I'm Not Doll Princess
Chapter 7 : Suspicious
Balasan Review
Mey lovenolaven : Iya, Naruto sakit. Tapi tenang saja, Naruto akan dapat balasan, but nanti. Okey, sabar yak.
Second09 : Arigatou gozaimasu.
Antiy3629 : Cerita Nao tidak ada yang tidak rumit. Tapi apakah Sasuke akan bersama Hinata selama Naruto tidak peduli? Kita lihat nanti.
Aoi doi : Makasih. Kedepannya Nao akan berusaha menguras lebih dalam emosi. Jadi doakan saja dan bersiap saja.
Kuromizukou Ryuuki10 : Yakin pura-pura? Begitukah? Dan Ya, itu Hiashi. Kenapa Hinata dititipkan? Silahkan menebaknya karena Nao belum bisa memberitahunya.
JennebiJane : Tak ada kata Hiatus, paling molor satu bulan atau dua bulan, hehehe.
Jujumi chan : Dia tak mau melepas tapi juga tak bisa menggenggam. Coba baca tulisan di cover. Makasih sudah menyukai fic gaje ini. Arigatou.
Namikazexo : Ini yang paling berat kurasa. Karena seluruh otak Nao dipaksa bekerja ekstra hanya demi menyalurkan Hurt-nya. Pusing . . .
Ranmiablue : ok, siap.
Mawarputih : Dia akan kembali, ok. Tapi kecelakaan? Maaf Nao tak bisa membuat Hinata lupa penderitaannya begitu saja. Tak seru, ne?
Luvhinaru : luvi-chan? Entah kenapa aku heran kamu sempat baca berkali-kali dan review berkali-kali. Padahal sedikit dari reader yang bersedia demikian. Sungguh, aku tersanjung. Dan ya, itu Hiasi. Coba perhatian chapter 1. Hiashi juga menelfon.
Reznurzat30 : Caps look jebol buk? Hahaha. Makasih, Nao sungguh hampir tersedak membaca review kamu. Sungguh, sangat membuat Nao tersanjung. Makasih, dan ya. Selamat menunggu dan dinanti kembali reviewnya.
The White Anbu : begitukah? Kalau begitu maaf.
Akayuki1479 : Cinta? Shou desuka? Uhm, wakaranaiyo. Soshite, ha'i. Its Hyuuga Hiashi.
Ila : Benarkah? Hohoho.
luluK-chan473 : Yayaya, yang baper kan seru. Bikin mewek dan nyesek gimana gitu. Tapi menyenangkan bukan?
: Makasih
Blue : Makasih
Hanna : iya, ini dia, silahkan baca.
Hyuga Ashikawa : Bukan hanya perasaan, tapi memang. Itu nyata. Ini teka-teki di dalam fic. Semua cerita Nao memiliki sentuhan yang sama, tidak percaya? Silahkan baca yang lain. HAHAHAHA. Nao mengerti perasaanmu.
Ana : Naruto memang seperti itu. Baru kali ini Nao bikin yang beginian. Yang baik tapi menghanyutkan.
Abalabal : Ayo kita hajar. Nao bakal jadi penonton dan pendukungmu di kursi penonton. Tunggu, kan kan? Nao juga berpikir sama, dan sempet DOWN. Ini cerita menurut Nao juga bagus bukannya sombong. Tapi kenapa review sedikit? Nao pengen nangis rasanya. Sungguh Nao tak mengerti selera reader kebanyakan. Apa ini membosankan? Kenapa tak banyak yang tertarik ya? Atau karena rate? Nao memang main aman di rate T. Karena rate M, Nao tidak bisa menulisnya. Hiks, sedih pokoknya. Atau karena Nao baru? Jadi dipandang dengan mata tertutup? Entahlah. Yang Nao tahu kini hanya terus berjuang dan ada yang baca. Meski sebenarnya tetap nyesek.
Kamilakam : Yakin? Serius? Hinata tak gila? Mari kita lihat apakah tebakanmu benar atau tidak. Tapi Nao kasih bocoran nih ya. Bisa jadi ia setengah gila. Dan ya, yang buat Hinata bak Doll Princess adalah Naruto. Alasannya? RAHASIA.
Ameyukio2 : Bukan dicuci, tapi hanya yah~ sekedar mengingatkan saja. Nanti kamu bakal tahu lebih jelasnya. Tunggu saja. ne?
HL : ok, siap.
Nawaha : Kalau sudah dijelasin sekali itu tak ada sensasinya dong. Tapi Nao juga belum bisa janji akan cepat-cepat karena ini fic sungguh sangat rumit. Otak Nao pusing memikirkan step by stepnya.
Namikase hafid kun : Makasih, Nao tersanjung jadinya. Kegilaan Hinata? Entahlah. Mungkin setelah puncak. Atau pas puncak?
Sa06Ev12 : Maaf kalau salah judul. Jujur, Nao tak pandai bahasa inggris. Bahasa pribumi sendiri saja nilainya jelek, maaf dan harap dimaklumi. Tapi kalau diganti akan janggal, jadi biarkan seperti ini. Dikurangi? Entahlah, Nao tak janji. Karena Nao menulis apa yang terlintas di pikiran. Pengembangan karakter sesuai suasana dan kebutuhan. Untuk plot, Nao akui lambat. Nao sadar, bahkan sangat sadar itu. Tapi entahlah, untuk mempercepatnya Nao masih perlu belajar. Mohon dimaafkan. Makasih reviewnya yang membangun.
Tsukasa : Tidak pernah disimpan. Nao bukan tipe yang suka menyetok. Karena menurut system LEAN membuat Inventory itu adalah salah satu Waste. Hehehe.
Dhany dhacil : Tinggal satu atau dua chapter lagi, sabar sabar.
NK : ok
Sena Ayuki : Selamat datang kembali, Sena-san di fic Nao. Masuk, masuk, duduk-duduk. Dan ehem. Review anda sangat panjang dan SUGOI! LENGKAP. Seperti biasa Sena-san sangat tajam, detail terhadap cerita. Kalimatnya mudah dipahami oleh Nao dan Nao suka. Mari kita bahas. Paragraf ke-4, 7, dari Reviewmu benar. Tapi di paragraf ke-8 yang mengatakan Hinata waras 100% mungkin kuang tepat. Kenapa? lihat saja nanti. Paragraf ke-9? Benar. Dan yang mana? ~ah nanti saja. Bumbu Cinta? Maksudnya reaksi Naruto pada Hinata? Jujur, NAO SEPENUHNYA SADAR 200%. Kenapa? tentu itu kesengajaan Nao. Dan lagi-lagi percakapannya kamu tahu. Hohoho, mungkin otak kita ini 11/12 kali ya? Hahaha. And finally, TENTU. Aku akan membiarkan Hinata bersikap kejam. But, nanti. Okey?
Cemilan : maaf, Nao sakit. Habis mudik, balik mudik lagi karena tak ada yang ngerawat. Hiks, sedih pokoknya. Tapi sekarang sudah sehat kok, dan ini akan dilanjut. Yosh, silahkan baca.
Guest1 : tenang, semua sudah di cover. Meski Nao masih pusing. Akan diusahakan secara bertahap.
Light2006 : Hari ini update, maaf lama.
Ukisu hime : Iya, makasih.
Guest2 : Iya, semoga kedepannya kamu terus mengikuti ya.
Bae Eun Chin : bahasamu sedikit aneh kalau Nao boleh bilang. Bukannya flame. Tapi hanya sedikit bingung bacanya. Maklum, Nao bukan anak gaul yang mengerti singkatan atau yang begituan. Tapi Naruto punya rasa. Meski itu hanya sebatas sayang. Dan ini dia next chapternya. Semoga kamu suka.
.
.
.
Warning : Don't Like Don't Read
.
Rate : T
Genre : Drama, Romance, Hurt/Comfort
Pair : [Naruto N. Hinata H] Sasuke U, Haruno S
.
.
Naruto milik Masashi Kishimoto-sensei
.
.
.
Ia merasa bagian dari dirinya hancur. Seperti kaca yang dihantam sebuah batu hingga remuk berkeping-keping. Putaran kejadian-kejadian bersama sang kakakpun mulai berputar. Layaknya kaset rusak, semua bergulir begitu cepat di kepalanya, hingga ototnya menegang. Lagi-lagi denyutan itu. Denyutan yang menghantam kepalanya dengan kekuatan super hingga matanya serasa berkunang-kunang. Suara jenaka Naruto kecil juga ikut mengiringi, seolah menjadi mantera yang menjeratnya lagi dan lagi. Merantainya dan mengikatnya untuk tidak menggila. Tak tahan, Hinata pun meringkuk, memeluk lutut serasa meremas lututnya.
"Kenapa rasanya sakit? Kenapa selalu sakit? Apa pilihanku salah? Tidak, inilah yang merupakan kesalahan. Harusnya tidak seperti ini" rapal Hinata dalam hati
"Tapi kenapa rasanya aku ingin menangis? Kenapa rasanya aku kecewa? Apa memang sampai sini batasku? Apa aku sudah tidak akan dibutuhkan? Apa aku akan dibuang?" tanya Hinata dalam hati
"Naruto-kun?"
