Haiii, wah maaf ya lagilagi saya telat UTS sekolah saya paling lambet mana mau kenaikan kelas tugas banyak *loh kok curhat. Makasiii yaa atas reviewnyaa^^ oke balas review dulu!
SK: Terimakasihhh dan ini dia updatenya:D
hana37: Yupp ini sudah lanjut^^
frans: Ayo kita cek ada lemonnya ga chapter ini:p
yuichi: silahkan dibaca lanjutannya^^
francoeur: hehe terimakasih yaa ini dia lanjutannya
Azusa TheBadGirl: Haha itu sangat menusuk =D
Rechi: Haii maaf menunggu ini dia updatenya!^^
bas: Here you are ;)
: Maka dari itu kita lihat disini hoho
Enjellia Uchiha Gazerock: Makasihh banyaakk! dan makasih sarannya ^^
chan: Ini dia! selamat membaca update terbaru;D
Ami: haha gpp kok makasih banyak atas reviewnyaaa :D
guest: ini update :D
Uchiha ino: kita lihat di chap ini^^
hyuchi: arigatouu hehe ;)
.
.
.
"Tachi-kun? Apakah kau mencintai ku?"
"Aku sangat mencintaimu Hana" Jawab Itachi walaupun sebenarnya tidak selebih itu
"Kalau begitu... Hamili aku" Ujar Hanare tegas
Itachi membulatkan matanya akan pemintaan Hanare
"A-Apa?!"
NARUTO
DISCLAIMER: MASASHI KISHIMOTO(C)
PAIRING: Itachi Uchiha x Ino Yamanaka
RATE: M (buat jaga-jaga)
Chapter 7
Itachi membelalakkan matanya akan apa yang ia dengar barusan. Sontak pula, Itachi menghentikan aktivitasnya. Nafsu yang sudah tak tertahan seakan teralih. Hanare yang melihat Itachi yang nampak kaget, hanya bisa terheran
"Tachi, memangnya kenapa? Hanya ini cara yang bisa kita lakukan untuk membatalkan pernikahanmu" Tanya Hanare meyakinkan. "Ha-Hanare, kita tidak seharusnya menggunakan cara itu" Ujar Itachi sedikit menjauh ke belakang
"Kenapa?! Tidak ada cara lain. Keluarga mu sudah tidak menaruh restu akan hubungan kita. Kalau kau memang mencintaiku, kita harus melakukan ini" Ujar Hanare dengan sedikit teriak. Itachi hanya bisa bingung di buatnya. Pokoknya ia harus menolak. HARUS!
"Hana... Aku mengerti. Tapi apakah kau tidak memikirkan kehormatan dan harga diri kita masing-masing juga? Aku hanya tidak ingin namamu menjadi tidak baik" Ujar Itachi meyakinkan. "Sejak kapan kau berpikir begitu Tachi-kun? Kau Uchiha Itachi, yang selalu mengejarku berkata seperti itu? Apa jangan-jangan kau akan mentelantarkan hubungan kita? Hingga kau menikah... Dengan calon istrimu?" Tanya Hanare sedikit emosi
Itachi hanya dapat menegang. Dia memang memikirkan bagaimana dengan Ino. Sepertinya Itachi mulai memikirkannya. "Sssh, Hana-chan. Kita pasti akan menemukan cara selain dengan cara itu" Tutur Itachi meyakinkan. Sambil memeluk Hanare. Padahal Itachi sama sekali tidak yakin. Ia sama sekali tak mempunyai sebersit niat untuk menggagalkan pernikahannya dengan Ino. Entah mengapa
"Oh ya? Apa besok kau ingin belanja? Aku akan menemanimu. Pilih saja apa yang kau suka besok hm?" Ujar Itachi mengalihkan pembicaraan. Yap, inilah kebiasaan Itachi memanjakkan Hanare. Hanare yang seakan juga teralihkan pun langsung tersenyum "Huh Tachi-kun? Karena kau menolakku barusan... Maka besok kau harus menemaniku berbelanja" Ujar Hanare manja
Itachi hanya tersenyum kemudian memeluk Hanare. Tetapi ia terpikir. Mengapa aura yang dipancarkan Hanare dengan Ino sangat berbeda. Ino bagaikan cahaya putih yang indah dan terasa nyaman. Bahkan Hanare terasa sangat biasa. Mengapa Itachi baru menyadari hal ini?
"Ne, Tachi-kun? Ayo kita tidur. Aku sudah mengantuk. Gendong yah!" Ujar Hanare bergelayut manja di bahu Itachi. Sontak pikiran Itachi teralihan. Dan ia berusaha menanggapi
"Hei, dasar manja. Tapi apapun buat Hana-chan pasti akan kukabulkan" Ujar Itachi halus dan tersenyum. Kemudian ia menggendong Hanare ala bridal style dan membawanya ke kamar
Tiba dikamar. Itachi menurunkan Hanare di atas kasur empuk milih wanitanya itu. Itachi pun juga mengambil posisi di sebelah Hanare. Ternyata Hanare sudah tertidur pulas. Jangan-jangan dia gegabah minta untuk di hamili karena sudah mengantuk dan ngelantur? Ah sudahlah yang penting Itachi dapat menghindari hal ini. Kemudian Itachi menciumi kening wanitanya
Itachi sama sekali tidak bisa tidur. Kemudian ia tiba-tiba teringat sesuatu. Ah! Ia teringat Ino! Ah bagaimana aku bisa lupa?! Ah tapi aku sudah bilang akan pergi menginap. Batin Itachi
Itachi seakan tidak dapat menahan kegelisahannya. Ia merasa cemas? Ya mengapa dia harus cemas. Itachi tidak dapat menghilangkan perasaan itu... Ia pun mencoba tidur. Tapi tetap saja tak bisa. Itachi pun sudah tak tahan. Akhirnya ia bangkit. Kemudian ia menuliskan memo di meja disamping kasur Hanare
Hanare-chan, aku sangat minta maaf tidak dapat menemanimu. Tapi ada beberapa laporan yang baru saja masuk dan harus aku selesaikan. Besok kita akan pergi berbelanja
Love, Tachi
Kemudian Itachi pun turun ke basement apartemen Hanare, dan berjalan menuju ke mobilnya.
