Sang anak bertopi menaiki sebuah bis trayek Tokyo-Odaiba. Sepanjang jalan, dia mengobrol dengan kondektur bis.
"Pak, anda tahu tentang orang-orang yang biasanya kumpul di Taman Bermain Odaiba?" dia bertanya.
"Tentu saya tahu. Saya sudah 15 tahun tinggal di Odaiba. Kalau kamu ingin tahu, Dek. Maksudmu para anak terpilih? Yang melatih semacam hewan itu? Mereka sudah punya itu semenjak mereka berusia sekitar 5 tahun."
Anak itu kaget. Bagaimana bisa kondektur itu tahu tentang Digimon? Apakah itu kebetulan belaka?
"Seperti ini, Nak..." Ia meneruskan. "Saat mereka berumur 7 tahun, mereka yang awalnya hanya ada enam malah ada dua lagi. Akhirnya diketahui bahwa mereka itu adalah adik-adik dari dua anak tersebut. Mereka paling dikenal saat berumur 11 tahun. Mereka menyelamatkan kita dari monster yang begitu besar! Tapi, semenjak itu mereka pun hilang. Mereka sempat tersorot dua tahun kemudian, tapi akhirnya menghilang. Mungkin mereka itu Pahlawan Pensiun."
"Seperti itukah? Mereka hebat sekali!" anak itu berkomentar.
Mereka sampai di wilayah peninggalan Shogun Tokugawa, Edo. Saat itu, ada empat orang remaja masuk. Sepertinya mereka anak SMA semua. Dua laki-laki duduk di samping anak itu dan dua lainnya duduk di kursi lainnya.
"Wah, kalau bukan si anak bertopi! Apa kabar? Sekarang kau sekolah dimana? Masih ingat aku?" kata seseorang berambut agak ungu.
"Lalu, kau masih ingat aku? 'Mantan' Penguasa Digimon?" seseorang berambut biru berkata.
"Kalian sepertinya sudah besar, apa kalian Davis dan Ken?" anak itu menebak.
"Tepat sekali! Senang bertemu lagi denganmu, Pi!" Davis berkata.
"Kenapa aku dipanggil Pi?"
"Kamu aku sebut Topi. Tapi, itu sulit sekali diucapkan. Aku lebih suka Pi." Ken berargumen.
Bis mereka melewati sebuah jembatan yang indah. Pi sendiri jarang keluar dari Tokyo. Makanya, dia tidak tahu itu apa.
"Pak Kondektur, itu jembatan apa?"
"Ini adalah jembatan penghubung Tokyo dan Odaiba. Namanya Rainbow Bridge atau Jembatan Pelangi. Coba kau lihat jembatan ini di malam hari! Lebih indah dari Golden Gate San Francisco sepertinya."
"Lalu, yang itu?" anak itu menunjuk ke arah sebuah gedung tinggi dengan monumen bulat di dekatnya.
Davis kali ini menjawab, "Itu adalah kantor Fuji TV. Kau tahu Matt? Yamato Ishida?"
"Dia yang dulu saat masih kecil sering pakai baju tanpa lengan dan berambut agak pirang itu?"
Ken meneruskan, "Ya, itu dia. Ayahnya adalah direktur Fuji TV. Dia membeli beberapa acara top dunia. Seperti Cartoon League untuk olahraga atau untuk kuis itu..."
"Ya, itu... Who Wants To Be A Millionaire! Sampai sekarang masih tayang! Tapi, akhir-akhir ini soalnya begitu sulit. Katanya ada anak atau remaja, ya... Usianya 15 tahun kurang lebihnya. Dia adalah perumus soal Millionaire! Kau tahu mengapa Tai berkata ala Sunda? Anak itulah sebabnya!"
Tak lama, mereka sudah ada di depan Taman Bermain Odaiba. Mereka turun dari bis tersebut. Tak lupa memberi tips kepada kondektur dan supir sebagai tanda terima kasih.
Saat mereka masuk ke Markas Besar, terlihat ada para Digimon berdiri tepat di samping para pelatihnya masing-masing. Seperti biasa, Tai dan Agumon ada di depan.
Mereka yang baru datang langsung berbaris dan ikut mendengarkan perintah pimpinan mereka.
"Ada yang pernah tahu kereta api Digital? Yang membawa kita ke Dunia Digital dan akan memiliki stasiun pertama di File City?" Tai bertanya.
"Katanya sekarang kereta itu bisa diakses dari stasiun Tokyo." Matt berkata.
Orang-orang yang baru datang menggelengkan kepala. Masa mereka baru datang sudah harus minggat lagi?
