Disclamer : Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Shonen ai
Pairing : SasuxNaruxSai
Rated : T
Don't Like! Don't Read!!
Chapter 7 (Kencan)
Jadwal padat telah menunggu Naruto. Persiapan untuk festival sekolahnya pun harus disiapkan sedetail mungkin. Tak ada satu pun yang boleh terlupakan darinya. Anggota osis berkumpul siang itu, untuk membicarakan dan mendiskusikan acara apa yang akan disiapkan agar festival sekolahnya berjalan sukses. Naruto, sebagai ketua osis harus membimbing anggotanya agar berkerja secara maksimal untuk jalannya festival ini. Namun pikirannya kini tidak bisa terfokus dalam rapat, hingga beberapa kali Sai mendapati Naruto melamun saat rapat itu dimulai.
"Naruto.." panggil Sai.
"Ah, iya?"
"Kau melamun?"
"Aku sedikit tidak enak badan. Maafkan aku."
"Kalau begitu kita akhiri saja rapat ini. Besok kita masih bisa melanjutkannya."
"Tidak apa. Aku bisa.." ucap Naruto tapi dipotong oleh Sai.
"Lebih baik kita sudahi dulu rapat ini. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu."
Akhirnya rapat itu pun disudahi siang itu. Dan Sai mengantar Naruto dengan sepeda pinjamannya.
Sudah beberapa hari ini Naruto selalu bersikap aneh, hingga membuat Sai bingung. Dan akhirnya dia pun mempunyai ide untuk membuat Naruto senang. Malam itu, Sai pun menelpon Naruto untuk mengajaknya pergi.
"Naru-chan.." panggil Sai di telpon yang diangkatnya.
"Sai, jam segini kenapa telepon? Memangnya ada apa?" tanya Naruto.
"Akhir-akhir ini kau sepertinya sedang aneh, aku tidak suka melihatmu seperti itu. Hari minggu nanti kau ada acara? Temani aku pergi, yuk?"
"Memangnya mau kemana?"
"Ada sesuatu yang harus aku cari. Bisa temani aku? Lagipula aku ingin pergi berdua denganmu. Aku tak mau melihatmu yang murung terus."
"Jam berapa?"
"Besok aku akan menjemputmu jam 9 pagi. Kita naik kereta yang paling awal."
"Baiklah."
"Ja, oyasumi Naru-chan.."
"Oyasumi."
Telpon pun ditutup oleh Sai. Naruto meletakkan ponselnya di meja dan kembali membaringkan tubuhnya di ranjang, menyelimuti dirinya dengan sebuah kain yang begitu hangat.
"Naruto, kau sudah berjanji akan selalu bersamaku. Kau juga masih ingatkan kalau kau itu milikku?" ucap Sai pada Naruto.
"Naruto, aku mencintaimu! Aku ingin kau menjadi milikku!" ucap Sasuke kepada Naruto.
"Aku..Aku.." gumam Naruto.
"Naruto.. Kau sudah berjanji." Timpal Sai.
"Naruto, kau mencintaikukan?" Timpal Sasuke.
"Naruto.."
"Naruto…"
"Ahhhhhh……." Naruto pun terbangun dari tidurnya.
Malam itu Naruto bermimpi tentang Sai dan Sasuke. Dia begitu bingung dengan mimpinya itu. Dia disuruh memilih diantara mereka berdua. Naruto mulai menyadari perasaannya terhadap Sasuke, namun di lain sisi ada Sai yang tak bisa ditinggalkannya.
-Flashback-
Naruto POV
Siang itu, hujan begitu deras turun di kota ini. Menyandingi tangisan seseorang yang kehilangan sesuatu yang disayanginya. Sai, teman pertama kali yang menyapaku di waktu pembukaan upacara masuknya anak sekolah di SMP Konoha. Orang tua dan kakaknya meninggal dalam insiden kecelakaan 5 tahun yang lalu yang menewaskan keluarganya. Hanya Sai sendiri yang selamat dalam kecelakaan itu. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke 15, dia harus kehilangan semua keluarganya. Sai, orang yang pertama menghiburku di saat aku sedih. Sai, orang pertama yang membuatku tersenyum. Dan Sai, orang pertama yang selalu menemaniku di saat aku membutuhkan kenyamanan. Aku tidak ingin melihatnya menangis untuk yang kedua kalinya. Hanya cukup satu kali saja aku melihatnya, melihatnya meraung-raung saat jasad keluarganya masuk ke liang kubur. Aku ingin menghiburnya, membuatnya tertawa dan senang. Aku ingin menjadi bagian dalam dirinya, tak mau membuatnya sedih. Dan selalu ada di saat dia membutuhkanku.
