Disclaimer: Naruto and all chara(s) belongs to Masashi Kishimoto. I only own the plot.

Pairing: Uzumaki Naruto / Uchiha Sasuke (female)

Warning: OOC, a bit IC, gender bender, AU, typo(s), etc. Don't Like, please Don't Read!


Seven Days With You

Last Day: I Still Love You


24 Desember 2010

Naruto mengerang kesal ketika merasakan seseorang menarik paksa selimut yang menutupi tubuhnya. Segera saja ia menatap tajam ke arah Shion yang berdiri di samping tempat tidurnya tanpa raut wajah bersalah sedikitpun.

"...Apa maumu?" tanya Naruto dengan nada kesal. Ia sedang tidak dalam keadaan senang di pagi hari seperti ini. Yang ia inginkan hanyalah menggelung diri dalam selimut di kamarnya dan tidur. Ia tidak peduli kalau hari ini masih ada pekerjaan yang harus ia lakukan.

"Kau mau bermalas-malasan sampai kapan, Naruto? Apa kau tahu kalau sekarang sudah jam berapa?" tanya gadis itu.

Naruto mendengus pelan sambil memalingkan wajahnya. "Aku tidak tahu dan tidak peduli. Tinggalkan aku sendiri, Shion."

Sayang, sepertinya sepupu tercintanya itu tidak mendengarkan perkataannya. Ia masih bisa mendengar Shion mendecak ke arahnya. Namun sekali lagi ia tidak peduli. Ia tidak peduli jam berapa sekarang. Ia tidak peduli hari apa sekarang. Ia bahkan tidak peduli apa dunia akan kiamat atau tidak.

Naruto mendengus sambil berusaha memejamkan matanya kembali; berniat untuk tidur.

"...Apa yang terjadi denganmu, Naruto?" Shion kembali bertanya. Sepasang iris lavender pucatnya menatap lekat ke arah Naruto yang terbaring tengkurap di atas tempat tidurnya. Gadis itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pemuda pirang di hadapannya. Ia hanya tahu kalau ada sesuatu yang telah terjadi dan membuat sepupunya bertingkah aneh dengan mengurung diri di dalam kamar sepanjang sore kemarin dan bahkan pemuda itu belum menyentuh makan malamnya sama sekali.

"Naruto—"

"Aku baik-baik saja," potong Naruto tanpa melirik sedikitpun ke arah Shion. "Berhenti bersikap seperti Kaa-san. Kalian berdua bersikap seperti aku adalah anak berumur lima tahun. Kau tahu itu?"

Shion terdiam sejenak. "Maaf," katanya. "Aku hanya mengkhawatirkanmu. Kau terlihat seperti Naruto satu tahun yang lalu. Selalu menyimpan semuanya sendiri. Kaupikir kami suka melihatmu seperti itu? Ke mana perginya sepupuku yang dulu? Ke mana perginya Naruto yang ceria? Kau berubah, Naruto. Kau berubah sejak—"

Lagi-lagi Shion tidak menyelesaikan kalimatnya ketika ia menyadari kalau Naruto sudah mendudukkan dirinya dengan kedua iris biru cerah milik pemuda itu menatap tajam ke arahnya. Ia tahu kalau Naruto tidak suka kalau ia atau Kushina mengungkit tentang kematian Minato. Ia tahu kalau Naruto akan marah kalau membicarakan hal itu. Namun sekarang ia tidak peduli. Pemuda di hadapannya bukanlah sepupunya yang dulu dan Shion sangat tidak suka. Ia ingin Naruto yang dulu kembali.

"Jangan pernah ungkit hal itu lagi. Ini adalah aku yang sebenarnya. Kalau kau adalah keluargaku, harusnya kau sama sekali tidak perlu berkomentar apa-apa, Shion."

Shion terdiam. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi menasehati sepupunya itu.

Suasana canggung melanda mereka selama beberapa saat. Tidak ada yang berniat untuk membuka suara sedikitpun sampai akhirnya Naruto menangkap dering dari ponsel yang sejak semalam ia letakkan begitu saja di meja nakas di samping tempat tidurnya. Mengerang pelan, ia mengulurkan tangannya untuk meraih benda mungil tersebut. Ia sedikit mengernyit ketika melihat sebuah nomor yang tidak ia kenal tengah menghubunginya.

'Naruto?' kata sebuah suara dari seberang telepon.

"Siapa ini?"

'Aku Itachi. Kakak Sasuke.'

Shion hanya diam ketika Naruto mengacuhkannya begitu saja dan berkutat dengan ponsel miliknya. Ia juga hanya bisa menatap bingung ketika sepupunya itu tiba-tiba saja menutup sambungan telepon dan kemudian bergegas turun dari tempat tidur, meraih jaket miliknya yang tersampir di kursi belajarnya dan kemudian berjalan ke arah pintu kamar tersebut tanpa mengatakan sepatah kata pun.

