Main Character :
Namikaze Minato & Uzumaki Kushina

Genre : T

Disclaimer :
Naruto belongs to Kishimoto


Minato POV

Sepertinya Kushina bingung kenapa aku mengajaknya ke kuil. Sebenarya bukan hanya mau kusuruh membantu manyapu. Aku mau dia mengingat semua tempat yang kami kunjungi bersama. Walaupun kemarin itu cukup biasa, maksudku sudah sering kan orang berkencan di taman hiburan. Sebenarnya kemarin aku kehabisan ide, tapi ya sudahlah toh tak ada ruginya aku mengajaknya ke sana. Aku dipeluknya terus.

"Apa yang kau tertawakan?" Kushina melirikku.

"Ha? Bukan apa-apa." Aku tersenyum lagi.

"Aku tak yakin. Apa yang kau tertawakan?"

"Kau sepertinya menikmati tugasmu itu." Aku tertawa.

"Jangan tertawa! Ini gara-gara kau tahu. Setiap haari mengajakku ke tempat aneh dan menyenangkan." Ia menggerutu sambil menyapu dedaunan yang jatuh.

"Ya sudah nanti kutraktir ramen."

"Benar?" aku tahu kau paling suka ramen, jadi tak mungkin menolaknya.

"Iya, tapi 1 mangkok saja." Aku memahami keadaan kantongku yang sekarat.

"Ah...dasar pelit. Ya sudahlah 1 mangkok juga tidak apa."

Maaf Kushina, tapi kantongku memang sedang sekarat.

oOo

Kedai Ramen

"1 mangkuk ramen segera datang!" ujar si penjaga toko.

"Eh? 1? Kau tidak Minato?" Kushina menoleh ke arahku.

"...tidak usah, aku tidak lapar." Aku tersenyum sambil menahan rasa laparku.

Growl...

"Perutmu mengatakan yang sebenarnya. Tunggu, apa aku bawa uang ya?" ia merogoh-rogoh tasnya berusaha mencari dompetnya.

"...maaf Minato. Aku tidak bawa."

"Tidak apa. Aku tidak apa-apa."

"1 mangkuk ramen sudah siap. Silahkan menikmati." Si penjual segera meletakkan mangkuk itu di depan kami dan pergi. Tokonya memang ramai karena itu ia sibuk sekali.

"Bagi 2 ya. Oji-san 1 mangkuk kosong lagi." Kushina memanggil penjual tadi sambil mengangkat tangannya.

"Baiklah tunggu sebentar."

"Maaf. Mangkuknya terpakai semua." Ia meminta maaf pada Kushina.

"Tidak apa. Terima kasih, Oji-san."

"Sama-sama."

"Ini, kau makan dulu saja. Kau lapar,kan?" Kushina mendorong mangkuk itu ke depanku.

"Eh? Tidak usah. Kan aku janji akan mentraktirmu." Aku mendorong mangkuk itu ke depan Kushina.

"Aku takkan makan kalau kau tak makan." Ia menyilangkan kedua tangannya.

"...mau makan berdua?" aku memang takkan menang bicara melawan Kushina.

"Be-berdua? Maksudmu semangkuk be-berdua?" wajahnya merah padam.

"Iya, kan mangkuknya habis. Atau mau menunggu yang lain selesai baru kita makan? Nanti ramennya dingin lho." Aku tersenyum melihat ekspresinya.

"...baiklah." ia menghela napas dan mengambil sumpit dari tanganku.

Lalu kami mulai makan. Sebenarnya aku juga malu, bukan hanya Kushina saja. Jantungku berdebar kencang ketika wajahnya ada di dekatku. Ditambah lagi, banyak orang.

Aku mulai menyeruput ramennya. Mienya memang panjang-panjang. Yang satu ini terlalu panjang. Baru saja aku hendak menyeruput mie itu, aku melihat Kushina juga menyeruut mie yang sama denganku. Tapi ia tidak sadar. Wajahku langsung memanas dan spontan menggigit mie tadi dan memutusnya.

Jangan sampai terjadi lagi. Bagaimana kalau tadi aku tidak sadar? Mungkin saja aku ciuman dengan Kushina gara-gara mie tadi. Aku makan toppingnya saja.

"Jangan makan semua." Kushina melirik tanganku yang mengambil toppingnya.

"Iya, nanti kusisakan untukmu." Aku meringis.

oOo

Kurasa aku harus mulai menabung lagi. Kantongku benar-benar kosong.

Yah, setidaknya kami sudah ada di persimpangan depan rumahnya. Tidak akan mampir kemana-mana lagi.

"Jangan lupa, besok aku akan menjemputmu. Jangan coba-coba lari."

"Iya,iya. Aku tahu, aku tak akan lolos darimu." Ia sepertinya mulai terbiasa dengan keadaan ini. Walaupun kadang ia masih mencoba lari dariku.

Aku sepertinya harus minta maaf soal yang tadi. "Anu, aku minta maaf soal yang tadi."

"Masalah apa?" Kushina menoleh ke arahku.

"Yang tadi saat di tempat ramen..."

"Apa? Soal ramen tadi? Tidak apa, Minato. Kau juga lapar kan?" ia tersenyum dan menepuk pundakku.

