Comeback Home

Main cast : Kim Himchan, Kim Namjoo, Choi Junhong

Other cast : BAP, A-Pink, EXO, BTS

Chapter 7

"Don't be sad, you are not alone

Why are you being sad by yourself?

I will shine on you"

-Kim Himchan-

"Namjoo-ya?" Himchan mengerutkan dahinya. Antara percaya dan tidak percaya, benarkah ini Kim Namjoo?

Natasha yang mengaku sebagai 'Namjoo' menghapus air matanya, walaupun setetes demi setetes tetap mengalir di pipinya. "aku Kim Namjoo," ia menangis sesenggukan. "aku lelah bersembunyi, setiap kali aku melihatmu sungguh aku ingin memelukmu. Aku merindukanmu, oppa. Aku sangat merindukanmu," tangisnya semakin keras.

Air membendungi mata Himchan. Entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Namjoo yang ia kenal tidak seperti Natasha, Himchan butuh penjelasan lebih banyak. Tetapi sepertinya ini bukan saat yang tepat karena gadis ini pasti sangat trauma atas apa yang terjadi tadi. "Ganti pakaianmu, kita bicara besok saja," ujar Himchan.

Natasha hanya mengangguk dan berjalan dengan lunglai ke kamar mandi. Sedangkan Himchan duduk di tepi tempat tidurnya, hatinya terasa sakit, rasanya seperti ada jarum yang menusuk-nusuk. Air matanya jatuh, ia sangat sensitif jika mengenai Namjoo. Tak lama Natasha kembali dengan baju miliknya yang terlihat longgar di tubuh gadis itu. Natasha melangkah masuk ke kamar Himchan. "Kau bisa tidur di sini, aku akan tidur di sofa," Himchan beranjak dari tempat tidur.

"Temani aku," pintanya.

Tidak ada penolakan dalam diri Himchan, ia tidak tau mengapa. Himchan menuruti dan berbaring bersebelahan dengan Natasha. Himchan membelakangi Natasha, tidak sanggup saat menatap wajahnya, lalu tiba-tiba Natasha memeluknya dari belakang. Himchan tidak menolak, pikirnnya sedang kacau sekarang. Ia memejamkan matanya, berusaha untuk tidur.

Comeback Home

Namjoo merasakan seluruh tubuhnya sangat sakit, ia juga mencium aroma kopi. Namjoo membuka matanya, ia menyadari bahwa ini bukan kamarnya, melainkan kamar Himchan. Terlintas kejadian semalam, matanya terasa berat, pasti bengkak karena banyak menangis. Ia bangkit dari tempat tidur, beranjak keluar dari kamar. Namjoo melihat Himchan sedang menyesap kopinya di meja makan. "Kau sudah bangun," Himchan sadar dengan kedatangan Namjoo.

"I-iya," jawabnya.

"Duduklah," suasana menjadi tegang. "sesungguhnya aku butuh banyak penjelasan," Himchan menarik napas panjang. "aku tidak bisa tidur dengan tenang semalam. Jika kau memang benar Namjoo, jelaskan padaku ke mana saja kau selama ini."

Namjoo menunduk, mengingat kejadian masa lalu sangat menyakitkan baginya. Dengan memberanikan diri, Namjoo akan memulai apa yang terjadi 16 tahun yang lalu. Membuka semua jawaban yang selama ini menghantui Himchan. "Saat itu..m-mobil.." Namjoo merasakan lidahnya kelu.

"Pejamkan matamu," pinta Himchan. Himchan benar-benar ingin tau.

Namjoo memejamkan matanya, memang sudah saatnya Himchan mengetahui yang sesungguhnya. "Kau ingat terakhir kali kita bertemu?" air matanya membendung. "saat itu, a-aku menunggu di luar toko, sewaktu kita membeli es krim," suaranya bergetar.

"Namjoo-ya.." dari awal cerita Himchan langsung yakin Natasha memang benar Kim Namjoo. Ada rasa sakit dalam hatinya.

"Sebuah mobil van hitam datang, dan seorang pria datang membungkam mulutku dengan obat bius," Namjoo terisak. Ini benar-benar menyakitkan, saat itu adalah hal paling buruk dalam hidupnya. Himchan meraih tangan Namjoo dan menggenggamnya erat. "aku mendengar mereka akan membawaku ke Inggris. Aku ditawarkan dengan hidup mewah, aku melawan, lalu mereka..m-mereka..o-oppa.." tangis Namjoo pecah, ia merasa tidak sanggup melanjutkan ceritanya.

Himchan langsung bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Namjoo, mengusap punggungnya, berusaha menenangkan agar Namjoo bisa melanjutkan cerita sehingga Himchan tau apa yang terjadi.

"M-mereka memperkosaku," bagaikan pisau tajam menyayat-nyayat diri Himchan. Hatinya sangat sakit, benar-benar sakit. Tiba-tiba Himchan menangis, menangis sejadi-jadinya. Ia merasa sangat bodoh membiarkan hal tersebut menimpa Namjoo. "Oppa.." isak Namjoo.

"Maafkan aku. Kumohon maafkan aku. Aku sangat menyesal," Himchan mengeratkan pelukannya. Rasa sakit yang ia rasakan tidak sebanding dengan peneritaan Namjoo. Namjoo pasti sangat ketakutan saat itu. Himchan menyesal tidak bisa menjaganya dengan baik.

