Hitam.

Karena hidup yang mempermainkan, fakta yang begitu frontal, dan kita yang hancur.


#07: Black

赤と青

Disclaimer:

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

赤と青 © Ayano Suzune


Iris mata Kuroko terarah pada gadis yang berada tak jauh darinya, baru saja memasuki kelas di tengah waktu istirahat yang sedang berlangsung, entah darimana sebelumnya.

Senyuman kecil menghiasi wajahnya mengingat kejadian yang terjadi seminggu yang lalu, yang dapat diingatnya seberapa sering ia menemukan kurva langka di wajah yang begitu sulit ditangkap lensa. Bahkan Kuroko berani bertaruh, Akashi-kun tidak pernah melihat pemandangan itu sesering dirinya.

Setidaknya semenjak acara makan malam kecil dalam rumahnya yang berukuran minimalis dengan peserta tiga orang; dirinya sendiri, ibunya, dan Akashi Seishina, Kuroko mendapati wajah gadis itu menjadi lebih cerah di kemudian hari. Meskipun tidak banyak yang berubah, memangnya apa sih perubahan yang ia harapkan dari seorang Akashi yang begitu kaku dan dingin seperti dua remaja yang dikenalnya?

Tapi setidaknya Kuroko tahu, wajah gadis itu tidak lagi menyiratkan lelah yang terlalu dalam, ia seperti mencoba untuk bertahan akhir-akhir ini entah karena apa. Sama halnya dengan Seijuurou, Kuroko mendapati hal yang serupa. Mungkin keduanya mulai disibuki dengan pekerjaan-pekerjaan dari perusahaan yang hanya mereka ketahui dan juga tes masuk SMA yang sebentar lagi akan diadakan.

Ngomong-ngomong soal SMA, Kuroko belum memutuskan. Kemana kedua temannya itu akan pergi?

"Tetsuya," penggalan nama itu merupakan satu-satunya yang mengembalikan Kuroko pada realita, memutar kepalanya dengan mengubah sedikit posisi duduknya untuk menatap orang yang akan menjadi lawan bicaranya—tak lain dari gadis yang berada dalam pikirannya beberapa saat yang lalu.

Manik biru yang sama mengerjap ketika sosok itu mendekat, sedangkan Kuroko sama sekali tidak berniat untuk berdiri dan mempersempit jarak di antara keduanya. Toh pada akhirnya Seishina yang akan sampai di sini duluan.

"Seijuurou ingin bicara padamu," kalimat pendek ini membuat kening Kuroko berkerut samar, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh gadis yang menyandang marga ternama itu. Jika Seijuurou ingin bicara padanya, kenapa tidak langsung menghampirinya saja, harus melalui perantara gadis ini?

Kuroko menganggukkan kepalanya sekali, memberi sinyal bahwa ia mengerti dan langsung mengubah posisinya saat itu juga. Berdiri, kemudian menyelipkan tubuhnya keluar dari kursi yang didudukinya dengan meja yang nyaris menghimpit diri.

"Tetsuya," suara yang sama lagi-lagi mencegat, menimbulkan rasa penasaran yang diam-diam muncul di pikiran Kuroko. Membalikkan kepalanya lagi, ia menunggu kelanjutan dari kalimat yang sempat terputus hanya untuk mendapat perhatian seorang Kuroko Tetsuya.

"Aku belum sempat berterima kasih secara formal saat itu."

—Apa?

"Terima kasih, atas makan malamnya." Dan gadis itu berbalik begitu saja, tanpa meninggalkan sedikit pun jejak tentang keterangan lebih lanjut yang seharusnya dapat disampaikan. Namun kalimat itu saja sudah mendapat perhatian penuh dari Kuroko, mengetahui pemuda itu mengerti akan hal yang disampaikan lebih dari yang orang lain pikirkan.

Bibir tipisnya membentuk sebuah senyum samar, kecil namun tulus. Sebelum akhirnya ia sendiri berjalan meninggalkan tempat itu, berjalan menuju perpustakaan dimana Seijuurou sedang berkutat dengan buku-buku tebal yang seringkali dihindari para siswa dan siswi.

.

