Author's Note :

Megu-chan is here! XD

Hiahahaha...! Basa-basinya nanti, kita ke review reply dulu...! ^^

Nazuki. Rinchan: Rinchan! -peluk- Iya nih... sebisa mungkin saya nge-update kilat, supaya nggak bikin orang kegantung lama-lama... Nyahahahaha... padahal saya suka lho, bikin orang nge-gantung... xixixixi...

FreiyA_SnowDropS : Iya... updatenya rata-rata jam segitu... tengah malem sampai subuh. Karena saya bisa dapat kesempatan OL di kompi jam segitu, saya produktif kalo lagi sepi, dan saya malu berat kalo fic jelek ini dilihat sama orang-orang rumah. Papa saya bisa jantungan kalo tahu saya nulis yaoi...! -peluk-peluk Frei- Kita sama-sama menanti fic SasuNaru... soalnya minggu ini minggu sibuk kayaknya, nggak banyak SasuNaru yang diupdate tiap hari... TT ~ TT
Dipanggil Megu-megu juga nggak pa-pa kok! Temen MP saya aja manggil Mei-mei... (dari Megumi jadi Mei-mei, dimana nyambungnya?)
FS saya... buka aja di profil, nggak bisa di ketik di sini... diedit sama FFN. =)
Hiya, sayang banget Iruka cuma jadi piguran... nyuuuu... tapi nggak ada ide buat KakaIru... TT ~ TT
Terpaksa Karin yang jadi penculik... saya susah nyari posisi itu. Nyehehehehe... Arigato for the support... Frei harus semangat juga ya! XD

Lovely Lucifer : Pairingnya nggak bakal ditambah kayaknya... cerita ini memang fokus di SasuNaru... Yang lain bakal nyusul kok, memang ada rencana mereka bakal masuk di cerita... tapi lagi-lagi cuma figuran (author kejam!) Itachi bukan cuma dikasih pacar, bakal dikasih calon istri! XD Apa? Kawin? Mau sih... tapi belum ada calon... nyohohoho...

Yes-this-is-Ghee : Nyohohoho... senpai, saya suka kalo bikin orang kaget! XD Apa lagi kalo bikin orang nge-gantung di kata ternyata! XD -ditabok- Di chapter ini yang ada hanyalah penjelasan soal bau citrus... terus soal Kakashi dan Sai, di chapter-chapter berikutnya. ^^
Iya... nggak ada KakaIru... TT-TT Sumpah, ide saya habis buat SasuNaru... nyuhuhuhu...

Ok... sebelum masuk cerita, sedikit penjelasan lagi ya! First, ini POV seseorang... tebak aja sendiri... gampang kok! ^^ Terus... maaph kalo saya nggak pinter bikin fic dari sudut pandang pertama... Yaah... saya juga lagi nyari-nyari gaya penulisan yang cocok dan tepat buat saya!

So... selamat membaca! ^^


Disclaimer:

I do not own Naruto and all the characters are belongs to Masashi Kishimoto...


From Storm 'til Shine

6

Scent and Sapphire


Untuk yang ke sekian kalinya dalam hari ini, dua jari panjang itu menubruk dahi Sasuke lagi.

"Tidak sekarang, Sasuke, tidak sekarang…" kata sang kakak sambil tersenyum. Itachi pun menarik telujuk dan jari tengahnya itu.

"Ayolaaah!" rengek Sasuke, "Masa' di hari terakhir kita di sini kita belum juga main sedikitpun? Aku bosan main PS terus…"

"Baka-outotou…" ucap Itachi lagi, disusul dengan helaan napas, "Kau 'kan sudah tahu, kita datang ke sini bukan untuk berlibur? Ayah dan ibu masih sibuk dengan bisnis mereka. Kakak harus tetap di sini dan mengerjakan ini."

Sang Uchiha bungsu melirik apa yang aniki-nya maksudkan dengan 'ini'… tumpukan dokumen tebal yang rasanya tak habis-habis Itachi kerjakan, ditambah laptop hitam yang selalu saja setia menemani pemuda itu.

