"Wah, wah. Siapa orang tolol yang memesan deluxe strawberry parfait di tengah badai salju?" tawa geli memasuki pintu seraya pirang stroberinya diacak penuh gemas, mengaktifkan alarm imajiner dalam benak pemiliknya. Titinada usil lagi-lagi datang mengusik—gelagat yang ada sejak bertahun silam, sampai mustahil tergantikan rasanya. Asano tidak perlu repot menerka siapa pelakunya, karena memang sudah sangat jelas:
"Kau sebegitu rindunya? Aduh, jadwal tuan birokrat ini amat padat, lho~"
Akabane Karma.
.
.
.
.
.
Ketika Lonceng Berbunyi
the continuation
Assassination Classroom (c) Matsui Yusei
Special Menu:
frozen strawberry parfait
and
soothing honey lemon
served with a faint scent of KaruNagi
Warnings:
for OOCness, maybe typo(s), and of course: NTR, drama, yodium and a bunch of delicious menye-ness. Gakushuu labil, kiyoha pun labil. #HEH
.
.
.
.
.
"Akabane."
"Aku tidak kenal siapa itu Akabane—" Karma mengekeh tertahan, "sebut aku tuan birokrat."
"Kau belum jadi itu, jang—hentikan tanganmu itu, atau kubunuh kau." Lidah tajam Asano mendesis sebal seperti kobra, pertanda benci diperlakukan seakan ia masih seorang bocah ingusan. Lagipula, hei, jika ditanya mana dari keduanya yang lebih bocah, Karma-lah jawabannya. Begitu faktanya, apa ia salah?
"Membunuhku, di kafe ini? Tak perlu kuingatkan 'kan siapa yang lebih mahir perkara itu—kau lupa soal Koro-sensei? Tapi aku takkan melakukannya kepadamu, tenang saja." ucap Karma—masih terselingi kikik—kemudian duduk bertopang dagu usai menyampirkan coatnya yang lembab di lengan kursi, seraya menggosok sol kedua bootsnya yang sedari lalu tersiksa oleh lintasan lanau. Setitik lega pada mimiknya kini fisibel, setelah terbebas dari kekangan suhu yang kian menggigiti tengkuknya.
"—karena aku tidak mau niat muliaku menjenguk orang sakit jadi sia-sia."
Yang datang lebih dulu mendelik. "Permisi, tidak ada yang sakit di sini."
"Tentu saja ada." Seringai setan ditarik melintang, seolah tanpa batas untuknya terus memulur. "Karena semalam, ada pasien superkritis yang mengirim SOS ke nomorku, Akabane Karma sang dokter cin-ta."
Kata paling buntut dilafal plus dieja—sangat—jelas, diserentaki telengan kepala pula. Wajah Asano kini nampak matang—bukan salah suhu, namun karena mulai risih ketika tanduk imajiner Karma mencucuk usil ulu hatinya. Menyebalkan. Setan merah satu itu tahu betul bahwa mustahil bagi Asano untuk menyangkal pesan 'SOS' yang memang ia kirim semalam.
"Aku tidak sakit... Tidak apa-apa."
"Begitu kata pasien yang terambang ajal di rumah sakit tempat Okuda magang—dia begitu asyik menceritakannya kepadaku. Lagipula kalau bukan sakit, lalu apa? Gila?" Rentetan kata masih sambung-menyambung di sela kekeh, padahal sedari tadi mata tembaganya sibuk bergantian memindai menu lalu mengekori kaki pelayan yang berlalulalang.
"Ah, a cup of honey lemon tea, please. And without sugar."
"...Dengar, Akabane. Memang benar, aku membutuhkan pendapatmu hari ini, tapi... Bukan masalah itu. Tapi untuk menghadapi aya—"
Selimut alami; kulit langsat yang kini membalut kelima jarinya seolah juga berfungsi sebagai kunci, demi melindungi sunyi di antara keduanya.
"Tanganmu dingin nian, Tuan Asano. Sini, biar aku yang habiskan parfait itu. Hidangan semacam parfait akan membuat tubuh... dan hatimu, beku. Aku akan terus berlagak tuli jika kau tak segera melumerkan dirimu padaku."
Senyuman pelumpuh itu. Curang betul kau, Akabane.
"Tidak. Ini hidangan milikku, yang kupesan untukku se-o-rang. Kalau kau mau mencobanya, silakan pesan sendiri." tegas sang pihak jingga, kini membentengi leher deluxe glass penopang 'gunung salju' favoritnya sejak belia. Namun dua iris madu itu nampak ogah menerima penolakan. Lihat saja, kini mereka bergulir malas.
