Pair:KrisTao/ofecial couple

Genre:Romance/Hurt/Humor

Rating:T/T+

Warning:Typo, EYD hancur, BL, Masih butuh bimbingan, OOC, Masih pemula.

.

.

.

.

Aku sudah berusaha, tapi kenapa pemikiranmu selalu membuatku meledak?

Membuatku lupa akan melupakan perasaanku?

Jangan sia-siakan usahaku yang sudah mencoba.

Karna.. Aku tidak bisa bertahan lebih lama.

.

.

.

Why I Like You

Chapter 7

.

.

.

"Maaf"Tao mengembalikan wajah dinginnya sesaat setelah sedikit menatap lurus untuk tahu siapa orang yang tidak sengaja di tabraknya. Bukan sebuah tabrakan fatal jika saja orang yang ditabraknya bukan seorang Wu Yifan, berlebihan.

Kris tidak mengatakan sepatah katapun. Dia sudah cukup terbiasa dengan sifat dingin magne panda itu. Berbeda dengan kemarin-kemarin dimana dia masih sedikit terganggu dan merasa dipermainkan oh baiklah.. untuk kata siapa di permainkan ini Wu Yifan? Bukankah ini terbalik?

Kris melewati Tao begitu saja, sama dengan apa yang dilakukan Tao. Tidak ada tegur sapa seperti senyuman yang terasa ramah.

Kyuungsoo memperhatikan bagaimana kejadian itu berputar di matanya. Sedikit merasa jengah mendapati perasaan ganjil dari dua member satu agencynya bernaung. Dia memang selalu diam tentang apa yang terjadi tapi bukan berarti dia tidak tahu apa-apa. Memang siapa yang tidak akan merasa ganjil dengan situasi seperti ini? Tapi kalau Kyungsoo ingin jujur, dia ingin sekali memukul kedua wajah member EXO M itu. Mereka seperti anak kecil yang tidak bisa menyelesaikan semuanya dengan bicara oh.. Oke Kyungsoo kau terlihat seperti umma sekarang. Mungkin kau harus mengingatkan kepada kedua member itu berapa umur mereka sekarang.

"Ge"Kyungsoo memanggil namja bertubuh tinggi itu sekali. tidak ada keraguan ingin menanyakan perihal masalah mereka. Dia memang tidak pandai berbicara ataupun mencari solusi dengan kata-kata seperti Lay tapi setidaknya dia ingin tahu penyebab semuanya. Mereka adalah satu dan itu tidak terkecuali masalah bocah yang mereka hadapi. Dia tidak akan peduli jika memang mereka merengut, mendesis, melotot sendiri tapi coba lihat, ini masalah antara dua orang dan itu menyangkut keutuhan mereka.

"Apa?"Kris menoleh kearah Kyungsoo setelah mencomot sepotong kue kering di atas loyang yang tergeletak di dekat open.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi bisakah kalian membicarakannya?"Kyungsoo memulai. Kris memutar bola matanya, oke, dua kali sudah dia memperdebatkan hal yang mengarah kesana dan nilai plus untuk kedua umma itu.

"Aku tidak tahu, bocah itu yang mendiamkanku"

"Hei hei, tapi tetap saja kalau gege tidak memulainya, akan tetap seperti itu. Bukankah gege itu perhatian dengan Tao? Ck"

"Hahh. Aku sedang tidak mood"Kris berjalan keluar ruang dapur, tidak memperdulikan raut wajah Kyungsoo yang ingin segera menggorengnya.

.

.

"Kita harus bicara"Tao menulikan pendengarannya walaupun pada dasarnya telinganya cukup mengetahui siapa pemilik suara yang seenaknya memasuki kamarnya bersama Baekhyun. Tangannya masih sibuk membenah pakaian untuk dimasukan kedalam lemari.

Kris, namja yang baru bersuara itu bergetakkan giginya. Mungkin dia memang dingin tapi bukan berarti dia seseorang yang sabar.

