Apa yang Kau Sembunyikan?
Nami dan Luffy adalah pasangan suami-istri yang baru menikah. Setelah menikah, mereka memiliki rahasia masing-masing yang kelihatannya belum ingin mereka bagi. Namun suatu kejadian memaksa mereka mengungkapkannya.
Disclaimer: bukan milik saya
Rating: T/15+
Pairing: NamiLuffy
Genre: Drama, Hurt/Comfort
AU
Setelah mengobrol selama beberapa jam, Nami mulai mengetahui bahwa Luffy adalah cucu dari seorang admiral angkatan laut, Monkey D. Garp. Agak menakutkan sebenarnya membayangkan keluarga militer seperti itu. Apalagi keluarga Monkey D. Garp. Seluruh masyarakat di dunia ini tahu siapa admiral Monkey D. Garp itu. Reputasinya memerangi kejahatan di wilayah perairan Grand Line sudah melegenda. Dulu Nami hanya bisa mengagumi beliau hanya dari televisi saja dan tidak pernah menyangka bahwa ia bisa mengenal salah satu anggota keluarga Monkey secara dekat. Sangat dekat malah. Meskipun Nami bekerja di salah satu stasiun televisi sebagai pembaca berita ramalan cuaca, itu tidak akan membuat ia akan mengenali seluruh klan Monkey secara menyeluruh. Lagipulan stasiun televisi tempatnya bekerja juga hanya stasiun televisi lokal.
Nami juga mengutuk dirinya sendiri karena tidak menaruh perhatian dengan marga yang disandang Luffy. Monkey. Duh, nama marga itu memang tidak langsung membuktikan bahwa Luffy adalah cucu dari admiral paling terkenal di seantero negeri ini, sebab cukup banyak juga orang lain yang memiliki marga Monkey. Nami tidak pernah memiliki kecurigaan apapun dengan nama marga Luffy. Ia pikir Luffy hanya orang lain pada umumnya dengan nama marga yang juga umum. Kenyataannya Luffy bukan orang pada umumnya.
Terkejut dengan latar belakang keluarga suaminya sendiri? Iya. Tapi Nami memutuskan untuk tidak melakukan konfrontasi, apalagi dengan situasi sekarang ini dimana Luffy baru saja keluar dari rumah sakit. Meskipun terkejut bukan main, Nami berusaha menenangkan dirinya. Selalu ada waktu yang tepat untuk meminta penjelasan yang lebih detail lagi.
Nami mendesah pelan menatap dua orang yang tengah mengobrol akrab di hadapannya itu. Luffy mempunyai pengawal pribadi? Dan pemuda bermabut hijau dengan tiga tindik tersebut adalah pengawal pribadi Luffy sejak kecil. Zoro dua tahun lebih tua dari Luffy. Zoro adalah anak angkat dari seorang pemilik dojo, pelatih pribadi bela diri di keluarga Monkey. Zoro sudah mengenal keluarga Monkey sejak lama dan saat ia cukup dewasa, ia bekerja dan mengabdikan dirinya di keluarga Monkey. Zoro dan Luffy sudah menjadi sahabat sejak mereka kecil. Persahabatan mereka juga tidak berubah meskipun pada akhirnya Zoro bekerja sebagai pengawal pribadi Luffy.
"Zoro, kau keterlaluan sekali. Kenapa kau tidak datang pada saat pernikahanku?" protes Luffy.
"Umm, itu…." Zoro kehabisan kata-kata dan sepertinya tengah berupaya mencari alasan.
"Ahahaha….Sepertinya aku tahu. Kau tersesat lagi Zoro?"
"Tersesat?" Nami mengangkat alisnya.
"Zoro memiliki kebiasaan aneh."
"Itu bukan kebiasaan, Luffy! Aku hanya…Aku hanya terkadang tidak mengerti, kenapa orang-orang membuat jalan yang berliku. Benar-benar menyusahkan!" Zoro berusaha mencari pembenaran, walaupun kedengarannya tidak masuk akal. Ia hanya memasang muka masam saat Luffy berhasil membuat lelucon tentang penyakit buta arahnya.
