Chapter 7 – Gadis Suci Part II

(A/N: Warning! Plot-Twist dimana-mana.)

Semua orang yang berada disana menatap Freed dan Dohnaseek dengan tatapan heran penuh kebingungan, entah apa yang terjadi. Kita semua tidak tahu akan hal itu. Mereka terus tertawa layaknya mereka memenangkan sebuah pertarungan.

Mashu dan Issei yang berdiri dibelakang mereka pun segera maju dan membagi dua targetnya, Mashu menyerang Freed dengan kedua pedangnya, dan Issei menghajar Dohnaseek dengan [Boosted Gear]nya. Spontan, Freed pun menghalangi serangan Mashu dengan mudahnya, dan membuat pedang mereka bertabrakan.

Sementara, Dohnaseek terbang ke atas langit dan menciptakan dua buah tombak cahaya di tangannya dan menembakkannya ke Issei dengan cepat, seperti angin. Tanpa disadari oleh siapapun, Issei memukul kedua tongkat itu menggunakan [Divine Dividing]nya dalam waktu yang berbeda namun intervalnya cukup dekat.

[DIVIDE!] [Divine Dividing]nya pun membagi dua dan meresap kekuatan yang diterima dari kedua tombak itu, memicu amarah Dohnaseek yang membuatnya memanggil beberapa tombak secara bersamaan dan membuat Issei menghindari serangan itu dengan mudahnya sambil membuat [Divine Dividing]nya berkerja.

[DIVIDE!]

[BOOST!]

Seiring berjalannya waktu dan seiring Issei menghindari lemparan tombak Dohnaseek bagaikan orang yang menghindari lemparan batu dengan mudahnya, Issei merasakan kekuatannya semakin banyak seiring waktu berjalan dan seiring waktu berjalan juga, Dohnaseek merasa lemah.

"Dragon..." Kata Issei yang melesat ke arah Dohnaseek sambil menarik tangannya kebelakang dan mengalirkan sebagian kekuatannya ke tangannya. Seketika sinar campuran merah dan putih bersinar dari tangannya Issei, membuat Dohnaseek tidak bisa melihat Issei.

"Punch!" Akhirnya, Issei pun sudah ada di depan Dohnaseek dan menghajarnya di mukanya, dimana akhirnya dia terpantul ke atap gereja itu, menembus bagian kaca dari atap itu dan mencicipi jebakan yang ia buat sendiri, yaitu sebuah perisai listrik tak terlihat yang dibuat olehnya. Ditambah lagi, mukanya sudah setengah hancur karena serangannya.

Raynare dan teman-temannya yang sedang ada diatas orang-orang itu pun memanfaatkan kesempatan yang hanya ada sekali seumur hidup dan membuat mereka kabur dari tempat itu. Raynare yang membawa Asia pun mempercepat terbangnya, hanya saja.

Mittelt dan Kalawarner yang ada di depan Raynare dan terbang lebih cepat darinya tertabrak oleh sesuatu yang tidak terlihat dan dia tersetrum oleh sesuatu yang tidak terlihat itu, membuat Raynare berhenti terbang dan menangkap kedua temannya yang terjatuh itu, lalu membawa mereka ke tempat yang jauh dari Freed dan kawan-kawannya.

"Muahahahahahahaha! Kami tidak akan biarkan kalian kabur sebelum kami mendapatkan [Twilight Healing] dari gad... UGH!" Kata Freed sambil tertawa dan mencoba untuk menebas Mashu dengan kedua pedangnya, namun Mashu berhasil menemukan bagian tubuh yang bisa dia serang dengan pedangnya, yakni, pinggangnya

Dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat orang lain, dia mendorong Freed dengan kuat dan menebas pinggangnya. Hanya saja, Freed langsung tahu. Tapi, begitu dia berusaha menghalangi pedang Mashu dengan pedangnya, pedangnya patah dan mengenai pinggangnya.

Freed merasakan sakit yang amat sangat menyakitkan dan terpental kearah yang sama seperti arah serangan Mashu, bagai kura-kura dia terpental dan tertabrak tembok dalam hitungan detik. Dengan cepat dia mengambil napas dan setelah kepulan melihat Kirito yang menatapnya dengan tatapan yang bermusuhan dengan Freed dan mengarahkan pedang yang ada di tangan kanannya ke badan Freed dari kiri.

"Sudah waktunya! Starburst Stream!" kata Kirito sambil berlari menuju Freed, dimana Asuna langsung berusaha meraih Kirito, namun gagal. Karena, kecepatan kirito itu bagaikan kilat, tidak bisa dilihat begitu saja. Kepulan asap langsung mengepul dan menutup beberapa bagian di tempat itu. Kirito langsung menebas pedangnya ke Freed dengan bertubi-tubi.