"Kau mau ke mana, Naruto!" teriak Shion sambil mengimbangi langkah kaki Naruto. Sekilas ia melihat raut cemas di wajah sepupunya itu.

"Rumah sakit," Naruto berujar pendek dan segera menyalakan mesin motornya yang terparkir tepat di dekat pintu masuk rumahnya. Ia tidak berkata apa-apa lagi kepada Shion yang sepertinya masih belum menangkap apa yang ia katakan.


Naruto melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata. Sesekali ia mengumpat ketika harus berhenti sejenak saat lampu merah menyala. Walau saat ini ia sedang terburu-buru, setidaknya ia masih cukup waras untuk mematuhi peraturan lalu lintas. Yah, walau sekarang bukan saatnya ia untuk bersikap seperti itu.

"Ayolah..." gerutunya sambil menunggu. Begitu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, Naruto kembali melajukan motornya. Ia baru menghentikan aksi gilanya dengan melaju di atas seratus kilometer per jam ketika menyadari kalau ia sudah berada di dekat tempat yang ditujunya.

Diparkirkannya sembarangan motor Ducati merahnya di dekat pintu masuk rumah sakit. Ia yang sudah sangat terburu-buru menghambur begitu saja ke meja informasi.

"Di mana ruangan Uchiha Sasuke?" tanyanya kepada salah satu perawat yang bertugas.

"Uchiha Sasuke? Sebentar," kata perawat tersebut. "Ia masih berada di ruang ICU. Silahkan lurus saja dan kemudian belok kanan."

Naruto mengangguk singkat dan segera berlari kecil ke arah yang dituju. Dalam hati ia terus berharap semoga Sasuke baik-baik saja. Semoga apa yang ia takutkan tidak pernah terjadi. Ia masih belum tahu mengapa Sasuke bisa berada di tempat seperti ini. Ia hanya tahu dari Itachi kalau gadis itu masuk rumah sakit dan kondisinya sedang tidak baik.

"...I-Itachi-san?" panggil Naruto ketika sampai di tempat yang dimaksudkan oleh perawat tadi. Ia bisa melihat kedua orangtua Sasuke serta Itachi tengah berdiam diri di depan sebuah pintu berwarna putih yang tertutup rapat.

"Kau datang, Naruto-kun?"

Naruto mengangguk singkat. "Apa yang terjadi? Mengapa Sasuke—"

Naruto tidak melanjutkan kata-katanya ketika Itachi menepuk pelan bahunya dan menuntunnya untuk duduk di kursi terdekat. Masih tidak mengerti apa yang terjadi, Naruto hanya bisa menurut. Ia sempat membungkuk singkat ketika mendapati kedua orangtua Sasuke tengah menatap dan tersenyum tipis kepadanya.

"...Apa Sasuke sama sekali tidak pernah bercerita tentang keadaannya padamu?" tanya Itachi yang mendudukkan diri di sampingnya. Naruto hanya menggeleng singkat menjawab pertanyaan pemuda berkuncir yang ia tahu adalah salah satu teman satu kampus sepupunya.

"Sasuke mempunyai penyakit bawaan," kata Itachi sambil menatap pintu putih tidak jauh darinya. "Sejak kecil jantungnya lemah sehingga sering keluar masuk rumah sakit ketika penyakitnya kambuh. Sebulan yang lalu, salah satu dokter kenalan keluarga kami mengatakan kalau ia berhasil mendapatkan donor jantung untuk Sasuke dan rencananya hari inilah Sasuke akan menjalani operasi cangkok jantung."

"Rencananya?"

Itachi mengangguk. "Ya, rencananya memang seperti itu. Tadi, ketika Sasuke berniat untuk menjalani cek-up terakhir, tiba-tiba saja Sasuke pingsan sambil memegangi dadanya. Kami buru-buru membawanya ke ruang ICU dan seperti yang kau lihat, kami sama sekali belum tahu bagaimana keadaannya."

Naruto tidak bisa berkata apa-apa. Ia diam sambil memikirkan apa yang baru saja dikatakan pemuda di sampingnya.

Sasuke... sakit?

Ia tersentak ketika menyadari sesuatu. Pantas saja ia tidak pernah melihat Sasuke mengikuti pelajaran olahraga dan sering menghabiskan waktunya di ruang kesehatan. Naruto mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Itukah penyebab mengapa ia melihat bercak biru di leher Sasuke?

Naruto mengumpat pelan ketika baru menyadari apa yang terjadi. Ia sudah pernah membaca tentang penyakit seperti ini dulu. Betapa bodohnya ia tidak menyadari hal itu. Selama ini Sasuke sakit dan ia sama sekali tidak tahu apa-apa? Menyedihkan sekali dirinya.