"Hahaha…." Luffy hanya bisa tertawa setiap kali ia berhasil membuat kalut sahabatnya yang satu ini. Nami yang dari tadi hanya memperhatikan tingkah laku mereka, kini jadi ikut tertawa melihat dua orang ini bertengkar. Sebetulnya ia terkejut, Luffy bisa begitu akrab dengan orang sedingin Zoro. Ya, Luffy memang selalu akrab dengan siapapun.
Setelah jam makan malam, Zoro berpamitan kepada Luffy dan Nami. Hari sudah gelap saat pasangan suami-istri ini mengantarkan Zoro di depan pintu rumah. Luffy sempat bergurau lagi, takut kalau Zoro tersesat di malam segelap ini; namun pemuda berambut hijau itu terus saja membantahnya.
"Zoro, kau yakin tidak mau diantar?" canda Luffy yang tengah melipat kedua lengannya di belakang kepalanya.
"Hei, lihat siapa sekarang yang ingin mengawalku?"
"Shishishi…."
Belum selesai mengobrol, tiba-tiba saja terdengar suara mobil yang tengah berhenti di depan rumah mereka. Sebuah mobil sport dengan desain yang nyentrik. Mobil sport berwarna biru tua dengan modifikasi bertema kapal perang. Saat pintu mobil tersebut terbuka ke atas, muncul sesosok pria berbadan kekar dengan rambut tegak berwarna biru.
"Franky!" pekik Luffy ke arah pria berkaca mata hitam tersebut.
"Yo, Mugiwara!" sapa Franky sambil mengangkat lengan kanannya yang cukup kekar itu. Franky berusaha menarik koper dari dalam mobilnya, namun sepertinya ia mengalami kesulitan.
"Kenapa Franky?"
"Ugh, kopermu besar sekali," Franky terus berusaha menarik koper tersebut agar bisa segera ia keluarkan dari dalam mobilnya.
"Akan aku bantu. Zoro…."
"Kalau ingin menemuinya, pergi saja. Aku juga sudah mau pulang."
"Heh? Kau mengusirku?" canda Luffy berkacak pinggang. Zoro hanya tertawa pelan menanggapi tuannya itu.
"Baiklah. Kalau kau tersesat, hubungi saja aku," ejek Luffy sebelum kabur dari Zoro.
"Hei!" protes Zoro berusaha mengejar Luffy, tapi ia mengurungkan niatnya. Ia hanya tersenyum masam mendapati dirinya sudah jadi bahan ejekan sepanjang hari ini.
"Shishishi…."
"Aku baru tahu pengawal pribadi bisa bersahabat dengan Tuannya," Nami merapatkan cardigannya, berusaha menahan dinginnya angin malam.
"Hmm…Aku dan Luffy sudah seperti saudara. Aku menganggapnya sebagai adikku sendiri", jawab Zoro sambil memperhatikan Luffy yang sedang menyeret koper raksasanya ke teras rumah.
"Aku bisa lihat itu. Mmm…Lalu, kenapa Luffy tidak tinggal bersama kakeknya lagi?"
Bagaimanapun Nami masih saja penasaran dengan keluarga suaminya. Ia ingin tahu kenapa Luffy tidak pernah mengatakan sesuatu tentang keluarga kandungnya. Bukan menjadi masalah penting siapa sebenarnya Luffy karena Nami selalu menerima Luffy apa adanya. Luffy akan memberitahu sesuatu kalau waktunya sudah tepat. Walaupun sejak kecelakaan itu ada begitu banyak hal-hal aneh yang ia temukan, tapi ia berusaha untuk mencari tahunya secara pelan-pelan.
"Anggap saja Luffy tidak ingin diatur dan ingin mencari kehidupannya sendiri," hanya itu jawaban yang Zoro berikan. Ada keengganan dari nada bicaranya untuk mengulasnya lebih panjang. Entah karena loyalitasnya kepada keluarga Luffy, entah ada alasan pribadi atau karena itu memang sifatnya. Nami tahu hanya jawaban ini yang mungkin sementara akan diberikan Zoro kepadanya dan ia tidak bisa memaksa orang asing yang baru dikenalnya terlalu jauh. Meskipun Zoro dekat dengan Luffy, tapi Nami tahu bahwa pria berambut hijau ini berusaha menjaga jarak dengan bersikap profesional.
