Prince Devil
Author : Naruhina Sri Alwas
Naruto milik Masashi Kishimoto Sensei
Pairing : NaruHina
Ganre : -
Rated : T+ Semi M
Warning : Typo(s), EYD, OOC, AU, Dll.
.
.
.
Chapter 6
"Sudah berapa lama aku tertidur?" tanya Hinata saat bangun, dan memandang Naruto yang tengah tersenyum lembut kepadanya.
"Hm, kau demam, tidur lagi saja." ujar pelan Naruto saat melihat Hinata yang memaksa bangun. 'Demam?' satu pikiran itu terlintas diotaknya. 'Bagaimana bisa' dia merasa sehat, bagaiman bisa demam, dan tunggu kenapa.
"Kyaaaaa." sambil menarik selimut Hinata terkejut. "Na-naruto-sama apa yang telah anda lakukan?" takut Hinata sungguh takut, pikiran Hinata penuh, mana pakaiannya, kemana pakaian tuannya, jangan bilang saat dia pingsan.
"Hn." dengan santainya Naruto tiduran dan tersenyum dengan banyak arti.
"Naruto-sama!" kesal, Hinata sungguh kesal karena ulah tuannya yang seenak jidatnya mempermainkannya, dan Hinata ingin percaya itu, kalau tidak berarti semalam. Hinata langsung menggelengkan kepalanya mengenyahkan pikiran yang tidak seharusnya melintas diotaknya.
Memaksa bangun, 'Kenapa sakit.' pikir Hinata menahan sakit dibagian bawah, melirik sejenak kepada tuannya, dan mencoba turun dari ranjang. "Itai." Hinata meringis dan kembali terduduk.
"Kau tidak apa-apa Hinata?" khawatir sang tuan merasa khawatir kepada sang pujaan, yang tengah terduduk diam, dan meringis sesekali. "Sudah ku bilang istirahat saja." ujar Naruto lembut dan segera memeluk Hinata dengan dada telanjangnya. Sebenarnya semalam, saat Hinata minum, Naruto memberi Hinata obat tidur dan yah dia bahkam melakukan hal-hal yang dilarang oleh nya. Karena tidak mendapatkan Hinata cemburu saat dirinya mengatakan akan ijodohkan, berarti dia dan hubungannya dengan Hinata dalam bahaya. Bisa saja ada sesuatu yang Hinata pikirkan, atau rasakan, namun tidak diutarakan olehnya, Naruto bersyukur Hinata baik-baik saja, yah walupun semalam Hinata hanya mengeluarkan desahan-desahan, tanpa memanggil namanya, itu sudah cukup untuk menjadikan Hinata miliknya seorang, dan Naruto tidak ingin membagi Hinata dengan lelaki lain.
"A-aku baik-baik saja Naruto-sama." sambil mendorong tubuh Naruto, Hinata merasakan perasaan yang tidak enak, bagaimana kalau semalam mereka melakukan hal-hal yang tidak boleh, dan apa kah Hinata bisa terbebas dari Naruto?
"Hinata." pandangan Naruto tertuju pada kedua bolah mata Hinata, menatap dalam dan mencoba menyalurkan perasaan yang tertahan selama ini, mencoba meyakinkan Hinata bahwa dia sangat mencintai Hinata. Namun, sang gadis coret sudah jadi seorang wanita itu haya bergeming dan menatap Naruto dengan perasaan yang tidak bisa dibaca oleh Naruto.
"Na-Nar-" sebelum kata-kata Hinata terucap Naruto sudah menciumnya pelan, menempelkan bibirnya dengan bibir lembut Hinata, menyalurkan perasaan yang terpendam dan membuat Hinata mengikuti permaian Naruto.
"Kau puas Hinata?" seringainya saat melihat wajah merona Hinata, yang ditanya pun hanya bisa memalingkan wajahnya. "Ah." satu kecupan lagi Naruto daratkan kebibi kiri Hinata.
"Naruto-sama." sambil menjauhkan tubuh Naruto, dan mencoba berdiri lagi, namun Hinata tidak bisa bergerak dia diperangkap didalam tubuh kekar Naruto. Dan sang pria tersenyum lagi kepada Hinata.
"Setelah ini kita pulang." bisik Naruto ditelinga kiri Hinata sambil menjilat sekilas dan langsung melepaskan Hinata dari kungkungannya dan menyeringai senang melihat wajah merona Hinata tambah merona diwajah tembemnya.
