"Kau tahu, aku suka pada Boboiboy."

Hening tercipta antara mereka bertiga. Fang sedikit membelalak menatap ke arah Yaya. Sedang Boboiboy yang sepertinya telah kaku sedari tadi.

"K-kau apa maksud kau ni?"

Yaya diam masih menatap Fang yang tidak mengerti dengan semua ini. Fang menatap Yaya dan Boboiboy bergantian, seakan meminta kejelasan dari ini semua. Boboiboy masih kelu tak mengerti harus menjawab apa.

"Sudahlah aku nak balik. Kau ambil je si Boboiboy tu. Aku tak de apa-apa dengan dia lah."

Fang segera mengambil tasnya lalu beranjak pergi dari kelasnya dengan setengah berlari. Boboiboy yang melihat Fang pergipun segera menyusulnya. Namun, sebuah tangan menggenggam tangannya menghentikan langkah Boboiboy.

"Tak perlu kau kejar dia." Yaya menatapnya dengan serius.

"Arghh!" Dan sekarang Boboiboy benar-benar bingung harus bagaimana.

...

Fang dengan setengah berlari terus meyusuri jalanan yang menuju ke rumahnya. Pikirannya begitu kacau, begitu gusar.

Bruk!

"Haiya, kalau jalan hati-hati, ma." Perempuan berdarah oriental itu memperingatkan Fang yang tidak sengaja menabraknya.
"Yelah, sori." Fang menjawabnya dengan tidak berminat. Setelah itu ia segera meninggalkan Ying yang masih bingung melihat tingkah Fang.

"Haiya, kamu kenapa hah? Lesu begitu, ma." Tanya Ying dari belakang punggung Fang. Fang berhenti berjalan, menundukkan wajahnya. "Tak de. Tak de apa-apa."

Ying menyadari suara Fang yang mulai bergetar. Dia tak ingin ikut campur, namun ia juga tak ingin melihat Fang yang mulai rapuh seperti ini.

Fang mulai melelehkan air matanya. Ia sepertinya tidak dapat menahannya lagi. Hatinya begitu pedih mendengarkan Yaya tadi. Saat ini ia merasa seperti ditipu. Ying mengetahui kepedihan hati kawannya itu. Ying segera mendekat, menyentuh pundak Fang.

"Jangan sedih, ma." Ia mengelus Pundak Fang. Tiba-tiba Fang merebahkan kepalanya di pundak Ying dan melelehkan air matanya disana. Ying hanya diam sambil mengelus rambut Fang dengan pelan.

...

Setelah menangis di jalan tadi Ying membawa Fang ke suatu tempat.

"Kenapa kau bawa aku ke sini lah?" Tanya Fang sebal.

"Sehabis kau menangis Special Hot Chocolate Tok Aba paling enak, ma." Jawab Ying tanpa rasa bersalah. Fang benar-benar sebal. Ia ingin menghindari kedai ini dan tentu saja, cucu pemilik kedai ini.

"Sudahlah, aku nak balik je." Fang segera berbalik badan hendak meninggalkan Ying. Tapi, Ying dengan cepat menghentikan Fang.

"Kau tak boleh pergi, ma." Ying segera menarik Fang dan berhasil membuatnya duduk di kursi kedai Tok Aba. Fang kelihatan sebal dengan ide Ying. Ia mulai menggembungkan pipinya yang putih.

"Tok Aba, special Hot Chocolate dua, ma."

Ying geli sendiri melihat Fang yang kelihatannya kesal. Ying dengan pelan mencubit pipi Fang yang begitu gembil sambil tertawa.

"Ish, apalah kau ni?!" Respon Fang begitu Ying mendaratkan cubitannya di pipinya yang lembut. Ying masih tertawa melihat respon Fang yang begitu gamblang.

"Haiya, kau masih tak nak cerita tentang masalah kau?"

Fang hanya diam, lalu menyeruput Special Hot Chocolatenya yang telah tersedia di atas mejanya. Ia menghindari pandangan Ying yang sepertinya sangat ingin mengetahui masalahnya.

"Kalau tak mau cerita, sudahlah, ma." Ying tiba-tiba malas melihat respon Fang yang hanya diam seperti itu. Ia jadi tidak begitu tertarik lagi untuk mendengarkan cerita Fang. "Yaya, suka Boboiboy."

...

Boboiboy berbaring di tempat tidurnya. Hari ini ia memang tidak ke Kedai Tok Aba. Ia menatap ke langit-langit kamarnya. Memorinya masih memutarkan kejadian tadi sore. Ia berpikir tentang Yaya, tentang Fang. Apalah yang harus ia perbuat?

Setelah Fang pergi tadi Yaya segera menahannya. Terjadi hening diantara mereka berdua. Sampai akhirnya Boboiboy segera pergi meninggalkan Yaya. Sendirian.

Ia tak ingin menyakiti Yaya. Namun, ia juga tak ingin meninggalkan Fang. Sesekali ia membuka topinya dan melempar-lemparkan si jingga itu.

'Aish, apalah yang harus ku buat?'

...

"Yaya, suka Boboiboy."