Freed lagi-lagi menghalangi serangan pedang Kirito dengan pedang cahayanya. Namun, pedang itu hancur ditengah aksinya oleh sebuah pedang yang ditangan kanannya yakni, Elucidator. Masalahnya bukan pada pedangnya, tapi penggunanya memakai kekuatan penuh untuk menebas musuhnya, sehingga pedang Freed terpotong jadi dua lagi, pada penghujung jurus, pedangnya mengenai perut Freed, namun...

"Apa kau kira aku cukup bodoh untuk melawanmu begitu saja?" tanya Freed pada Kirito dengan sebuah pertanyaan yang membuat dia bingung untuk sementara, Kirito pun berusaha untuk menebas Freed dengan pedang yang dia pegang dengan tangan kirinya sambil melepas Elucidator yang menusuk perut Freed itu.

Lalu, dia melompat kebelakang dan melesat ke belakang secepat yang dia bisa sambil menjaga posisi siaganya dengan mantap. Asuna hanya berdiri dan mencari kesempatan untuk menyerang Freed dari tempatnya, dia pun akhirnya berlari ke Kirito dan berusaha untuk menemaninya.

Sementara itu, di sebuah tempat yang agak gelap, terdapat beberapa pasukan yang sudah pingsan atau mati karena diserang oleh beberapa orang yang terlihat sipil, dan beberapa penjaga kewalahan dalam mengurusi mereka semua.

"Seseorang, tahan, URGH!" Kata seorang penjaga sambil teriak kesakitan karena menerima rasa sakit dari tembakan dari seorang gadis berambut biru bernama Sinon dan tebasan dari seorang gadis yang memiliki rambut pirang bernama Suguha. Mereka sudah bisa memanggil senjata mereka masing-masing dan membuang senjata pungutan mereka untuk sekarang.

Suguha memakai sebuah katana yang biasa dia pakai di game onlinenya dan menyerang musuh menggunakan katana itu untuk menyerang musuhnya, begitu pula dengan temannya, Sinon yang memakai pistol dari game onlinenya untuk menembak. Kalau Kenji, dia masih memakai pedang cahayanya.

'Nii-chan, Asuna-san, tunggu aku! Jangan mati di depanku, Nii-chan.' batin Suguha sambil terburu-buru dan memikirkan seseorang yang diduga adalah kakaknya dan seorang wanita bernama Asuna. Dia dengan cepat mengalahkan musuhnya karena apa yang ia pikirkan itu

'Kirito-kun, Asuna-san, tunggu aku!' batin Sinon sambil menembak musuh-musuhnya, dan menembak salah satu dari mereka yang ada dibelakang Kaoru ketika ia berteriak, setelah itu, Kaoru mengucapkan terima kasih dan dia tersenyum. Tapi, mereka berdua teringat sesuatu.

Flashback(Suguha POV)

Aku terikat bersama Sinon-san dan aku berusaha untuk melepaskan diri dari apa yang membuatku terikat walau aku tidak bisa, akhirnya, ada seseorang yang berfedora dan tampangnya sangat jahat, sampai aku kesal dengan wajahnya. Dan, mulutku ditutup dengan sebuah perekat yang berupa persegi panjang kertas berwarna hitam, begitu juga dengan beberapa orang yang lain.

Dia memasukan sebuah batu permata aneh yang sebening berlian kualitas tinggi ke badan kami dan seketika kami berubah menjadi wujud kami dari game online pertama kami, aku mendapatkan wujudku ketika aku bermain [ALfheim Online]. Sementara itu, Sinon mendapatkan wujud ketika dia bermain [Gun Gale Online]. Dia tampak sangat cantik dengan itu, aku iri pada kecantikannya, tapi aku tidak kalah cantik kok.

Tapi, Nii-chan dan Asuna-san dimana? Aku tidak tahu dimana mereka, dan rasanya aku sangat khawathir. Bagaimana jika seandainya Nii-chan dan Asuna-san kenapa-napa, serta Yui. Aku tidak akan bisa menebak apa yang akan terjadi pada mereka jika demikian.

Dimana mereka, terakhir aku lihat kita bersama-sama dirumah Nii-chan, Nii-chan, cepatlah datang, tolong aku, Nii-chan.

Ditambah dengan dua orang yang ada disebelahku dan aku tidak kenal mereka, tapi mereka juga ditahan entah apa alasannya, sepertinya kita semua akan dijadikan sandera olehnya. Aku tidak bisa mengetahui alasan kenapa ini semua terjadi, aku adalah orang yang tidak tahu apa-apa.

Pria itu tertawa, dan mengatakan, "Aku akan membawa 'Sylph Cepat', 'Hecate', 'Pendekar Hitam', 'Si Kilat', dan 'Tidak Bisa Disarung' secara bersamaan dan aku akan memulai perang antar-ras dengan ini bersama dengan Kokabiel-sama, MUAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!" Tawa orang itu dengan jahatnya dan membuat semua orang muak dengan tawanya.