Rupanya aku tidak lebih penting dari semua benda memuakkan itu!

"Huh…" dengan beringsut Sasuke berjalan meninggalkan kakaknya. Lalu sesuatu terlintas di otakmya dan ia berhenti…

"Kalau begitu, boleh 'kan aku main di luar?"

Sesaat Itachi tampak ragu. Ia diam dan berpikir. Tapi akhirnya ia mengangguk sambil tersenyum tipis.

Sasuke pun segera berlari meninggalkannya, menuju ke luar villa yang mereka sewa ini.


~Sasuke POV~

Aku berjalan menyusuri jalan kecil yang rapi ini. Jalannya tidak terlalu lebar, tapi tertutupi aspal dengan sempurna. Enaknya lagi, hampir tidak ada kendaraan yang lewat. Wajarlah… tidak banyak orang yang mau membawa serta kendaraan pribadinya saat liburan di lokasi seperti ini… tapi aku kenal tiga orang yang masuk kategori pengecualian… ayah, ibu dan aniki.

Fuuh… memang aku yang bodoh sih. Tapi wajar 'kan kalau aku memaksa ikut? Bayangkan saja. Saat kau sedang liburan musim panas, ayah, ibu, dan kakakmu berniat pergi ke salah satu lokasi yang terkenal dengan villa dan perkemahannya. Aku satu-satunya yang tidak diajak! Jelas saja aku memaksa untuk ikut.

Eh… siapa sangka mereka datang kemari untuk melobby sang pemilik dan berniat untuk membeli tempat ini?

Huuuh… tahu begitu, aku turuti saja ajakan Sai yang liburan ke Hawaii bersama paman dan bibi!

…menyebalkan.

Aku melihat-lihat ke sekeliling. Tadinya aku benar-benar tidak berniat untuk keluar. Tapi bosan juga hanya bisa main game dan mengerjakan PR musim panas selama enam hari berturut-turut di dalam rumah. Hitung-hitung ini hari terakhir kami di sini… yaaah, walaupun ajakan terakhirku untuk bermain dengan aniki juga ditolak.

Oh, ya, kalau tidak salah… ada danau di dekat sini! Siapa tahu danaunya tidak dalam, dan aku bisa main air… hahaha, biar saja aku dimarahi. Dikiranya aku tidak kesal dengan tingkah mereka yang sok sibuk? Lagipula, kapan lagi aku bisa main di luar tanpa diikuti perempuan-perempuan menyebalkan yang sedikit-sedikit memanggil, 'Tuan muda jangan begini…,' atau, 'tuan muda jangan begitu…' dan jangan-jangan yang lainnya… Berbagai jangan yang membuatku sama sekali tidak leluasa! Aku jadi kesal lagi. Gara-gara mereka aku tidak punya teman selain sepupuku Sai. Di villa sekarang memang ada seorang pembantu, tapi untungnya ayah dan ibu terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri dan lupa memintanya untuk menjagaku baik-baik.

Aku pun mempercepat langkahku, hingga akhirnya aku malah berlari di atas jalan kecil rata yang tertutupi aspal ini. Aku pun melihat papan yang membuatku tahu bahwa danau itu sudah dekat. Aku semakin bersemangat. Menyusuri jalan ini dan memenuhinya dengan suara langkahku.

Setelah sampai, aku hanya bisa menghembuskan napas kecewa. Sebuah peringatan tertera di sana:

KEDALAMAN 10 METER, DILARANG BERENANG

Hhh… Tuhan… apa Kau tidak kasihan padaku...?

Aku hampir berbalik pulang. Hampir…

Tapi mataku menangkap sebuah sosok yang membuat kakiku terpaku.

Seorang anak, anak lelaki… sepertinya seumuran denganku. Berambut pirang, sedang duduk di bawah bayang pohon yang ada di tepi danau. Dan dia… dia sedang menangis.

Tanpa sadar aku berjalan mendekatinya.

Apa… apakah dia sama sepertiku? Orangtuanya dan kakaknya tidak bisa menemaninya bermain, dan akhirnya dia menangis? Kalau memang begitu, mungkin aku bisa mengajaknya bermain!