...
Seminggu sebelum Pekan Olahraga. Konoha International High School sangat sibuk, terlebih para anggota Osis dan setiap atlet yang akan mengikuti ajang tersebut. Latihan terus ditingkatkan tapi tak mengganggu aktivitas muridnya karena seminggu ini mereka dinyatakan bebas dari jam pelajaran namun bukan berarti boleh tidak hadir atau pulang kerumah. Belajar sendiri adalah kalimat yang tepat. Tentu kesempatan baik seperti ini digunakan banyak siswa bersorak menyemangati idola mereka. Lapangan indoor dan outdoor penuh pun termasuk ruang klub taekwondo.
Hinata tengah berjalan sendirian, menyusuri koridor dan sesekali beringsut agar dirinya tidak ditabrak. Koridor padat. Jadi sebisa mungkin ia harus segera pergi sebelum mereka menyadari kehadirannya dan menebarkan kalimat busuk yang memuakkan. Langkahnya tergesa hingga ketika dirinya sudah melewati tangga dan berada dilantai satu barulah ia bisa bernafas lega. Dirinya ingat, tadi Naruto berpesan agar ia ke perpustakaan atau diam di kelas saja agar tidak ada yang mengganggunya, namun duduk berdiam diri ditengah keramaian entah kenapa terasa sangat membosankan. Jadi ia memutuskan untuk keluar, sekedar melihat-lihat. Mungkin mengunjungi lapangan indoor untuk menyemangati Ino dan Sakura bukanlah ide buruk. Mereka sudah berteman sekarang, terlebih akhir-akhir ini jadi sangat dekat meskipun hatinya selalu merasa iri dan sakit setiap melihat sebetapa sempurnanya seorang Haruno Sakura. Namun bukan berarti ia membencinya, atau mungkin belum?
Langkah ringannya mengantarkannya ke lapangan indoor, tempat dimana team voli putri berlatih. Sesampainya disana, matanya dibuat terpana oleh banyaknya penonton yang ada. Tubuhnya yang kecil mungkin akan sulit untuk menerjang kumpulan manusia itu. Tapi bukan Hinata namanya kalau tidak nekat. Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, ia mulai masuk dan membelah para penonton.
"Permisi, permisi, Hinata mau lewat" katanya
HUP
Akhirnya ia sampai dibaris depan. Dan kali ini matanya kembali terpana. Bola voli itu melambung tinggi. Diikuti gerakan seorang gadis bersurai pink. Tangannya terangkat tinggi, memposisikan siap untuk serangan terakhir. Dan ketika tangan itu berhasil menghantam bola, suara riuh menggema, tak hanya laki-laki tapi perempuan, semua meneriaki namanya.
"Sakura! Sakura!"
SMASH
TAP
Bola berhasil mendarat, begitupula Sakura yang mendarat dengan sempurna. Latihannya selesai dan ia menang. Nafasnya terengah-engah, bulir-bulir keringat membasahi sekujur tubuh dan wajahnya, tapi senyum manis yang bertengger di bibirnya tidak menandakan kalau ia lelah. Malah sebaliknya.
"SAKURAAAAA! HEBAAAATTTTT" teriak Hinata sekeras-kerasnya hingga semua mata kini tertuju padanya
Spontan gadis yang dipanggil itu pun menoleh dan begitu melihat Hinata yang sudah berojigi di atas sana, ia melambai. Hinata ikut melambai, bahkan saking senangnya ia sampai meloncat-loncat. Sementara semua yang melihat hanya menatap Hinata aneh, tapi tak sedikit pula yang menatap maklum. Gadis itu tidak waras, begitulah pikir mereka.
"Disini, disini, aku disini" teriak Hinata girang
Kini Hinata tengah menjabat kedua tangan Sakura dengan tatapan takjup. Ia membolak-balikkan tangan Sakura, menelitinya dengan alis bertaut. Sang empunya tangan yang diperlakukan seperti itu sontak heran.
"Bagaimana bisa? Bagaimana caranya?" tanya Hinata
"Apanya?" tanya Sakura
"Tadi kau memukul bola itu hingga mendarat dengan cepat. Bagaimana bisa? Tanganmu kan kecil" tanya Hinata
"Hehe. Kau memuji atau menyindirku, Hinata" jawab Sakura sweatdrop
"Kau mau coba?" tanya Ino mengacungkan bola
"Ta-tapi . . ." Hinata ragu
Ino menyerahkan bola itu, dengan bantuan Sakura, gadis itu memposisikan tubuh dan tangannya. Bola sudah ia lambungkan dan iapun meloncat, pun dengan tangannya yang sudah dalam keadaan sempurna. Hinata mencoba menghantam bola itu, namun . . .
WUSH
Tangannya lewat begitu saja tanpa menyentuh bola. Membuat kedua temannya dan orang yang melihat memutih seketika.
"Kurasa mustahil" gumam Ino dan Sakura
"Hehe, tadi aku baru mau bilang" kata Hinata setelah berhasil mendarat
Sementara di dalam, Sasuke dan tim basketnya sudah bersiap. Setelah baru saja menyaksikan latihan hebat tim voli putri lewat monitor, ia bangkit, menggiring semua anggotanya untuk segera menuju lapangan, meninggalkan pemilik sepasang mata saphire yang masih menatap tertarik layar monitor. Tak sia-sia ia menaikkan anggaran klub broadcast. Seutas senyum tersirat di wajah tampannya. Dan ia pun mulai beranjak, meninggalkan monitor yang masih menampakkan zoom wajah Sakura yang tengah tertawa.
Setelah sampai di lapangan, Sasuke menengadah. Teriakan demi teriakan mulai kembali terdengar dan entah perasaannya saja atau tidak penonton jadi bertambah banyak. Sakura yang menyadari siapa yang datang pun menoleh. Emeraldnya bertemu dengan Onyx Sasuke. Sejenak ia terhenyak, namun ketika sang empunya mata hanya membungkuk hormat entah kenapa ada rasa kecewa di benaknya. Ia memang sudah tidak lagi mencintai pemuda itu, tapi kenapa? Matanya berubah menjadi sedikit sendu. Kalau saja ada kesempatan untuk mendekatinya.
"Sakura-chan. Kau baik-baik saja?" tanya Hinata
"Eh? Uhm" angguk Sakura canggung
"Ngomong-ngomong bukankah sudah saatnya kita pergi? Disini lebih lama sungguh tak nyaman" ucap Ino
"Kenapa?" tanya Hinata polos
"Tentu karena para pangeran sudah menyedot perhatian" celetuk Ino
"Siapa pangeran?" tanya Hinata lagi
"Tak penting, benar kata Ino. Ayo kita pergi. Ayo ayo" kata Sakura merangkul tubuh Ino dan Hinata di kedua lengannya
"Eh?" Hinata menoleh ke belakang, masih penasaran siapa yang dimaksud Ino. Membuat amethysnya bersirobok dengan sepasang onyx hitam. Mata itu memandangnya datar, namun penuh tanda tanya. Bulu kuduk Hinata meremang, firasatnya tiba-tiba tidak enak. Maka dengan tergesa-gesa ia kembali menoleh ke dapan dan menyamai langkah Sakura.
Namun rasanya baru beberapa ia melangkah, kakinya tiba-tiba berhenti. Sang kakak tersenyum manis. Seolah tahu kalau senyum itu untuk dirinya, Hinata ikut tersenyum, namun begitu . . .
"Latihan yang bagus, Sakura"
.
.
.
Senyumnya
.
.
.
Luntur
.
.
.
Naruto berdiri di depan Sakura, masih dengan senyum secerah mentari. Membuat pihak yang merasa dipuji pun ikut tersenyum. Mengabaikan sosok gadis boneka yang membisu serasa menatap kosong sang kakak.
Ya, senyum itu, senyum Naruto memang sehangat mentari. Namun kini baginya senyum itu tak lain sebuah sinar yang mampu menghunus hatinya sampai ke titik terdalam. Memaksa untuk menerobos masuk dan menghancurkan dinding pertahanannya. Bahkan sebelum ia sempat berkata atau sekedar menyapa sang kakak, Naruto sudah pergi begitu saja seraya menepuk pundak Sakura.
"Hinata?" panggil Ino sambil melambaikan tangannya
".." tak ada jawaban
"Hinata?" panggil Ino yang kesekian kalinya
"Eh?" Hinata tersadar
"Kau baik-baik saja?" tanya Ino khawatir
"Uhm. Ayo kita pergi" lanjut Hinata seraya tersenyum
—PALSU
.
Ketiganya berjalan-jalan di sepanjang koridor. Dan disepanjang koridor itu pula, Hinata terus diam. Tak ada celoteh atau candaan aneh khas dirinya. Bahkan saat dirinya ditabrak oleh seseorang pun ia hanya diam. Ino dan Sakura melihatnya khawatir namun urung bertanya. Entah kenapa mereka terdorong untuk tetap diam.
