Disclaimer : Naruto bukan punya saya.

Note : Selamat membaca *author bingung mesti nulis apa di sini*


What am I supposed to do when the best part of me was always you
What am I supposed to say when I'm all choked up and you're OK
I'm falling to pieces I'm falling to pieces
–Breakeven By The Script


"Kau sudah gila?" Sasuke memandangi teman sekamarnya dengan tatapan aneh, seolah-olah Kabuto baru saja menyatakan cinta padanya. Seandainya saja dia tak perlu kembali sekamar dengan anak ini, tetapi undian di awal kelas III kemarin mengharuskannya untuk kembali sekamar dengan anak berkacamata itu. Selama satu tahun penuh!

"Eh?" Kabuto membetulkan kacamatanya dengan gugup. "A-aku hanya menyampaikan pesan ayahku."

"Hn." Perhatian Sasuke kembali pada buku yang dibacanya. Kabuto berdiri dengan gelisah dan sesekali menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Jadi apa jawabanmu?" Tanya Kabuto setelah lama mereka terdiam.

"Apa sikapku belum jelas?" Sasuke balik bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari bukunya. Dia sebenarnya tak benar-benar membacanya. Dia hanya ingin Kabuto segera pergi dari kamar itu atau paling tidak berhenti mengajukan pertanyaan bodoh itu.

"T-tapi…" Kabuto ragu sesaat, "Apa kau tidak kesepian menghabiskan liburan ini sendirian di hotel?"

Sasuke membalikkan halaman bukunya seolah-olah dia tenggelam dalam dunianya sendiri.

"Aku tahu ada Karin yang akan menemanimu…" Kabuto kembali menaikkan kacamatanya, "Tetapi apakah sebegitu buruknya untuk menghabiskan liburan di rumahku?"

Kabuto tahu, teman sekamarnya tak pernah kembali ke rumah setiap liburan. Sasuke menutup bukunya dan menghembuskan napas kesal.

"Aku terbiasa sendiri." Ketika dia mengucapkan kata-kata itu, entah mengapa ada sesuatu dalam dirinya yang terasa sakit. Perih. Membuatnya muak.

"Oh." Hanya itu jawaban dari Kabuto sebelum akhirnya anak itu duduk di tempat tidurnya sendiri. Sasuke bisa mendengar teriakan dan tawa penghuni asrama lain dari pintu kamar yang sedikit terbuka. Ujian semester berakhir hari ini dan semua anak kelihatan gembira karena beberapa hari lagi akan memasuki liburan musim dingin.

"Keluargamu merayakan Natal?" Tanya Sasuke tiba-tiba. Kabuto menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Tetapi aku sering merayakannya bersama teman-temanku." Ujar Kabuto sambil tersenyum.

"Hn." Sasuke mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Apa yang biasa kalian lakukan?"

"Oh. Banyak." Pandangan Kabuto menerawang dengan wajah ceria, "Karaoke semalam suntuk, atau hanya makan-makan dan menginap di rumah teman. Tetapi tetap saja menyenangkan."

Entah mengapa kata-kata Kabuto membuat Sasuke merasa tak tenang. Dia merindukan masa-masa itu, setahun lalu ketika dia merayakan pesta Natal untuk pertama kali dalam hidupnya. Dulu seusai berpesta dan menginap di rumah Kiba, dia sempat menyesal menolak undangan Kiba untuk merayakan pesta Natal ketika dia masih di semester pertama di kelas I. Ayahnya tak mengijinkannya waktu itu. Di kelas II, dia akhirnya bisa meyakinkan ayahnya bahwa dia bisa menjaga dirinya sendiri.

Ayahnya…Dulu terasa mudah untuk bicara pada ayahnya. Tetapi sekarang, mereka hanya berbasa-basi di telepon, menanyakan kabar masing-masing dalam percakapan yang terasa hambar, kemudian selebihnya hening sampai salah satu dari mereka menemukan alasan untuk segera menutup telepon.

"Jadi?" Suara Kabuto mengagetkannya dari lamunannya.