"Baiklah. Aku rasa aku mengerti maksudmu. Tapi apakah hubungan Luffy dengan Admiral Garp…"
Seakan mengerti arah pembicaraan Nami, Zoro langsung memotong dengan memberikan jawaban.
"Mungkin cukup rumit. Tapi pada dasarnya mereka berdua baik-baik saja."
"Hmmm?" Nami mengangkat alisnya, berupaya memahami apa maksud pernyataan Zoro.
"Agak sulit dipahami. Hanya mereka berdua saja yang tahu. Aku tidak ingin terlalu ikut campur."
'Baiklah, mungkin ini memang sifatnya. Lebih baik aku tidak usah terlalu banyak bertanya untuk saat ini', batin Nami.
"Baiklah. Aku tidak akan bertanya terlalu jauh denganmu mengenai Luffy," Nami mengangguk pelan. Ia berusaha menghormati sikap Zoro yang memilih untuk memberikan informasi yang terbatas. Mereka berdua diam sesaat sebelum akhirnya Zoro memecahkan keheningan.
"Nyonya Monkey."
"Hei, kelihatannya formal sekali. Panggil saja Nami," Nami masih saja merasa aneh dengan panggilan itu. Terdengar sangat kuno dan ia terlihat sepuluh tahun lebih tua dengan panggilan itu.
"Aku tidak terlalu mengenalmu. Aku akan memanggilmu Nyonya Monkey saja."
"Huh. Terserahlah. Ada apa?"
"Apa aku boleh mengatakan sesuatu."
"Sesuatu?" Nami mengangkat alisnya lagi. Kali ini apakah gilirannya untuk diinterogasi?
"Tentang Luffy."
"Tentu saja," Nami semakin merapatkan cardigannya.
"Aku akan mengatakannya sekali saja. Aku tidak terbiasa mengatakan sesuatu yang sentimental. Aku hanya ingin mengatakan bahwa Luffy benar-benar mencintaimu."
Perempuan berambut panjang itu agak terkejut mendengar hal itu. Dari tadi ia berusaha mengorek keterangan tapi Zoro selalu saja dalam posisi defensif. Sekarang tiba-tiba saja ia memberikan pendapat pribadi mengenai hubungannya dengan Luffy.
"Hmm? Aku…Aku cukup tahu itu. Tapi kenapa kau…?"
"Sudah lama aku tidak melihatnya bahagia. Saat tadi aku melihatnya lagi, aku benar-benar lega," ucap Zoro, kali ini dengan wajah yang lebih rileks.
"Benarkah?"
"Aku rasa kau memberi banyak perubahan. Sebagai sahabatnya, aku ingin mengucapkan terimakasih. Tolong jaga Luffy baik-baik. Walaupun aku tahu ia juga akan menjagamu dengan baik."
Meskipun Nami masih kurang paham akan apa yang dikatakan Zoro, tapi kurang lebih ia mengerti maksudnya. Nami hanya tersenyum, pandangannya tertuju pada sosok laki-laki berambut hitam yang tengah bercakap-cakap dengan Franky.
"Aku mengerti. Terimakasih sudah memberitahuku," ucap Nami kepada Zoro.
"Baiklah. Aku rasa aku harus pulang. Selamat malam Nyonya."
Baru beberapa meter Zoro melangkahkan kakinya, Nami berteriak berusaha menghentikan Zoro.
"Hei, arah jalan pulang ke sebelah sana!" tunjuk Nami ke arah yang berlawanan dengan Zoro.
"A-Apa?!"
"Arah yang kau tuju, di sana hanya ada gang buntu!"
Tanpa banyak basa-basi lagi, Zoro berbalik dan melangkahkan kakinya dengan sangat cepat, seolah ingin lari dari sesuatu. Rasa malu mungkin. Nami berusaha menahan tawanya. Mungkin saja apa kata Luffy memang benar. Pengawal pribadinya memang benar-benar buta arah.