Sementara itu
Shisui dan Ino menghabiskan malam mereka dengan berbincang. Ino kadang mencurahkan isi hatinya. Ia juga memberitahu Shisui perihal Itachi menginap di apartemen Hanare. Tetapi Shisui selalu menghibur Ino. Ino hanya bisa tersenyum bahagia. Ia sangat menyukai suasana hangat ini. Ia merasa menjadi dirinya sendiri. Dibandingkan dengan Itachi, ia hanya selalu memendam,memendam dan memendam
"Kau tahu Ino? masakanmu sangat enak. Aku rasa ini adalah makanan terenak yang pernah aku coba" Ujar Shisui dengan cengiran khasnya. Ino hanya bisa tersenyum "Hehe, kau berlebihan ne? Membuatku geer saja" Ujar Ino mencubit pipi Shisui. Wajah Shisui pun merona. Tangan Ino yang mulus dan putih terasa sangat halus di pipinya
"Loh? Kenapa wajahmu memerah? Kau demam?" Tanya Ino terheran? Shisui pun tergelonjak kaget tetapi ia sembunyikan rasa kagetnya ala metode Uchiha(?) "Hmm tidak, Oiya makananmu memang sangat enak. Kau tahu? Di mansion Uchiha, maid sangat sering memasak. Bahkan bibi Mikoto dan Kaa-san sangat jarang memasak. Padahal aku lebih menyukai makanan mereka" Tutur Shisui mengalihkan pembicaraan
Ino pun hanya menanggapi. Kemudian Shisui kembali menceritakan banyak hal yang pastinya mampu membuat Ino tertawa. Kemudian Ino bertanya
"Ne, Shisui? Sepertinya aku sering curhat kepadamu. Kau bahkan tidak pernah menceritakan kehidupanmu. Hmmm, apa ada wanita yang kau sukai?" Tanya Ino. Shisui hanya bisa membeku. Wanita di depannya yang sedang bertanya inilah, wanita yang ia sukai. "Eh? A-Aku?" tanya Shisui polos. "Tentu saja, siapalagi? Hayo mengaku" Ujar Ino mencubit kedua pipi Shisui lagi. Wajah Shisui kini bak kepiting rebus.
Tapi tiba-tiba saja...
LISTRIK TURUN
Tiba-tiba seisi ruangan penuh gelap. Seakan semua pandangan terbutakan. Suara menjadi sangat sunyi. Ino yang menyadari hal itu sontak berteriak dan memeluk Shisui erat. Shisui pun sangat kaget dan ia dibikin tambah merona. Untung saja mati lampu. Ino tidak dapat melihat rona di wajahnya
"I-Ino? Kau ba-baik baik saja?" Ujar Shisui menenangkan Ino. Ino hanya ketakutan tetapi seperti orang tergesa-gesa. Aneh? Biasanya kalau sudah tahu mati lampu, orang tidak perlu setakut ini kan?
"Shisui, jangan pergi. Aku takut huuu" Rengek Ino ketakutan sambil mempererat pelukan Shisui. Shisui berusaha menahan diri "Ta-tapi aku harus menyalakan listrik di teras, Ino. Kalau kau takut, ikuti aku saja" Ujar Shisui meyakinkan
"Tidakkkk jangan pergi" Ino semakin mempererat pelukannya lagi. Bahkan wangi tubuh Ino yang harum dapat tercium di indra penciuman Shisui. Shisui pun akhirnya perlahan-lahan, berusaha memeluk Ino balik. Ia ingin menenangkan Ino yang tampak sangat ketakutan
Shisui pun memeluk Ino balik dan Ino semakin menyandarkan dirinya dalam pelukan Shisui. Shisui merasa jutaan kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya. Dan ia juga merasa aliran darah dari dalam tubuhnya seperti aliran arus listrik
Ino... Sial, aku harus bisa menahan diri. Ah kenapa rasanya nyaman sekali. Batin Shisui menahan diri setengah mati, namun tiba-tiba saja suara pagar terbuka dan suara mobil mendekat terdengar jelas. Shisui langsung tergelonjak kaget dan menengang. Ia berusaha melepaskan pelukan Ino dan memanggil Ino tapi tetap tidak bisa. Entah kekuatan apa yang telah Ino dapatkan. Ia tetap mengeratkan pelukannya pada Shisui
Sementara itu lagi
Itachi memasukkan mobil ke dalam rumahnya. Tetapi ia melihat mobil yang tidak asing terpakir di depan rumahnya yang cukup luas. Shisui? Cih, untuk apa dia dan Ino berduaan disini?
Itachi pun segera turun dan mengunci mobilnya. Ia melihat jelas lampu teras rumah dan seluruh lampu di kawasan rumahnya gelap gulita. Itachi pun segera menaikkan arus listrik. Dan seketika seluruh lampu kembali menyala
"Cih kenapa akhir-akhir ini listrik selalu turun?" Gerutu Itachi. Ah tapi yang penting aku harus segera masuk. Apa yang sedang Ino dan Shisui lakukan disini. Batin Itachi penasaran
Itachi mengeluarkan kunci cadangan yang selalu ia bawa. Dan ia pun membuka pintu itu. Itachi segera beranjak memeriksa ruangan keluarga satu-satunya dirumah Ini
Alangkah kagetnya Itachi. Ino sedang memeluk Shisui dengan erat. Tetapi Shisui sudah melepaskan pelukannya sedari Itachi pergi. Emosi Itachi memuncak. Ia sangat tidak suka dengan apa yang ia lihat. Ia bahkan tidak terpikir, mengapa Ino memeluk Shisui dan Shisui diam saja tidak melepaskan
Shisui yang menyadari kedatangan Itachi berusaha untuk menyimpan rasa takutnya. Ia segera memecahkan suasana panas yang dirasakan Itachi
"Itachi! Simpan saja apa yang ingin kau katakan nanti. Beberapa menit yang lalu, listrik turun. Dan Ino langsung ketakutan. Aku tidak tahu apakah dia mempunyai ketakutan pada kegelapan tetapi tolong aku. Aku tidak bisa menenangkan Ino" Ujar Shisui sedikit berteriak
Itachi yang awalnya sudah panas pun langsung teringat sesuatu, Ino mempunyai fhobia terhadap kegelapan. Itachi segera mendekat kepada Ino yang masih saja memejamkan matanya dan memeluk Shisui
"Ino?" Itachi menggerakkan bahu Ino. Ino yang mulai sepenuhnya sadar. Mendengar nama Itachi memanggilnya. Dia pun tersadar kini Itachi menyaksikannya memeluk Shisui. Oh tidakkk! Itachi kenapa harus pulang sekarang? Bukankah ia akan menginap
Ino pun tergesa-gesa segera melepaskan pelukannya kepada Shisui. Ino langsung berdiri dan membungkukkan badannya kepada Shisui "Ma-Maaf! Sungguh aku minta maaf Shisui, aku mempunyai fhobia pada kegelapan. Maaf" Ino terus meminta maaf. Shisui hanya memandang Ino heran
"Err... Tidak apa-apa Ino. Tidak perlu seperti itu" Ujar Shisui meyakinkan. Ino kini memandang Itachi takut-takut. Dilihatnya pandangan Itachi yang datar khas miliknya. Baru saja Ino akan berbicara, Shisui memotongnya
"Ehm, Itachi. Aku bisa menjelaskan mengapa aku disini" Ujar Shisui. Bagaimanapun Shisui harus bertanggung jawab. Ia merasa seakan ia mengkhianati sepupu sekaligus sahabatnya itu. Padahal Itachi-lah yang sangat menghianati Ino