"Ya, Matt. Tapi, aku mendapat pesan dari Jijimon. Naik kereta Argo Digital di Stasiun KA Utama Tokyo di jalur 99? Bukannya jalur kereta api di sana hanya ada 9?"
"Sebentar, Tai. Kau pernah mendengar kisah Harry Potter? Dia menemukan peron 9¾ diantara tembok." Joe berkata.
"Ya, tapi nomor 99? Lebih baik kita pergi dulu."
Mereka berangkat dengan penuh rasa penasaran. Sesampainya di Stasiun KA Utama Tokyo, mereka terhambat karena mereka tidak boleh masuk peron stasiun karena mereka tidak punya tiket.
"Sudahlah, gesek kartu tiket kalian masing-masing! Kita harus cek ke peron!" Tai berkata.
Begitu mereka masuk, mereka melirik sekitar. Izzy melihat tulisan "Jalur 9". Mereka langsung menuju tulisan tersebut lalu melirik lagi sekitar. Ternyata di atas jalur yang sama ada tulisan lainnya "9".
"Mungkinkah ini jalur 99 itu? Mungkin secara matematis adalah Jalur 9 x 9" Izzy memprediksi.
"Bukannya hasilnya jalur 81?" Sora menyanggah.
"Maksudku kita anggap kata 'jalur' sebagai variabel. Sebut saja x. 9 juga demikian. Sebut saja y. Maka xy.y hasilnya adalah xy² atau dengan mudah disebut xyy. Substitusikan kata dan angka yang dimisalkan. Jadilah jalur 99." Izzy menjelaskan.
"Pintar! Tapi ini bukannya rel mati? Rel ini dibatasi tembok dengan jalur lainnya. Sebentar, itu apa di sana?" Tai melihat kabel listrik dari rel yang tertutup tembok.
Mereka terkejut melihat seorang robot masinis. Dia menuntun para pelatih masuk kereta.
"Sepertinya ini adalah kereta yang dulu kita pakai untuk pergi dari Dunia Digital..." Matt mengingatkan.
Kereta berjalan menuju tembok batas! Mereka akan menabrak! Tapi ternyata tidak! Mereka langsung ada di langit. Di dekat mereka ada landasan yang berlokasi di tengah hutan. Begitu kereta mendarat, langsung kereta tersebut berjalan di atas rel hingga ada tulisan di pinggir rel.
ST. KA. FILE CITY +250
"Ya, inilah dia! Kita akan sampai!" Tai berkata.
Kereta berhenti. Jijimon langsung menyambut mereka.
"Selamat datang kembali! Aku senang kalian membawa personil lebih banyak! Ayo ke rumahku. Ada sesuatu yang ingin kukatakan."
Sesampainya di rumah Jijimon, dia bertanya kepada Pi tentang para Digimon yang dulunya adalah musuhnya lalu bergabung dengan File City.
"Aku ingat tentang Devimon yang memperangkap Myotismon. Lalu, Ogremon yang menjadi preman yang harus dikejar ke empat penjuru pulau untuk menangkapnya. Lalu, Giromon perusak komputer Factorial Town. Setelah itu, Megadramon dan MetalGreymon yang kutemukan di Gunung Infinity."
"Ya, keseluruhan... eh... 1, 2, 3, 4, 5... Lima Digimon yang kau sebutkan kecuali MetalGreymon, sehingga tidak menjadi 6. Mereka itu berkhianat dan membela... You-Know-Who." Jijimon berkata.
"Jangan begitu! Nanti dia marah! Karena disamakan dengan Voldemort si hidung pesek!" T.K. melucu.
"Ada benarnya juga. Kita panggil saja A. Jadi A itu tadi mengirimkan Machinedramon ke File City. Awalnya, dia mau menembak kota ini hingga para Digimon yang tadi itu, Devimon, Myotismon, Ogremon, Giromon, dan Megadramon akhirnya berkhianat. Belum lagi Pierrotmon, BlackWarGreymon, Beelzemon, Lucemon, dan Bagramon serta bawahan mereka. Kita harus melawan mereka. Musuh enam generasi bersatu dibawah pimpinan seorang manusia analog!"
"Jangan kalah, teman... Kita lawan mereka!" "AYOOO!"
"Baik, pelatih! Misi pertama kalian adalah mengecek Grey Lord's Mansion di kompleks Overdell. Itu adalah tempat tinggal Myotismon dan Devimon. Kalian boleh tinggal disana kalau tidak ada seseorang di istana itu."
Preview Chapter 8:
Grey Lord's Mansion sebenarnya adalah tempat yang dulu mereka kunjungi. Apa kebenaran dari istana itu? Seperti apakah kini?
