Genre : romance & friendship

Disclamer: Masashi Kishimoto

Pairing : sasusaku

Ranting: Teens

By: LovelyMina


RASA ITU MULAI ADA…

Sasuke terbangun dengan kepala yang sedikit pusing tapi ia tetap saja cuek, ia langsung saja mandi dan berpakaian.

Sasuke melangkahkan kakinya kedalam ruang makan ia melihat Sakura sedang sarapan sambil mengobrol dengan Yui.

"Ini bekal Sasuke." Ucap Sakura sambil memberi Sasuke sebuah kotak makan berwarna biru, Sasuke mengambilnya "Trims" ucap Sasuke pelan tapi tetap saja membuat senyuman Sakura mengembang.

"Ayo Sakura, kami pergi." Ucap Sasuke masih dengan nada dingin.

Sampai di parkiran seperti kemarin Sakura langsung saja turun dan pergi ke kelas tapi dengan raut wajah sedih.

Sasuke masih berdiam diri di samping motor miliknya ia lalu menaruh helm disana bertemu dengan Neji dan Sai serta Shikamaru

"Kau masih kepikiran dengan yang semalam?" Tanya Neji dengan penasaran sedang Sai hanya diam dengan senyuman khas miliknya.

Sasuke hanya bisa mengangguk pelan.

"Jangan buat Sakura khawatir dengan sikapmu yang tiba–tiba berubah kepadanya, aku jadi kasihan kepadanya," ucap Sai dengan sungguh–sungguh

"Bicara khawatir, kau tidak khawatir dengan gadis incaranmu ? Ia cukup terkenal dan banyak jadi incaran." Ucap Neji sambil tersenyum.

"Lihat orang yang kalian bicarakan baru datang." Ucap Sasuke dengan nada mengejek kepada Sai yang seperti orang sedang berbunga–bunga, Melihat Ino datang.

"Kau harus cepat menentukan perasaanmu." Ungkap Neji dengan tegas, disambut anggukan Sai.

Di Kelas Sakura.

Sakura tertidur di mejanya sedang Temari dan Tenten mengobrol bareng.

"Hay Ino." Sapa Tenten dan Temari bersamaan.

"Hay, apa itu jidat?" Tanya Ino dengan heran, Temari mengangguk.

Sakura bangun menemukan kelasnya masih berisik karna belum ada guru yang masuk kedalam kelasnya.

"Kau ada masalah?" Tanya ino

"Bagaimana bisa kau menebak aku sedang ada masalah?" Sakura malah balik bertanya.

"Kau jarang sekali tertidur dikelas bahkan mungkin tidak pernah sama sekali" ungkap Ino

Asuma Sensei masuk kedalam kelas membuat Sakura tersenyum sedang Ino mengumpat tidak jelas.

Sehabis pelajaran Asuma Sensei adalah pelajaran olahraga dengan Kakashi Sensei.

Mereka mulai bermain permainan bola besar yaitu basket.

"Kita bagi menjadi 2 kelompok." Ucap Kakashi Sensei

"Tayuya, Temari, Tenten, Sakura, Hana, Shion, Meirin dan Kaguya" ucap Kakashi Sensei.

Shion yang notabene anak penyumbang dana paling besar merasa lebih special berbicara dan Shion juga ikut klub karate

"Sensei saya tidak ingin satu kelompok dengan Anak yatim piatu." Kata Shion sambil memandang sinis kepada Sakura, Sakura yang sadar akan hal itu langsung naik darah menampar pipi Shion

"Jaga ucapanmu nona, seorang Nona besar berkata seperti itu sebuah aib karna tidak bisa berkata lebih sopan." Ucap Sakura tajam lalu berbalik saat Sakura berbalik Shion mencoba memukul tengkuk Sakura tapi gagal karna Sakura berbalik dan menjengkal kaki Shion hingga jatuh.

Beberapa anak membantu Shion atas perintah Kakashi sensei jika tidak, tidak ada yang mau menolongnya.

"Sakura " panggil Ino dengan ngeri sekaligus sedih

"Sudahlah aku tidak mau kau sedih Ino." Ucap Sakura berterus terang walau ada kegetiran dalam suaranya dan Kakashi sensei menyadarinya.

Pelajaran seni oleh Anko sensei akhirnya dimulai tanpa Shion yang masih dirawat oleh Shizune di uks dan Sakura masih terbayang–bayang dengan perkatan Shion, Kakashi mengetuk pintu kelas dan berbicara

"Permisi Anko, boleh aku pinjam sakura sebentar?" Tanya Kakashi Sensei, Anko Sensei terlihat bimbang pasalnya seperti Misa, Sakura juga cukup cakap dalam bidang Seni tapi melihat tatapan Kakashi yang cukup Serius Anko Sensei mengerti ada sesuatu yang cukup penting.