"Shisui, tidak apa-apa. Sebaiknya kau pulang, aku sudah mengantuk" Ujar Itachi datar. Shisui dan Ino hanya terheran. Tapi, tak mau mengganggu lebih lama lagi, Shisui pun pamit "Emm.. Kalau begitu aku pulang dulu Itachi dan Ino, maaf merepotkan kalian" Shisui segera pamit. Belum sempat Ino membalas pamit dari Shisui, Shisui telah cepat keluar dan Itachi memberi tatapan mengintimidasi kepada dirinya
Tatapan itu. Tatapan yang selalu Itachi berikan kepada apapun yang ia tidak suka, bahkan benci. Ino hanya bisa menengang dibuatnya. Itachi kemudian beranjak dan mengunci pintu setelah Shisui keluar
Ino benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin Itachi sangat marah. Ino tahu itu. Ino sangat takut. Kemudian ia memutuskan untuk naik ke lantai atas menuju kamarnya
Baru saja ia akan menaiki tangga. Pergelangan tangannya terkunci oleh tangan yang seakan ingin mencengkramnya. Ino pun berusaha membalikkan dirinya. Kini depannya, Itachi dengan wajah datar tetapi iris onyx dan auranya yang menusuk seakan membuat bulu kuduk Ino menaik
"Mau kemana kau hm?" Nafas segar dan harum aroma mint ini menerpa penciuman Ino. Tapi Ino hanya semakin tegang dibuatnya. Kini Itachi tidak ayal kurang dari 4cm di depan wajahnya. Ino hanya menundukkan wajahnya
"A-aku ingin ke kamarku, Itachi-san" Ujar Ino tegang. Itachi semakin mendekatkan wajahnya "Tapi aku rasa kau masih hutang penjelasan padaku" Titah Itachi dingin
"A-aku... mengundang Shisui kerumah. Makanan yang telah kumasak sayang sekali jika tidak di habiskan. Mengingat kau akan pulang besok. Maka dari itu aku meminta Shisui untuk bertamu kemari hanya sekedar makan dan mengobrol" Ujar Ino memberanikan dirinya menatap Itachi
Itachi hanya menghela nafas. "Hm? Ternyata benar kau yang mengajaknya ya? Aku tidak tahu mengapa. Tapi tampaknya kau genit sekali pada sepupuku satu itu, Yamanaka-san?" Tanya Itachi dengan dingin dan mengintimidasi
Ino yang mendengar itu tiba-tiba saja tersinggung. Ia berusaha menahan. Selalu saja menahan. Kemudian Ino memutuskan untuk menatap mata Itachi yang mengintimidasinya
DUAKKK!
Ino memukul dinding hingga sedikit retak dan mengelupas, dengan tangan kosongnya. Sekilas Itachi sedikit kaget dengan respon yang di berikan oleh Ino
"Kenapa?! Kenapa aku hanya bersahabat dengan tak lain calon ipar ku, tapi kau begitu marah padaku? Lalu bagaimana denganmu? Kau dengan mantan kekasihmu itu? Oh maaf, maksudku pacarmu. Ya?haha. Aku memang serasa bukan siapa-siapa diantara kalian. Kau bahkan pasti sudah menyentuhnya lebih dari Shisui yang tidak sengaja memelukku!" Ujar Ino sarkastik kemudian ia mengambil langkah menuju ke kamarnya
Itachi hanya dapat terdiam di tempat. Apa yang Ino katakan begitu menusuk dan sangat mendeskripsikan keadaan Itachi sekarang. Itachi hanya dapat menghela nafas. Kemudian ia juga menuju ke kamarnya
Di kamar. Itachi terus saja memikirkan perkataan Ino. Kalau dipikir-pikir. Apa yang Ino lakukan dengan Shisui, bahkan tak sengaja, tidak ada apapun dengan apa yang ia lakukan di apartemen Hanare. Itachi mulai tersadar dari awal ia selalu mengkucilkan Ino, selingkuh di belakang Ino, bahkan Ino mengetahuinya. Ia sadar, ia selalu mempermainkan Ino. Tetapi Ino tidak pernah mengeluh. Ia selalu berbuat baik kepada Itachi. Selalu mengerjakan pekerjaannya dirumah dengan baik
Ino sama sekali tidak merasa di repotkan dan disusahkan bahkan disakiti. Padahal Ino selalu di permainkan. Itulah yang Itachi sadari
Itachi terus berpikir... Hingga wajah Ino lah yang terakhir teringat dalam pikirannya, kemudia ia terlelap
Sementara itu, Ino yang belum tidur hanya dapat menangis seenggukan di bawah bantal. Ia berusaha sebisa mungkin untuk menahan tangisannya. "Ukh.. Hiks.. hiks.. Aku salah apa? Mengapa jadi seperti ini?" Ino berkata sekecil mungkin. Kemudian Ino berdoa kepada kami-sama "Kami-sama, tolong mudahkan jalanku,sabarkan diriku dan kuatkan hatiku" Ucap Ino berdoa
Tangis Ino pun akhirnya terhenti. Ia merasa emosi nya telah terluap sempurna. Kemudian Ino beranjak dari kasurnya dan menuju ke dapur untuk membuat teh. Ino selalu mempunyai cara untuk menenangkan dirinya ;)
Setelah ia membuat teh, ia merapikan piring kotor yang belum sempat ia rapihkan dan ia cuci, sejak Shisui pulang. Kemudian sambil meminum tehnya, Ino teringat akan sesuatu. Kenapa Itachi-san pulang ya? bukankah tadi ia bilang kalau ia akan pulang besok? Apa yang terjadi dengannya dan Hanare?. Batin Ino
Ino pun juga terpikir. Tapi tadi aku keterlaluan sekali membentak Itachi-san, sampai aku meninju dinding. Uh tanganku memar sekali. Batin Ino lagi. Setelah itu, sudah yakin pekerjaan rumahnya telah selesai, Ino beranjak menuju kamarnya. Sebelum ia menuju kamarnya, ia melihat kamar Itachi yang terdengar hening
Ino pun memberanikan diri memasuki kamar Itachi. Perlahan-lahan ia membuka pintu. Dan tampaklah Itachi yang telah tertidur. Wajah Itachi yang sedang tertidur adalah wajah yang paling tampan yang pernah Ino lihat. Karena Itachi terlihat damai. Meski ia tidak tahu apa dan siapa yang di mimpikannya. Tetapi wajah damai itu sangatlah tentram. Seakan memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya
Ino pun melangkah menuju Itachi. Ino memandang Itachi kemudian tersenyum. "Maafkan aku Itachi-san. Maafkan aku tadi terlalu emosi. Aku memang salah. Maafkan aku, dan mimpi indah ya Itachi-san. A-aku... mencintaimu" Ujar Ino kemudian ia mencium kening Itachi
Kemudian Ino pun beranjak meninggalkan Itachi perlahan-lahan dan menuju kamarnya. Sebelum ia menutup pintu Itachi, dari pintu ia berbalik dan tersenyum kearah Itachi yang sedang terlelap
Sementara itu, merasa pintu kamarnya telah tertutup. Itachi membuka sedikit matanya dan tersenyum. Entah apa yang dimaksud dengan senyumnya itu. Ironis sekali bagi Itachi yang selalu cuek kepada Ino, tapi ia merasa lega mengetahui bahwa Ino telah bersikap baik kembali kepadanya
