KEWARASAN YANG PATUT DIPERTANYAKAN
CHAPTER 7 : Pain and treatment
PS : Insya Allah tamat di chapter Y. Tapi g tau juga ah! tergantung masa depan.
Pair : Sakura-chanXItachi, Sakura-sanXSasuke etc
guest : Pengen y update tapi masalah kehidupan terus menerpa sekarang. Insya Allah di usahakan.
mitsu mayo: Maaf tentang kata2 yg typo, laptop y rebutan ma my mom jdi hrs buru2. klo g g bis publish sma skali. Itachi kya pedopil?! itu arti y bagus ato kga ya? tpi maaf bgt buat yg suka Sakura-samaXitachi, pair itu g ada. Azure udh pastiin Itachi ma Sakura-chan. soal y bosen aku lihat pacar Itachi selalu dominan, pinter, dewasa n serba bisa/mary sue dan itachi cuma pasrah ja nurut krena cinta. Azure mo buat itachi tetap dominan di hubungan dan Azure lebih suka Itachi yang dingin dan misterius dri pada jdi karakter baik dan murah senyum. moga suka di chap depan tentang Sakura-chan n Itachi.
flaiyen: Sengaja g da yg bela Sakura-chan demi plot. biar g da yang ganggu. hehe. Itachi kya pedopil? rasa y g juga. Sakura-chan kan tubuh y wanita dewasa cuma dia pikiran y yg kya anak2, kya peterpan syndrome gitu.
Rein Cherry: Thankx. moga suka chap ini
guest: thnx u banget pujian y. jdi semangat buat lanjutin chap baru nih. thanx again!
Ahn Ryuuki : Maaf buat bahasa. susah sih bikin lemon.
why: Udah ganti rate ke M. makasih saran y.
Rasa sakit adalah alasan kenapa Sakura-san mengendalikan tubuh Sakura Haruno pagi ini, terutama bagian tubuh bawahnya. Mata datarnya menatap darah disekitar kakinya pada kulit dan seprei ranjang. Ia seorang diri, Sakura-san merasa ada yang janggal dengan itu tapi ia bukan tipe berpikiran panjang seperti Sakura-sama. Ia hanya cuek dengan segala kejanggalan. Hanya rasa sakit yang ia pedulikan, rasa sakit yang membuat hidup, alasan kenapa ia terlahir.
Sakura-san berjalan menuju kamar mandi di kamar ini, wajahnya terlihat sehat-sehat saja walaupun jalannya tertatih-tatih. Ia sudah kebal oleh rasa sakit. Ia tersenyum kala air pancuran yang membersihkan tubuhnya, rasanya semakin sakit kala genangan air mengenai luka-lukanya, ia senang. Setelah membersihkan diri, ia berganti baju dan keluar kamar.
"Sial!"
Kata-kata buruk itu menarik perhatian Sakura-san, arahnya dari kamar sebelah, sepertinya Sakura-san sudah tahu kemana ia akan tuju. Kamar sebelah berpintu biru, tidak terkunci dan terbuka sedikit, ia mengintip. Di kamar itu bercat biru dengan sebuah kipas Uchiwa bewarna merah dab putih tergambar. Di dalamnya terlihat seperti kamar laki-laki biasa dengan beberapa poster pria sedang melukan gerakan bela diri dan memegang pedang. Ada beberapa pedang terpajang di dinding, pedang khas samurai, katana. Kamar itu tidak kosong, Sasuke Uchiha, nama yang tertulis di pintu, pemilik kamar ini sedang berada di dalam.
Sasuke terus menggerutu dengan tubuh penuh perban selain kepalanya. Ia bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek di bawah lutut. Ia sedang kesulitan dengan bagian terakhir dari tubuhnya yang penuh luka yaitu tangan kanan.
"Brengsek! Keterlaluan sekali Nii-san itu! Hukumannya sakit sekali, sial!"
"Perban ini menambah emosi saja! Menjengkelkan, kenapa tidak terikat dengan benar, sih?"
"Argghh! Sudahlah! Aku menyerah!" Kesal, Sasuke melempar perban sembarangan dan melompat ke ranjang dengan punggung pada seprai.
Ia memejamkan matanya sambil menghela nafas. Telinganya mendengar bunyi pintu di buka dan ia membuka mata. Satu-satu perempuan di rumah ini memasuki kamarnya dengan tanpa pikir panjang. Kesal karena kamarnya dimasuki orang asing, ia mengusirnya.