"Jangan terlalu kaupikirkan, Naruto-kun," kata Itachi lagi. "Sasuke bukan gadis yang lemah. Ia sudah bertahan selama lima belas tahun dengan jantungnya yang lemah dan sampai sekarang ia baik-baik saja. Berdoalah supaya apa pun yang dilakukan dokter di dalam sana akan membuat Sasuke baik-baik saja."

Naruto terdiam sejenak.

"Bagaimana aku tidak bisa berpikir seperti itu, Itachi-san," Naruto berkata sambil menumpukan kedua tangan pada pahanya. "Selama ini Sasuke sakit dan aku sama sekali tidak tahu apa-apa. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk? Aku bahkan belum sempat meminta maaf karena pertengkaran kami kemarin."

"Bertengkar? Apa yang terjadi?"

Naruto menghela nafas pelan sambil memejamkan mata sejenak. "Kami bertengkar karena aku tahu kalau Sasuke berbohong padaku. Ia pernah mengatakan kalau ia akan pindah ke Hokkaido. Tepatnya hari ini. Tapi yang kutahu, ia tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Aku tidak tahu mengapa ia berbohong seperti itu padaku."

"Ah, aku mengerti," kata Itachi sambil menatap pemuda di sampingnya. Ia tahu mengapa Sasuke mau berbuat seperti itu. Ia tahu benar apa alasan di balik kebohongan yang dilakukan adik perempuannya. Walau Sasuke sudah menyuruhnya untuk tidak usah mengatakan apa pun, saat ini ia terpaksa melawan adiknya. Ia yang sangat mengenal Sasuke sangat tahu bagaimana perasaan adiknya terhadap pemuda berambut pirang di sampingnya. Dalam diam, Itachi merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. "Kau ingat ini, Naruto-kun?"

Naruto melirik sekilas ke arah tangan pucat yang terulur kepadanya. Awalnya ia tidak mengerti mengapa Itachi memberikan sebuah saputangan berwarna putih kepadanya. Tapi ketika melihat dua buah huruf yang tersulam rapi di ujung saputangan tersebut, mau tidak mau ia terkejut. Ia sangat mengenali sulaman huruf 'U' dan 'N' di saputangan itu. Huruf yang disulam sendiri oleh Ibunya.

"Apa kau ingat, dua tahun yang lalu, di hari bersalju seperti saat ini, kepada siapa kauberikan saputangan ini, Naruto-kun?" tanya Itachi.

Dua tahun yang lalu? Pikir Naruto. Perlahan ia berusaha mengingat kenangan apa yang terjadi saat itu. Bagaimana bisa Itachi memiliki saputangan yang sudah hilang dua tahun yang lalu?

Bukankah waktu itu ia...

"Ga-Gadis itu... Sasuke?" tanyanya kepada Itachi.

"Ya, gadis yang kau tolong dua tahun yang lalu itu adalah adikku, Sasuke."

Naruto sama sekali tidak percaya. Kejadian itu sudah lama sekali terjadi. Ia hanya bisa mengingatnya samar-samar. Waktu itu, ia baru saja pulang dari game-center setelah menghabiskan waktunya bermain-main bersama Kiba dan Shino. Ia yang berjalan sendirian karena rumahnya yang berlawanan arah dengan rumah kedua temannya itu berjalan melewati jalan pintas yang biasa ia lewati.

Ia masih ingat waktu itu ia melihat tiga orang berandalan tengah mengganggu seorang gadis yang tidak pernah ia lihat sebelumnya dan ia pun berniat menolong gadis itu.

"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto. Gadis di depannya hanya mengangguk singkat. Ia sama sekali tidak melihat jelas wajah gadis itu karena tertutup oleh topi dan juga syal tebal. Ia yang sempat melihat kaki gadis di hadapannya sedikit kotor segera berjongkok dan membersihkan kaki gadis itu dengan saputangan miliknya.

"Lain kali sebaiknya jangan berjalan sendirian di tempat seperti ini," katanya waktu itu sambil membersihkan lutut gadis di hadapannya. Begitu selesai, ia kembali menegakkan badannya dan menarik pelan tangan gadis itu. "Kau bawa saja. Siapa tahu kau membutuhkannya nanti," katanya sambil memberikan saputangan miliknya kepada gadis itu.

"Sejak saat itu, Sasuke tidak berhenti memikirkanmu. Ia berniat untuk mengucapkan terimakasih dan mengembalikan saputangan itu. Sayang, ia tidak tahu siapa kau sampai pada akhirnya ia kembali melihatmu ketika kau berkunjung ke rumah Hyuuga dan kebetulan saat itu Ayah Hinata mengundang keluarga kami untuk makan malam," kata Itachi.

