Hai. Author balik lagi. kalian kangen gak? iya kan? iya dong *(PeDe abis, emang lo siapa?)

sorry aku lama gak update, lagi sibuk kuliah nih(expectation tapi cuma setengah). lagi gila-gilaan sama anak-anak farmasi(reality *kalo yg ini beneran)

oke gak usah banyak bacot lagi. makasih ya buat yang udah sabar nunggu chapter selanjutnya di update. karena keteledoran dan ketidaktanggung jawaban author ini.

.

Apa hal paling menyebalkan yang pernah kau alami dalam hidupmu?

Kendaraan mogok di jalan? Dapat setumpuk PR dan tugas dari sekolah?

Atau orang tuamu melakukan suatu hal diluar persetujuan.

Mungkin itulah yang saat ini dirasakan oleh Yaya Ah. lebih tepatnya ketika dia baru saja pulang dari sekolah. Dan secara tiba-tiba ayah angkatnya bilang jika dia sudah melakukan prosedur pemindahan putrinya tersebut dari sekolah lamanya ke sekolah yang baru.

WoTC

"Apa? Pindah?" tanya Yaya dengan nada setengah tak percaya.

"Ya. Sebenarnya ayah sudah memikirkan sejak lama, mungkin memindahkanmu ke SMA ABA adalah keputusan yang tepat. Bahkan Tuan Besar juga sudah menyetujuinya" jelas Ocho mencoba meyakinkan putrinya tersebut.

"Kenapa ayah memasukanku kesana!? Apa ayah tidak tahu betapa mahalnya sekolah itu. Iurannya, Makan siangnya, bahkan seragamnya! Memangnya ayah bisa membayar semua itu!?" protes Yaya keras.

ABA High School adalah sekolah bergengsi dimana hanya anak orang kaya yang bisa masuk ke sana. Alasan karena biaya masuk sampai perlengkapan yang sangat tinggi.

Normalnya, jika seseorang akan sangat bahagia jika bisa mendapatkan beasiswa untuk masuk ke sekolah elit tersebut. Tapi tampaknya hal itu tidak berlaku bagi Yaya.

Baginya yang hanya anak angkat kepala sekretatis. Seharusnya dia ,tidak pantas satu sekolah dengan anak-anak orang kaya itu. Apalagi ada isu beredar tentang pembullian. Masuk ke sana sama saja seperti berdiri di tengah-tengah medan perang.

"Sudah lupakan semua omong kosong ini. Aku tidak mau pindah. kembalikan dokumennya padaku" ucap Yaya dengan tatapan kesal.

"Ish... Anak ini kalau dibilangin ngeyel" gerutu Ocho yang mulai kesal dengan sikap pemberontak dari putrinya yang satu ini.

"Ayah juga tahu betapa mahalnya biaya sekolah itu. Makanya aku sudah mempersiapkannya. Jadi kau tidak usah khawatir." jelas Ocho.

"Tapi ayah!"

"Ayah melakukannya karena memikirkan masa depanmu!"seketika itu juga emosi ayahnya memuncak dan tanpa sengaja dia berteriak pada Yaya.

Hingga membuat gadis berkerudung pink itu syok seketika dan langsung bungkam. Ini pertama kalinya dia mendengar ayahnya bisa jadi segeram itu.

Ocho langsung memijit keningnya. Dia benar-benar tidak menyangka akan kehabisan kesabaran dan membentak dengan keras putrinya itu. Biasanya dia tidak mudah marah, bahkan pada Putrinya yang sebelumnya dia tidak pernah membentak apalagi memukulnya.

Kemudian pria paruh baya berambut pirang itu langsung menarik nafas dan kembali mencoba mengatur ucapannya.

"Yaya dengar. Aku tahu sebenarnya kau hanya tidak ingin terus-menerus bergantung padaku. Aku juga tahu jika itu juga adalah alasanmu mengambil kerja sambilan. Bahkan... kau masih belum bisa menerimaku sebagai ayahmu."

Yaya benar-benar terperangah mendengar ucapan yang diucapkan ayahnya itu. rupanya alasan untuk berlatih menjadi mandiri tidak cukup untuk meyakinkan isi kepala jenius pria tersebut.

"Tapi Yaya, setidaknya kali saja, biarkan aku memberikan sesuatu yang terbaik untukmu sebagai seorang ayah. Seperti permintaan Hanna" jelas Ocho lemah lembut.

Seketika itu juga hati Yaya terasa luluh. Secara perlahan tekadnya untuk tetap menentang keputusan mendadak ini langsung memudar. Ya, Yaya sudah berjanji pada Hanna. Jika dia akan menjadi anak yang baik untuk ayahnya dalam keadaan sesulit apapun.

"Hanna..."

Yaya melirik ke lemari pajangan, dimana terdapat sebuah foto dirinya bersama seorang gadis berambut coklat panjang dan manik mata berwarna biru, persis seperti Ocho yang tersenyum lebar ke arah kamera sambil mengacungkan kedua tangannya membentuk tanda peace. Gadis itu kelihatan sangat ceria meskipun harus selalu di rawat di rumah sakit karena kanker ganas yang menggerogoti tubuhnya.

"Pokoknya, kau bersiap-siaplah. Sore ini kita akan bertemu dengan Presdir" ucap Ocho sambil meninggalkan putri angkatnya yang masih sibuk memandangi foto dari Hanna Ah.

Yaya mendesah dengan pelan. Jika dia masuk ke ABA High School, itu berarti dia akan satu sekolah dengan Boboiboy bersaudara, yang dengan kata lain dia akan sering sekali bertemu dengan Halilintar. Dia pasrah, mungkim memang sudah suratan takdir jika keberadaannya memang tidak bisa jauh-jauh dari lingkaran kehidupan milik Halilintar.

WoTC

Sementara itu di rumah besar milik keluarga Boboiboy, terlihat si duo kembar termuda dari keluarga tersebut sedang asik belajar bersama dan sedikit mengulang-ulang kembali pelajaran di sekolah.

Ya... Walaupun disebut belajar bareng. Lebih kelihatan seperti Ice sedang mengajari ulang pelajaran sekolah untuk Blaze yang tertinggal karena hobi membolosnya itu.

"Jadi caranya kau hanya tinggal memasukan nilai-"penjelasan Ice tentang fungsi dan aljabar segera terhenti karena Blaze kelihatan tidak fokus dan malah asik mengutak-atik ponselnya untuk memeriksa e-mail yang masuk.

"Kak, kau dengar tidak?" tegur Ice pada kembaran lebih tua di depannya.

"Hmm... Ya, ya dengar kok." Blaze menyahut Ice tanpa menoleh sedikit pun.

"Kak, tolong serius dong. Besok Kakak ada remedial"

"Iya, iya. Sebentar" ucap Blaze santai, meminta Adiknya itu menjeda pelajarannya untuk beberapa menit.