Beberapa jam melihat-lihat tim yang tengah berlatih, akhirnya mereka memilih duduk di bangku Taman. Ketiganya duduk bersebelahan dengan Hinata yang berada diujung. Ino sudah menengguk habis jusnya, bahkan ia tengah merengek pada Sakura untuk membagi jus padanya. Keadaan sungguh ramai, dan normalnya seseorang akan terganggu. Namun Hinata, dia hanya diam. Ekor matanya melirik sekilas Sakura.
"Benar, aku berbeda"
"Mou, Sakura. Jangan pelit" rengek Ino
"Kenapa kau tak beli dua tadi? Huh?" kesal Sakura
"Hinata-chan. Tolong aku" rengek Ino
TAP
"Maaf, aku mau ke toilet sebentar" kata Hinata tiba-tiba berdiri kemudian pergi
"Eh?"
Hinata berlari. Ia memasuki toilet dengan tergesa-gesa sampai menimbulkan bunyi gaduh. Beruntungnya tak ada orang disana, mungkin kalau ada ia sudah dicaci maki habis-habisan.
Ia menyalakan keran air, membasuh wajahnya sekali, dua kali, tiga kali dan mulai berkali-kali. Tak peduli kalau air membasahi rambut atau seragamnya. Jujur, ia tidak peduli. Yang ia butuhkan saat ini adalah menjernihkan pikirannya. Mengusir segala perasaan yang selalu menggelitiknya bagai seorang pendosa.
"Hah, hah"
Hinata mengangkat wajahnya. Menatap pantulan wajahnya yang terlihat berantakan. Poninya basah. Riasannya luntur tidak karuan. Membuat sosoknya yang sudah mengerikan terlihat lebih mengerikan, atau mungkin menjijikkan?
Setetes liquid turun dari salah satu matanya. Membelai pipi dan turun hingga ke dagu. Terus mengalir dan menetes jatuh ke lantai. Ia, menangis.
"Kenapa?" tanyanya
"Harusnya tidak seperti ini bukan?"
"Kau sudah berjanji bukan?"
"Ne, jawab aku"
"Jawab aku, Naruto-nii"
"Hiks"
.
Bel jam pelajaran berakhir telah berbunyi. Setelah tak menemukan Hinata sejak tadi, Ino dan Sakura memutuskan menemui Naruto. Bisa ditebak bagaimana reaksinya. Pemuda itu panik seketika. Wajahnya memucat dan segera melesat pergi tanpa sepatah katapun.
.
.
.
Hei, bukankah tadi kau mengabaikannya?
.
.
.
Sementara Sasuke yang melihat itu, memicingkan matanya. Ia tidak buta untuk tidak menyadari kalau Naruto tadi sempat mengabaikan Hinata entah sengaja atau tidak disengaja. Jadi tidakkah terlalu berlebihan reaksinya?
"Hinata jadi aneh sejak keluar dari lapangan indoor" kata Ino
"..." Sakura tidak merespon hingga sebuah suara menyentaknya
"Hei, kau... Bisa bicara sebentar?" tanya Sasuke tiba-tiba
"Maksudmu, aku?" tanya Sakura balik
"Apa aku terlihat sedang bicara pada orang lain?" tanya Sasuke sinis
Tanpa menunggu jawaban Sakura, Sasuke berlalu. Ia tahu Sakura mengerti dan akan mengikutinya. Dan ketika mereka sampai di belakang kebun Sekolah yang sepi, Sasuke berhenti. Bungsu Uchiha itu menoleh, matanya mengkilap tajam seolah siap mencincang tubuh Sakura dalam sekali tatap. Yang ditatappun terhenyak, menahan diri untuk tidak kabur. Apa maksudnya?
"Namamu Sakura bukan?" tanya Sasuke
"Kau bisa membacanya bukan?" jawab Sakura
"Tch. Langsung saja, aku tak suka berbelit-belit" kata Sasuke
"Tidakkah kau yang berbelit-belit tuan Uchiha? Membawaku ke tempat sepi sudah membuatku bertanya-tanya apa tujuanmu" balas Sakura sengit
"Apa hubunganmu dengan Naruto?" tanya Sasuke tiba-tiba
"Kami berteman" jawab Sakura
"Tapi aku tak melihat seperti itu" kata Sasuke
"Ap- Apa maksudmu?"
"Kau sengaja mendekatinya bukan?" sinis Sasuke
"Apa?"
"Telingamu sudah tuli rupanya. Aku bilang kau sengaja mendekatinya"
"Aku bukan orang seperti itu!"
"Lalu seperti apa? Aku tahu kau menyukaiku. Bukankah mendekati Naruto adalah pilihan terbaik? Apa aku salah?"
"Menyukaimu? Tapi maaf, sayangnya sekarang sudah tidak lagi. Dan biar kupertegas, aku hanya berteman dengan Naruto. Lagipula, kenapa kau tanyakan itu? Jangan mentang-mentang kau temannya kau berhak mencampuri segala urusannya"
"Mencampuri? Dia? Aku tidak memiliki kapastitas itu, nona. Aku hanya tak suka kau dekat-dekat dengannya. Itu saja"
"Kau cemburu?"
"Denganmu? Jangan bercanda" dengus Sasuke
Mata Sakura menyipit, ia menatap Sasuke tak kalah sinis. Berhadapan dengan manusia angkuh sepertinya mau tak mau egonya harus dinaikkan atau ia akan diinjak-injak. Ingatan di malam festival itu sudah cukup menyadarkannya kalau sang Uchiha muda itu bukanlah pria baik seperti yang ia kira.
"Tidak mungkin juga aku menyukai baka dobe itu" dengus Sasuke lagi
"Lalu apa? Aku tak percaya kalau kau bilang kau tak punya alasan. Tak mungkin seorang pangeran sekolah menemuiku hanya untuk mengatakan itu" kata Sakura
Hening sejenak. Sasuke memutar otaknya. Gadis musim semi dihadapannya tak bisa dianggap remeh. Tak heran Naruto tertarik dengannya. Bahkan saking tertariknya, sahabatnya itu tega menelantarkan sang adik. Membiarkan Hinata terluka dan menangis sendirian. Jika diingat-ingat kembali, perilaku Naruto pada Hinata berubah seratus delapan puluh derajat. Jika dulu Hinata adalah prioritas utama yang duduk dikursi utama maka sekarang Sasuke yakin kini Hinata hanya prioritas kedua yang duduk dikursi cadangan. Miris.
Pikirannya keruh, benaknya berkecambuk. Bibirnya gemetar, pun dengan tubuhnya. Namun, itu tak bertahan lama karena detik berikutnya ia sudah berucap . . .
"Jadilah kekasihku" ucap Sasuke singkat padat dan jelas
DEGH
Mata Sakura membulat. Nafasnya tercengat. Jantungnya mulai bertalu-talu. Membuat darahnya berdesir hingga ke pipi. Ini bukan mimpi kan? Ditatapnya mata Sasuke, mencoba mencari kebohongan disana. Dan ketika emeraldnya sudah bersirobok dengan onyx hitam kelam itu, hatinya terasa diremas. Mata itu, berbohong.
"Jangan bermain denganku, Uchiha" kata Sakura seraya menggertakkan giginya kuat-kuat
"Kau tidak menyukaiku, untuk apa kau memintaku jadi kekasihmu? Gurauanmu benar-benar keterlaluan" lanjut Sakura bergetar
"Gurauan? Kau pikir aku sedaang bergurau? Memang apa salahnya? Lagipula apa harus ada cinta diantara kekasih? Seingatku ada yang saling mencintai tapi kenyataannya mereka tak bersama. Hmm?" kata Sasuke bermain kalimat
"Lagipula, apa susahnya? Jauhi Naruto dan jadi kekasihku. Mudah bukan?" lanjut Sasuke enteng
"Kuberi kau waktu dua minggu" kata Sasuke final kemudian pergi
Lutut Sakura lemas. Tubuhnya ambruk seketika, bersamaan dengan liquid bening yang menetes dari pelupuk mata. Ia tahu kalau Sasuke tidak menyukainya. Tapi bukankah perkataannya barusan terbilang sangat egois? Pemuda itu hanya memikirkan dirinya sendiri, tanpa peduli perasaannya. Dan itu lebih menyakitkan daripada ditolak sekalipun.
Dilain tempat, dibalik tangga darurat. Sasuke meninju tembok dihadapannya. Sebelah tangannya mengacak surainya frustasi. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali. Bahkan ia tak peduli dengan jari kanannya yang sudah mengeluarkan darah. Pikirannya kacau hingga tubuhnya ikut berkhianat.
"Sial!" umpatnya
"Sial!"
"Sial!"
"Hah, hah. Kenapa aku melakukannya? Apa yang baru saja aku lakukan?" tanyanya entah pada siapa
Sasuke kembali memukul tembok, membuat darah di kepalannya semakin mengalir deras. Ia mendesis sejenak, bukan karena sakit fisik, melainkan sudut hatinya yang serasa ditusuk.
"Benar. Aku sudah gila" kata Sasuke seraya menghela nafas, menetralisir debaran dan denyutan menyakitkan yang mencubit-cubitnya tak tahu malu
.