Perpustakaan adalah satu-satunya tempat selain atap sekolah yang menjadi tempat di bawah naungan Akashi Seijuurou ketika bosan menyergapnya begitu saja entah dari mana. Waktu istirahat masih cukup panjang dan bekalnya sudah tandas dalam waktu lima belas menit pertama, menjadi alasan mengapa ia memilih untuk meniti baris demi baris pada ensiklopedia yang berada di hadapannya.

Tapi tampaknya ketenangan yang didapat tidak akan berlangsung lama.

"Akashi-kun." Mengangkat kepalanya sedikit, pandangan mata datar diberikan. Akashi mengurungkan niatnya untuk langsung memelototi siapapun yang berani-beraninya mengganggu ketenangan yang didapatnya dengan cuma-cuma, hanya saja melihat bahwa yang menyapanya barusan adalah Kuroko, ia tak dapat protes lebih jauh mengingat pemuda ini datang atas perintahnya.

"Akashi-kun memanggilku?"

"Duduk, Tetsuya." Pemuda yang lebih kecil hanya dapat menurut, menarik kursi yang berada di hadapan Akashi, mengisi kursi kedua dari empat yang ada dan menempatkan kembali perhatiannya pada sang kapten. Tatapan yang kosong dan datar, seperti sebagaimana mestinya.

"Akashi-kun memanggilku?"

"Kau tidak perlu mengulanginya, Tetsuya, aku sudah mendengar yang pertama." Tak ada kalimat ancaman, nadanya pun terdengar ringan. Namun saat Akashi meletakkan ensiklopedia itu sepenuhnya, iris dwiwarna itu tak pernah berhenti bersinar, seperti akan menyala di saat lampu-lampu mati, dan kini keduanya memandang Kuroko tanpa gentar. "Jelaskan padaku, apa yang kaulakukan dengan Seishina hari itu?"

Hari itu? Hari yang mana? Kuroko tidak mengerti maksudnya.

"Akashi-kun, aku tidak tahu hari yang dimaksud Akashi-kun itu sebenarnya hari yang ma—"

"Saat aku pulang lebih telat, Seishina tidak langsung pulang 'kan?" Kalimat itu diputus saja, diputus sepihak oleh sang emperor tanpa henti hingga ia menyelesaikan kalimatnya sampai puas. "Aku dengar ia ke rumahmu terlebih dahulu."

"Ah, memang benar." Kuroko tidak memiliki niat untuk berbohong, lagipula apa gunanya berbohong di hadapan seorang Akashi? Jika pemuda berambut merah itu sedang baik suasana hatinya, mungkin yang dilakukannya hanya menceramahi Kuroko sampai ia tidak dapat mengingat lebih lagi apa yang disampaikan. Tapi jika sedang buruk? Kuroko tidak ingin pemikirannya bahwa permainan gunting harus dilibatkan dalam hal ini.

"Akashi-san ikut dalam makan malam di rumahku," Kuroko hanya menjawabnya dengan nada datar, seolah yang dikatakannya bukanlah sebuah masalah besar meskipun kini ia menyadari kerutan yang muncul di dahi Akashi, tanpa diketahui pemiliknya sendiri.

"Makan malam?"

"Makan malam," Kuroko mengangguk, menegaskan kalimat sebelumnya. "Aku sudah berjanji padanya saat aku ke rumah Akashi-kun dan Akashi-san saat itu, saat Akashi-kun meninggalkan kami berdua."

"Oh?"

Pembicaraan ini entah kenapa menarik perhatian Akashi, dalam waktu yang bersamaan ia ingin memutusnya begitu saja. Tapi tampaknya Kuroko masih akan melanjutkan, makanya ia diam saja dan membiarkan pemuda itu melanjutkan penjelasan yang berada di kepalanya.

Kuroko mengangguk lagi, sekali sebelum mulutnya kembali melontarkan kata-kata yang sudah disusunnya rapi. "Aku mengatakan bahwa rumah Akashi-san dan Akashi-kun tidak memiliki suatu hal yang rumahku miliki." Berani sekali Kuroko Tetsuya ini, ia bahkan mengatakannya secara langsung di hadapan seorang Akashi. Dan ini merupakan yang kedua kalinya.

