BAGIAN 7: JALANAN


Pagi yang lain baru saja di mulai.

Semburat matahari pagi mengintip malu-malu melalui lobang karton di jendela balkon menyinari ruang minimarket itu.

Baekhyun bangun dengan cepat dan segera menuju kamar memeriksa keadaan adiknya. Sehun masih terlelap dan tubuhnya yang dingin terasa lebih hangat. Baekhyun menghela nafas dalam kelegaan dan kian menyakinkan diri jika remaja itu benar baik-baik saja.

"Oh," gumanan pelan itu menyadarkan kesendirian Baekhyun. Yerin berada di pintu dengan sekotak kain kasa di tangan. Senyumnya terulas menyapa lelaki itu.

"Aku mau mengganti perbannya." Yerin menunjuk kotak di tangan.

"Ah, terima kasih." Baekhyun segera beringsut pada tempatnya memberikan ruang pada mahasiswa kedokteran itu. Yerin menempatkan diri pada pinggir tempat tidur dan mulai membuka perban yang melilit tangan Sehun.

Perban putih itu menjadi merah oleh darah yang mengering. Baekhyun di sampingnya memperhatikan dengan sisipan ngeri terpantri pada wajahnya yang cantik.

Yerin melirik sekali dan tersenyum maklum dengan hal itu. Dia melakukannya dalam diam dan cepat mengganti dengan perban yang baru.

"Saat dia sadar nanti tangannya harus disangga untuk mencegah pendarahan lagi." Kata Yerin.

"Sekali lagi terima kasih," Baekhyun tak bosan mengucapkan ujaran itu.

"Aku hanya mengganti perbannya saja." Yerin menunjuk kotak di tangan yang telah kosong.

"Aku bahkan tak berpikir bisa melakukannya." Ucap Baekhyun dengan tawa kecil. Dia menaikkan selimut sampai batas dada Sehun lagi sebelum bangkit ikut keluar dari kamar itu bersama Yerin.

Chanyeol berada pada lantai satu berdiri di depan pintu memeriksa keadaan luaran sana. Geraman terdengar bersambut sahut menjelaskan keberadaan mayat hidup itu tepat di balik pintu. Detektif itu perlahan membuang nafas, sedang pikiran bergelut pada bagaimana caranya untuk keluar dari ruangan itu.

"Aku memikirkan satu rencana gila,"

Chanyeol tersentak kala ujaran itu terdengar. Dia berbalik cepat dan menemukan Baekhyun datang bersama Yerin. Sinbi baru saja keluar dari kamar mandi ikut bergabung dalam pembicaraan.

Chanyeol mengusap dadanya kemudian memicing main-main menatap pacarnya itu. Baekhyun terkikik, pun dengan binar cerah menghiasi parasnya yang cantik. Itu sedikit aneh, namun Chanyeol pikir itu jauh lebih baik daripada Baekhyun yang kemarin.

"Rencana?" Chanyeol menegakkan tubuhnya menghadap Baekhyun.

"Mayat hidup itu tertarik pada suara 'kan?" Baekhyun melempar tanya.

Chanyeol memberikan anggukan dan menunggu lanjutan ujaran Baekhyun.

"Kupikir kita bisa menarik perhatian mereka dengan melempar granat atau bahan peledak yang lain."

Ketiga orang yang tersisa menatap Baekhyun terkejut.

"Resikonya terlalu besar," kata Chanyeol. "Ledakan granat bisa menghasilkan api,"

"Itulah mengapa aku menyebutnya sebagai rencana gila." Sungut Baekhyun.

"Bagaimana dengan petasan?" Sinbi menyeletuk, menarik atensi Chanyeol dan Baekhyun.

"Kita bisa mengikuti rencana Baekhyun melempar petasan untuk menarik perhatian mereka, resiko kebakaran akan lebih lebih terjadi."

"Nah!" Baekhyun berseru, wajahnya yang murung lekas tertarik dalam senyuman kembali. "Bagaimana?" dia menatap Chanyeol.

"Tapi darimana kita mendapatkan petasan?" Chanyeol berguman mengujarkan kalimatnya.

Rak minimarket itu menjadi lebih berantakan ketika keempat orang itu mulai mencari petasan yang mungkin ada disana. Namun nyatanya benda itu tak ada dimanapun sontak meruntuhkan semangat mereka tiba-tiba.

"Oh," Yerin meraih satu pengharum ruangan yang tertata pada rak. "Mungkin kita bisa membuat petasan sendiri."