Dia mengatakan apa barusan? Menurutku kata-kata itu sangatlah aneh, aku, Sinon-san, Nii-chan, Asuna-san, dan satu orang yang tidak dikenal akan dimanfaatkan untuk perang? Tentu saja kami tidak akan pernah menerimanya, sekalipun nyawa taruhannya.

Seketika, pria berfedora itu mengecek jam tangannya dan tersenyum. "Ah... Sudah waktunya... Aku akan mengambil [Twilight Healing], dan aku akan membuat diriku memiliki posisi yang sangat tinggi di Grigori, dan membuat perang dengan ras lain bersama Kokabiel-sama, MUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!" katanya dengan jahat sambil keluar dari ruangan itu dan dia lupa menguncinya.

Cih... Nadanya membuatku kesal sampai aku ingin muntah, begitu pula yang dirasakan oleh Sinon karena kami ditahan dan akan dipakai dalam perang. Kami tentu akan menolak pilihan itu, dia memangnya apaan sih, seolah dia memiliki kekuatan yang besar saja.

Flashback End(Third POV)

Mereka pun pergi bergegas menuju sebuah tempat dimana pertarungan terjadi, banyak pendeta yang pingsan akibat apa yang para pihak Kirito dan kawan-kawan sedang lakukan. Mereka pun kaget yang melihat Kirito yang sedang menjauh dari Freed yang sedang memegang sebuah botol.

Disaat yang bersamaan, dia juga melihat Dohnaseek yang akan ditinju Issei dalam hitungan waktu, Sinon menembakkan sebuah botol kecil yang dipegang oleh Freed, dan dia membuat sebuah kesalahan.

"Tungg-" Kata Suguha sebelum Sinon menembakkan pistolnya, namun dia sudah terlambat karena Sinon terburu-buru untuk menembakkan sesuatu dengan senapannya, ternyata botol itu pecah dan memberikan Freed kekuatan penuh dan kesembuhan.

Botol aneh itu ternyata memulihkan keadaan Freed seperti semula dan dia dengan semangatnya menyerang Kirito, membuat Kirito kerepotan menahan serangan Freed walau dia masih berhasil menahan keseimbangannya, Mashu reflek menyerang Freed dari belakangnya, dan Freed telat menyadari itu.

Walau demikian, dia berhasil menghalangi serangan Mashu dengan mulusnya, begitu juga Kirito yang melihat ini sebagai peluang untuk menyerang Freed. Ketika dia mencoba untuk menyerang Freed, Freed berhasil menghalanginya dengan kekuatannya.

Walau demikian, Asuna dan Kenshin sudah ada di depannya dan menyerang perut Freed secara bersamaan dengan Blue Lambent yang dipegang oleh Asuna dan pedang mata terbalik yang dipegang oleh Kenshin, Freed akhirnya menerima serangan itu di perutnya dan terpental ke tembok lagi.

Mashu reflek menusuk perut Freed dengan kedua pedangnya, namun tangannya sudah memegang pistol dan tertawa. "Kalau begitu, akan kubawa 'Pendekar Hitam' dan 'Tidak Bisa Disarung' bersamaku!" katanya sambil menembakkan pistol cahayanya ke Kenshin dan Kirito. Tembakannya kena di pundak Kirito dan pundak Kenshin dengan perbedaan waktu yang cukup dekat.

"Argh!" Kata Kirito dan Kenshin yang berteriak kesakitan secara bersamaan karena menerima rasa sakit dari Freed. Dimana Asuna langsung berlari dan menyembuhkan Kirito dengan salah satu 'Healing Item'nya dan Kirito pun sembuh, dan dia juga melakukan hal yang sama ke Kenshin. Mereka pun pulih seketika setelah disembuhi Asuna.

"Terima kasih, Asuna." Kata Kirito dengan senyuman khasnya kepada Asuna setelah disembuhi olehnya, Asuna pun membalas senyumannya dan Freed mati di tempat, walau aslinya badannya hanya bersinar lalu menghilang begitu saja.

"Kirito-kun!", "Nii-chan!" Sinon dan Suguha berteriak sambil langsung berlari ke arah Kirito dan emeluk Kirito di tempatnya. Kirito pun sentak kaget dengan apa yang mereka lakukan dan apa yang ada di wajah mereka, yakni air mata kebahagiaan

"Hah... Aku rindu pelukan Marcelia sepertinya..." kata Mashu dengan Membuat Mashu dan Kenshin kaget seketika dan mereka pun terkekeh pelan dengan apa yang mereka lihat. Ya, jarang juga satu laki-laki bisa dapat tiga gadis di mata mereka.

"Sayang/Ayah!" Kaoru dan Kenji ternyata ikut berteriak dan berlari menuju Kenshin dengan wajah penuh air mata kebahagiaan yang sama seperti Suguha dan Sinon, Kenshin akhirnya dipeluk oleh Kaoru dan Kenji yang sudah lama merindukan suami dan ayahnya itu.