"Apa sekarang kau belajar tuli?"Sadis, mungkin itu kesan pertama untuk mendengar deretan kata itu. Tao menghela nafas berat, sangat terdengar di kedua telinga sang leader.

"Apa?"Tao berucap tanpa menoleh sedikitpun, masih memunggungi Kris yang masih berada di dekat pintu kamar yang tertutup.

Srak

brug

Tao berani mengumpat sekarang. Ya.. Setelah merasakan dorongan di lehernya yang membuatnya harus terjebab dengan posisi wajah mencium tumpukan pakaian terlipat. Kakinya masih posisi bersilah. Dapat dirasakannya cengkraman yang begitu ketara pada lehernya dan dijamin ini semua perbuatan seorang Kris.

Kris melihatnya dan hal itu sama sekali tidak membuatnya kasihan terhadap namja panda di depannya. Mendorongnya hingga terjebab kedepan dengan posisi yang mungkin akan terasa sakit di bagian pinggang akibat posisi kaki sang namja yang masih bersila tanpa persiapan. Dia bukanlah namja yang akan melakukan angry romance dimana dia akan membalik tubuh Tao untuk menghadap kepadanya kemudian mendorong dengan posisi menindih sang magne, membuatnya terbaring di tumpukan pakaian. Tidak.. Dia tidak akan melakukannya. kalau perlu, Kris akan memukul wajah sang magne saat ini juga jika namja panda itu menghadap kearahnya. Dia namja dan berkelahi bukanlah hal tabu untuk seorang namja walaupun otaknya melupakan kemampuan sang magne dalam bela diri.

"Apa sekarang kau sudah bisa bicara lebih baik?"Kris mengangkat sedikit kepala Tao yang masih dalam posisi leher tercengkram tangan Kris. Membuat namja panda itu untuk bisa mengeluarkan suaranya.

Tao menggeram sebelum mencekram pergelangan tangan Kris yang berada dilehernya. Mungkin memang benar dia takut dengan kata hantu, tapi dia menjamin Kris bukanlah mahluk transparan seperti itu yang wajib harus ditakuti akal sehatnya. Bukankah Tao termasuk namja, dia sudah sering berkelahi dan dia tidak akan tinggal diam begitu saja di perlakukan seperti ini walaupun namja yang kini mencekik lehernya adalah katagori namja special.

Tao mencengkram pergelangan tangan Kris lebih kuat membuat urat-urat tangannya terlihat.

"Lepaskan tanganmu, aku sama sekali tidak berniat mematahkannya sekarang"Desis Tao. Kris dapat melihat bagaimana wajah Tao sekarang, namja itu sedikit menolehkan kepalanya kebelakang dengan posisi masih memunggungi Kris. Kilatan tajam terpancar di kedua bola mata bewarna hitamnya.

Kris melepas cengkramannya setelah menyempatkan diri mendorong kepala itu ke arah tumpukan pakaian terlipat sebentar. memberi jarak sedikit mundur membiarkan Tao berdiri dari posisi duduknya. Berhadapan langsung.

"Apa maumu?"Ucap Tao. Kris sudah keterlaluan dan hal itu sama sekali tidak bisa di terimanya sekarang.

"Aku yang harus menanyakannya, apa maksudmu dengan bersikap seperti ini? Membuat member lain harus bemberiku banyak pertanyaan seperti aku yang melakukan kesalahan"Kris mendesis. Menatap nyalang kearah magne panda di depannya.

"Kau tanyakan saja kepada mereka, dan.. Satu hal, apa maksudmu dengan sikapku?"Kris mendengarnya, cukup tahu Tao yang berada di depannya menghilangkan kata tatakrama saat berbicara kepadanya sekarang.

"Kau menjaga jarak denganku"

Tao menaikan satu alisnya saat mendengar ucapan sang leader "Kenapa kau merasa seperti itu? Seperti kau itu kekasihku yang sedang ingin di perhatikan saja"Tao mencemooh, oh ayolah siapa yang mengatakan seorang Tao begitu polos hm? Terlalu polos untuk mengucapkan kalimat mencemooh. Dia bukan namja berstatus 'putih' dalam sebuah dongeng romance. Dia cukup mempunyai otak untuk memproses setiap kalimat seseorang dan segera mempelajarinya, termasuk mengucapkan kata-kata berbau sadis yang selalu kedua telinganya dengar dari seorang Oh Sehun.