"Rupanya kau bukan es. Kau ini batu, dan sampai kapanpun batu takkan jadi air, kurasa." hela Karma seraya menyisir poni sampingnya dengan jari. "Tak perlulah kau resah! Tidak akan kuhitung sebagai ciuman tidak langsung, kok."
"Jangan katakan hal bodoh macam itu, bocah. Yang mengkhawatirkan ciuman tidak langsung itu hanya bo—"
"Ah, kau benar. Kalau denganmu sih, aku juga lebih memilih ciuman langsung."
"Ap—kau!"
Karma terpingkal cukup lantang, sampai nyaris menumbangkan kursi kombo menyentralkan atensi padanya. Ouch ouch ouch, abdomennya berdenyut-denyut sekarang, rasanya nyeri—lagi geli—tak tertahankan. Hei, jangan timpakan kesalahan padanya! Salahkan respon Asano yang begitu menggelitik, terutama mimik manisnya saat terusik. Bonus berkat Tuhan dua kali lipat jika sampai pipi vanillanya samar-samar terpoles serona strawberry. Eyecandy, lumayan.
Kau akan menyesal tujuh turunan begitu aku melapor pada kekasihmu! rutuknya dalam hati—sengaja tidak disuarakan, biar nanti jadi serangan gerilya yang mengejutkan! Asano tidak pernah bergurau soal balas dendam.
"Ahahaha, ralat lagi, deh." Pemuda merah itu meringis jenaka, masih mati-matian menahan ledakan nyeri yang seolah bisa menceraiberaikan rangkaian usus perutnya. "Tidak tepat untuk menyebutmu es ataupun batu, tapi strawberry parfait."
"Ayolah Akabane, berhenti menyamakan diriku dengan benda yang aneh-aneh."
"Kau sendiri aneh."
"Aku sangat tidak sudi dikatai aneh olehmu, chuunihan. Tepat di sampingmu ada jendela, bercermin sana." balas Asano galak.
"Hei, hei. Sebagian besar dari para jenius itu memang agak miring." Karma menyentil gemas dahi rivalnya dengan telunjuk, mengundang respon jengkel dari sang korban. "…dan sebagian lagi keras kepala, sangat sangat keras kepala."
"Akabane... Kalau kau masih terus main-main, topik bahasan kita takkan kunjung selesai. Kita bahkan belum memulainya."
Bahu meninggi secara sengaja, tanda (mengaku) polos tak berdosa. "Habisnya perkataanku disangkal terus~"
"Itu karena kau berkata yang tidak-tidak! Ya Tuhan, Akabane..." Paras tampan sang Asano muda mencium mesra permukaan jati, rupanya pijatan tak manjur lagi untuk menetralisir sakit di kepalanya. "Jujur, aku heran mengapa awet sekali jabatan Shiota sebagai kekasihmu."
"Stop. Aku tak keberatan, panggil saja ia Nagisa. Ayolah, aku sudah terlampau siap untuk melenyapkan marga Shiota darinya!"
"Tapi belum. Kau bilang bukan perkara kantong kering, jadi mentalmu?"
"Ma-masalah karir, tahu! Mengapa malah jadi membahasku, padahal kau sendiri masih labil menentukan jodoh!" Gantian, kini giliran Karma yang melonjak dari kursi. Pemandangan langka, sebab jarang sekali terlihat dua bukit pipinya meruam setara surai rubi kebanggaannya.
"Baiklah, aku mengerti alasanmu membelokkan topik kita. Iya iya, aku akan membantumu!" sambungnya kesal, kemudian menenggak honey lemon tea yang entah sejak kapan diantarkan oleh pelayan—sama sekali tak mempedulikan lepuh yang mulai terpatri di ujung lidah.
"Second!" titahnya kemudian.
"Kau tahu benar betapa sialannya kepribadian ayahku. Aku bingung bagaimana cara melawannya—bahkan Karasuma-san saja tidak berdaya di hadapannya." Kesepuluh jari dimainkan, saling sentuh dan saling silang. Pertanda keraguan, pertanda kecemasan. Refleks menggemaskan yang takkan hilang sekalipun umur memaksa.
"Ma-makanya aku terpaksa meminta saranmu…"
Usai berpikir sejenak, terlihat Karma menjentikkan jari.
"Suruh saja Karasuma-sensei untuk mengancam bahwa dia akan pensiun menjadi kekasih gelap kalau ayahmu tidak segera mencabut pertunangan kalian!"
Asano menggebrak meja cukup kencang, sampai-sampai topping parfaitnya juga terguncang.
"Jangan mengada-ada! Walau Karasuma-san pergi ataupun tetap tinggal, pertunanganku dengan Seo takkan berubah!" tolaknya, "dan sesungguhnya, aku pun merasa berdosa pada Seo dan keluarganya jika mendadak saja pertunangan kami batal…"
Haah.