"Ugh... Kirito-kun, kenapa kau selalu ada gadis lain di hatimu, Ugh..." Hal tersebut ternyata membuat Asuna cemburu dan langsung ikut memeluknya, Kirito pun tertawa pelan karena tingkah kekasih, adik, dan temannya itu. Seketika, ditengah aksi pelukan antar kekasih dan keluarganya itu. Suara tawa yang sangat jahat terdengar dari atas.

"Sial! Semuanya, kalian harus mencari tempat perlindungan terdekat. Kalian semua dalam bahaya! Kalian ke sini sekarang juga kalau ingin selamat!" Raynare yang berteriak begitu melihat Dohnaseek tertawa diatas sambil melihat Mittelt dan Kalawarner yang tengah disembuhkan oleh Asia dari efek setruman dari perisai listrik tak terlihat yang ada di atas.

Asuna, Suguha, dan Sinon pun melepaskan pelukannya dari Kirito. Begitu pula dengan Kaoru dan Kenji yang melepaskan pelukannya dari Kenshin, Issei melihat Dohnaseek membuat sebuah lingkaran sihir yang besar di depan tangannya, begitu pula dengan perisai yang mulai mengalirkan listrik dengan liarnya, layaknya aliran listrik yang sangat besar dan cepat.

"Sepertinya dia bisa dipercaya... Semuanya! Lari ke Raynare yang ada disana bersama Asia dan teman-temannya!" kata Issei yang berlari ke arah Raynare dengan cepat, lalu disusul dengan Mashu, Kirito, Kenshin, Asuna, Suguha, Sinon, Kaoru, dan Kenji yang menyusul secara bersamaan.

"Rasakan seranganku yang belum seberapa ini, MUAHAHAHA!" Kata Dohnaseek sambil mengeluarkan satu buah sayap lagi dan membuat hujan tombak cahaya dan badai petir yang siap membuat semua berlari dan berusaha menghindari berbagai macam serangannya dengan kemampuan mereka.

Ternyata, di tengah-tengah perlarian, Asuna terjatuh di tempat,

"Ugh, Kirito-kun, tolong aku!" Teriaknya sambil berusaha berdiri dan Kirito langsung melihat ke arah Asuna dan berlari menujunya dengan terburu-buru karena ada sebuah tombak suci yang sudah . Tidak ada waktu, dia pun langsung melompat hingga dia berada di depan Asuna dan menerima serangan tombak suci itu di jantungnya.

"Argh! Asuna... Larilah..." katanya sambil menerima beberapa serangan lagi karena kekuatan dari [Coat of Midnight] miliknya yang membantunya untuk beregenerasi walau kena terus dengan petir dan tombak tersebut. Asuna pun langsung berlari dan menyusul mereka. Meninggalkan Kirito yang sekarat di tempatnya karena menerima serangan.

Kenshin hampir saja sampai di tempat dimana Raynare berada, begitu juga dengan Issei, Mashu, Kaoru, Kenji, Suguha, dan Sinon, namun, entah kenapa, Kenji ikut tersetrum di bagian kakinya, Kenshin reflek berhenti dan membopong putranya yang jatuh, namun, jantungnya tengah di tusuk oleh sebuah tombak dan dia mendorong Kenji sekuat tenaga menuju tempat itu.

Mashu, yang tidak bisa terima kematian dua pendekar ini pun langsung mendorong Issei ke Raynare, bersama yang lain dan menciptakan sebuah perisai dibelakangnya, melindungi yang lain, dan Mashu berdiri di depan mereka.

Issei terjatuh tepat di tengah kedua 'aset' milik Raynare, dimana akhirnya gadis itu terkekeh pelan karena apa yang dia lihat dan bukannya melepas, malah memeluknya dengan erat sambil menutup matanya dan mengalirkan air mata kebahagiaan miliknya, karena bertemu dengan sosok yang sangat dia cintai.

"Ise! Kau kembali padaku, terima kasih..." kata Raynare dengan senyumnya sambil memeluk Issei yang merasa mulai sesak karena apa yang dilakukan oleh Raynare, dan Asia pun melihat Issei dengan ekspresi polos khasnya dan dia pun bingung.

"Raynare-san sepertinya bahagia ya." Kata Asia dengan senyuman polos khasnya, Mittelt dan Kalawarner sontak bangun dan terkekeh pelan karena apa yang dia lihat dan mereka tersenyum sambil membisiki Asia sesuatu, dimana pipi Asia langsung memerah, tersipu malu karena apa yang dia lihat dan Issei berusaha bergerak agar dilepaskan.

"Sepertinya dia adalah Issei Phenex yang diceritakan oleh Raynare itu, ya kan Asia?" tanya mereka berdua, dimana Asia hanya mengangguk saja, karena reaksi Raynare tampak berbeda dari sebelumnya, dan kali ini, dia merasa bahagia.