.
.
.
"Kami pulang." to the poin tanpa ada kata-kata lain, langsung meninggalkan keluarganya yang marah atas tingkah sang pria yang seenaknya.
"Naruto!" kali ini suara nenek Naruto bergema ditelinga Naruto membuat langkah sang pria terhenti diikuti sang wanita dibelakangnya.
"Hn."
"Apa kau ingin seperti ini?!" wanita yang berumur tua namun masih terlihat muda itu menatap cucunya dengan sendu. "Bisakah kita bicara baik-baik." kali ini wanit itu berjalan pelan menghampiri sang cucu yang masih bergeming ditempatnya.
"Nenek." satu kata terucap oleh Naruto. "Aku tidak bisa memenuhi keinginan kalian, bila kalian memaksaku, aku akan pergi dan tak akan kembali lagi." kalimat terakhir membuat semua orang terkejut, benarkah Naruto akan melepas semuanya demi gadis yang bersamannya, kalau itu terjadi berarti mereka harus menying- "Bila kalian berpikir bisa menyingkirkannya, berarti kalian harus menyingkirkanku dulu." senyum mengerikan Naruto berikan, seperti Iblis yang siap akan memangsa mangsanya.
"Hahaha... Jadi kau sudah membulatkan tekadmu, Naruto." tertawa mengejek, Tsunade merasa cucunya semakin mengerikan, namun dia bangga cucunya itu keras kepala dan teguh pendirian, semua yang dia katakan atau lakukan adalah mutlak dan tidak bisa diganggu gugut.
"Cih, Nenek jangan mempropokasiku, aku tak suka itu." yah sang pangeran tidak suka ada yang memulai perlawanan, ingatkah bahwa sang pangeran ini yang tidak suka melawan orang yang dia hormati.
"Hahaha. Jangan marah seperti itu, Naruto!" mereka masih terus berdebat dengan argumen-argumen masing-masing dan mereka tak ingin mengalah, Hinata yang melihatnya merasa ciut dan ingin segera istirahat, namun sepertinya masih akan lama, dan haruskah Hinata bersyukur mendengar ponselnya berbunyi.
"Mosi-mosi."
.
.
Dibandara Konoha
"Naruto-sama masih marah." ucap Hinata setelah mereka menginjakan kaki dibandara Konoha.
"Hn."
"Na-Naruto-kun, maaf-maaf, Hinata minta maaf..." sambil menggait tangan Naruto menggunakan tangan kanannya, Hinata tersenyum tulus, dan memandang kedepan, menatap orang yang lalu lalang.
"Hinata, coba kau katakan lagi namaku?" ucap Naruto berbinar, entah kenapa Hinata merasa ada yang janggal.
"Naruto-sama."
"Bukan, yang sesudahnya." Naruto menyuruh Hinata mengatakan namanya. Hinata berfikir sejenak lalu menatap Naruto, mereka terdiam sejenak, dan Naruto berharap Hinata mengatakan lagi namanya.
"Naruto-sama." jleb seperti ditusuk pisau yang tajam Naruto mati dengan tidak elitnya, sedangkan Hinata hanya memandangnya dengan polos. "Kenapa?" memiringkan wajahnya imut, bikin nafsu orang saja bila melihat ekspresi gadis itu.
"Sudahlah, lupakan." ujar Naruto kesal, lalu menyeret Hinata kedalam mobil yang sudah disediakan, mereka menuju apartemen mewah milik Naruto.
"Baiklah." setelah mereka didalam kendaraan, baik Hinata maupun Naruto tidak ada yang membuka pembicaraan, sampai mereka tibapun masih tidak ada yang mengatakan satu katapun.
Berjalan menuju aula apartemen Naruto. Menatap sekelilingnya, tidak ada yang berubah selama 3 hari ditinggalkan, cuman dibeberapa tempat dihiasi balon-balon untuk memeriahkan tahun baru yang akan diadakan beberapa hari lagi, sekarang sudah memasuki minggu terakhir ditahun ini, membuat suasana seluruh kota ikut memeriahkan hari natal dan tahun baru, ditambah ada golden week sehingga banyak orang-orang yang berlibur di daerah masing-masing. Kemacetan dimana-mana, namun dikota besar diibukota konohan terasa lenggang karena ditinggal penghuninya keluar kota.