Naruto berlarian kesana kemari. Dikelas, perpustakaan, taman, toilet, namun Hinata tak ada dimanapun. Bayangan akan Hinata yang tertidur karena menangis sendirian terlintas di pikirannya. Sebelumnya ia sudah lalai, dan berusaha memperbaiki. Namun rasa canggung membuat dirinya malah mulai menjauhi dan menjaga jarak dengannya. Terbukti ketika ia tak lagi menggenggam tangan itu, atau mengusap sayang wajah gembil itu. Bahkan jarang ia menunjukkan senyum lebarnya. Bukan ia sengaja, hanya saja setiap kali berhadapan dengan Hinata, denyutan tak menyenangkan itu datang. Apalagi ingatan dimana ia hampir saja mencium Hinata tanpa sadar. Sungguh, ia seperti seorang brengsek yang hampir melecehkan adiknya. Perasaan bersalah menggelayuti, dan itu menyiksanya. Sungguh ia tak berdaya.
"Hinata" panggil Naruto sendu
Hinata berjalan lunglai menuju lobi. Sejak keluar dari toilet tadi ia memilih menyendiri di dekat kolam hingga ketiduran. Riasannya memang belepotan, tapi setidaknya masih bisa menutupi kulitnya. Sekolah sudah lumayan sepi mengingat sudah setengah jam bel berakhirnya pelajaran berbunyi. Setelah masuk ke lobi, ia segera menuju ke koridor tempat dimana loker para siswa berjejer rapi. Ambil tas kemudian pulang, pikirnya. Ia tak ingin sang kakak marah hanya karena ia melanggar perintahnya. Tidak, Hinata tak siap untuk itu. Namun langkahnya terhenti tak kala melihat seseorang menutup sebuah loker dengan keras dan berlari tergesa-gesa.
Hinata lewat begitu saja, namun baru selangkah ia melewati sebuah loker, dahinya mengernyit. Entah kenapa tangannya tergerak untuk membuka loker bertuliskan Haruno Sakura itu. Dan ketika ia berhasil membukanya, amethystnya membulat.
"Apa ini?" tanya Hinata dalam hati
Ia diam sejenak. Mengamati paku payung dan sampah-sampah menjijikkan di dalam sana. Harusnya ia segera pergi, membiarkan hal itu karena bukan urusannya. Dan ya, ia kembali menutup loker itu dengan pandangan dingin.
Naruto terengah-engah, pasalnya Hinata susah sekali dicari. Tidak lucu kalau gadis itu sengaja bersembunyi dengan dalih petak umpet. Sapphirenya mengedar, mencoba mencari satu-satunya gadis bersurai indigo, namun sejauh ia memandang, sosok itu tidak ada.
"Dimana dia?" keluhnya
Diliriknya jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua lewat tiga puluh. Menyadari sesuatu, ia pun segera bergegas. Ia tahu dimana Hinata menunggu di jam seperti ini.
SREK
SREK
Sebuah tangan tengah mengobrak-abrik sebuah loker. Tangan mungil itu mengambil satu persatu paku dan sampah yang bersarang disana. Memungutnya secepat yang ia bisa. Sebaris senyum tersungging di wajah bak bonekanya.
TAP
TAP
Langkah Naruto semakin cepat. Dari sini, ia bisa melihat surai indigo menyembul dari balik loker. Dengan menyunggingkan senyum lega, ia semakin mempercepat langkah,
"Hina—" kata Naruto seraya tersenyum, namun ketika ia melihat sesuatu mengkilap tajam dan bau menjijikkan dari tangan mungil itu—
.
.
.
Senyumannya luntur
.
.
.
Langkahnya terhenti
.
.
.
"Yosh" kata Hinata lega
"—ta?"
"Eh? Naru—"
"Apa yang kau lakukan?" tanya Naruto datar
Naruto menatap datar Hinata. Bukan, bukan pada adiknya, melainkan apa yang berada di tangan gadis itu. Paku dan sampah.
"Aku? Aku hanya sedang—"
"Mengotori loker orang lain?"
"Ng?" Hinata mengernyit bingung, namun ketika ia menyadari apa yang tengah ia genggam—
DEGH
SET
Haruno Sakura
Begitulah nama yang tercantum disana.
DEGH
Dada Naruto bergemuruh. Menghantarkan sengatan-sengatan pada setiap aliran darah dan urat nadinya. Dadanya panas pun dengan tubuhnya yang mulai menegang. Rahangnya mengeras. Paku, sampah, ia tahu betul apa itu. Diarahkannya sapphire miliknya ke sang adik. Mata semenawan samudera itu kini terlihat keruh, menampakkan dasarnya seperti siap menenggelamkan Hinata hidup-hidup.
"Naruto-nii, aku tidak—" kata Hinata terpotong
BRAKH
Naruto menutup loker keras, menyentak Hinata.
"Aku tanya sekali lagi, apa yang kau lakukan?" ulang Naruto
"..." Hinata diam
TAP
Sebelah tangan Naruto meraih pergelangan tangan Hinata, kemudian menggenggamnya erat atau lebih tepatnya berusaha meremasnya. Hinata merintih kesakitan. Sementara Naruto yang tak kunjung mendapat jawaban, memperkuat remasannya. Hinata semakin merintih, bahkan matanya berkaca-kaca menaha rasa sakit itu. Harusnya ia bisa berteriak, namun pandangan tajam sang kakak membuat lidahnya kelu.
"Jawab aku, Hinata" desis Naruto
TES
"Aku tidak menyuruhmu menangis. Aku hanya minta kau menjawabku. Jadi berhenti menangis dan jawab pertanyaanku" pinta Naruto dingin
"..." tak ada jawaban
"Jangan uji kesabaranku" desis Naruto berusaha mengendalikan amarah
"..." tetap tak ada jawaban, Hinata malah menangis tanpa suara
"Kau tahu, aku mencarimu kemana-mana. Tapi ketika aku menemukanmu, kau malah . . . kau malah" Naruto kehabisan kata-kata
"Tindakanmu ini sangat tidak terpuji" lanjut Naruto kemudian
"Aku tidak melakukannya" cicit Hinata kemudian
"Dengan barang bukti ditanganmu?" tanya Naruto sinis
Sontak tangis Hinata berhenti. Gadis itu seketika mendongak mendapati respon sang kakak.
"Bu-kan aku yang melakukannya" lanjut Hinata lirih
"Bukan kau? Lalu siapa? Orang lain? Kau mau menyalahkan orang lain?" tanya Naruto bertubi-tubi
"Bu-bukankah Naruto-nii memintaku menjawab?" tanya Hinata balik
"Ya, aku memintamu menjawab, bukan berbohong" tegas Naruto
"Ta-tapi ak-aku ti—"
"LAGIPULA" potong Naruto
"Sejak kapan kau pandai berbohong? Apa aku pernah mengajarimu?"
"Naruto-nii"
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Naruto
"Ti-dak, bu-bukan ak-mak-sudku aku tid-dak mela-ku-kukannya"
"Aku tahu kalian berteman. Tapi apa ini sikap seorang teman terhadap temannya? Tidak kah yang kau lakukan berlebihan?"
"Bu—"
"Cukup. Jangan bicara lagi kalau kau hanya ingin mengelak" potong Naruto yang kesekian kali
"Naruto-nii" panggil Hinata
PLAK
Naruto menepis tangan Hinata kasar, membuat apa yang digenggam gadis itu berserakan dilantai. Mata Hinata membulat, dilihatnya semua paku dan sampah yang sudah susah payah ia pungut dengan nanar. Ia hendak berjongkok, mengambil kembali semua benda itu, namun belum sempat ia melakukannya, tangan besar Naruto sudah menariknya secara kasar.
Naruto gelap mata. Ditariknya Hinata dengan kuat. Tak peduli langkah gadis itu yang terseok-seok atau isakannya yang minta dilepaskan. Sungguh, telinganya tuli saat ini. Dihempaskannya Hinata begitu saja di jok mobil. Dan tanpa memasangkan sabuk pengaman pada sang adik, ia menancap gasnya kuat-kuat. Tubuh Hinata terbentur, ia merintih kesakitan. Namun mana sudi Naruto melirik. Sepanjang perjalanan pulang yang akhir-akhir ini hening menjadi mencekam. Naruto mengemudi gila-gilaan. Bahkan ketika parkir sekalipun. Ia membanting pintu mobil dan pergi meninggalkan Hinata begitu saja.
Makan malam kediaman Namikaze hening. Hanya ada dentingan alat makan. Naruto absen, dan tak ada yang berani atau sekedar menyinggung nama Naruto, karena Kushina yakin mereka tengah bersitegang. Bahkan Hinata pamit sebelum mereka selesai makan. Melihat itu, mata Kushina menjadi sayu. Ada rasa khawatir dihatinya, terlebih ucapan Hiashi tempo hari. Minato yang menyadari kegundahan sang istri pun menepuk pundaknya pelan, berusaha menyalurkan ketenangan.
