Prolog:
Sabaku no Gaara, pewaris Sabaku corporation, karena deadline berumah tangga kakak perempuannya sudah dekat dan kenyataan kalau kakak lelakinya sama sekali tidak punya bakat memimpin perusahaan. Maka, mau tidak mau (walaupun Gaara benar-benar tidak mau), dia harus bersedia menerima pertunangannya dengan salah satu Hyuuga yang merubahnya jadi HOMO.
AU, OOC.
Main pairing: NejiGaara
Slight pairing: SasuNaru, ShikaTema, SaiIno, KibaHina, LeeSaku, SasoDei, PeinKonan, KisaIta, dll.
Summary:
Mata hijau tanpa alis itu terbelalak. 'Dia mantan Neji?' dan kakinya berlari dari tempat itu secepatnya, tanpa menoleh. NejiGaara.
XxXxX
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO SENSEI
CAN WE PRETEND TO LOVE, THEN WE'LL MARRY? © HELENA NEGA
SPECIAL PRESENT FOR Mendy.d'LovelyLucifer
XxXxX
"Tadaima, Gaara-chan. Tadaima, Temari. Your brother, Kankuro, the most handsome man in Sunagakure sudah pulang..."
Suara serak-serak becek menggema seantero Sabaku Manor.
"Kau sudah pulang?" Temari mendongak dan berdiri dari kursinya.
"Wah, sabutan gue meriah banget," kata Kankuro senang sambil melihat tumpukan kue di meja.
"Bukan untukmu, punya Gaara-chan,"
Mata hijau Kankuro menyipit, "Gue tau kalau adik tersayang itu sakit. Tapi nggak dimanjain gini juga, kan?" omelnya sambil mencomot black forest cake terbesar dan langsung melahapnya dalam sekali gigit, "Mmm, enyaaak..."
"Bukan aku yang beliin, ini hadiah dari Akatsuki corporation,"
Raut Kankuro horror seketika, matanya membelalak mengerikan, lalu dia langsung tersedak.
Temari berdiri dengan enggan untuk menepuk punggung Kankuro keras-keras.
"Kenapa kau?"
Kankuro mengusap mulutnya, "Ta, takut ketiban pelet mereka,"
Temari sudah akan membuka mulutnya untuk menyangkal, tapi diurungkannya. Kankuro baru saja menjalani perjalanan antar negara, nggak etis rasanya kalau Temari harus mengingatkan paksa kalau nggak ada seorang Akatsuki-pun yang senang kalau guna-guna mereka nyasar pada Kankuro.
"Jadi kau berangkat jam... Siapa dia?" tanya Temari ketika matanya menangkap sosok yang menunduk malu padanya. Tadi Temari menyangka dia adalah driver taxi yang membawakan koper Kankuro. Tapi setelah dipikir lagi, nggak akan ada supir taxi yang akan begitu baik hati memberikan sapu tangan untuk Kankuro yang tersedak cake, dan sekarang mengusap punggung Kankuro dengan mesra.
"Uhuk, oh iya, uhuk, lupa. Kenalkan, dia Tenten, uhuk, temen gue dari China,"
Mata Temari berpindah dari cepol di kepala Tenten ke tangannya yang masih di bahu Kankuro, "Aku Temari,"
Mereka berjabat tangan.
"Senang bertemu dengan, Temari-san," kata Tenten sambil tersenyum.
"Sama-sama," jawab Temari, dia menepuk pundang Tenten pelan sebagai penerimaan, lalu berpaling ke arah Kankuro, "Sebaiknya kalian naik ke atas,"
"Oh iya, ayo!" kata Kankuro sambil menarik tangan Tenten.
Dua sejoli itu baru tiba di tangga ke dua, ketika Temari meneriakinya.
"Ketuk pintunya dulu, lalu tunggu dua puluh detik baru masuk,"
"Kenapa memangnya?" tanya Kankuro heran. Setahunya nggak ada peraturan seperti itu sebelum masuk ke kamar Gaara kemarin-kemarin.
"Harus, kalau kau nggak mau melihat pemandangan yang nggak mau kau lihat,"
Kankuro cengo.
"Lakukan saja apa kataku," bentak Temari sambil mengibaskan tangannya.
Pemahaman mendadak timbul di raut Kankuro, "Pacarnya masih di sini?"
Temari mengangguk.
"Dapat tontonan bagus nih. Ayo Tenten-chan,"
Dan mereka berjalan menuju ke kamar Gaara.