Kris menggerakkan tangannya dengan cepat, mengarahkan kepalan tangannya yang kini sudah mengeluarkan urat kepada pipi berkulit sawo matang di depannya. Membuat namja di depannya mundur beberapa langkah dengan wajah sedikit menoleh akibat benturan keras di pipinya. Kris cukup kesulut emosi sekarang. Seperti permainan kata yang sengaja membuatnya terpojok. Dia tidak menyukainya.

"Dasar namja gay"Desis Kris. Tao semakin menajamkan pandangannya. Menegakan tubuhnya menghadap Kris dengan pose manantang. Ah.. Tao, sekarang kau benar-benar mewarisi seorang Sehun, apa kau menyadarinya?

"Jaga ucapanmu, siapa yang kau sebut gay?"Tao berani bertaruh dia berbohong dengan kalimatnya. Gay? Dia cukup tahu apa itu gay dan hal itu memanglah kenyataannya. Siapa yang mengajrimu berbohong panda?

"Semuanya begitu jelas"

"Tidak ada bukti, pembual"Oh Tao, jangan mengatakan tidak atau kebohonganmu akan semakin terlihat. Kris cukup tahu gelagatmu.

"Lucu melihat seseorang yang berlagak normal padahal isinya cuma kebusukan"Cukup tajam untuk terdengar telinga dan Kris menjamin namja panda itu akan memukulnya sekarang. Hal bagus mengingat kata pencuri tidak akan mengakui dirinya pencuri, pepatah lama.

"Kalau aku gay kenapa? Apa itu masalah untukmu?"

deg

deg

Tao tidak kuat lagi. Cukup dengan berakting kuat sekarang. Dia tidak bisa lagi membuat pikiran logikanya menekan perasaannya lagi. Ini sakit, sungguh. Bagaimana mungkin selama ini dia berpikir menyukai namja yang bisa mengatakan perasaan kecilnya itu busuk? satu kata tajam yang mengartikan segala hal, bukan cuma bearti buruk tapi bearti sebuah hama berbau tidak sedap yang harusnya disingkirkan supaya rumah bersih. Apa perasaannya seburuk itu. Kris tahu perasaannya itulah yang Tao pikirkan sekarang tapi dia mencoba menutupinya dan berakhir gagal. Dia cuma namja labil.. Namja yang masih memiliki pikiran goyah yang mungkin bisa saja muncul begitu saja.

"Kalau aku gay kenapa?"Ulangnya lagi dengan suara lebih lirih. Tao meyakini sekarang kepalanya tengah menunduk memeperhatikan lantai marmer yang lebih terlihat menarik di matanya. Apa kalian berpikir dia akan menangis? Tidak.. dia tidak akan terlihat sangat-sangat terpuruk walaupun kebenarnya dia sangat-sangat terpuruk sekarang. Dia diajari tidak menangis, dia diajari kuat walaupun dia sudah jatuh berulang kali tapi, kalau dia berpikir dia seorang yeoja.. Mungkin menangis akan terngiang di otaknya sekarang.

"Apa salahnya menjadi gay? Apa aku pernah mengganggumu? Apa aku pernah meminta lebih darimu? Apa aku memaksakan perasaanku padamu? Apa aku pernah merengek memintamu menerimaku? Apa aku pernah melakukannya?"Tao menegakkan kepalanya. Menatap tajam kearah Kris yang masih menatap dingin kearahnya.

"Kau seharusnya mempunyai otak untuk memproses apa itu gay"Desis Kris. Mungkin wajahnya memang memperlihatkan begitu dinginnya dia tapi dia tidak bisa memungkiri ketidak terimanya melihat sang namja panda melihatnya seperti itu. Tatapan kacau, kecewaan dan sakit yang selama ini di tekannya nampak keluar begitu saja.