-End of Flashback-
Tepat jam 9 pagi, Sai sudah menjemput Naruto di depan rumahnya. Mengajak pergi untuk menemaninya mencari sesuatu. Namun di balik itu, Sai mengajak Naruto ingin membuatnya senang dan melupakan masalahnya untuk sejenak.
Setelah itu, mereka pun naik bus dan turun di stasiun. Lalu membeli tiket dan naik kereta. Sesampainya di tempat, mereka pun berjalan-jalan di kota itu. Menikmati berbagai suasana di sana. Nonton di bioskop, berjalan-jalan, membeli gula-gula kapas berdua, foto-foto berdua di fotobox dengan tampang-tampang lucunya, lalu membeli es krim.
Sejenak pun Naruto telah melupakan Sasuke, melupakan sejenak beban pikirannya. Dia tertawa dan begitu senang saat sedang bersama Sai.
Saat itu mereka pun sedang duduk-duduk santai sambil menikmati es krim yang mereka makan dan mengobrol bagai tak ada satupun beban yang mengganggu.
"Kau lapar?" tanya Sai.
"Tidak. Aku sudah kenyang makan es krim ini." Jawab Naruto diselingi tawa yang merekah. "Ohya, acara festival nanti sebaiknya kita…" timpalnya namun tiba-tiba dipotong oleh Sai.
"Jangan membicarakan masalah sekolah di sini. Hari ini aku khusus mengajakmu pergi agar kau melupakan masalahmu sejenak. Jadi aku mohon jangan membahas masalah itu sekarang."
"Emm, baiklah. Ah, katanya kau mau mencari sesuatu. Apa sudah kau temukan?" tambahnya.
"Belum."
"Kalau begitu ayo kita cari." Kata Naruto sambil berdiri dari kursinya. Namun Sai pun kembali menarik tangan Naruto.
"Tidak usah terburu-buru begitu, nanti juga masih bisa. Lagipula tokonya buka jam 3 sore. Inikan masih jam 2." Kata Sai.
"Baiklah kalau begitu." Timpal Naruto dan kembali duduk di kursinya. "Memangnya apa yang sedang kau cari?"
"Hmm.. Apa, ya?" ucap Sai sambil menjentik-jentikkan jari telunjuknya di hidungnya.
"Hah? Masak kamu tidak tahu apa yang sedang kau cari?" kaget Naruto.
"Hahaha.. Tentu saja aku tahu. Mana mungkin aku mencari sesuatu yang tidak aku ketahui. Dasar kau ini." Ucap Sai sambil mengusap-usap rambut Naruto hingga berantakkan.
"Aah.. Sai! Jangan menganggapku anak kecil lagi! Memangnya aku suka diusap-usap rambutku seperti anak kecil, hah?!"
"Habis kau itu manis Naruto. Jadi aku tidak bisa menahan ingin menyentuhmu." Timpal Sai hingga membuat semburat merah muncul di pipi Naruto.
"Jangan bicara sembarangan! Aku tak suka sedikitpun dibilang manis." Sungut Naruto salah tingkah.
"Hahaha.. Baiklah. Aku tidak akan bilang kau manis lagi, Naru-chan." Ucap Sai kembali dengan nada manjanya.
"Dan juga jangan panggil namaku seperti itu!"
"Hmm.. Bagaimana, ya?" kata Sai sambil berdiri dari kursinya.
"Sai!!" gertak Naruto.
Naruto pun mengikutinya lalu dengan mesra Sai merangkul pundak Naruto dan berjalan-jalan kembali sebelum mencari barang yang ia cari.
Mereka tertawa senang bagai tak ada beban. Namun tiba-tiba Naruto terkejut saat di depannya ada sebuah sosok yang begitu ia kenal. Membangkitkan kembali ingatan dan beban yang sedari tadi ia lupakan. Tapi, dia begitu terkejut saat sosok itu bersama wanita lain. Melihat Sasuke sedang bermesraan dengan perempuan lain yang tak lain dan bukan adalah Sakura, teman sekelasnya. Sakura dengan manja menglayuti lengan tangan Sasuke bagai kekasih hatinya dan Sasuke hanya diam saat Sakura menglayuti lengannya. Naruto dan Sasuke hanya berpapasan di jalan, Sasuke hanya bersikap acuh saat melihat Naruto sedang bersama Sai. Sedangkan Naruto, dia menundukkan kepalanya saat melihat Sasuke berjalan dengan mesra bersama teman wanitanya itu.