Nami merebahkan dirinya di atas sofa di ruang keluarga. Ia menekan remote TV nya dan memindahnya ke channel berita. Saat ini seorang perempuan dengan potongan rambut pendek sedang membawakan perkiraan cuaca.
"Hmm…memang benar temperatur malam ini lebih dingin dari biasanya. Apa mungkin karena tekana udaranya? Pufff….akhir-akhir ini ramalan cuacanya benar-benar buruk. Mungkin seharusnya aku tidak mengambil cuti," keluh Nami yang memangku dagunya dengan telapak tangannya.
"Kau mengambil cuti? Kau tidak melakukan pekerjaan yang paling kau sukai? Bukankah itu menyebalkan?" suara Luffy mengejutkannya.
"Luffy?" Nami menengok ke belakang dan menemukan Luffy yang tengah berdiri di belakang sofa, menatapnya heran. Tanpa buang-buang waktu lagi, Luffy melompati sofa dan langsung mendarat di samping Nami. Nami sempat menarik napasnya karena terkejut dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba.
"Kau tidak berhenti kan?" laki-laki berambut hitam itu menatapnya cemas.
"Kau bercanda? Tentu saja tidak."
Luffy tersenyum lega, "Bagus. Jadi besok kau berangkat kerja?"
"Aku mengambil cuti dua minggu," Nami mendesah pelan, menatap layar TV, berusaha menghindari tatapan suaminya.
"Apa karena aku?"
"Hmm…" Nami hanya bergumam, tidak memberikan jawaban.
"Kau mengambil cuti karena aku?" ulang Luffy.
Nami mendesah pelan sebelum menatap kedua mata Luffy, "Mungkin."
"Kalau begitu kau masuk saja Nami. Aku sudah sembuh."
"Itu hanya perasaanmu saja."
"Nami…."
"Lagipula sudah lama kita tidak berdua seperti ini kan? Akhir-akhir ini kau sibuk. Aku ingin menghabiskan waktu lebih sering bersamamu."
"Oh….benar juga. Tapi kau nanti akan bekerja lagi kan?"
"Iya. Memangnya kenapa? Takut tidak akan ada yang membantu membayar tagihan ya?"
"Bukan. Kau terlihat sangat bahagia saat kau bekerja. Aku senang kalau kau juga bahagia," Luffy menyandarkan kepalanya di atas bahu sofa.
Nami tersenyum menatap Luffy dan mendaratkan ciuman hangat di pipi kirinya. Luffy hanya menyengir lebar dan menggaruk kepalanya. Luffy terdiam sesaat sebelum melemparkan badannya ke arah Nami, membuat istrinya kaget sesaat. Nami terdorong ke ujung sofa, membuatnya bersandar di bahu sofa dengan Luffy di atas badannya. Nami agak bingung namun ia tertawa pelan saat Luffy melingkarkan lengan di leher jenjangnya. Kebiasaan lama. Luffy mengeluh pelan dan semakin merapatkan tubuhnya atau lebih tepatnya menarik tubuh ramping Nami ke dalam pelukannya.
"Kenapa Luffy?"
"Hmm…Aku bosan. Sejak kemarin aku di rumah sakit dan sekarang aku seharian di rumah saja," Luffy membenamkan wajahnya di leher Nami dan sesekali mengecupnya pelan.
"Kau harus istirahat."
"Aku bilang aku sudah sembuh," gumam Luffy tak bersemangat.
"Kau ingin pergi?"
Luffy mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar. Ya, ya. Pada akhirnya dia menang. Nami menghela napasnya, setengah kesal, setengah kasihan dan sebagian geli melihat tingkah laku suaminya.
"Kau ingin kemana?"
"Mmm…Aku ingin ke bengkelnya Franky."
Nami terdiam, menyadari sesuatu. Luffy terlihat sedang menelan ludah, kelihatannya khawatir akan reaksi Nami selanjutnya. Namun istrinya hanya menatapnya dalam-dalam, menghela napasnya pelan sambil membelai rambut hitamnya.