Malam sunyi menjadi kelabu. Hinata yang sudah bersih dari segala riasan anehnya bersandar di dinding yang membatasi kamarnya dengan sang kakak. Sejak kejadian tadi, ia belum bertemu dengan Naruto. Bahkan kedua orangtuanya pun tak ada yang berani mengetuk kamarnya. Yang ia tahu, kakaknya keluar kamar setelah ia masuk kamar. Miris. Hinata tersenyum miris. Niat baiknya malah menjadi momok baginya. Jujur, tadi ia hendak meninggalkan loker Sakura yang kotor, namun mengingat seberapa baiknya gadis itu padanya ia berpikir ulang. Setidaknya ia bisa membalas sedikit kebaikannya, pikirnya. Namun nyatanya, Dewi fortuna mengutuknya. Sang kakak melihat ia memegang paku dan sampah. Orang bodohpun pasti tahu apa yang mungkin dilakukan seseorang dengan kedua benda itu. Apalagi kakaknya yang memiliki logika selangit?
Lagi-lagi Hinata tersenyum miris. Sebelah tangannya ia gunakan untuk meremas dada kirinya yang sakit sementara tubuhnya perlahan-lahan merosot. Ia terduduk lemas dilantai. Meremas dadanya dan mulai memukulnya. Berharap sedikit saja hatinya memberi belas kasihan padanya. Ia tidak ingin seperti ini. Ia tidak ingin menangis, namun nyatanya air mata itu membanjiri seluruh wajahnya. Menjadi bingkai dan memperjelas bahwasanya seorang Hinata tengah terluka.
"Hiks"
"Sakit"
Sementara itu, dikamar Naruto. Pemuda itu memutar rubik dengan pandangan kosong. Membiarkan segelas susu yang masih setengah. Otaknya menerawang, tentang bagaimana sang adik tega melakukan hal itu pada temannya, atau lebih tepatnya gadis spesial baginya. Ia terus bertanya apa tujuan Hinata, namun tak ada satupun yang bisa menjelaskan. Kecuali pemikiran mustahil yang terbesit di otaknya.
"Tidak mungkin. Ia tidak mungkin membenci Sakura hanya karena aku jarang memperhatikannya" gumam Naruto seraya menghentikan putaran rubik
"Dia adikku, bagaimanapun tingkah polahku dia pasti mengerti, karena aku kakaknya dan selamanya begitu. Bukan begitu?" tanya Naruto
"Tapi kenapa?" lanjutnya
"Haruskah aku memaafkannya?"
Naruto memandang rubik itu sejenak, tinggal satu putaran lagi maka kubus itu menjadi sempurna. Namun ia malah diam, tak ada niatan untuk memutarnya lagi. Pandangannya sayu, terlebih saat mengingat raut wajah Hinata yang tengah menangis.
NYUT
Naruto memegang dadanya yang mendadak sakit. Ia menoleh, menatap dinding yang menjadi pembatas kamarnya dengan sang adik. Dan denyutan itu pun semakin kencang. Ia merintih, hingga kubus yang ia pegang pun terlepas. Dan saat itu pula, disamping kamarnya, Hinata ambruk dilantai. Gadis itu menangis dengan pandangan kosong. Menyisakan Naruto yang masih berusaha berdiri tegak. Ia melangkah, pelan dan pelan menuju dinding itu. Sesampainya disana, ia menyentuh dinding dingin itu, berharap bahwa seseorang diseberang sana melakukan hal yang sama. Namun itu hanya angannya. Tak ada sentuhan hangat Hinata. Yang ada hanyalah dinding dingin nan membisu.
Dan tanpa ia sadari, setetes liquid pun lolos dari matanya. Membuat tubuh tegap itu perlahan-lahan merosot masih dengan sebelah tangan menyentuh dinding. Kepalanya menunduk, menyembunyikan sapphirenya yang kelam.
"Maaf" ucapnya singkat dan penuh luka
.
Esoknya. Aktivitas pagi kembali lagi, Naruto turun untuk sarapan. Ia duduk dengan tenang, namun ekor matanya melirik satu-satunya bangku kosong disana.
"Mana Hinata?" tanyanya
"Dia pergi duluan" jawab Kushina berusaha sebiasa mungkin, menyembunyikan nada suaranya yang gemetar
Naruto menghentikan acara makannya.
"Sendiri?" tanyanya lagi
"Dia bilang tak mau diantar dan ingin naik bus" jelas Kushina
BRAKH
"Maaf, aku sudah selesai" kata Naruto kemudian pergi
Jauh dari kediaman Namikaze, Hinata tengah menunggu bus datang. Tak butuh waktu lama untuk menunggu, hingga bus berwarna hijau itu menghampiri. Ia naik, memasukkan koin kemudian mencari tempat duduk. Namun rasanya baru saja ia duduk, suara-suara cibiran pun mulai terdengar.
"Hei, lihat dia. Wajahnya aneh sekali"
"Sepertinya gila"
"Menyeramkan, aku takut. Kenapa dia naik bus ini? Bagaimana kalau tiba-tiba mengamuk?"
"Tapi lihat seragamnya. KIHS! Apa dia jadi sinting gara-gara tidak diterima disana?"
"Jangan keras-keras nanti dia dengar"
Percuma. Telinga Hinata tidak tuli untuk tidak mendengar apa yang mereka katakan. Cibiran itu, ia sudah biasa mendengarnya. Tapi meski sudah berkali-kalipun entah kenapa rasanya tetap sakit.
Para penumpang semakin banyak. Kursi disebelah Hinata kosong, namun tak ada satupun yang mau duduk disampingnya. Kebanyakan dari mereka memilih berdiri daripada harus duduk dengan sosok yang menurut mereka tidak waras. Menyadari ketidaknyamanan itu, Hinata tiba-tiba berdiri, ia menekan bel dan bus pun berhenti.
Hinata turun. Bus berlalu begitu saja. Diliriknya jam yang melingkar di tangan kiri, pukul tujuh tiga puluh. Masih cukup kalau ia berjalan cepat.
Naruto melajukan mobil Ferari merahnya cepat. Ia harus mengejar Hinata. Bagaimana kalau Hinata pergi? Ia tidak akan sanggup. Ia akui ia berlebihan, tapi tidakkah tingkah Hinata juga berlebihan? Yang manapun itu, yang jelas ia harus menemukan Hinata. Dan tak butuh waktu lama baginya menemukan sosok tersebut. Gadis berkucir dua itu tengah berjalan sendirian di sepanjang trotoar jalan. Naruto menambah kecepatannya.
CKITTT
"Hinata" panggil Naruto setelah keluar dari mobil, gadis yang dipanggilpun menoleh. Mata gadis itu sedikit bergetar, entah terkejut atau karena takut. Karena ketika Naruto mendekat, ia malah mundur beberapa langkah. Dan ketika Naruto semakin dekat, iapun membalikkan badan, berusaha lari kalau tidak tangan Naruto mencekal pergelangan tangannya.
"Tunggu" kata Naruto
"Yang kemarin—" kata Naruto
"Bukan aku yang melakukannya" potong Hinata
"Hinata, dengarkan aku" pinta Naruto lembut
"Mari kita anggap ini selesai, dan aku akan memaafkanmu" lanjut Naruto
"Tapi aku memang tidak melakukannya" balas Hinata
"Hinata, kumohon jangan keras kepala. Aku tak mau berdebat disini. Jadi masuk dan kita berangkat ke sekolah dulu" bujuk Naruto lembut
"Aku tidak mau. Sampai Naruto-nii percaya kalau aku tidak melakukannya, aku tak akan masuk mobilmu" jawab Hinata seraya menggibaskan tangan Naruto
"Sudah kubilang aku tak mau berdebat. Jadi jangan uji kesabaranku" desis Naruto menahan amarah
WUSH
Hinata pergi begitu saja.
"Hinata, berhenti disana" perintah Naruto, namun Hinata tak memperdulikannya dan tetap melangkah
"Aku bilang berhenti!" teriaknya
"Sekali lagi kau melangkah, maka kuanggap kau benar-benar melakukannya" ancam Naruto
Hinata berhenti sejenak. Dadanya terasa sesak. Kalimat Naruto bagaikan jaksa yang menghakiminya secara sepihak. Memaksanya berkata iya pada hal yang tidak ia lakukan. Jadi, kalau sudah begini maka pilihan terbaik adalah tetap pergi. Toh mau ia kembali pun keputusan kakaknya tetap tidak berubah. Dimatanya ia sudah bersalah. Dan ketika ia kembali melangkah, suara Naruto menggelegar.
"HINATA!"
.
Naruto masuk ke ruangan server dengan tergesa-gesa. Bahkan ia tak menggubris Sai yang menyapanya di ruangan itu. Dengan tak sabaran, ia mulai menekan-nekan tombol disana, mencari barang bukti untuk terdakwanya. Namun setelah beberapa menit ia mencari, tangan kekar itu malah menggebrak meja. Mendengar suara gaduh, Sai pun masuk dan terkejut melihat nafas Naruto yang terengah-engah.
"Ada apa? kau baik-baik saja?" tanya Sai
"Dimana rekaman CCTV-nya?" tanya Naruto dingin
"Rekaman? Yang mana maksudmu?" tanya Sai tak paham
Naruto menggertakkan giginya.
