Disclamer: selalu jadi milik Masashi Kishimoto
Rated: T
Pairing: SakuSasu, NaruHina, InoShikaTema
Warning: TYPO, OOC, diksi jelek, CERITA JELEK, AU, BAHASA TIDAK JELAS DSB kekurangan yang lain
REPENT AND CHANGE : BY KURO MIE MI
Selamat membaca
Jangan lupa review yah.
Sepertinya hal yang baru saja terjadi membuatnya kehilangan kesadaranya, emerald itu terus saja menatap kosong kepada layar televisi itu.
Wangi khas dari tempat itu tak kunjung menyadarkan dirinya dari alam pikiranya, entah apa itu yang dia pikirkan.
"Tidak mungkin Sakura itu gadis itu!" seru seorang gadis berambut blonde yakin.
Sebut saja Ino, kini ia sukses menarik perhatian teman-temanya, yah kecuali gadis emerald yang masih terpaku dalam alam pikiranya.
"Eh?"gugup itulah yang dia rasakan, dipandangi layaknya seorang saksi dari sebuah kejahatan oleh teman-temanya sukses membuat gadis blonde itu menggaruk pelan rambut blondenya.
Namun semakin lama dipandangi begitu membuatnya kesal, ia menggembungkan pipinya kesal "Bisakah kalian tak memandangiku seperti itu?" gerutunya.
Keenam orang yang terdiri dari seorang gadis indigo dengan lima orang pemuda itu hanya bertukar pandangan (enam orang tanpa Sakura dan Sasuke) kemudian mereka kembali melancarkan serangan tatapan introgasi.
Ino menghela nafas pasrah.
"Kalian pasti ingin tahu apa alasanku begitu meyakini kalu Sakura bukan gadis itu kan?" tebak Ino, tanganya mengusap-usap dagu lancipnya dengan gaya seorang detektif.
"Oke akan aku jelaskan!" lanjutnya lagi.
Tangan kecil miliknya memainkan sebuah sendok yang ditata di atas meja "Aku pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya." Ino mulai membuka ceritanya.
Gadis beriris emerald itu menatap Ino tak percaya, Sakura gadis beriris emerald itu bahkan tak ingat pernah bertemu Ino sebelumnya.
Ino menatap teman-temanya bergantian "Itu sekitar satu tahun lalu, saat liburan kenaikan kelas aku mengunjungi Kakak ku yang berada di Suna."
Flashback
"Ohayou Dei-nee chan." sapa Ino saat pintu di depanya terbuka.
"Oy, kau rupanya, ohayou imouto, kau sudah semakin dewasa yah." ujar Deidara kakak Ino seraya memandang Ino dari atas ke bawah.
"Ah, jangan pandangi aku begitu dong!" gerutu Ino.
Deidara hanya tertawa kecil melihat tingkah laku adiknya.
Merasa ditertawakan oleh kakaknya, ino menggembungkan pipi kesal "Memangnya ada yang lucu?" gerutunya kesal.
Alih-alih memberhentikan tawanya, pemuda blonde itu bahkan menambah volume tawanya.
"Huh, cepat bawakan koper ini nii-chan!" perintah Ino kesal.
Deidara menatap adik semata wayangnya tajam "Memangnya aku budak mu, bawa sendiri!" ujarnya tajam namun dengan nada canda.
Ino memasang ekspresi memelasnya "Oh ayolah, aku sudah berjalan sangat jauh dengan koper itu nii!" bujuk Ino.
Deidara menghela nafas pelan "Oke-oke baiklah, tapi setelah itu kau harus menemaniku ke suatu tempat."tawar Deidara.
Ino mendesah pelan "Aku lelah nii, nanti saja ah." tolak Ino.
"Ah, padahal tempat ini temasuk tempat favorite mu lho!" bujuk Deidara.
"Sedang diskon untuk pakaian trend sekarang lho!" lanjutnya dengan serigai kecil di wajahnya.
"Oh, baiklah-baiklah, aku tak bisa menolak diskon." pasrah Ino.
Senyum kecil mengembang di wajah Deidara, setelah itu ia segera membawa koper besar milik Ino ke dalam rumah sederhana miliknya.
"Oke ayo kita berangkat!" ujarnya seraya memberikan sebuah helm biru kepada Ino.
Ino dengan malas-malasan menerima helm itu kemudian memakainya.
Beberapa detik setelah itu Deidara keluar dari bagasi dengan menunggangi sebuah motor berwarna silver.
"Oy, cepat naik!" dengan suara samar akibat telah mengenakan helm, Deidara mengajak adik semata wajangnya untuk ikut naik bersamannya.
Dan mereka berdua pun melesat meninggalkan bangunan bermodel minimalis itu.
Xxx
"Huaaaa." mata Ino membelalak menatap, pakaian-pakaian modis yang berada di hadapanya, semua pakaian itu berlable discout antara 30-50%.