"Mereka hampir menjualku, namun aku berhasil melarikan diri," lanjut Namjoo. Terdengar tangisan Himchan semakin keras. Namjoo menelan ludahnya, hatinya juga merasakan sakit. "saat itu aku bertemu keluarga Choi. Mereka yang merawat dan menyekolahkanku, tapi sungguh aku sangat ketakutan jika bertemu orang asing. Aku benar-benar takut, hal itu bagaikan penyakit dalam diriku."

Kini semuanya terasa masuk akal. Ekspresi terkejut, takut, sumpit yang terjatuh, semuanya terlihat jelas sekarang. "keluarga Choi menamaiku Natasha, bertahun-tahun seorang Namjoo berusaha menjadi sosok yang baru," jelas Namjoo. "tetapi Natasha justru membuatku terpuruk. Aku tidak bebas berpergian, aku hidup dalam peraturan, a-aku..aku seperti dikurung."

"Kau pasti menderita, Namjoo-ya. Aku sangat sangat sangat menyesal, aku sungguh menyesal. Aku berusaha mencarimu, bertahun-tahun tetapi tidak ada hasil. Aku benar-benar putus asa," suara Himchan terdengar frustasi. Namjoo tidak tau apa yang terjadi setelah ia menghilang, namun ia bisa merasakan beban Himchan selama mencari dirinya.

"Aku di sini, oppa. Sekarang aku di sini. Kau tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Jangan menangis lagi, aku tau kau lelah," Namjoo melepaskan pelukannya, menghapus air mata Himchan.

Himchan menatap Namjoo lekat-lekat. "Mereka pasti merawatmu dengan baik."

"Mereka merawat Natasha Kim, bukan Kim Namjoo," lirih Namjoo.

"Kembalilah sebagai Kim Namjoo, biarkan aku mengobatimu, mengobati semua luka yang selama ini kau alami,"

"Aku percaya padamu, oppa." Namjoo berusaha tersenyum.

Comeback Home

Himchan menyandarkan punggungnya di sofa, sambil merangkul seseorang yang kini memeluknya. Merangkul adik kesayangannya. Perasaannya sedikit lega sekarang, mendapati bahwa selama ini Namjoo ada disekelilingnya, namun tak pernah ia sadari. Himchan mengelus rambut Namjoo, meskipun Namjoo sudah ada disisinya tetapi masih ada beban dalam hati Himchan. Hatinya masih terasa sakit setelah mendengar cerita Namjoo. Tidak bisa membayangkan apa yang sudah dialami Namjoo selama 16 tahun ini. Terutama kejadian pemerkosaan, gila saja gadis berusia 12 tahun diperlakukan seperti itu. Terkadang manusia memang lebih bodoh dari hewan, dan hewan lebih pintar dibanding manusia.

"Oppa," panggil Namjoo, Himchan menoleh. "bagaimana hidupmu selama 16 tahun?"

"Hmm.. bagaimana apanya?" Himchan bertanya balik.

"Setelah aku menghilang, apa yang kau lakukan?"

"Ah itu. Aku mencarimu, melapor pada polisi, ayah dan ibu sangat frustasi tidak ada yang berhasil menemukanmu. Ayah meninggal karena stress, aku dan ibu bekerja untuk mencukupi biaya hidup. Lalu ibu meninggal beberapa hari setelah wisudaku, setidaknya ibu sudah melihat anaknya menjadi sarjana. Tapi aku sangat kecewa karena tidak bisa mempertemukanmu dan ibu sebelum ibu pergi," cerita Himchan.

"Maafkan aku. Seharusnya ini tidak terjadi," ujar Namjoo.

"Tidak, ini bukan salahmu," Himchan mengecup kening Namjoo.

"Kukira kau akan menjadi pianis,"

"Cita-citaku berubah saat kau menghilang,"

"Apa cita-citamu?" tanya Namjoo.

"Menemukanmu," jawab Himchan sambil tersenyum.

Namjoo mencubit hidung Himchan, gemas dengan kakaknya. Himchan dan Namjoo bertukar cerita, tentang kehidupan mereka, peristiwa-peristiwa istimewa yang banyak terlewatkan. Tentang hubungan Himchan dan Chanyeol yang sudah membaik, jatuh bangun Himchan saat membantu ibunya bekerja, lalu tentang Namjoo ketika memulai sekolah fashion di Inggris, pekerjaannya sebagai designer misterius, dan masih banyak lagi.

Dering telepon berbunyi, membuat perbincangan mereka terhenti sebentar. Himchan mengambil ponselnya, telepon dari Chorong.

"Ya, Chorong-ah," ujar Himchan. "sekarang? Maaf aku tidak bisa. Aku sedang sibuk. Lain kali saja. Okay, sampai nanti."

"Sepertinya kau sangat dekat dengan Chorong," kata Namjoo.

"Tidak juga, ia hanya sering mengajakku jalan-jalan," balas Himchan.

"Jalan-jalan atau kencan?" tanyanya.

"Aku dan dia hanya berteman, kau tau," Himchan mematikan ponselnya.

"Kurasa lebih dari teman,"

"Yeah..dia menyukaiku," ucap Himchan jujur. "tapi aku tidak menyukainya, aku hanya menganggap dia sebagai teman."