"Aku tahu gay itu salah, sangat tahu.. apa kau pikir aku tidak berusah berpikir normal? Kau salah ge.. Kau sangat salah. Siapa yang tidak ingin normal? Kau pikir aku suka dengan keadaan seperti ini?"Tao memalingkan pandangannya kearah lain. Otaknya kembali berputar dimana dia terus berusah mencoba, membuat rangkaian kata dimana dia mencoba bersugesti untuk menjadi namja pada umumnya, memiliki kekasih yeoja, mencium, menyetuh segalanya yang menggairahkan yang terpampang dalam blue film yang selalu ditontonnya tapi semuanya gagal. Dia hanya menatap bosan kearah deretan blue film yang terus memutar adegan panas tanpa rasa ingin melakukan hal yang selalu namja normal inginkan. Dia melakukannya. Hal konyol yang dia dapat hanya keinginan berada di dekat sang namja berwajah chinese-canada di depannya sekarang. Memikirkan bagaimana ciuman mebabukan yang mungkin entah kapan dia bisa merasakannya. Bukan sebuah blue film yang membuatnya ingin disentuh melainkan sosok dengan berbalut lilitan handuk dengan titik-titik air yang membuatnya merasa begitu panas. Tapi itu hanya khayalan.. Tao tahu itu dan pikiran konyolnya membuatnya lebih gila setiap harinya.

"Kau masih kurang berusaha"Kris mulai menulak, entah sadar atau tidak dia mengeluarkan suara lembut yang begitu kentara. Suara yang sering dijadikan akting saat mempermainkan sang namja panda di depannya dan sekarang suara bernada lembut itu meluncur begitu saja tanpa meminta izin sang pemilik.

"Aku bahkan yakin pikiranku sudah gila sekarang, tapi.. Aku akan berusaha lagi. Kau tahu.. Karena itulah aku menjauhimu.. memilih untuk sekamar dengan baekhyun hyung, aku memang busuk, seperti yang kau katakan"Tao tersenyum. Apa Kris tidak salah melihatnya. Namja itu tersenyum dengan pandangan menyakitkan.

Puk

eh?

"Aku akan membantumu"Untuk sekarang Kris sadar dengan apa yang dilakukannya. Menepuk pundak sang magne dengan pandangan dingin tersirat kelembutan yang kini terlihat jelas di sepasang mata bak panda di depannya.

Oh Kris.. Bagaimana kau akan membantu Tao jika dirimu memandangnya seperti itu. Kau seperti memperparah keadaan.

Tao tetap mengalihkan pandangannya. Menatap kearah lain selain ketempat Kris. Kris begitu dekat dengannya dan hal itu memperburuk keadaannya tapi, apa ini benar-benar kenyataan? Bukan bualan yang selama ini bisa berubah naik turun tanpa mengijinkannya bernafas.

"Kau akan mempermainkanku lagi, jangan harap aku percaya"Tao menggenggam pergelangan tangan Kris yang masih berada di pundaknya kemudian menjauhkan tangan itu dari sana "Dari kata-katamu, aku menjamin kau mempermainkanku selama ini"Tao Melipat kedua tangannya di depan dada. Mana mungkin dia akan percaya begitu saja? Sejak kapan seseorang berubah dratis dalam sekejap? Konyol.

"Terserah.. Aku hanya ingin membantu.. "Ucap Kris kemudian membalikkan badan berniat ingin keluar dari ruang kamar itu. Pikirannya sendiri sedang berputar memikirkan tentang apa yang dilakukannya sekarang? Bukan seperti dirinya saja.. Seharusnya dia menampakan rasa jijik setelah tahu pemikirannya selama ini memang benar. Kenapa dia malah ingin membantu? Oh Kris kelihatannya kau harus berhati-hati dengan istilah peluru makan tuan.