"Oleh karena itu Akashi-san ingin membuktikannya sendiri."

"Dan jawabannya?"

"Aku harap perkiraanku benar," kali ini ucapan itu disertai senyum tipis yang diundang untuk membentuk bibir Kuroko sedemikian rupa, meskipun ekspresi yang sedikit lebih banyak di wajah datar itu tidak mendapat respon lebih dari Akashi Seijuurou. Seijuurou menaikkan sebelah alisnya, tidak ingin repot-repot mengatakan bahwa ia menginginkan Kuroko melanjutkan kalimat yang disampaikannya.

Hening melanda untuk beberapa saat, entah karena Akashi yang tak menyampaikan bahwa ia menginginkan informasi lebih atau Kuroko yang tidak mengerti bahwa ia harus menyampaikan sesuatu yang lebih, atau mungkin Kuroko sendiri tidak ingin. Membuka kedua belah bibir yang terkatup selama beberapa saat terakhir, kalimat Akashi hanya sampai pada ujung lidahnya sendiri.

"Awalnya aku ragu untuk mengajak Akashi-san ke rumahku." Ragu? Ini merupakan hal yang baru, Kuroko Tetsuya sampai ragu hanya untuk mengajak gadis yang kini memiliki status sebagai tunangannya ke rumahnya sendiri? "Tapi tampaknya aku menyadari bahwa keraguan tak beralasan itu tidak diperlukan."

"Memangnya apa yang kauragukan?" Menelan kembali pertanyaannya sendiri, Akashi mengajukan sebuah pertanyaan baru, tidak peduli pada rasa penasaran akan pertanyaan yang tertahan di ujung lidahnya sendiri, ia menginginkan jawaban dari Kuroko Tetsuya untuk pertanyaan yang ini.

"Aku ragu," Kuroko berhenti sebentar, tampaknya pikiran berkecamuk saat ia hendak menyampaikan hal ini pada seorang Akashi dan bukan ibunya seperti saat itu. "Kalau seandainya rumahku tidak cocok untuk Akashi-san karena kalian selalu dipenuhi fasilitas yang lebih, berbeda dengan rumahku. Aku takut kalau Akashi-san tidak cocok dengan segalanya."

"Memang sebuah perasaan ragu tak beralasan yang tak diperlukan, kau tak melihat wajah Seishina selama seminggu terakhir ini."

"Aku melihatnya," Kuroko menatap datar ke arah ensiklopedia yang masih terbuka di hadapan Akashi, berjarak lebih jauh dari pandangan matanya hanya saja tatapan mata itu kosong, meskipun senyum di wajah tetap melekat sempurna. "Aku melihatnya, sesuatu yang Akashi-kun tidak dapat melihatnya. Aku melihat lebih dari yang Akashi-kun lihat dan ia merasakan sesuatu yang tak dapat Akashi-kun rasakan."

Kalimat-kalimat itu membuat Akashi terdiam, mencernanya satu per satu dalam pikirannya sendiri. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menutup buku tebal yang berada di hadapannya, pikiran bahwa lonceng sebentar lagi berbunyi tanda bahwa istirahat telah selesai memenuhi pikirannya. Tampaknya ia salah telah mengundang Kuroko Tetsuya di waktu istirahatnya untuk suatu perbincangan kecil.

"Dan sekarang kembali pada yang sebelumnya, apa Seishina menemukan sesuatu yang tidak ada di rumah kami dan ada di rumahmu?"

"Ya."

"Aku turut senang mendengarnya," kursi itu didorong ke belakang sebelum Akashi menegakkan kembali tubuhnya, berjalan ke arah rak buku dan meletakkan kembali objek yang sempat menjadi tempatnya berfokus selama beberapa menit saja. Sedangkan Kuroko ikut berdiri dengan perlahan, memasukkan kembali kursi yang didudukinya sambil tetap berusaha untuk tidak memecah keheningan yang tercipta entah sejak kapan.

"Biar bagaimanapun ia saudaraku."

"Akashi-kun harus mencobanya sekali-sekali." Akashi mengarahkan pandangannya ke arah Kuroko, yang kini balas menatapnya datar. Senyum yang tadi ada di bibir tampaknya sudah luput, meskipun tidak sepenuhnya, kedua iris dwiwarna itu masih dapat membuktikan bekasnya.