"Apa kau sudah punya pacar sebelumnya?" tanya Namjoo.

"Belum. Dan kau?" Himchan bertanya balik.

"Belum juga," jawab Namjoo.

Himchan mengerutkan dahinya. "Zelo?"

"Aku tidak tau."

"Kenapa?"

"Karena aku dan dia tidak pernah meresmikan hubungan apa pun."

"Tapi ia bilang bahwa kau kekasihnya."

"Entahlah."

"Apa kau mencintainya?"

"Tentu," jawab Namjoo.

"Ah bodoh sekali jika aku bertanya seperti itu," Himchan mengacak-ngacak rambutnya. "sepertinya kau lebih cepat dewasa dibanding aku haha."

Namjoo hanya tertawa, lalu ia bangkit dari sofa dan berkeliling melihat-lihat isi apartemen Himchan. Ada bingkai foto di dekat televisi, foto Himchan dan teman-temannya. Lalu foto lainnya yang terpasang di dinding. Pandangannya tertuju pada lemari buku yang kosong. Himchan teringat sesuatu, ia segera masuk ke kamarnya dan mengambil sesuatu di bawah tempat tidur. Sebuah kardus.

Himchan membawanya ke sofa. "Kemarilah," panggil Himchan. Namjoo duduk di sebelahnya dan memperhatikan kardus tersebut. Himchan membuka kardus itu, ada buku-buku tentang bisnis dan beberapa buku musik. Di bagian paling bawah ada sebuah album foto, Himchan memberikannya pada Namjoo. "Kau mau lihat?" tawar Himchan.

Namjoo mengambil album tersebut, album foto SD miliknya. Namjoo membuka halaman demi halaman, ia terkekeh saat melihat wajahnya sewaktu sekolah. "Benarkah ini aku?" tawanya.

"Tentu saja. Kenapa?" tanya Himchan.

"Aku sangat jelek di foto ini," ujarnya.

"Menurutku kau tetap cantik. Kau akan sangat terkejut jika melihat foto sekolahku," Himchan mengeluarkan album miliknya.

"Aku bahkan sudah lupa bagaimana wajahmu yang dulu," kata Namjoo.

Himchan memperlihatkan fotonya saat masih di sekolah dasar, menengah, hingga atas. Namjoo memperhatikan dengan seksama dan membandingkan wajah Himchan yang sekarang dengan yang dulu. "Ah iya kau sangat gemuk sewaktu sekolah. Aku curiga kau melakukan operasi plastik," ujar Namjoo.

"Tentu saja tidak, aku diet mati-matian untuk menurunkan berat badanku," protes Himchan.

"Yeah..kau lebih tampan sekarang," puji Namjoo.

Himchan tertawa saat mendengarnya. Namjoo melihat-lihat foto yang lain, ada wajah Park Chanyeol, Park Chorong, Yoo Youngjae, Jung Daehyun, Son Naeun, dan Bang Yongguk. Matanya tertuju pada foto Yongguk. "Dia menghilang tanpa kabar, sama sepertimu," kata Himchan. Namjoo mengerutkan alisnya, meminta penjelasan. "Aku tidak bisa memberikan alasan apa-apa padamu, aku sendiri tidak tau ia pergi ke mana," tambahnya.

"Baiklah, aku tidak akan bertanya lebih lanjut," balas Namjoo. "Cih gadis ini," celetuknya pada foto Naeun.

"Kau masih dendam padanya? Hahaha," Himchan tertawa. "ia sudah berubah semenjak kau hilang entah ke mana. Oh ya sekarang Naeun bekerja sebagai model di Jepang, cintanya pada Chanyeol sudah tersampaikan, mereka sempat berpacaran tetapi aku tidak tau mengapa ia memutuskan Chanyeol."

"Wajah Chanyeol seperti bulan," kata Namjoo.

"Bulan?" Himchan terheran.

"Iya, berlubang seperti bulan," Himchan langsung tertawa. Memang benar, wajah Chanyeol yang berjerawat sangat cocok jika diibaratkan dengan bulan.

Comeback Home

Zelo menyandarkan punggungnya di kursi, pekerjaan yang sangat melelahkan. Jika bukan karena penerus, Zelo tidak akan mau meneruskan usaha ayahnya. Zelo sangat ingin menjadi seorang dancer, tetapi kenyataan meleset dari yang diharapkan. Rapat sana sini membuatnya kehabisan waktu dan tenaga untuk sekedar jalan-jalan atau berkumpul dengan teman-temannya. Ditambah Natasha tidak ada di sini. Zelo mengambil ponselnya, ia belu mendengar suara gadis itu hari ini. Nada sambung di telepon berbunyi. "Halo, Zelo," sapa Natasha di ujung sana.

"Aku merindukanmu," ujar Zelo. Ia tidak berbohong.

"Kapan kau akan ke sini?" tanya Natasha.

"Akan kuusahakan minggu ini," jawabnya.

"Cepatlah. Aku punya kejutan untukmu,"

Zelo menyunggingkan senyumnya. "Kejutan apa?"

"Tidak akan menjadi kejutan jika aku memberitahumu," Natasha terkekeh.

"Baiklah. Tunggu aku di sana, aku pasti datang," ujar Zelo meyakinkan.

"Pasti, kau pasti datang,"

"Aku harus bekerja lagi sekarang. Sampai nanti, honey."