"Sakura kau keluar, Temui Kakashi sensei." Ucap Anko dengan tegas sementara Sakura hanya menurut saja

"Ada yang harus kubicarakan kepadamu " ucap Kakashi sambil membawa Sakura keruangannya

Kakashi menunjukan sebuah stuktur pertandingan

"Jadi Sehabis Putra kita melawan Suna baru tim Putri yang turun?" Tanya Sakura, Kakashi mengangguk.

"Kau hanya harus bersiap sedikit lagi, Kalian berdua sangat mirip walau berbeda orangtua." Ujar Kakashi sensei, Sakura mengerti ucapan Senseinya yang satu ini dan ia merasa bangga.

Pulang sekolah Sakura dan anggota Tim putri berkumpul, Sakura bersyukur yang turun hanyalah kelas X dan XI karna kelas XII harus sibuk mempersiapkan ujian yang tinggal sebentar lagi kecuali Konan dan Misa yang masih setia untuk aktif.

Lalu mereka mulai berlatih dengan Kakashi sensei, Naruto, Sasuke, Kiba, Sai dan Gaara yang memperhatikan latihan tersebut dari atribut penonton, Naruto dan Kiba yang berteriak memberi arahan, Sasuke hanya memperhatikan cara Sakura memimpin para anggota tim sedang Sai dan Gaara memperhatikan posisi para pemain dan strateginya Kakashi Sensei malah lebih sibuk membaca buku Icha – icha paradise kesukaannya.

Setelah selesai latihannya mereka semua mulai pulang dengan bersama – sama, Sakura masih sibuk merapihkan seisi tasnya hingga ada yang memanggil namanya ternyata itu adalah Gaara.

"Gaara Senpai ada apa?" Tanya Sakura melihat Gaara menghampirinya.

"Apa Misa sudah menghubungimu?" Tanya Gaara, Sakura hanya menggeleng saja

"Sejak Nee chan pergi, kami tidak pernah saling bertelfonan ataupun sms," Ucap Sakura

Gaara mengangguk mengerti

"Memang ada apa?" Tanya Sakura

"Kau taukan Misa pergi ke Suna 2 minggu." Tanya Gaara, Sakura mengangguk pasti

"Apa kau tau Misa ke Suna untuk apa?" Tanya Gaara dengan bingung

"Entahlah aku tidak ingat tapi biasanya, Nee chan pulang kesana karna ada urusan keluarga." Ucap Sakura

"Kalau urusan keluarga, tapi kukira kalian satu keluarga." Ucap Gaara dengan bingung

"Gaara Senpai belum tau pokok perbedaan kami berdua, Biar Nee chan yang jelaskan karna Nee chan lah yang tau semuanya." Ucap Sakura dan Gaara hanya mengangguk.

Sakura pulang sendirian menuju rumahnya karna Sasuke sudah pulang duluan, Sakura tidak mau pulang ke rumah sasuke jika sikap Sasuke masih saja bersikap dingin seperti itu.

Sampai dirumah sakura segera berbenah dan membereskan kamarnya Sakura mengeluarkan sebuah kalung dari laci meja belajarnya Kalung yang sama seperti milik Sasuke hanya berbeda arah jika bandul milik Sasuke menghadap kanan maka milik sakura menghadap Kiri.

Sakura menghabiskan waktunya dengan belajar ia merasa amat bosan ada rasa ia ingin menelfon sang kakak tapi tidak berani takut mengganggu atau salah situasi saat ia menelfonnya nanti.

Sakura akhirnya beranjak dari tempat belajarnya ia menuju kulkas yang berada didapur dan tak menemukan makanan hanya ada minuman Sakura mengambil dompet dan jaket ia ingin ke supermarket terdekat.

Sakura kembali berjalan menuju rumahnya tapi ia merasa hawa tidak enak dan benar saja ada seseorang memukul tengkuknya membuat ia jatuh berlutut dengan sakitnya.

"Hanya seorang gadis yang lemah untuk kita habisi." Ucap seorang preman kepada kedua temannya.

Sakura bangun tapi langsung saja jatuh kembali ia kemudian dipaksa bangun oleh salah seorang preman tersebut. Tapi teman preman tersebut terkapar dijalanan karna bertarung melawan seseorang.