"Jadi maksudnya Tetsuya akan membawaku ke rumah untuk makan malam, suatu hari?" Kalimat ini sedikit mengandung candaan, tidak mampu mengubah air muka Kuroko yang berprinsip tetap.

"Suatu hari, Akashi-kun, aku berharap."

"Memangnya, apa yang ada di rumahmu dan tidak ada di kediaman Akashi?"

Kuroko terdiam sejenak, tidak yakin bagaimana untuk menjelaskannya. Biar bagaimana pun juga, Akashi ini harus merasakannya sendiri, barulah ia akan mengerti.

"Kebahagiaan yang tak terdefinisikan." Dan Kuroko merasakan surai birunya mendapat sebuah sentuhan lembut, dengan tangan yang sama mengacaknya pelan kemudian.

.

Tangan yang sama pucatnya dengan kulit wajah itu merangkak naik, berhenti di puncak helaian rambut biru yang tertata sedemikian rupa hasil tatanan Kise beberapa menit yang lalu dengan alasan bahwa model rambutnya tak pernah berganti. Tangan itu kembali merangkak turun, ketika disadarinya perbuatan semacam itu dapat mengundang pertanyaan ketiga pemuda lain yang jauh lebih tinggi darinya.

Sentuhan itu masih terasa.

Pikiran Kuroko kembali ketika tangan Akashi mengenai puncak kepalanya, memberikan sebuah sentuhan lembut dan mengacaknya perlahan dengan tujuan entah untuk memujinya atau menghiburnya kemarin. Bahkan argumen berisik yang berasal dari Kise dan Aomine pun tak dihiraukannya, apalagi ocehan Midorima yang mengeluh karena keduanya yang tak bisa diam.

Sementara itu iris mata Kuroko mendapati siluet yang sempat menetap di kepalanya tadi malam, membuatnya tak bisa tidur ketika bintang-bintang mulai menampakkan diri. Akashi berjalan ke arah mereka dengan Murasakibara yang berjalan di belakangnya, lengkap dengan kantung-kantung makanan ringan seperti biasa.

Perjanjian kecil yang mereka buat kemarin sore menjadi alasan kenapa keenamnya berkumpul di sini, meskipun Akashi sempat menentang dan mengusulkan bahwa mereka hendaknya pergi ke tempat lain, toh akhirnya keputusan yang dibuat tetap karena ia tak dapat membantah alasan yang diberikan Kuroko; ingin minum vanilla milkshake kesukaannya.

Celotehan-celotehan ringan hanya berasal dari bibir Kise dan Aomine, yang lainnya hanya menimpali saja jika perlu selama perjalanan yang mereka lewati menggunakan kaki-kaki mereka sendiri. Sementara itu Kuroko lebih memilih diam, sibuk dengan pikirannya sendiri.

"—Tetsuya?" Panggilan itu membawanya kembali ke realita, saat ia masih mencoba mencari apa yang salah dengan dirinya selama ini sang kapten sudah memanggilnya. Diangkatnya kepala, menghadap ke arah Akashi yang menatapnya dengan pandangan mata biasa kali ini. "Ada apa? Kau tidak membalas panggilanku."

"Maafkan aku, Akashi-kun," lagi-lagi datar seperti biasanya Kuroko menjawab, menyembunyikan ekspresinya jauh lebih baik dari ekspektasi siapapun. "Aku hanya sedang melamun, tampaknya ada sesuatu yang akhir-akhir ini kupikirkan." Dan ia tidak menyembunyikan fakta bahwa perbuatan Akashi mengusiknya dari kemarin.

Akashi tidak sekalipun bertanya tentang hal yang membenahi Kuroko itu, ia hanya melanjutkan jalannya dengan wibawa seorang kapten, seperti biasanya.

Perjalanan yang ditempuh tidak cukup panjang. Dalam waktu sebentar saja mereka sudah sampai di depan Maji Burger, dengan Kise dan Aomine yang lagi-lagi membuat kerusuhan dengan berebutan masuk duluan.