"Hei! Apa yang kau lakukan masuk ke kamarku sembarangan? Keluar!"
Perempuan itu menelengkan kepala ke kanan. Ia hanya tersenyum lugu atas bentakannya, matanya datar tapi ekpesinya seperti anak kecil lugu yang bebal akan bahaya dan hanya mengikuti penasaran saja. Sakura-san justru mendekati Sasuke.
Sasuke bangun dengan posisi duduk. Ia memperhatikan Sakura-san dengan bingung.
Perempuan ini tidak mengenal takut atau apa? Padahal ia tahu aku hampir membunuhnya di pertemuan pertama kami. Sekarang, dia berani-beraninya mendekatiku tanpa pertahanan apapun. Cih, perempuan ini benar-benar masokis! Tidak hanya menyukai disiksa tapi menantang seseorang melukainya. Sudah wajar, sih. Di pertemuan pertama itu juga ia memelas untuk di bunuh.
"Cih! Jika kau memang mau kubunuh baiklah! Kemari kau!" Sasuke mengambil katananya disebelah ranjang, ia tidak pernah jauh-jauh dari senjata kesukaannya itu.
Tapi bukannya mendekat, Sakura-san justru menunduk. Sasuke kembali bingung.
Apa sekarang ia mempunyai rasa takut?
Tubuh Sakura-san yang kecil terhalang oleh bagian bawah ranjang yang sedikit menjulang tinggi sebagai dekorasi, Sasuke tidak bisa melihat apa yang dilakukan perempuan itu. Tidak lama Sakura-san kembali berdiri dengan perban di tangannya. Tanpa sungkan Sakura-san naik ke ranjang dengan kedua lutut, ia mendekati Sasuke dan menggenggam tangan Sasuke yang belum diperban. Sakura-san kembali menelengkan kepalanya kala melihat tangan kanan Sasuke, ada beberapa luka sayatan disana, lukanya bahkan belum di obati, Sakura-san merasa terganggu dengan itu. ia menoleh ke sekitar dan menemukan kotak P3K diatas meja kecil di sebelah ranjang, tutupnya terbuka karena sepertinya sedang digunakan. Sasuke membiarkan perempuan di atas ranjangnya berbuat sesukanya, walaupun ia tidak suka orang asing sok dekat dengannya apalagi menyentuhnya tapi asalnya ia berguna jadi ia biarkan.
Ia melihat Sakura-san mengobati kedua tangannya dengan diam.
Apa dia sependiam ini? Padahal di sel waktu itu ia banyak bicara tentang kematian atau semacamnya. Mungkinkah ini kepribadian lain? Kalau analisisku benar, diakan mempunyai kelainan kepribadian ganda.
Sasuke memperhatikan tubuh Sakura-san, pakaian yang ia kenakan yaitu dress selutut tanpa lengan mudah membuatnya memperhatikan apa yang ia cari, yaitu kulit. Lebih tepatnya bekas luka, hal yang sukar luput untuk menarik perhatian siapapun karena saat di sel itu Sakura-san penuh luka. Sampai sekarang masih membekas di kulit Sakura-san. Sasuke ragu apa perempuan yang memperbannya kini bisa melakukan tugasnya dengan baik.
Tidak lama, Sakura-san selesai. Sasuke memperhatikan perban yang perempuan itu kecurigaannya salah.
"Untuk seorang masokis kau ternyata bisa merawat orang juga."Sasuke puas.
Sakura-san menatap Sasuke datar, tapi matanya melebar. Ia tercenggang dan itu membuat Sasuke bingung.
"Ada apa?"
"Kau.. menyukainya?"
"Hn, jika yang kau maksud perban ini. Jawabannya ya. Kau melakukan pekerjaan dengan baik."
"Kau… senang?"
"Ya, lumayan. Habis perban ini memang menyebalkan, aku benci melakukan hal ini."
"Jadi, kau mau membunuhku?"
"Memohon untuk dibunuh lagi? Hn, sekarang aku percaya bahwa kau si masokis di sel itu."
Sakura-san kembali memohon. Kali ini Sasuke berpikir sebentar sebelum ia kembali memegang katananya. Kali ini ia membukanya pelan di depan mata Sakura-san.