Saat aku sampai ke dekatnya, ia menyadari keberadaanku. Ia lalu menghapus air mata dengan tangan kanannya, lalu membuang muka. Tepat ke arah pohon yang ada di sebelah kirinya.

Aku pun duduk di sebelah kanannya, agak jauh, di tempat yang tidak tertutupi bayang pohon. Toh matahari sore tidak terlalu panas, hangat malah.

Mataku tidak beralih darinya, dan sebaliknya, ia terus tak mau menatapku. Yang bisa kulihat hanyalah rambut pirangnya. Ia tetap tidak mau memperlihatkan matanya, mata yang… entah warnanya apa, tapi aku yakin masih dibasahi air mata.

Tadinya aku ingin bertanya, 'Kenapa kau menangis?'

Tapi pandangan mataku lalu tertumbuk pada lututnya. Merah berdarah… tergores. Luka goresnya cukup parah. Ia masih sesegukan, lalu menutupi lututnya dengan tangannya. Ternyata dia tidak ingin aku terus melihat lukanya.

Ia memandangiku tajam dengan matanya… Tapi bukannya kesal, aku malah terpesona… terpesona pada mata biru langitnya yang indah, tapi masih terus dilengkapi dengan butiran air mata.

Kali ini, aku seharusnya bertanya, 'Apa kau terjatuh?'

Tapi batal lagi. Bodoh! Tentu saja ia terjatuh! Mana mungkin luka seperti itu hasil dicakar beruang atau digigit alien?

Tapi… tasanya ada sesuatu yang salah di sini…

Anak ini… kalau memang terjatuh dan terluka, kenapa dia tidak pulang ke villanya, atau mungkin kemahnya, lalu diobati oleh orangtuanya? Kenapa dia malah menangis sendirian di sini?

Apa… apa dia melarikan diri dari rumah?

Ah, mana mungkin ada anak yang mau minggat di saat keluarganya sedang liburan di tempat seperti ini? Anak yang minggat sekalipun pasti ingin pulang lagi! Bagaimana jadinya kalau kau tertinggal di tempat yang jauh dari rumahmu?

Sedikit banyak, aku juga masih terpukau dengan mata langit biru itu… kenapa ada mata seindah ini? Sangat berbeda dengan mata onyx keluarga Uchiha yang kutemui setiap hari. Warnanya sangat cantik… biru langit… tapi, kenapa mata itu harus terus ditutupi oleh air mata?

Aku sudah tidak bisa berpikir lagi. Toh berpikirpun, semuanya menemui jalan buntu! Ini tidak semudah PR musim panasku…

"Kenapa kau menangis?" tanyaku pada akhirnya.

Ia menghapus air matanya lagi. Dan tidak lupa membuang muka lagi dariku. Tetap saja ia tak menjawab. Tak ada kata apapun yang keluar dari bibirnya.

Aaah… capek aku berurusan dengan anak ini…

Aku lalu menidurkan diriku di atas permadani rumput itu. Mataku lalu menatap tepat ke angkasa. Langit biru terbentang luas di atas sana, sebiru mata itu. Indah.

"Hari ini langitnya indah sekali lho, sayang kalau kau tidak menikmatinya dan hanya menangis saja."

Ya! Aku tahu aku tidak pandai berbasa-basi seperti Sai maupun kakak. Tapi tak pernah kusangka yang akan kudengar sebagai balasannya adalah tiga kata yang berbunyi…

"Aku benci langit."

Aku tertegun. Setelah sekian banyak pikiran dan kalimat yang kuluangkan untuk anak ini, cuma itu yang dikatakannya? Dengan dingin pula! Cih, anak menyebalkan!

Hampir saja aku bangkit dan meninggalkannya. Tapi belum sempat aku berubah posisi sedikitpun, ia membuka mulutnya lagi.

"Ia merebut ayahku… dan juga membuatku seperti ini."

Aku terdiam sambil mengernyitkan dahi… soal ayahnya sih, aku tidak tahu. Tapi mana mungkin langit bisa membuatnya jatuh dan terluka? Langit mana yang mau capek-capek turun ke bumi hanya untuk menyandung atau mendorongnya?