Ice hanya mendesah sambil memainkan pulpen yang ada di tangannya. Rasanya dia pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Kalau tidak salah empat tahun lalu ya? Dia masih ingat dengan jelas bagaimana dengan bodohnya dia membuat dirinya terjatuh dan membuat semua anggota keluarganya khawatir.

Bahkan di detik-detik terakhir sebelum dia kehilangan kesadaran sepenuhnya, dia masih bisa mendengar Blaze menjerit memanggil namanya.

Dan tiba-tiba saja sebuah lengkingan panjang yang hanya bisa didengar oleh Ice mulai berdengung di telinganya. Bocah itu hanya bisa mengerang pelan sambil menutup kedua telinganya rapat-rapat.

Oh tidak, karena kembali mengingat kejadian kelam itu, sekarang penyakitnya kambuh lagi.

Disaat bersamaan Blaze selesai mengecek E-mail yang masuk dan berniat melanjutkan pelajaran yang sempat terhenti sejenak. Dia sangat terkejut mendapati Adiknya sedang menutup kedua kupingnya dengan wajah kesakitan.

"Hei, kau tidak apa-apa!?" seru Blaze panik.

Ice tidak menyahut, dalam keadaan seperti ini dia tidak bisa mendengar apapun selain dengungan yang terdengar seperti suara dua buah besi yang saling diadu hingga menimbulkan rasa ngilu di kepalanya.

"Ice, Ice!" Dan ini membuat Kakaknya semakin panik. Dia terus mencoba memanggil nama adiknya itu berulang-ulang kali.

"Ice Kevin! Choi Jang Hyun!"

Tepat ketika Kakaknya menyebut nama pemberian dari Kakeknya. Dengungan di telinganya itu segera berhenti. Bocah dengan wajah teduh itu langsung tersentak kebingungan begitu melihat Kakaknya menatap dirinya dengan pandangan khawatir.

"Ada apa?" tanya Blaze khawatir.

"Ti-Tidak ada apa-apa" jawab Ice pelan sambil menurunkan tangannya yang digunakan untuk menutup telingannya tadi.

"Yakin?"

"Iya." Ice hanya terkekeh sambil mengambil gelas jus yang disediakan di sebelahnya dan meminum isinya dengan santai.

Ternyata tubuh itu memang tidak bisa bohong ya? Sulit sekali menyembunyikan sebuah cacat jika bentuknya adalah sebuah sindrom yang akan muncul dengan waktu yang sangat acak dan disaat yang tidak tepat.

WoTC

Sementara itu, Yaya dan ayahnya sudah datang sejak tadi dan asik berbincang dengan Ayah dari si kembar tiga dan Dua.

Jujur dalam hati Yaya, dia tidak akan menyangka akan kembali ke rumah ini lagi setelah bertahun-tahun semenjak dia dan Ibunya diusir dari tempat ini dulu. Rasanya jantung Yaya berdetak sangat kencang, apalagi saat ini dia berhadapan langsung dengan kepala keluarga dari lima bersaudara itu.

"Bagaimana sekolahmu?" tanya si Ayah Boboiboys dengan lembut pada Yaya.

Yaya langsung saja tersentak kaget. Sebenarnya pertanyaan yang diberikan presdir grup ABA itu adalah sebuah pertanyaan yang normal. Hanya karena saking gugupnya Yaya tidak bisa bicara dengan normal dan menjawab dengan sangat terbata-terbata. "A-Anu... Itu..."

Beruntung si Ibu dari lima bersaudara Boboiboy, masuk ke dalam ruangan baca itu di saat yang tepat. Hingga membuat Yaya tidak perlu melanjutkan penjelasannya. Dan memberikannya sedikit waktu untuk menyusun kembali kata-kata.

Tapi kehadiran Yaya membuat wanita berusia 40 tahunan lebih itu cukup terkejut. Kenapa gadis ini bisa ada disini? Mungkin itu yang dipikirkan oleh beliau saat ini.

"Hei, sedang apa kau disini? Bukankah dulu sudah kubilang aku tidak ingin melihatmu lagi ada disini?" Ucap Si Nyonya rumah ini sarkatis dan mulai mengomel pada Yaya.

Ocho memperhatikan putrinya lekat-lekat. Dia bisa melihat kesedihan tergambar jelas di wajah gadis berkerudung pink yang khas tersebut. Penyebabnya pastilah kejadian tiga setengah tahun yang lalu. Kenangan pahit dimana dia dan Ibunya diusir dari rumah ini. Tidak ada yang membantu mereka saat itu.

Tidak ada, kecuali seorang pria baik yang dengan murah hati menawarkan tempat tinggal dan pekerjaan untuk mereka. Orang yang saat ini dipanggil ayah oleh gadis tersebut.

"Maaf sebelumnya menyela pembicaraan, Ketua Dewan Choi. Sepertinya anda salah paham tentang hal ini. Dia adalah putri angkatku" Ocho mengambil alih pertanyaan yang diajukan untuk Yaya, karena sudah dipastikan gadis itu sekarang tidak akan mampu menatap apalagi menjawab pertanyaan dari nyonya besar yang terkenal sangat galak dan keras (tentunya ini pengecualian bagi putra-putranya, dia sangat menyayangi mereka. Apa yang tidak untuk anak-anaknya itu? kecuali suaminya tidak menyetujuinya).

"Kau tahu kan, In Jung? Anak yang kuberikan beasiswa untuk masuk ke sekolahmu." lanjut presdir menyambung penjelasan dari tangan kanan kepercayaannya.

"Oh, jadi itu kau ya? Memang aku diberi kabar seperti itu. Hanya saja namamu sedikit berbeda jadi aku tidak menyadari jika itu adalah kau" jawab si nyonya besar dengan tatapan dingin dan angkuhnya.

"Putrimu peringkat berapa di sekolahnya?" kali ini si ayah Boboiboy bersaudara ganti bertanya pada sekretaris kepercayaan selama bertahun-tahunnya itu.

"Yaya? Dia selalu peringkat pertama di sekolahnya. Seperti tidak ada drama peringkatnya sangat membosankan. Aku bahkan tidak perlu mengeceknya lagi." Ocho sedikit terkejut, tidak menyangka atasan sekaligus itu akan menanyakan hal seperti itu padanya. Tapi karena sudah terbiasa diberi pertanyaan kejutan seperti itu-ya, dia dengan mudahnya menjawab dengan lancar.

"Benarkah? Min Woo juga begitu. Mari kita lihat apa kau masih bisa mempertahankan peringkatmu saat berhadapan dengan anakku" Si Ibu hanya mendengus dan tersenyum kecil dan menyombongkan prestasi putranya itu sambil menyilangkan kedua tangannya.

"Kalian sedang membicarakanku?"