Langsung saja Ino menelusuri tempat itu.
"Woy imouto baka, ingat tujuan kita kesini? Nanti saja kau pilih pakaian untukmu, pilihkan dulu untuk pacarku!" ujar Deidara, ia sudah hafal betul sifat glagat Ino jika bertemu dangan Mall.
"Iya-iya onii-chan bawel." gerutu ino, kemudian berjalan ke arah rak-rak yang di gantung pakaian itu.
"Hihi aku akan meratakan dompetmu yang sudah rata itu nii." Gumam Ino sembari memilah milih beberapa pakaian, tak lupa dengan sebuah serigai jenaka di wajahnya.
"Ini balasan karena membuatku kesal, hihihi." lanjutnya lagi.
Beberapa pakaian di tempat itu menurutnya terlihat cukup bagus, dan ada beberapa lagi yang menurutnya sangat bagus, namun ada sebuah pakaian yang begitu menarik perhatiannya.
Aquamarinenya menatap berbinar dress berwarna ungu dihadapanya.
Dress berkerah v berwarna ungu, yang dibagian bawahnya mengembang seperti bunga mawar itu begitu menarik perhatianya.
Seolah terhipnotis dengan keindahan dress itu, perlahan-lahan tanganya mengarah hendak menyentuh dress ungu itu.
"Aku ingin dress ungu ini." tiba-tiba saja dress itu telah ditarik oleh orang lain, Ino menatap orang itu kesal.
Tak rela Ino berusaha meraih dress itu "Em, maaf nona aku yang lebih dahulu ingin membeli itu!" ujar Ino kemudian menarik dress itu.
Gadis itu tampak tidak suka dengan apa yang baru saja ino lakukan "Apa yang kau katakan? Aku yang akan membeli dress ini." Kilah gadis berambut merah muda itu kemudian menarik paksa dress itu dari Ino.
"Hei, itu milik ku!" Ino kembali menarik dress itu.
"Milikmu? Apa kau sudah membayarnya? Apa kau yakin mampu untuk membeli satu-satunya barang tanpa discout itu? Aku yakin kau tidak sangup." ledek Sakura gadis berambut gulali dengan bola mata emerald itu.
"Nona Haruno, anda tak seharusnya berkata begitu!" ujar manager toko yang yang memang sejak tadi telah memperhatikan kedua gadis cantik itu.
Ino kemudian menatap harga yang tertulis di lable dress tersebut, matanya membualat tak percaya menatap angka nol yang begitu bayak di belakang angka Sembilan.
Rp. 900.000
'Aku bisa beli tiga sampai empat dress lain, dengan harga itu!' batin Ino.
Ia memang suka berbelanja namun dia bukan gadis bodoh yang mau menghamburkan ungan untuk membeli dress semahal itu, lagi pula Ino bukan gadis yang berasal dari keluarga yang sangat kaya.
Kemudian Ino menyerahkan dress itu kepada Sakura.
"Aku tak jadi membeli baju ini, harganya bahkan terlalu MURAH untukku!" ujar Ino dengan penuh penekanan pada kata murah.
End flashback
"Yap, begitulah gadis itu sangat sombong, tak mungkin dia Sakura." ujar Ino yakin, setelah ia berhasil menceritakan secara rinci kejadian itu pada teman-temanya.
"Iya gadis semenyebalkan itu pasti bukan Sakura-chan." Tambah lee dengan anggukan yakin.
Kiba, Chouji, Naruto ,dan Hinata menganguk yakin.
Shikamaru hanya menguap kemudian bergumam "Hm".
Sedangkan Sasuke tak memberikan respon apapun, entah apa yang ada dipikiranya.
"Ngomong-ngomong soal belanja, bagaimana jika besok kita shoping girls?" ajak Ino dengan penuh semangat.
Tak ada yang merespon ucapan Ino barusan.
Merasa diabaikan Ino memanyunkan bibirnya, menatap kedua sahabatnya malas.
"Ayolah Sakura, Hinata kalian mau kan?"bujuknya dengan tatapan puppy eyes andalanya.
Hinata tersenyum kemudian mengangguk, sedangkan Sakura hanya diam saja, pikiranya masih terganggu.
"Maaf menunggu lama." ujar seorang wanita berambut coklat, dengan kedua tangan memegang nampan besar yang berisi pesanan sembilan remaja tersebut.
Tanganya dengan cekatan menaruh ramen yang masih beruap itu keatas meja.
"Terimakasih Kakak." ucap Naruto disertai anggukan dari semua temanya.
Gadis itu hanya tersenyum kemudian berojigi singkat, setelah itu pergi meninggalkan mereka.
Sakura memberdirikan dirinya dari kursi "Minna, aku ketoilet sebentar yah!" ujar Sakura.