"Baik. Tapi kau berhutang penjelasan padaku. Kau mengerti kan?"
Luffy menaikkan alisnya dan menatap Nami polos.
"Penjelasan apa?"
"Mengenai keluargamu, pekerjaanmu. Kenapa kau tidak mau berterus terang sejak awal denganku Luffy?" mata Nami menyala-nyala, napasnya menggebu. Ia bingung dengan semua fakta yang ia temukan baru-baru ini. Semua begitu baru, begitu asing. Ia merasa asing dengan suaminya sendiri. Ia merasa tidak mengenal Luffy secara keseluruhan dan itu membuatnya takut. Bagaimana kalau nantinya akan ada fakta-fakta baru lagi yang lebih mengejutkan. Apa ia bisa menyikapinya dengan pikiran terbuka? Apa semua ini nantinya akan membuat ia merasakan jarak diantara suaminya sendiri. Sial...Nami sudah mulai merasakannya dan ia benar-benar tidak suka dengan perasaan itu.
"Mmm…" Luffy menggigit bibir bawahnya. Jika ia bersikap defensif, biasanya dia suka melakukan itu.
"Luffy!" Kali ini Nami tidak akan membiarkannya. Harus ada penjelasan atas semua kejadian ini. Lagipula dia sudah cukup banyak bersabar dan menunggu momen seperti ini.
"O-OK…"
Tidak ada ruang lagi bagi Luffy untuk mengelak dan Nami menyadari entah itu baik atau buruk, ia akan siap menerimanya. Pria berambut hitam itu menghela napasnya dalam-dalam dan tatapan matanya begitu dalam. Nami berusaha melihat lebih jauh ke dalam tatapan mata itu, melihat rahasia apa yang Luffy sembunyikan. Tapi ia tidak bisa menebaknya dan itu membuat Nami merasa menjadi orang paling putus asa di dunia ini.
"Nami…." Ucap Luffy menatap istrinya sambil memegang kedua tangan Nami erat-erat. Telapak tangan Luffy agak berkeringat dingin, begitu juga dengan Nami. Jantungnya berdebar-debar menanti penjelasan Luffy.
"Hmm?" tidak ada kata lain yang bisa keluar dari bibir perempuan berambut orange ini.
"Jangan marah padaku."
"Bukankah sudah seharusnya?"
Luffy tersenyum kecut menanggapinya dan Nami semakin mempererat tangan suaminya seakan-akan itu adalah pegangan hidupnya.
"Untuk urusan siapa keluargaku, aku kira Zoro sudah cukup menjelaskannya kan?"
Nami mengangguk kecil. Zoro cukup memberikan gambaran jelas mengenai latar belakang keluarga Luffy. Tapi masalahnya kenapa Luffy tidak pernah memperkenalkannya kepada kakeknya.
"Apa kau malu mengenalkanku pada kakekmu?" pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa ia sadari. Saat Nami menyadari perbuatannya, ia tahu pertanyaan itu tidak bisa ia tarik kembali. Luffy langsung terperanjat dengan pertanyaan itu.
"Tidak Nami. Kenapa aku berpikir begitu? Aku mencintaimu. Kau begitu penting bagiku. Jangan berpikiran seperti itu, OK?" jawab Luffy setengah panik membuat ia mengoceh tak karuan. Nami menggigit bibir bawahnya, merasa tegang dengan suasana ini. Ia mulai berpikiran macam-macam dan pemikirannya itu mulai membuat Luffy tidak nyaman.
"Lalu kenapa?"
Luffy mendesah pelan dan Nami bisa melihat ada semacam beban yang ditanggung Luffy.
"Aku...mmm...kabur dari rumah."
"Kabur?"
"Hmm...aku merasa tidak cocok dengan aturan yang diterapkan kakekku di rumah, di lingkungan rumah, di sekolah, dengan teman-temanku bahkan dengan keputusan karirku. Kakek ingin aku meneruskan karirnya sedangkan aku ingin menjadi pembalap."