"Baiklah.. Aku terima tawaranmu"Aa.. Baiklah, apa sekarang cerita ini seperti film drama? Tao berharap tidak. Dia ingin semuanya berakhir dengan baik. Kalau Kris membantunya mungkin dia tidak perlu menyembuhkan penyakitnya dengan paranormal ataupun terbiasa hidup tanpa Kris di depan matanya. Pikiran bagus tapi kau tidak akan tahu masa depan, panda.

Kris berbalik menghadap Tao, memperhatikan uluran tangan sang namja panda berkulit sawo matang yang kini terarah kepadanya. Meminta seseorang untuk menerima uluran tangan tersebut.

"Aku tahu kau akan jijik, bukan masalah"Tao berniat menarik tangnnya sebelum tangan sang leader menangkap tangan tersebut, menggenggamnya dengan erat untuk meyakinkan mereka akan melakukan deal mulai sekarang. Barter yang akan keduanya mendapatkan keutungan. Tao dengan kata normal dan Kris untuk kata tanpa pertanyaan member lain. Aa.. Aku benar-benar ingin tertawa sekarang.

.

.

.

Sehun dengan langkah pelan terus berjalan kearah ruang tamu. Tumpukan makanan berbungkus tipis tampak memenuhi kedua tangannya sekarang. Mengingat dia ingin begitu membesarkan badannya kelihatannya dia ingin makan banyak.

"Apa yang terjadi?"Sehun menaikan sebelah alisnya saat melihat tiga member yang kini duduk di sofa ruang tamu tampak termenung dengan berbagai ekspresi berbeda.

"Tidak ada"Ucap Luhan tak begitu memperhatikan siapa yang mengajaknya bicara. Namja berwajah diatas rata-rata seorang yeoja itu tampak diam dengan pandangan kosong. Kelihatannya sedang berpikir.

Sehun tidak begitu ambil pusing. Mendudukan langsung bokongnya di samping Kai yang kini juga tampak melamun. Sehun menyipitkan kedua mata tajamnya apa-apaan ini?

"Apa pendengaranku tidak salah tadi?"Ucap Kai memulai. Pandangan namja berkulit tan itu mulai serius.

"Ya.. Aku menjamin telingaku bersih"Timpal Luhan menambahkan.

"Sebenarnya ada apa Chanyeol hyung?"Sehun bertanya kepada namja yang duduk di sofa tunggal berbentuk bulat berhadapan dengannya.

"Tao.. Kau tentu tahu maksudku"Ucap Chanyeol. Berbeda dengan kedua namja yang masih terkejut wajah namja bertubuh tinggi itu tampak santai walaupun kelihatan dia juga memikirkan hal yang sama.

"Hei.. Bukankah kita berjanji untuk tutup mulut?"Luhan mendelik kearah Chanyeol. Mengingat bagaimana perjanjian itu bermula setelah mereka dengan sengaja menguping pembicaraan Kris dan Tao. Berniat untuk menertawakan bagaimana carat Kris berbicara kepada Tao yang terlihat marah kepadanya beberapa hari ini tapi hal itu tidak terjadi, bukan tertawa ketiga namja itu di kejutkan dengan apa yang di bicarakan di dalam ruang kamar itu.

"Sehun sudah tahu"Jawab Chanyeol dan membuat Luhan menatap langsung kearah sang magne.

"Kau"Luhan mendelik.

"Kenapa kalau aku tahu?"Ucap Sehun gamblang tanpa ada beban disana.

Luhan mengerti sekarang. Kenapa namja berkulit bak mayat hidup itu selalu mengucapkan kata pedasnya kepada Tao.

"Jadi ini alasanmu bertampang jijik kepada Tao?"Ucap Kai yang boleh Chanyeol jujur. Namja itu berwajah sangat-sangat serius.

"Ya.. memang seharus bagaimana? Aku normal dan sepenatasnya aku begitu"Sehun tak begitu mengerti kenapa dia merasa disini dia yang terintimidasi.

"Tapi setidaknya kau tidak separah itu"Kai berucap. Ah.. Kai mungkin mulai sekarang aku berpikir kau memang anak seorang Suho walaupun tidak mirip.