Itachi beberapa menit yang lalu kembali terbangun karena masih saja tidak bisa tidur dan terpaku oleh Ino. Mendengar langkah kaki Ino menuju ke kamarnya tadi, Itachi langsung pura-pura tidur
Kemudian ia merasa, bebannya menjadi hilang. Dan kali ini ia pun tertidur lelap. Dengan damai
Keesokan Harinya
Itachi terbangun, dari mimpi indahnya. Bersama Ino. Itachi tidak dapat menahan gejolak di dalam dirinya. Ia bangun dengan wajah yang merona ketika mengingat mimpinya. Ia bermimpi honeymoon di Eropa dan melakukan hubungan suami istri dengan Ino. Itachi memang pernah melihat tubuh Ino. Tapi mimpinya semalam terasa nyata. Untung ia tidak mimpi basah
Itachi menatap jam digital yang berada di atas buffet sebelah kasur empuknya. Jam 8 pagi? Biasanya Ino akan membangunkannya walalupun hari libur seperti hari minggu ini. Apa jangan-jangan Ino masih marah? Itachi berpikir
Tetapi pandangannya teralihkan kepada pancake dan susu hangat yang berada di atas meja laptopnya. Itachi tersenyum. Calon istrinya, memanglah orang yang paling peduli. Ah Itachi pun tersadar, kenapa lagi-lagi ia peduli terhadap Ino? Tapi entah kenapa. Ia membiarkan dirinya untuk belajar. Belajar untuk tidak membohongi diri sendiri akan perasaannya yang mulai tumbuh terhadap Ino. Cinta memang ajaib. Tidak mengenal waktu maupun keadaan. Itachi tidak mau menyangkal perasaan yang sesungguhnya
Itachi berdiri dan memakan pancake buatan Ino yang sangat enak di lidahnya. Ahh, betapa ia cinta kepada masakan Ino. Kemudian setelah ia meminum susu, ia beranjak ke kamar mandi hanya untuk mencuci mukanya dan menggosok gigi. Sepertinya ia malas mandi karena masih libur~
Itachi masih mengenakan celana tidur dan kaus polos nya. Ia kini beranjak menuju kamar Ino. Dan ia mendapati Ino yang terlelap. Itachi hanya tersenyum. Entah mengapa tingkat kepekaannya meningkat
Itachi melangkah menuju Ino yang terlelap. Kemudian Itachi duduk dan mengelus kepala Ino. "Kau tidur karena masih marah padaku? Tapi sepertinya kau masih peduli ya sampai-sampai kau masih membuatkanku sarapan? Hm" Tutur Itachi. Tapi tidak digubris sama sekali oleh Ino
Padahal Itachi melihat gerakan leher Ino yang seakan menelan ludah. Itachi hanya tersenyum melihat tingkah Ino
"Mau sampai kapan kau pura-pura Ino? Uchiha itu tidak bisa dibohongi" Ujar Itachi. Sontak Ino langsung membuka matanya. Ia tidak berani menatap Itachi dan ia merubah posisinya membelakangi Itachi. Itachi yang menyadari hal itu hanya dapat tersenyum setipis mungkin. Ternyata Ino punya tingkah yang menggemaskan juga
Itachi pun mencubit pipi Ino saking gemasnya. Ino pun merintih kesakitan dan memasang tatapan sebal kepada Itachi. Tapi yang dilihatnya kini berbeda. Senyum Itachi yang belum pernah ia lihat. Senyum nya yang hangat dan menawan, kini tertuju kepadanya
Itachi yang melihat Ino terbengong menatapnya, menjadi terheran. "Kenapa Ino?" Tanya Itachi. Ino tersontak kaget dan wajahnya merona. Ino menunduk kebawah. "Nggh.. A-Anu, apa Itachi-san masih marah kepadaku?" Ujar Ino menunduk sambil sambil menautkan kedua telunjuknya. Seperti temannya Hinata kalau sedang malu-malu
Melihat hal itu Itachi menjadi semakin gemas, kemudian ia memeluk Ino sambil mencium pipi Ino. Ino kini mukanya tak berbeda jauh dari . Ia menatap Itachi malu malu
"Itu morning kiss, balasan goodnight kiss yang kau berikan kemarin malam" Ujar Itachi polos. "E-Eehhh" Ino sontak membeku karena kaget. "Itachi-san? Bukannya telah tidur ya saat aku ke kamarmu" Tanya Ino malu malu. "Belum, aku hanya berpura-pura. Ternyata semarah-marahnya kau. Kau masih peduli ya terhadapku" Ujar Itachi tersenyum jahil
Ino bingung harus berkata apa. Jelas sekali Itachi yang sekarang di depannya sangatlah berbeda dengan Itachi yang kemarin tidak pernah memerdulikannya. Ino ingin sekali bertanya tentang perihal apa yang dapat membuat Itachi berubah 180 derajat. Namun ia mengurungkan niatnya. Bisa saja hal yang sama terjadi lagi. Itachi yang tiba-tiba baik kepada Ino, kemudian kembali lagi menjadi Itachi yang dingin. Dan kembali lagi ke pelukan Hanare
Namun, Ino tidak memerdulikan hal itu. Selama ia adalah calon istri Itachi yang memang sudah sah dimata kedua belah pihak keluarga, ia tidak peduli bahkan ia rela Itachi ingin melakukan apa saja kepadanya. Ino yakin, ke-ikhlasan hatinya akan menyadarkan Itachi akan dirinya dan akan kembali kepadanya sebagai istrinya
"Itachi san? maaf lancang tapi apakah kau baik-baik saja? Setelah kemarin aku bersikap kurang ajar kepadamu?" Tanya Ino gugup. Itachi hanya menghela nafas. "Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi Ino. Selain itu... Aku juga minta maaf" Ujar Itachi sembari menatap iris aquamarine dihadapannya dengan lekat
"Maaf untuk apa?" Ino bertanya. "Maaf untuk yang kemarin" Itachi hanya masih gengsi untuk minta maaf. "A-Aku-" Ino baru akan berucap tetapi dipotong oleh Itachi "Dan aku rasa... Aku mulai jatuh cinta padamu, Yamanaka Ino" Ucap Itachi singkat sambil menunduk, menyembunyikan rona di pipinya
Ino membelalakkan matanya dengan kaget. Apa ia tidak salah dengar? pernyataan yang Itachi sampaikan benar-benar lebih dari ekspetasinya. Ino mau tak mau hanya dapat terharu. Kemudian, sontak ia memeluk Itachi dengan sayang
"Terimakasih Itachi-san, aku sangat mencintaimu" Ujar Ino terharu di dalam dekapan Itachi. Itachi hanya tersenyum menahan gengsi. Sementara itu, Ino tidak bisa berhenti mengekspresikan kebahagiaannya
Itachi kali ini tidak ingin terjebak lagi dalam ego nya. Kini saatnya ia membuka mata lebar-lebar dan menerima kenyataan bahwa Ino lah yang kini telah mengisi hatinya
Mereka berdua tidak tau... Apakah kebersamaan mereka ini akan mengantarkan mereka kepada kebahagiaan yang abadi. Atau awal dari rintangan yang baru...