Air mata mengalir lagi di wajah anak itu.

"A-aku benci langit…" Ia lalu menangis terisak-isak.

Sungguh, aku tak mampu melihat pemandangan ini lebih lama. Padahal aku bahkan tidak pernah peduli pada seberapa banyakpun air mata yang keluar dari mata anak-anak perempuan yang kutolak.

Tapi kenapa anak ini… kenapa ini membuatku begitu sesak?

Ingin rasanya aku mendekat dan merengkuh anak ini… Tapi… hei! Kenapa sampai seperti itu? Sadarlah! Dia anak yang baru kutemui! Aku bahkan belum tahu namanya!

Aku bangkit dari baringku, tapi aku hanya bisa diam dan terpaku… aku tidak tahu bagaimana cara menenangkan seseorang yang sedang menangis… Sial. Jangankan melakukan, memikirkan akan melakukan itu saja tidak pernah! Aaagkh….! Bingung!

Kutatap ia baik-baik… sakitkah lukanya? Atau karena kata-kataku? Apa…? Memangnya aku mengatakan apa selain langit yang begitu indah? Ah! Apa dia merasa kalimatku saat menyarankannya untuk melihat langit itu adalah ejekan? Hinaan? Dan… akhirnya dia… uugh… berarti dia menangis karena aku?

"A-aku… aku ingin terbang di langit," kata anak itu, sempat menenangkan hatiku yang panik… SEMPAT! Kalimat bodoh macam apa lagi itu? Tidak lebih baik dari kalimat 'aku benci langit'!

Aku hanya diam. Masih tidak tahu mau berkata apa.

Anak lelaki pirang ini berhenti sejenak. Ia menatapku dengan matanya yang, meskipun basah, sangat cantik itu…

"Aku… mau jadi pilot." Ucapnya.

Oh… aku mengerti. Sempat kupikir, lantaran rambutnya yang pirang dan matanya yang biru, orangtuanya membodoh-bodohi dia dengan mengatakan bahwa dia adalah malaikat yang akan punya sayap dan bisa terbang!

Matanya tak lepas dariku… menatap tepat ke mata onyxku. Bohong kalau kubilang jantungku berdetak normal sekarang. Ia melanjutkan,

"Hari ini, di perkemahan sini… kami datang untuk pelatihan…"

Aku tetap diam. Tapi aku mulai bisa membaca kisahnya… sedikit. Hanya sedikit. Dia ingin jadi pilot, dan datang kemari untuk ikut training… terus… lho? Apa hubungannya dengan luka, ayah dan langit?

Ia lalu membuang wajahnya dariku. Matanya menerawang. Jika mata itu adalah langit, pastinya sedang berkabut sekarang…

"…senior-senior itu bilang… kakek tak bisa ke sini. Jadi tidak ada yang menghalangi mereka. Tadinya kupikir aku bisa melewati pelatihan ini, sekeras apapun mereka… tapi…"

Air mata mulai mengalir lagi di pipinya.

"M-mereka bilang aku tak pantas, ka-karena itu…" ia terhenti sejenak karena isakannya, "karena itu aku tak diikutkan pelatihan…"

Air mata terus mengalir. Rasa sesak memenuhi dadaku lagi, tapi aku masih takut untuk melakukan apapun padanya.

"Berkali-kali…" katanya, "berkali-kali aku memohon untuk diikutkan, tapi mereka tetap tak setuju… terakhir… ta-tadi mereka bilang akan membantuku," ia berhenti lagi. Membiarkan isakan keluar dari mulutnya.

"…tapi bohong… bohong. Mereka hanya mengerjaiku…" lanjutnya.

Kali ini tak ada isakan, tapi air matanya tak berhenti mengalir.

Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Ternyata seniornya yang membuat ia terluka…

"Sudahlah… aku menyerah," ia menghapus air matanya, meski sedetik kemudian air mata baru menggantikan posisi air mata yang telah dihapus itu, "Aku muak diperlakukan seperti ini terus."