"Sasuke" Gumam Sakura tidak percaya ternyata Sasuke yang telah menghajar satu preman tersebut kini ia melawan seorang lagi dan bruk preman tersebut terkapar.

"Jangan bergerak atau kepalanya akan terlepas dari bagian tubuhnya." Ucap sang preman tersebut menodong sebuah pisau ke leher Sakura.

Sasuke diam meneliti lawannya jika ia serang Sakura menjadi taruhannya. Preman dan Sasuke kaget melihat Sakura menginjak kaki preman tersebut karna kesakitan sang preman mendorong sakura hingga terjatuh dengan pisau tersebut yang berhasil menggores sedikit lengan kanan Sakura.

"Sakura!" panggil Sasuke cemas melihat keadaan Sakura yang tak sadarkan diri, merasa tak diperhatikan sang preman kabur seorang diri.

Sasuke menggendong Sakura menuju mobilnya tujuannya satu rumahnya di jalan ia menelfon Dokter kenalannya untuk berada dirumah segera.

Sampai dirumah ia segera membawa sakura kedalam kamar yang waktu itu ditempati sakura saat masih disini.

Yui terlihat panic dan segera membawa berbagai perlengkapan untuk kebutuhan majikannya.

Akasuna Sasori yang masih berada diruangannya ditelfon oleh Sasuke untuk kerumahnya dengan cepat, langsung saja si dokter muda ini bergegas karna merasa ada hal yang gawat jika tidak ia pasti akan memenggal leher Sasuke.

Sampai di kediaman Uchiha Sasori segera bergegas mengikuti arahan Yui mengatakan bahwa Sakura di serang oleh preman.

Selesai dalam pemeriksaan,

"Ia sudah tidak apa–apa, tapi tengkuknya agak sedikit bermasalah karna dipukul terlalu kencang oleh sang preman" terang sasori sambil mengemasi semua peralatannya.

"Apa Tateishi san sudah tau keadaan Sakura?" Tanya Sasori

"Belum, Ia sedang pergi ke Suna untuk 2 minggu." Ucap Sasuke pelan

"Oh begitu, karna sudah selesai pemeriksaannya aku pulang dulu," Ucap Sasori

"Tagihannya? Untuk menebus semua obat Sakura" Tanya Sasuke

"Tidak perlu, Haruno san mempunyai hubungan saudara dengan Tateishi, dan itu menjadi sebuah keringanan." Ucap Sasori dan Sasuke hanya mengangguk walau ia tidak mengerti apa maksud dari perkataan Sasori.

Yui sudah tidur, Sasori sudah pulang kini hanya tinggal Sasuke yang berada dikamar Sakura ia ingin menjaga Sakura, Hanya ingin menjaga Sakura saat ini.

"Kenapa kau tidak ingat masa lalumu Sakura?" bisik Sasuke sambil menutup matanya

"Aku memang salah, tidak bisa menjagamu," ucap Sasuke lagi dengan rasa bersalah.

Sasuke tertidur di kamar Sakura dengan posisi duduk.

Matahari mulai muncul kedalam peredaran, Yui sudah bangun dan memasak sarapan untuk Sasuke dan Sakura.

Sakura mulai terbangun dan mendapati dirinya berada di rumah Sasuke

"Sasuke Senpai!" Panggil Sakura pelan sambil mencoba bangun.

Sasuke merasa ada yang memanggilnya mulai bangun dan melihat Sakura yang sudah bangun dan kini mencoba bangun.

"Kau sudah bangun, Ayo kubantu kau Sakura." Ucap Sasuke dengan sigap membantu Sakura untuk masuk kedalam Kamar mandi, Sasuke segera saja juga bersiap–siap untuk pergi sekolah.

Di meja makan.

"Bagaimana keadaanmu Sakura?" Tanya Yui sambil memberikan Susu kepada Sakura

"Aku cukup hanya saja di sini masih sedikit sakit." Ucap Sakura sambil meraba bagian tengkuk miliknya, Yui hanya tersenyum maklum saja.

Sampai diparkiran sekolah.

"Teme tumben kau bawa Mobil, kemana Motormu?" Tanya Naruto datang bersama Shikamaru yang baru datang.

"Aku hanya ingin membawanya Dobe." Ucap Sasuke agak acuh.


Itachi & Misa.

Misa tertidur dengan kepalanya berada dibahu Itachi secara tidak sengaja namun itu membuat Itachi menjadi senang.

Sampai di Suna pada jam 7 malam Misa masih saja tertidur dibahu Itachi.