"Akashi-kun ingin pesan apa?" Melirik Aomine yang membawa puluhan burger dari kounter menuju meja dimana Midorima dan Murasakibara sudah duduk, Kuroko memutuskan untuk bertanya. Sedangkan ia sendiri—tentunya ia sudah memiliki tujuan yang jelas dengan ngotot untuk datang kesini, bukan?

"Cappucino," hanya itu yang dijawab oleh sang kapten, selanjutnya ia hanya memperhatikan pemain bayangan yang entah keberapa kalinya membuat kaget penjaga kounter itu dengan eksistensinya yang tipis. Sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.

"Biar aku yang bayar, Tetsuya." Entah kenapa rasanya tidak tega membiarkan kebahagiaan Kuroko untuk menyesap minuman dingin yang terbuat mayoritas dari susu itu terhenti hanya karena ia harus mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang yen.

Kuroko memutar kepalanya perlahan, melihat Akashi yang sudah sibuk dengan dompetnya, memberikan beberapa lembar uang untuk membayar kedua minuman mereka itu. "Arigatou, Akashi-kun."

Akashi hanya membalasnya dengan sebuah anggukan kecil, tangannya meraih ke arah baki kecil yang hanya menampung cangkir minumannya yang masih panas, dengan beberapa lembar tisu tersebar. Keduanya berjalan ke arah meja yang sudah dipenuhi empat orang, tampaknya mereka yang terakhir.

Pertemuan kecil itu berlangsung hangat, diam-diam Kuroko mengangkat sudut bibirnya kala ia menemukan sesuatu yang menarik, argumen-argumen kecil sekalipun. Komentar-komentar kecil juga dapat membuatnya tertawa dalam hati.

"Akashicchi punya tunangan juga?" Eh? Komentar Kise kali ini membuat minuman yang masih dalam perjalanannya di sedotan berhenti, menunda perjalanannya untuk masuk ke bibir Kuroko dan membiarkannya melebur di indera pengecapnya. Mengedipkan matanya sekali, ia menolehkan kepala pada Akashi, menatapnya datar seperti biasa meskipun tak dapat dipungkiri; ia juga penasaran akan hal ini.

Secara semua juga tahu, kembaran Akashi yang perempuan itu kini ditunangkan dengan Kuroko Tetsuya.

Akashi meletakkan cangkir minuman yang terdiri dari campuran kafein dan susu itu di meja, masih dengan tenang meskipun ia sendiri mengetahui pertanyaan itu membuka privasinya. Tapi apa salahnya mengucapkan apa adanya seperti kondisinya sekarang?

"Tidak." Jawaban itu diutarakannya dengan tenang, kalem seperti biasanya. "Mungkin untuk sekarang ini; tidak."

Untuk sekarang ini.

Kelima di antaranya terdiam mendengarkan penuturan kapten mereka. Kuroko sendiri mencoba untuk mengibaskan perasaan aneh yang menyelinap, menguburkannya dalam-dalam dan berharap rasa manis dari minumannya dapat melenyapkannya begitu saja. Tapi tampaknya tidak semudah itu, eh.

"Begitu," Kise mengangguk-angguk. Seperti biasa, ia mulai ceplas-ceplos lagi, nggak merhatiin sikon. "Kalau Kurokocchi tidak apa-apa ditunangkan dengan Akashi-chan?" Tolong, ia masih memanggil gadis itu dengan embel-embel yang tidak pernah hidup dalam keluarga Akashi, dan secara tidak langsung membawa satu Akashi lagi ke dalam percakapan. Satu Akashi saja sudah membuat tensi atmosfir naik, dan itu masih belum cukup?

Kuroko perlahan menjauhkan sedotan dari belahan bibirnya, terdiam sejenak meskipun ia tahu seluruh pasang mata dari peserta perbincangan kecil yang melingkari meja itu mengarah padanya. "Aku tidak keberatan," kalimat itu diutarakan dengan nada datar. "Bukan berarti aku tidak menyukai Akashi-san."

"Jadi kau menyukainya?"

"—Entahlah." Kalimat itu hanya membuat semuanya bengong, terkecuali Akashi yang menghempaskan tubuhnya di kursi. Bibirnya membentuk sebuah senyum samar, mati-matian ditahannya kekehan yang hampir keluar. "Terdengar seperti Tetsuya."