Dan tiba-tiba saja yang jadi bahan pembicaraan muncul, seorang pemuda dengan topi khas yang dipakai terbalik terlihat sedang asik menyenderkan dirinya di samping pintu besar ruang baca itu dan menikmati sekotak yohurt rasa peach. Entah sudah berapa lama dia ada disana.

"Oh? Kau ada disini?" tanya Ibunya keheranan.

"Ibu. Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku dengan nama itu saat Kakek sedang tidak ada disini?" pinta Gempa datar.

"Maaf kebiasaan" sahut Ibunya pelan.

"Yo. David, apa kabar?" seru Ocho menyalami Gempa dengan sok akrab sambil melambaikan tangan kanannya.

"Kenapa kau memanggilku dengan nama tengah?"

"Memangnya kenapa? David kedengaran lebih normal daripada Gempa."

"Aku lebih suka Gempa" jawab Gempa polos. Ya, jawaban yang sangat mengejutkan. Dimana pemuda tujuh belas tahun ini lebih suka dipanggil dengan nama depannya yang- ya, cukup kedengaran kurang normal. Dibandingkan dengan nama tengahnya yang lebih... Gimana gitu. Mungkin supaya berasa anti-mainstream kali ya?

So back to story

Karena terlalu asik bicara dengan Ocho, Gempa hampir tidak menyadari keberadaan Yaya yang sedang duduk dengan canggung di sebelah kepala sekretaris kepercayaan keluarganya itu. Tentu saja dia jadi sangat kaget begitu melihat gadis itu ada disana.

"Permisi Ayah" dan dengan sigap pemuda berlambang tanah itu pun masuk dan segera menghampiri Yaya.

Sementara Yaya yang dihampiri hanya menoleh, matanya menggiring kemana Gempa bergerak.

"Ikut aku sebentar. Ada yang ingin kutanyakan" begitu bisik Gempa saat dia meletakan kepalanya di dekat Yaya. Dan tanpa kompromi dia segera menyeret lengan Yaya dan membawa gadis itu pergi dari tempat itu.

" Hei, kau mau membawanya kemana!?" seru Ibunya keras, sekaligus kebingungan dengan tingkah putranya yang satu ini.

"Aku dengar Yaya akan dipindahkan ke sekolah kami. Jadi aku hanya ingin memberikannya sedikit penerangan tentang peraturan dan kurikulum yang diajarkan" balas Gempa tenang dan dengan senyuman lembut, memberikan alasan yang sangat sempurna untuk membohongi Ibunya.

"Benar juga, lagipula memang sudah tugasmu sebagai ketua untuk memberikan pengarahan pada murid baru" Ibunya hanya menempelkan tangannya ke dagu, percaya saja dengan apa yang dikatakan oleh anak emasnya ini.

Mudah sekali.

Kemudian Gempa kembali melanjutkan menyeret Yaya pergi, sementara yang diseret hanya diam dan menurut saja kemana Gempa membawanya.

WoTC

Jadi kemana kira-kira Gempa membawa Yaya pergi?

Mereka berdua pergi ke lantai dua. Lebih tepatnya ke kamar paling ujung dekat jendela di sebelah kamar Taufan.

Yup. Kamar milik Gempa David Boboiboy atau Choi Min Woo.

Begitu Gempa membuka kamarnya terlihat warna kuning pucat mendominasi dinding kamar ini. Berbeda dengan kamar anak yang lain, di kamar Gempa ada berbagai puluhan judul buku dan novel tebal. Ciri khas kamar anak teladan.

"Ayo masuk." ajak Gempa singkat, mempersilahkan Yaya masuk ke dalam kamarnya.

Yaya agak ragu melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali dia masuk ke kamar Boboiboy bersaudara. Rasanya benar-benar canggung, apalagi ada budaya yang mengatur jika anak perempuan yang sudah akil balig tidak boleh masuk ke kamar anak laki-laki yang bukan muhrimnya, begitu pula sebaliknya. Kecuali jika memang ada keperluan.

Dan Gempa sepertinya bisa membaca apa yang sedang dipikirkan oleh Yaya. "Tidak apa-apa kalau cuma sekali ini saja"

"Lagipula ini penting. Aku cuma tidak mau pembicaraan kita ini kedengaran oleh." dia langsung membuat isyarat ke arah kamar Halilintar yang berarti-tau kan maksudnya?

Namun sepertinya Yaya masih ragu, hingga membuat Gempa terpaksa menyeretnya masuk dan segera mendudukkan gadis itu di atas kasur empuk miliknya. Tentu saja Yaya langsung syok dengan perlakuan Gempa padanya. Sementara dianya segera menyeret kursi belajarnya dan meletakannya di depan Yaya untuk tempatnya duduk.

"Ya ampun. Baru masuk kamarku saja kau sudah begini. Bagaimana jika masuk Kamar Kak Halilintar?" gumam Gempa. Hingga membuat Yaya terperangah dibuatnya.

"Oke. kita langsung ke intinya. Kau benar-benar pindah ke SMA ABA?" tanya Gempa mengawali interogasinya pada Yaya.

Dan hanya di jawab dengan sebuah anggukan singkat dari Yaya.

Gempa mendengus pelan dan mulai kembali bertanya "Kenapa?"

"Apanya yang 'Kenapa'?" sahut Yaya polos dengan pertanyaan nomor dua yang singkat, padat dan tidak jelas dari Gempa.

"Dulu bukankah Ayah juga menawarimu untuk satu sekolah dengan kami? Lalu kenapa kau baru maunya sekarang?" Jelas Gempa mempertegas pertanyaan yang sebelumnya.

"Bukan aku. Ayahku yang memindahkanku. Beliau bahkan melakukan prosedur pemindahannya tanpa bertanya dulu padaku" jawab Yaya tak kalah sengitnya.

Gempa hanya membuang nafas dengan berat mendengar jawaban dari Yaya. Dari raut wajahnya kelihatannya dia benar-benar khawatir karena Yaya pindah ke SMA ABA. Bukannya apa-apa tapi-ah, situasi ini benar-benar sulit untuk dijelaskan. Dan entah bagaimana nanti Yaya akan bertahan di sekolah itu.

"Memangnya aneh ya kalau aku pindah ke SMA ABA?" tanya Yaya pelan dengan tatapan khawatir sekaligus takut. Kedua bola mata berwarna coklatnya itu saat ini beradu pandang dengan mata Gempa yang menyiratkan tanda untuk berhati-hati.

"Tidak." Gempa hanya menggeleng. "Nasi sudah jadi bubur, apa boleh buat? Hanya saja ingat satu hal. Hidup itu adalah ujian, apapun kehidupan yang kau miliki, jalani saja. Kau harus kuat, apapun yang terjadi"

Ucapan Gempa membuat Yaya menelan ludah. Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan sekolah ini. Dan Gempa saat ini mencoba untuk memperingatkannya sejak awal.