"Setelah tahu namamu, Sasuke memaksa Tou-san untuk mendaftarkan dirinya di sekolah yang sama denganmu. Awalnya Tou-san tidak setuju karena demi kesehatannya. Beliau juga tidak yakin kalau Sasuke bisa berinteraksi dengan anak-anak lain mengingat kalau selama ini ia menjalani home schooling. Tapi karena Sasuke tetap memaksa, akhirnya Tou-san setuju untuk menyekolahkannya di Konoha Gakuen.

"Aku tahu Sasuke menyukaimu. Karena itulah ia berbohong tentang kepindahannya. Ia takut kalau operasinya akan gagal sehingga membuatnya berbuat hal-hal semacam ini. Membuatmu menjadi pacar walau hanya pura-pura. Ia ingin berada di dekatmu namun tidak bisa berkata yang sebenarnya. Sasuke menyukaimu, Naruto. Dan itu bukanlah suatu kebohongan."

Naruto hanya bisa menatap tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengar. Sasuke melakukan ini semua? Ia benar-benar merasa seperti orang yang paling jahat di dunia. Ia tidak pernah menyangka alasan sebenarnya Sasuke berbuat seperti itu adalah karena dirinya. Apakah karena dirinya juga keadaan Sasuke memburuk?

Ia mendesah pelan sambil meremas helaian rambut pirangnya. Ia benar-benar menyesal karena kemarin ia sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan gadis itu. Ia akan semakin membenci dirinya kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Sasuke. Ia tidak ingin terjadi apa pun kepada gadis itu karena bagaimanapun juga, ia... ia menyukai Sasuke.

"Sial!" umpatnya pelan. Ia tidak sanggup mengangkat kepalanya ketika mendengar lampu ruang ICU yang dimatikan serta suara pintu yang dibuka. Ia juga diam saja ketika merasakan Itachi mulai beranjak dari tempatnya.

Bagaimana keadaan Sasuke?

Apa gadis itu baik-baik saja?

.

.

Hal pertama yang ia lihat saat membuka mata adalah langit-langit berwarna putih serta bau obat yang menyengat. Ia mengerang pelan ketika menyadari di mana ia berada saat ini.

"Sasuke..."

Gadis berambut hitam kebiruan itu perlahan menolehkan kepalanya. Ia melihat sosok Ibunya yang tengah duduk di samping tempat tidurnya sementara di samping sosok wanita berambut panjang itu ada sosok Fugaku tengah berdiri sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.

"Bagaimana keadaanmu, Sasuke?" tanya Mikoto dengan nada lembut sambil membelai telapak tangan anaknya. Sasuke hanya menjawab dengan senyuman tipis sembari mengedarkan pandangannya ke kamar dimana ia dirawat. Ia sedikit terkejut ketika mendapati di samping sosok kakaknya yang berdiri di dekat pintu masuk ada sosok lain.

Sosok Naruto yang terlihat menundukkan kepalanya.

"Aku ingin berbicara berdua dengan Naruto, Kaa-san," kata Sasuke sambil melirik Ibunya.

Mikoto agaknya sedikit keberatan. Bukan karena ia tidak setuju. Ia tahu kalau anak perempuannya saat ini sedang menjalin hubungan dengan pemuda pirang itu. Baik ia dan Fugaku sama sekali tidak keberatan karena mereka tahu, Sasuke menyukai pemuda tersebut. Mikoto akhirnya mengalihkan pandangan ke arah suaminya. Setelah melihat suaminya yang menganggukkan kepala sekilas, akhirnya wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Naruto berdiri.

"Sasuke ingin berbicara denganmu,. Tolong temani dan jaga Sasuke sebentar," kata wanita berambut panjang tersebut sambil tersenyum sebelum berlalu dengan suami dan anak laki-lakinya. Naruto mengangguk singkat dan berjalan ke arah tempat tidur Sasuke. Keheningan melanda kedua orang itu di saat Naruto dan Sasuke tidak ada yang memulai pembicaraan. Naruto sendiri hanya diam sambil berdiri di samping Sasuke.

"Apa ada yang ingin kaukatakan, Senpai?"

Naruto memilih untuk tidak menjawab. Ditatapnya gadis yang tengah terbaring di hadapannya. Dari yang ia dengar, keadaan Sasuke sudah lebih baik—walau belum seratus persen—sehingga akhirnya dokter memutuskan untuk memindahkannya sementara ke ruang rawat. Menurut dokter yang menangani Sasuke, gadis di hadapannya ini hanya mengalami kelelahan karena banyak pikiran sehingga kerja jantungnya meningkat.

"...Maafkan aku," bisik Naruto sambil mendudukkan diri di kursi yag sempat diduduki Mikoto. Diulurkannya tangan kanannya untuk menyingkirkan helaian rambut yang menutupi dahi Sasuke. Ia bisa merasakan tubuh gadis itu sedikit tersentak karena sentuhannya.

"Maaf untuk apa?"