"Maaf, Akashi-kun?"

"Ah, tidak, tidak apa-apa."

Ponsel berwarna biru muda yang tersimpan di dalam saku itu bergetar, membuat Kuroko menyelipkan tangannya ke dalam celah pada pakaiannya tersebut, membawanya keluar.

Otou-san.

Keningnya berkerut samar, seingatnya ia sudah memberitahukan ibunya bahwa ia akan berkumpul sebentar dengan yang lainnya, mungkin akan kembali pada pukul enam sore. Tetap saja panggilan itu tak dapat diabaikannya.

Sebelum ia dapat berbicara di telepon, menempelkan ponsel itu di telinga kirinya, suara ayahnya terdengar tergesa-gesa. "Tetsuya?"

"Otou-san, ada a—"

"Tetsuya, ibumu." Kerutan di kening Kuroko semakin dalam, ia makin bingung kemana arah pembicaraan ini akan mengarah. "Ibumu, ada kecelakaan menimpanya. Sekarang ia—"

Iris mata Kuroko meredup, meskipun tak banyak perubahan ekspresi yang ada di sana karena memang dari awal raut wajahnya sudah datar, tetap saja ada keganjilan yang ada.

Dengan cepat dan bahkan tanpa izin, Akashi mengambil alih ponsel tersebut, mengetahui ada yang salah di sini. Kuroko yang kini terdiam, setengah pembicaraannya dengan ayahnya sendiri tampak seperti dengungan di telinga; ia tak merasakan apa-apa.

"Baik, Tetsuya akan segera kesana."

Ponsel tersebut dimatikan, bersamaan dengan Akashi yang menegakkan tubuhnya, mendorong kursi keluar dan dengan perlahan menarik lengan pemuda berambut biru yang berada di sampingnya tadi. "Tetsuya, ayo."

"Akashi, ada apa?" Midorima akhirnya angkat bicara, mewakili semua yang sudah penasaran sejak tadi dari awal mereka melihat perubahaan raut wajah Kuroko.

"Kuroko-san tertimpa kecelakaan." Akashi memulai, masih mencoba untuk tetap tenang meskipun ekspresi-ekspresi wajah kaget mulai terlihat di paras teman-teman satu timnya. "Kalau kalian mau ikut, cepatlah."

Dan itulah awal ketika satu per satu dari mereka memasuki mobil panjang hitam legam milik keluarga Akashi, entah sejak kapan mobil tersebut sudah bertengger di luar Maji Burger, siap untuk membawa mereka ke rumah sakit.

.

Suasana di rumah sakit hampir tidak ada bedanya dengan suasana mobil yang begitu tenang, tenang dalam artian yang tidak cukup baik bila Kuroko sendiri yang menyimpulkan. Ketika semuanya, termasuk Kise dan Aomine memutuskan untuk diam dibandingkan berkelahi seperti biasanya.

Kuroko hampir hancur dalam tangisannya ketika sebuah tangan dengan cepat meraih tangan kanannya, menolehkan kepalanya dan ia mendapati siapa orang yang dengan baik hatinya mau menghibur pemuda kecil itu. Air mata yang hanya sebatas ujung mata berhenti di sana, tidak jadi bermuara di dagu dan ia menutup kedua matanya begitu merasakan jari-jari halus yang mengusap bagian itu, menghapusnya hingga tak meninggalkan jejak langkah.

Tak ada kata-kata berupa hiburan yang disampaikan oleh pemuda berambut merah itu setelah ia menghapus air mata Kuroko seluruhnya. Genggaman tangan itu justru menguat, bukan rasa sakit yang Kuroko rasakan, melainkan kehangatan nyaman yang tiada batas.

Mereka menemui figur seorang Kuroko yang lebih tua, duduk di kursi tunggu di depan ruangan yang memiliki sang ibu di dalamnya. Tampaknya ayah dari Kuroko Tetsuya tersebut sedang menenangkan seorang anak perempuan yang tak mengeluarkan suara dengan kedua telapak tangan menutupi wajah.

Seijuurou mengerutkan kening. Sejak kapan kembarannya sampai di sini lebih dulu? Apa ia mendapat kabarnya lebih dulu?