Aku diam menatapnya. Ia tetap tidak menatapku. Kulihat matanya memandang danau yang ada di hadapan kami… tapi aku yakin bukan itu yang ada di pikirannya.

Aku berbaring lagi, menatap langit lagi.

Langit biru. Sebiru mata anak itu.

Sungguh, aku baru tahu warna langit itu seindah ini.

"Aku memang tidak punya cita-cita sepertimu," kataku, "tapi… kurasa punya cita-cita itu bagus."

Aku diam lagi, mencari kata-kata yang tepat. Toh dia pun belum membalas…

"Kalau kau berhenti, berarti kau tidak punya cita-cita lagi. Sama sepertiku. Tanpa ada sesuatu yang harus dikejar… hidup jadi membosankan."

Aku melirik anak itu. Sedikit banyak matanya melebar mendengar pengakuanku.

Aku menatap langit lagi.

"Lagipula… kurasa, bisa berada di atas sana adalah sesuatu yang hebat… langit itu indah."

OK, jangan protes. Aku sendiri terheran-heran mengingat kata-kataku. Sejak kapan kata-kata macam 'indah' dan 'hebat' bisa keluar dari mulut seorang Uchiha? Berkali-kali pula! Ahh… sudahlah. Aku tidak mau peduli lagi. Mungkin lebih baik kalau langsung menanyakan namanya, menjadikannya teman, dan bermain seharian. The end.

Aku bangkit dari dudukku, dan berkata, "Siapa na—" tapi terhenti.

"Kau suka langit?" tanyanya. Kalimat itulah yang membuatku terhenti.

Aku menengadah ke langit.

Lalu menatap ke matanya, mata birunya yang indah.

Langit… seolah tahu indahnya mata anak ini dan menirunya.

Aku menatap tepat ke matanya yang cantik itu.

"Ya," jawabku sambil tersenyum, "Aku suka."

Tentu saja aku suka langit itu… karena warnanya sama dengan matamu. Seindah kedua bola mata biru milikmu.

Tanpa kata-kata, anak itu lalu berpindah tempat ke sisiku, tepat di sampingku. Hingga ia bisa menatap langit dengan leluasa tanpa terhalangi oleh dedaunan rimbun yang tadi membayanginya.

Samar-samar, wangi citrus menyentuh hidungku. Wanginya cukup asing, tapi bisa kunikmati. Wangi yang manis dan segar. Aku tahu pasti asalnya dari anak lelaki yang berada di sisiku ini. Anak lelaki yang sedang memandang langit biru luas di atas sana.

"Kau benar," katanya tanpa melihatku sedikitpun, hanya terpukau pada langit itu, "Langit hari ini sangat indah…"

Bisa kulihat matanya bercahaya…

Ia lalu menatapku dengan mata itu. Mata biru itu.

Sebuah senyuman terukir di wajahnya yang masih lembab dengan air mata. Senyuman pertama yang kudapatkan setelah bersusah payah berpikir tentangnya…

Ia berkata, "Aku juga suka langit."

Aku tercekat. Jantungku berdebar kencang karenanya. Bukan karena aku juga suka langit… tapi karena senyuman itu… juga mata yang penuh cahaya itu… suaranya yang lembut… semuanya.

Bisa kurasakan wajahku memanas. Akh, sial, wajahku pasti merah! Akupun membuang muka, pura-pura menatap danau di hadapanku. Mengambil napas dalam-dalam. Berusaha untuk menenangkan hati dan jantungku sendiri.

Lalu kusadari ia sudah berdiri dari duduknya.

Ia berkata, "Aku akan memohon lagi!" Ia lalu menatapku dan tersenyum, "Makasih ya!"

Aku berdebar-debar lagi. Rasa-rasanya karena itu otakku sempat tak berfungsi. Karena otakku sudah berfungsi normal, kulihat ia tengah berlari… menjauh dariku.

"Eh… akh! Bodoh!" makiku kesal pada diriku.

…aku bahkan belum tahu namanya.