"Ok, sampai nanti."

Zelo menatap ponselnya, ia tersenyum, memikirkan kejutan apa yang akan diberikan Natasha. Jarang sekali Natasha melakukan hal tersebut, biasanya gadis itu hanya memberi sesuatu yang spesial di saat-saat tertentu saja, seperti kado Natal, ulang tahun, valentine, atau semacamnya.

Hari ini sampai dua hari ke depan Zelo harus berangkat ke Hongkong untuk keperluan bisnis, mungkin setelah dari Hongkong ia bisa langsung ke Korea untuk menemui Natasha. Ia tak sabar untuk itu, hari-harinya terasa berbeda tanpa Natasha. Zelo segera menyiapkan barang-barangnya, tak lupa ia membawa foto Natasha di dalam kopernya, sudah menjadi kebiasaan jika ia sedang berpergian tanpa kekasihnya.

Setelah barang-barangnya sudah siap, Zelo duduk di ruang tengah sambil menunggu Tuan Johnson datang untuk membantu membawakan barang-barang. Ia menyalakan televisi, melihat berita hari ini.

"Seorang pria menderita sakit jiwa setelah sang kekasih memutuskan untuk menikah dengan selingkuhannya," ujar penyiar itu.

Zelo menyimak berita tersebut, beranggapan bahwa 'kenapa berita jaman sekarang sangat aneh' atau 'kenapa orang jaman sekarang sangat aneh'. Berita seperti itu memang bukan sekali atau dua kali muncul, tetapi Zelo masih tidak mengerti mengapa mental manusia bisa terpengaruh sebegitunya karena perselingkuhan.

Ting tong-

Itu pasti Tuan Johnson. Zelo membukakan pintu dan mempersilahkan Tuan Johnson membawakan barang-barangnya.

Comeback Home

Mereka bergandengan tangan, saling tersenyum melepas rindu. Himchan membawa Namjoo pergi jalan-jalan, pilihannya kali ini jatuh ke Myeongdong. Namjoo mencicipi aneka kuliner yang tersedia di sini, sudah sangat lama ia tidak merasakan jajanan pasar Korea. Seenak apapun masakan restoran, tetap akan kalah dengan jajanan pasar. Himchan menarik tangan Namjoo ke salah satu tenda yang menjual Odeng, sate bakso ikan yang direbus dengan kuah kaldu gurih. Namjoo mengambil satu tusuk, begitupun dengan Himchan, lalu mereka memakannya bersamaan. Kelezatan ikan dan kaldu terasa pecah di dalam mulut.

"Hmm, ini enak sekali!" Namjoo mengunyahnya dengan penuh semangat.

"Kau suka?" tanya Himchan, dibalas anggukan dari Namjoo. "kau boleh makan sepuasmu."

"Benarkah?" mata Namjoo membulat lalu mengambil tusuk berikutnya tanpa pikir panjang kemudian memakannya.

"Apa kau yakin hanya menghabiskan empat tusuk?" Himchan mengeluarkan dompetnya.

"Jika aku makan terlalu banyak, aku tidak bisa mencicipi jajanan lainnya karena kekenyangan," jawab Namjoo.

"Ah benar juga," ujar Himchan lalu membayar sate bakso yang mereka makan.

Mereka berpindah menuju tenda yang lain, mencari apa saja yang belum pernah Namjoo cicipi selama di Korea. Namjoo berhenti di pedagang yang menjual sesuatu berbentuk agak panjang, berwarna putih, dan kuah merah.

"Oppa, ini apa?" tanya Namjoo.

"Ini tteokbokki. Terbuat dari tepung beras, rasanya enak, kau mau mencobanya?" tawar Himchan, Namjoo mengangguk.

Himchan memesan satu porsi tteokbokki yang disajikan dalam wadah mangkuk kertas dan memberikannya pada Namjoo. Namjoo memperhatikan jajanan tersebut lalu memakannya.

"Ini pedas," ujarnya.

"Memang. Kau tidak suka?" tanya Himchan.

"Aku suka. Kau mau?" Namjoo langsung menyuapi tteokbokki-nya pada Himchan.

Himchan dan Namjoo kembali berjalan menyusuri pasar Myeongdong. Ini pertama kalinya mereka bersama-sama setelah sekian lama berpisah. Himchan tak menyangka kini Namjoo ada di sampingnya, menggandeng lengannya. Begitupun dengan Namjoo. Ia juga tidak menyangka dapat tertawa lepas, ada perasaan hangat dalam dirinya jika berada di dekat Himchan.

Kemudian Himchan membawa Namjoo menuju Seosan, tempat tinggal mereka yang memulai pertemuan mereka berdua. Namjoo sudah pernah ke sini sebelumnya bersama Zelo, tetapi hanya ke rumah orang tua Namjoo untuk mencari Himchan. Tetapi kali ini Himchan ada di sebelahnya. Himchan menyetir mobilnya ke arah sekolah mereka, tidak ada yang berubah dengan gedung tempat mereka menimba ilmu. Lalu mereka ke pasar ikan yang kini terlihat lebih bersih dan modern.

"Suasana Korea yang sekarang berbeda dengan yang dulu," kata Namjoo, ia membuka kaca jendela dan merasakan angin musim gugur berhembus di pipinya.