Kembali, Naruto memilih untuk diam. Ia diam sambil menatap Sasuke. Menatap sosok gadis yang belakangan ini menjadi pikirannya. Siapa yang pernah menyangka kalau ia akan bertemu dengan gadis yang pernah ditolongnya dua tahun yang lalu.

"Senpai—"

"Mengapa kauberbuat sejauh ini, Sasuke?" potong Naruto. Ia mendapati Sasuke menatapnya tidak mengerti. "Mengapa kau mau repot-repot berbohong demi ingin berada di dekatku? Kau membahayakan dirimu sendiri dengan berbuat bodoh seperti ini. Apa kau sama sekali tidak peduli dengan kesehatanmu sendiri?"

"Apa maksudmu?" Sasuke bertanya.

Pemuda berambut pirang itu menghela nafas panjang. Digenggamnya telapak tangan Sasuke yang terkulai di sisi tubuh gadis itu. "Itachi-san sudah menceritakan semuanya padaku," kata Naruto sambil mencium punggung tangan Sasuke. "Ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kau benar-benar bodoh, apa kau tahu itu? Mengapa tidak sejak dari awal kau mengatakan kalau kita pernah bertemu sebelum ini?"

Sasuke bisa merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat serta bunyi kardiograf di dekat tempat tidurnya yang menunjukkan kalau kerja jantungnya sedikit meningkat. Perlahan, ia mencoba menenangkan dirinya; mencoba mengontrol detak jantungnya.

Naruto tahu dan Itachi melanggar apa yang ia inginkan.

"Aku—"

Sasuke tidak melanjutkan kata-kata yang ingin ia ucapkan. Ini salah! Tidak seharusnya Naruto tahu. Tidak seharusnya pemuda itu mengetahui apa yang terjadi. Biarlah perasaannya ini hanya ia yang tahu. Biarlah hanya dia yang menyukai Naruto.

"...Kau benar-benar tidak bisa kumengerti, 'Suke," kata Naruto lagi. "Mengapa kau berbuat sejauh ini? Kau bahkan berpikiran kalau kau akan mati di ruang operasi. Mengapa kau begitu pesimis?"

Sasuke terdiam sejenak.

"Aku... aku tidak tahu. Mungkin karena aku takut kalau operasiku tidak akan berakhir. Aku takut suatu saat nanti aku tidak bisa melihatmu lagi," kata Sasuke.

Itu memang benar. Ia terlalu takut tidak bisa bertemu dengan Naruto sehingga di sisa waktu sebelum jadwal operasi dilaksanakan, ia ingin bersama dengan Naruto walau hanya sebagai pacar pura-puranya. Ia tahu kalau Naruto sangat menyukai UVERworld sehingga meminta Itachi untuk mencarikan tiket konser band tersebut.

Satu minggu yang ia pilihpun memang ia sengaja. Tepat di saat 'perjanjian' antara dirinya dan Naruto berakhir, ia akan menjalani operasi. Apa pun hasilnya, walau berhasil atau tidak, ia tidak peduli lagi. Satu minggu yang ia jalani bersama Naruto sudah cukup baginya. Sayang, di saat terakhir Naruto mengetahui kalau ia berbohong mengenai kepindahannya. Ia tidak tahu kalau Naruto bisa semarah ini. Ia ingin meminta maaf tapi urung ketika ia harus masuk rumah sakit karena penyakitnya kambuh.

"Kau harusnya tidak perlu takut terhadap apa yang belum pasti, Sasuke," kata Naruto yang menyadarkan gadis itu dari lamunannya. "Kau harusnya yakin kalau semuanya akan baik-baik saja."

"Kau sama sekali tidak membenciku?" tanya Sasuke dengan nada berbisik.

Naruto menggeleng pelan. Awalnya ia memang marah karena Sasuke berbohong padanya. Sejak dulu ia akan marah kalau ada orang yang berbohong padanya. Ia tidak ingin orang-orang terdekatnya membohongi dirinya. Sama seperti apa yang pernah dilakukan ayahnya dengan berbohong selama bertahun-tahun mengenai penyakitnya sampai pada akhirnya pria itu meninggal tanpa sempat mengatakan apa pun kepadanya. Sejak saat itu Naruto tidak suka kalau dirinya dibohongi.

Tapi itu sebelum ia tahu mengapa Sasuke berbohong padanya. Sekarang, ia tidak peduli. Ia tidak peduli seberapa banyak kebohongan yang sudah Sasuke katakan padanya.

"Ceritakan padaku semuanya, 'Suke?" bisik Naruto.

Sasuke mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit kamar itu. Tanpa sadar, ia meremas pelan telapak tangan yang digenggam Naruto. Ia tidak tahu harus mulai darimana. Apakah dari awal pertemuan mereka? Atau ketika ia akhirnya mengetahui siapa yang sudah menolongnya dua tahun lalu?

Ia terdiam. Kalau kakak laki-lakinya sudah menceritakan awal pertemuan mereka, ia yakin Itachi pasti sudah menceritakan semuanya.