"Otou-san—"

"Tetsuya," ayahnya langsung memutus, senyuman pilu berada di wajahnya. "Kaudatang juga."

"Tentu saja aku akan datang." Nada suara Kuroko agak meninggi, meskipun tidak begitu berubah dari bagaimana seharusnya. "Otou-sanokaa-san ... ia bagaimana?"

Hanya bahu yang dikedikkan yang menjadi balasan, cukup untuk membuat Kuroko bungkam dan memutuskan untuk menempatkan diri di sebelah gadis itu, gadis yang dikenalnya, yang biasanya mengangkat wajahnya tinggi-tinggi dan kini menyembunyikan wajah dengan ekspresi arogan yang tinggi, ego yang tak terkira itu dari dunia luar.

"Akashi-san—" Tangan yang sempat terulur untuk memberi sebuah tepukan hangat, menyentuh gadis itu untuk membuatnya lebih nyaman dari keadaannya sekarang dihentikan. Kuroko memutar kepalanya, mendapati Seijuurou yang menahan tangannya lalu menggelengkan kepalanya. Memberi sinyal bahwa lebih baik membiarkan Seishina dengan dunianya sendiri.

Kuroko melirik sedikit, sebelum memusatkan seluruh perhatiannya dari gadis itu pada ibunya yang masih di dalam sana, dengan kondisi yang tidak begitu jelas sekarang. Sedangkan Seijuurou melirik sedikit kembarannya sebelum akhirnya menghela napas, pikiran-pikiran menghantuinya sekarang.

Ia tahu kembarannya tidak menangis, tidak akan pernah mau ia menangis di depan umum seperti ini. Bahkan Seijuurou ingat, sebelum ego mereka begitu tinggi seperti sekarang ini, Seishina hanya sudi menangis di depan keluarganya saja. Terbukti bagi Seijuurou yang mengalami pundaknya basah setiap kali gadis itu memutuskan untuk menghambur ke pelukannya untuk menghentikan air mata yang mengalir entah sejak kapan.

Dan sekarang ia menutupi wajahnya, terlebih lagi matanya dengan kedua telapak tangan. Sekarang Seijuurou ragu, apa benar, kalau sebenarnya cairan bening itu membuat jalannya di wajahnya yang mulus?

Pertanyaan itu tertinggal tak terjawab, terlebih saat dokter keluar dan menatap ke arah orang-orang yang kini duduk di kursi-kursi yang disediakan untuk menunggu; agak bingung sebenarnya karena jumlah yang bertambah drastis.

Dengan cepat Kuroko bangkit dari duduknya, mendahului ayahnya bahkan dan berdiri di hadapan pria paruh baya yang entah namanya siapa; ia tidak memedulikan hal itu sekarang. "Maaf, bagaimana keadaan Okaa-san?" Meskipun begitu, tentu saja nada suara seorang Kuroko Tetsuya masih lembut, dengan volume yang sepantasnya atau lebih rendah dari ukuran normal ketika ia menghaturkan pertanyaan itu.

Sang dokter melirik pada pemuda itu, berdeham sebentar dan saat itu juga kepala keluarga dari keluarga Kuroko itu mulai bangkit, berdiri di samping Kuroko. Tampaknya dari tatapan itu, beliau menanyakan hal yang sama.

Sang dokter menghela napas, kemudian menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan sesuatu yang membuat Kuroko membulatkan kedua matanya tidak percaya. Tidak, tidak, ia tidak percaya dengan kenyataan ini—

"Tidak ... mungkin—" Kuroko membalikkan kepala, khawatir mendengar suara parau itu, begitu familiar namun rasanya begitu janggal. "Tidak ... ti-tidak mungkin—"

Sekarang Seijuurou tahu, kembarannya tadi tidak menangis. "Seishina, kita semua—"

"Diam!" Kata itu terlontar begitu saja, teriakannya terdengar melengking, beda dengan nada suaranya yang biasa. Dengan cepat gadis itu menghambur pada Seijuurou, membuat Seijuurou menatapnya tidak percaya.

Apa, dia berencana menangis di sini? Di hadapan semua orang?

