I Wish A Miracle
Cast :
Luhan
Kim Minseok
Oh Sehun
Pairing :
Xiuhan Xiuhun
Rate :
T
YAOI, Romance, Sad
Happy Reading
CHAPTER 7
Minseok berlari sampai keparkiran dan menuju dimana tadi dia memarkirkan mobilnya. Setelah sampai pada mobilnya, Minseok mencari ponselnya dan menemukannya dibawah kursi.
Saat Minseok menyalakan ponselnya langsung tertera banyak panggilan tak terjawab juga beberapa pesan dan itu semua dari Luhan.
"Aish apa dia bermaksud untuk menerorku? Lebih baik ku telfon balik."
Minseok mendial nomor Luhan dan menunggu beberapa saat, tapi yang terdengar hanya suara operator yang menyatakan kalau ponsel Luhan tidak aktif.
"Oh apa dia marah padaku? Sampai mematikan ponselnya segala." Minseok menyudahi panggilannya dan mengecek beberapa pesan dari Luhan.
'Min-ie kenapa kau tidak datang?'
'Apa kau marah padaku karena mengganggu waktu istirahatmu?'
'Min-ie cepatlah datang aku sudah tidak ada waktu lagi'
'Kau benar-benar tidak datang Min-ie?'
Minseok menghela nafas. Luhan yang berlebihan. Minseok membaca pesan terakhir Luhan.
'Min-ie aku akan pergi ke Cina untuk menjenguk mamaku yang sakit, aku berharap bisa melihatmu sebelum pergi tapi kau tidak datang, apa kau marah padaku? Mianhae. Hubungi aku jika kau tidak marah lagi dengan ku. Saranghae Min-ie'
Minseok jadi merasa bersalah pada Luhan tapi mau bagaimana lagi keadaan Minseok sendiri juga sangat genting.
"Luhan pasti masih dipesawat, nanti saja aku hubungi lagi" Minseok pergi dari parkiran, mampir ke kantin rumah sakit dan kembali ke ruangan ayahnya.
Seminggu kemudian.
Hari ini tuan Kim sudah diperbolehkan pulang. Minseok membantu ayahnya mengemasi barang.
"Seok-ie"
"Ya appa" Minseok menoleh.
"Mana kekasihmu? Mengapa tidak ikut mengantar appa pulang?" tanya tuan Kim.
"Ah appa ingin sekali ya bertemu Luhan? Dia baru pulang besok appa, mamanya menahannya lebih lama karena rindu dengan Luhan" jawab Minseok ceria.
"Oh kalau begitu undang dia makan malam besok, aku ingin tau orang seperti apa dia itu."
Minseok merasakan nada tidak suka di kalimat ayahnya, tapi Minseok menepis itu semua.
"Makan malam, baiklah akan kukatakan pada Luhan besok"
Minseok selesai mengemas pakaian ayahnya dan pergi dari kamar itu bersama ayahnya.
Didepan sudah ada sekertaris Han yang membukakan pintu untuk tuan Kim.
"Selamat presdir atas kesembuhannya saya turut bahagia."
"Terima kasi sekertaris Han"
Minseok dan tuan Kim masuk kedalam mobil dan mobil itu bergerak menuju kediaman keluarga Kim.
...
"Min-ieeee!!"
BRUK
"Ugh... Lu kau... Aku ti- tidak bisa bernafas" Luhan melepaskan pelukannya.
"Hehe mian"
Saat ini Minseok sedang menjemput Luhan dibandara saat dia mengecek ponselnya Luhan datang dan memeluknya sangat erat.
"Oh Min-ie aku sangat merindukanmu"Luhan memeluk Minseok lagi tapi tidak seerat sebelumnya.
"Aku juga merindukanmu Lu" Minseok membalas pelukan Luhan.
"Ya! Ya! Luhan turunkan aku!!" teriak Minseok.
Bagaimana tidak teriak Luhan tanpa permisi menggendong bridal Minseok dan memutar tubuhnya.
...
"Min-ie kau marah denganku? Maaf aku memang keterlaluan, mianhae"
Sekarang mereka berada di kedai kopi Luhan. Setelah kejadian memalukan -menurut Minseok dibandara, Minseok langsung menyeret Luhan keluar bandara.
"Min-ie~, Min~, Minseok. Huft, aku hanya menyalurkan rasa rinduku padamu Min, apa itu salah?" tanya Luhan.
"Tapi bukan seperti itu juga, apa kau tidak malu dilihat banyak orang? Hah?"
"Mianhae" Luhan menundukkan kepalanya.
Melihat Luhan yang seakan tidak punya semangat hidup, Minseok merasa sedikit kasihan.
"Sudahlah berhenti minta maaf, aku sudah memaafkanmu."
"Jinja!!!?" mata Luhan berbinar dan Minseok menganggukkan kepalanya.
"Oh ya Lu, appa mengundangmu makan malam hari ini apa kau bisa?" tanya Minseok.
"Makan malam? Tentu aku bisa" jawab Luhan semangat.
"Apa kau tidak lelah kau baru saja tiba"
"Tidak tidak aku tidak lelah kok, hanya dengan melihatmu saja energiku sudah full, hehe"
Minseok merotasikan matanya.
"Baiklah kalau begitu aku akan memberitahu appa."
Malam harinya...
"Apa benar kau yang bernama Luhan?" tanya tuan Kim.
"Ye, Luhan imnida" Luhan membungkukkan badannya.
"Duduklah" perintah tuan Kim.