"Aku mau pulang Naruto-sama." ujar lemas Hinata saat dia menginjakan kaki diaula, namun orang yang dipanggilnya bahkan tidak menoleh sama sekali. "Naruto-sama." panggil lagi Hinata namun tidak ditanggapi lagi. "Naruto-sama!" sambil menarik kemeja yangdipakai Naruto Hinata merajuk.
"Nanti saja, malam ini kau menginap diapartemenku." ujar singkat Naruto dan menekan tombol life didepannya.
"Ta-Tapi nanti mal-" sebelum Hinata menyelesaikan ucapannya, Naruto sudah menarik Hinata masuk kedalam life dan langsung memerangkapnya diantara tembok dan kedua tangannya.
"Kau ada acara malam ini Hinata?!" bisik Naruto pelan, membuat Hinata merinding dibuatnya.
"Ti-Tidak." Hinata takut saat menjawab pertanyaan Naruto, Naruto menatap mata Hinata tajam, membuat Hinata langsung memejamkan kedua matanya cepat, dia takut dan mencoba menahan tubuh Naruto supaya tidak menempel kepada tubuhnya.
Bunyi life terdengar, tepat dilantai yang Naruto tekan tadi, decitan kecil Naruto layangkan saat aktifitasnya diganggu.
"Ayo." tarik Naruto keluar dari life dan berjalan dilorong koridor apartemen dan berhenti di apartemen 2017.
"Akhirnya pulang juga." sambil menghempaskan tubuhnya, Naruto menarik tangan Hinata lagi, yang berdiri disampingnya, sehingga Hinata jatuh dipelukan Naruto yang tengah duduk disofa yang menghadap televisi diruang tengah.
"Kyaaa." kaget Hinata saat tiba-tiba Naruto menariknya.
"Hn."
"Na-Naruto-sama!" memukul kecil dada bidang didepannya, wajahnya cemberut menandakan sedang ngambek.
"Kau makin manis, Hinata." satu kecupan Naruto daratkan dibibir Hinata yang merengut manis.
"Jangan menciumku."
"Kenapa?" senyum menggoda Naruto berikan saat Hinata melayangkan protes.
"Ka-karena..." Hinata mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Naruto.
"Apa?" lagi-lagi senyum puas tergambar diwajah pemuda itu, seolah dia sudah menang, dan pelukan diberikan kepada pinggang ramping Hinata didepannya.
"Ka-Kau belum-" niatnya sih mau bilang belum mengatakan kejadian diSuna kemarin malam, tapi ucapan sama bibir berbeda jadilah seperti ini. "Mandi." satu kata lanjutan Hinata membuat Naruto kesal, tidak mungkinkan dia tidak boleh mencium Hinata kalau dirinya bau, apa kata dunia jadinya.
"Kau bercanda bukan?"
"Ti-tidak." jawab ragu nan polos diberikan kepada Naruto, dan Hinata langsung berdiri, pergi dari ruang tengah menuju kamar mereka, dan tidak lupa membawa Koper mereka.
"Hinata." suara pelan Naruto saat Hinata akan memasuki kamar terdengar.
"Iya?" jawab Hinata yang masih kesusahan membawa 3 koper, 2 koper miliknya dan 1 koper milik Naruto, membuatnya agak susah berjalan ditambah pinggangnya agak sakit karena perbuatan Naruto kemarin.
"Nanti malam kita lan-" sebelum Naruto menyelesaikan kalimatnya Hinata sudah membanting pintu kamarnya, sehingga Naruto hanya bisa tertawa lepas melihat tingkah Hinata yang lucu, dan mengemaskan.
T.B.C
Yeahhh,,, tebar senyum 5 jari buat yang baca,,, naru senang kau yang baca ikut senang juga #hahaha
Berulang kali naru katakan, naru gak bisa bales satu-satu review, tapi naru baca terus kok #ditimvok
Spesial thanks buat yang baca, yang favorite, follow, review, dan mampir keakun naru,, #hohoho
Apa ini udah updete kilat, dan chaper ini pendek, owh iya untuk yang bertanya di kolom review tenang kenapa gak selesaiin satu aja fanficnya, namun kalau boleh jujur naru gak bisa the endin satu fanfic, ada kala ide ngalir kaya air, ada kala ide mandet karena keran ditutup, jadi mohon maaf untuk belum menyelesaiin fanfic-fanfic naru... makasih.
Salam NaruHina Shipper