"Yaya?! Haiya, kau berbohong, ma?" Ying membelalak mendengarkan Fang. Ia hampir tersedak saat meminum Hot Chocolatenya.

"Haish, sudahlah kalau kau tak percaya. Percuma je kalau aku ceritakan." Jawab Fang sebal melihat reaksi Ying yang tidak mempercayainya.

"Haiya, sori, sori. Jadi memang kenapa, ma? Kau suka pada Yaya?" Tanya Ying pura-pura polos. Mengharapkan Fang segera jujur dengan perasaannya sendiri.

"Bukan lah." Jawab Fang. Ia termenung mendengarkan pertanyaan itu. Ada apa dengan dirinya? Buat apa ia merasa sepanas ini? Fang tiba-tiba memerah. Ia menyeruput hot chocolate Tok Aba dengan cepat.

"Kau berarti... Suka pada Boboiboy? Haiya, kau cemburu?" Tanya Ying tepat sasaran. Membuat Fang segera tersedak Hot Chocolate.

"Uhuk... uhuk..."

"Haiya, sudah ku duga, ma." Senyum Ying merasakan kemenangannya atas Fang. Fang masih sedikit terbatuk. Perlahan ia mengatur napasnya. Dan sekarang ia benar-benar merah. 'Apa benar aku suka pada Boboiboy?' Tanyanya pada dirinya sendiri.

"T-Tak de lah aku suka dengan orang macam dia tu. Kau tahu, dia juga suka padaku karena hipnosis Adu Du."

"Haiya, Boboiboy suka pada kau?" Ying masih berpura-pura tak tahu. Fang segera menutup mulutnya dengan tangannya. Merasakan ia salah berkalimat. 'Sial!'

"Ma-Maksudku-"

"Haiya, sudahlah. Aku dah tau masalah itu, ma." Jawab Ying dengan tenang sambil menyeruput hot chocolatenya. Fang menatapnya heran.

'Macamana Ying bisa tahu?'

...

Boboiboy akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju kedai Tok Aba untuk melepaskan penatnya. Mungkin saat ini Tok Aba membutuhkan dirinya karena kedai Tok Aba yang begitu nikmat itu takkan pernah sepi pengunjung. Ya, sekaligus untuk membuatnya lupa pada masalah tadi.

Ia melangkahkan kakinya ke kedai Tok Aba. Dari kejauhan, Boboiboy melihat dua sosok yang begitu dikenalnya. Mereka berdua kelihatan begitu dekat dan begitu bahagia. 'Sedang apa mereka sore-sore macam ni?'

Boboiboy melayangkan pandangannya pada seorang laki-laki yang sedari tadi membuatnya pening. Melihatnya dari kejauhan. Begitu bahagia sambil menyeruput segelas hot chocolate buatan Tok Aba. Wanita di sebelahnyapun sama cerianya. Sesekali terlihat Ying yang jahil pada Fang. Namun, Fang kelihatannya tidak marah. Dan yang membuat Boboiboy sebal adalah mereka begitu dekat. Fang kelihatan nyaman berada di dekat Ying. Suatu ekspresi yang tidak pernah ia lihat saat sedang bersamanya. Boboiboy mulai berjalan mendekat Tok Aba.

"A-Apalah kau cakap ni. Jangan sok tahu lah. Sudah ku bilang, tak de lah aku suka dengan si Boboiboy tu."

"Benarkah apa yang kau cakap tu, Fang?"

Bersambung


Maafkan saya updatenya lama ;;

Begitu banyak masalah yang membelenggu akhir akhir ini. Jadi untuk chapter kedepannya saya akan lambat lagi ;;

Ohiya terimakasih atas kesetiannya menunggu. Maaf mungkin chapter yang ini kurang emosinal dan kurang hot (?)

Sepertinya pairing akan berganti jadi Yaya x Boboiboy atau Ying x Fang /dibakar. Maafkan cerita kali ini yang terkesan begitu singkat ;;

Dan untuk sebelumnya inilah yang saya khawatirkan terjadi. Sebenarnya saya membuat fic ini tapi tidak ingin menghilangkan originalitasnya juga, tapi geli kan melihat anak sd beradegan 'panas' (kecuali anda pecinta shota ;3 atau anda semacam lolicon). Saya sempat merasakan dilema itu. Saya harus bagaimana? ;; jadi akhirnya saya ambil jalan tengahnya, yaitu saya tidak memberikan keterangan waktu umur mereka. Jadi, saya meliarkan (?) imajinasi para reader tercintah. Jadi memang presepsi umur mereka bisa berbeda-beda tergantung bagaimana kalian membayangkan. Tapi lebih baik saya sarankan, mereka ini antara umur 15 – 17 tahun biar aman XD tapi ini kembali lagi ke imajinasi kalian

Saya minta maaf atas keterlambatan update, cerita yang kurang menarik di chapter ini, Typo, OOC, deskripsi yang kurang dapat dimengerti, diksi yang kurang tepat, bahasa yang kurang baik, dan kesalahan lainnya.

Terima kasih banyak atas review, kritik dan sarannya yang membuat saya selalu belajar untuk lebih baik w

Sampai bertemu di chapter depan^^

Disclaimer : Animonsta Studio