"Aku bukan seperti kalian. Aku cuma punya satu wajah"Sehun berucap. Mengambil kepingan keripik di dalam bungkusnya. Dia bukan tipe pemelas yang takut akan tatapan intimidasi seorang Kim Jong In. Dan dia menjamin otaknya masih bisa berpikir untuk merangkai kata tajam yang siap meluncur jika di perlukan.

"Apa aku perlu membuat wajah cadangan untukmu?"Kai menyeringai mendapati sepasang pandangan tajam Sehun menuju kearahnya.

"Hei.. Kenapa kalian yang bertengkar?"Luhan bersuara. Bagaimana mungkin kedua namja di depannya tampak seperti mengeluarkan tanduk sekarang.

"Apa kau tidak mengenal kata menghargai, bocah?"Chanyeol tersenyum melihat apa yang terjadi di depannya. Ditambah ucapan Kai yang entah kenapa seperti sengaja mencuci otak sadis Oh Sehun.

"Ya aku lupa dengan kata itu.. Bisakah kau mengajariku?"Perang dimulai.

"Sini.. Biar ku robek mulutmu"Kai hendak beranjak tapi belum sampai tubuhnya berdiri tegak tangan namja itu ditarik, mencoba membuatnya duduk kembali

"Kris ge dan Tao sudah menyelesaikan masalah mereka dan kalian mau membuat masalah lagi?"Dengus Luhan tangannya masih mencengkram pergelangan tangan Kai tanpa mengetahui tatapan tajam seorang Sehun yang kini mengarah kepada dirinya ya.. Kecuali seorang Chanyeol yang kini tersenyum mengejek kearah Sehun dan langsung mendapati tatapan tajam Sehun berbalik menuju kearahnya.

"Tersenyum itu hak semua orang, Sehun"Ucap Chanyeol membuat Kai dan Luhan mengalihkan pandangannya kearah Sehun yang masih menatap tajam kearah Chanyeol tapi tidak menjawab ucapan Chanyeol.

"Mau kemana Sehun?"Luhan beranjak dari tempatnya duduk. Mengikuti Sehun yang sepertinya akan keluar dari dorm.

.

"Kau tidak apa-apa Kai?"Tanya Chanyeol saat mendapat keheningan di ruangan itu.

"Hahh.. Entahlah, kelihatannya kepalaku mau meledak"

"Bagaimana menurutmu tentang Tao?"

"Entahlah.. Aku tidak begitu asing dengan gay.. Tapi aku cukup terkejut Tao seperti itu"

"Terus bagaimana tindakanmu sekarang?"

"Biasa saja, memang aku harus bagaimana? kelihatannya dari percakapan mereka Tao hanya tertarik dengan Kris ge"

"Apa kau berpikir ingin membantu menyembuhkannya?"

"Aku tidak tahu.. aku akan ikut arus saja tapi kelihatannya hyung sama sekali tidak terkejut"

"Aku sudah tahu sejak lama"Kai berani bertaruh. Matanya sekarang menatap marah kearah Chanyeol walaupun namja itu membalasnya dengan cengiran.

"Kau..

"Ya.. posisiku sama denganmu, aku cuma diam"Ah Park Chanyeol kau belajar berbohong sekarang. Apa benar kata diam itu seperti mempermainkan perasaan sang namja panda itu? Ya.. Setidaknya sekarang otaknya mulai berpikir rangkaian kata yang akan ditanyakannya kepada sang leader EXO M nanti.

.

.

.

"Kau akan tetap sekamar dengan Baekhyun?"Kris bertanya. Sekarang entah kenapa pikirannya jauh lebih nyaman daripada harus melakukan hal yang pernah dilakukannya selama ini. Kelihatannya benar apa yang dikatakan Lay.

"Ya.. gege tidak berbicara dingin lagi, apa aku salah mendengar?"Tao menatap kearah Kris yang kini merebahkan tubuhnya di samping tempatnya duduk, diranjang.