"Apa pendapatmu tentang hubungan same-gender?" tanya Kankuro pada gadis di sebelahnya sebelum mereka tiba di kamar Gaara yang berhias gambar raccoon segede gajah.
"Ng... Kenapa memangnya?" Tenten malah balik bertanya sambil tersenyum.
"Adikku dan pacarnya salah satu dari mereka,"
"Oh," pemahaman mendadak muncul di wajah Tenten, "benarkah?"
"Kau keberatan?"
"Nggak, nggak sama sekali,"
"Baguslah," kata Kankuro sewaktu dia berhenti di depan kamar Gaara, seringai setannya terkembang, "Gaara-chan dan pacarnya baru saja jadian, hubungan mereka sedang panas-panasnya. Tontonan yang bagus sekali,"
Tangan Kankuro terulur untuk mendorong gagang pintu sepelannya.
"Apa kata gue," bisik Kankuro ketika terlihat Neji dan Gaara sedang bergerumul seru. Gaara berada di bawah, sedang Neji di atasnya mencium dengan semangat sekali. Tangan Neji sudah menelusup ke badan Gaara, menyingkap setengah dari piyama lucu Gaara. Kaki Gaara mencuat ke atas, lalu melengkung ke badan Neji, persis seperti Kukang yang bergantung. Dan menambah hot keadaan, keduanya mendesah seru, nggak cukup kuat untuk terdengar sampai ke bawah, tapi kalau hanya di pintu masuk terdengar sangat jelas.
"Hei, hei, hei," Kankuro berbisik protes ketika tangan Neji yang berada di badan Gaara berpindah turun perlahan, membelai perut Gaara sebentar, lalu menelusup ke dalam celananya. Hand job. Membuat Gaara merintih.
"What the fvck!" Kankuro mengumpat dalam bisikan sambil menatap horror Tenten yang mengintip di bawahnya, "haruskah gue hentikan?" tanyanya berdilema.
"Jangan dulu," jawab Tenten sambil menelan ludah, "tanggung. Toh baru lime ini, belum lemon,"
Kankuro melototi Neji yang gerakannya makin cepat, lalu berpaling pada Tenten dengan wajah ngeri, "Lo gila, adek gue baru mau 16 tahun, nggak rela gue, dia digrepe begitu,"
Tenten balas menatap Kankuro, "Please..."
Kankuro menelan ludah bingung, "Tapi..."
Gaara dan Neji berbalik, bertukar tempat. Sekarang giliran Gaara yang di atas, nyusuruk ke leher Neji seperti banteng marah yang mengejar matador bandel.
"Oke baiklah, 5 menit aja loh."
Tenten nyengir lalu kembali mengintip.
"Sudah cukup kalian berdua, nggak ada 5 menit saja,"
Sebuah suara membuat Kankuro dan Tenten mendongak. Temari merengut masam, membuat Kankuro dan Tenten nyengir bersalah dan mundur sambil menutup pintu pelan. Mengabaikan Gaara dan Neji yang sekarang menimbulkan ceplak kencang saat bertautan lidah.
"Hancur sudah image adek imut kita. Adek yang manja, yang masih sering kita cubitin pipinya, yang masih suka pake piayama lucu dan makan es krim. Sekarang sudah nagih ciuman dan digerayangin," desah Temari ketika dia bersandar di beranda, memijat-mijat keningnya.
Kankuro menepuk pundak kakaknya, "Gue sudah menduga kalau hal ini, cepat atau lambat akan terjadi,"
Temari cemberut, "Lagakmu... Tapi kenapa mukamu senang begitu?"
"Eh? Hehehe..." Kankuro menggaruk kepalanya, "Dewasa itu bagus, kan?"
XxXxX
Kankuro mengetuk pintu, di sampingnya Tenten menekan stopwatch untuk menghitung sampai 30. Tepat ketika Tenten mengangguk, Kankuro memutar gagang pintu. Memasang wajah ceria biasa, berusaha nggak keceplosan menampakkan wajah pengintip.
Dua sejoli itu masuk, menatap Gaara dan Neji yang duduk dengan canggung.
"Gimana, sudah baikan?" tanya Kankuro sambil bergeser untuk duduk di dekat Gaara. Dia menyeringai pada Neji dan menyapa, 'Apa kabar, lo?' yang dijawab dengan gumaman, 'baik,' pelan.
Gaara menanggapi Kankuro dengan mengangguk.
