Berhubung Vi udah puas liburan di Jakarta ,sekaranglah saatnya kita . . . . MAKAN COKLAT! #ganyambungbego . Chapter ini ga ada yang mati, next chapter pasti ada yang mati dengan sangat indahnya, Vi janji deh OwOb . Chapt ini juga merupakan chapt tersingkat. Enggak tau ini lagi males banget ngetik, tapi pengen banget lanjutin ini fic ==".
Title: Fear Garden
Rate: T untuk chapter ini
Disclaimer: Semua chara yang ada disini milik Hidekazu Himaruya yang oh-so-very-AWESOME
Warning: OOC, Abalisme, Nistaisme, Sarapisme (?) , Tidak ada chara yang mati di chapter ini demi kelangsungan cerita (#maksudlo)
Note: Male!Nesia, Male!Malaya (Malaysia)
Setelah upacara pemakaman Gilbert—karena kebetulan tempatnya dekat ruman Nesia—Mereka berkunjung ke rumah Nesia yang terkenal dengan keangkerannya. Dan jangan pernah menyebut nama teman-teman Nesia dihadapan sang adidaya, Alfred. Lihatlah sekeliling ruang tamu Nesia yang dipenuhi foto serta lukisan 'Teman' Nesia .
"Huwaa, Iggy. Aku takut!" Arthur hanya menghela napas melihat seme nya yang merengek dibalik punggungnya. Arthur memang sudah terbias dengan makhluk-makhluk macam itu, juga Kiku dan Ivan yang daritadi hanya tersenyum ramah(?) sambil melihat-lihat lukisan tersebut.
"Lukisan ini bagus,da. Apa namanya?" Tanya Ivan
"Si Imut Jembatan Kali Ciliwung" Jawab Nesia santai dan sebaliknya, Alfred kembali berteriak dan menutup telinganya—tidak mau mendengar yang dikatakan Nesia .
"Boleh kuminta satu, da? Aku suka yang ini, da" Ivan menunjuk salah satu lukisan milik Nesia
"Tuyul dan Unyil? Boleh, ambil saja" Abaikan percakapan sesama Setan Lovers(?) tadi.
Nesia pergi ke kamarnya untuk ganti baju. Tidak lama setelah itu terdengarlah teriakan nista Nesia sambil menendang pintu kamarnya dengan tendangan andalannya, Tendangan Garuda di Dadaku. . .
"MALOOOONNN! KAMU NGAMBIL KAOS YANG GAMBAR USUK YA?"
"Idih, amit-amit. Aku bukan Fudanshi tau"
"KAMU UMPETIN DIMANA, MALON!"
"Umpetin apa?"
"KAOS AKU KAMPRET! BALIKIN!"
"Nesia-chan,tenang"
"Bukan aku yang umpetin, Indon"
"ALAH, DARI DULU KAMU PENGEN AKU TERPURUK TERUS KAN? ADIK MACAM APA KAU INI ?"
"Aku juga ga mau pengen jadi adekmu"
"MALOOOOONN!"
"Ah, mereka bertengkar lagi" Ucap Kiku ber-swt ria
"Kaos USUK? Mau dong" Elizaveta langsung bangkit dari kursi (padahal tadi nangis) dan langsung ikut memarahi Malaya.
Pemuda berkebangsaan Canada, Matthew Williams menatap Malaya dengan tatapan benci.
Matthew POV
'Aku ingin Nesia bahagia'
.
.
'Aku rela jika Nethere bersama Nesia'
.
.
'Asal Nesia bahagia'
.
.
'Aku tidak akan membiarkan Nesia bersedih maupun marah. Aku akan membuatnya selalu tersenyum'
.
.
'Karena, aku mencintai Nesia'
.
.
.
'Ya,kalau perlu kuBunuh semua orang yang membuat Nesia sedih'
.
.
'BUNUH'
.
.
END Matthew POV
Matthew berjalan cepat menuju Nesia yang masih beradu mulut dengan adiknya, "Kak Nesia" Ucap Matthew sambil menepuk pundak Nesia. "Aku belikan doujin USUK terbaru ya" Lanjut Matthew.
Kedua pasang mata Fujodanshi—Nesia & Elizaveta—langsung berbinar dan menarik Matthew jauh dari Malaya.
"Benarkah itu, Matt?" Tanya Nesia sambil menggenggam erat tangan Matthew, kedua pipi matthew langsung berwarna kemerahan. Direspon oleh sang pujaan hati? Siapa yang tidak senang, apalagi dirinya yang selalu terlupakan .
"Hum! Kak Nesia tenang saja. Aku kasih gratis" Kata Matthew tersenyum dan berusaha menghilangkan semu di wajahnya.
"KYAAA! Aku mau beli dong. Mattieu beli dimana?" Tanya Elizaveta
"World Book Store. Di kota sebelah" Jawab Matthew tertawa. Tanpa memperhatikan ada seseorang yang menatap tajam dirinya. . .
At Night
Karena wc rumah Nesia jauh dari kamarnya, jadi Ia dan Aisu berjalan dari arah belakang halaman rumah Nesia. Matthew hanya mengantar Aisu yang sedikit takut karena sekarang berada di rumah Nesia yang lebih mirip museum Hantu.