"Jangan memulai"Kris mendengus. Dia sendiri tidak menyadarinya. Mungkin kebiasaan yang sering dijadikan aktingnya selama ini mulai mengalir begitu saja tanpa dia sadari.

"Kau tidak risih? Kau aneh"Tao memutar kedua bola matanya. Pikirannya masih belum percaya dengan apa yang terjadi bagaimana mungkin Kris bisa berubah dalam kedipan mata. Dia takut semuanya terulang. Dia tidak ingin menjadi kurus karena memikirkannya.

"Anggap saja aku sedang merasa bersalah"Kris memejamkan matanya. Pikiran logikanya terasa menguap "Katakanlah ini semua hanya sekedar saudara, hanya itu. Otakmu masih bisa berpikirkan?"

Tao menatap sinis kearah Kris ya.. Walaupun namja itu tidak sedingin kemarin-kemarin tapi ucapannya tetap saja terdengar sadis. Seingatnya Sehun tidak begitu akrab dengan Kris. Kenapa sifat namja berkulit bak mayat itu tertular kepada Kris ahaha.. Kau melupakannya Tao, hampir semua member tertular dengan sifat itu.

"Saudara? Tidak buruk, aku belum memikirkan satu hal itu"

"Kalau begitu pikirkan mulai sekarang"

.

.

"Sehun.. Mau kemana kau?"Luhan berjalan berdampingan dengan Sehun setelah beberapa saat yang lalu sempat berlari kecil untuk mengimbangi langkah dari sang magne.

Sehun tak begitu memperhatikan Luhan dan juga tidak begitu ingin membalas sapaan dari sang ofecial couple di dalam grupnya. Dia hnaya tidak ingin mengasingkan diri sekarang. Mungkin teras belakang dorm tidak begitu buruk mengingat semua member sibuk dengan properti santai mereka sendiri-sendiri.

Luhan menghela nafas panjang sebelum melangkahkan kakinya lebih sedikit cepat dari Sehun "Mau bubble tea? Aku masih menyimpan satu cangkir besar sisah semalam"Ucap Luhan mencoba mengalihkan emosi sang magne pucat.

"Kau terlihat seperti merayu namjachinggu, ge"Ucap Sehun, menaikan satu alisnya dengan senyum miring terpampang di wajah berkulit putih pucatnya. Sedikit mengejek.

"Benarkah? Aku tidak merasa"Ucap Luhan. Memutar kedua bola matanya bosan. Yang benar saja? Apa setiap seseorang menghiburnya selalu namja berpikir seperti itu?

"Ya.. Aku cukup percaya diri jika orangnya seperti dirimu, namja berwajah yeoja"Ucap Sehun.. Oh.. Jangan katakan kau belum puas bertarung argumen dengan Kai saja Oh Sehun?.. Jangan menambah Luhan dalam daftarmu yang mungkin namja itu akan menendangmu seperti bola sepak. Tinggi bukan masalah, bukankah begitu Luhan?

"Ya ya.. Kau mengatakan seperti itu. Apa kau lupa berkaca.. Wajahmu itu seperti yeoja antagonis"Luhan membalas dan mendapatkan pandangan Sehun yang kini tengah mengerutkan dahinya.

"Antagonis, atau yeoja agresif? Aku pilih yang pertama"Dan selesai kalimat itu Sehun dapat merasakan kepalanya di dorong kedepan dengan cepat oleh telapak tangan Luhan yang entah bagaimana menganggap apa kepala seorang namja tampan seperti Sehun.

"Ya.. Aku suka kata agresif, setidaknya yeojaku menikmatinya"Luhan berkata ambigu tapi Sehun tahu maksud setiap kata dalam kalimat itu dan kini namja itu menyeringai.

"Oh.. aku lupa akan mengatakan seberapa 'polos' nya seorang Xi Luhan""Sehun menekan kata polos pada kalimatnya. Tidak begitu buruk bermain kata dengan namja rusa di sampingnya.

.

.

.