Nami mendengarkan penjelasan Luffy baik-baik. Dia kurang lebih bisa menangkap gambarannya. Nami sangat mengenal Luffy. Suaminya adalah pria yang punya jiwa bebas, menyukai petualangan, tidak suka peraturan yang kaku, fleksibel dan sangat menikmati hidup. Nami bisa melihat situasi yang dulu dihadapi Luffy.
"Kakekmu tidak setuju dengan keputusan karirmu?"
Luffy mengangguk pelan sambil mempererat pegangannya.
"Hampir semua hal. Aku berusaha menghormati segala aturannya, karena ia lah yang menjagaku sejak kecil. Kau tahu kan aku tidak punya orang tua sejak kecil."
Hati Nami serasa menciut mendengar kalimat terakhir Luffy. Itulah salah satu alasan kenapa ia diam-diam selalu ingin memanjakan Luffy. Luffy memang sering bersikap kekanak-kanakan terutama di sekitar Nami. Seolah-olah ia berusaha mencari perhatian yang selama ini tidak ia dapatkan. Jika mengingat hal itu, ingin rasanya ia merengkuh Luffy hangat, menjaganya dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Tenggorokannya seakan disumpal setumpuk kapas dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Sial! Nami ingin menangis saat itu juga, tapi di sisi lain ia mengutuk dirinya sendiri karena terlalu cengeng. Luffy membutuhkan istri yang tegar, bukan yang sensitif seperti ini.
"Kau kabur di usia berapa?" Nami berusaha menanggapinya dengan tenang. Ia tidak ingin emosinya naik-turun saat suaminya mulai membuka dirinya.
"Setelah aku lulus SMA. Soalnya setelah lulus SMA, kakek rencananya akan memasukkanku ke militer. Aku kabur saat upacara kelulusan dan dikejar satu pasukan khusus yang diperintahkan kakek. Aku merasa jadi buronan saat itu. Shishishi..."
"Kau dikejar pasukan khusus. Apa itu hal yang bisa ditertawakan?"
"Aku kabur dengan mobil balapku."
"Oh..."
Itu menjelaskan kenapa hal segila itu bisa dianggap menyenagkan oleh Luffy mengingat sifatnya yang gila adrenalin itu.
"Sangat menegangkan tapi juga sangat menyenangkan. Lebih menyenangkan sebenarnya dibandingkan di sirkuit."
"Kalau kau tertangkap bagaimana Luffy!"
"Aku akan kabur lagi. Cukup menyenangkan menghindari pasukan-pasukan kakek. Mereka tidak terlalu tangguh seperti kelihatannya."
"Kau menganggap semua itu seperti permainan?"
"Hmm...mungkin. Shishishi..."
"Bagaimana kalau kau kecelakan saat itu?"
"Hei, aku sudah menjadi pembalap sejak aku SMP. Aku tidak akan semudah itu tertangkap."
"Kalau kau kecelakaan...mungkin..."
"Mungkin apa?"
"Kau tidak akan mengenalku, Luffy", mata Nami berkaca-kaca, hidungnya mulai memerah. Bisa-bisanya Luffy menganggap enteng situasi berbahaya seperti itu. Tidakkah ia sadar betapa berartinya bagi Nami bisa memandang Luffy dan berbicara dengannya dalam keadaan sehat seperti ini?
"Nami, aku..."
"Aku kenapa Luffy? Kau baru saja selamat dari kecelakaan mobil yang mengerikan dan sekarang kau membicarakan hal seperti itu dengan enteng!"
"Nami, aku tidak bermaksud seperti itu."
Nami berusaha menarik pegangan tangan Luffy, kesal karena suaminya tidak bisa terlalu sensitif dengan isu seperti itu. Duh, tadi Nami baru saja berjanji tidak akan bersikap sensitif dan sekarang ia mengingkarinya sendiri. Terkutuklah situasi ini!
Luffy langsung menyentakkan kedua pergelangan Nami, membuat tubuh Nami terjatuh ke dalam pelukan Luffy. Nami berusaha melepaskan diri, tapi saat Luffy melingkarkan lengannya di pinggang ramping Nami, ia tahu pria itu tidak akan pernah melepaskannya.