"Apa?"

"Kau mau berlibur di rumahku?" Tanya Kabuto penuh harap.

"Kau sudah gila?"

Kabuto hanya mengangkat bahu karena ternyata percakapan mereka tidak berkembang sama sekali.


"Dia tidak akan pulang liburan ini, Ibu." Itachi menundukkan kepalanya dengan hormat pada wanita di depannya.

"Aku tahu." Wanita itu menyesap tehnya perlahan kemudian mengisyaratkan pada Itachi untuk duduk. Itachi duduk di kursi di hadapan ibunya, sedikit prihatin melihat wajah pucat ibunya. Di mata Itachi, wajah Mikoto tampak lebih tua dari umur sebenarnya.

"Kau percaya kekuatan cinta, Itachi?"

Kata-kata Mikoto mengagetkan Itachi.

"Y-ya, aku percaya, Ibu." Itachi tergagap, tak yakin dengan kata-katanya sendiri. Ibunya tak banyak bicara akhir-akhir ini. Atau sebenarnya dia yang tak punya cukup waktu lagi untuk berbincang-bincang dengan ibunya?

"Seberapa besar kekuatan cinta itu?" Mikoto meletakkan cangkirnya perlahan. Pandangannya menyapu taman di depannya. Taman belakang yang serba putih karena tertutup salju yang turun sejak pagi hingga siang. Berkas-berkas sinar matahari sore yang berusaha menembus awan kelabu membuat taman itu seolah bercahaya.

Itachi menelan ludah, berusaha mencari jawaban yang tidak akan mengecewakan ibunya. Sangat besar hingga bisa membuat orang terjun dari lantai 10 apartemen karena cintanya ditolak? Itachi segera menghapus pikiran itu dari benaknya. Dia memang lelaki bodoh! Kutuk Itachi dalam hati ketika teringat pada lelaki yang bunuh diri beberapa hari lalu itu. Mereka sering bertemu di lift apartemen, hanya saling bertukar "Selamat Pagi" sekenanya dan pertemuan terakhir mereka adalah ketika laki-laki itu sudah jadi mayat dengan kepala yang sudah hancur.

"Sebesar cinta Ibu pada Ayah." Jawaban itu meluncur keluar dari mulut Itachi, nyaris tanpa sadar.

"Oh…" Tampak Mikoto tersenyum kecil dan menghembuskan napas lega, seakan-akan dia puas dengan jawaban anaknya. Pada detik itu, Itachi merasa dadanya sesak. Dia ingin memeluk wanita itu dan mengatakan padanya bahwa dia ibu terbaik yang pernah ada di dunia.

"Menurutmu Sasuke benar-benar jatuh cinta pada Uzumaki itu?"

Lagi-lagi Itachi kaget dengan pertanyaan ibunya.

"Aku tidak tahu, Ibu." Sekarang Itachi tidak berusaha mencari jawaban yang bisa menenangkan ibunya, karena memang dia tidak tahu.

"Dia selalu kelihatan bahagia setiap kali berangkat sekolah." Gumam Mikoto. Itachi mengangguk pelan.

"Seolah-olah ada yang ingin ditemuinya di sekolah." Mikoto berbicara seolah pada dirinya sendiri. Itachi mengangguk lagi karena di tahu ibunya sedang berbicara padanya.

"Setelah bersekolah di sekolah umum, dia lebih bersemangat dan…" Mikoto kehilangan kata-kata.

"Hidup?" Itachi melanjutkan kalimat ibunya. Mikoto mengangguk dan tersenyum.

"Waktu itu, dia seperti sebatang rumput kecil yang akhirnya bisa bertemu matahari setelah musim dingin yang panjang." Mikoto masih tersenyum dan meneguk tehnya. Itachi mengerutkan dahinya mendengar kata-kata ibunya. Sasuke? Rumput kecil? Itachi menahan tawanya. Jadi, mataharinya si Uzumaki itu?

"Apa dia bertambah kurus?" wajah Mikoto kembali mendung. Itachi menggeleng cepat.