"Kau suka apa yang kau lihat dan rasakan, Ise?" tanyanya dengan ekspresi bahagia dan penuh kebahagiaan, sepertinya dia memang tulus mencintai Issei karena apa yang dilakukan olehnya. Dan, Issei berusaha untuk lepas dan tanpa sengaja memegang 'aset' tersebut.

"Ahn... Ise... Kau menyukainya ya, Ahn..." katanya sambil mendesah dimana Mittelt dan Kalawarner langsung mimisan di tempat, dan Raynare menyadari kalau ada orang yang memandang dirinya dan Issei dari kejauhan, Raynare reflek melepaskan pelukannya, dan Issei langsung berusaha membenarkan posisi tubuhnya sambil menarik napas karena sudah mulai habis.

"Ughh... Aku tidak seperti itu kok!" kata Raynare sambil menggembungkan pipinya tanda malu dan pipinya pun menjadi merah lebih merah daripada rambut si Rias Gremory, dimana Mittelt dan Kalawarner tertawa, dan Asia ikut tertawa.

Namun, pandangan Issei terkaget karena apa yang dilakukan oleh Mashu. Apalagi, dia ada di depan perisai yang dia buat sendiri, Issei sontak berlutut lalu menggunakan kekuatan pada kakinya untuk berlari dan memukul perisai itu berulang kali. Yang lain, ikut sedih atas apa yang mereka lihat.

Sinon reflek menaruh senapannya dan mulai duduk, lalu, merayap di tanah satu langkah sambil membidik senapannya menuju salah satu sayap dari Dohnaseek yang sedang bergoyang dengan kerasnya untuk membuatnya terbang dan tetap menjaga keseimbangannya di udara.

Asuna juga mengisi kekuatannya sambil menangis karena apa yang dia lihat tadi, begitu juga Suguha yang mengalirkan sebuah kekuatan udara ke katana yang dia pegang, Kenji mengambil sebuah pistol cahaya yang diambil olehnya tadi, Kaoru hanya bisa menjerit karena kepergian suaminya.

"Oi, Mashu! Kenapa kau nekat?! Jangan mati, kita belum saja memiliki peerage terkuat!" kata Issei sambil memukul perisai itu ditengah Mashu yang berdiri di hujan tombak dan petir itu, Mashu hanya terkekeh pelan dan tertawa.

"Saatnya seorang yang agak tua sepertiku untuk menolong mereka... Jaga yang lain ya..." katanya sambil berlari ke Kirito, lalu membawa jasadnya, dan dia berjalan dengan lambat karena tubuh Kirito agak berat dan dia membopong badannya menggunakan sisi kanan tubuhnya, lalu dia mengambil lengan Kenshin dengan tangan kirinya dan menarik lalu membopong badannya menggunakan sisi kiri tubuhnya, membawa Kenshin.

Petir dan tombak sepertinya terus menghujani mereka walaupun tidak kena, dan Mashu terus berjuang membawa mereka ke tempat perisai itu berada, sambil melihat Issei yang membopong mereka dan terus membawanya tanpa henti.

Akhirnya dia masuk ke perisai itu, namun kaki kirinya terkena setruman petir itu dan membuatnya terjerit-jerit, melempar kedua jasad itu dan mereka tergeletak disamping kiri dan kanan Issei, membuat Issei mengambil dua buah bidak catur berwarna jingga dengan bentuk kuda, menaruhnya disebelah Kenshin dan Kirito.

Sebelum akhirnya dia membalikan badan mereka dan memindahkan kedua bidak itu ke dada mereka, tanda kalau dia ingin menghidupkannya kembali, namun dia menunggu momen yang tepat sembari Asia berlari pada Mashu yang semua badannya tergeletak di dalam perisai itu dan menyembuhkan kakinya.

"Terima kasih, nona biarawati... Kau sungguh baik, sekalipun aku adalah iblis." Kata Mashu dengan senyuman tulus dan bangun, lalu mengelus kepala Asia pelan, itu hanya dia lakukan pada gadis yang dia anggap spesial atau semacamnya.

"Umm... Aku hanya melaksanakan apa yang alkitab katakan, katanya aku harus mengasihi siapapun tanpa memandang apapun itu seperti aku mengasihi diriku sendiri." Katanya dengan polos nan tulusnya sambil tersenyum dengan penuh kepuasan.

"Eng... Namamu, Asuna kan?" tanya Issei pada Asuna, dimana akhirnya dia mengangguk dan dia pun masih memfokuskan tenaganya untuk menyerang si Dohnaseek. Isseipun akhirnya bertanya sagtu pertanyaan lagi serta membuat sebuah pernyataan.

"Sahabatmu ini akan dilahirkan kembali menjadi Iblis didalam perlindunganku dan dia harus melayaniku, walau demikian, dia masih bisa bertemu dengan kalian dan bersikap seperti bagaimana dia dalam kesehariannya. Apa kau tidak kebertan memberi tahu nama lengkapnya?" Tanya Issei pada Asuna dengan nada serius.