Tanpa mendengar respon dari semua temanya, ia segera memutar tubuhnya, berjalan meninggalkan mereka dengan kedua tangan terus saja meremas ujung roknya.
Beberapa dari mereka membiarkan Sakura pergi dan tak merasa ada yang aneh denganya, dan beberapa lagi hanya menatapnya heran karena menyadari sesuatu yang aneh pada Sakura.
Ia memberhentikan langkahnya di depan sebuah pintu berwarna silver, tangan mungilnya memutar gagang pintu itu, kemudian masuk keruang kecil didalamnya.
Perahan mutiara bening yang memang sedaritadi telah menggenang di pelupuk matanya mengalir dengan deras.
"Aku memang gadis sombong, dan menyebakan!" gumamnya pelan, tangan mungilnya menyeka beberapa butir airmata.
Sakura pov
Flashback
"Tap,tap,tap." gema langkah kakiku terdengar di koridor cukup luas rumahku.
Emeraldku menatap pintu ungu yang berada tak jauh dari ku.
Setelah berada tepat di depan pintu itu, ku ketuk pelan pintu itu.
"Onee-chan, sudah pagi." ujarku pelan.
Sepertinya onee-chan bekerja lembur tadi malam, hingga hari ini ia tak bisa bangun seperti biasa.
"Crek." kuputar gagang pintu tersebut.
Ku langkahkan kaki jenjangku menuju ranjang queen size yang berada di tengah-tengah kamar cukup luas itu, emeraldku menatap lembut gadis bersurai hitam yang terlelap di atas ranjang itu.
"Onee-chan." gumamku seraya membelai pipi putih halus miliknya.
Gadis itu tak kunjung bangun, jadi kuputuskan untuk membiarkan dia tetap dalam alam mimpinya.
Emeraldku menatap sekeliling rungan itu, ruangan yang sangat rapih, dan bersih, tak heran nee-chan memang sangat menjaga kebersihan.
Ada sebuah benda yang selalu menarik perhatianku saat masuk ke dalam kamar nee-chan, benda yang selalu berada di dalam lemari kaca di pojok ruangan.
Kulangkahkan kakiku menuju benda tersebut, ku buka perlahan pintu yang menjaga lemari kaca itu.
Crek, pintu tersebut tak terkunci, tak biasanya pintu lemari itu tak terkunci, mungkin nee habis membukanya dan lupa menguncinya kembali.
Ku sentuh dress ungu yang berada di dalam lemari itu, mataku sedikit berbinar menatap dress itu.
Dress v neek yang panjangnya kira-kira 5 cm diatas lutut, yang bentuk bagian bawahnya sedikit mengembang seperti bunga mawar itu benar-benar indah, rasaya aku ingin mencobanya.
Dengan perlahan ku tarik dress tersebut, namun aku merasakan ada sesuatu yang sepertinya mengganjal dress itu hingga sulit untuk dikeluarkan, jadi kuputuskan untuk menarik dengan lebih kuat lagi.
"Cret." bunyi seperti sobekan terdengar masuk ke dalam telingaku.
Kutatap sobekan kain ungu yang mengganjal di paku kecil yang berada di dalam lemari.
"Bagaimana bisa?" ku tatap dress ungu yang berda di tanganku, ada sobekan yang cukup lebar di bagian pinggang dress itu.
"Um, ohayou Sakura." suara nee-chan terdengar dari belakangku, ku tatap wajah nee-chan yang tersenyum kearah ku.
Aku tertunduk lemas, ku perlihatkan padanya apa yang barusaja ku perbuat pada dress ungu miliknya.
"Maafkan aku." gumamku dengan kepala masih tertunduk.
Nee-chan dengan segera merebut dress tersebut dari tanganku, aku tak berani menatap wajahnya saat ini, pasti dia sangat marah padaku sekarang.
Keheningan melanda kami untuk beberapa detik, setelah itu...
"Hiks, hiks." sebuah isakan kecil mulai terdengar, kini aku memberanikan diri mengangkat kepalaku.
Emeraldku membulat sempurna melihat onee-chan menagis di hadapan ku.
"Onee-chan kau kenapa?" tanyaku pelan.
Ia tak menjawab pertanyaanku, hal ini membuatku semakin merasa khawatir.
"Nee-ch.." suara berat khas Sasori-nii terdengar dari arah depan pintu.
Ia terlihat sangat terkejut menatap kami, matanya menampakan kilat amarah memandang ku.
"Apa yang kau lakukan pada nee-chan?" bantaknya padaku.
"Ak.. aku han.."
"Plak." sebuah tamparan keras mendarat di pipi ku.
Ku tatap seorang wanita berambut hitam pendek, yaitu onee-chan ku orang yang baru saja melakukan hal itu.