Dan saat itu Seijuurou dapat merasakan bahunya mulai basah. Seperti nostalgia? Sesuatu yang ia alami terakhir beberapa tahun lalu?

Suara isakan tertahan mulai terdengar, semuanya terfokus pada satu titik. Sampai akhirnya Kuroko memutuskan untuk mengambil alih akan situasi ini. Diulurkannya tangan, berusaha mencapai bahu yang masih berguncang cepat itu.

"Akashi-san—"

"Diam!" Lagi-lagi kosakata yang sama, dan juga kibasan tangan yang menciptakan jarak di antara mereka berdua menjadi lebih besar. Kuroko berjalan mundur.

"Jangan sentuh aku! Jangan lihat aku!" Teriakan itu lagi-lagi menggema, seraya dengan bertambah kerasnya isakan itu dapat terdengar.

Kuroko menatap Seishina pilu, kemudian mendapat isyarat Seijuurou yang hanya sebatas gelengan kepala.

Setidaknya Kuroko tahu yang membuat kapten tim basket putri itu seperti ini. Ia tahu, karena gadis itu merasakan hal yang serupa dengan dirinya.

Ketika sumber kebahagiaan, kehangatan, dan perasaan yang terjalin dalam keluarga itu hilang—apa yang akan kaulakukan?

.

Kuroko menatap kosong tanah yang berada di depannya, sekaleng jus jeruk yang sudah dibukanya sejak tadi itu belum tersentuh, berada dalam genggamannya yang longgar.

"Tetsuya," Kuroko mengangkat kepalanya naik, mendapati Akashi tengah memilih posisi untuk duduk di sampingnya dan membuang napas. Pemuda bersurai biru itu seakan tidak peduli, kembali menatap kosong lahan yang sama.

"Seishina sudah agaknya lumayan tenang." Tidak perlu dikatakan kalau ia sampai harus menepuk kepala kembarannya berkali-kali, menenangkannya perlahan seperti yang dulu ia lakukan dan berharap bahwa gadis itu tidak membasahi pakaiannya lebih lagi.

"Bukankah itu baik," suara itu lebih mirip lirihan, bisikan kecil yang keluar dari mulut Kuroko. Lagi-lagi Akashi menghela napas, kemudian ia meraih tangan Kuroko, membawanya pada genggaman terhangat, lebih hangat dari yang dirasakannya di mobil tadi.

Perlakuan itu lebih dari cukup bagi Kuroko untuk mengerti apa yang menjadi isyarat Akashi. Detik berikutnya butiran air mata itu turun, satu per satu menjelajahi permukaan kulitnya yang pucat. Tangan yang tak tergenggam itu melangkah naik, berusaha menghapus jejak-jejak yang tertoreh di sana.

Sebelum ia sempat melakukan hal itu, Akashi sudah menarik tangan yang terbebas dari genggamannya. Dalam satu hentakan menarik pemuda yang lebih kecil itu ke dalam pelukan.

Kuroko mencoba menahan isakannya, menahan segala gejolak emosi yang bernaung di pikirannya selama ini dan merasakan kehangatan tangan Akashi yang menepuk kepalanya, mengusap surai biru langitnya dengan perlahan dan juga usapan di punggungnya yang begitu nyaman.

"Jangan ditahan."

Dan karena dua kata itulah Kuroko Tetsuya semakin tidak bisa berhenti, semakin tidak bisa mengontrol dirinya, membiarkan emosinya mengontrol dirinya sendiri, dan ia membasahi pakaian Akashi lebih lagi.

.

.

To be continued


A/N

Maafkan saya karena update-nya lama banget. Saya tau ini bahkan udah lewat sebulan dan dulu bahkan bisa cuma lima hari untuk update QwQ

Mungkin ini karena WB sementara(?) yang saya alami, juga kemaren itu saya UKK dan live in. Maafkan saya Dx

Tapi chapter yang ini agak lumayan(?) panjang dibanding yang sebelumnya, semoga bisa memuaskan uwu

Terima kasih sudah membacanya sampai akhir, semoga nggak bosan sama jalan ceritanya karena saya mau munculin hint AkaKuro! /plak

Masih berminat untuk review~?

[08.06.14]