kenapa aku harus melihat mereka bersama lagi? Wae?

Aku tahu bahwa selama ini aku memang salah. Tapi mengapa aku harus sampai seperti ini?

Aku merasa benar-benar bodoh.

Semua ini salahku.

Salahku datang mengunjunginya hari ini.

Salahku datang mengunjunginya saat ini.

Salahku yang tak mampu bersikap tegar.

Dan yang paling buruk...

Salahku karena saat dulu aku memiliki banyak kesempatan, tak pernah sekalipun aku mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya.

~~Kyuhyun's POV – END~~

''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''

Satu minggu kemudian...

TOK! TOK! TOK!

Suara pintu kamar yang diketuk sukses menghentikan kegiatan mengetik di HP yang sedang Kyuhyun lakukan.

"Nugu?" tanyanya, bermaksud memastikan.

"Ini hyung..."

Seketika ekspresi Kyuhyun mencerah. "Ah, Siwon hyung!"

Kyuhyun pun segera bangkit dari ranjangnya dan langsung membuka pintu kamarnya.

"Hyung, tunggu sebentar," pintanya pada namja yang kini berdiri di depannya. "Tunggu sebentar lagi, OK?"

"Okay. Jangan lama-lama, ne?"

"Ne."

Setelah mendapatkan persetujuan dari Siwon, Kyuhyun pun kembali menduduki ranjangnya dan melanjutkan kegiatannya mengetik di HP.

Satu menit pun berlalu. Siwon terlihat mulai tak sabar.

"Cepat Kyu."

"Ah, ne." Dengan cepat, Kyuhyun bangun dari ranjangnya lalu menghampiri Siwon yang sudah menunggunya sejak tadi. "Kajja!"

Kyuhyun dan Siwon pun bergegas pergi meninggalkan kamar Kyuhyun, lalu menuruni anak-anak tangga menuju lantai satu.

"Kyu, kau tadi sedang mengetik apa? SMS?" tanya Siwon saat keduanya tengah berjalan ke arah ruang tamu. "Kenapa lama sekali?"

"Ckckck, aniyo..."

"Lalu? Apa yang kau ketik di HP-mu?"

Sesaat Kyuhyun terdiam, kemudian ia menjawab. "Sebuah note."

.

.

Mencintaimu, adalah jalan tersulit yang pernah kuambil dalam perjalanan cintaku, hingga aku selalu merasa senang hanya dengan bisa bersamamu, meski sebagai seorang teman.

Mencintaimu, membuatku bahagia asalkan kau bisa bahagia, bahkan jika kebahagiaan itu berarti aku harus melepasmu, agar kau dapat bersatu dengan orang lain.

Mencintaimu, juga membuatku sedih ketika aku menyadari bahwa segalanya menjadi terlambat, bahwa aku telah kehilanganmu hanya karena kebodohanku.

.

.

Aku ingin melupakan semua yang telah berlalu, berubah menjadi sesosok malaikat.

.

.

Aku tahu bahwa menjadi malaikat itu lebih sulit daripada menjadi iblis.

Tapi aku ingin suatu hari nanti bisa mencintaimu seperti seorang malaikat.

.

.

-_TBC_-


A/N: Tadaaa! XD

Author persembahkan chapter 7 ini untuk para readers sekalian XD

Kalau menurut author sih... chapter ini termasuk yang paling mudah untuk diketik dibanding chapter-chapter yang sebelumnya. Kalau readers sendiri merasa chapter ini yang paling apa? Paling simple? Paling menyentuh? Paling jelek? Paling bagus? *LOL

Semoga kalian menyukai chapter ini ^o^ *ngarep* dan jangan lupa nantikan chapter selanjutnya yang pastinya seru. *promosi, tapi gak jamin hehe...*

Again and again, author ucapkan thanks banget ya buat semua review yang telah kalian berikan X3

Buat semuanya, kuucapkan...

Keep fighting ya all! Don't give up!

Always do our best in our life =3

Hope everybody can get the real happiness =D

Thanks for reading all, and...

Review please? XD