[Seventh Songs: Up and Down by SHINee] Hanya sebuah lagu yang syairnya menceritakan mereka, iramanya menemani mereka. Hanya sebuah lagu yang memberi kesan pada hati masing-masing. (Song-Ficlet/Drabble for HunHan's Month)
Songs _ Playlist _ Pop _ SHINee _ Up and Down - status: playing.
Seventh Song: SHINee – Up and Down
Oh Sehun EXO-K | Xi Luhan (Warn!GS)
Disclaimer: I don't own the cast, aku cuma pinjam nama mereka sebagai tokoh utama di cerita ini. Ide cerita, plot dan sebagainya selain cast adalah milikku atas pen-name Hwang0203
.
Why is your, why is your
Mood down, oh why, oh why
Why is your, why is your mood up, oh why
Like a rollercoaster ride
Such a dry relationship
Stop your pent up emotions, I'm at my limit
She's so closed off, I can't talk to her
I just stop in front of her
Every guy is blinded by
Just one annoying smile
But this girl who still
Stays still like this, say
.
Sehun tidak mengerti tentang mood kekasihnya ini.
Seperti tadi pagi dan seperti biasa. Luhan merengek agar Sehun bisa meluangkan waktunya untuk makan siang bersama Luhan daripada mengurusi masalah berkas-berkas gila yang membuat Sehun makin gila.
Sehun menuruti kemauan Luhan karena Luhan mengancam mengucapkan selamat tinggal kalau tidak dituruti. Jadilah dirinya duduk di lantai kayu dengan meja yang terdapat dua porsi sup Japchae berserta hidangan kecil lainnya.
"Makanlah! Aku mengkhawatirkanmu yang semakin kurus." Ujar Luhan begitu melihat Sehun masih sibuk dengan ponselnya sedangkan hidangan Japchae yang mulai mendingin karena sama sekali tidak tersentuh oleh tangan Sehun.
"Aku hanya mengontrol pekerjaan lewat e-mail, Lu. Pekerjaanku masih belum selesai di kantor, aku perlu memantaunya kembali."
"Lalu melupakan kesehatanmu dan aku? Baiklah kalau begitu. Kukira ini jadi makan siang yang menyenangkan, ternyata aku salah, Tuan Oh Sehun."
Sehun baru menyadari apa yang barusan ia katakan. Kini mata musangnya menatap Luhan yang tengah berberes-beres.
"Luhannie!" Sehun mencengkram pergelangan tangan Luhan begitu gadis itu melewati dirinya.
"Lepas! Aku mau pulang! Aku marah denganmu, Tuan Oh!"
Sehun mengacak rambutnya frustasi. Mood Luhan terasa seperti gua hantu yang paling menakutkan di dunia.
.
.
Besoknya adalah hari Sabtu; yang artinya Sehun tidak memiliki waktu bersama pekerjaan yang membuatnya lupa sekitar.
Pagi hari ini Sehun dikejutkan telepon dari Luhan.
\'Maafkan aku, Sehunni~ aku harusnya mengerti tentang pekerjaanmu. Aku bertingkah seperti anak remaja saja.'/
Sehun tahu, dengan begini Luhan pasti punya alasan bagus untuk meneleponnya setelah mereka melewati masa 'kemarahan'.
\'Temani aku ke club ya? Temanku berulang tahun dan mengundangku.'/
Tuh 'kan? Firasat seorang Oh Sehun yang tampan sejagad raya tidak bisa diremehkan.
"Baiklah. Kujemput jam tujuh di apartemenmu."
.
.
Seharusnya Sehun tidak mengiyakan ajakan Luhan. Saat Sehun menjemput Luhan, gadis itu masih memakai pakaian yang masuk kategori 'pantas' untuk ukuran seorang Oh Sehun.
Begitu sudah memasuki bar dan meninggalkan Sehun sendirian demi teman-teman gadis itu yang kini tengah berdansa panas di tengah lantai dansa, Sehun baru sadar pakaian Luhan terlalu minim. Sehun baru sadar rok yang panjangnya sampai lutut hanya sekedar penutup. Buktinya; dress merah darah itu sangat ketat dan panjangnya hanya setengah paha Luhan.
Sehun baru sadar; apa tadi hanya ropmpi yang dikenakan Luhan? Lihat sekarang, gadisnya memiliki dress perpotongan dada rentah. Apalagi meliukkan badannya seperti menggila oleh lantai dansa.
Itu sexy, menggoda, dan Sehun tidak suka gadisnya dilirik para lelaki hidung belang.
Sangat.
Bagaimana bisa kain yang hanya menutup belahan dada sampai pangkal paha disebut sebuah pakaian? Apalagi bagian punggung yang hanya ditutupi tali-tali yang mengingkat dan hampir menampakkan seluruh punggung putih mulus Luhan?
"Luhan!" Sehun menyerukan nama Luhan, tapi suara musik DJ membuat telinga gadis asal Beijing itu tuli sementara.
"Xi Luhan!" kali ini Luhan merespon karena Sehun sudah mencengkram pergelangan tangannya.
Demi Tuhan; Luhan baru saja memberikan tatapan anak anjing yang gadis itu kira bisa mengelabui Oh Sehun. Tapi tidak, Sehun bukan lagi Oh Sehun yang mudah luluh dengan puppy eyes yang menggemaskan milik Luhan.
Semua mata hampir memandang penasaran ke arah mereka. Tetapi, mata laki-laki lain tetap jeli melihat bagaimana pahatan Tuhan yang paling indah; yaitu Luhan.
Luhan tersenyum miring dan Sehun bersumpah akan membobol habis-habisan Luhan setelah ini.
"Keberatan, Oh Sehun?"
"Siapkan malam panjangmu, bitch."
.
.
Seventh Song status:
F I N
.
A/N : Hai, maaf memposting-nya saat sore begini. Kali ini gimana? Agak nyerempet juga sih ya? Well, aku nggak tahu ini bisa dibilang drabble ato ficlet.
Soal untuk project Sequel/Prequel, well, memang kayaknya terlalu buru-buru buat bilang ya? Maaf, bukan nggak bermaksud terkesan buru-buru. Ini juga buat kalian selalu stay tune, kalo aku bilangnya belakangan pas hampir mau tamat, bisa aja readers sebelumnya yang nggak stay tune sampai terakhir nggak tahu project aku dan nggak berpartisipasi. Pokoknya (aku nggak maksa sih), ikutin aja terus. Kalo ada yang udah menarik buat dijadiin sequel/prequel, baru suarakan. Ingat ya, cuman boleh pilih satu :D
Well, terima kasih buat perhatiannya semua readers-nim! (P.S: besok ya gak kerasa udah #3YearsWithEXO padahal saya ngikutin mereka baru era Wolf)