Gadis berambut raven itu menghela nafas pelan; berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya dari alat bantu pernafasan yang dipasang di hidungnya. Ia kembali mengalihkan perhatiannya ke arah Naruto.

"Awalnya," kata Sasuke, "aku sama sekali tidak berniat untuk melakukan ini semua. Aku hanya ingin mengembalikan saputangan milikmu dan berterimakasih karena sudah menolongku. Tapi ketika aku bertemu lagi denganmu, kau terlihat berbeda dari saat pertama kali kita bertemu. Kau bukan lagi Naruto yang pernah menolongku. Naruto dua tahun yang lalu yang telah menolongku adalah orang yang hangat dan murah senyum. Tapi ketika aku melihatmu di rumah Hinata, kau berbeda."

Sasuke terdiam sejenak sambil mengingat saat dimana ia kembali bertemu dengan Naruto satu setengah tahun yang lalu. Entah kebetulan atau tidak, ia tidak sengaja melihat Naruto keluar dari kamar Neji—sepupu Hinata. Karena tidak tahu apa yang harus diperbuat, ia hanya diam sambil memandang pemuda itu. Saat itulah ia menyadari ada yang berbeda dari pemuda itu. Naruto yang pernah menolongnya mempunyai senyum yang hangat dan tulus. Tapi Naruto yang ditemuinya waktu itu mempunyai senyum yang dipaksakan.

Ia tidak tahu apa yang telah terjadi pada Naruto yang dulu. Ia tidak tahu apa-apa tentang pemuda itu sehingga tanpa sadar membuatnya terus mengamati Naruto secara diam-diam. Selama bersekolah di Konoha Gakuen, diam-diam ia memperhatikan Naruto sampai akhirnya suatu hari ia memutuskan untuk mencoba peruntungannya dengan meminta Naruto menjadi pacarnya.

Ia ingin bersama Naruto namun takut kalau pemuda itu tidak menyukai berada di dekatnya.

Siapakah dia? Ia hanya seorang gadis biasa yang suka mengurung diri di dalam kamar dan jarang bergaul.

Ia bukanlah siapa-siapa.

Sasuke merasakan sentuhan di sisi kanan wajahnya sehingga membuatnya tersadar dari lamunannya. Ia sedikit terkejut kerena entah sejak kapan Naruto telah mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidurnya.

"Maafkan aku kerena telah berbohong padamu," kata Sasuke dengan suara berbisik. Ia memejamkan matanya untuk menikmati sentuhan hangat dari Naruto. Ketika ia kembali membuka matanya, ia mendapati wajah Naruto yang begitu dekat dengannya dengan nafas pemuda itu menerpa wajahnya.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, 'Suke," bisik Naruto. "Kita berdua terlalu bodoh untuk bisa jujur terhadap apa yang kita rasakan."

Perlahan, Naruto menghilangkan jarak di antara dirinya dan Sasuke dengan sebuah ciuman. Ciuman itu lembut dan sangat hati-hati. Bahkan sangat hati-hatinya sehingga membuat ciuman itu terasa bagaikan mimpi. Mimpi yang sangat indah.

Kedua orang itu perlahan memejamkan mata; menikmati setiap sentuhan satu sama lain. Sasuke tidak pernah membayangkan kalau ia akan merasakan kembali ciuman yang diberikan Naruto. Tidak pernah sejak pertengkaran mereka kemarin.

Benarkah Naruto memaafkan dirinya? Benarkah Naruto tidak marah padanya?

Sasuke hampir saja menganggap kalau semua ini hanya mimpi. Tapi ketika merasakan sentuhan bibir Naruto pada bibirnya, ia tahu ini bukan mimpi. Ia bahkan merasakan jantungnya berdetak dua kali lipat dari biasanya. Namun kali ini, ia tidak merasakan sakit dan nyeri. Malah terasa hangat dan nyaman.

Perlahan, Sasuke menggerakkan tangannya yang sejak tadi terkulai di kedua sisi tubuhnya ke arah kepala Naruto. Ia meremas pelan helaian rambut pirang Naruto ketika pemuda itu memperdalam ciuman mereka. Ia sudah tidak peduli lagi dimana ia berada atau ada orang yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. Ia juga tidak mempedulikan suara mesin kardiograf yang berbunyi lebih keras dari biasanya.

BRAKK!

"Apa yang terjadi di sini? Mengapa mesinnya berbunyi seperti itu?"

Suara pintu yang terbuka secara mendadak dan pertanyaan yang dilontarkan seseorang dari arah pintu membuat kedua orang itu menghentikan ciuman mereka. Naruto segera menarik tubuhnya dan kemudian menatap ke arah siapa yang baru saja datang. Ia mengumpat dalam hati ketika melihat seorang wanita berpakaian serba putih dengan stetoskop di lehernya tengah menatap tajam ke arahnya. Ia juga melihat kedua orangtua Sasuke serta Itachi dengan berdiri di belakang wanita berambut pirang kotor itu.