"Koridor lantai satu. Loker siswa" jawabnya
"Eh? Kau tak ingat? disana memang tidak ada CCTV. Karena CCTV lantai satu sudah terpasang di area lobi, sudut tikungan tangga dan di dalam ruangan" jelas Sai innocent
"Kenapa bisa tidak ada?" desis Naruto menahan amarah
"Entah. Kau tak pernah komplain selama ini kan, lagipula kepala sekolah tak berniat menambah CCTV karena menurut beliau sudah banyak" jelas Sai
BRAKH
Sai berjengit.
"Kau menunggu komplain? Osis macam apa kau ini?" tanyanya tajam
"E-eh? Na-naruto?" panggil Sai gugup
"Perbaiki. Sore ini aku mau mendengar laporan Done darimu" kata Naruto dingin seraya beranjak dari kursi. Meninggalkan Sai yang masih mencerna kalimat.
Naruto keluar ruang server dengan wajah keruh. Siapapun yang berpapasan dengannya pasti akan beringsut ketakutan. Sang ketua Osis yang berada dalam mode marah memang menyeramkan. Dan hal menyeramkan seperti ini hanya akan terjadi jika menyangkut tentang Hinata.
"Tunggu, dimana Hinata?"
"Kenapa Naruto tidak bersamanya?"
"Eh? Kau tidak dengar. Akhir-akhir ini mereka memang kurang dekat"
"Serius?"
Dan begitulah. Bisikan demi bisikan mulai mendesis. Mencicit di belakang agar tidak terdengar oleh sang singa. Hingga ketika kebanyakan dari mereka mulai lupa dan tak sadar menaikkan suaranya saat menggunjing, Naruto-pun berhenti.
"Sstt, dia dengar. Mampus kita"
"Ini salahmu"
Mereka ketakutan. Bayangan akan Naruto menoleh kemudian mengancam mereka membuat leher serasa tercekik. Terlebih aura dingin dari tubuh Naruto.
"Dia pasti menoleh"
Naruto diam. Ya, dia memang ingin menoleh dan mencekik mereka satu persatu yang sudah berani menggunjing adiknya. Tapi mengingat kejadian kemarin sore, darahnya kembali memanas, dan iapun memilih menutup telinga. Undur diri dan meninggalkan sekelompok siswa-siswi yang menatapnya bingung.
Kelas 2-1. Bel sudah berbunyi, dan semua murid sudah duduk dibangkunya masing-masing. Sasuke baru saja datang, nafasnya masih sedikit terengah lantaran sedikit berlari.
"Kau terlambat" komen Shikamaru melirik Sasuke, dan matanya sedikit menyipit melihat balutan perban di telapak tangan pemuda itu
"Tck. Tepat waktu" koreksinya
"Terserah, merepotkan" keluh Shikamaru seraya menguap
"Ngomong-ngomong, dimana Hinata? Apa dia absen?" tanya Shikamaru pada Naruto
"Entahlah" jawabnya datar
"Hoi, aku tidak sedang bercanda. Dimana dia? Bukankah kau akan sangat khawatir kalau dia belum masuk kelas?" tanya Shikamaru kehilangan kantuknya
"..." tak ada jawaban
"Hoi, Naruto" panggil Shikamaru mulai gemas
KREKK
"Selamat pagi, Mina-san" sapa Mei-sensei, sang guru Kimia
"Pagi, sensei" sapa semuanya
"Ara, pagi yang cerah untuk kimia yang cerah" ucapnya garing
"Sensei, kita hanya akan diabsen saja, bukan belajar" ralat salah seorang siswa
"Eh? Hahaha, aku lupa. Baiklah, mari kita mulai absennya"
Proses absensi dimulai, dan saat . . .
"Namikaze Hinata"
Hening.
"Hlo, dimana Hinata?" tanya Mei-sensei
"..." tak ada jawaban, semua menoleh pada Naruto
"Naruto, dimana Hinata?" tanya Mei-sensei lagi
"Entahlah, mungkin dia terlambat" jawab Naruto
"Terlambat? Bagaimana bisa? Kau tak berangkat bersamanya?" tanya Mei-sensei bingung
Naruto tak menjawab. Ia memilih meraih tas dan berdiri. Tanpa permisi, ia pergi begitu saja lewat pintu belakang kelas. Meninggalkan Mei-sensei yang terbengong di tempat.
Sementara Sasuke, dahinya mengernyit, alisnya bertaut. Jelas sekali Naruto menghindar. Dan semua itu membuatnya curiga. Pasti sesuatu telah terjadi hingga mulut Naruto bungkam. Bahkan sejak beberapa menit yang lalu ketika Shikamaru bertanya. Kakinya hendak berdiri, namun egonya menyuruhnya kembali duduk. Alhasil ia memilih duduk seraya mengetuk-ngetuk meja. Mengarahkan Onyx hitamnya keluar sana.
"Hoi, Sasuke" panggil Shikamaru
"Hn?"
"Kau tak merasa Naruto aneh?" tanya Shikamaru
"Bukankah dia memang aneh?" tanggap Sasuke
"Tck. Bukan itu, maksudku tak biasanya dia acuh pada Hinata. Kau tahu seperti apa mereka kan" kata Shikamaru
"Apa maksudmu mengatakan itu?" tanya Sasuke
"Kau tahu apa maksudku" tanggap Shikamaru
"Tidak"
"Kenapa? kau yang lebih dekat dengan Hinata. Aku masih ada tugas Osis setelah ini" kata Shikamaru seraya berdiri
"Aku ketua tim asal kau ingat" kata Sasuke kesal
"...?"
"Kemana dia pergi?" gumam Sasuke tambah kesal
Namun, baru lima menit sang Nara pergi, Sasuke sudah melesat keluar kelas dengan kunci mobil di tangannya. Persetan dengan apapun itu. Yang ada diotaknya kini adalah mencari Hinata.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 PM waktu setempat. Sudah empat jam lebih sejak Hinata meringkuk dibalik semak-semak taman kota. Jejak-jejak air mata yang mengering tertera jelas di pipinya, bahkan bedak tebalnya sudah belepotan. Mata mutiaranya memerah, tanda ia terlalu banyak mengeluarkan air mata. Mungkin kalau ada yang menemukannya ia akan digiring ke kantor polisi atas tuduhan kabur dari rumah sakit jiwa. Dan kemungkinan terburuk ia akan dikirim ke sana setelahnya. Bersama dengan kumpulan orang aneh yang dianggap sampah oleh masyarakat. Badan Hinata kembali gemetar. Harusnya ia pergi saja ke sekolah tadi. Tapi, mengingat bagaimana sang kakak menatapnya kemarin dan tadi pagi sudah membuat niatannya tertelan begitu saja.
"Hiks" isaknya lagi
"Aku tidak bersalah, Naruto-nii" isaknya
Dan begitulah, ia kembali meringkuk, menyembunyikan wajahnya di balik lutut seraya merapal dalam hati bahwa takkan ada siapapun yang akan menemukannya. Berdiam diri disana sampai kehabisan tenaga dan tak bergerak, mungkin itu lebih baik. Menangis, dan menangis, hingga ia tak sadar bahwa dirinya sudah terlelap dan mulai terbuai di alam mimpi.
Sasuke frustasi. Ia sudah berkeliling tapi tak menemukan Hinata dimanapun. Ia baru mengerti kenapa Naruto sering marah bahkan lepas kendali jika sudah berhubungan dengan Hinata. Karena, gadis itu memang pandai menyeret orang lain untuk masuk ke dunia dan segala permainannya. Ingin rasanya ia tersenyum dan tertawa, namun bibirnya bahkan tak bisa ditarik sedikitpun. Ia, khawatir. Bagaimana kalau gadis itu menangis lagi? Bagaimana jika ada orang jahat yang berniat menculiknya? Atau bagaimana kalau gadis itu diseret ke rumah sakit jiwa karena penampilannya? Sasuke menggeleng. Mengenyahkan pikiran liar itu. Memacu kembali mobilnya kencang membelah jalanan.
Sementara itu, tim basket tak bisa berlatih. Sang ketua pergi entah kemana dan Naruto tidak muncul. Biasanya sesibuk apapun ia di organisasi, ia tidak akan pernah lalai. Namun kali ini rasanya ia seperti sengaja. Entah apa yang membuatnya demikian, pikir anggota tim.
Sedangkan Sakura yang tengah istirahat di lapangan yang sama, melirik ke arah tim basket. Emeraldnya mencari sosok raven satu-satunya diantara mereka, namun ketika tak mendapatinya, ia pun menghela nafas.
"Sakura? Ada apa?" tanya Ino
"Tidak" jawab Sakura seraya tersenyum
"Ne, aku tidak melihat Hinata sejak tadi" kata Sakura
"Are? Aku juga. Naruto juga tidak kelihatan" tanggap Ino
Mendengar kata Naruto, Sakura sontak terhenyak. Ia kembali teringat kejadian kemarin. Dimana Sasuke menuduhnya sengaja mendekati sang Namikaze itu hanya demi dekat dengannya. Juga tawaran untuk menjadi kekasih sang Uchiha yang menginjak harga dirinya. Ia menggenggam tangannya erat. Sampai kapanpun ia tidak akan menuruti perkataan pangeran sok ningrat itu. Tidak akan pernah.