Lagi, Karma menyeruput sisa tehnya sebelum memandang lekat mata sang lawan bicara.
"Asano, kau ini sebenarnya mencintai siapa, sih?"
"Ukh—hanya Ren, sudah pasti… Namun situasi saat ini membuat kepalaku pusing!" Frustasi, Asano mengacak brutal pirang stroberinya—yang kini dirapikan kembali oleh jemari Karma.
"Kau tidak mencoba mendiskusikannya dengan Araki? Sewaktu SMA pun, segala masalah di antara Virtuoso pasti akan terselesaikan setelah dia turun tangan menjadi penengah. Dia itu pihak netral yang akrab dengan kalian, makanya dia akan menjadi mediator terbaik! Cobalah diskusikan dengannya."
"…"
Mengapa ia diam saja? Karma sempat bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sebelum segalanya terjawab dengan gelengan lemah Asano.
Entah sudah yang keberapa kalinya ia menghela napas, kecapaian mengurus hubungan asmara pelik nan kusut antar keempat pemuda yang dulunya sahabat karib itu.
"…coba kutebak, ia sudah tidak kuasa lagi membendung perasaannya? Haah, menjadi primadona pasti sungguh merepotkan ya, Asano."
"Jangan sembarangan menyebutku primadona! Ya, karena itulah mustahil meminta bantuan Araki. Aku khawatir akan melukai perasaannya. Aku pun tidak ingin melukai perasaan Seo, bila mungkin." Kelima pasang jari tangan itu kembali menyatu dengan kikuk, menyingkroni sudut dalam alis empunya yang juga menekuk. Tidak biasanya Asano rela mengumbar sisi lemahnya seperti ini, bahkan saat keduanya SMA pun.
"Takut kehilangan barisan bodyguardmu? Kau sama sekali tidak berubah, masih bocah yang egois saja. Cinta itu kejam, kau tahu." Sudah cangkir pertama, cangkir kedua pun ia telan sampai tak bersisa.
"Third!"
"…sebenarnya sampai berapa cangkir kau mau meminum teh itu…"
"Oke, lupakan sejenak soal Araki. Mengenai ayahmu ini… kurasa ia memiliki intensi tersendiri dalam menjodohkanmu. Kurasa bukannya ia takut putranya tak memiliki pasangan hidup—karena yah, Sakakibara pasti akan dengan senang hati menikahimu—pula bukan masalah finansial, bukan karena ia mau seorang kaya menafkahimu supaya kau tercukupi sehingga dapat bahagia. Ayolah, mencari uang bukan hal sulit untukmu, 'kan? Sakakibara sendiri juga orang berkecukupan." jelas sang pemuda merah panjang sembari bertopang dagu, sementara tangannya yang satu mengitari pinggiran cangkir porselen dengan telunjuk.
"Well, kau tidak salah…"
"Apapun itu, pertunangan kalian pasti merupakan ladang profit baginya, namun aku sendiri tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran kakek tua itu. Kau mau aku menyelidikinya untukmu? Kebetulan saat ini aku luang, dan aku rindu bermain detektif-detektifan." tawarnya, Kini dua bola senada tembaga itu menatap lekat ametis kepunyaan Asano, dengan sabar menanti jawaban yang tak kunjung lolos dari sela bibirnya. Menyadari itu, Asano membuang muka.
"Kalau punya waktu luang, lebih baik kau urusi kekasihmu itu saja!" balasnya kasar. Kasar yang terkesan ragu. Kasar karena malu-malu. Lihat saja binar matanya yang penuh harap itu.
"Tapi… kalau boleh…"
Karma terkekeh pelan.
"Yang mana, nih?" Telapak kanan dinaikkan, dengan gemas mengacak pirang stroberi milik 'pasien'nya—dan kelihatannya, kali ini Asano tidak keberatan.
"Baiklah, jika kau mengharap sekali maka akan kubantu. Sekarang bersantailah dan minum teh ini, mumpung masih hangat."
"Honey lemon tea?" Asano menelengkan kepala, walau tidak sampai tiga puluh derajat.
"Tadi kau bertanya 'kan, sampai cangkir keberapa aku akan meminum ini? Aku terus memesannya, karena satu cangkir saja tidak cukup untuk menenangkan hatiku. Kau ingat 'kan sewaktu kita SMA? Ketika aku, kau dan Sakakibara berteduh di rumah Nagisa karena badai?"
Asano mengangguk dalam diam.