Sebuah senyum terukir di bibir Sasuke. Betapa hebatnya takdir mempertemukan mereka… Ya, Sasuke hampir yakin anak itu adalah Naruto. Bukan lagi hampir, tapi sangat yakin. Kecuali pemuda pirang bermata biru ini punya kembaran… tapi mana mungkin? Ia yakin, hanya ada satu orang Naruto di dunia. Hanya ada satu orang bermata biru langit dan berambut pirang yang punya senyuman seperti itu di dunia ini. Bodohnya, Sasuke hampir lupa akan kenangan manisnya ini… ada yang bilang, 1% kenangan buruk bisa menghapus 99% kenangan indah. Sepertinya itulah yang terjadi… Sasuke masih ingat persis, ia dimarahi habis-habisan saat sampai ke villa-nya. Aniki juga sama, ikut dimarahi karena mengizinkan sang adik pergi ke luar rumah…

Naruto bisa melihat raut wajah Sasuke yang…

…tersenyum? Beberapa menit setelah berdebat denganku?

"Teme, kenapa kau senyum-senyum sendiri begitu?" tanya Naruto.

Senyuman tak hilang dari wajah Sasuke, tapi matanya menatap tepat ke Naruto.

"Apa?" tanya Naruto lagi, kali ini dengan tatapan heran bercampur sinis.

"Hanya teringat kenangan lama," kata Sasuke, "…dengan anak pirang bermata biru yang sangat suka langit."

Sasuke memperhatikan wajah Naruto. Sesaat Naruto tak bisa menyembunyikan rasa kejutnya, tapi ia lalu tersenyum dan membalas, "Kau sudah ingat rupanya…"

Kali ini, giliran Sasuke yang terheran.

"'Sudah ingat'? …berarti kau sudah tahu? Terus, kenapa kau tidak memberitahuku?" protesnya.

"Aku juga tidak langsung ingat, Sasuke… itu 'kan sudah lama sekali…" kata Naruto, "sepertinya kau sendiri sudah lupa… lagipula, di pertemuan kita baru-baru ini aku sempat berpikir kau sudah berubah jadi orang yang mengesalkan. Jadinya aku sempat menyesali apa yang terjadi waktu itu…"

Sasuke diam, matanya memandang sinis ke Naruto.

Sebaliknya, sebuah cengiran terukir jelas di wajah pemuda pirang itu, "Ternyata aku salah! Itu malah jadi kenangan manis kita berdua…"

Sasuke masih diam, agaknya masih juga kesal dengan kata-kata Naruto tadi.

"Hei! Masa' Cuma segini saja kau sudah marah sih? Kalau kau yang mengusiliku, aku tidak akan semarah itu…"

"Ya, kau tidak marah, hanya berkata akan membunuhku saja," balas Sasuke dingin.

Naruto bangkit dari duduknya, dan mendekat ke arah Sasuke dengan cengiran lebar.

"Cup-cup-cup… Saskay anak baik, jangan marah-marah dong?" katanya sambil mencubit pipi Sasuke. Sasuke masih diam dan tidak mau menatap Naruto. Dasar pendendam.

"Heei… kau tahu aku cuma main-main 'kan?" tanya Naruto sambil menarik wajah itu agar mata mereka bertemu. Tak lupa Naruto memberi senyum manisnya dan berkata,

"Kau boleh mengambil langitku sesukamu Sasuke… karena kau yang memberinya."

Bibir Sasuke memang belum tersenyum, tapi matanya tak lagi menyiratkan kemarahan. Naruto bisa tahu ia tak marah lagi.

Naruto lalu mendekat dan mengecup bibir Sasuke perlahan. Mereka pun sama-sama memejamkan mata, menikmati sentuhan di bibir mereka, sampai…

"Sa-Sasuke!" jerit seorang wanita, terdengar ke telinga mereka.

Sasuke dan Naruto otomatis mencari asal suara itu. Seorang wanita berambut hitam dan bermata onyx tengah mempelototi mereka berdua…

"I-ibu?" seru Sasuke.

Hanya itu yang sempat ia katakan sebelum wanita itu akhirnya pingsan dan jatuh ke tanah.

-
To Be Continued...
-