Chanyeol menghampiri, ikut menatap deretan kaleng pengharum ruangan yang berjejer. Dia tersenyum menemukan maksud ujaran Yerin itu.

"Karena mengandung alkohol kaleng kemasan ini jika di bakar akan memuai dan menghasilkan ledakan." Chanyeol menjelaskan. "Mungkin kita bisa mencobanya."

"Apa rencana sunbae?" Sinbi bertanya.

"Apakah ada pintu keluar lain selain pintu samping itu?" Chanyeol bertanya.

"Hanya balkon." Tunjuk Sinbi. "Mungkin kita bisa membuang karton atau sesuatu yang telah dibakar lantas membuang kaleng pengharum ini di atasnya."

"Itu menjadi rencana yang bagus jika keadaan tidak berangin." Baekhyun menggeleng. "Bagaimana dengan ventilasi di kamar mandi? Kita bisa melakukan usulan Sinbi disana."

"Benar benar!" Yerin menjentikkan jemarinya. "Setelah kaleng itu meledak kita bisa segera pergi."

"Zombie yang ada di depan akan mengikuti asal suara dan melewati pintu samping juga. Kita tidak tau akan ada berapa jumlah mereka dan akan sampai berapa banyak dari mereka tertarik akan suara ledakan itu." Chanyeol menjelaskan kemungkinan yang lain.

"Bagaimana dengan pintu depan?" tanya Baekhyun lagi seraya menunjuk pintu utama minimarket itu.

"Itu sudah terkunci sejak kami sampai." Jawab Yerin, dia bangkit pertama kali diikuti Chanyeol, Baekhyun dan Sinbi kemudian.

Pintu utama itu terdiri dari pintu kaca dengan jeruji pintu besi di depannya. Pintu kaca itu berada dalam keadaan terkunci dan Chanyeol telah memikirkan cara untuk menghancurkan salah satu bagian untuk membuatnya pecah. Namun kemudian masalah yang lain adalah pintu besi itu. Rantai besi melilit erat dengan sebuah gembok besar menyatukan kedua sisinya.

Chanyeol bisa menembak gembok itu namun dia mempertimbangkan suara yang di hasilkan setelah itu. Jarak antara pintu utama minimarket tidaklah begitu jauh dimana Chanyeol memarkirkan mobil patrolinya. Mungkin mereka bisa berlari selagi menembak beberapa zombie yang mungkin masih ada di sekitar sana.

"Baiklah, jadi ini rencananya."

Seberkas cahaya menusuk indera Sehun kala kelopaknya terbuka. Remaja itu mengerjab berulang guna menyesuaikan penglihatannya. Matanya menerawang, menatap langkit-langit dan menyadari dia berada di dalam sebuah kamar.

Sehun mencoba mengingat hal terakhir yang terekam dalam ingatannya, di depan sebuah minimarket ketika kawanan makhluk hidup menyerang mereka tiba-tiba.

Sehun tersentak pada posisinya kala mengingat bagaimana salah satu dari mayat hidup itu meraih tangannya dalam cakaran. Kuku-kuku itu menggores punggung tangannya lalu tiba-tiba sebuah pisau menebas tangannya.

Sehun mendapati perban membelit pangkal lengannya dan menyadari jika telapak tangannya tidak ada disana. Nafasnya berganti tercekat ketika menyadari betul keadaannya.

Namun daripada itu Sehun lebih mengkhawatirkan hal yang lain, dalam hati dia bertanya apakah dia telah meninggal? Apakah dirinya baru saja bangkit dari kematian dan bersiap untuk mencari mangsa manusia?

Sehun bergegas turun dari tempat tidur dengan kepala sakit di dera pusing. Sehun mengabaikan hal itu dan memanggil satu nama dalam pikirannya.

"Baek-Baekhyun hyung…" suaranya terdengar serak.

Langkahnya tertatih menelusuri lorong dan berhenti pada persimpangan. Pada samping kirinya merupakan balkon sedang pada sisi yang lain merupakan tangga. Sehun berhenti pada anak tangga, dalam ragu untuk turun ke lantai bawah.

Satu tangannya yang bebas memijit pelipisnya dengan suara derap langkah kaki terdengar mendekat.

"Sehun!" itu suara Baekhyun, terpekik lantas tergopoh menghampiri. "Sehun kau baik-baik saja? Adakah yang sakit? Katakan padaku!" Baekhyun panik memeriksa sekujur tubuh adiknya itu.

"Sehun kau baik-baik saja?" Chanyeol ikut mendekati remaja itu.

"Hyung…" Sehun menatap saudaranya itu lama. "Apakah aku sudah meninggal?"