Tanpa Namjoo sadari mereka sudah sampai di sebuah toko. Toko tempat terakhir kali Namjoo bertemu Himchan. Tiba-tiba ada perasaan takut dalam diri Namjoo, matanya membulat, tubuhnya mulai gemetar. Himchan yang menyadari hal tersebut langsung menggenggam tangan Namjoo.

"Kau akan baik-baik saja, ada aku di sini. Aku tidak akan membiarkan kau sendirian lagi, percayalah," ujarnya meyakinkan.

Mereka berdua masuk ke dalam toko dan berhadapan dengan box pendingin tempat menyimpan es krim. Himchan mengambil dua bungkus es krim, cokelat dan kacang, ia ingat betul rasa kesukaan Namjoo.

"Pemilik tokonya sudah digantI?" bisik Namjoo.

"Iya. Paman Jung sudah meninggal, jadi diturunkan ke anaknya," jawab Himchan.

Himchan berjalan menuju meja kayu, tempat untuk membayar. Di sana sudah ada seorang pria yang sibuk dengan kalkulatornya. "Hoseok-ah," panggil Himchan sambil meletakkan belanjaannya di meja. Ia menoleh.

"Oh, kau hyung. Sudah lama sekali kau tidak ke sini," ujarnya lalu menghitung belanjaan Himchan.

"Aku sangat sibuk, kau tau," jawab Himchan.

"Totalnya lima ribu won," kata Hoseok, Himchan membayar. "Apakah dia kekasihmu, hyung?" tanyanya menunjuk pada Namjoo. Himchan hanya terkekeh, tidak menjawab pertanyaan Hoseok. "Diam berarti benar. Semoga langgeng!"

Himchan memukul kepala Hoseok pelan. "Sok tahu," kemudian Himchan pergi tanpa menghiraukan ocehan pria itu.

Namjoo tertawa kecil sambil menerima es krim pemberian Himchan. Ia tak menyangka Himchan masih ingat hal-hal kecil tentang dirinya. Mereka masuk ke dalam mobil dan melaju ke bukit tempat biasa Himchan Namjoo bermain.

Namjoo berlari, berputar-putar menikmati hembusan angin dan rumput yang ia tapaki. Tanpa sepengetahuan Namjoo, Himchan membawa sesuatu, hadiah pertama yang terindah sepanjang hidupnya. Lalu alunan suara dari tombol-tombol not terdengar, Namjoo menoleh.

"Pianika?" tanya Namjoo heran.

"Apa kau percaya jika pianika ini adalah hadiah dari ibu?" Himchan terkekeh.

"Astaga, benarkah? Masih bisa berbunyi?" Namjoo terkejut bukan main. Pasalnya pianika itu sudah bertahun-tahun dan masih mengeluarkan suara hingga saat ini. Namjoo pikir barang-barang jadul sudah rusak dan tidak bisa digunakan di jaman modern ini.

"Aku belajar banyak dari buku musik yang kubeli. Mau mendengarnya?" tawar Himchan yang dibalas anggukan.

Himchan mulai meniup dan memencet papan tombol hitam dan putih, memainkan lagu kesukaannya. Namjoo bersandar di punggung Himchan dan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, menikmati lagu yang Himchan mainkan. Nadanya terdengar ceria, seperti latar suara film-film romansa komedi. Namjoo tepuk tangan setelah lagu selesai dimainkan. Ia tau Himchan sangat berbakat, permainannya bagus meskipun hanya menggunakan pianika.

"Bagus sekali! Tadi itu judulnya apa?" tanya Namjoo.

"Judulnya It Goes Towards You," jawab Himchan.

"Apakah kau yang menciptakannya?"

"Tentu saja tidak. Aku tidak berbakat menciptakan lagu,"

"Itu karena kau tidak meneruskan pendidikanmu dibidang musik," Namjoo menyikut punggung Himchan pelan.

"Ya, kau benar," Himchan menyandarkan kepalanya di kepala Namjoo yang sedang bersandar di punggungnya kemudian menarik napas panjang. "aku senang kau kembali."

"Aku juga senang dapat bersamamu," jawab Namjoo.

"Apa kau akan kembali lagi ke London?" tanya Himchan.

"Aku tidak tau. Mungkin sesekali aku harus ke London, aku juga punya pekerjaan yang harus kutangani, dan Zelo membutuhkanku," jawabnya.

"Berjanjilah kau tidak akan menghilang lagi," pinta Himchan, ada rasa takut jika Namjoo tidak bersamanya.

"Berjanjilah kau tidak akan membiarkan aku sendirian," Namjoo menjulurkan jari kelingkingnya yang disambut oleh Himchan, jari mereka bertautan membuat janji.

Mereka tersenyum senang. Ada perasaan 'utuh' dalam diri Namjoo, ia merasa bahagia menjadi seorang Kim Namjoo, menjadi adik tiri Kim Himchan. Namjoo tidak pernah kekurangan kasih sayang, tetapi rasanya berbeda jika yang menyayanginya adalah kakaknya.

Comeback Home

Himchan merebahkan tubuhnya di tempat tidur, ia sangat lelah. Hari ini ia dan Namjoo pergi mengunjungi banyak tempat. Mereka menghabiskan waktu bersama yang cukup panjang, tak lupa mengantarkan Namjoo pulang ke kamar apartemennya. Himchan mengeringkan rambutnya yang basah lalu mengambil ponselnya. Sedari tadi ia belum menyalakan ponsel, malas mengangkat telepon dari Chorong. Setelah poselnya menyala, ia bisa melihat ada pesan dari Chorong.