"Pokoknya, selamat datang di sekolah kami, Yaya Ah" Gempa berdiri dan mengulurkan lengannya untuk bersalaman dengan Yaya. Dan dibalas dengan baik oleh gadis itu. Bukankah rasanya seperti sebuah de javu, jika kita mengingat bagaimana awal mereka berdua bertemu untuk pertama kalinya.

"Kalau begitu, aku turun dulu. Ayahku sedang menungguku saat ini." Yaya berdiri dan berniat meninggalkan kamar Gempa.

"Iya. hati-hati kalau lewat depan Kamar Kak Halilintar ya?" ucap Gempa sambil membetulkan posisi kursi belajarnya seperti sebelumnya.

"Aku tahu itu!" sahut Yaya.

Tapi kemudian Gempa tersentak karena teringat sesuatu. "Yaya, satu lagi!" Dia lupa memberitahukan hal yang sangat penting. Tapi sayangnya Yaya sudah tidak menunjukkan batang hidungnya lagi. "Ah... Dia sudah pergi... Sudah lah besok saja"

WoTC

Yaya hanya berjalan santai di lorong. Hingga tibalah dia di depan kamar Halilintar. Secara perlahan dia berjalan-jalan mengendap-endap agar suara langkah kakinya tidak kedengaran.

Dan tiba-tiba saja sekelebat bayangan berwarna merah terlihat lalu-lalang di balik pintu besar tersebut. Hingga membuat Yaya harus diam di tempat.

Setelah bayangan itu menghilang, Yaya mencoba melanjutkan langkahnya yang terhenti.

"Aku sudah melihatmu!"

Hingga tiba-tiba sebuah panggilan dari balik pintu itu menyadarkan Yaya bahwa aksinya sudah gagal. Yaya hanya bisa mendesah dengan wajah lesu. Dia sudah ketahuan oleh si putra pertama pemilik rumah itu. Yang sekarang sudah menjabat posisi sebagai pacarnya itu lagi.

"Masuk kesini sebentar" Si pemilik kamar pun menjulurkan tubuhnya keluar dari balik pintu. Tanpa peringatan apa-apa dengan secepat kilat dia langsung menarik Yaya untuk masuk ke dalam kamarnya itu dan dengan segera menutup pintunya.

Sementara Yaya yang tiba-tiba saja diseret paksa oleh Halilintar langsung syok, seketika itu juga dia tidak bisa bergerak atau bicara dengan normal. Lebih tepatnya mungkin dia merasa canggung saat ini. Karena bagi Yaya kamar Boboiboy bersaudara itu bagaikan dimensi berbeda yang terpisah dengan dunianya.

Tapi entah mengapa perasaan tegangnya mulai berkurang bisa dibilang terharu, karena melihat boneka kucing abu-abu miliknya sedang duduk manis di atas sofa mewah di dalam kamar tersebut. Dia tidak menyangka boneka kucing murahan yang di dapat dari game bisa diterima di rumah yang bagaikan istana ini.

Dan Halilintar seperti tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Yaya. dia segera mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga gadis itu. "Bagaimana? Kucing kampung sekalipun akan terlihat sangat cantik jika di rawat dan diletakan di tempat yang baik, bukan?"

"Kenapa... kau... menyuruhku masuk... kesini..." tanya Yaya tanpa menoleh sedikit pun pada Halilintar di belakangnya.

"Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau bisa, ada disini?" sahut Halilintar. Setahunya Ibunya tidak akan pernah membiarkan Yaya masuk ke rumah ini apalagi sampai bisa ada di lantai dua.

Yaya hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Halilintar. Dan malah memberikan jawaban yang tidak memuaskan bagi pemuda bertopi itu. "Maaf, tapi aku tidak bisa lama-lama ada disini?"

Dengan segera Yaya berbalik dan dengan segera mendatangi pintu yang merupakan satu-satunya akses masuk dan keluar dari dimensi negeri dongeng milik Halilintar ini.

Tapi dengan sigap Halilintar segera menyudutkan gadis itu ke pintu dan memblokir jalan keluarnya. Hingga membuat Yaya terbelalak dan terperangah dibuatnya. Dia benar-benar tidak menyangka Halilintar bisa bertindak seagresif ini. Jauh berbeda dengan saat mereka pacaran pertama kali dulu.

"Jangan abaikan aku, jika kau mengabaikanku lagi maka aku akan menguncimu disini supaya tidak bisa keluar" gertak Halilintar mengancam akan mengurung Yaya jika tidak menjawab pertanyaannya.

"Ayahku ada di bawah. Aku bisa saja berteriak minta tolong" ancam Yaya.

"Coba saja. Aku akan memanggil Ibuku dan kau yang kena masalah" sahut Halilintar tak kalah sengit dalam hal membalas ancaman Yaya.

"Silahkan. Aku tidak takut" ledek Yaya.

"Kau yang minta ya? IBU! "

Yaya langsung terlonjak kaget dan segera membungkam mulut Halilintar. Siapa sangka jika Halilintar benar-benar akan berteriak memanggil Ibunya. Tadinya dia pikir pemuda dengan dominasi merah hitam itu hanya menggertak saja, makanya dia berani membalas balik ucapan sarkatisnya.

"Kau ini... benar-benar..." ucapnya dengan sebuah tatapan kesal ke arah pemuda bertopi tersebut. Tanpa disadarinya, ternyata Halilintar sedang menatapnya dengan sangat dalam. Sebuah pandangan tulus penuh makna tampak terpancar dari tatapan matanya, hingga membuat Yaya luluh dan melepaskan bungkamannya secara perlahan.

"Sebentar. Semenit saja. Kau belum pernah datang ke kamarku" ucap Halilintar dengan tatapan lembut dan nada suara yang menandakan keseriusannya saat ini.

"Aku seharusnya tidak boleh ada disini. Rumahmu dan rumahku adalah dunia yang terpisah. Ada pintu yang tidak bisa kulewati di dunia ini. Dan pintu kamarmu adalah salah satunya" Yaya pun berbalik berniat meninggalkan kamar Halilintar.

Tapi tepat sebelum gadis itu pergi, Halilintar langsung menarik lengannya dan memeluknya dengan sangat erat dari belakang. Sembari menyenderkan kepalanya ke kepala Yaya.

"Hei, Halilin... tar?" awalnya Yaya ingin protes karena Halilintar tak membiarkannya pergi. Namun, entah mengapa pelukannya ini terasa begitu tulus dan hangat. Seolah berkata 'Jangan pergi. Aku tidak mau kehilanganmu lagi'. Hingga tak terbesit sedikitpun di benak Yaya untuk melawan dan meninggalkan pemuda yang tengah memeluknya dengan erat tersebut.

"Tunggulah sebentar. Aku akan membuatmu bisa melewati pintu apapun yang kau sukai di dunia ini. Saat ini aku sedang memikirkan caranya" bisik Halilintar lembut.

Yaya yang mendengarnya serasa ingin menangis. Sebegitu tulus dan sedalam itukah perasaanmu padaku? Hali...