"Apa?" Baekhyun membola. "Apa yang kau katakan?"

"Tanganku…" Sehun melirik tangan kirinya yang tanpa telapak, "dicakar. Bukankah aku akan menjadi mayat hidup?"

"Sinbi memotong tanganmu," itu Chanyeol yang menjawab. "Kau tidak meninggal dan menjadi zombie karena hal itu." Senyumnya tersungging bersamaan dengan Baekhyun.

"Sinbi? Zombie?" Sehun mengulang.

"Kau sebaiknya duduk, apa kau haus?" Baekhyun menuntun Sehun ke balkon dan membantunya duduk pada satu-satunya kursi yang ada disana. Baekhyun meraih satu botol air mineral di meja sisa miliknya semalam dan mengangsurkannya kepada Sehun.

Tak butuh waktu lama isi botol itu berpindah pada lambung Sehun.

"Apa kau lapar?" Baekhyun bertanya lagi. "Kita punya banyak ramen disini."

"Sosis juga?" mata Sehun berbinar.

"Kau mau berapa kotak eh?"

"Yang banyak hyung!"

"Aih dasar!" Baekhyun menarik main-main rambut adiknya itu. Dia segera bergegas pergi dari sana turun ke lantai satu untuk mendapatkan ramyun instan yang Sehun inginkan. Disana dia bertemu dengan Yerin juga Sinbi dan Baekhyun lekas menghampiri keduanya.

"Sehun sudah sadar!" nada antusias terdengar begitu kentara dari lelaki mungil itu.

"Benarkah?" Sinbi dan Yerin terpekik bersamaan. "Itu bagus Baekhyun, apakah dia demam?"

Baekhyun menggeleng senang, "Tidak, Sehun masihlah menjadi 100% Sehun." Baekhyun mengambil satu cup ramyun dan memperlihatkannya pada kedua perempuan itu. "Dia selalu kelaparan setelah bangun."

Itu benar-benar merupakan hal yang bagus. Sinbi dan Yerin ikut bersenang hati mendengarnya.

Setelah air yang Baekhyun jerang mendidih, Baekhyun memasukkan beberapa potong sosis ke dalam cup sebelum menyeduhnya dengan air panas.

Ketiganya menuju lantai 2 dan masih mendapati Sehun bersama Chanyeol disana.

Chanyeol menceritakan bagaimana cara Sinbi menebas tangan Sehun hingga putus juga bagaimana sigapnya Yerin menghentikan pendarahannya. Kejadian itu mengerikan, sayup-sayup dalam ingatan Sehun masih mengingat bagaimana darahnya meluncur keluar dan rasa sakit luar biasa menjalarinya sampai ke ujung saraf.

Namun terlepas bagaimana berbahayanya tindakan itu, Sehun bersyukur nyawanya masih menempati raganya. Sehun masih hidup dan lagi dia masih bersama Baekhyun dan Chanyeol disini.

"Itu mereka." Chanyeol menunjuk dagu kedatangan Baekhyun bersama Sinbi dan Yerin.

"Nah ramyunmu…" Baekhyun memberikan cup mie instan itu kepada Sehun. Sehun menerimanya namun lebih tertarik melihat orang-orang yang telah menyelamatkannya itu.

"Terima kasih banyak." Sehun berucap tulus kepada Sinbi dan Yerin. "Terima kasih telah menyelamatkanku."

"Itu hanya gerakan reflek biasa." Sinbi menyahut dalam gidikkan pundak.

"Katakan padaku jika tanganmu terasa sakit." Yerin menyeletuk.

Sehun mengangguk cepat dengan senyum terulas pada bibirnya. Cup ramyun di tangan di letakkan di atas meja dan mulai menikmati makanannya itu.

"Hyung sosisnya kurang banyak." Disela Sehun bersuara dalam gurauan menciptakan tawa dari sisa orang yang disana.

"Karena Sehun telah sadar, jadi kupikir kita bisa segera pergi dari sini." Baekhyun berkata. "Kau sudah cukup baik untuk berpergian lagi bukan?" dia bertanya pada adiknya itu.

"Ini tanganku yang terluka, aku masih memiliki kaki untuk berpergian." Sehun menyahut dengan mulut penuh.

Baekhyun meledeknya namun dia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia menyusupinya sebanyak itu. Hanya dengan melihat bagaimana Sehun berbicara dan menjawab seluruh kalimatnya, Baekhyun tau adiknya itu benar berhasil melewati maut.

"Apa kita akan ke Seoul hari ini?" Sehun bertanya setelah menelan isi mulutnya.