"Apa kau yakin keputusanmu? Kau seperti melenceng jauh, hyung"Chanyeol bersuara. Menyilangkan kedua tangannya di depan dada denga punggung menyandar pada daun pintu yang tertutup. Beberapa waktu yang lalu dia sengaja memanggil sang leader untuk mengintrogasi namja orental chinese-canada itu.

"Aku tidak tahu, otakku banyak tercuci"Kris berucap datar.

"Kau tidak risih saat melakukannya?"Chanyeol bertanya lagi.

"Tentu saja.. Aku masih normal Park Chanyeol, bagaimana mungkin aku biasa saja berdekatan dengan seorang gay"

"Tapi wajahmu biasa saja"

"Aku harus bagaimana? Apa aku harus terang-terangan memperlihatkan wajah tidak suka ku?"

"Entahlah"

"Sudahlah.. Bahkan ini lebih baik dari pada aku di introgasi semua member"

Chanyeol menghela nafas sebelum beranjak dari posisinya untuk duduk di atas karpet bersama Kris yang sudah sedari tadi merebahkan tubuhnya disana.

"Ku harap kau tidak terlalu ikut arus, hyung"Chanyeol menatap kearah Kris. Namja itu memejamkan matanya.

"Ya.. Berdoalah berteman dengan gay tidak akan membuatku juga menjadi gay.. "

'Tapi kemungkinan itu hanya tipis'Chanyeol bermonolog dalm pikirannya. Dia tidak bisa mengatakan langsung kepada Kris jika dia merasa ganjil akan semuanya. Mereka mempermainkan perasaan sang magne hanya bermodal ingin namja itu normal kembali tapi disisi lain dia tahu semuanya hanya hal kosong yang bahkan penyebab mereka melakukanny mereka tidak tahu. Hanya iseng? Kesenangan? Atau ingin memastikan.. Fanservis itu menghasilkan apa? Apa ini terdengar menyenangkan? Tidak.. Ini tidak sebegitunya menyenangkan.. bahkan Chanyeol lebih memilih tidak tahu kemudian bersikap normal daripada tahu tapi bersikap seolah-olah normal padahal dirinya sedikit risih.. Oh ayolah.. Siapa yang tidak risih dengan hal seperti itu, mereka normal, Chanyeol tahu itu tapi terkadang fanservis yang terus diulang-ulang membuat sebagian otaknya berpikir itu hal biasa karena dia juga melakukannya. Apa benar mereka masih katagori remaja labil? Ah.. Berapa umur mereka sekarang? Cobalah berhitung jari Park Chanyeol.

.

.

.

Yang kau tahu hanya masa kini bocah.. Tanpa tahu masa depan, bahkan mungkin kau tidak akan mengetahui dimana masa depan yang akan bisa merubah segalanya..

.

.

Tbc

Trimakasih untuk yang sudah review, baca ataupun yang mampir di ff shiroo, trimakasii banyaaak

Ochaken: sudah update ne, mianhe lamaaa

Yusnizhecwek. Kampong: Tao jangan cari yang lain, ntar krisnya nangis/digebukin.. sudah lanjut neee

Krispandataozi: ini sudah update ne, mianhe lamaaaa

Xyln: kok shiro yang ngeselin, tbc nya sajaaaaa ToT , ini sudah lanjut, mianhe lamaaaa

Aulchan12: trimakasiih, ini sudah lanjuut nee

Unique fire: gak hiatus kok, Cuma lagi buntet dikit/plak

Ururubaek: sehunnya dingin supaya tambah kereeen/tabokinsehun

Junghyema: aaaaa apa percakapannya sedikit memusingkan neee? Mianheeee

Maple fujoshi2309: endingnya yaoi kok, tapi shiro buatnya sedikit lambat supaya kelihatan ngalir nee

Huang lien: tao nya gak tau kalau dimainin tapi dia di chapter ini merasa dia dipermainkan saja/plak/apabedanya

Tksit: gomawooo semangaaaat

Memexiao15gmail. Com semoga di chap ini gak kecepetan ne, sedikit khawatir untuk bagian kris, semoga suka neee,

Sampai jumpa di chapter depan neeeee