"Aku minta maaf Nami. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Maaf, aku memang bodoh. Aku selalu bersikap bodoh."
Luffy mempererat pelukannya, membagi kehangatan tubuhnya dengan Nami. Ia mencium rambut orange itu, meletakkan dagunya di atas kepala Nami dan bertekad tidak akan melepaskan pelukannya sampai istrinya tenang.
"Kau memang bodoh. Kenapa kau baru menyadarinya sekarang?" Nami berusaha memukul dada Luffy namun kedua tangannya terbelenggu dalam pelukan suaminya. Luffy mencium kening Nami berusaha menenangkannya.
"Aku tahu...Aku tahu...Aku minta maaf Nami. Jangan menangis ya. Kau tahu aku ini bodoh, jadi jangan menangis karena kebodohanku, OK?"
Nami mendongak pelan, menatap kedua mata Luffy. Kelihatan sekali jika Luffy merasa bersalah dan hal itu membuat Nami juga merasa bersalah. Luffy adalah pria paling indah dan sempurna untuknya dan hal terakhir yang ingin dilakukan Nami di dunia ini adalah membuat Luffy bersedih. Dada Nami sesak dan air mata masih mengalir di pipinya. Luffy berusaha menghapusnya dengan ibu jarinya secara lembut dan mencium hidung mungil Nami ya,ng memerah.
"Kau memang bodoh Luffy. Tapi aku mencintaimu. Jangan membuatku menjadi khawatir lagi."
Luffy mendesah pelan, meletakkan keningnya di atas kening Nami. Mereka berdua menutup mata sejenak dan menikmati kedekatan emosianal ini dalam diam.
"Aku tidak akan membuatmu khawatir lagi Nami. Aku berjanji."
Luffy mengecup bibirnya dengan lembut, membuat Nami membuka matanya secara perlahan. Nami tersenyum, senang bahwa Luffy bisa bersikap dewasa dalam keadaan penting seperti ini. Luffy memang bersikap dewasa dan Nami terkadang melupakannya saat sifat santai Luffy muncul. Sifat saat dimana Luffy ingin disayangi karena ia memang tidak memilikinya saat ia kecil dulu.
"Kau ingin tahu cerita setelah aku kabur dari kakek?"
"Tentu saja."
Luffy langsung memangku Nami seperti seorang ayah yang tengah menceritakan dongeng sebelum tidur kepada anaknya. Dan kali ini Nami tidak keberatan dimanja oleh Luffy.
Luffy menceritakan kisahnya saat ia bersembunyi di gudang bawah tanah milik Franky, salah satu temannya di arena balap liar. Franky memiliki gudang bawah tanah tempat ia mereparasi mobil balap pelanggannya. Luffy mendeskripsikan tempat itu sebagai camp pengungsian karena tidak ada teknologi modern di sana. Franky bilang hal itu bisa menghindarkan dirinya dari polisi yang sering mengejar para pembalap liar. Nami mulai menyimpulkan bahwa Franky yang nyentrik itu seperti hidup seperti dalam film Fast and Furious sekaligus Enemy of The State. Satu hal karena kehidupannya sebagai pembalap liar dan disisi lain karena memiliki tempat yang tidak bisa disadap Pemerintah Dunia sekalipun. Nami merasa geli sendiri dengan pemikirannya yang konyol.
Tapi dari cerita Luffy, ternyata Franky inilah yang membantu Luffy meraih karir impiannya sebagai pembalap. Dengan bantuan Franky, Usopp dan teman-teman balapnya, Luffy mendaftarkan diri ke kejuaraan balap pemula. Semula Luffy berniat membantu Franky membayar kebutuhan biaya bengkelnya dengan memenangkan kejuaraan. Namun ternyata semua itu mengarahkan Luffy ke dalam karirnya. Dari kejuaraan kecil, perlahan orang-orang mengenal Luffy karena kemampuannya. Mulai muncul sponsor yang mendanai kejuarannya dan Luffy dengan kemampuan balapnya secara cepat menaiki kelas kejuaraan hingga ia mampu mencapai kejuaraan tertinggi: Kejuaraan One Piece.