"Iya tadi aku memang lapar, tapi tetap saja tadi itu salah..." aku menundukkan kepalaku. Mengingat lagi anggapan orang lain yang melihat kami tadi.

"Apanya yang salah?" Kushina masih belum bisa menangkap maksud perkataanku. Ya Tuhan...kenapa dia tidak peka?

Aku menghela napas, mencoba menstabilkan emosiku. "...coba kau ingat-ingat lagi bagaimana cara kita makan ramen itu."

"Eh? Tadi kita makan semangkuk berdua...eh...se-semangkuk...?" wajahnya merah. Dia mulai salah tingkah.

"Se-semangkuk..." ia mengulangi lagi kata itu. Kali ini wajahnya semakin memerah. Wajahnya benar-benar lucu. Aku ingin sekali tertawa.

"Iya. Kau baru sadar sekarang? Dasar bodoh." Aku memalingkan wajahku, berusaha menutupi senyuman di wajahku.

"...Minato..."

"Apa?"

"Kenapa...aku baru sadar sekarang?!" ia berteriak sambil mengguncang-guncang tubuhku.

"Kenapa?!"

"Jawab aku, Minato!" guncangannya makin keras.

"Kalau begitu berhentilah mengguncang-guncangkan tubuhku."

"Oh...maaf."

"Itu karena kau...bodoh dan nggak peka."

Ia hanya diam dan mengangguk. Sepertinya ia menyadari kebodohannya itu. "...jadi itu sebabnya kau minta maaf padaku? Karena tidak enak padaku?"

"Tidak sepenuhnya begitu, tapi yah...aku juga untung sih." Aku tersenyum. Teringat lagi akan mie itu.

"Untung?"

"Orang di sekitar kita pasti mengira kita pacaran. Lagipula, aku bisa saja mendapatkan ciuman kalau aku mau." Aku berjalan mendahuluinya.

"Ciuman? Aku tidak berniat menciummu tadi." Ia berusaha menyusulku.

"Tadi kita sempat makan mie yang sama. Hanya aku yang tahu, sementara kau terus saja menyeruput mie itu. Aku hanya perlu pura-pura tidak tahu dan terus menyeruput dan..."

"Ba-bagaimana bisa?" Aku menoleh ke arah Kushina, wajahnya kini sudah semerah rambutnya.

"Untungnya tadi aku memutus mie tadi."

"...Minato kau..." ia menoleh ke arahku.

"Apa?"

"Bukan apa-apa." Ia kembali memalingkan wajahnya yang merah itu. Memangnya kau mau bilang apa tadi? Jadi kepikiran...

"Hei, sudah sampai." Aku menghentikan langkahku.

"Eh? Oh ya."

"Besok kita berangkat bareng. Jangan kabur." Aku menepuk kepalanya.

"..." ia diam dan memegang tanganku yang ada di atas kepalanya.

Aku mengangkat tanganku dan mulai melangkah. "Sampai besok, Kushina. Jaa..."

Ia masih diam mematung di depan rumahnya sambil menundukkan kepalanya. Dasar, kau ini...

oOo

"Otou-san...tadaima!" aku melepaskan sepatuku dan menggantinya dengan sandal rumah.

"Kau sudah pulang ya, Minato. Kemana saja kau?" Suara Otou-san terdengar dari dalam ruang tamu tamu.

"Ya...habis pergi jalan-jalan dengan Kushina." Aku memijat leherku sambil terus berjalan.

"He? Kau habis kencan dengannya?" Otou-san segera keluar dari ruang tamu begitu mendengar kata Kushina.

"Bukan kencan, tapi mirip." Aku menjauhkan wajah mesum Otou-san dari wajahku.

"Apa kau melakukannya?" Otou-san mulai mengeluarkan kemesumannya.

"Tidak, apapun yang Otou-san pikirkan, kami tidak melakukan apa-apa." Aku berjalan melewatinya, berusaha menghindari semua kemesumannya.

"Memangnya kau tahu apa yang kupikirkan?"

"Pokoknya semua yang mesum-mesum." Aku terus melangkah menuju kamarku.

"Dasar. Mentang-mentang aku ini mesum bukan berarti semua yang di pikiranku mesum."

"Terserah Otou-san saja."

oOo

"Hah..." aku membaringkan tubuhku di kasur. Hari ini melelahkan.

Besok juga aku harus bangun pagi agar tidak terlambat menjemput Kushina. Bagaimanapun juga, aku takkan menyerah sampai aku mendapat alasan yang jelas.

Aku tahu kau menyukaiku Kushina, tapi kenapa kau menyiksa dirimu?

Kau mencoba menghapus perasaanmu padaku dengan menjauhiku. Tapi aku takkan membiarkan perasaan itu hilang. Dia gadis pertama yang berhasil mengambil hatiku. Takkan kubiarkan kabur sebelum aku mendapatkan hatinya seutuhnya. Sisa 2 minggu ini akan kugunakan semaksimal mungkin. Tunggu saja, Kushina. Kau akan membalas cintaku sepenuhnya.


Oke, sekian Chap.7

Maaf kalo agak lama. Tugasku menumpuk. Gomenasai.

Kalo ada typo dan ceritanya kurang memuaskan, mohon dimaafkan.

Chap. 8 segera menyusul :)