"Ini bukan sesuatu yang dapat kau katakan 'hanya', Sakura" ujarnya seraya mengoyang-goyangkan dress itu di depan wajahku.
"Kau? Merusak dress itu?" tanya Sasori-nii memastikan.
"Kau tahu tidak seberapa berartinya itu untuk nee-chan, hah?" bentaknya.
"Dress itu hadiah ulangtahun terakhir dari ibu untuk nee-chan." tambahnya lagi.
Mataku membulat sempurna, kupandangi kedua kakak ku yang memandang penuh amarah ke arah ku, lututku kini terasa lemas, kubiarkan diriku jatuh terduduk di lantai.
"Ah, sejak awal kau itu memang pembawa bencana!" ucap Sasori dingin.
Emeraldku kini mulai basah, perlahan mutiara bening itu menetes di pipiku.
"Kau, kau hanya bisa menyusahkan kami, kau tau?" ujarnya tajam.
"Harusnya ibu tak perlu meng…"
"Cukup Sasori!" potong onee-chan.
Harusnya ibu tak perlu mengorbankan nyawanya untuk melahirkan ku, begitu kan.
Dadaku sakit, sangat sakit mendengar semua perkataan nii-chan, dia memang selalu membenciku, tapi aku tak pernah tahu karena apa dia membenciku.
Namun sekarang aku sadar, karena kehadiranku memang tak pernah diharapkan olehnya.
"Sakura sebaiknya kau pergi sekarang, aku tak ingin melihatmu disini!"
Emeraldku membelalak, nee-chan benar-benar marah padaku, bahkan sampai tak ingin melihatku, air mataku terus menetes
Ku bangunkan tubuhku.
"maafkan aku." ujarku lesuh kemudian meninggalkan mereka berdua.
End flashback
Setelah kejadian itu, hubungan ku dan onee-chan merenggang, setiap kali aku menyapanya ia tak pernah menjawab, seolah sapaanku hanya sebuah hembusan angin yang memang pantas untuk di hiraukan, ya aku memang pantas untuk dihiraukan, aku sadar itu.
Aku berinisiatif untuk mengganti dress nee dengan dress lain yang mirip dengan itu, namun dress yang serupa seperti itu sangat sulit untuk ditemukan, sampai pada hari itu.
Hari dimana aku bertemu dengan seorang blonde dan berhasil menyakiti hatinya.
Aku sungguh tak bermaksut melakukan itu, aku hanya ingin cepat berbaikan dengan onee-chan, hanya itu.
Ditambah lagi…
Flashback
Rasanya bosan mendengar sindiran-sindiran itu, memangnya apa salahku pada mereka?
"Lihat dia masih bisa berlaga angkuh." ujar seorang pembeli seraya menatapku.
"Ku dengar gadis itu membawa sial bagi keluarganya." sahut teman dari pembeli itu.
"Iya, itu memang benar, ia menjadi penyebab kematian kedua orangtuanya juga neneknya." pembeli itu berbisik kepada temanya.
Aku merusaha untuk menahan emosiku, berusaha untuk tetap sabar dengan semua penghinaan itu, namun diriku tak bisa, rasanya aku benar benar ingin menampar mulut kedua orang itu.
"Ditambah lagi dia kini menjadi beban untuk kedua kakaknya, kalau aku jadi dia lebih baik mati!"
Bagai tersambar kilatan petir, kini kekesalanku mulai memuncak, kutatap kedua orang itu dengan tatapan tajam.
"Lihat, dia menatap kita!" ujar temanya yang sepertinya merasa takut dengan death glare andalanku
"Kenapa? Memang benarkan yang kami katakan?" tantang pembeli itu.
Ku langkahkan kakiku mendekat ke arahnya "Tutup mulut kotormu itu, atau aku akan merobeknya!"
"Eh?" teman dari pembeli itu keliatan panik mendengar ucapanku.
"Memangnya kau berani? Mulutku memang kotor, tapi kau lebih buruk dariku, karena seluruh tubuhmu itu kotor, cih men…"
"Plak."
Kutampar wajah orang itu, tak sadar beberapa tetes air mataku mengalir, namun segera ku basuh, aku tak ingin terlihat lemah.
"Beraninya ka.." pembeli itu baru saja ingin membalas tamparanku namun tanganya telah lebih dahulu ditahan oleh seorang pelayan toko itu.
"Maaf nona, jika anda ingin membuat keributan sebaiknya diluar," ucap pelayan toko itu "Anda mengganggu kenyamanan toko kami." tambahnya.
"Huuh, ayo kita pergi!" ujar pembeli itu kesal kemudian menarik temanya.
Mereka berdua pun berlalu meninggalkanku, gadis pembeli tadi masih terus menatapku sampai dirinya hilang ditelan belokan rak-rak pakaian.