.
.
Kini pagi berganti siang. Ino kini menyiapkan makan siang. Daritadi ia tidak dapat berhenti tersenyum atas pernyataan Itachi tadi pagi dan...
Flashback
"Terimakasih Itachi-san" Ino memandang iris onyx Itachi dengan berkaca-kaca. Itachi kemudian membelai pipi Ino untuk menyeka setetes air mata kebahagiaan itu. "Berhentilah memanggilku dengan suffiks 'san' karena aku bukan orang lain/terhormat bagimu. Panggil saja aku Itachi"
Ino hanya mengangguk layaknya anak kecil yang baru saja diajari hal baru. Benar-benar sangat menggemaskan. Itachi membelai rambut Ino yang sengaja tidak dikuncir ketika tidur. "Kau tahu? Kau sangat cantik jika rambutmu tergerai seperti ini" Ujar Itachi sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Ino
"Ehhmmm... Te-terimakasih Itachi" Ino gugup akan kedekatan wajahnya yang kini terpaut 3cm. Itachi pun memejamkan matanya dan berbisik di telinga Ino "Kau sangat cantik dan menggoda Ino. Aku rasa aku sangat menginginkanmu sekarang" Kalimat itu sangat tersirat dengan aura yang sensual. Memberikan sensasi menggelitik kepada Ino. Ino hanya mendesah kecil dan tertahan. Kemudian Itachi pun melanjutkan kegiatannya yang kini menciumi leher jenjang dan mulus milik Ino
Kemudian Itachi menidurkan Ino yang kini ada dibawahnya. Lengannya ia tahan di sisi kasur Ino yang empuk itu agar badannya tidak terlalu membebani Ino. Itachi dapat melihat wajah cantik Ino yang menyiratkan rasa nafsu. Betul betul membangkitkan gairah Itachi. Itachi pun melumat bibir Ino dengan nafsu tetapi tidak kasar. Ino pun membalas ciuman itu dengan nafsu pula. Ino juga membuka mulutnya sebagai akses bagi lidah Itachi untuk lebih memperdalam ciuman panas mereka
Sensasi itu... Rasanya seperti mimpi saja bagi Ino. Ditengah-tengah ciuman itupun Ino juga mendesah kecil menyebutkan nama Itachi. Hal itu justru lebih membangkitkan libido Itachi. Tetapi karena pasokan udara habis. Itachi menarik diri untuk menyudahi ciuman tersebut
Kemudian Itachi duduk di tepi ranjang. Ino pun ikut bangkit masih dengan wajahnya yang merona akibat perlakuan mereka. Itachi hanya tersenyum kepada Ino. "Kurasa ini masih terlalu pagi. Dan sangat tidak adil jika hanya kau yang sudah mandi!" Ujar Itachi jahil
"A-ah? Tetapi kau juga harum seperti biasanya kok!"Ujar Ino malu-malu. "Hn, aku mau mandi. Nanti sehabis makan siang aku akan mengajakmu jalan-jalan" Ujar Itachi seraya bangkit dari ranjang Ino
"Baiklah" Jawab Ino tersenyum. Ketika Itachi baru akan membuka pintu. Ia menoleh kepada Ino "Oh ya, tadi itu belum selesai ya" Ujar Itachi jahil dan langsung menutup pintu kamar Ino
Ino hanya membelalakkan matanya dan wajahnya memanas akibat perkataan dan perlakuan Itachi. Oh tidak, apakah sekarang Ino sedang bermimpi? Jika iya, Ino rela tidak kunjung bangun
Flashback OFF
Ino hanya tersenyum mengingtat kejadian pagi manis itu. Sementara itu Itachi, kini ia sedang bersantai dikamarnya sambil membaca laporan yang selalu masuk ke e-mailnya, sekalipun itu hari libur. Tiba-tiba saja handphone nya bergetar, tanda adanya pesan yang masuk. Itachi meraih handphone nya dan melihat isi kotak masuk di handphonenya
From: Hana-chan
Tachi-kun, kau kenapa pulang malam tadi? Hari ini jadi shopping yah?;D
Itachi tiba-tiba saja menjadi bingung. Entah kenapa sejak ia menyadari perasaannya kepada Ino. Itachi juga mulai menyadari kebusukan Hanare. Dan yang sangat membuatnya ilfeel adalah sejak ia meminta dirinya untuk menghamilinya. Apa yang ada didalam otak wanita itu. Tapi Itachi tidak tega berkata seperti itu. Disamping itu, perasaannya kepada Hanare mulai berkurang
Itachi pun membalas pesan Hanare
Maaf hanare, aku tidak bisa. Masih sangat banyak laporan yang harus kuselesaikan
Sent!
Kemudian tak ada 2 menit, Hanare sudah membalas pesannya
Apa? Kau ini kenapa lebih mementingkan pekerjaanmu sih? Yasudah kalau begitu aku sendiri saja tapi transfer ya?