"Aku merindukanmu, Yaya. Aku senang kau sudah kembali. Jadi tolong... Jangan pergi lagi" ucap Halilintar, suara terdengar begitu serak seolah ingin menangis. Karena akhirnya dia bisa melepas rindu dan kembali memeluk gadis pujaannya yang telah lama hilang.

Yaya mengangguk penuh haru. Mengiyakan permintaan egois dari pacar tempramental yang masih sibuk memeluknya dan seolah-olah tidak akan pernah melepaskannya lagi.

Sementara adegan mesra ini masih berlangsung, tiba-tiba saja Taufan langsung nyelonong masuk ke kamar Halilintar seenaknya dan seperti biasa, Taufan masuk tanpa mengetuk dan mendobrak pintu seenaknya. Dan mendapati Halilintar sedang... dengan Yaya.

Hingga Yaya dibuat terperangah dan membeku di tempat karena kejutan yang biasa ini.(AN. Aduh Taufan ngerusak suasana aja. Padahal Author udah baper dari tadi lo)"Ma-Maaf. Aku dengar Kakak ngomong sama seseorang dari sebelah. Tapi bukankah ini... Yaya?" Taufan yang melihat adegan ini juga tidak kalah kagetnya. Bukan hanya keberadaan Yaya saja tapi karena saat ini Kakaknya sedang memeluk seorang gadis di depan matanya.

Tak lama berselang tiba-tiba saja si dua kembar paling kecil muncul dari balik pintu dan menengok ke dalam kamar dengan pintu yang terbuka lebar itu.

"Waw. Kak Hali lagi mesra-mesraan sama Kak Yaya! "seru Blaze kehebohan sendiri.

"Cie~ Ada CLBK" komentar Ice, ikut-ikutan dengan Kakaknya.

"Ada apa sih? Berisik banget. Wow" Tak lama berselang kemudian Gempa juga mendadak muncul karena mendengar teriakan heboh dari Blaze yang menggangu belajarnya. Dan menemukan pemandangan yang sama.

"Adikmu lihat. Hei, Adikmu-adikmu ngelihat itu!" seru Yaya panik, meminta Halilintar untuk segera melepaskan pelukannya dan menghentikan adegan mesra ini.

"Kenapa? Biarkan saja mereka lihat" tolak Halilintar dengan nada bercanda. Dia benar-benar masih tidak mau melepaskan pelukannya itu pada Yaya.

"Masih tidak mau lepas?" gertak Yaya dengan nada penuh kekesalan.

Dengan cepat gadis berkerudung pink itu segera menginjak kaki kanan Halilintar, hingga pemuda bertubuh jangkung itupun mengerang kesakitan dan mau melepaskan pelukannya pada Yaya.

Sementara Yaya nya sendiri dengan geram dan wajah merah padam segera keluar dari kamar itu dan meninggalkan Halilintar yang masih menahan diri untuk tidak menjerit kesakitan.

WoTC

Sementara itu disaat yang hampir bersamaan, di tempat yang berbeda. Wang Suzy terlihat sedang menuju kamar apartemen milik Lin Fang untuk menjemputnya karena sebuah urusan.

Dan tercenganglah Suzy begitu masuk dan menemukan sebuah kamar yang isi hancur lebur seperti kapal pecah di belah dua. (AN. Eh buset. udah kapal pecah di belah dua lagi)Pakaian dan sampah bekas makanan bertebaran di mana-mana, tong sampah penuh dan bekas konsol game tidak dibereskan.

Suzy hanya berdecak kagum sembari menggelengkan kepalanya begitu melihat si pemilik apartemen masih bisa duduk santai di sofa sambil memainkan PSP dan tidak memperdulikan kondisi ruangannya yang sudah seperti sarang burung itu.

"Lihat dirimu ini. Bisa-bisanya kau tiduran santai di tempat kotor dan berantakan begini. Beresin napa?" komentar gadis berambut coklat itu datar.

"Selamat datang, Suzy. Duduk dulu" sapa Fang santai, mengabaikan komentar Suzy tentang kamarnya itu.

"Duduk dimana?" gumam Suzy dengan sebuah sweatdrop di kepalanya. Sofanya penuh begitu gara-gara tumpukan pakaian dan bekas plastik cemilan. "Ini kamar kenapa sampai berantakan begini sih? Kau habis tawuran disini!?" lanjutnya mengomeli Fang.

"Tenang saja. Aku sudah menyewa orang untuk merapikannya." sahut Fang tak kalah sengit.

"Hebat banget" gerutu gadis berambut coklat yang saat ini sedang diikat ponytail itu.

"Tumben kau kesini. Ada urusan apa nih? Segitu kangennya ya kau denganku?" Fang mengaruk kepalanya yang gatal dan mulai menguap. Hingga membuat Suzy yang melihatnya jijik atas kelakuan jorok dan narsis sepupunya yang lebih tua beberapa bulan itu.

"Sembarangan. Aku juga kalau tidak diminta oleh Aniki gak bakalan kesini. Mendingan mati deh daripada nginjak kamar kayak sarang kecoa gini dengan keinginanku sendiri" cerocos Suzy penuh kekesalan.

"Kakakku? Memangnya ada apa?" tanya Fang penasaran. Mengabaikan hinaan kasar Suzy soal sarang kecoa. Memangnya dia pernah lihat sarang kecoa?

Suzy hanya mendesah dan mencoba menenangkan diri. "Bersiap-siaplah. Kakakmu menyuruhku untuk menemanimu membeli seragam" jelasnya.

"Hei, kalau cuma itu aku tidak perlu ikut, kan?" protes Fang.

"Heh. Kalau kami tau ukuranmu. Kakakmu pasti sudah menyuruh orang untuk memesan dan mengantarkannya langsung padamu."sembur Suzy tak kalah ketusnya dengan Fang.

"Terserahlah. Tapi ngomong-ngomong seragam apa?"

"SMA ABA. Sekolah yang sama denganku dan Ying. Kalau tidak salah SMP mu dulu juga disitu kan?" jawab Suzy setengah cuek.

"Tch.. Jadi Kakakku sendiri yang memasukanku ke sana?"

"Sepertinya begitu" Suzy hanya mengangkat bahunya sembari menjawab pertanyaan Fang dengan santai.

"Gitu ya. Jadi dia menarikku keluar dari kandang singa dan melemparkanku ke kandang buaya" gumam Fang lesu.

Yup. seperti yang kita tahu ABA High School adalah sekolah tempat si kembar Boboiboy bersaudara bersekolah. Dulu Fang juga pernah bersekolah disana. Hingga dua tahun yang lalu di pindah untuk bersekolah di Amerika. Jika Fang pindah ke SMA ABA berarti dia akan sering bertemu dengan mereka. Lebih tepatnya dengan Halilintar. Hmm... The 5th World War is beginning.