"Adakah dari kalian berdua yang mau menjawab pertanyaanku?" tanya wanita itu lagi.

"Err—"

Naruto berusaha menjawab pertanyaan wanita itu namun tidak ada kata-kata yang keluar. Diliriknya sosok Sasuke yang terbaring di sampingnya. Ia melihat gadis itu memalingkan wajah ke arah lain sambil menutup wajah dengan lengannya. Samar-samar Naruto bisa melihat rona merah di telinga gadis itu.

"T-Tidak ada sesuatu yang serius terjadi," kata Naruto pada akhirnya. Ia mendelik kesal ke arah Itachi yang seperti sedang menahan tawa di belakang sosok kedua orangtuanya. Apakah ia harus mengatakan apa yang terjadi sementara ia yakin keempat orang itu pasti sudah bisa menebak dilihat dari posisi mereka barusan?

Kecanggungan melanda orang-orang di ruangan itu sampai pada akhirnya dokter berambut pirang berdeham pelan sambil melangkahkan kakinya memasuki ruangan dan berjalan ke arah mesin kardiograf. Wanita itu tidak berkata apa-apa namun dilihat dari wajahnya, orang-orang pasti menduga ada sesuatu yang dipikirkan.

"...Sasuke," panggil dokter tersebut dan membuat gadis berambut raven itu mendongak sedikit. "Kami memutuskan untuk melakukan operasinya hari ini juga."


"Ini semua demi Sasuke," kata Itachi kepada Naruto yang saat ini menyandarkan diri di luar ruangan temoat Sasuke dirawat. "Tsunade-san, dokter yang selama ini merawat Sasuke mengatakan kalau lebih baik Sasuke menjalani operasi secepatnya. Beliau mengatakan kalau mungkin saja keadaan Sasuke akan semakin bertambah buruk jika hal seperti tadi pagi kembali terulang. Ia tidak yakin kalau Sasuke bisa selamat."

Naruto tidak berkata apa-apa. Ia tetap diam sambil menatap ke arah luar jendela. Kedua orang tua Sasuke pergi untuk mengurus surat-surat operasi sementara dokter bernama Tsunade tengah memeriksa gadis itu dan menyiapkan segala sesuatu untuk operasi.

Tanpa sadar Naruto mengepalkan kedua tangannya yang terkulai di kedua sisi tubuhnya.

Ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.

Berdoakah? Atau hanya tetap diam menunggu?

Naruto menegakkan tubuhnya ketika mendengar suara pintu kamar Sasuke terbuka. Dilihatnya gadis itu tengah mendudukkan diri di sebuah kursi roda dengan Tsunade yang berdiri di sampingnya. Entah sejak kapan kedua orangtua Sasuke sudah kembali. Yang ia tahu kalau kedua Uchiha senior tersebut sekarang sedang berbicara dengan Sasuke.

"Kau akan baik-baik saja, Sasuke," kata Mikoto. Sasuke hanya menggangguk singkat ke arah kedua orangtuanya.

"Tsunade-san akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhanmu," kali ini Fugaku yang berbicara.

"Kau tidak mau menyampaikan sesuatu pada Sasuke?" tanya Itachi.

Naruto terdiam sejenak namun akhirnya berjalan ke arah gadis itu dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Sasuke yang sedang terduduk di atas kursi roda. "Berjuanglah," katanya sambil mengecup puncak kepala Sasuke. "Aku akan menunggumu."

Pemuda berambut pirang itu tidak berkata apa pun lagi ketika Tsunade mendorong kursi roda Sasuke menuju ke arah ruang operasi. Ia juga tetap diam ketika perlahan tubuh gadis itu menghilang di balik sebuah pintu berwarna putih. Dalam hati, Naruto tidak henti-hentinya berdoa Sasuke baik-baik saja. Ia tidak ingin kehilangan gadis itu. Sasuke adalah orang yang paling berarti baginya.

Dalam diam, Naruto merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Ia mendapati kalau ternyata Shion berkali-kali menghubunginya dan mengiriminya pesan singkat. Ia yang tidak punya waktu membalas semua itu memilih untuk tidak mempedulikannya. Ia berniat untuk memasukkan kembali ponsel tersebut sebelum matanya menangkap deretan angka dan huruf di layar ponselnya.

'24 Desember 2010'

Naruto termenung sejenak. Ia ingat kalau hari ini adalah malam Natal. Ia pun mengalihkan pandangan ke arah luar jendela rumah sakit dan menyadari kalau di luar sana salju tengah turun. Salju berwarna putih yang sangat indah. Selama ini ia bukanlah orang yang mempercayai adanya Santa atau keajaiban Natal, tapi entah mengapa hari ini ia ingin mempercayai kalau keajaiban memang terjadi di malam Natal.