"Sepertinya pola makannya tetap teratur, Ibu." Itachi tak ingin menceritakan lingkar hitam di sekitar mata adiknya yang mungkin disebabkan kurang tidur.

Mikoto kembali tersenyum dan itu menenangkan Itachi.

"Uzumaki itu, bagaimana rupanya?" Mikoto meletakkan cangkirnya dan menatap Itachi.

"Aku tidak pernah bertemu langsung dengannya, Ibu." Tiba-tiba saja Itachi merasa gelisah. "Tetapi dari fotonya, anaknya cukup…normal." Itachi mengutuk dirinya dalam hati untuk pilihan kata yang aneh itu.

"Hmm…Apa dia seperti Minato?"

"Ya. Warna rambut dan matanya mirip Namikaze-san."

"Jadi tak ada yang mirip dengan Kushina?"

"Secara fisik tak ada, Ibu."

Mikoto memejamkan matanya dan bersandar dengan rileks di kursinya.

"Berapa lama lagi Sasuke akan menyukai Uzumaki itu?"

Itachi hanya bisa menunduk, tak tahu harus menjawab apa.

"Ayahmu juga jatuh cinta pada Kushina ketika kami sama-sama di SMA. Mereka pasangan paling serasi di sekolah sementara aku hanya bisa memandang dari jauh. Aku tahu posisiku. Aku hanya seseorang yang dijodohkan dengan Fugaku Uchiha, tetapi aku tak pernah keberatan dengan itu."

Itachi makin menunduk dalam, tak berani menatap wajah ibunya. Jika boleh memilih, dia tak ingin mendengar ibunya bercerita. Jika boleh memilih, dia ingin berteriak pada ibunya untuk berhenti mengingatkannya bahwa dia anak yang terlahir tanpa rasa cinta.

"Aku mencintainya. Aku mencintai ayahmu. Aku selalu mengaguminya sejak dulu. Aku tumbuh besar bersamanya. Dia selalu melindungiku dan bersikap baik padaku. Dan kupikir ketika menikahiku, dia melakukannya karena kasihan padaku. Sikapnya tetap sama, tetap perhatian dan baik padaku, tak ada yang berubah, kecuali saat mendengar aku menyebut nama Kushina. Aku tak tahu, kenapa aku tak pernah pergi dan meninggalkannya. Aku hanya merasa bahwa tempatku memang di sini, di sisinya. Mungkin kau benar, Itachi. Mungkin ini yang dinamakan kekuatan cinta." Mikoto membuka matanya dan tersenyum lembut pada Itachi. "Kau dan Sasuke adalah bukti kekuatan cinta itu."

Itachi perlahan mengangkat wajahnya, berusaha untuk tidak terbawa suasana dan kata-kata ibunya. Dia terlahir karena cinta. Cinta ibunya untuk ayahnya. Hal itu melegakan hatinya hingga membuat dia ingin menangis. Tetapi Itachi Uchiha tidak bisa…tidak boleh menangis karena hal-hal seperti ini.

"Aku hanya berharap Sasuke tak menyerah semudah ayahnya." Mikoto berdiri dari kursinya. "Aku berdoa untuk itu."

"Tetapi itu tidak normal, Ibu." Ujar Itachi dengan suara bergetar.

"Cinta itu tak punya aturan, Itachi. Tak ada batasan. Suatu saat kau akan mengerti. Aku hanya ingin anakku bahagia." Mikoto mengecup lembut kepala anaknya sebelum melangkah pergi meninggalkan beranda itu. Itachi menutup matanya, menikmati rasa aman dan tenteram yang timbul setiap kali Ibunya mengecup kepalanya. Setelah sekian tahun berlalu, dia tetaplah Itachi kecil, bukti cinta pertama Ibunya untuk Ayahnya. Dia tak tahu entah berapa sering dia berdoa, memohon seiring aroma dupa agar ayahnya bisa mencintai ibunya sepenuh hati, mencintai ibunya lebih dari gadis berambut merah itu. Dan kali ini, dia membiarkan sebutir airmata bergulir dari matanya. Tak ada hukum yang melarang anak lelaki untuk menangis. Menangis bukanlah suatu dosa.