"Naruto, kau kenapa?" tanya Sai yang heran melihat Naruto tiba-tiba diam.
"Ah, tidak. Aku tidak apa-apa. Hmm.. Kita mau ke toko mana sih?" tanya naruto gelagapan.
"Di seberang jalan sana." Ucap Sai heran melihat Naruto kembali aneh.
Sasuke masih diam dengan raut wajah stoic-nya itu dan mendiamkan Sakura yang sedari tadi masih cerewet dengan pembicaraan yang membosankan bagi seorang Uchiha.
"Sasuke-kun? Sasuke?" panggil Sakura yang melihat Sasuke melamun.
"Hnn?"
"Kau kenapa? Apa ada perkataanku yang menyinggung perasaanmu?" tanya Sakura.
"Tidak ada." Sungut Sasuke.
"Hmm??" gumam Sakura bingung.
Akhirnya Naruto dan Sai pun sampai di toko yang mereka tuju. Sebuah toko perhiasan imitasi yang menjual berbagai pernak-pernik yang lucu.
"Kau mau mencari apa di toko seperti ini?" tanya Naruto.
"Sesuatu yang kucari ada di sini soalnya." Kata Sai.
Lalu mereka masuk ke dalam toko itu dan mencari sesuatu yang dicari oleh Sai.
Beberapa menit kemudian.
"Kau sudah menemukannya?" tanya Naruto.
"Belum."
"Memangnya apa yang kau cari? Biar aku juga bisa mencarikannya untukmu."
"Emm.. Sebuah pita satin yang bercorak emas. Aku selalu membelinya di sini untuk hadiah Ibuku, karena Ibuku sangat menyukai pita itu. Lagipula besok adalah hari ulang tahun Ibuku, jadi aku mau pergi berziarah ke makamnya untuk menyerahkannya." Ucap Sai.
"Eh.. Besok? Aku akan menemanimu." Kata Naruto.
"Tidak perlu, besokkan kau harus masuk sekolah. Lagipula besok ada rapat untuk membahas acara festival. Kaukan ketua osis, tidak boleh meninggalkan rapat begitu saja."
"En-en.." gumam Naruto sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Pokoknya aku ingin menemanimu. Kalau masalah rapat, kita bisa mengundurnya saat jam sepulang sekolah."
"Tapi.."
"Tidak apa, aku yang ingin menemanimu." Kata Naruto.
"Terima kasih, ya Naru-chan.."
"Sai!!"
"Hahaha…. Baiklah. Ayo kita cari lagi." Timpal Sai sambil mencari kembali pita yang dimaksud itu.
Akhirnya Sai pun mendapatkan apa yang ia cari, sebuah pita satin emas yang begitu diinginkannya. Untung saja masih ada satu helai pita satin yang ditemukan Naruto ditumpukkan pita-pita lainnya. Lalu saat hendak membayar, tiba-tiba mata Sai melihat sesuatu yang begitu menarik di matanya. Sebuah hadiah untuk Naruto.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Sai dan Naruto pun kembali pulang.
Sesampainya di rumah.
"Ja, sampai ketemu besok." Pamit Naruto.
"Hei.." panggil Sai sambil menarik tangan Naruto.
"Ada apa? Eh.." Dan tiba-tiba Sai pun memeluk Naruto, membuat Naruto sedikit kaget. "Sa..i??"
"Aku hanya ingin memelukmu sebentar saja." Ucap Sai. Lalu dengan lembut Naruto pun membalas pelukkan Sai.
Namun dibalik itu, di sebuah kamar yang gelap Sasuke memperhatikan mereka. Dia begitu kesal melihat Naruto berpelukkan dengan Sai. Sasuke menggigit bibir bawahnya hingga berdarah dan memukul sebuah kaca hingga kaca itu pecah berantakan, sehingga tangannya ikut berdarah karena tergores oleh kaca-kaca yang ia pukul barusan.
To be Continued…
Gomen baru bisa update..
Soalnya baru dapet ide and mood buat ngelanjutin nih fanfic..
Huhuhu,,,,ToT
Saya tdak mau berbasa-basi lagi..
Ditunggu reviewnya… n____n