'Kenapa ponselmu mati?'

Himchan sengaja tidak membalas pesan tersebut. Ia sedang malas memikirkan hal-hal lain, yang ada dipikiranya kali ini hanya Namjoo. Adiknya sudah kembali, apakah Himchan harus mencabut surat laporannya ke pihak kepolisian? Tetapi ia lebih ingin menyimpan rahasia ini sendirian, kalau dipikir-pikir lagi cepat atau lambat orang-orang juga akan tau bahwa Namjoo sudah kembali. Sebaiknya Himchan hanya menceritakan kepada orang-orang terdekat. Himchan bersiap untuk tidur sekarang, tetapi sebelum itu ia ingin mengucapkan sesuatu untuk adiknya. Himchan mengetik sesuatu dan mengirimkannya pada Namjoo.

'Mimpi indah, Namjoo-ya. Selamat tidur'

Bibirnya menyunggingkan senyum, ia tidak pernah merasa sebahagia ini setelah Namjoo menghilang. Ia memejamkan matanya, dan terlelap dalam tidur.

Comeback Home

Namjoo merenggangkan tubuhnya, tidurnya sangat nyenyak semalam. Ia menyingkap gorden yang menutupi jendela, matahari langsung masuk menyinari kamarnya. Tak lupa ia juga membuka jendelanya, menghirup udara pagi. Rasanya sangat menenangkan. Namjoo melirik jam dinding, pukul tujuh pagi. Sebaiknya ia sarapan sekarang. Saat tangannya hendak menyalakan kompor, tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamarnya. Namjoo membukakan pintu.

"Oh hai, sepertinya seseorang meninggalkan ini di depan pintu kamarmu," ujar seseorang, itu Daehyun, tetangganya.

"Apa ini?" tanya Namjoo, sambil memperhatikan sesuatu yang dibungkus dengan kain bermotif polka dot.

"Aku tidak tau, sangat tidak sopan jika aku membukanya," kata Daehyun. "sebaiknya kau memeriksanya sekarang, aku harus tidur."

Namjoo melihat kantung mata Daehyun, ia pasti sangat lelah karena harus bergadang, resiko seorang DJ. "Ah baiklah, terima kasih banyak sudah memberitahu."

Ia menutup pintunya dan membawa bungkusan itu ke dalam kamar apartemennya. Namjoo membuka ikatan kain pembungkus itu dan mendapati sebuah kotak makan beserta secarik kertas. Namjoo membaca tulisan yang terdapat di kertas tersebut.

Selamat pagi, kuharap kau mau menerima ini. Sederhana tetapi aku membuatnya dengan susah payah. Katakan padaku kalau rasanya enak, dengan senang hati akan kubuatkan lagi untukmu. Makan dengan perlahan, hati-hati tersedak.

-Kim Himchan-

Namjoo tertawa membacanya. Astaga, Namjoo sudah dewasa dan tidak perlu diingatkan untuk makan dengan hati-hati. Ia bukan anak kecil lagi. Tetapi Namjoo mengerti, itu adalah cara Himchan untuk menunjukkan perhatiannya pada Namjoo. Himchan memang tidak berubah.

Namjoo membuka kotak makan tersebut, ia bisa mencium aroma mentega yang menggiurkan. Himchan membuatkan sandwich dengan isi selada air, keju, saus mustard, daging ham, dan tuna. Ini pasti tuna kalengan, lalu apanya yang susah payah? Ia hanya terkekeh dan duduk di meja makan, bersiap untuk menyantap sarapannya.

Suapan pertama memasuki mulutnya, rasa sandwich buatan Himchan tidak beda jauh dengan sandwich di supermarket. Tetapi..yeah tidak terlalu buruk. Termasuk ketegori enak jika kokinya adalah seorang Himchan. Namjoo menghabiskan sandwichnya hingga tak tersisa, lalu kembali ke kamarnya, mengambil ponsel untuk menghubungi Himchan.

Tuutt tuuuutt.. nada sambung telepon terdengar

"Halo" Himchan mengangkat teleponnya.

"Aku sudah menerima sandwichnya," kata Namjoo. "dan aku juga sudah menghabiskannya."

"Benarkah? Bagaimana rasanya?" tanya Himchan di seberang sana.

"Cukup enak. Jam berapa kau bangun?" Namjoo menyandarkan punggungnya di lemari.

"Sekitar jam setengah enam pagi,"

"Kau bangun sepagi itu untuk membuatkan sarapan untukku?"

"Yak, kau pede sekali. Hahaha," tawa Himchan menggema di telinganya.

"Lalu?"

"Ah baiklah, aku memang bangun pagi untuk membuatkanmu sesuatu. Kurasa wanita memang selalu bangun pagi jadi aku berusaha bangun lebih pagi,"

"Terima kasih, oppa. Maaf merepotkan."

"Jangan berpikir seperti itu. Oh ya, apa kau mau pergi ke suatu tempat hari ini?"

"Tentu."

"Cepatlah bersiap, jam sepuluh nanti akan kujemput."

"Ok, sampai nanti."