Sasuke memcoba mengintimidasi Sakura-san."Kau tahu, katana ini adalah favoritku dari semua koleksi katana yang aku punya. Dibuat dengan baja terbaik oleh penempa terbaik di seluruh dunia. Ketajamannya tidak perlu dipertanyakan bagaimana pedang ini telah mandi dari ratusan darah selama beberapa tahun di tanganku. Jadi, untuk membunuhmu itu adalah hal kecil. Hanya perlu satu tebasan saja." Katana itu ditempatkan di sebelah leher Sakura-san, terlalu dekat sehingga menimbulkan luka goresan hanya dengan menyentuhnya.
Ia bisa merasakan hangat darah di lehernya, darahnya. Sakura-san justru tersenyum.
Lagi-lagi senyuman ini. Sasuke memperhatikan wajah Sakura-san. Sama seperti pertemuan pertama itu, ia selalu terusik kala melihat senyuman Sakura-san di saat-saat ini. Sakura-san tersenyum penuh kebahagiaan, senyuman yang tenang dan tentram seakan ia telah menanggung beban berat yang ia pikul selama ini dan siap untuk melepaskannya, selamanya.
Katana Sasuke semakin mengiris kulit leher Sakura-san kala ia geram.
Selama ini aku selalu terbiasan dengan tangisan, teriakan dan melihat bagaimana menyedihkannya manusia di azal menjelang. Aku menyukainya, aku sangat menikmatinya bagaikan candu bagiku. Tapi ini pertama kali aku bertemu perempuan ini, masokis ini. Senyumannya menggangguku…kh! Sasuke menggertakkan gigi. Ia seakan mengaggapku sebagai malaikat! Bukan dewa kematian!
"ARGH!" Sasuke melempar katananya ke lantai dengan frustasi. Disusul dengan penutupnya. Ia berbalik dan menjatuhkan tubuh ke ranjang. "Pergi! Aku memang tidak bisa membunuhmu! Kau terlalu menyebalkan!"
Sakura-san terdiam dengan sikap bipolar Sasuke, ia menunduk kecewa. Walaupun sebenarnya ia sudah terbiasa dengan segala kekecewaan.
"Kenapa selalu seperti ini?"
"Hn?" Sasuke menoleh pada Sakura-san karena tertarik pada kata-kata apa yang mau perempuan itu lontarkan.
"Saat aku melakukan hal yang salah, orang-orang tidak mau membunuhku. Kini, aku melakukan hal yang benar. Tapi tetap saja sama. Kenapa… siapapun… tidak ada mau membunuhku?" tanya Sakura-san lirih, tapi ekpresi tetap datar.
Bukannya bersipati, Sasuke justru tertawa terbahak-bahak oleh curhatan Sakura-san.
"AHAHAHAHAHA! HAHAHAHA! LUCU SEKALI!"
"Itu artinya kau tidak ditakdirkan untuk mati ditangan orang lain. Sudahlah, bunuh diri saja sana jika memang kau menginginkan kematian sebegitu besarnya!" perintah Sasuke. Ia sekarang telah duduk dengan saku kaki terangkat, tangan kanan menempel pada lutut dan bergerak ke depan dan belakang. "Sana! Cepat lakukan!"
"Tapi aku tidak mau bunuh diri."
"Hah? Kenapa? Itu lebih simpel, kan?"
Sakura-san terdiam sebentar sebelum ia menjelaskan keinginannya. "Itu karena.. nenek."
Sasuke bingung tapi ia mendengarkan dengan tenang.
"Nenek… adalah satu-satunya yang baik padaku dari siapapun juga. Tapi ia telah meninggal. Nenek percaya pada dosa dan semacamnya, ia pernah berbicara bahwa orang yang bunuh diri akan masuk ke neraka. Nenek sangat baik, aku yakin ia berada di surga, aku ingin… bertemu nenek."Sakura-san tidak sadar, ia bukan orang yang emosional, ia selalu datar akan ekpresi. Tapi kali ini ia berekpresi, air mata jatuh membasahi kedua pipi, Sakura-san sedih. Ekpresi ini tidak luput dari pandangan Sasuke, ia menyeringai.
Sasuke menerjang Sakura-san dengan cepat, kini posisi mereka dengan Sakura-san di bawah dan Sasuke di atas, seperti predator hendak menerkam mangsanya.
Mata Sasuke berkilat kesadisan. "Ya. Ini. Seperti ini." Ia mengusap-usap wajah Sakura-san. "Ekpresi inilah yang pantas untuk kubunuh. Pertahankan!" tangannya yang bebas meraba-raba sesuatu, ia kemudian ingat katananya tidak lagi di dekatnya. Ia mendecak kesal. Sasuke khawatir, ia tidak mau menyela momen ini hanya demi turun dan ranjang dan mengambil kembali katana. Momen ini terlalu berharga. Ekpresi Sakura-san membuatnya sayang untuk berpaling walau hanya sekejap.