"Namanya Kirito, Kirigaya Kazuto... Aku akan membalaskan dendamnya..." Kekuatan pada pedang Asuna langsung meningkat dengan pesatnya sambil Sinon sudah mendapatkan sayap yang ia mau serang, begitu pula dengan Suguha dan Kenji.

"Lock on!" kata Sinon, reflek Mashu melepaskan perisainya.

"INI UNTUK KIRITO-KUN/AYAH!" Kata Asuna yang langsung berlari secepat kilat yang ditemani dengan Suguha yang melesat disebelahnya dengan kedua sayapnya sambil mengarahkan kekuatan mereka ke Dohnaseek dan melesat menujunya, begitu pula dengan Sinon yang menembakkan senapannya ke salah satu sayapnya, begitu pula dengan Kenji yang ikut menembakkan pistolnya ke arah salah satu sayap Dohnaseek.

"Flashing Penetrator!" teriak Asuna sambil melesat sekencang kilat setelah mendapatkan kecepatan yang cukup untuk mengalahkan Dohnaseek, dia hanya memandang Asuna dengan senyuman jahatnya dan dia terus tertawa dengan kerasnya.

"Hahahaha... Coba saja kal... UGH!" Seketika tawa Dohanseek menghilang dan berubah menjadi teriakan penuh rasa sakit yang amat sangat menyakitkan, dan dia melihat Asuna dan Suguha yang ada di depannya telah menusuknya di jantung dan menembus tubuhnya dalam hitungan detik ketika Asuna dan Suguha.

"Guha!" kata Dohnaseek sambil memuncratkan darah dibelakang Asuna dan Suguha, lalu dia terjatuh, seketika Asuna dan Suguha mendarat, lalu berlari pada Kirito dan ternyata ada sinar berwarna jingga yang menyinari Kirito dan Kenshin

"Aku, Issei Phenex, akan membangkitkan Himura Kenshin dan Kirigaya Kazuto sebagai [Kuda]ku dalam nama keluarga Phenexku, bangkitlah dan layani aku serta jalani kehidupan kalian seperti biasanya." Kata Issei sambil membaca mantera, seketika bidak [Kuda] yang ditaruh di dada mereka menghilang, lalu mereka tersadar.

"Kenshin-san, Kirito-san, kalian sudah kubangkitkan kembali dan ku jadikan anggota keluargaku, keluarga Phenex. Kalian bisa hidup sebagaimana biasanya dan aku memperlakukan kalian seperti keluargaku, namun ada sedikit kewajiban tambahan." Kata Issei dengan ramahnya, dimana Kenshin dan Kirito langsung memasang wajah senang karena mendapat kesempatan kedua untuk bersama dengan orang yang mereka cintai.

"Apa itu?" tanya Kenshin dan Kirito dengan penasaran karena apa yang mereka pikirkan.

"Aku ingin kalian berkembang dan kalian punya kewajiban untuk mengikuti [Rating Game] ketika perlu. Lain dari itu, kalian masih dapat menjalani kehidupanmu dengan biasa, panggil aku Issei-san atau semacamnya bukanlah masalah. Dan, kalian sekarang adalah seorang Iblis." Kata Issei dengan senyuman ramah terpancar dari wajahnya.

"Sepertinya dia bukan orang jahat, jadi kita manfaatkan saja ini, Kenshin-san." Kata Kirito dan Kenshin pun mengangguk. Issei pun bertepuk tangan untuk sebentar dan dia mengucapkan, "Selamat, Himura Kenshin daan Kirigaya Kazuto, kalian resmi hidup kembali sebagai Iblis dibawah perlindungan keluarga Phenex.".

Seketika beberapa orang yang mereka kenal memeluknya karena mereka hidup kembali. Dan, Asia nangis tanda terharu karena apa yang dia lihat. Serta, Mashu mendapatkan sebuah pelukan empuk yang sangat familiar, ya dia adalah sesosok gadis penyihir berambut hitam panjang yang lama menunggunya.

"Lama tak jumpa, Marcelia..." kata Mashu dengan lembut dan senyuman tulus diwajahnya, dan gadis bernama Marcelia ini melepaskan pelukannya, namun ada satu gadis berambut biru tua yang ternyata menunggunya sedari tadi di luar dan masuk melihat adegan itu.

"M-Mashu? Kenapa ada gadis lain selain aku?" tanya gadis itu kepada Mashu dengan nada ketus, mengingatkan Rias yang mudah cemburu ketika Valerie memeluk Issei, gadis itu pun segera ikut memeluk Mashu, karena cemburu apa yang dia lihat.