"Sudah jangan protes. Cepat ganti bajumu itu" perintah Suzy sarkatis.

"Aku akan ganti baju setelah kau keluar dari sini" usir Fang sambil mengibaskan tangannya, menyruh agar Suzy keluar dari kamar apartemennya itu.

Suzy hanya mendengus dan mengangkat bahunya sambil membalikkan badannya menuju pintu keluar, begitu mendengar balasan dari sepupunya itu. "Silahkan. Lagipula siapa juga yang mau melihatmu telanjang" ucapnya tsundere. Sambil membanting pintu keluar itu kebelakang.

WoTC

Setelah selesai bersiap-siap. Wang Suzy dan Fang pun pergi menuju sebuah butik khusus yang hanya menjual seragam dari berbagai sekolah Swasta di penjuru kota, dan pasti sudah jelas juga menjual seragam khusus untuk SMA ABA.

Begitu tiba disana secara tidak sengaja mereka berpapasan dengan Yaya yang kebetulan baru saja keluar dari toko itu sambil menenteng sebuah paper bag bertuliskan nama toko tersebut. Kelihatannya dia juga baru saja membeli seragam dari sana.

Suzy segera turun dari mobilnya dan mencegat Yaya. Tentu saja gadis berkerudung pink itu sangat terkejut karena bertemu secara tak sengaja dengan tunangan dari pacarnya disini. Sementara Fang yang masih di dalam mobil hanya bisa keheranan melihat sepupunya bisa mengenal gadis misterius yang ditemuinya tempo hari.

"Oh, kau ada disini juga. Kebetulan sekali ya" ucap Suzy angkuh sambil melipat kedua lengannya.

"Apa maumu?"tanya Yaya dingin.

"Heh. Jangan pura-pura tidak tahu. Apa kau lupa masih punya hutang jawaban denganku?" jawab Suzy ketus.

Yaya hanya mendesis. Mencoba mengingat-ingat kejadian tempo hari. Dia bukannya pura-pura tidak tahu, tapi memang sudah lupa. Memang dia tidak menjawab pertanyaan Suzy dulu karena Halilintar tiba-tiba saja menyela pembicaraan mereka.

"Kenapa kau sebegitu penasarannya denganku?" jawabnya mencoba berimprovisasi.

Jawaban Yaya yang seperti berputar-putar itu malah membuat Suzy naik darah, ditambah lagi dengan mood nya yang sudah tidak baik sejak awal karena stress akibat melihat kamar apartemen Fang yang berantakan sebelumnnya.

Gadis berambut coklat itu hanya tersenyum miring dan mendengus. "Kenapa katamu?Bagaimana bisa seorang gadis diusir oleh tunangannya sendiri hanya karena membela orang asing yang tiba-tiba saja muncul di depan rumah?" semburnya penuh kekesalan.

Sementara Yaya hanya ber'oh... ' ria menanggapi omelan panjang lebar dari gadis tempramental di depannya. Jadi dia kesal karena hal itu? Lebih tepatnya mungkin Suzy sudah curiga tentang hubungannya dengan Halilintar.

Astaga. Kenapa tiba-tiba saja kejadian ini berubah jadi seperti di sinetron picisan. Dimana Yaya adalah orang ketiga yang akan merusak pertunangan seseorang.

"Kau sudah selesai? Boleh aku lewat?" tanya Yaya ketus.

"Heh. Memang kau itu siapa berani memerintahku seperti itu?" sahut Suzy ketus.

"Kau sendiri siapa, mencoba menghadang jalanku di jalan umum? Apa jalan ini punya nenek moyangmu? Atau mungkin orang tuamu sangat kaya, sampai bisa membeli jalanan umum ini?" cerocos Yaya yang belum kehabisan kata-kata untuk melawan ucapan kasar Suzy.

Apa katamu!?" Seru Suzy dengan sebuah perempatan di jidatnya.

Kemudian dengan seenaknya gadis berkerudung pink itu pun melewati dan mengabaikan Suzy. Entah kenapa Yaya sepertinya sudah terbiasa berhadapan dengan manusia sombong yang suka bicara sembarangan. Mungkin saja ini karena dia terlalu sering adu mulut dengan Ying. Atau menghadapi ucapan sarkastis dari Halilintar.

Wah. wah. wah. Tontonan ini semakin menarik dan tidak boleh berhenti begitu saja. Jadi Fang pun keluar dari mobil untuk menyaksikan secara dekat kejadian langka, dimana ada orang lain yang bisa membuat Suzy sekesal itu selain dirinya. Dan mencegat Yaya untuk pergi.

"Siapa kau? Bodyguard-nya?" ucap Yaya datar pada Fang.

"Hei, jangan ketus begitu. Kupikir kita di pihak yang sama." balas Fang santai.

"Maksudnya?"

"Asal kau tahu saja. Selama bertahun-tahun aku menjadi sepupunya baru sekali seumur hidup ada orang lain selain aku yang bisa membuatnya jadi sekesal itu. Karena kita berdua sepikiran jika dia menyebalkan, bagaimana kalau kita berteman" jelas Fang panjang lebar. Hingga membuat Wang Suzy yang mendengarnya langsung terbelalak saat disebut menyebalkan oleh sepupunya sendiri.

"Apa maksudmu, kita bahkan baru saja bertemu" jawab Yaya datar.

"Kau yakin? Aku pernah bertemu dengamu sebelumnya." jawab Fang.

Membuat Yaya bingung. Rasanya dia tidak pernah bertemu dengan Fang sebelumnya. Lalu kenapa pria bersurai ungu di depannya saat ini bilang jika dia pernah bertemu dengannya.

"Kau penasaran sekarang? Begitu pula aku" ucap Fang penuh teka-teki dan mencoba mengajak Yaya untuk ikut permainannya.

Tapi sepertinya Yaya tidak terpengaruh dan tidak tertarik sama sekali. "Aku tidak mengerti apa maksudmu. Aku sibuk, tolong minggir"

"Oh ayolah. Lima menit saja. Aku hanya ingin menanyakan beberapa hal. Aku akan bertanya dengan sangat cepat." pinta Fang.

"Ya sudah" dan Yaya hanya mengiyakan saja permintaan Fang tersebut. Entah mengapa sikap Fang ini terasa mirip dengan seseorang yang dikenalnya.

"Pertanyaan pertama. Apa hubunganmu dengan Wang Suzy?"

"Tidak ada" jawab Yaya enteng.

Fang hanya mengangguk kecil dan melanjutkan pertanyaannya. "Pertanyaan kedua. Apa hubunganmu dengan Halilintar?"

Untuk pertanyaan ini Yaya sedikit terkejut. Dia harus bilang apa untuk yang satu ini? Lebih parahnya Wang Suzy sedang ada di belakangnya, mendengar pembicaraan mereka. Kalau dia jujur jika dia adalah pacar Halilintar, berakhir sudah hidupnya disini.