"Kau mau mati, kan?" kedua tangan Sasuke memeluk leher Sakura-san. "Kau akan mendapatkannya!"Sasuke mencekiknya!
Perbuatan Sasuke membuat tubuh Sakura-san kejang-kejang. Walaupun belum beberapa menit tapi ia sudah kesulitan untuk bernafas. Cekikan Sasuke sangat erat, Sakura-san semakin membiru. Pandangannya semakin minim, Sasuke terlihat buram dan membuatnya pusing. Semakin lama semakin banyak, berbagai kabut hitam menari-nari dan mulai mengusainya penglihatannya. Menyakitkan tapi adiktif. Inilah detik-detik menjelang kematian yang selalu ia sukai.
Sakura-san menutup mata tenang.
Nenek, aku akan menemuimu.
Ia tidak bisa menahan senyumnya lagi.
Hal yang salah.
Dalam sekejap pula ia lepas dari siksaan kesulitan bernafas. Mulut dan hidungnya reflek mengkonsumsi oksigen sebanyak-banyaknya, hal yang tidak bisa dikontrol. Setelah nafasnya membaik, ia melihat Sasuke. Pria itu menatap kedua tangannya kemudia mengepalkan keduanya. Dengan santai ia jadikan satu tangan diatas lutut yang berdiri dan memangku wajah, satu tangan lagi tidak digunakan, diletakan di lutut kaki lain. Sasuke kembali menatap Sakura-san dengan bosan tapi matanya tetap dingin. Hal yang Sakura-san sadari adalah… Sasuke melepaskan cekikannya.
"Kenapa..?" Sakura-san kembali bertanya. Ekpresinya datar tapi nada suaranya sedikit mempunyai emosi. "Kenapa lagi-lagi berhenti. Semua orang begitu membenci membunuhkukah?"
"Aku…" Sakura-san menutup bibirnya rapat, giginya bertautan dengan geram. "..muak dengan semua kekecewaan ini." Ekpresi datarnya berubah 180 derajat, ia terlihat marah dan menerjang Sasuke cepat. Sasuke tidak pernah meprediksi ini, kelengahannya membuatnya mudah terdorong ke kasur. Kini posisi mereka seperti saat dirinya mencekik Sakura-san, hanya saja terbalik. Sakura-san yang mendominasi. Mata emeraldnya penuh dengan kekesalan, kekecewaan akibat kematian tak kunjung menghampirinya. Kedua tangan mencekik Sasuke erat tapi hanya sebentar, ia sepertinya berubah pikiran, ia tidak mau meniru seperti apa yang dilakukan pria dibawahnya. Sakura-san geram, gigi-giginya seakan ingin menggigit sesuatu, keras-keras.
Ia menggigit leher Sasuke kesakitan.
"Akkh!" Sasuke mengerang.
Apa?! Perempuan ini mengigitku sampai berdarah?! Memangnya dia vampir?
Dengan cepat Sasuke melepaskan diri, ia mendorong Sakura-san. Matanya membelalak kala melihat perempuan itu menangis lagi.
Ia berekpresi!
Sasuke bangun dan meluruhkan tangannya ke wajah Sakura, menutupi wajahnya. Ia ragu sebentar dan mengepalkan tangannya, wajah Sakura-san kembali terlihat. Kali ini kembali datar sepert biasa.
"Cih!" Sasuke mendecih kala ia melewatkan kesempatan emasnya.
"Oi, kau kesal, kan?" Sasuke mendelik pada Sakura-san. "Aku juga begitu."
Sakura-san memiringkan kepalanya, bingung.
"Kau tahu, aku benci melihat dua hal darimu. Tanpa ekpresi dan senyuman kebahagiaanmu. Itulah yang melunturkan hasratku untuk membunuhmu. Jika kau bisa berekpresi lain, apalagi menangis seperti saat kau membicarakan tentang nenekmu, mungkin aku bisa membunuhmu."
"Benarkah?" nada Sakura-san penuh harap.
"Ya. Aku janji."
"Janji…"Sakura-san ragu.