Namjoo menutup teleponnya lalu mengambil handuknya, bersiap untuk mandi. Ia tidak sabar untuk kembali pergi bersama dengan Himchan, hari ini pasti akan menyenangkan.

Comeback Home

Himchan dan Namjoo sudah sampai di sebuah danau yang terdapat tiang yang sangat tinggi. Himchan menatap Namjoo, ada ekspresi bingung di wajahnya. Himchan mengajak Namjoo keluar, ia dan Chorong pernah ke sini sebelumnya.

"Oppa, ini apa?" tanya Namjoo.

"Ini bungee jump. Apa kau takut ketinggian?" Himchan menoleh pada Namjoo. Namjoo menggelengkan kepalanya. "kau akan suka permainan ini."

Dan benar saja, Namjoo menjerit histeris saat melompat dari ketinggian 192 meter. Himchan memperhatikan Namjoo dari kapal, ia sudah melompat terlebih dahulu sebelum Namjoo. Himchan hanya tertawa, ia tau adiknya menjerit karena senang karena Himchan bisa mendengar Namjoo tertawa disela-sela teriakannya. Perutnya pasti terasa menggelitik.

Sesampainya Namjoo di kapal, Himchan langsung memeluknya. Ia bisa merasakan tubuh Namjoo sedikit gemetar. "Bagaimana rasanya?" tanya Himchan.

"Ini sangat menyenangkan, tubuhku terasa lemas," jawab Namjoo sambil tertawa. "kita akan pergi ke mana lagi setelah ini?"

"Sebaiknya kita makan siang terlebih dahulu," kata Himchan sambil merangkul Namjoo.

Himchan memilih restoran tradisional, karena ia tau pasti Namjoo sudah sangat lama tidak mencicipi masakan tradisional Korea. Mereka duduk di lantai yang beralaskan bantal, memilih menu makanan yang akan menjadi santapan makan siang.

"Pilihkan apa saja yang enak untukku," pinta Namjoo.

"Iya aku mengerti," jawab Himchan sambil menuliskan pesanannya lalu memberikannya pada ahjumaa yang sudah menunggu pesanan mereka. "Namjoo-ya."

"Hmm?" Namjoo menoleh.

"Apa aku harus mencabut laporanku ke polisi?" tanya Himchan.

Namjoo berpikir sejenak. Laporan yang dimaksud pasti tentang dirinya yang sempat hilang. Ia menimbang-nimbang resiko yang akan terjadi. "Kurasa tidak perlu," jawabnya.

"Kenapa?" Himchan keheranan.

"Aku tidak ingin identitasku sebagai designer terbongkar," jawab Namjoo.

Himchan mengangguk, Namjoo benar juga, pikirnya. "Baiklah, aku tidak akan membahas surat laporan itu lagi ke polisi."

"Terimakasih," ujar Namjoo sambil menyunggingkan senyum.

Comeback Home

Zelo menarik kopernya dengan semangat, tidak sabar untuk bertemu dengan Natasha. Ia sudah sampai di bandara Incheon, dan baru saja ia menelpon Natasha. Beruntung ia cukup tidur di pesawat, sehingga ia bisa melepas rindu sampai tengah malam nanti. Zelo langsung memanggil taksi dan menyerahkan alamat apartemen Natasha pada supir.

Sesampainya di kamar apartemen, Zelo mengetuknya dan menunggu hingga Natasha membukakan pintu. Tidak ada jawaban dari dalam, mungkin Natasha belum pulang, karena tadi ia sempat berkata sedang pergi dengan seseorang. Ada rasa khawatir, Zelo tidak pernah menitipkan Natasha pada orang-orang yang tidak ia kenal dengan baik.

Zelo duduk di lantai, kakinya terasa pegal karena berdiri. Ia mencoba menghubungi Natasha, tetapi gadis itu tidak mengangkatnya. Tak lama terdengar suara langkah kaki, Zelo menoleh. Dari kejauhan ia bisa melihat Natasha datang bersama..Himchan?

Natasha berlari memeluknya, Zelo membalas pelukan Natasha dengan erat. "Apa kau terlalu lama menungguku?" tanya Natasha.

"Tidak juga," jawabnya. "Kenapa kau bisa pergi dengan Himchan?"

"Sebaiknya kita masuk dulu," Natasha melepaskan pelukannya dan mengambil kunci di dalam tasnya, mempersilahkan Zelo dan Himchan untuk masuk. "sini biar aku bantu meeltakkan barang-barangmu," tawarnya pada Zelo.

"Ya, terimakasih honey," jawab Zelo.

Usai merapikan kopernya, Natasha meminta Zelo untuk duduk di sofa. Sepertinya akan ada pembicaraan serius. "Junhong-ah," panggil Natasha.

"Ne, Namjoo-ya," jawab Zelo.

"Kau pasti akan berpikir ini aneh dan sinetron, tetapi kau harus tahu bahwa..." Natasha tersenyum pada Himchan. "aku sudah menemukan kakakku."

Zelo tidak bergeming, alisnya berkerut. "A-apa?"

"Kim Himchan adalah kakakku yang selama ini sering bertemu dengan kita, aku dan kau, Junhong-ah," ujar Natasha dengan sorot mata berbinar-binar.