End flashback
Dan diantara rak-rak pakaian itu aku melihat dress itu, dengan perasaan yang masih campur aduk diriku menarik paksa dress itu dari mu, juga mencemoohmu.
Ya, aku sungguh tak bermaksut melakukan itu, aku hanya ingin memperbaiki hubungan yang kuhancurkan.
Meski pada akhirnya dress itu hanya menjadi sampah untuk onee-chan dan tak memperbaiki apapun diantara kami.
Xxx
Diwaktu yang sama dengan Sakura.
"Ino, apa kau lupa besok tugas kita beli bahan makanan?" tanya Shikamaru
Ino membulatkan matanya "Oh itu, iya aku lupa, heheh," ujar Ino santai "Kau saja yang beli, aku besok mau shoping." lanjut Ino.
"Enak saja, tidak bisa begitu." tolak Shikamaru.
Ino menghela nafas "Em, yasudah kita beli sekarang saja." usul Ino.
Shikamaru membangunkan dirinya "Aku juga ingin santai besok!" ujar Shikamaru kemudian berjalan santai menghiraukan Naruto yang meneriaki namanya.
"Oy baka, ramenmu bagaimana?" teriak Naruto
"Em minna, kami duluan yah!" pamit Ino.
"Kalian ini, tak sopan meninggalkan makanan lezat." ujar Chouji kemudian memakan ramen milik Ino dan Shikamaru sekaligus.
"Hey Chouji, kenapa kau makan duluan?" tanya Naruto.
"Perutku tak bisa menunggu lebih lama lagi kapten." jawabnya seraya mengusap-usap perut gendutnya.
"Iya, kami juga!" ujar Lee dan Kiba besamaan seraya mengapit ramen tersebut dengan sumpit.
"Bak.." kata-kata Naruto terhenti saat matanya menagkap dua orang yang baru saja memasuki restouran ramen yang sedang ia tempati.
Serang pemuda berambut panjang dan seorang wanita berambut cepol dua baru saja memasuki retourant itu.
"Bak?" Chouji mengulangi ucapan Naruto dengan nada tanya miliknya "Bak-so?" lanjutnya.
"Tidak, mungkin bak-ul?" kilah Lee.
"Kalian ini bodoh, maksutnya kapten itu bak mandi, kapten pasti ingin mandi!" ujar Kiba.
"Bletak" "Bletak" "Bletak" tiga buah jitakan sukses mendarat di masing-masing kepala tiga orang itu "BAK-A!" seru Naruto sang penjitak itu.
Chouji, Lee, dan Kiba hanya mengusap-usap pelan kepalanya "Sakitt!" gerutu mereka bertiga.
Naruto menghembuskan nafas bosan, kemudian sapphirenya segera menatap kekasihnya.
"Hi..Hinata, Neji-senpai ada disini." ujar Naruto dengan wajah sedikit panik.
"Eh?" Hinata langsung mengarahkan pandanganya mencari sosok kakaknya.
"Em, ba..bagaimana ini Naruto-kun?" tanya Hinata.
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini!" ujar Naruto seraya menarik tangan Hinata, dan membawa semangkuk ramen miliknya.
'Aku tak menjamin nyawaku akan selamat jika ia menangkap basah aku membawa Hinata malam-malam begini.' batin Naruto.
Setelah kepergian Naruto dan Hinata, kini giliran ketiga pemuda yang telah usai melahap ramen itu yang hendak pergi.
"Aduh kok perutku sakit yah, ke toilet dulu ah!" ujar Kiba.
"Aku juga." tambah Lee.
"Aku mau beli keripik kentang dulu!" lanjut Chouji.
Mereka bertiga pergi meninggalkan Sasuke, sebenarnya alasan yang mereka berikan itu semuanya bohong, karena sang penereaktir yaitu Uzumaki Naruto telah pergi, dan mereka saat ini tak memiliki uang, jadi mereka memutuskan untuk kabur, membiarkan Sasuke yang akan membayar semuanya, sungguh kejam memang.
Beberapa menit setelah kepergian ketiga orang aneh itu, seorang gadis bersurai hitam berjalan mendekati meja yang hanya diisi oleh Sasuke, emeraldnya menatap binggung akan keadaan saat ini.
"Lho, mereka kemana?" tanya Sakura pada Sasuke.
"Sudah pergi." jawab Sasuke acuh tanpa memandang gadis itu.
Sakura mendudukan dirinya berhadapan dengan Sasuke "Lalu kau?" tanyanya.
"Hn?"
'Hn? apa maksutnya itu?' batin Sakura.
"Hn? maksutmu apa? Bicara yang jelas" gerutu Sakura.
"Hn, terserah" jawab Sasuke singkat.
"Huh yasudah, berbicara dengan mu hanya membuat emosiku naik, lebih baik makan ramen saja" Sakura menatap ramen dihadapanya dengan penuh gairan, entah mengap selera makanya telah kembali, mungkin karena melihat Sasuke membuat selera makanya naik, ya mungkin.