Yaya hanya berdehem kecil dan menjawab dengan santai. "Tidak ada"

Dan kelihatannya Fang percaya saja dengan apa yang dikatakan oleh Yaya. Dan memberikan jalan pada gadis itu agar bisa lewat.

"Jika kita ketemu lagi. Bolehkah aku tahu nomor Handphone mu?" sempat-sempatnya Fang bertanya soal nomor Hp Yaya begitu gadis itu melangkah pergi.

Dan membuat Yaya menggelengkan kepala keheranan dengan sifat aneh cowok di depannya saat ini. Entah dia memang senang ngelawak atau gimana Yaya juga kurang paham. Jadi dia hanya memutuskan untuk mengabaikan pertanyaan itu dan berangkat menuju tempat kerjanya.

Kemudian dengan santainya Fang pun menghampiri sepupunya yang sudah mulai bisa mengendalikan emosinya yang sempat meluap-luap sebelumnya

"Jadi. Kau sudah tahu siapa dia, atau kau hanya menggodanya saja sejak tadi?" tanya Suzy ketus.

"Aturan pertama. Jika seseorang tidak mau memberi tahumu, maka cari tahulah sendiri. Ah iya, aku lupa. Anak Mami mana mungkin tahu soal ini kan?" ejek Fang santai. Dan membuat Wang Suzy kembali naik pitam.

"Apa katamu!" seru Suzy penuh amarah.

"Hei udahlah. Marah-marah melulu. Udah keriput baru tahu rasa kau nanti" ucap Fang santai.

"Kau pikir ini ulah siapa, huh?" kata Suzy terdengar marah. Tapi diucapkan dengan senyuman yang sangat manis.

"Daripada marah-marah... mending temenin Abang beli seragam yuk" Fang segera merangkul Suzy dengan gaya sok akrab.

Sementara Suzy yang dirangkul langsung merasa risih dan segera berontak. "Menjauh dariku. Kau menjijikkan! " omelnya.

WoTC

Keesokan harinya.

Sebuah mobil sedan berwarna hitam melintasi jalanan menuju sebuah sekolah dengan bangunan luas dan gerbang besar.

Begitu sampai di halaman sekolah itu. Mobil itu berhenti untuk menurunkan penumpangnya yang merupakan seorng gadis berkerudung pink dengan seragam SMA ABA yang masih baru dan bersih.

Gadis itu keluar dari kursi yang berada di sebelah supir dan menyalami Ayahnya yang sedang menyetir.

"Apa aku juga harus menjemputmu saat pulang?" tanya pria keturunan inggris itu pada putri angkatnya.

"Tidak usah, Ayah pasti sibuk. Aku naik bis saja" Tolak Yaya lembut

Ocho hanya mengangguk mengiyakan. Memang Yaya selalu seperti itu. Dia sangat dewasa dan mandiri. Tidak pernah menuntut atau meminta apapun berlebihan padanya.

"Kalau ada apa-apa. Segera hubungi Ayah"

Yaya hanya mengangguk dan menutup pintu mobil tersebut, kemudian melambai pada Ayahnya yang segera bergegas menuju kantor.

WoTC

Yaya berbalik dan memandangi bangunan sekolah yang bagaikan hotel berbintang lima tersebut dengan gelisah. Mulai hari ini dia akan bersekolah di tempat anak-anak orang kaya tersebut.

Dari jauh di bisa melihat para siswa elit tersebut lalu lalang dengan cara jalan mereka yang begitu angkuh dan elegan, berbalut seragam SMA ABA yang dipadukan dengan berbagai barang bermerek yang terlihat sangat mahal. Sudah jelas sekali perbedaan antara dirinya dan anak-anak orang kaya itu.

Yaya hanya mendesah lesu, entah bagaimana reaksi mereka melihat dirinya yang begitu sederhana. Tapi dia tidak perlu memperdulikan itu. Bisa beli seragam saja sudah untung.

Bahkan Yaya sempat tercengang kemarin, begitu mendengar harga yang dipatokan pada seragamannya. Sekitar 900 ringgit.

Coba pikir, bagaimana bisa harga sebuah seragam hampir sama seperti sebuah cincin emas. Tidak masuk akal.

Kemudian dalam satu tarikan nafas, Yaya pun mencoba mengumpulkan keberaniannya dan bergerak maju menuju pintu depan gedung sekolah utama itu.

Begitu memasuki gedung besar itu. Terlihatlah sebuah koridor besar bergaya modern dengan tembok nuansa putih dan bersih, puluhan loker siswa terlihat berjejer rapi di kanan dan kiri. Benar-benar nampak kesan sebuah sekolah dengan standar internasional.

Jauh berbeda dengan sekolahnya sebelumnya, yang koridornya penuh dengan coretan-coretan di dinding karena ulah dari tangan-tangan jahil. Yaya hanya bisa terkagum-kagum dengan suasana baru yang begitu mewah baginya.

"Yeah. That's funny, huh?"

Selagi Yaya memenyusuri ruangan luas tersebut terlihat beberapa orang siswa sedang asik berbincang dengan bahasa inggris dengan sangat fasih. Mereka memandangi Yaya dengan keheranan, karena belum pernah melihatnya sebelumnya.

"Oh my gosh. Who is that? I've never seeing her before."

"A new student?"

"Well. Who's care?

Yaya mengabaikan pembicaraan mereka, meskipun dia tahu apa yang mereka katakan, sudah jelas mereka sedang membicarakannya.

"Hei, kenapa kau ada disini?"

Dan tiba-tiba saja suara yang sangat familiar terdengar dari belakangnya diikuti dengan munculnya seorang sosok gadis keturunan Cina yang merupakan pacar dari temannya yang menghampirinya dengan keheranan akan keberadaan Yaya di sekolahnya. Siapa lagi kalau bukan Ying.

Yaya segera menoleh kepada gadis itu dengan sedikit terkejut.

"Tunggu sebentar. Seragammu itu... Oh ini tidak mungkin" Ucap Ying agak syok dan tak percaya sambil menggelengkan kepalanya. "Aku pasti sedang mimpi buruk saat ini"

"Ini bukan mimpi dan kau tidak salah lihat. Aku memang pindah kesini" tegas Yaya.

"Pindah? Atau kau hanya ingin minta maaf karena sudah kurang ajar padaku?" Tiba-tiba saja Suzy datang menghampiri mereka setelah menguping pembicaraan dari jauh.

"Hei, kau bikin masalah apa dengan sepupuku?" tanya Ying keheranan begitu Suzy bilang jika Yaya harus minta maaf padanya.

"Kau mengenalnya?" Suzy ganti bertanya pada Ying, karena dia kelihatan sudah mengenal Yaya lebih dulu.

"Kalau iya pun aku tak akan memberitahumu. Sama seperti saat kau tidak memberitahuku jika Lin Kai Feng sudah kembali ke KL!" balas Ying sarkastis.