"Ino, bisa aku permisi sebentar?" pinta Sakura
"Oh, baiklah" jawab Ino
Sakura berlalu dari sana. Kaki jenjangnya melangkah dengan cepat. Tekatnya sudah bulat. Kalau niatan baiknya dianggap buruk. Maka ia akan menjadi buruk. Tidakkah itu lebih mudah? Mengingat itu, ia pun menyeringai. Ia tahu siapa yang bisa diajak kompromi untuk masalahnya ini. Seseorang yang sangat diinginkan Uchiha untuk ia jauhi. Siapa lagi kalau bukan, Namikaze Naruto.
"Tidakkah kau salah memilih teman bermain, tuan Uchiha?" katanya dalam hati
Naruto melepaskan dasi yang serasa mencekik lehernya. Semua persiapan sudah selesai. Pun termasuk reward dan acara penutupan untuk pekan olah raga. Shikamaru membereskan semua berkas yang ada dimeja Naruto. Matanya sedikit melirik, melihat sebatapa seriusnya Naruto hari ini. Bahkan ia tdak banyak bicara atau komplain. Semua pekerjaan ia handle sendiri layaknya ia adalah robot. Shikamaru yakin kelak Naruto akan menjadi worka holic atau lebih parah dari itu. Dan jika itu terjadi, ia pastikan ia tidak ada didekatnya karena kemungkinan ia bisa mengidap penuaan dini. Membayangkannya aja sungguh membuat bulu kuduknya merinding.
TOK
TOK
"Masuk" kata Naruto
CEKLEK
Surai pink menyembul dari balik pintu. Tanpa bertanya, Naruto sudah tahu siapa itu. Sakura masuk, dengan sedikit canggung ia tersenyum ke arah Naruto dan Shikamaru.
"Anou, bisa aku bicara denganmu sebentar, Naruto?" pinta Sakura
Naruto mengangguk. Ia menatap Shikamaru datar namun kentara sekali kalau ia meminta sang Nara itu untuk pergi. Shikamaru tahu diri, ia melangkah pergi dengan sebelumnya tersenyum samar pada Sakura.
"Ada apa? aku sedang sibuk" tanya Naruto membuat Sakura terhenyak
"Nada bicaranya berbeda" kata Sakura dalam hati
"Tidak. Hanya saja, apa, apa kau sudah dapat pasangan untuk acara penutupan?" tanya Sakura
"Lomba bahkan belum dimulai" komen Naruto datar namun entah kenapa terasa pedas di telinga Sakura
"Tunggu, ada yang aneh dengannya" komen Sakura dalam hati
"Apa ada sesuatu terjadi? Kau terlihat lelah" tanya Sakura
"Kenapa? kau mengkhawatirkanku?" tanya Naruto balik disertai senyum tipis
DEGH
"I-itu, aku ha-hanya tanya asal kau tahu" balas Sakura gugup
"Aku tidak tahu kalau kau juga gagap, Sakura" kata Naruto tersenyum sedikit lebih lebar
"A-apa?"
"Aku bilang aku belum punya pasangan. Jadi, apa kau kesini untuk memintaku jadi pasanganmu?" tanya Naruto tepat sasaran
"Jangan percaya diri. Aku hanya tanya. Hahahaha" Sakura tertawa garing
"Mendekatlah" pintanya dengan suara baritone yang terkesan menuntut
Dengan polos, Sakura mendekat namun Naruto melambaikan tangan, memintanya untuk lebih dekat. Hingga kini Sakura sudah berdiri disamping Naruto. Pemuda itu memutar kursi, menghadap dirinya dengan kedua kaki yang seolah memenjarakan dirinya.
DEGH
Mata Sakura terbelalak. Perasaannya saja atau tidak, ia merasa tatapan Naruto berbeda. Saphire itu terlihat lebih biru, tidak maksudnya lebih dalam dan sedikit sayu. Tak mau terbuai, ia memilih berpaling namun tangan besar Naruto mencegahnya. Dengan lembut Naruto meraih wajah Sakura, memaksa gadis musim semi itu menghadap padanya dan sedikit menarik tengkuknya hingga wajah mereka hanya berjarak lima centi. Sakura yang tidak siap tentu terkejut. Hei, ia kesini bukan untuk ini. Ia hanya ingin meminta tolong.
"Naru—"
"Sakura" panggilnya merdu
"Kau, terlalu dekat" cicit Sakura
"Dengarkan aku" pinta Naruto
"Ya-ya?"
"Aku membutuhkanmu" ucap Naruto
"Ap—"
"Aku, belum selesai bicara jadi jangan potong pembicaraanku"
"I-itu" kata Sakura semakin gugup
"Jadilah kekasihku" lanjut Naruto dengan mantap
"Eh?" Sakura tidak bisa mendengar apa yang baru saja diucapkan Naruto
"Kau mendengarku?" tanya Naruto
"..." Sakura hanya diam
CUP
Mata Sakura terbelalak. Jantungnya berdegup dengan kencang. Otak cerdasnya seakan tumpul. Pun dengan reflek tubuhnya. Butuh beberapa detik hingga ia menyadari kalau Naruto tegah mengecup pipinya. Dan tepat saat itu ia mendorong Naruto, namun pemuda itu malah menggenggam pergelangan tangannya.
"Aku akan menjadi pasanganmu nanti, itu jawabanku" kata Naruto dengan wajah serius
"M-maaf, ak-aku harus pergi" kata Sakura cepat-cepat kemudian menepis tangan Naruto dan berlari dari sana.
Pintu terbuka, Sakura berlari tanpa melihat Shikamaru yang baru saja hendak menyapanya. Pemuda Nara itu menatap bingung Sakura. Penasaran ia sedikit melihat ke dalam. Dan ketika ia mendapati Naruto yang tengah menyeringai penuh arti kemudian sedikit tertawa sambil menutupi wajah dengan sebelah tangan, ia terhenyak. Ada perasaan takut menyelimuti benaknya. Hingga ia mengurungkan niat untuk masuk dan memilih pergi.
"Apa yang barusan itu?" gumam Shikamaru
Di dalam, Naruto tertawa. Namun itu tak lama, karena setelahnya ia kembali diam. Mata birunya menatap nyalang dan ia sedikit menjambak poninya.
"Kurasa otakku sedikit konslet" gumam Naruto
"Tck. Apa yang baru saja kulakukan? Kenapa aku mengatakannya?" gumam Naruto
"Apa aku menyukainya?" tanya Naruto
Naruto memegang dadanya dengan tangannya yang lain. Lagi. Degupan itu kembali. Degupan menyenangkan yang menggetarkan hatinya hingga rasanya darahnya berdesir. Pelan dan nyaman. Cerah dan hangat. Namun entah kenapa ada rasa sesak disudut lain hatinya.
"Benar. Aku menyukainya. Aku menyukai Sakura. Sangat menyukainya" gumamnya hampir seperti isakan
"Dia yang pertama yang bisa membuatku merasakan ini"
"Dia yang pertama yang bisa membuatku merasakan keindahan ini"
"Dia yang pertama yang bisa membuatku—"
"—" lanjut Naruto tanpa suara
.
Sasuke beristirahat ditaman. Sedikit membasahi wajahnya untuk menjernihkan pikirannya yang mulai lelah. Ya, ia lelah. Lebih tepatnya lelah berpikir dan menduga. Ini sudah lewat dari jam makan siang tapi ia belum menemukan Hinata. Gadis cengeng itu pasti tengah menangis di suatu tempat. Atau hipotesanya mengatakan bisa jadi Hinata kelelahan dan ketiduran hingga tak sadar hari sudah mulai menjelang sore. Menyadari itu, sedikit senyum tersunggin di wajah Sasuke.
"Dasar" gumamnya
Sasuke beranjak, ia mulai berjalan. Mungkin duduk di kursi bawah pohon akan lebih menenangkan. Namun ketika ia melangkah kesana, tidak sengaja kakinya tersandung sesuatu hingga . . .
BRUKH
"Ittai" rintihnya sambil berusaha berdiri. Namun ketika mata hitamnya melihat sebuah kaki terjulur dari balik semak-semak, dahinya mengernyit.
"Tidak mungkin ada mutilasi disini" dengusnya hendak pergi
"Tunggu"
Buru-buru ia mendekat ke semak-semak kemudian menyibaknya. Dan setelahnya Onyx hitam itu pun membulat. Disana, didepannya, seorang gadis bersurai indigo dengan segala keanehannya tengah tertidur di tanah. Seragam dan wajahnya kotor. Pun dengan riasannya yang berantakan. Kentara sekali kalau ia habis menangis. Sasuke menatap miris sekaligus lega. Dengan hati-hati ia menyentuh tubuh Hinata dengan satu jari. Namun gadis itu terlalu lelap untuk merasakan sentuhannya. Menyadari kalau tidak mungkin Hinata bangun, iapun memilih menggendong tubuh itu. Mengangkatnya di punggung dan memboyongnya ke dalam mobil.
.
.
.
- Satu jam kemudian –
.
.
.