Ia ingin itu terjadi.

Demi Sasuke...

End of Flashback


20 Februari 2011

Aku menghela nafas panjang sambil mengosokkan kedua tanganku untuk mencari kehangatan. Aku pun mengalihkan pandanganku ke arah langit.

Mendung.

Apa salju akan turun lagi? Entahlah, aku tidak peduli.

Aku sedikit tersentak ketika menyadari kalau ada seseorang yang menepuk bahuku. Segera saja aku mengalihkan pandanganku dan mendapati orang yang kutunggu akhirnya datang juga.

"Mengapa kau lama sekali, 'Suke?" tanyaku. Kulihat gadis itu mendecak pelan sambil mendekatkan dirinya ke tubuhku.

"Salahkan Aniki yang baru bangun. Lagi pula bukankah aku sudah mengirimu pesan kalau aku akan datang terlambat?" Ia berbalik bertanya dan aku memilih untuk tidak menjawab.

Aku melirik gadis di sampingku. Gadis itu tetaplah Sasuke yang kukenal dua bulan terakhir. Ia tetap cantik dan mimim kata-kata. Kurasa tidak akan ada yang bisa merubah sikap dinginnya itu. Tapi aku tidak peduli. Gadis itu adalah gadis yang kusukai.

Aku masih ingat bagaimana saat-saat yang kulalui selama operasi Sasuke. Aku tidak pernah merasa secemas itu. Menunggu lampu ruang operasi dimatikan terasa satu abad bagiku. Aku baru bisa bernafas lega ketika Tsunade keluar dari ruang sialan itu dan mengatakan kalau operasinya berhasil. Sasuke akan baik-baik saja.

Selama satu bulan terakhir, Sasuke menjalani pengobatan setelah operasi. Untung saja ia tidak perlu dirawat di rumah sakit dan hanya menjalani rawat jalan sampai dokter mengatakan jantungnya sudah bisa bekerja dengan baik. Dan setelah satu setengah bulan lebih, akhirnya Sasuke bisa menjalani hari-harinya yang biasa tanpa harus mengkhawatirkan keadaan jantungnya lagi.

"Kenapa memandangiku seperti itu?"

Aku tersadar dari lamunanku. Aku menggeleng pelan dan tersenyum lebar kepadanya. Sedikit mengernyit ketika aku baru menyadari kalau Sasuke tidak memakai sarung tangan atau syal. Ia hanya mengenakan jaket tebal serta rok selutut dan sepatu boot-nya. Apa ia tidak merasa kedinginan? Tanpa berniat bertanya, aku melepaskan syal yang membelit leherku dan memakaikannya ke leher pucat Sasuke.

"Kau bisa sakit kalau berpakaian seperti ini, 'Suke," kataku.

"Hn."

Lagi-lagi aku mendecak atas jawaban minim gadis itu. Kuraih tangan kanan Sasuke dan tanpa mempedulikan tatapan heran yang ia layangkan padaku, aku memasukkan tangannya ke dalam saku jaketku.

"Ayo pergi. Hari ini kencan pertama kita setelah akhirnya kau diperbolehkan berjalan-jalan. Kau mau naik apa?"

Ia terdiam sejenak. "Roller coaster?"

Aku terkekeh pelan. Teringat kembali dengan kencan kami dua bulan yang lalu.

Ya, kencan yang membuatku akhirnya menyukai gadis di sampingku. Sampai sekarangpun aku masih menyukainya. Selalu dan tidak akan pernah berakhir. Aku bersyukur karena saat ini Sasuke bisa bersamaku dan aku akan menyesal seumur hidup kalau sesuatu yang buruk terjadi padanya.

"Sasuke..." panggilku ketika kami hampir sampai di tempat pembelian tiket masuk. Ia melihatku dengan sepasang iris mata kelamnya; menunggu aku mengucapkan sesuatu. "I love you."

"Hn. I know and I love you too."

Aku tersenyum kepadanya. Siapa yang pernah menduga kalau kami akan berkencan sungguhan dan bukannya hanya berpura-pura seperti dulu?


The end


Last note from Author: akhirnya tamat! Lebih lama dari yang saya kira dan walau tidak yakin, semoga hasilnya tidak buruk. Maaf kalau alurnya terkesan lambat atau cepat. I try my best to write this chapter #droll saya tidak membuat detail tentang operasi atau pengobatan yang Sasuke jalani setelah operasi karena saya membuat fanfic ini berdasarkan tanggal.

At least, terima kasih untuk reader yang sampai saat ini masih membaca fanfic ini. Maaf kalau ada yang kurang berkenan. Terima kasih juga atas semua apresiasinya. Baik review, concrit, alert dan fave (BIGSMILE)

Maukah mereview untuk chapter terakhir ini? #puppyeyes

With love,

Sou.