Liburan musim dingin itu dihabiskan Sasuke dengan berkeliling Otto bersama Kabuto. Walau dia tetap menginap di Hotel, dia tak bisa menolak usul ayah Kabuto ketika dia berkunjung ke toko buku milik lelaki bermata tajam itu. Yah, usul agar Sasuke berjalan-jalan dan menghirup udara musim dingin khas Otto bersama Kabuto. Walaupun bagi Sasuke, udara dingin di semua tempat tak ada bedanya, hanya membuatnya berpeluang untuk terkena flu.

Mereka biasa naik kereta tanpa tujuan pasti, bahkan kadang membeli tiket tanpa tahu tempat tujuan. Kabuto hanya bisa menuruti kemauan Sasuke karena dia berusaha menjalankan perintah ayahnya untuk menemani Sasuke. Ayahnya tak pernah peduli pada teman-temannya, tetapi pada kasus Sasuke, ayahnya berubah sikap.

"Kenapa ayah peduli padanya?" Tanya Kabuto sesaat setelah Sasuke meninggalkan toko buku.

"Karena dia pelanggan tetap toko ini." Jawab Orochimaru singkat. Kabuto hanya bisa mengerutkan dahi. Kadang dia tak mengerti jalan pikiran ayahnya. Mungkin itu yang menyebabkan ibunya meninggalkan ayahnya.

"Itu laut?"

Pertanyaan Sasuke mengejutkan Kabuto. Segera dia menoleh ke luar jendela kemudian mengangguk.

"Mau berhenti di stasiun berikutnya?" Kabuto balas bertanya. Sasuke mengangguk pelan tanpa melepaskan pandangannya dari pemandangan di luar kereta yang sedang melaju kencang itu.

"Aku tidak pernah ke pantai saat musim dingin." Sasuke bergumam pada dirinya sendiri ketika menjejakkan kakinya di atas pasir putih. Pantai itu tampak lengang tanpa pengunjung. Siapa yang mau ke pantai di musim dingin? Oh, ya! Sasuke Uchiha!

"Apa kakimu tidak kedinginan?" Tanya Kabuto heran ketika Sasuke melepaskan sepatu dan kaus kakinya.

"Pasirnya terasa dingin." Gumam Sasuke lagi. Kabuto mengangkat bahunya dan memandang laut yang berwarna aneh di bawah langit yang mendung.

"Sepertinya malam ini akan ada badai." Kata Kabuto pelan. Dalam hati dia menarik kesimpulan bahwa pikirannya dan pikiran Sasuke tidak akan pernah saling bertemu.

"Siapa yang kau telepon?" Tanya Kabuto ketika melihat Sasuke mengangkat HPnya ke telinganya. Dalam hatinya Kabuto menebak siapa yang dihubungi Sasuke. Karin? Juugo? Suigetsu? Orangtuanya?

"Hey, Dobe! Aku ingin bertaruh!" Ujar Sasuke tenang, tak peduli suara operator yang mengatakan bahwa nomor itu tak aktif lagi. "Siapa di antara kita yang bisa pergi ke pantai hari ini juga, jam ini juga, bakal dapat suplai gratis ramen dalam setahun. Dan coba tebak, lagi-lagi kau kalah!"

Kabuto mengerutkan dahinya. Dobe? Kabuto makin heran ketika melihat Sasuke memasukkan HPnya ke kantung jacketnya dengan ekspresi yang sulit ditebak, sementara kakinya tetap telanjang.

"Kau suka ramen?" Kabuto menelengkan kepalanya. Dia tak pernah melihat Sasuke makan ramen sebelumnya.

"Tidak." Sasuke kembali memakai kaus kaki dan sepatunya.

Kembali dalam hatinya, Kabuto menarik kesimpulan bahwa teman sekamarnya itu sudah gila.