"Mana? Coba sini gue periksa!" kata Kankuro sambil memberikan tanda agar Gaara mendekat.
Gaara dengan patuh menyodorkan kepalanya.
"Nggak pusing lagi?" tanya Kankuro ketika dia mengacak rambut adiknya, bukannya memeriksa.
Dan mata Gaara dengan mencurigakan melirik Neji lalu menjilat bibirnya. Kankuro yang melihat mau nggak mau ikut berfikir yang macam-macam, untung dia nggak hilang akal dan berkomentar yang mencurigakan.
"Nggak! Besok pasti sudah bisa sekolah." kata Gaara, agak lebih tegas daripada rencananya, dan ketika sadar, dia cepat-cepat mencari pengalihan, "mana kejutan yang Niichan bilang?"
"Oh iya," Kankuro menepuk keningnya, "Tenten kemari, Gue kenalin sama Gaara dan Neji,"
"Lho, Tenten? Itu benar-benar kau?"
Gaara dan Kankuro menoleh pada Neji yang tadi bicara.
"Hehehe, kukira kau sudah lupa," kata Tenten ketika dia menggaruk kepalanya.
"Lo kenal Tenten?" tanya Kankuro dengan heran pada Neji.
"Tentu, Tenten temanku sejak kecil. Aku tahu dia bekerja di China, tapi nggak menyangka kalau Tenten kenal denganmu," jawab Neji.
"Ya sudahlah, bagus juga kalau sesama calon ipar saling kenal." kata Kankuro sambil terkekeh.
Entah kenapa Neji kelihatan ingin mengatakan sesuatu, tapi Tenten menatapnya memperingatkan sambil menggeleng. Jadi Neji hanya bergumam, 'Ya, bagus sekali,'
XxXxX
"Jepang panas," gerutu Gaara ketika dia melepas atribut sekolahnya dan melemparnya asal saja sepanjang perjalanannya masuk ke Sabaku Manor. Tas tertinggal di sofa ruang depan, dasi di lorong, jas di tangga menuju ruang duduk, rompi di dekat meja telepon.
"Okaeri!" sambut Kankuro dengan nada membentak ketika melihat Gaara masuk tanpa salam, "Keluar dulu, masuk lagi kalau sudah mengucap salam,"
Mendengarnya Gaara langsung merengut, "Niichan, aku ini capek habis sekolah,"
"Nggak terima protes, cepat ke sana," usir Kankuro sambil mengibaskan tangannya, "Dan rapihkan perlengkapan sekolahmu itu, letakkan di rantang cucian,"
Gaara merengutkan wajahnya, "Niichan bawel kayak cewek!" teriaknya ketika dia naik ke kamarnya tanpa melakukan apa yang Kankuro perintahkan, membuat Tenten yang berpapasan dengannya di ruang tengah melongo lalu terkikik geli, "Tenten-san, jangan mau sama Niichan, dia bawel kayak ibu-ibu." Gaara masih sempat-sempatnya mengatakan celaan kepada calon kakak iparnya.
"Hahaha, nggak apa-apa, sudah kuterima apa adanya," jawab Tenten.
Gaara mencibir, meneruskan larinya ke lantai dua, membuat Kankuro mendekat ke ujung tangga dan melongokkan kepala ke atas agar dia bisa memandangi adiknya.
"Nggak dapat jatah dessert, ya!"
Kepala Gaara muncul dari tiang beranda lantai dua, menatap Kankuro yang baru saja mengancam.
"Memang Niichan bikin dessert apa?"
Kankuro diam saja, tapi dia tersenyum mencurigakan.
Dalam dua detik Gaara berlari turun, sehingga Tenten yang dilewatinya harus merapatkan badan ke tembok agar nggak bertabrakan. Nggak lama terdengar suara Gaara mengucapkan 'Tadaima!' kencang sekali di pintu depan, lalu derap langkah sepatunya bergaung di lorong antara ruang depan dan ruang duduk, memungut perlengkapan sekolahnya secepatnya. Dalam beberapa detik dia sudah muncul lagi di depan Kankuro.
"Jadi aku dapat jatah es krimnya kan?"
Kankuro mengangguk senang, "Tentu, adek manis,"
"Yey!"
XxXxX
"Neji-kun, kok nggak bilang mau ke sini?" tanya Gaara ketika dia berdiri dari kursinya untuk menyambut pacarnya yang muncul bersama Temari dan Shikamaru.
"Kejutan," jawab Neji sambil mengedip.