Itachi hanya merenggut mambaca pesan ini. Inikah wanita yang dari dulu dipujanya? Keegoisan dan materialisme Hanare, lama kelamaan menyadarkan Itachi akan perasaannya kepada Hanare. Yang tentu saja menjadi berkurang
Itachi pun hanya membalas pesan Hanare bahwa ia akan mentransfernya. Sebenarnya Itachi sangat malas tetapi ia masih saja memanjakan wanita itu. Kemudian Itachi keluar dari kamarnya dan beranjak menuju lantai bawah. Ia melihat calon istrinya dari belakang yang sedang menyiapkan makan siang
Itachi hanya tersenyum. Sampainya di dapur, Itachi pun bersuara "Hai". Ino yang sedang terlamun pun tersontak kaget. Saking tergelonjak kaget, ia tidak sengaja teriris pisau
"Akh!" Ino meringis kesakitan. Itachi pun kaget kemudian menghamiri Ino. "Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil. Maaf aku terlalu ceroboh hehe" Ujar Ino tersenyum menahan perih lukanya. Itachi pun meraih tangan Ino. Dan menghisap jari telunjuk kanan Ino yang terluka. Itachi menghisap darah yang keluar agar berhenti
"I-Itachi?" Ino sedikit kaget atas perlakuan Itachi. Setelah beberapa saat darahnya tidak mengalir lagi. Itachi pun meraih kembali dan menggenggam tangan kanan Ino. "Maafkan aku, Ino" Ujar Itachi menatap Ino dengan rasa bersalah. Ino pun hanya tersenyum kemudian membelai pipi Itachi "Tidak apa-apa kok, oh iya. Aku mau masak dulu ya, kau tunggu saja di meja makan" Ujar Ino tersenyum
"Tidak" Titah Itachi. "Eh-" Ujar Ino yang kemudian di potong "A-aku... ikut membantu" Ujar Itachi malu-malu khas Uchiha. "Eh? Serius?" Tanya Ino. "Yasudah ayo, aku kadang membantu kaa-san. Jadi aku sedikit mengerti" Ujar Itachi menahan malu
Ino hanya tersenyum tulus. Kemudian mereka pun saling membantu dalam memasak. Itachi kadang memperhatikan Ino yang sedang serius. Wajahnya semakin cantik. Kadang Itachi juga mencium pipi Ino jika sedang serius. Yang pasti membuat Ino berdebar...
Setelah memasak. Ino dan Itachi menyanta masakan bersama. "Terimakasih sudah membantu Itachi. Makanannya enak loh" Ujar Ino sehabis mengunyah."Sudah ku bilang kan" Itachi menyeringai pede. Ino hanya tertawa. Kemudian mereka menghabiskan makan siang mereka dalam suasana hangat.. Layaknya suami istri
"Ayo bersiaplah, kita akan pergi jalan hari ini" Ujar Itachi sembari beranjak ke kamarnya. Ino hanya mengangguk mengerti kemudian ia pun membereskan piring bekas makanan dan beranjak ke kamarnya. Setelah mereka siap. Mereka pergi dengan menaiki mobil Itachi
Di mobil Ino selalu saja mencuri pandang ke Itachi. Sungguh.. Ino merasa seperti kasmaran ala anak muda saja. "Hn.. Sepertinya aku diliatin terus" Ujar Itachi pede sambil fokus menyetir. Ino pun tersontak kaget dan memerah. Itachi hanya tersenyum dibuatnya. "Kita akan ke mall Konoha" Ujar Itachi singkat. Ino hanya mengangguk. Itu adalah mall besar dan kelas atas yang pernah ia datangi bersama Itachi dan Mikoto
Sampainya mereka disana. Itachi dan Ino baru akan memasuki pintu mall tersebut dan... "Ino" Itachi mengarahkan tangannya tanda ia ingin menggenggam tangan Ino. Ino hanya tersenyum dan meraih tangan Itachi yang besar dan hangat. Ino hanya bisa tersipu malu dan bersorak dalam hati
Banyak orang yang iri melihat mereka yang sama-sama menawan dan terlihat sangat romantis. Mereka berjalan menelusuri mall. Kemudian Itachi mengajak Ino ke suatu toko
"Pilihlah yang kau suka" Ujar Itachi sambil memasuki toko perhiasan. Ino pun berucap "Are? Tidak usah Itachi" Tolak Ino halus. "Tidak ada penolakan" Ujar Itachi. Mengerti sifat Itachi akhirnya Ino pun memilih kalung emas putih dengan huruf "I" dengan berlian di samping kiri dan kanan huruf "I"
"Hn, I adalah Itachi atau Ino?" canda Itachi. Ino hanya tertawa, sebenarnya kalung ini lebih mendedikasikan kepada Itachi dibanding dirinya. Kemudian Itachi membayar kalung mahal itu dengan kartu pembayaran platinum nya
"Arigatou ne, Itachi... Maaf merepotkan" Ujar Ino kepada itachi yang kemudian beranjak keluar toko tersebut. "Siapa bilang kau merepotkan? Aku memang berniat kok membelikannya untukmu. Jangan terlalu sungkan" Ujar Itachi sambil menggenggam tangan Ino
Sementara itu
"Huh, Tachi sama sekali belum menransfer duitnya. Sialan, aku harus shopping pake duit sendiri kan" Hanare berdecak kesal sambil menelusuri Mall dari lantai atas ia dapat melihat ke lantai bawah, Itachi sedang berduaan dengan seorang gadis. Sontak Hanare pun kaget. Mereka terlihat begitu mesra
"Tunggu? Sepertinya itu... Ah? Gadis yang tertabrak denganku saat di supermarket. Sialan! Apa jangan jangan itu calon istri Itachi? Ujar Hanare yang masih menatap tajam kearah mereka. "Jangan jangan jatah shoppingku diambil oleh wanita itu? Dasar sialan! Itachi! aku akan memberimu perhitungan. Huh!" Hanare tambah berdecak kesal dan melanjutkan shoppingnya
Kembali lagi...