"Aku pasti menepati janji itu." Sasuke merasa nyeri dibagian lehernya, ia teringat lehernya berdarah. Ia dapat ide. Disentuhnya darahnya sendiri dan ditempelkan ke bibir Sakura-san bagai memakai lipstick. Tangan Sasuke membelai dagu Sakura-san dan mendekatkan bibir itu pada bibirnya.
Ciuman biasa, hanya sekedar menempelkan bibir. Tidak ada bedannya dengan bagian tubuh lain saling bersentuhan, bahkan bagian tubuh yang bukan intim. Inilah alasan Sasuke tidak begitu tertarik dengan hubungan, entah kenapa ia selalu tidak pernah mendapatkan hasrat. Hanya kekosongan saja. Dengan perempuan masokis inipun sama saja. Semula Sasuke berpikir begitu.
Tapi ia cepat berubah pikiran.
Mungkin ini karena ada darahnya, ciuman yang sads, bukan romantic. Mungkin juga karena ia berciuman dengan perempuan yang tidak biasa, perempuan kelainan dan masokis yaitu Sakura-san.
Setelah mencicipi darahnya sendiri di bibir Sakura-sana, Sasuke melepaskan ciumannya.
" Itu sebagai stempel tanda perjanjian kita."
Sakura-san terdiam. Ia memiringkan kepala.
Ini bukan pertama kalinya ia dicium, ia pernah mendapatkannya di sel kala ia di perkosa. Tapi ciuman Sasuke berbeda. Memang menuntut tapi entah kenapa tidak kasar, Sakura-san heran dengan perbedaan ini. Kenapa bisa begitu?
Tapi… ia tidak membenci perbedaan ini.
Ia tersenyum.
Sasuke melihat ekpresi Sakura-san. Lagi-kagi senyuman yang membuatnya sebal diberikan oleh Sakura-san.
Sasuke benci senyuman seperti itu. Sangat, sangat benci. Iapun tidak tahu kenapa, karena alasan kali ini berbeda dengan hasratnya yang ingin si mangsa berekpresi layaknya seorang mangsa.
Hasrat.
Mengingatkannya pada ciumannya tadi.
….I desire her lips.
Sasuke tidak tahu perasaan apa ini. Ciuman ini adalah ciuman yang membuat hasratnya bergejolak tak karuan, ciuman yang membuatnya ketagihan. Lagi dan ingin lagi. Sasukepun dengan patuh menuruti hasratnya sepert anjing pada majikan. Aneh, padahal ia bukan tipe yang mudah diperbudak hasrat intim seperti rekannya, fox alias Naruto Uzumaki. Ia pria yang terkendali dalam hal itu. Dan sekarang, kebanggaannya tentang itu terlempar jauh dari luar jendela.
Bibirnya benar-benar lapar oleh ciuman. Pada Sakura-san, hanya pada perempuan itu. ini pertama kalinya. Perasaan ini gatal tak tertahankan. Masih bisa ia rasakan di bibirnya, bibir Sakura-san yang lembut dan kenyal sangat menggiurkan. Ia membayangkannya lagi, kehangatannya… Sasuke meneguk ludah.
I so enjoyed it!
Hasrat ini…
Sasuke menyentuh dagu Sakura-san lagi, ia kembali melanjutkan ciuman.
"Hanya sekali saja."
Sasuke mencium sekali. Tapi ia berubah pikiran.
"Dua atau tiga kali lagi tidak masalah."
"Sekali lagi."
"Kh… ini yang terakhir."
Walaupun Sasuke berkata seperti itu, bibirnya bergerak lain. Ciuman demi ciuman ia berikan untuk memenuhi hasratnya.
Ia tidak tahan lagi.
"Sudah kuputuskan! Mulai sekarang bibir ini milikku!" Sasuke mebelai bibir Sakura-san dengan jempolnya. Belaiannya lembut . Sasuke menganggap bibir itu sangat berharga.
"Kau ingin mati, kan? Kalau begitu aku akan membunuhmu suatau hari. Sampai hari itu datang, bibir ini sebagai jaminan untukku. Deal?"
Sakura-san tidak tahu apa yang membuatnya kembali tercenggang. Perkataan Sasuke aneh, ia seakan mendengar bahasa alien. Tapi jika menyangkut kematian, ia mengangguk saja dengan senang hati.
Anggukan Sakura-san membuat Sasuke menyeringai puas.
Ia kembali mencium Sakura-san.
Benar-benar..
Sasuke Uchiha telah dikalahkan oleh hasratnya sendiri.
BERSAMBUNG...