"Ya," angguk Chanyeol. "Kita akan menunggu beberapa jam lagi sampai zombie itu tak terlalu banyak berkeliaran di depan."

"Jadi mayat hidup itu dinamakan zombie?" Sehun berseloroh seorang diri.

"Belum diresmikan," sahut Yerin. "Tapi para Ilmuan menyebutnya seperti itu."

Sehun berada di balkon seorang diri, memantau dari atas pada sekumpulan mayat hidup yang di ketahuinya sebagai zombie. Mereka berkeliaran tanpa arah pada jalanan, beberapa masuk ke dalam hutan, sisanya berdiri tak jauh pada mobil patroli.

Sehun pikir Chanyeol akan menembak mereka satu persatu namun usulannya itu di tolak dengan suara tembakan hanya akan menarik mereka lebih banyak lagi.

Sehun bergidik ngeri, diikuti dengan rasa sakit berasal dari tangannya yang di sangga perban pada leher. Sehun telah menghabiskan waktu selama beberapa saat untuk melihat keadaan tangannya itu. Kenyataan dia telah menjadi cacat dengan tangan buntung namun nyatanya Sehun malah mensyukuri hal itu.

Mungkin saja jika tidak seperti itu dia akan menjadi salah satu dengan para zombie di bawah sana. Atau mungkin Chanyeol akan menembak kepalanya dan Baekhyun… akan sendirian di dunia ini. Hanya dengan memikirkan hal itu, bara dalam dadanya tiba-tiba saja membuncah.

Zombie-zombie itu mengerikan namun tak cukup membuatnya menciut lantas berhenti pada tujuan.

Seoul adalah tujuan dan mereka akan sampai kesana lantas terbebas dari wabah ini.

Matahari telah tinggi bersembunyi di antara awan tebal kelabu. Sepoi angin perdesaan itu menenangkan, menerbangkan rambutnya dengan perlahan. Sehun menarik nafasnya sekali dengan dalam sebelum keluar dari balkon dan bergabung dengan yang lain di lantai bawah.

Semua setuju untuk berangkat ke Seoul hari ini. Semakin cepat semakin bagus, pun dengan keberadaan orang-orang tak di kenal memporak-porandakan kota Gwangju membuat keadaan kian meresahkan.

Semua orang berada di lantai bawah. Pada meja kasir Baekhyun membuka semua laci yang ada—mencari kunci pintu minimarket itu. Chanyeol sendiri berusaha membukanya, mencungkil lobang itu dengan kawat namun tak membuahkan hasil apapun.

Yerin sendiri mengemas beberapa kebutuhan yang bisa di ambilnya dari minimarket itu. Itu penjarahan tapi siapa yang peduli. Bahan makanan adalah utama dan semua telah tersimpan rapi di dalam tas.

Pada sisi lain, Sinbi mengambil beberapa pengharum ruangan. Dia mengumpulkan semuanya di dalam keranjang dan memungut beberapa karton bekas.

"Tidak ada." Baekhyun keluar dari meja kasir menghampiri Chanyeol di pintu. "Tidakkah Jongin menyelipkan alat peredam atau sesuatu?" Baekhyun membuka tas perlengkapan senjata Chanyeol lagi.

Chanyeol menggeleng pelan dan bangkit dari lantai. "Aku akan memecahkannya." Dia berkata.

"Bawakan beberapa kain atau sesuatu yang empuk kemari Baek." Chanyeol meminta. Baekhyun menganggukkan kepala tanpa bertanya bergegas pergi ke lantai atas. Baekhyun mengambil selimut juga sprei di kamar dan membawa turun semua itu.

"Sinbi bisa bawakan karton itu kesini?" Chanyeol bertanya pada juniornya itu. Sinbi urung melipat karton itu dan membawanya pada Chanyeol.

Karton itu dibentangkan di lantai di depan pintu lantas diikuti sprei juga selimut yang di letakkan di atasnya. Chanyeol mengambil kursi di balik meja dan meminta Baekhyun dan Sinbi untuk beringsut menjauh.

Chanyeol melempar kursi di tangan dengan keras, dalam satu hentakkan menghasilkan sebuah retakkan kecil pada benda transparan itu. Chanyeol melemparnya sekali lagi dan retakkan itu berganti menjadi garis memanjang.

KRAAKK

Pecahan kaca itu jauh pada luaran minimarket, berdentang keras mengenai pintu besi di depannya. Semua kontan menahan nafas, terdiam menunggu akan respon dari zombie-zombie di luar sana akan suara yang mereka hasilkan itu.