Di sampingnya, Kankuro memasang pose 'capek deh'
"Aku diundang Niichan-mu," ralat Neji sambil nyengir, "Kebetulan kami sedang merancang project baru,"
"Yah," Gaara mengeluh, menarik Neji untuk duduk di kursi di sampingnya dan mengusir Kankuro yang sudah terlebih dahulu duduk di sana, "Jadi buat kerja ya, bukan buat pacaran sama aku?"
Temari berdehem kencang.
"Cuma bercanda, Neechan. Prku malam ini banyak sekali kok," kata Gaara pada Temari sambil nyengir.
"Memang, sayang. Habis ini jadwalmu kan belajar!" kata Temari dengan penekanan dan nada menyeramkan pada kata terakhir dari kalimatnya.
"Iya, aku memang mau belajar, tapi di..."
"Belajar di kamar dan nggak ada tapi-tapian, sayang!" potong Temari, "Neji-kun dan Niichan-mu mau kerja. Prmu juga harus dikerjakan,"
"Tapi, Neechan..."
"Kalau kerja atau ngerjain pr dan sambil-sambilan, hasilnya nggak akan maksimal, sayang,"
"Tapi..."
"Iya, Neechan-mu benar," lerai Neji yang sudah menangkap nada nggak sabar Temari dan rengekan pacarnya yang rupanya nggak berfungsi kali ini.
Gaara menyipitkan mata hijaunya sebagai tanda merajuk, "Neji-kun nggak sayang aku ah,"
Tawa Neji pecah, "Nggak mungkinlah aku nggak sayang,"
"Iya, nggak mungkin. Mana ada orang yang nggak sayang tapi mau ngegrepe dan mencium setiap ada kesempatan," gerutu Temari pelan sekali.
"Eh? Elo bilang apa?" tanya Kankuro nggak yakin saat dia menggeser kursi di samping Temari.
"Nggak bilang apa-apa!" jawab Temari ketus.
XxXxX
"Gaara-chan, mau kemana, sayang?" tanya Temari saat melihat Gaara sudah sampai ke tangga paling bawah sambil mengendap-endap seperti maling.
"Eh? Mau ambil telepon, Neechan. Buat nelepon Naruto, ada soal yang aku nggak ngerti." jawab Gaara sambil menggaruk kepalanya, tapi matanya dengan mencurigakan melirik ke arah ruang duduk tempat Neji, Kankuro, dan Tenten berada dengan penuh harap.
"Ponselmu mana?"
"Lowbat," jawab Gaara cepat-cepat, seolah dia sudah menduga akan mendapat pertanyaan itu.
"Terus, telepon paralel kamarmu rusak?" tanya Temari lagi.
"Oh iya ya, ada telepon paralel. Aku lupa," kata Gaara sambil meringis, berbalik dengan enggan menuju tangga kamarnya.
"Ketahuan banget bohongnya. Kalau nanya pelajaran, lebih masuk akal kalau dia menelepon Sasuke, bukan Naruto," kata Temari ketika dia melihat Gaara yang berjalan ke atas sambil mencuri pandang (lagi) ke arah ruang duduk.
"Gayamu bicara kayak belum pernah merasakan jatuh cinta saja," komentar Shikamaru sambil menguap.
XxXxX
"Mau ngambil apa lagi sekarang, sayang?" Temari bertanya untuk kedua kalinya saat melihat Gaara turun sambil berlari dari tangganya.
"Minum, Neechan. Aku haus," jawab Gaara cepat-cepat.
"Kenapa nggak minta bawain Ayame, sayang?"
Gaara mengerem larinya, hinga sandalnya berdecit, "Mau ambil sendiri saja,"
"Ya sudah sana,"
Gaara mengangguk, lalu meneruskan larinya ke dapur.
"Eh, prnya gimana? Sudah selesai?" Temari menanyainya lagi.
Kepala Gaara muncul lagi dari dinding pembatas menuju dapur, dia masih berlari-lari kecil di tempat.
"Dikit lagi"
"Kalau gitu jangan banyak turun-naik, nanti kemalaman,"
"Siap, bos,"
Gaara kembali berlari ke dapur, dalam beberapa detik dia sudah kembali sambil membawa botol minum. Tapi ketika menuju ke tangga kamarnya, Gaara malah melesat ke ruang duduk tanpa rasa bersalah.
"Sayang, kamarmu di atas, bukan di sana," teriak Temari sebal.
