Memiliki ambisi merupakkan hal yang bagus. Namun terlalu berambisi pula bukanlah hal yang baik.

Hinata selalu menceramahinya tentang itu dahulu. Sebelum ia menjadi sependiam sekarang. Jika bukan Naruto yang mengajaknya berbicara ia tidak akan berbicara. Dan kalau bukan Naruto yang menyuapinya makan ia pula tidak akan makan. Mengiris hati. Melihat sosok sahabat yang bahkan tidak memiliki gairah hidup lagi.

Hanya duduk di atas ranjang pavilion milik Naruto, menatap sudut ruangan.

"Hinata. Memerlukan sesuatu?" Mata Naruto selalu menyorot khawatir padanya. Wanti - wanti jika Hinata akan melakukan percobaan pembunuhan lagi. Hinata hanya menggeleng kecil.

"Hinata. Aku mengerti jika ini bukan kehamilan yang kau harapkan. Terlebih lagi pada pria yang sama sekali tidak kau inginkan." Naruto menggenggam lembut kedua tangan Hinata di atas selimut tebal hangatnya. "Ia tetaplah anakmu. Bayi yang tidak bersalah, yang tidak mengetahui apaun. Sosok anugrah yang akan bersamamu kelak. Jikalau ia lelaki pastilah ia akan menjagamu."

Perkataan Naruto menarik atensi Hinata. Butiran air mata sudah membasahi pipinya. "Bagaimana jika ia sama dengan pria itu Naruto. Apa yang harus aku lakukan."

Naruto menggeleng. Genggaman tangannya semakin mengerat. "Tidak akan. Kita pastikan tidak akan. Didik ia sebaik mungkin. Aku yang akan membantumu mendidiknya kelak." Sumpah Naruto. "Kau bisa bayangkan bayi kecil yang mungil dan lucu. Aku yakin ia pasti akan sangat mirip denganmu."

Senyuman terulas di wajah Hinata. Kepalanya mengangguk kecil. Bayangan membahagiakan ketika sikecil lahir yang mirip dengannya terbesit.

"Bersemangatlah. Kau harus kuat dan sehat demi dia. Dia yang akan melindungimu kelak."

Hinata mengangguk.

Gelap menyapa mesir. Dinginnya malam tidak menghalangi sosok Naruto tuk keluar dari Pavilion menuju sebuah tempat.

Tiap langkahnya para pelayan maupun prajurit membungkuk hormat. Dalam hati mereka tak luput dari kata - kata memuja atas kecantikan yang di miliki wanita itu.

Pavilion Fugaku. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu besar di hadapannya. Para pengawal yang menjaga dengan penuh hormat membukanya untuk Naruto.

Di dalam sana. Sosok Fugaku dan Mikoto sudah duduk manis menunggunya.

Sebelum duduk Naruto menyempatkan diri untuk memberi hormat pada keduanya.

"Akhirnya datang juga. Aku pikir kau terlalu takut untuk menghadap padaku, Naruto." Mikoto memandang angkuh Naruto. Tidak ada niatan jahat. Ia hanya tengah menguji keseriusan keponakan kesayangannya ini.

"Maaf saja. Tidak ada kata takut di dalam kamus Uzumaki." Dengan lugas balas Naruto, membuat Mikoto tertawa di dalam hati.

Benar - benar puteri dari Kushina, batinya.

"Jadi apa yang ingin kau bahas anakku?" Fugaku sama sekali tidak angkat bicara kali ini. Kontrol 100% dipegang oleh Mikoto.

"Bibi. Aku ingin menagih perjanjian dari paman."

Mikoto menaikan sebelah alisnya. "Perjanjian?" Naruto mengangguk. "Perjanjian apa itu hm?"

"Bibi tidak perlu berpura - pura tidak tahu. Aku yakin paman sudah mengatakan semuanya pada bibi. Benar - benar tipikal paman yang akan menceritakan semuanya padamu."

Mikoto tertawa renyah. Naruto memang paling tahu tabiat pamannya ini. Itu tandanya Mikoto tidak perlu berpura - pura bodoh.

"Baiklah - baiklah. Jika dilihat moodmu sekarang sedang tidak baik anakku." Angguk Mikoto. "Aku bukannya tidak percaya padamu. Hanya saja menjadikanmu fir'aun bukanlah hal yang mudah terlebih lagi karena krisis yang tengah dialami mesir saat ini." Naruto tidak bodoh untuk tidak mengerti pesoalan yang tengah di maksud Mikoto. "Para dewan. Belum tentu bisa menerimamu walau mereka telah takluk karna pesonamu."

"Jadi apa yang harus aku lakukan."

"Rakyat." Jawabnya. "Kuncinya ada pada rakyat. Jadilah dewi mereka. Buat mereka bergantung padamu dan membuat mereka sendiri yang memberikan tahta itu padamu." Naruto terdiam. "Dengan kata kata lain. Aku akan memintamu mengerjakan pekerjaan raja tentu saja atas pengawasanku. Ambil hati rakyat dan para dewan itu dan Sasuke akan membantumu. Bagaimana?"