"Nggh" lenguh Hinata
"Hangat" katanya dalam hati
Hinata membuka mata, sedikit mengerjap karena cahaya yang menyilaukan mata. Ia mulai duduk, sebuah jaketpun terjatuh. Dilihatnya jaket itu untuk beberapa saat. Dan ia mulai sadar kalau ia sudah tak lagi berada dibalik semak-semak. Dengan panik ia mulai mencoba keluar dari mobil, namun suara baritone yang familiar berhasil menghentikannya.
"Kau sudah bangun?" tanya Sasuke
"Eh? Sa- Sasuke-kun?" tanya Hinata
"Kenapa aku disini? Tidak, kenapa kau disini?" tanya Hinata bertubi-tubi
"Bukankah harusnya kau berterimakasih padaku? Kalau kau masih disana, besok pagi pasti media gempar karena menemukan mayat seorang gadis dibalik semak-semak" kata Sasuke sinis
Hinata mencengkeram jaket Sasuke. Namun tiba-tiba Sasuke menyodorkan sebuah susu kotak hangat. Hinata pun menoleh, menatap tidak mengerti sosok sahabat sang kakak. Bicaranya sinis dan tidak peduli, namun sikapnya sungguh perlu dipertanyakan.
"Kau pasti belum makan atupun minum" kata Sasuke perhatian
Hinata masih diam. Kesal, Sasuke meraih tangan mungil itu, meletakkan susu kotak dan mengarahkan jari-jemari Hinata untuk menggenggam dengan benar.
"Kenapa?" tanya Hinata tiba-tiba
"Kenapa apa maksudmu?" tanya Sasuke balik
"Kenapa kau bersikap baik padaku?" tanya Hinata
"Apa harus ada alasan seseorang bersikap baik?" tanya Sasuke
"Benar. Tidak ada. Tapi berbeda untukku. Tidak ada yang mau bersikap baik padaku" jawab Hinata lirih seraya menggenggam erat susu kotaknya
"Ada" jawab Sasuke
"Eh?"
"Kau hanya perlu keluar dari zonamu dan membuka mata" lanjut Sasuke
"Zona?" gumam Hinata
"Kenapa kau selalu mengatakan itu?" lanjutnya lirih
"Karena aku ingin?" jawab Sasuke yang lebih mirip ke pertanyaan
Hinata semakin meremas susu kotaknya. Selalu dan selalu seperti ini. Dan inilah alasan kenapa ia sangat membenci Uchiha Sasuke. Ningrat dingin dengan mulut berbisa dan tingkat sok tahu yang melebihi puncah Everest. Bicara seolah-olah ia tahu segalanya, memahaminya dan paling mengerti dirinya. Mengusik seperti lebah yang menyengat burung disangkar.
"Hanya karena kau ingin, bukan berarti kau bisa berhak bicara yang tidak-tidak" kata Hinata dalam hati
"Kenapa kau tak masuk sekolah?" tanya Sasuke mengalihkan pembicaraan
"Karena aku ingin?" balas Hinata singkat kemudian menusuk susu kotaknya seolah menusuk sang pemberi dengan belati
Sasuke tersenyum. Tidak, maksudnya ia menyeringai. Hinata tampak berbeda.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya lagi
"Tidak" dusta Hinata kemudian meminum susu kotak
"Kau pandai berbohong" komen Sasuke sontak membuat Hinata menoleh
"Bohong?" tanya Hinata
"Aku tidak—" lanjut Hinata namun dibungkam oleh telunjuk Sasuke
DEGH
"Kau tahu. Melihatmu yang sok tegar membuatku bertanya-tanya" kata Sasuke dengan wajah serius
"Apakah kau Hinata yang selama ini kukenal atau bukan"
"Kau, tampak berbeda. Tatapanmu, reaksimu, bicaramu bahkan nada suaramu"
"Lihat, kau bahkan tak takut denganku dalam jarak sedekat ini"
"Dimana Hinata yang selalu berteriak takut saat melihatku? Dimana Hinata yang selalu ingin kabur saat dengar suaraku?"
Tubuh Hinata bergetar. Ingin rasanya ia menyumpal mulut berbisa itu, namun tubuh dan pikirannya berkhianat. Ia tidak bisa melakukan apapun. Semua anggota tubuhnya serasa telah terkunci dengan Sharingan. Dan yang bisa ia lakukan hanyalah diam, mendengar apa yang akan diucapkan sang ningrat Uchiha.
"Dan dimana Hinata yang selalu menyebut nama sang kakak disaat seperti ini?" lanjut Sasuke sukses menohok Hinata
Mata gadis itu berkaca-kaca. Otaknya tidak lumpuh untuk tidak mengingat segala perlakukan sang kakak hingga ia berakhir disini. Dan ketika ia kembali mengingat . . .
"Aku tidak menyuruhmu menangis. Aku hanya minta kau menjawabku. Jadi berhenti menangis dan jawab pertanyaanku"
"Ya, aku memintamu menjawab, bukan berbohong"
"Mari kita anggap ini selesai, dan aku akan memaafkanmu"
"Sekali lagi kau melangkah, maka kuanggap kau benar-benar melakukannya"
TES
TES
Sasuke terhenyak. Hinata menangis. Gadis itu kembali menangis. Namun ketika ia baru saja hendak membuka bibirnya . . .
GREP
Hinata sudah memeluknya. Sontak itu membuat mata Sasuke membulat. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Yang ia tahu ia hanya sedikit memprovokasi Hinata. Tapi sungguh, tidak ada niatan untuk membuat gadis itu kembali menangis. Ia hanya ingin jawaban. Jawaban atas segala hipotesanya. Jawaban atas kegilaannya. Bukan tangisan, bukan isakan, juga bukan rintihan memilukan yang membuat hatinya serasa sesak.
"Hiks" isaknya pilu
"Hina-ta?" panggil Sasuke lembut
GREP
Hinata memperkuat pelukannya. Membuat Sasuke merasa semakin sesak. Tangannya terulur, ingin membalas pelukan dari tubuh ringkih itu, namun ia tak sanggup. Tangannya berhenti begitu saja. Ya, ini salahnya. Andai ia tidak termakan racun dari otaknya, Hinata tidak akan menangis. Andai, andai . . .
"Kau tidak salah. Aku yang salah" kata Hinata lirih seolah tahu apa yang dipikirkan Sasuke
"Heh?" Sasuke tersentak
"Naruto-nii juga tak salah. Semua salahku, Hanya salahku. Aku yang egois. Harusnya aku menerima permintaan maafnya. Harusnya aku tak kabur darinya. Harusnya aku tak membuatnya marah" rapal Hinata
"Tck" Sasuke menggigit bibir bawahnya
"Harusnya—"
GREP
Sasuke membalas pelukan Hinata. Pemuda itu mendekap tubuh Hinata erat. Hinata terdiam sejenak, namun begitu merasakan kalau pelukan Sasuke hangat, ia mulai membenamkan wajahnya. Mencari tempat nyaman di dada bidang itu dan kembali terisak.
"Aku bodoh. Mataku tak dapat melihat yang lain kecuali dirimu. Namun bibirku berkhianat. Aku tahu itu bukan air mata untukku. Namun tetap saja ini rasanya sakit" kata Sasuke dalam hati
"Aku diam, karena memang tak ada yang bisa kulakukan kecuali itu. Dari hari ke hari, aku hanya bisa melihatmu. Kau dekat namun terasa jauh. Masih bolehkah aku mengharapkanmu?" kata Hinata dalam hati
"Naruto-kun?" lanjut Hinata
To Be Continue
SURPRISE!
Nao kembali. Hehehe, maaf lama. Banyak sekali yang terjadi setelah update chapter 6. Termasuk Nao yang jatuh sakit anemia dan lambung. Hingga fic ini terpaksa dipending. Sungguh, Nao minta maaf.
Semoga, chapter ini mengobati rasa rindu dan penasaran kalian terhadap bagaimana hubungan NaruHina. Bagaimana? Banyak kejutan disini. Pasti banyak dari kalian yang mungkin sedang mengumpati Nao. Seperti 'apa yang dipikirkan Nao sih?' 'Nao sinting!' 'Pengen gue bedah tuh otak Nao' dan lain sebagainya.
Maaf, sungguh. Nao hanya sudah gatal dengan hubungan mereka. Uhm, sepertinya ini mulai memanas, bukan begitu? Dan ya, chapter depan kemungkinan besar adalah puncak konflik. Juga jangan benci Sakura okey? Nao tak sekejam itu hingga ikut menistakannya. Sakura, gimana ya. Dia hanya tidak mengerti. Begitu saja.
Maaf kalau kurang memuaskan, tidak nyambung, feel tidak kena, typos atau kejanggalan lain yang tidak bisa disebutkan. Nao harap kalian tetap menikmatinya.
Tambahan. Happy Birthday untuk Uchiha Sasuke. Maafkan Nao yang telah membuatmu jadi terlihat menyedihkan ya, sungguh gomen.
Dan sebagai reader yang bijak, dimohon untuk memberikan dukungan. Karena disini author tak digaji. Hanya kalimat dari kalian saja yang serasa uang dimata Nao. Maaf ngawur, efek belum gajian.
Oh ya, sekiranya sekian dari Nao, terimakasih atas review, fav dan follownya.
Selamat bertemu next chapter.
Best Regards
Nao Vermillion