"Yah, ketahuan deh," keluh Gaara sambil merengut, dia mundur ke luar, tapi masih sempat-sempatnya memberi Neji lambaian dan ciuman jarak jauh.
Neji ikut membalasnya tanpa malu-malu, membuat Gaara melompat-lompat. Tenten, Kankuro, dan Temari sweat drop.
"Huh, memangnya Neechan bisa kamu bodohin dengan lari-larian begitu. Kalau larimu melebihi kecepan cahaya, baru bisa, sayang," kata Temari sambil menyeret adiknya ke tangga.
"Kalau prku sudah selesai boleh ke bawah?"
"Kalau sudah selesai, langsung tidur. Besok ada latihan tanding dengan tim Basket Kirigakure kan?"
"Neechan pelit!"
"Terima kasih,"
XxXxX
Gaara mondar-mandir di kamarnya, prnya sudah selesai sejak dua menit yang lalu, tapi dia nggak menemukan alasan yang tepat untuk turun ke bawah untuk bertemu Neji. Salah-salah Temari bisa menaboknya.
Gaara mengintip lewat gorden jendela kamarnya, dan terkejut saat melihat ada Neji, Kankuro, dan Tenten di taman depan, bertiga saja dan kelihatan sedang berbicara sambil menunjuk ke arah pagar.
Seperti mendapat pencerahan, secepatnya Gaara keluar dari kamarnya.
Perjalanannya menuju ke tangga turun terjadi tanpa hambatan, Temari tak tampak di manapun, bahkan ketika dia sudah sampai di pintu depan.
Dengan memakai sandal luar entah milik siapa, Gaara keluar cepat-cepat, melompat dua kali dalam rangka memberi ucapan selamat pada diri sendiri saat dia sadar kalau dia hanya beberapa meter lagi dari pacarnya.
"Hehehe, pasti Neji-kun akan kaget kalau melihat aku muncul tiba-tiba," gumam Gaara pelan-pelan saat dia berindap-indap pelan di antara rumpun tanaman.
"Lho, Niichan mana? Kok hanya ada Neji-kun dan Tenten-san saja?"
Gaara celingak-celinguk sebentar untuk mencari Kankuro, takut juga kalau tiba-tiba kakaknya itu muncul dari belakang dan mengejutkannya. Tapi ternyata Kankuro nggak kelihatan di manapun.
Gaara berindap makin dekat, berusaha nggak menimbulkan sedikitpun suara agar nggak ketahuan saat muncul secara mengesankan. Sekarang dia sudah bisa mendengar percakapan bisik-bisik yang dilakukan pacarnya dan calon kakak iparnya.
"Jadi kau benar-benar sudah pacaran dengan Gaara-chan?" Gaara mendengar Tenten berbicara.
"Tentu saja," Selanjutnya suara Neji menjawab.
"Seleramu berubah drastis kalau begitu," kata Tenten sambil tertawa.
'Deg' jantung Gaara berdengup satu oktaf lebih kencang. Dia yang sudah akan keluar dari persembunyian, mengurungkan niat.
"Tentu saja, kau masih berharap aku mempertahankan kesukaanku pada gadis-gadis sepertimu," jawab Neji sambil ikut tertawa.
Jantung Gaara berdetak lebih kencang, berdentum di telinganya.
"Bisa saja kau bilang begitu, padahal dulu kau begitu tergila-gila padaku," kata Tenten dengan nada sebal.
"Hahaha, sekarangpun masih," Neji menyambung cepat
"Sungguh?" tanya Tenten.
"Tentu saja bohong,"
"Hahaha, kalau terjadi Cinta Lama Bersemi Kembali di antara calon ipar, aku yakin Kankuro bisa memutilasi kita,"
"Tidak, tidak. Bukan cuma Kankuro, tapi Temari dan fans-fans Gaara akan turut serta."
"Hahaha, kau benar sekali,"
Gaara tanpa sadar sudah mundur ke belakang. Mata hijau tanpa alis itu terbelalak. 'Dia mantan Neji?' dan kakinya berlari dari tempat itu secepatnya, tanpa menoleh. Bahkan ketika di pintu masuk dia menabrak Kankuro, Gaara sama sekali tak berhenti untuk meminta maaf.
XxXxX
To be continue
XxXxX
Finally, chapter tujuh kelar. Gag bosen-bosen saya ucapin terima kasih atas review yang diberikan senpai semua, dukungan senpai-tachi benar-benar menjadi penyemangat saya.