Setelah 3 jam... Ino sangat senang akhirnya ia bisa shopping lagi. Tapi tentu saja, Itachi yang selalu menyuruhnya memilih apa saja yang ia mau. Itachi menyuruh Ino membeli apa saja dengan paksaan. Dan kini, Ino menenteng 8 tas benjaan yang pastinya dari brand terkenal apa saja, dengan berbagai ukuran. Dan sisa 3 shopping bag yang lain, Itachi yang memegang
Kemudian mereka beranjak pulang karena terlalu banyak bawaan. Di mobil Itachi kembali memfokuskan dirinya kearah jalanan. Ino pun membuka suara "Itachi, terimakasih banyak. Aku jadi tidak enak" Ujar Ino malu-malu (padahal mah seneng tuh dibeliin banyak). "Sama sama dan sudah kubilang jangan sungkan" Ujar Itachi tersenyum
Setelah mereka sampai. Ino membuat teh untuk Itachi. Kemudian Itachi meminta Ino untuk mencoba semua hasil belanjaan. Kemudian Ino terus mencoba dan Itachi memperhatikan sampai. "I-Itachi... Apa yang ini bagus?" Tanya Ino dengan dress bahan sutra berwarna tosca muda. Terusannya panjang dan mekar. Atasannya tidak terlalu mengeskpos cleavage Ino tetapi sangat elegan. Dan ukurannya sangat membentuk lekukan badan kurus dan berbentuk milik Ino
Ino terlihat anggun dan seksi. Itulah yang ada dipikiran Itachi, ketika ia melihat Ino. "Cantik" Ujar Itachi yang masih terperangah atas keanggunan Ino dengan gaun tersebut. "Eh.. Terima kasih" Ujar Ino. Itachi masih saja memperhatikan Ino dengan takjub. Kemudian hening diantara mereka
Ino pun memecah suasana grogi nya "Aku ingin beres-beres belanjaannya dulu ya? Dan aku akan memasak untuk nanti malam" Ujar Ino. "Hn, baiklah" Itachi mengijinkan
Skip time
Malam hari pukul setengah sepuluh malam. Itachi telah menyelesaikan laporan yang terus masuk ke email nya. Sebagai anggota uchiha dengan jabatan atas, Itachi memang lumayan sibuk dengan tumpukan email yang selalu masuk. Itach baru saja menutup laptopnya. Kemudian ia mendengar suara pintu diketuk, Itachi tahu siapa orang yang mengetuk tersebut. Ia hanya tersenyum dan sedikit mengencsngkan volumenya "Masuk saja Ino"
Yang diberi izin pun masuk. Ino membawa nampan yang terdapat teh dan juga potongan kue kering. Itachi hanya tersenyum. Ino memang selalu memperhatikan Itachi. Disaat yang tepat pula Itachi agak lelah dengan laporan-laporan yang baru ia kerjakan
"Itachi, pasti kau lelah? Ini aku bawakan teh dan sedikit camilan" Ujar Ino sambil sedikit menunduk dan meletakkannya di meja laptop Itachi. Itachi hanya memperhatikan Ino. Ino sudah berganti baju tidur. Ino mengenakan tanktop tipis yang bagian kerahnya sangat kendor kebawah. Belahan dan lekukannya terpampang jelas. Dengan hot pants tidur yang menambah keseksian Ino
WARNING LEMON
Itachi hanya bergejolak di buatnya. Kemudian Itachi meraih teh tersebut dan meminumnya. Ino baru saja akan beranjak keluar kamar Itachi. Tetapi ia merasa tangan Itachi menggenggam tangan halus Ino. Ino pun berbalik arah. "Ada apa Itachi?" Tanya Ino heran. "Ino, malam ini kau tidur disini" Ujar Itachi polos. "E-eh? Ba-Baiklah" Ujar Ino. Kemudian mereka berdua melangkah menuju ranjang Itachi yang empuk tersebut
Ino baru saja membaringkan dirinya di kasur. Kemudian tiba-tiba Itachi memeluk Ino sambil berbaring juga. "He-he, Kenapa Itachi?" Tanya Ino yang sebenarnya sudah berdebar. Itachi tidak memberi jawaban. Kemudian Ino berbalik arah dan dengan sangat dekat Ino bertatap langsung dengan Itachi
Ino dapat melihat wajah tampan dan menawan bak malaikat milik Itach. Ino pun merona dibuatnya. Tanpa disadari, Ino membelai pipi Itachi dan mencium pipinya. Itachi juga terkaget dengan perlakuan Ino. Tetapi Itachi menyukai sentuhan dari bibir Ino di pipinya. "Itachi, kau.. tampan" Ujar Ino. yang masih membelai pipi Itachi
Itachi hanya tersenyum. Kemudian Itachi berucap "Kau juga cantik, Ino" kemudian Itachi langsung meraih wajah Ino dan melumat bibir Ino dengan lembut. Kini mereka berciuman dalam posisi bertiduran. Lama-lama ciuman tersebut menjadi panas. Dan tanpa disadari Itachi langsung berubah posisinya menjadi di atas Ino dan ia semakin melumat bibir Ino dengan nafsu
Ino pun mendesah kecil karena Itachi semakin melumat bibirnya dengan nafsu. Ino pun mengalungkan lengannya di leher Itachi, Lama kelamaan, Itachi menciumi leher Ino. Ia melumat leher Ino penuh nafsu dan menggigit leher Ino. "I-Itachi, Ahh.." Desah Ino. Mendengar desahan seksi milik Ino, Itachi semakin melumat leher Ino yang kemudian menuju belahan dadanya. Ia menciumi belahan dada Ino yang sangat harum dan memabukkan
Ino makin mendesah. Kemudian tangan Itachi pun bergerak menuju dada Ino yang besar. Itachi meremas dada Ino penuh nafsu sambil memperhatikan wajah Ino yang sedang nafsu dan mendesah. Ino sangatlah seksi di mata Itachi. Kemudian tanpa aba-aba, Itachi melepaskan kaus polos yang ia kenakan
Ino yang melihatnya pun juga semakin nafsu. Dada Itachi bidang dan atletis. Ino hanya menggigit bibir bawahnya. Melihat itu Itachi hanya menyeringai. Kemudian ia kembali melumat bibir Ino. Ino pun membalas ciuman panas itu dengan nafsu sambil memegang dada Itachi yang bidang itu. Desahan desahan kecil selalu terlontar dari mulut Ino
Itachi hanya menyeringai seksi. Kemudian Itachi pun langsung menarik baju Ino untuk di buka. Kini tampak Ino dengan bra merah nya. Ino terlihat sangat seksi di dalam bra ini. Ditambah ukurannya yang besar itu. "Ino... Kau sangat menggodaku. Aku benar-benar ingin memilikimu" Ujar Itachi sambil menatap gadisnya dibawahnya itu
Ino hanya menggigit bibir bawahnya mendengar kalimat Itachi. "Lakukanlah Itachi, semua ini.. milikmu" Ujar Ino menyerahkan dirinya dengan suara penuh nafsu. Itachi hanya tersenyum. Kemudian ia melucuti celana pendek Ino. Ia juga melihat ternyata Ino mengenakan g-string merah juga
Itachi kaget. Ia baru tau Ino ternyata mengenakan g-string. Dan ia sangatlah seksi. Itachi pun menyeringai penuh nafsu "Ino, ternyata kau gadis yang nakal ya" Ujar Itachi kemudian ia melucuti g-string Ino dan melepas bra Ino. Dapat terlihat sangat jelas tubuh proposional yang putih dan bening serta mulus milik Ino. Itachi hanya dapat menjilati bibirnya sedikit dengan seksi