"Kau sebenarnya bisa tinggal di sini selama liburan. Ada kamar kosong di sebelah kamar Kabuto." Orochimaru menghembuskan kepulan asap rokok dari mulut dan hidung. Bau tembakau menyeruak memenuhi ruang keluarga itu.

"Terima kasih, Orochimaru-san. Tetapi saya tidak ingin merepotkan." Suara Sasuke tercekat. Dia tak pernah suka aroma rokok.

"Aku tidak pernah merasa keberatan tetapi aku juga tidak ingin memaksamu." Lelaki tua itu menjentikkan rokoknya ke dalam asbak. "Kau kenal Jiraiya Namikaze?"

"Tidak, Orochimaru-san." Sasuke menggelengkan kepalanya cepat. Dia terpaksa datang untuk makan malam di rumah Kabuto karena paksaan lelaki tua ini. Sasuke ingin pergi secepatnya dari tempat itu setelah makan malam, tetapi lagi-lagi lelaki tua itu memaksanya untuk mengobrol di ruang keluarga. Sasuke merasa tak nyaman berbincang-bincang dengan lelaki itu, apalagi tanpa Kabuto yang sekarang pergi entah kemana.

"Dia pengarang Icha-Icha Paradise."

Sasuke mengerutkan dahinya. Lalu apa hubungannya denganku? Batinnya. Tiba-tiba saja Sasuke teringat buku yang sering dibaca Kakashi-sensei dan Obito di taman belakang rumah Obito.

"Oh." Hanya itu tanggapan Sasuke.

"Dia berasal dari Konoha."

"Benarkah?" Sasuke pura-pura tertarik.

"Dia mengenalmu."

Aku anak dari keluarga terpandang, tentu saja semua orang mengenalku. Sasuke memutar bola matanya tanpa sepengetahuan Orochimaru.

"Mungkin dia salah satu kenalan Ayah saya, Orochimaru-san." Ujar Sasuke pelan.

"Hmm…" Orochimaru tersenyum aneh. "Aku tak terbiasa untuk peduli dengan urusan orang lain, Sasuke-kun. Kau pasti merasa terganggu karena aku terus-menerus memintamu untuk menginap di sini selama liburan. Tetapi jika bukan dia yang memintaku, aku tidak akan melakukan itu."

Sasuke menyipitkan matanya.

"Dia?"

"Jiraiya temanku sejak kecil. Seseorang yang pikirannya terlalu mesum hingga bisa menulis Icha-Icha Paradise." Orochimaru berdiri dari kursinya. "Kau seharusnya bersyukur ada orang yang peduli padamu."

Jadi Icha-Icha paradise itu buku mesum? Kakashi-sensei dan Obito-niisan! Sasuke sedikit bergidik memikirkannya.

"Saya tidak perlu rasa kasihan orang, Orochimaru-san." Kata Sasuke tenang dan ikut berdiri.

"Aku tahu." Orochimaru membuang puntung rokoknya ke dalam asbak kemudian berjalan ke arah pintu.

Ketika taxi yang membawa Sasuke menghilang dari pandangannya, Orochimaru menghembuskan napas panjang. Langit makin mendung, sementara awan hitam tampak berat menggantung.

"Dasar Uchiha!" Gerutunya sebelum kembali masuk ke dalam rumahnya yang hangat.


Liburan selesai dan semua anak disibukkan dengan persiapan ujian akhir dan ujian masuk universitas. Mungkin karena kesibukan itulah yang menyebabkan Sasuke lupa dengan percakapannya dengan Orochimaru malam itu. Sasuke hampir tak punya waktu untuk sekedar berjalan-jalan ke toko buku lagi atau pun waktu untuk Karin. Karin pun sepertinya tak keberatan dengan itu. Dia tahu betul apa posisinya di sisi Sasuke. Mungkin karena alasan inilah mengapa Sasuke memilih Karin dari sekian banyak fangirlsnya.

Sasuke benar-benar berkonsentrasi belajar untuk masuk Otto University. Tanpa perintah ayahnya, dia yakin pada akhirnya dia memang harus berkuliah di situ. Mustahil ayahnya akan meyuruhnya untuk kuliah di Konoha. Ada Naruto di sana.