Minseok yang mendengar nada dingin dari suara ayahnya mengelus tangan Luhan yang sejak tadi digenggamnya. Mereka berdua duduk di depan tuan Kim.
"Lebih baik kita makan dulu, setelah itu aku punya beberapa pertannyaan untukmu Luhan."
"Baik." jawab Luhan.
Mereka makan dengan hening. Minseok ingin mengubah suasana yang mulai tegang, tapi saat melihat ayahnya yang sesekali melihat dengan tajam ke Luhan, Minseok mengurungkan niatnya.
...
Makan malam sudah selesai lima belas menit yang lalu dan sekarang mereka berkumpul diruang keluarga. Dengan tuan Kim yang duduk di sofa single dan Minseok serta Luhan duduk dihadapan tuan Kim.
"Ekhm, Luhan seperti yang kubilang tadi aku ada beberapa pertannyaan untukmu." kata tuan Kim
"Apa kau masih sekolah? Apa pekerjaan orang tuamu?" lanjut tuan Kim.
Luhan terdiam sejenak dan menjawab pertanyaan dari tuan Kim.
"Aku tidak melanjutkan sekolah ku kejenjang perkuliahan karna aku ingin fokus mengurus kedai kopi kakekku." Luhan menghela nafas menenangkan dirinya yang gugup. Minseok yang ada disebelahnya mengeratkan genggamannya di tangan Luhan.
"Pekerjaan orang tuaku, Baba bekerja sebagai pengajar sekolah dasar di Cina, sedangkan Mama hanya ibu rumah tangga biasa." lanjut Luhan.
"Ayah seorang guru sekolah dasar, ibu pengangguran dan kau hanya berpendidikan SMA dan mengurus kedai kecil kakekmu. Kau itu termasuk kalangan bawah, masih punya muka menjadi kekasih anakku?" kata tuan Kim.
"Appa!!"
"Diam Minseok aku tidak bicara denganmu!" tegas tuan Kim.
Minseok ingin menyela lagi tapi tatapan tajam ayahnya dan mengingat tadi tuan Kim memanggilnya 'Minseok' bukan 'Seok-ie' seperti biasanya, itu berarti ayahnya sedang serius dan tidak dapat dibantah, jadi Minseok hanya diam.
"Oh apa kau sengaja menjadikan Minseok kekasihmu karena mengincar hartanya untuk menunjang kehidupanmu?" tanya tuan Kim dengan nada mengejek.
Luhan semakin menundukkan kepalanya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat tidak menyangka kalau tuan Kim bisa berbicara seperti itu. Minseok yang masih menggenggam tangan Luhan dapat merasakan kuatnya kepalan tangan Luhan. Dia terus menguaap-usap tangan Luhan.
Ada apa dengan ayahnya setahunya ayahnya bukan orang seperti itu. Membeda-bedakan tingkat sosial seseorang.
Luhan yang merasakan elusan lembut dari Minseok perlahan mulai mendongakkan kepalanya dan menatap tuan Kim.
"Aku mencintai Minseok bukan karena hartanya, tapi aku benar-benar mencintainya dari hatiku" kata Luhan, menentang mata tajam tuan Kim.
"Cih, orang rendahan sepertimu sudah pasti mengincar harta apa lagi. Oh apa orangtuamu yang menyuruhmu mengencani anak orang kaya dan menguras hartanya, orangtua macam apa yang mengajari anaknya seperti itu"
"Cukup tuan!!" Luhan berdiri dari duduknya.
"Anda boleh menghinaku tapi anda tidak berhak menghina orang tuaku. Meskipun kami dari kalangan rendahan seperti yang anda bilang, tapi kami memiliki tata krama dan sopan santun lebih tinggi dari anda." lanjut Luhan.
Luhan menghadap Minseok. "Maaf Minseok aku harus pergi. Terima kasih atas makanannya." Luhan menghadap tian Kim lagi dan membungkukkan badannya.
Saat Luhan akan pergi lengannya ditahan oleh Minseok.
"Tunggu Luhan, jangan pergi"
"Maaf Minseok aku tidak mau orangtuaku dihina dan direndahkan lagi. Lebih baik aku pergi dari sini." Luhan melepaskan genggaman tangan Minseok dan pergi meninggalkan rumah keluaega Kim.
Minseok berlari mengejar Luhan tapi ditahan oleh pengawal tuan Kim.
"Lepas!! Lepaskan aku!!" Minseok meronta pada dua pengawal yang memeganginya. Tuan Kim menghampiri Minseok.
"Appa aku mohon lepaskan aku, aku ingin mengatakan-"
"Mengatakan apa? Kalau kau ingin bersamanya dan meninggalkan appamu sendiri begitu" tuan Kim memotong kalimat Minseok.
"Bukan begitu appa"
"Sudahlah Minseok lupakan dia, dia tidak pantas untukmu. Lagipula appa sudah memiliki calon yang lebih baik dari kekasihmu itu. Jadi tinggalkan dia." tuan Kim berkata cepat.
"Apa!! Appa tidak bisa melakukan itu padaku, aku mencintai Luhan appa"
"Ini sudah final Minseok, dan ini juga demi kebaikkanmu. Kurung dia di kamarnya" perintah tuan Kim saat melihat Minseok mau membantah lagi.
"Baik tuan"
"Appa tunggu!! Appa!! Kau tega appa! Kau tidak bisa melakukan ini pada anakmu sendiri! Appa!"
Tuan Kim yang mendengar teriakkan Minseok hanya bisa menundukkan kepalanya.
'Maafkan appa Seok-ie, ini demi kebaikkanmu. Appa tidak mau kau terluka'
TBC