Kemudian Itachi mendudukkan Ino di pangkuannya. Itachi meremas dada Ino dari belakang. Ino pun merintih nafsu "A-ah... I-Itacchi" Ino mendesah. Itachi semakin meremas dada Ino dan ia menciumi punggung mulus Ino yang harum
"Ino.. Kau... Kesempurnaan" Ujar Itachi di telinga Ino. Kemudian Itachi menjilati kuping Ino. Ino makin mendesah tak tertahan. "A-hh Ino, aku tidak tahan dengan tubuhmu ini" Itachi mendesah kecil di kuping Ino, sambil menjilati kuping Ino
Itachi juga semakin meremas dada Ino. Kemudian saja Ino berbalik dan Ino menindih Itachi. Kini Itachi berada di posisi bawah. Dan Ino berada di posisi atas. Ino melihat wajah penuh nafsu Itachi yang sangatlah seksi dan tampan
"Itachi" Gumam Ino dengan desahannya. "Ino" Gumam Itachi juga dengan desahannya. "Sekarang giliranku" Ujar Ino menyeringai kemudian ia langsung membuka kancing celana Itachi dan melucutinya. Dapat Ino lihat kejantanan Itachi yang menegang. Ino hanya menjilati bibirnya
Itachi hanya terperangah melihat Ino yang menjadi liar. Itachi menyukai ini. Itachi pun membiarkan apa yang akan dilakukan Ino selanjutnya. Kemudian Ino memasukkan kejantanan Itachi kedalam mulutnya. Itachi pun mendesah tak tertahan "A-ahh, I-Ino.." Desah Itachi. Ino pun makin menaikkan temponya. Ia melakukan gerakan In and Out kepada kejantanan Itachi dengan mulutnya
Itachi hanya menyeringai sambil menggigit bibir bawah Ino. "A-ahh.. Kau, n-nakal juga ya akhh... Ino, te-teruskan" Ujar Itachi dan Ino semakin cepat menghisap kejantanan ItachI. Itachi terus saja mendesah
Kemudian Itachi langsung merubah posisi. Kini posisi Ino kembali dibawah dan Itachi diatas. Ya, memang sangat tanggung. Sperma Itachi sudah tertahan minta untuk di keluarkan
Itachi membelai bibir Ino "Ino, dasar gadis nakal. Kau sangat ahli ya sayang?Hn". Ujar Itachi seksi yang menaikkan libido Ino. Itachi kemudian menciumi leher jenjang Ino lagi. Ino dan Itachi sama-sama mendesah. Tubuh Ino sangatlah menggiurkan bagi Itachi
"Ah-ah.. Itachi" Desah Ino yang memeluk Itachi. Kemudian Itachi mundur. Ino hanya heran dengan apa yang akan Itachi lakukan kemudian. Kemudian Itachi menatap kewanitaan Ino. Itachi menjilati bibirnya. Kemudian ia memajukan wajahnya menuju kewanitaan Ino
Itachi pertama-tama menjilati kewanitaan Ino. Dan tentu saja Ino mendesah. Ia merasakan sensasi yang sangat menyengat dirinya "Ahhhh.. I-Ita-tachi.." Ino mendesah hebat. Kemudian Itachi makin memperdalam jilatannya dan lama kelamaan ia melumat kewanitaan Ino."A-ahhh.. Itachi la-lanjutkan" Desah Ino makin menjadi
Itachi terus menjilati kewanitaan Ino. Sementara itu, Ino merasa tidak dapat menahannya lagi. "I-Itachi Ahhhhhhhhh" Akhirnya, Ino orgasme dan kewanitaannya mengeluarkan cairan. Itachi yang masih melumat kewanitaan Ino, menyadari adanya cairan yang keluar. Itachi pun langsung menjilati cairan itu juga sampai tidak ada yang keluar lagi
Itachi kemudian menatap wajah Ino yang di penuhi nafsu dan hasrat yang tinggi. "Itu orgasme pertamamu sayang" Kemudian Itachi melumat bibir Ino. Ino juga membalas ciuman Itachi yang kian makin memanas
Akhirnya mereka menyudahi ciuman panas mereka. Ino membelai pipi Itachi. Dan Itachi membelai bibir Ino. "Ino, aku sangat jatuh cinta padamu. Aku sangat ingin berada di dalammu" Ujar Itachi penuh nafsu. Ino meraih wajah Itachi dan menatap wajah Itachi lekat-lekat dan "Lakukanlah.. I-Itachi" Ujar Ino yakin. Itachi membelai wajah Ino dan menyelusuri tangannya di rambut halus Ino
Itachi kini mengarahkan kejantanannya di depan liang sempit milik Ino. Itachi pun tersenyum kemudian ia menciumi kening Ino. Kemudian Itachi menatap Ino "Ini akan baik baik saja sayang" Ujar Itachi meyakinkan dan mulai memasuki kewanitaan Ino
Ino pun mulai mendesah tertahan. "Keluarkan saja sayang, biarkan hanya kita yang menikmati desahanmu itu" Ujar Itachi penuh nafsu dan semakin menaiki tempo memasukinya. '"Itachi.. a-ahhh.. ni-nikmat se-sekali.. Ahhh uuuh" Ino semakin mendesah hebat. Itachi semakin menaikkan temponya. "Ahh sayang... Kau sempit sekali. Sepertinya aku yang pertama... Ahhh I-ino" Desah Itachi
Kemudian Itachi semakin kencang menggenjot Ino. Itachi pun sambil menciumi dan melumat bibir Ino. Ino pun memeluk punggung Itachi penuh hasrat dan membalas ciuman penuh nafsu tersebut. Kemudian Itachi menatap Ino "Ino... Bersiaplah.. Sakitnya hanya sebentar" dan Ino membalas "Lakukan saja sayang" Jawab Ino yakin
Kemudian Itachi memasukkan semua kejantanannya dan keperawanan Ino pecah dan mengeluarkan darah. "Kyahhhhhhh!" Ino berteriak kesakitan sementara Itachi memeluk Ino seerat mungkin dan menciumi keningnya agar Ino lebih tenang
Saat Ino mulai tenang. Itachi kembali menggenjot Ino dan kini yang Ino lontarkan adalah desahannya yang semakin menjad "Ahh..Ahh I-Itachi e-enak sekalii Ahh" desah Ino. Itachi terus menggenjontnya dan ikut mendesah. Mereka terus melontarkan desahan-desahan dan Itachi semakin menggenjot Ino, hingga...
"Ino, aku ingin keluar..." Ujar Itachi. Kemudian Itachi mengeluarkan kejantanannya dan mengeluarkannya di badan Ino. Ino pun meraih kejantanan Itachi dan meminumnya hampir habis. "Ahhh Ino... nikmat sekalii ughh" Desah Itachi sembari spermanya keluar
Setelah tidak ada yang keluar lagi. Itachi langsung ambruk diatas Ino. Itachi memeluk Ino dan dibalas pelukan pula oleh Ino. Kemudian Itachi juga mencium bibir Ino dengan lembut. Lama kelamaan, Ino mulai memejamkan matanya dan terlarut dalam tidur karena efek kelelahan
Itachi yang menatap Ino tidur pun tersenyum dan berpindah dari atas kini ke samping Ino. Kemudian Itachi mengerahkan lengannya dan memeluk Ino kedalam rengkuhannya
"Selamat malam, sayang" Itachi membelai pipi Ino dan menciuminya. Kemudian itachi pun terlelap sambil memeluk Ino
TBC
Yeyy Chap 7 selesai dan TBC ke chapter 8^^ sekali lagi aku minta maaf karena update lama jangan lupa review minna!;D
(Narufan0911, 20 Mei 2014)