Naruto…Sasuke belum melupakan anak itu. Mungkin tidak akan pernah. Tetapi dia sedang berusaha, berusaha menghapus sedikit demi sedikit kenangan tentang anak berambut pirang itu. Entah mengapa, dia sedikit lega ketika tahu nomor Naruto tak aktif lagi. Ketika di pantai itu, dia tak tahu mengapa dia menelepon Naruto. Seolah-olah sesuatu merasukinya. Karena suasananya? Semangat Natal? Atau mungkin pemandangannya yang membiusnya? Dia tak peduli! Paling tidak dia pernah berusaha menghubungi anak itu. Paling tidak, bukan dia yang memutuskan komunikasi di antara mereka. Bukan dia yang bersalah. Sasuke tahu, dia hanya mencari alasan agar kesalahan tidak dilimpahkan padanya. Tetapi lagi-lagi dia tak peduli. Saat ini, perhatiannya hanya dipenuhi dengan belajar untuk ujian masuk universitas. Atau lagi-lagi itu hanya alasan mengingat IQnya yang di atas rata-rata?

Dia tak pernah menjawab telepon dari Itachi atau Ibunya. Hal itu sempat membuat Mikoto khawatir dan meminta Itachi ke Otto. Tetapi Itachi meyakinkan ibunya bahwa Sasuke baik-baik saja. Perjuangan berat Sasuke —sebenarnya tak berat karena otaknya yang cerdas—akhirnya berbuah hasil yang maksimal : Lulus SMA sebagai lulusan terbaik dan masuk Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Bisnis Otto University dengan peringkat tertinggi. Untuk sesaat, dia berpikir tentang saingannya dulu, Shikamaru. Sasuke yakin, tanpa kehadirannya di Konoha, Shikamaru tak punya saingan berat lagi.

Prestasinya sanggup memuaskan hati Fugaku. Buktinya, dia sendiri yang datang ke Otto untuk menjemput Sasuke kembali ke Konoha untuk menghabiskan liburan musim panas. Tawaran yang sangat menggiurkan tetapi ditolak dengan sopan oleh Sasuke. Dengan terus terang dia mengatakan pada ayahnya bahwa dia belum siap untuk kembali ke Konoha. Setelah setahun berpisah, dia belum siap bertemu Naruto lagi walau dia tak yakin dengan perasaannya kini. Satu hal yang dia tahu pasti, rasa bencinya lebih besar dari kemarin, bertumbuh seiring bertambahnya hari. Rasa benci yang membuatnya tak bisa menghapus foto Naruto dari HPnya.

Fugaku menawarkan diri untuk membeli sebuah apartemen di tengah kota Otto untuk Sasuke sebagai hadiah kelulusannya tetapi lagi-lagi ditolak dengan sopan oleh Sasuke karena Universitas menyediakan asrama untuk anak-anak yang bisa lulus dengan prestasi yang baik. Dalam hati, Fugaku takjub dengan perubahan anaknya. Perubahan yang mencengangkan sekaligus membuat hatinya miris. Anaknya itu sudah menjelma menjadi dirinya. Kali ini dia seperti bisa melihat dirinya sendiri seutuhnya dalam diri anaknya itu. Ada sejumput rasa berdosa yang timbul di hatinya tetapi dengan segera ditepisnya.

"Tempat tidurnya empuk!!!" Seru Karin riang dan merebahkan dirinya di tempat tidur tersebut.

"Hn." Sasuke hanya memandang sekeliling kamar asramanya. Hari ini hari pertama dia masuk asrama sebelum perkuliahan dimulai dua hari lagi dan teman-temannya memaksa untuk ikut melihat kamarnya.

"Seandainya saja aku bisa masuk asrama ini juga." Juugo menghembuskan napas sedih.

"Kau bahkan tidak lulus ujian masuk, Juugo." Suigetsu tertawa mengejek padanya. Juugo melirik tanpa semangat pada temannya itu.