"Kita sudah sampai di Suna." Ucap Itachi mencoba membangunkan Misa dan itu berhasil.

"Maaf " Ucap Misa pelan dengan wajah yang sedikit memerah karna malu ia lalu membereskan semua benda yang masih berada diluar tasnya.

Sampai di stasiun kota Suna.

Misa, Itachi dan para penumpang jurusan Suna keluar.

Karna tertidur terlalu lama ia belum sempat meminta seseorang untuk menjemputnya, hingga sebuah mobil Hitam berhenti di depannya.

"Ingin bareng? Aku dapat mengantarmu sampai di rumah?" Tanya Itachi.

"Tidak terima kasih aku bisa pulang sendiri!" ucap Misa dengan tegas, lalu ia berjalan agak menjauh tapi Itachi tidak menyerah.

"Kumohon Ayolah, lagipula ini sudah malam." Rayu Itachi lagi, membuat Misa menunduk sedikit

"Baiklah." Ucap Misa dengan sedikit berat hati lalu naik kedalam mobil itachi.

Sampai di depan rumah Misa turun.

"Terima kasih Uchiha San." Ucap Misa dengan gaya sedikit formal

"Kau tau aku tidak suka jika kau bersikap formal apalagi disini hanya ada kau dan aku." Itachi memprotes perlakuan Misa.

"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Misa dengan nada yang sedikit lirih.

"Tenang saja jika kau bersamaku." Lalu Itachi mencium Kening Misa membuat gadis berambut coklat tersebut mematung .

"Aku pergi dulu, sampai jumpa Misa." Ucap Itachi langsung saja tancap gas menuju apartemen miliknya.

Misa masuk dengan sedikit gontai, ia paling malas jika sudah berada dalam lingkup kedua orang tuanya yang super sibuk.

"Aku pulang." Ucap Misa memberi salam, Ayame dan para pelayan dirumah tersebut bergegas menyambut Nona muda mereka.

"Apa Ibu dan Ayah sudah pulang?" Tanya Misa sambil menaruh tasnya di kamarnya

"Belum mereka berdua sedang dalam perjalanan kemari." Ujar Ayame.

"Nona mau makan malam apa?" Tanya Ayame

"Siapkan saja Ramen dan Ocha" ucap Misa, Ayame mengangguk mengerti dan pergi kedapur untuk membuat makan malam, Misa mandi dan berganti baju lalu langsung turun untuk makan malam.

"Sebenarnya urusan keluarga apa? Kenapa dilakukan dengan jangka waktu yang lama?" Tanya Misa dengan nada suara yang dapat dibilang cukup menyeramkan membuat semua pelayan menjadi takut.

Sejak kecil apapun yang membuat Misa tidak senang hanyalah rapat keluarga baginya Percuma berkumpul di sebuah ruangan dan membicaran suatu masalah lalu berujung semua pergi dengan tidak memutuskan sebuah perkara, lalu diputuskan sepihak, Itu menyebalkan.

Para pelayan tau watak Nona mudanya yang satu ini, sebenarnya Misa baik namun jika ada hal yang menjengkelkan dirinya, ia tidak segan–segan membatah hal tersebut.

"Kapan rapatnya dimulai?" Tanya Misa

"besok malam, di rumah Kakek." Ucap Ayame lalu kembali menuang Ramen.

"Sudahlah, aku tidak mau membahas hal ini lagi, jika aku sampai mendengar sedikit saja kalian menggosipi rapat keluarga awas saja." Ucap Misa dengan nada menantang lalu kembali ke kamarnya.

Kamar bernuasa Putih lembut ia langsung saja membaringkan tubuhnya ditempat tidur. Ia mengeluarkan kalung yang diberikan oleh Gaara.

"Aku harus bagaimana Tuan Tattoo Ai?" Tanya Misa entah pada siapa, Lalu ia teringat akan prilaku Itachi yang tiba–tiba mencium keningnya membuat Misa kembali merona hebat lalu ia tertidur .


SasuSaku

Sasuke berkumpul dengan Sai dan anggota tim Putra yang juga akan melawan suna, mereka menggunakan Jam milik Asuma Sensei untuk berlatih.

Saat latihan di lapangan terbuka Sai sedang dalam posisi bebas ia melihat Sakura dan Ino sedang berjalan pinggiran lapangan dengan membawa banyak buku, Ino menatapnya dibalas dengan tatapan dan senyuman lalu tanpa disangka–sangka Sai mengedipkan sebelah matanya kepada Ino, Alhasil membuat Ino merona hebat sedang Sakura yang menyadarinya hanya terkikik pelan.