"Kurokami-san?! Apa yang kau lakukan disini?!" tanya Mashu dengan herannya, sambil bingung, Marcelia pun menarik pipi Mashu karena dia ikut cemburu karena dia tidak tahu ada gadis lain yang menyukai Mashu selain dirinya.

"Mashu, kau selingkuh dariku ya?" tanya Marcelia pada Mashu dimana dia merasa kesakitan dan memegang tangan Marcelia.

"Owowowowowow! Aku tidak selingkuh, dia hanya menyukaiku, itu saja!" Dia membalas pertanyaan Marcelia sambil menahan rasa sakitnya. Akhirnya, dia melepaskan tarikannya pada pipi Mashu, lalu menatap iris merah dari gadis itu.

"Hm... Kalau begitu kita berbagi saja." Kata gadis berambut biru itu kepada Marcelia dan dia berpikir untuk sebentar dengan Mashu yang kaget disebelahnya sambil meneguk ludah. Setelah itu, mereka melepaskan pelukannya pada Mashu, lalu mengangguk.

"Aku Medaka Kurokami, senang bertemu denganmu, rivalku. Kau siapa?" tanya Medaka kepada Marcelia sambil mengulurkan tangannya untuk diajak bersalaman, seperti seorang yang sangat elegan dari cara bicara ke bahasa tubuhnya.

'Ugh! Aku sekarang memiliki seorang rival, kapan aku dapat memiliki waktu berdua dengan Mashu kalau seperti ini caranya?' batin Marcelia sambil tersenyum dengan maksud lain dan ikut menyalami Medaka agar tidak terkesan menyembunyikan sesuatu.

"Oh, ahaha... Maafkan aku, aku Marcelia Ambrosius, senang bertemu denganmu juga." Katanya sambil tertawa canggung dan menyalami Medaka disaat yang bersamaan, lalu akhirnya mereka melepaskan jabatan tangannya.

"Oh, Issei-san, lama tak jumpa, aku datang kemari untuk bergabung dengan peerage barumu tentunya."Mata Medaka refleks melihat ke arah Issei dan tersenyum kepadanya, dengan maksud lain tentunya. Sementara itu, Kenshin dan Kirito hanya tertawa dan mengobrol dengan orang-orang yang mereka pedulikan.

"Pst, Kalawarner, sepertinya kalau kau ingin mendekati Mashu, ada dua gadis yang siap menyerangmu terlebih dahulu." Bisik Raynare kepada temannya yang berambut biru, Kalawarner. Dimana Kalawarner mengangguk dan dia berbisik kembali.

"Issei Phenex lebih mencuri perhatianku daripada Mashu itu dan aku ingin mendekatinya, ingin menjadi salah satu gadisnya, walau 'Valerie' pasti akan mengadu ke Azazel-sama karena ini." Bisik Kalawarner sambil mengangguk tanda menyetujui kata temannya itu.

"Oh ya, aku ingat kau ingin menjadi [Benteng] ya, sebentar... Kau berbaring dulu, Medaka-san..." kata Issei yang mengambil sebuah bidak dengan bentuk benteng dan bersinar jingga serta beraura lebih kuat dibanding bidak benteng satunya lagi, itu adalah bidak [Benteng]nya yang sudah bermutasi, menyadari kekuatannya ketika 'Operasi Hakoniwa'. Lalu, dia menaruh bidak itu di dada Medaka setelah dia berbaring.

"Aku, Issei Phenex, akan membangkitkan Medaka Kurokami sebagai [Benteng]ku dalam nama keluarga Phenexku, bangkitlah dan layani aku serta jalani kehidupan kalian seperti biasanya." Kata Issei dengan nada yakin dan bidak itu masuk karena kekuatannya cukup untuk diterima oleh Medaka, sontak dia bangun.

'Ufufu, sekarang aku bisa bersama Mashu-kun...' pikirnya dengan penuh kebahagiaan di wajahnya, karena bisa bersama dengan laki-laki yang dia cintai untuk beberapa saat, namun dia merasa ada sesuatu yang baru di badannya dan dia mengeluarkan api di tangannya.

"Sepertinya ini baru bagiku..." katanya sambil bermain dengan api itu untuk sebentar lalu mematikan api itu lagi, melihat Mashu yang membicarakan sesuatu dengan Marcelia, dia pun memutuskan untuk tidak memotong waktu yang dimiliki oleh kekasihnya ini.

"Marcelia, aku akan buat kau menjadi penyihirku." Katanya pada Marcelia, dan dia sudah hapal prosesnya, sehingga dia berdiri sambil menutup mata, sementara, Mashu mengarahkan tangannya ke Marcelia dengan menyisakan beberapa centi dengan tubuhnya.

"Aku, Mashu Daemon, mengangkat Marcelia Ambrosius sebagai penyihir dibawah perlindungan dan paktaku. Maka dari itu, layanilah aku dan hiduplah seperti biasanya." Kata Mashu, seketika lingkaran sihir muncul di tangan Marcelia untuk sebentar lalu menghilang lagi.