"Tidak usah mengejek orang lain jika kau sendiri juga tak lulus, Suigetsu." Kata Karin tenang. Kini giliran Suigetsu yang melirik tajam pada Karin sementara Juugo tersenyum kecil.

"Kami bisa tetap datang mengunjungimu, kan, Sasuke?" Suigetsu mengalihkan pembicaraan yang tidak menyenangkan itu.

"Hn." Sasuke memeriksa lemari barunya tanpa menoleh kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi.

"Ah, aku lupa aku harus menjemput ibuku." Kata Juugo tiba-tiba. Sekilas dia memberi isyarat pada Suigetsu. Perlu beberapa saat bagi Suigetsu untuk mengerti isyarat itu hingga akhirnya Karin harus menendang kakinya.

"Oh," Suigetsu meringis, "Aku juga punya janji dengan…dengan ayahku. Bye, Sasuke."

Terdengar gumaman samar dari kamar mandi sebelum Juugo dan Suigetsu menghambur keluar dari kamar itu karena tak tahan dengan tatapan tajam Karin. Karin menghembuskan napas lega ketika akhirnya kedua temannya meninggalkan kamar.

"Bukankah menyenangkan tinggal di asrama tanpa harus berbagi kamar?" Karin melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Tampak Sasuke sedang memeriksa apakah kran air wastafel berfungsi dengan baik atau tidak.

"Aku merindukanmu." Karin memeluk lelaki itu dari belakang. Dia bisa merasakan badan Sasuke menegang. "Kau selalu sibuk selama ini." Lanjut Karin tanpa mempedulikan reaksi Sasuke.

"Hn." Tatapan Sasuke jatuh pada cermin besar di depannya. Bayangannya bersama Karin dalam cermin membuatnya muak. Rasa jijik itu tiba-tiba muncul lagi. Dia tak pernah menyukai wanita ini. Dia bahkan tak menyukai aroma wanita ini.

"Sekarang…" Karin membalikkan badan Sasuke agar menghadap ke arahnya. "Kau punya waktu untukku?" Karin berjinjit dan mencium bibir Sasuke. Badan Sasuke tiba-tiba terasa kaku. Bukan tindakan Karin yang jadi pemicunya. Ada yang berbeda. Aroma…

"Apa yang kau makan tadi?" Sasuke mengangkat kasar dagu Karin. Karin sudah terbiasa dengan itu. Tak ada kelembutan dalam diri Sasuke yang dia kenal.

"Ramen."

Jawaban singkat Karin membuat Sasuke menelan ludah. Mulut dan tenggorokannya tiba-tiba saja terasa kering.

"Ramen?" Suara Sasuke tak lebih dari sebuah bisikan. Dia membelai bibir Karin dengan ibu jarinya. Sinar matanya tiba-tiba berubah jadi liar.

"Ya." Karin balas berbisik dan menjilat bibirnya. "Kau su—?"

Kata-kata Karin menghilang ketika Sasuke menciumnya kasar, melumat dan menggigit bibirnya dengan penuh nafsu, sebelum akhirnya memasukkan lidahnya ke dalam mulut Karin, berusaha mengambil semua aroma dan rasa dari mulut wanita itu. Karin merasa Sasuke mengisap habis napasnya, membuat kepalanya berputar-putar. Sasuke tak pernah menciumnya seperti ini. Apa ini karena lelaki itu merindukannya? Merindukan tubuhnya? Getir memang tetapi tak ada alasan bagi Karin untuk tidak membalas ciuman itu. Paling tidak dia merasa dibutuhkan walaupun hanya tubuhnya yang diperlukan Sasuke.

"Pastikan kau selalu makan ramen sebelum datang ke sini." Sasuke terengah-engah dan mendudukkan Karin di atas wastafel. Karin tak sempat menjawab ketika Sasuke kembali menciumnya.


Silahkan review atau langsung lanjut chapter berikutnya hehehe.

And oh, Sasuke jadi gila! Yay!! *dichidori*