"Itadakimasu" ujarnya seraya melahap mie ramen dihadapanya.
Xxx
Angin malam menggoyangkan anak rambut berwarna pirang miliknya, senyum kecil mengembang di bibirnya, kedua iris aquamarine itu tak lelah memandang jutaan titik keemasan yang menempel di permadani gelap angkasa.
"Malam ini indah yah Shikamaru." Ucap gadis itu.
"Hoaaaa, menurutku malam ini sama saja dengan kemarin." kilah Shikamaru malas-malasan.
Aquamarine Ino menatap onyx Shikamaru "Haha, kau memang selalu seperti itu!" ujar Ino dengan tawa kecilnya.
"Setidaknya kau harus bilang 'iya', dan setelah itu kau bilang 'itu karena ada kau di sisiku'!" ucap Ino dengan nada candaanya.
Mereka berdua masih terus berjalan beriringan di trotoar.
"Hahah, kau ini." Shikamaru tertawa kecil menatap sahabat yang selalu bersamanya.
"Shikamaru!" panggil Ino pelan.
Shikamaru kini memberhentikan langkahnya, kemudian ia menatap Ino "ada ap.."
Mata Shikamaru membulat sempurna, bibirnya kini merasakan benda lembut menempel disana, segera saja ia dorong tubuh orang yang melakukan itu padanya.
Ino jatuh teduduk di aspal hitam, ia menatap Shikamaru sayu.
"Apa yang kau lakukan Ino?" tanya Shikamaru geram, tangannya membasuh bibirnya yang sedikit merah karena ulah sahabatnya.
Aquamarine milik Ino meredup, ia sangat sedih dengan perlakuan Shikamaru padanya"Kalau dia yang melakukannya pasti kau tak akan mendorongnya seperti ini kan!"
"Karena dia kekasihku, sedangkan kau.."
"Aku orang yang mencintaimu" potong Ino cepat, aquamarinenya menatap Shikamaru tajam.
"Kau bilang dia orang yang mencintaimu kan, aku juga orang yang mencintaimu, kau tau itu kan Shika, aku dan dia sama." Ino kini memberdirikan tubuhnya.
"Kenapa bukan aku Shika, aku yang mengenalmu lebih dahulu, aku yang mengenalmu lebih lama, aku yang selalu bersama-sama dengan mu, kenapa bukan aku?" tanya Ino, suaranya tampak parau.
Ia memang sudah memendam rasa sukanya sejak kecil pada Shikamaru.
"Karena kau sahabatku Ino." jawab Shikamaru "Aku menyayangimu, sebagai orang yang sangat dekat dengan ku, sebagai sahabatku!"lanjutnya.
Kini airmata Ino mengalir perlahan "Tak bisahkah kau mencintaiku dan melupakannya?" ujar Ino.
Shikamaru menghapus airmata Ino, kemudian memeluk tubuh gadis mungil itu, membawanya dalam ketenangan yang ia ciptakan.
"Maafkan aku Ino, itu tidak mungkin" jawabnya berbisik.
Ino mendorong tubuh Shikamaru menjauh ia tersenyum memaksa kepada Shikamaru "Sebaiknya kita pergi beli bahan-bahan itu sendiri, aku duluan." ujar Ino kemudian berlari meninggalkan Shikamaru yang terus menatap prihatin punggung mungil milik gadis itu.
Xxx
"Haaahuuhaahuu."lelaki itu menundukan kepalanya mengatur pola nafasnya yang berantakan, sepertinya jantungnya sedang tarpacu hingga membuat nafasnya menjadi terengah-engah.
"Fhuufhuu, sep..pertinya sud..dah cukup ja..jauh Naru..to-k..kun." ujar seorang gadis indigo yang sama terengah-engahnya dengan lelaki blonde di sebelahnya.
"Um, sebaiknya kita beristirahat sebentar di kursi itu." Naruto lelaki yang terengah-enah itu menunjuk sebuah kursi yang terletak di tepi jalan.
"Um." Hinata gadis indigo yang notabane adalah kekasih dari pemuda itu mengganguk setuju.
Kemudian mereka berdua mendudukan dirinya di kursi itu, naruto meletakan setengah mangkuk ramen favoritnya di pahanya.
"Guerrrr." Suara raungan perut Naruto menyeruak.
"Fyuh, untung saja aku membawa ramen ini!" ujar Naruto seraya mentap ramen dengan penuh makna.
Naruto menyengir menatap Hinata "Hinata, maaf tadi perutku heheh, tapi sebentar lagi akan aman kok tak akan bunyi lagi heheh!" cengir Naruto.
"Hihih, tak apa Naru-kun, ayo cepat dimakan!" ujar Hinata.