"Apa selama ini kau diam-diam mengikuti kejuaraan balap di belakangku Luffy?" tanya Nami sendu. Ia merasa dikhianati jika memikirkannya. Nami merasa Luffy...berselingkuh di belakangnya. Syukurlah itu bukan mengenai perempuan lain. Tapi tetap saja membayangkan Luffy melakukan hal yang disukainya secara diam-diam selama ini membuat Nami merasa agak cemburu.
"Iya", Luffy mengalihkan pandangannya ke arah televisi, berusaha menghindari tatapan Nami. Sepertinya Luffy merasa bersalah dengan jawabannya sendiri.
"Bahkan selama kita pacaran?"
"Tidak Nami. Aku mengikuti kejuaraan lagi selama satu bulan terakhir ini."
"Benarkah? Kenapa?" Nami tentu saja terkejut mendengarnya.
"Karena kejuaraannya memang baru dibuka sebulan yang lalu."
"Bukan. Maksudku kau tidak mengikuti kejuaraan selama aku mengenalmu? Itu sangat lama Luffy."
"Aku rasa kau benar Nami. Sudah cukup lama."
"Kau tidak mengikuti kejuaraan selama kita pacaran?"
"Aku tidak mengikuti kejuaraan bahkan sebelum aku mengenalmu."
"Berapa lama? Tiga tahun?"
"Hmm...Aku rasa dua tahun ini. Saat aku bertemu denganmu, kira-kira aku sudah berhenti membalap selama setengah tahun."
"Jadi itu bukan karena aku?"
"Maksudmu?"
"Kau tidak berhenti membalap karena aku kan?"
"Tidak Nami. Aku tidak berhenti membalap karena dirimu."
Nami menghela napas lega. Paling tidak ia tidak merasa bersalah karena menjauhkan Luffy dari hal yang paling disukainya. Tadi Nami baru saja berpikir ia cemburu dengan dunia balap yang ditekuni Luffy. Sekarang ia merasa lega karena Luffy tidak berhenti membalap karena dirinya. Kedengarannta munafik. Nami hanya tersenyum kecil menanggapi pemikirannya sendiri.
"Lalu kenapa kau berhenti membalap, Luffy?"
Lama Luffy menjawab pertanyaan istrinya. Pria berambut hitam ini menatap Nami dengan tatapan intens dan Nami mulai bertanya-tanya lagi.
"Dua tahun yang lalu aku mengalami kecelakaan di arena balap."
Hati Nami menciut lagi. Ia merasa kenangannya di arena balap malam itu terulang kembali di otaknya. Perasaan putus asa karena dunia mulai runtuh mengantuinya lagi. Nami langsung melingkarkan kedua lengannya di leher Luffy, membenamkan wajahnya di rambut hitam Luffy, menghirup aromanya. Nami memeluk suaminya erat-erat, seakan-akan Luffy bisa menghilang dari hadapannya. Oh Tuhan, betapa ia mencintai pria ini. Sakit rasanya membayangkan Luffy tidak bisa bersamanya lagi.
Nami tidak ingin menangis lagi. Ia ingin memastikan bahwa suaminya ada di sampingnya, masih utuh dan masih banyak waktu untuk dicintai. Diraihnya wajah Luffy dengan kedua telapak tangannya dan diraihnya bibir pria itu dengan bibir mungilnya. Nami menumpahkan segala rasa sedihnya, rasa putus asa selama beberapa hari belakangan ini sekaligus rasa bahagianya saat ini. Luffy hanya bisa mendesah pelan, menikmati ciuman Nami yang intens sambil memeluk istrinya erat-erat sebelum membopong perempuan berambut orange itu ke dalam kamar utama.
Bersambung...
A/N :
Ya ampun, aku ga nyangka bisa update fic lagi. Udah berapa lama ini. Setahun? Agh...maaf ya, aku ga sempet. *Plak. Sok sibuk banget sih*
Karena sekarang aku dah ga sekolah lagi, jadi kurasa waktu luang yang aku miliki ga sebanyak dulu lagi. Jadi mohon maklum. Aku akan berusaha update fic semampu aku ya?
So...review please? XD