"Akhirnya, kau menepati janjimu, Mashu-kun." Katanya sambil tersenyum dan menutup matanya, dia tampak sangat cantik dengan keadaan itu, menurut Mashu tentunya... Kesenangan itu terpotong oleh sebuah hawa dingin yang tiba-tiba muncul.

"Esdeath Partas ada disekitar sini..." kata Medaka dan Raynare dengan nada kesalnya sambil memasang posisi siaga karena apa yang mereka rasakan, menandakan kalau gadis bernama Esdeath ini sudah berada di dekat Issei, dan tembok es besar sudah tercipta untuk memisahkan Issei dari kawan-kawannya.

"Sial! Dia sudah mendapatkan Issei, aku hanya bisa berdoa untuk keperjakaannya..." kata Mashu sambil memasang pose berdoa ala seorang iblis pada umumnya, hanya bisa mendoakan tuannya yang sedang mengalami hari sialnya.

"Hoi! Ini ada Esdeath!" kata Issei dengan paniknya sambil memukul tembok es itu dengan apinya walau percuma. Ddraig hanya biasa saja, sementara, Albion paniknya bukan main, seperti sedang bertemu dengan ajalnya, Albion panik ke sana kemari.

{CEPAT KABUR, AIBOU! AKU TIDAK MAU BERTEMU DENGAN ESDEATH INI, CEPAT!} Kata Albion dengan nada takutnya, lebih parah daripada ketika mereka hanya membicarakan namanya saja.

"Ise... Akhirnya, aku bisa mendapatkanmu, Ise..." kata seorang gadis berbaju jenderal berwarna abu-abu itu sambil berjalan ke arahnya dan dia pun berusaha memanggil lingkaran sihirnya sebelum Esdeath menahan tangannya dan mereka keluar bersama-sama dari penjara es ciptaannya itu.

"Ufufu, Issei adalah milikku seorang dan aku miliknya seorang." Kata gadis itu sambil memunculkan diri bersama dengan Issei di depan Mashu dan yang lain dengan nada seduktif dan penuh rasa kepemilikan yang membuat orang lain memasang wajah sedikit tidak suka, apalagi Raynare dan kawan-kawannya, minus Asia.

"Mari kita pulang ke rumahku..." Kata Issei dengan canggung sambil mengajak semuanya pulang ke rumahnya, dimana ukurannya cocok untuk beberapa orang hidup bersama. Tinggal hitungan waktu dimana Issei dan Mashu harus memperbesar rumahnya.

Sementara itu,

"Azazel-san, kenapa kau membangkitkanku kembali? Aku penasaran apa yang terjadi pada Issei-kun dan Ria-chan selama aku pergi." Kata seorang gadis berambut putih dan bermata biru serta memiliki tubuh seorang dewi yang ditutup dengan dress putih.

"Valerie, kau sudah kuberikan sebuah kekuatan baru dan berhasil berjudi dengan dewa Hades, untuk memberikan nyawamu kembali." Kata pria berambut hitam dengan poni pirang dan berbaju formal merah serta celana formal hitam dengan nama Azazel sambil mengusap jenggot kambingnya.

Di tempat lain, di sebuah istana, terdapat seseorang yang sedang duduk di tahtanya dan memarahi salah seorang budaknya.

"APA?! KAU GAGAL MENDAPATKAN TWILIGHT HEALING, BATTOUSAI, PENDEKAR HITAM DAN TEMAN-TEMANNYA. DITAMBAH DENGAN DOHNASEEK SUDAH MATI!? INI TIDAK BISA DITERIMA!" Kata seorang pria berambut hitam dengan telinga seorang kurcaci serta memakai baju hitam, jas hitam, dan celana hitam, mata semua hanya diisi dengan warna merah penuh amarah kepada Freed yang setengah sekarat.

"Ampun, Bos Kokabiel! Jangan bunuh aku!" kata Freed dengan nada penuh ketakutan. Ya, Kokabiel ini sangat kuat dimatanya sampai dia tidak berani melawannya dan hanya bisa minta ampun.

"Tenang, bos, aku sudah mendapatkan beberapa Excalibur dan seorang yang bisa membuat para Iblis kaget, saudara dari salah satu anggota keluarga Gremory sialan itu ada di tangan kita." Kata seseorang yang berpakaian layaknya seorang uskup dan berkacamata bulat dengan senyuman gilanya

"Baiklah, kalau begitu, Balba, mari kita datangi Kuoh setelah ini. Lalu, kita bunuh Rias Gremory, Issei Phenex, dan Sona Sitri. Lalu, kita akan membuat perang dan membuat kemenangan." Kata orang bernama Kokabiel itu dengan nada jahatnya sambil berdiri dari kursi tahtanya yang selama ini dia duduki. Bersiap-siap untuk melakukan 'aksi besar'nya.

TBC