Naruto mengangguk kemudian mengambil sepasang sumpit yang sempat ia bawa tadi.
"Itadakimasu." ujarnya kemudian melahap ramen itu.
Hinata terus saja memperhatikan Naruto saat makan, tanpa sadar dirinya kini juga merasa lapar tapi ia berusaha untuk menahanya, ya berusaha sebisa mungkin agar perutnya tak bunyi di depan kekasihnya.
"Guerrrr." Namun usaha itu gagal, perut Hinata berbunyi cukup kencang untuk dapat didengar oleh telinga Naruto.
Hinata tertunduk malu, ia tak berani menatap wajah Naruto.
"Hahaha, tak apa, tak usah malu, ayo makan sama-sama!" ajak Naruto dengan cengiran khasnya.
"Buka mulutmu Hinata!"
Wajah hinata bersemu merah ia tak bisa membuka mulutnya, tubuhnya terasa kaku melihat senyum lebar naruto yang terlihat sangat tampan di matanya.
"Oh, ayo lah Hinata, jangan malu-malu." Naruto mempersempit jarak diantara mereka.
Hinata menjadi semakin memerah melihat wajah Naruto yang berada cukup dekat dengan wajahnya.
Naruto yang menyadari perubahan wajah Hinata menjadi panik "Hinata, kau sakit?" Naruto semakin mendekatkan wajahnya pada Hinata, bermaksut untuk menyamakan suhu hinata dengan tubuhnya dengan cara menempelkan dahinya pada dahi Hinata.
Namun hal itu malah semakin membuat Hinata semakin memerah, Hinata kini telah di ambang batasnya, perlahan sepasang lavender itu menutup, dan tubuhnya melemas ia pingsan.
Dan tentu saja hal ini membuat Naruto sanngat panik "Hinata, Hinata!" ucapnya seraya menggoyang-goyangkan tubuh Hinata pelan, namun tak ada respons dari gadis itu.
"HINATAAAA!" teriak Naruto.
Xxx
Sakura tak habis pikir, sebenarnya terbuat dari apa manusia bernama Sasuke dengan model pantat ayam yang kini sedang berjalan beriringan dengannya.
Sudah sekitar sepuluh kali Sakura memberikan topik pembicaraan agar tak tenggelam dalam keheningan namun semua topik yang ia berikan hanya bertahan sekitar sepuluh menit, kemudian mereka kembali larut dalam keheningan.
'Oh sungguh kepribadian yang membosankan!' batin Sakura.
"Em, hoy pantat ayam!" panggil Sakura.
Sasuke sama sekali tak menghiraukan panggilan dari Sakura.
"Hoy pantat ayam!" Sakura mencoba untuk memanggil Sasuke lagi.
Kembali tak ada respons dari Sasuke.
Hal ini membuat sakura menjadi sedikit geram.
"Hoy pantat aya.." gadis itu berusaha menarik lengan Sasuke agar dia berbalik, namun naas sebuah batu yang enatah datang dari mana sukses membuatnya kehilangan keseimbangan dan mungkin beberapa detik lagi wajah cantiknya akan membentur aspal.
Ya mungkin, sampai Sasuke berhasil menahan tubuhnya hingga kemungkinan terburuk itu tak jadi terjadi.
Sasuke menahan tubuh Sakura dengan menarik pergelangan tangan gadis itu kemudian membawa kepelukanya.
Bau khas Sasuke tercium jelas di hidung Sakura, bau yang membuatnya merasa nyaman dan tanang.
Namun sial, Sasuke terlalu kencang menarik tubuh Sakura kedalam pelukanya hingga dirinya juga kehilangan keseimbangan dan..
"Bruk."
Sakura tepat jatuh menibani Sasuke, onyx dan emerald saling bertemu untuk beberapa saat.
Wajah Sakura bersemu merah, Sasuke pun begitu namun semburat itu tak terlihat oleh Sakura.
"Hey, cepat bangun kau berat bodoh!" perintah Sasuke.
Sakura segera turun dari tubuh Sasuke dan mendudukan dirinya d iaspal.
Berikutnya Sasuke pun segera berdiri dari posisinya, ia menepuk-tepuk tubuhnya, menghilangkan beberapa debu yang menempel di kulit putihnya.
"Kenapa masih duduk di situ, cepat bangun dasar gadis manja!" perintah Sasuke.
Sakura berusaha memberdirikan tubuhnya "aaw" rintihnya saat merasakan sakit di pergelangan kaki kirinya.
"Kaki ku terkilir!" ujar Sakura.
Sasuke menghela nafas "Kau ini, sangat merepotkan!" gerutunya kemudian menjongkokan dirinya di depan sakura "Naiklah" perintahnya.
"Eh? Apa yang kau lakukan?" tanya Sakura bingung.