"Akan aku lakukan."

"Bagus."

"Ada lagi bibi."

"Hm? Apa itu?"

"Hinata... bagaimana dengan nasib Hinata? beserta kandungannya... jangan pura - pura buta mengenai kondisi Hinata yang sekarang.. ia yang direndahkan oleh penghuni istana lainnya."

"Ini pasti penyebab kenapa moodmu begitu buruk hari ini hm? Aku sudah memikirkan soal itu tiga hari ini." Mikoto menghela nafas. "Aku akan memberinya gelar bangsawan dan menjadikannya puteriku. Bagaimana?"

"B-bibi yakin soal itu? Bagaimana dengan paman?" Naruto mengalihkan pandangannya kearah Fugaku.

"Kami sudah membicarakan ini." Jawabnya di sertai anggukan.

"Kemudian aku akan menikahkannya dengan Kiba putera dari Kurenai, selir Fugaku." Ujar Mikoto.

"Tunggu? Kiba? Kenapa?"

"Sudah sejak lama aku memperhatikan jika Hinata dan Kiba itu begitu dekat hingga aku meyakini mereka memiliki sebuah ketertarikan. Jadi aku memutuskan bagaimana jika aku menikahkan mereka berdua?"

Puas? Naruto sangat puas. Sakking puasnya Naruto tidak bisa menahan diri untuk mengulas sebuah senyuman. Mikoto dan Fugaku turut tersenyum merasakan aura bahagia Naruto yang ketara. Sungguh Naruto akan menjadi sosok paroh yang baik nantinya. Mengingat ia selalu mengutamakan orang lain ketimbang ego. Sosok ideal yang harus di jadikan pemimpin tanpa harus memandang apa agamanya, rasnya, golongannyan dan pula gendernya.

Walau yang menjadi masalah utama di mesir adalah mengenai gender. Itulah yang harus Naruto perjuangkan nantinya.

Hari ini Hinata tampak lebih bersemangat. Naruto tidak perlu turun tangan lagi dalam menyuapi sahabatnya. Ia sudah mau di layani oleh para pelayan.

Pengumuman dari paroh memang sangat mengejutkan. Mengangkat Hinata sebagai puterinya serta menikahkannya dengan Uchiha Kiba.

Menentang? Banyak yang menentang sebenarnya. Namun ketegasan dan kemutlakan Mikoto membuat mereka bungkam. Rasa iri membuat mereka menentang, Mikoto tahu itu.

Hinata berbahagia kala mendapat informasi bila paroh akan menikahkannya dengan pria yang ia cintai. Ada kegundahan dan keraguan dihatinya. Rasa takut bila Kiba tidak menyukainya. Menolak? Tidak mungkin menolak keinginan paroh. Di tambah lagi jika anak di dalam kandungannya ini buah dari pria lain.

Hinata tertunduk di kasurnya. Tak berani menatap Kiba yang sedari memandanginya.

"Apa yang kau cemaskan Hinata?"

Hinata diam seribu bahasa. Mengusap perut buncitnya. Takut melihat jawaban yang terpancar dalam manik milik Kiba.

Kiba menghela nafas. Ia menggenggam lembut tangan Hinata. "Kau tidak menyukaiku? Kau menolakku?" Sontak Hinata mendongak dan menggeleng cepat. Kiba terkekeh di buatnya. "Lalu apa yang membuatmu resah calon isteriku? Aku bukan Sasuke ataupun Itachi yang begitu peka. Yaa aku ini sedikit bodoh." Akunya pada Hinata.

"A-aku takut Kiba menolakku. Dan anak ini sama sekali bukan anakmu." Akunya.

Kiba tertawa renyah. "Jadi itu yang kau cemaskan. Kau tidak perlu khawatir. Aku mencintaimu." Genggaman tangannya semakin erat. "Aku sangat marah saat pria brengsek itu menyentuhmu. Aku emosi dan tidak terima. Apalah daya dulunya ia seorang fir'aun dan lagi dia kakakku. Aku tidak bisa apa - apa." Tampak sorot sedih di mata Kiba. "Aku sangat berterimakasih pada Naruto. Sangat - sangat berterinakasih."

Hinata tersenyum. Rasa cemasnya menguap entah kemana. Dengan lembut ia melepaskan genggaman Kiba dan membelai lembut pipi pemuda itu.

"Sebagai tanda berterimakasih haruslah kita mendukung dirinya." Kiba mengangguk. "Naruto akan naik menjadi Fir'aun bantulah ia naik dengan kekuasaanmu yang sekarang. Tentunya pula dengan kekuasaanku yang sekarang."

Bersambung...

Review?

buat suntikan semangat gitu..

kali aja ada yang mau ngasi saran juga..

aku balas review biasanya di kolom review juga ya~