Entah mengapa sesuatu yang aneh terasa jelas sekarang. Pantas saja Natasha terkejut saat makan siang waktu itu, dan Natasha juga merasa yakin untuk membeli kamar apartemen di Korea karena ia sudah menemukan Himchan sebelumnya. "Astaga, aku tidak menyangka. Ini sangat kebetulan. Senang bertemu denganmu, Himchan hyung," sapa Zelo sambil menjabat tangan Himchan.

Himchan membalas tangan Zelo dengan ramah. "Senang bertemu denganu juga, Junhong-ah."

"Bagaimana kalau kita berpesta?" tanya Zelo.

"Himchan oppa adalah pemilik Seoul City Club, kau pasti ingat tempat itu 'kan?" tanya Natasha pada Zelo.

"Benarkah?" Zelo seakan tidak percaya, dunia terasa sangat sempit.

"Seoul City pukul sepuluh malam, setuju?" tawar Himchan, Zelo dan Natasha mengangguk. "Kalian tidak keberatan 'kan kalau aku juga mengundang teman dekatku?"

"Sama sekali tidak," jawab Natasha.

Sambil menunggu waktu berlalu, Zelo dan Himchan mengobrol seputar bisnis dan keluarga, untuk saling mengenal kehidupan masing-masing, dan tentunya Himchan bisa tau bagaimana keluarga Zelo merawat Namjoo.

Comeback Home

Himchan mengendarai mobilnya menuju Seoul City, ia sudah menghubungi Youngjae, Daehyun, dan Chanyeol untuk ikut bergabung. Sesampainya di club, mereka langsung mengambil meja di lantai atas. Zelo bisa merasakan suasana club yang sangat ramai, pemasukan Himchan pasti sangat besar, pikirnya.

"Kalian tunggu di sini sebentar," kata Himchan lalu pergi ke lantai bawah. Tak lama ia kembali membawa tiga orang asing. "Namjoo-ya, kemarilah."

Namjoo bangkit dari duduknya dan bertatap muka dengan orang-orang yang wajahnya ia kenali. "Oh Tuhan, jadi ini Namjoo? Kita pernah bertemu sebelumnya!" kata si jangkung, Park Chanyeol.

"Jadi Natasha adalah Namjoo? Kenapa aku sulit percaya?" tanya Daehyun.

"Apakah hanya aku yang tidak tau apa-apa?" terdengar Youngjae ikut bertanya.

"Dan ini Zelo Choi, adik angkat Namjoo selama ia tinggal di London. Zelo, ini teman-temanku" ujar Himchan memperkenalkan.

Zelo merasa ada yang kurang dari kata-kata Himchan saat mengenalkan dirinya. Ia berdiri menyalami teman-teman Himchan. "Hai, aku Zelo kekasih Namjoo," Zelo menambahkan.

"Wah, kau keduluan adikmu," ejek Chanyeol.

"Zelo-ya, Jasmine sepupumu sangat cantik," kata Daehyun, hanya dibalas tawa kecil dari Zelo.

Mereka duduk dan mulai berbincang-bincang, menceritakan bagaimana Himchan dan Namjoo akhirnya saling mengenali. Chanyeol tak henti-hentinya mengejek Himchan, si jangkung itu tidak banyak berubah.

"Namjoo-ya, maafkan sikap burukku sewaktu dulu. Maaf aku menciummu sembarangan," ujar Chanyeol, menyelesaikan masalah Namjoo dan dirinya.

"Aku sudah melupakannya," balas Namjoo.

"Jadi, kau sudah melupakan sensasi bibirku ini? Ah, kukira kau akan mengingatnya dan meminta lagi padaku," satu pukulan mendarat di kepala Chanyeol.

"Mesum sekali kau," timpal Youngjae.

Dari sini Zelo bisa tau bagaimana kehidupan 'Natasha' sebelum melarikan diri di London. Ia menyadari ada sesuatu yang berbeda dalam diri Natasha. Daehyun berdiri, mengajak semuanya untuk turun ke lantai dansa, sedangkan ia akan memimpin musik malam ini. Zelo menggandeng tangan Natasha dengan erat, tidak mau kekasihnya disentuh orang lain. Namun Natasha seakan ingin Zelo melepaskan tangannya.

"Biarkan ia bebas malam ini," bisik Himchan pada Zelo.

Zelo tidak mengerti apa yang Himchan maksud dengan 'bebas', tetapi melihat kekasihnya bergabung dengan teman-teman Himchan, membuat Zelo merasa kesal sekaligus cemburu. Ia tidak suka jika banyak orang yang bersenang-senang dengan kekasihnya, apalagi Zelo tidak begitu mengenal masing-masing dari mereka. Zelo menghampiri Natasha dan merangkulnya, membuat sentuhan yang intim seperti menaruh lengannya di bahu Natasha dan sesekali mengusap bagian atas payudaranya, agar orang lain sadar untuk tidak terlalu dekat dengan Natasha. Tetapi Natasha lebih fokus pada Himchan, atau teman-teman Himchan lalu tertawa lepas. Dan Zelo malu pada dirinya sendiri, pikirannya terbuka akan sesuatu.

Natasha tidak pernah tertawa seperti itu saat bersamanya.

TBC

.

.

.

Reply Review

Halo, anoncikiciw.

Author jurusan animasi (bukan DKV loh ya). Setahun lagi lulus (amin)