"Siapa ini?" Tiba-tiba saja seorang gadis keturunan India dengan gaya penampilan yang cukup tomboy muncul dan merangkul Ying. Inilah Nana teman satu sekolah Ying.

"Murid pindahan, jujur aku tidak percaya" jawab Ying.

"Ouh. Siapa wajah baru itu?" Secara tak sengaja pemuda keturunan India bertubuh tambun lewat dan menemukan pemandangan menarik. Ada seorang murid baru sedang bercengkrama dengan teman-teman perempuannya.

"Murid pindahan. Dan aku masih tidak percaya" sahut Ying dingin

"Oh murid baru. Hai. Aku Gopal. Kalau kau?" ucap Gopal mengenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.

"Oh. Aku-"

Belum sempat Yaya mengenalkan dirinya, perhatiannya segera teralihkan karena siswa lain tiba-tiba saja kelihatan ribut dan segera berlarian menuju halaman sekolah. Penyebabnya bukan karena ada kebakaran atau kecelakaan, melainkan...

"Ada apa? Apa yang terjadi?"seru Nana agak panik ketika melihat teman-temannya yang lain sibuk berlarian menuju halaman sekolah.

"Mungkinkah... Oh tidak!" Ying yang awalnya kebingungan akhirnya menyadari siapa yang menjadi sumber keributan kecil ini.

"Yup. Itu memang dia." ucap Suzy datar.

"Oh. Tamu VIP kita sudah datang. Ini pasti seru, aku akan pergi mencari Halilintar."dengan sebuah seringai jahil, tanpa pikir panjang Gopal malah pergi ke arah sebaliknya untuk mencari pemuda bertopi hitam yang terkenal sangat galak dan berkuasa di sekolah tersebut.

Meninggalkan teman-teman perempuannya yang juga terburu-buru menuju halaman sekolah dan meninggalkan Yaya sendirian di koridor sekolah yang luas tersebut.

WoTC

Jadi sebenarnya apakah yang menyebabkan satu sekolah jadi ribut seperti itu?

Inilah jawabannya.

Seorang pemuda bersurai ungu raven terlihat tengah berdiri di depan pintu depan, sementara para siswa lain kelihatan sedang mengelilinginya tapi tidak ada satupun yang berani mendekat.

Kenapa begitu? Itu karena Fang adalah salah satu dari siswa legendaris yang merupakan penguasa sekolah selain Boboiboy bersaudara. Dia dikenal sebagai tukang bully dan preman sekolah semasa SMP, satu cs-an dengan Taufan dan Halilintar (walaupun sebenarnya Halilintar tidak pernah membully orang, hanya saja dia suka bikin masalah dengan gangster dan selalu saja terlibat dalam perkelahian).

Sementara itu dari jembatan penyebrangan antar gedung sekolah tersebut, Taufan terlihat cukup tercengang saat memperhatikan dari kejauhan kemunculan si legenda tukang bully di sekolah.

Dia hanya berdecak kagum dan menyenderkan tubuhnya ke pembatas. "Satan datang ke sekolahan Lucifer. Pasti bakalan seru ini" gumamnya dengan sebuah seringai jahil khas miliknya.

Disaat bersamaan Suzy, Ying dan Nana pun sampai di halaman sekolah dan ikut bergabung bersama siswa lain dalam barisan lingkaran yang mengelilingi Fang.

Fang yang melihat dua sepupunya sudah ada di depannya saat ini hanya tersenyum manis.

"Tidak perlu melotot padaku begitu, kau kan yang mengundangku kesini" ucap Fang pada Suzy, menyadari tatapan tak enak dari sepupunya itu.

Wang Suzy hanya bisa mendengus dan tersenyum sinis. Dengan ucapan dari Fang tersebut.

"Hai, Ming Xing. Kau kelihatannya sangat sehat ya, setelah putus dengan berandalan itu"lanjut Fang menyapa sekaligus mengejek sepupunya yang satu lagi.

Dan membuat Ying tersentak. Bisa-bisanya pemuda bersurai ungu itu membicarakan tentang mantan pacarnya di depan seluruh siswa kelas dua di hadapannya. Inilah yang ditakutkan oleh Ying. Fang itu agak sedikit ember, sedikit pemancing saja dia pasti akan membongkar semuanya.

"Benar. Memang begitulah dia" gumam Ying datar.

Beberapa saat kemudian Halilintar tidak sengaja lewat dan melihat kerumunan siswa yang sedang berkumpul di halaman. Dengan penuh rasa penasaran dia pun menerobos masuk kerumunan tersebut dengan santai.

Anehnya, para siswa yang berdiri di depannya segera tidak ada yang berani menghalanginya dan dengan segera membukakan jalan untuknya.

Dan terperangahlah Halilintar begitu melihat siapa yang sedang jadi bahan tontonan para siswa lainnya.

Sahabatnya. Atau lebih tepatnya mantan Sahabatnya.

Meski cukup terkejut, pemuda bertopi itu tetap mencoba tenang dan melangkah ke dalam lingkaran untuk memberikan sambutan pada orang yang pernah memberikan pengalaman luar biasa dalam hidupnya itu. Dan sekaligus juga orang yang mengetahui tentang rahasia keluarganya yang ditutup rapat dari publik.

"Aku merindukanmu, kawan" sapa Fang dengan nada agak mengejek.

"Selamat datang" balas Halilintar dingin.

Gempa kau dimana? Saat ini aku sedang ada di-Yaya dengan cuek memasuki kerumunan siswa sambil sibuk mengetik SMS untuk Gempa. Hingga tanpa sadar dia sudah berdiri di antara dua pemuda yang sedang memang ancang-ancang untuk berkelahi.

Dan begitu menengok kiri dan kanannya barulah dia sadar, dia cukup terkejut sekaligus kebingungan dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Halilintar yang berdiri di sampingnya juga tak kalah terkejutnya, dia benar-benar tidak menyangka jika Yaya ada disini.

Sementara Fang hanya menyeringai tidak jelas begitu bertemu gadis yang di ajaknya bicara kemarin. Tatapan matanya seolah menandakan jika dia sedang merencanakan sesuatu entah apapun itu.

(Ini pasti akan jadi sangat menarik. Bahkan kelihatannya Halilintar mengenalinya) mungkin begitu pikir Fang.

To Be Continued

author minta maaf ya baru aja update. Karena terlalu asik kuliah apalagi ngetik ini pas mau deket-deket uts.

Sebenarnya author udah nyiapin chapter ini jauh-jauh hari. Tapi tiba-tiba aja laptopnya rusak. Terus datanya ilang semua. Q.Q (nangis) Alhasil author harus ngetik ulang dari HP.

Tapi nggak apa-apa habis uts author usahain update meskipun jadwalnya gak nentu gak apa-apa kan

Okay cuman itu aja pesen author. Jangan lupa komen ya soalnya author kangen banget lo sama kalian sem