"Ciee, yang tadi dapat respon." Ucap Sakura

"Sudahlah jangan ganggu Sakura lihatlah Sasuke Senpai juga melirik arahmu." Ucap Ino dan benar saja Sasuke tersenyum tipis kearahnya.

Saat Istirahat.

Sakura berkumpul bersama Ino, Tenten dan Temari di kantin mereka ber–4 makan bersama.

"Apa kami boleh gabung, meja lain penuh?" Tanya Naruto yang tiba–tiba datang bersama Shikamaru, Sai dan Neji.

"Sasuke Senpai dimana?" Tanya Sakura pada Neji yang duduk bersebelahan dengan dirinya.

"Ia jarang keluar, biasanya tidak suka dengan keramaian di kantin." Ucap Neji menjelaskan

"Oh begitu." Ucap Sakura sedikit resah.

"Apa Sasuke masih dingin terhadapmu?" Tanya Neji sambil meminum Minumannya.

"Sejak kejadian semalam ia sudah mulai baik kepadaku hanya saja aku masih ragu." Ucap Sakura

"Memang Ada kejadian apa semalam?" Tanya Tenten penasaran.

Lalu sakura menceritakan semua kejadiannya.

Neji memandang Naruto penuh Arti, Naruto menangkap sinyal Neji dan mengangguk singkat

Kesimpulan yang diambil oleh Neji dan Naruto

"Sasuke mulai ada Rasa" pikir keduanya bersamaan.

Sasuke datang kemeja Sakura dengan Nafa tersegal – segal

"Woah ambil nafas Teme" ujar Naruto memberi minuman.

"Sasuke Senpai ada apa?" Tanya Sakura

"Ini" ucap Sasuke memberi Sakura bungkusan berwarna putih

"Memang ini obat apa?" Sakura sambil memandang heran

"penghilang rasa sakit, Agar tengkukmu cepat sembuh" Jelas Sasuke sambil membuka obat milik Sakura

"Haruskah aku minum obatnya?" Tanya Sakura memandang memelas kea rah Sasuke, di sambut anggukan tegas dari Sasuke.

Saat Sakura meminum obat tersebut ino bertanya "Pahit ya Jidat?" Tanya Ino dengan pandangan 'Eneg'

"Yang namanya obat pastilah pahit ino." Jelas Temari dengan sebal

"Ada kok obat yang manis." Ucap Naruto tiba–tiba

"Obat untuk anak–anak Naruto, berarti kau masih anak–anak." Jelas Shikamaru

Tenten terkikik geli melihat kebodohan Naruto, Neji memandangnya dengan sebuah senyuman Tenten menyadari hal tersebut Merona, langsung saja memalingkan Muka.

Bel berbunyi nyaring, semua dikantin mulai bubar tapi sebelum Sakura sempat pergi Sasuke memegang tanganya "Nanti pulang tunggu aku di gerbang sekolah." Ucap Sasuke disambut anggukan singkat Sakura.

Pulang Sekolah Sakura berjalan bersama Ino berdua sedang Tenten dan Temari harus piket dulu hari ini, Sampai di gerbang mereka berpapasan dengan Sai yang membawa beberapa buku referensi dari perpustakaan.

"Yamanaka!" panggil Sai, Ino sontak menoleh sedang Sakura pura–pura sibuk mencari Sasuke

"Ada Apa Simurai Senpai?" Tanya Ino dengan raut muka senang seperti biasa.

"Panggil Aku Sai saja." Ucap Sai

"Baik Sai Senpai, kalau begitu Ino" balas Ino, Sai mengangguk cepat.

"Ku dengar dari beberapa anak kau punya toko bunga, apa itu benar?" Tanya Sai, Ino mengangguk

"Bisakah Aku ke tokomu? Bagaimana jika kita pulang bersama?" Ajak Sai, Ino mengangguk pelan.

"Kami duluan Sakura/Jidat" kata Sai dan Ino bersamaan, Sakura mengangguk dan tersenyum namun dalam hati ia sedang merutuki Sasuke Senpai yang kenapa bisa lama sekali menjemputnya.


Hallo Semua.

Makasih yang udah bersedia baca Fict ini.

Author hanya jaga- jaga, liburan bentar lagi abis

dan author bentar lagi mau UN.

jadi gawat belajar harus dari jauh - jauh hari.

Maaf ya jadi curhat : )

Makasih yang sudah Review fict ini dan sebagainya.

Maaf lagi jika ada Typo(s)

Salam.

LovelyMina.