"Terima kasih, Kak Matthew" Ucap Aisu. Matthew hanya membalasnya dengan anggukan. Mereka harus kembali ke kamarnya sebelum mereka bertemu dengan 'teman' Nesia .
"Matthew Williams" Matthew berdenyit kaget. Takut. Mau tidak mau, Ia dan Aisu menoleh kebelakang dengan tubuh yang gemetaran.
"A—hmpf " Seseorang membekapnya dari belakang. Orang tersebut semakin menekankan sapu tangannya sampai dirinya kehilangan kesadarannya.
"KAK MATTHEW!" Aisu berteriak dan mengejar 'sang penculik' yang membawa temannya.
Penculik tersebut berlari dengan cepat tanpa memperdulikan penghuni rumah terbangun dan mengejar dirinya. Ia langsung masuk ke dalam mobil—entah mobil apa karena gelap dan tanpa plat nomor— .
"MATTHEW! CEPAT KEJAR!" Teriak Alfred dengan muka pucat dan marah, adiknya—coret—keluarga satu-satunya diculik.
"Percuma, sudah terlalu jauh untuk dikejar" Kata Norge yang terlihat tertunduk lesu dan menggertakan giginya. Kini, mereka tidak bisa melakukan apapun. Matthew Williams telah diculik.
"Ya, lebih baik kita menghubungi Gupta" Usul Arthur yang langsung mencari nomor Gupta di phonebook Handphone nya. Terlihat Aisu yang menjadi saksi langsung penculikan itu gemetar hebat. Takut terjadi sesuatu pada rekannya itu, takut jika Matthew dibunuh. Tunggu, kenapa Aisu berpikiran bahwa Matthew akan dibunuh? Firasat Aisu dan Norge selalu tepat, seperti tebakan Norway di chapter sebelumnya bahwa Seychelles 'tertidur' di makam Francis . . . .
"Niichan" Aisu menggenggam erat tangan Norge. Norge memperhatikan adiknya yang gemetaran. Ia menepuk pelan kepala Aisu, "Ada apa, Aisu?" Tanya Noge
"Aku, entah kenapa hanya satu yang ada di benakku" Aisu menatap kakaknya dengan tatapan ketakutan, "Aku, takut. Aku takut Kak Matthew dibunuh" Semua orang disana langsung terpenjat kaget. Mereka semua tahu kalau kakak-beradik itu punya kekuatan mistis.
"Hus, kau tidak boleh berkata seperti itu" Norge mencubit kecil pipi adiknya. Aisu langsung memeluk erat kakaknya. Norge merasakan ketakutan yang sangat pada adiknya itu, "Ta-tapi firasatku berkata seperti itu. Yang pasti,penculikan ini tidak berujung pada tebusan uang, aku yakin itu!" Ucap Aisu sambil melepas pelukannya. Benar, Kenapa penculik tersebut memilih orang dewasa, kalau akhirnya meminta tebusan uang. Sepertinya yang dikatakan Aisu benar adanya . Mereka tertunduk lesu mendengan penjelasan Aisu.
'Mattieu'
"Sudah sadar, Matthew Williams?" Ucap seseorang di depannya. Memang ruangan yang digunakan menyekapnya gelap, tidak bisa melihat apapun karena tidak ada penerangan satupun. Ditambah, sekarang malam hari . Tetapi, suara itu. Ya, Matthew mengenalnya.
"Ya, Kak Malaya"
TBC, TSUZUKU, BERSUMBANG
Mukya~~ udah lama ga nyentuh lappie ini. Sebenernya emang lagi males banget, tapi kasian fic ditelantarin. Otl . padahal kemaren baru balik dari Jakarta, malemnya abis photoses di Kota Tua. Badanku remuk, aaaa pegel QAO . Pas liat hasilnya, ya ampun, saya cosplayer gagal, abal, nista, bejat, AAAAAA DDD"X .
Balesan Ripyu,da ze QAQ
Tempe Goreng: Untuk saat ini, Supein Oyabun udah dicoret dari daptar korban kekejaman Author #lagipegangdeathnote. Vi juga cinta ama Oyabun kok, suaranya itu loh, oh-so-very-smekseh awawawawawa, apalagi pas buka baju, oh my~ pengen peyuk~ O/Q .
Rachigekusa: Ternyata kita sama-sama kejam ya, Yandera deh kita 8D/ #tos . a ampun, Ficmu ntu, VI UDAH KETINGGALAN BERAPA CHAPTER ITUU! Fic mu selalu kelelep Fic laen sih, oke, saatnya baca dan Ripyuh~ 8Db .
Little senna-chan: Next Chappie ya, pasti ada yang mati. Kufufufufu~
Anzelikha Kyznestov: Belgie belon nongol sih ya ==" . Usulannya ditampung ^^ . Next target=Next Chapt , tunggu ya XD .
Rin-chanHonda: Maaf banget, Rin-chan adegan bacok-bacokannya (?) chapt depan ya OAQ .
Nyasar-tan: HUWAAAAAA JANGAN BUNUH SAYA, MBAH NYASAR DD"B #nangiskejer #dijejelinmasakanTino . Ah, Nyasar-chan, boleh minta tangannya? 8D #digiles .
Santa Clau: Nufufufu, nati dijelasin kenapa Matthew bisa lolos dengan mudah, karena. . . . #spoileralert #dibekep .
Oke, sampe sini dulu #ngulet . Oyasumi~ ==Zzzz .