Sasuke memutar bola matanya bosan "Tentu saja untuk menggendongmu, atau mau ku tinggal di sini?"
"Tap.."
"Sudah cepat jangan banyak bicara" potong Sasuke cepat.
Sakura pun menurut, ia meluk leher Sasuke kemudian kadua kakinya diselonjorkan di samping kanan, dan kiri tubuh Sasuke.
Merasa Sakura sudah siap, Sasuke memberdirikan tubuhnya, tubuhnya sedikit oleng namun ia berhasil menyeimbangkan tubuhnya.
"Kau memang sangat berat!" gerutu Sasuke.
Sakura menggembungkan pipinya kesal "Huh, tak sopan kau membahas berat badan seorang wanita!" kesal Sakura.
Kemudian Sasuke pun mulai melangkahkan kakinya.
Beberapa menit setelah itu.
"Pantat ayam!" seru Sakura.
Mendengar tak ada jawaban Sasuke, Sakura pun menggoyangkan tubuh Sasuke "Oy pantat ayam!" ucapnya ditelinga Sasuke.
"Apa?" jawab Sasuke kesal "Bisa tidak kau berhenti memanggilku seperti itu!" ujar Sasuke.
"Aku hanya ingin bertanya kepadamu!" ucap Sakura.
"Hn?"
'Hn? lagi deh' batin Sakura.
"Em, ano, gadis berambut merah itu siapamu? Apa dia kekasihmu?" tanya Sakura.
Sasuke mengeryitkan alisnya.
"Bukan!" jawab Sasuke.
"Lalu kenapa dia semarah itu saat aku berdekatan denganmu?"
Sasuke menautkan kedua alisnya "Itu urusan pribadi antara aku dengan nya."
Kini giliran Sakura yang menautkan kedua alisnya 'Pribadi? Aku dengan nya? Apa maksutnya itu?' batin Sakura.
"Memangnya kenapa kau ingin mengetahuinya?" tanya Sasuke.
"Entahlan, ini urusan pribadi antara aku dengan alam pikiranku." jawab Sakura membalikkan perkataan sasuke tadi, ia menyerigai kemenangan.
"Dasar gak kreatif." ledek Sasuke.
"Kau dasar pelit!" balas Sakura.
"Cengeng!" ledek Sasuke.
"Pantat ayam!" balas Sakura.
'Selalu terasa nyaman, jika berada didekatnya.'
'Mungkin dia orang yang menyebalkan, tapi aku, aku ingin didekatnya.'
"Oy pantat ayam, kau punya tanda di bahu yah?" tanya sakura menatap sebuah tanda koma yang masuk ke matanya.
'Tanda yang sama denga orang yang menyelamatkan ku, berbentuk seperti koma, namun bukan sebuah koma, orang yang menyelamatkanku memiliki tiga koma.' batin Sakura.
"Hn." jawab Sasuke.
"Lagi pula tak mungkin dia orang itu!" celetuk Sakura tak sadar.
"Hn?"
"Hn, hn, dan hn, dasar manusia ayam." Ledek Sakura.
"Hn!"
Tak tahu kah kau sakura kalau dua lagi tersembunyi di balik kameja yang di kenakan sasuke sehingga kau tak melihatnya.
Tbc
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Haloo minna.. ogenki desu ka?
Okee gimana chapter ini? #wait for review.
Heheh saya minta maaf lagi yah, lama #plak m(_ _)m.
Oh iya sekedar mau kasih tau kesalahan saya di chapter emapat, disitu tertulis.
Disitu naruto bialang ke ino "Huuh, aku binggung kenapa si kepala nanas mau dengan mu!" gerutunya pelan. Harusnya "Huuh, aku binggung kenapa si kepala nanas betah duduk di samping mu!" gerutunya pelan.
Yah mungkin diantara kalian udah ada yg sadar namun lupa mengingatkan saya, atau memang kesalahan itu tak terlihat (?).
Seali lagi saya minta maaf, itu kesaahan yang cukup fatal buat saya, dan saya harap para reader memaklumi kesalahan saya ^.^
Oh iya balas review dulu deh.
Retno uchiharuno : arigatou, ini udah update, review lagi yah, oh ya gimana sasu saku di sini .
MaesaSabakuGaara: hallo, makasih kemarin reviewnya, oh iya maaf yah kemarin lama banget, dan sekarang juga lama, abis gatau kenapa lagi buntu hehe.. sama-sama, heheh.. review lagi yah ^^
May azu sasusaku: ini udah update, makasih reviewnya, dan review lag yoo ^_^
oke sekian pembahasan review,, yang merasa reviewnya belum dib alas.. periksa pm anda ^.^
thanks for: skyesphantom, akasuna no ei-chan, Retno UchiHaruno, MaesaSabakuGaara, May azu sasusaku dan yang lainya
and thanks for silent reader..
keep review minna-san.
R & R