"Honey lemon tea yang ia hidangkan sewaktu itu begitu nikmat, dan… hangat. Bukan cuma karena teh ini saja sih, sikap manisnya itulah yang membuatnya semakin nikmat. Sejak saat itu, aku sering sekali meminta Nagisa menyeduhkannya untukku. Dan ketika ia sedang jauh dariku, seperti sekarang, kehangatan honey lemon tea-lah yang bisa menggantikan kehangatannya." tuturnya lagi, menyertakan afeksinya kepada Nagisa dalam setiap frasa yang meluncur keluar dari mulutnya. Walau seiseng atau semodus apapun dia pada kekasih orang lain, tetap saja cintanya murni, dan Asano tahu benar ia lelaki setia.
"Memangnya sekarang dia ada di mana? Study tour, kah?"
"Mm-hm. Tapi memang, tidak ada kafe manapun yang dapat menandingi honey lemon tea racikannya. Kau juga minumlah, setidaknya hatimu akan sedikit lebih tenang."
Asano menyeruput sedikit demi sedikit teh yang sudah mulai mendingin itu, berkat suhu eksternal yang terbilang di bawah suhu normal. Menikmati sensasi ketika cairan kecoklatan itu mengairi lidah sampai kerongkongannya. Hangat, manis, serta sedikit masam. Barulah saat sampai pada setengah cangkir, Asano menenggaknya sampai tiris kemudian mengancingkan kembali coatnya.
"Terima kasih, Akabane. Atas teh ini, dan bantuanmu."
Untuk kesekian kalinya, Karma terkekeh. "Jarang sekali aku mendengar ucapan terima kasih dari mantan ketua OSIS tsundere. Ketsundere-anmu sudah luntur nih, ceritanya?"
Asano memutar malas matanya. "Terserah kau sajalah. Aku izin pamit duluan. Kau masih ingin bersantai-santai di sini, 'kan?"
"Ya, rasanya aku ingin memesan dua-tiga cangkir lagi."
"Dasar pecandu lemon tea. Jadi kau sudah tidak doyan susu stroberi lagi, hm?"
"Nagisa terlanjur mengubah seleraku, mau apa lagi. Sudah sana, segera selesaikan masalahmu dengan mereka! Februari akan datang tidak lama lagi, lho."
.
.
.
.
.
"Ya ampun, dunia seakan berselimut putih." gumamnya pada diri sendiri, sesekali menghembuskan nafas ke telapak tangannya. Sudah mengenakan sarung tangan pun, telapaknya seakan-akan tetap membeku terlahap udara di luar ruangan. Padahal barusan saja ia keluar dari kafe hangat itu, dan sekarang ia sudah mulai menggigil kembali.
"Aku punya empat lembar kantong penghangat instan, kau mau satu?"
"Ah, terima kasih banyak. Aku sangat terban—"
Kepingan putih salju yang melayang lembut di angkasa tidak cuma membekukan dunia, namun seolah juga membekukan rangkaian organ dalamnya, ketika seorang yang tak ia nanti-nanti samar-samar terpantul pada retina.
"Selamat siang, Asano."
.
.
.
.
"Kutunggu kau, tepat jam dua siang di taman Selatan dekat akademi Kunugigaoka. Aku ingin bicara empat mata denganmu. Yah, bukan cuma bicara—bernegosiasi, lebih tepatnya."
"Negosiasi? Terdengar seperti duel di telingaku. Boleh saja, kuterima tantanganmu."
"Terserah kau kalau segitu inginnya berduel denganku, tetapi aku takkan menyediakan bahuku untukmu menangis ketika sudah kukalahkan nanti."
"Percaya diri sekali. Oke, jam dua tepat, ya."
"Tentu saja aku percaya diri, karena ini menyangkut hubunganku dengan Gakushuu. Kutunggu kau, dan jangan sampai kau melanggar janjimu!"
.
.
.
.
.
.
Ketika Lonceng Berbunyi
[special]
.
A/N
Sudah lama kita tak bertemu yah #heh #salahkamu MAAAAFFFFFF sebenarnya ini udah cukup lama diketik, cuma ya kekunci di dalam laptop karena laptop mendadak rusak ;-; untungnya pas cek data hp eh ada. Langsung deh update lewat hp hehehe.
Semoga chap specialnya nggak mengecewakan, sengaja diadain karena Gakushuu butuh SKET dalam ngelawan papa hehehe. Entah sih mereka mau ngapain /lho
Terima kasih yang sudah mau membaca sampai sini dan I love u so much buat yang mau repot-repot review, aku senang ;w; dukungan kalian adalah penyemangat terbaik bagiku, dan aku akan tetap berjuang nyari waktu walau gada laptop dan mau UN! xD #belajarkamu
Regards,
Kiyoha