Detik berlalu tak hal apapun yang terjadi.

Chanyeol meletakkan kursi itu pada lantai, mengambil sprei dan membalut tangannya dengan kain itu.

Pada sela pecahan kaca itu Chanyeol menyelipkan tangannya lantas mendorong pecahan itu untuk jatuh pada lantai dalam minimarket. Suara pecahan kaca itu teredam oleh selimut dan karton di lantai. Dinding kaca itu menjadi bolong memberikan ruang cukup besar untuk meloloskan tubuh mereka keluar dari sana.

Baekhyun segera menarik selimut berisikan pecahan kaca itu dan menggulungnya pada sudut ruangan sedang Sinbi mengambil karton miliknya.

"Begini," Chanyeol memulai. "Sinbi dan aku akan membakar kaleng ini di belakang dan sebelum kaleng itu meledak Baekhyun akan menembak gembok ini dan membuka pintunya. Tetap berada disini sampai aku dan Sinbi kembali dan zombie-zombie itu pergi ke belakang." Chanyeol membuat rencana.

"Di mengerti." Angguk Baekhyun.

"Yerin kau sudah mengambil semua yang kita butuhkan?" Chanyeol beralih pada mahasiswa kedokteran itu.

"Semuanya sudah." Yerin menepuk tas miliknya. Dia membawanya pada pintu, bersebelahan dengan tas penyimpanan senjata milik Chanyeol.

Chanyeol membuka tas itu dan mengambil senjata laras pendek dan mengisi amunisinya penuh. Dia memberikannya satu per satu termasuk juga untuk Sehun. Remaja itu menerimanya, tak sadar ketika menggenggam benda itu dengan erat.

Chanyeol dan Sinbi menuju kamar mandi kemudian. Chanyeol naik pada closet dan membuka ventilasi yang ada di dalam ruang sempit itu. Sinbi menggulung karton di tangan sebelum membakar ujungnya dan menyerahkannya pada Chanyeol.

Kertas tebal terbakar itu Chanyeol buang melalui ventilasi, kain sprei yang sempat melilit tangannya Chanyeol buang kesana pula sebelum membuang satu sisa karton yang lain. Bau terbakar tercium diikuti asap yang membumbung naik berasal dari api yang mereka buat itu.

Chanyeol menunggu selama beberapa saat dan memberi anggukan kepada Sinbi. Tiga kaleng pengharum ruangan itu Sinbi serahkan kepada Chanyeol sebelum bergegas ke depan dan memberi kode Baekhyun untuk menembak gembok itu.

Baekhyun bersiap mengarahkan moncong pistolnya pada gembok itu dan menekan trigger dengan pasti.

DORR!

DORR!

Dua tembakan Baekhyun letuskan tepat pada besi tebal itu membuatnya hancur berkeping.

Chanyeol tak menunggu waktu segera membuang ketiga kaleng itu ke luar ventilasi tepatnya pada kobaran apa yang ada disana lantas terburu keluar dari kamar mandi.

Mereka semua telah bersiap di depan pintu besi itu dengan celah terbuka menatap keluar sana. Chanyeol lekas memanggul tas senjata miliknya, sedang Baekhyun memanggul tas berisi kebutuhan mereka yang Yerin siapkan.

Suara tembakan yang Baekhyun lakukan membuat zombie itu bereaksi dan memenuhi pintu utama dengan cepat. Suara geraman terdengar riuh dibalik besi itu menimbulkan rasa takut lagi menumpuk dalam diri masing-masing.

BOOOM! BOOOMM! BOOOMMM!

Tiga ledakan beruntun terdengar keras dari arah kamar mandi. Suara geraman itu kian ribut—merespon sumber suara. Satu persatu meninggalkan pintu menuju asal ledakan meninggalkan sisa geraman.

"SEKARANG!" Chanyeol berseru memberi instruksi.

Detektif itu segera menggeser pintu besi itu menghasilkan celah yang besar untuk dunia luar.

"CEPAT KE MOBIL!" Chanyeol kembali berseru.

Dia memimpin rombongan keluar dari minimarket, diikuti Sehun, Baekhyun, Yerin dan Sinbi.

"RRRWWWW~" geraman itu terdengar, suara gesekan pintu besi yang dibuka menarik perhatian beberapa dan berbalik arah. Zombie itu berlari menuju rombongan diikuti oleh zombie-zombie yang lain.

DORR!

Sinbi melepaskan tembakan pada satu yang paling dekat mengejarnya.

Amunisi panas itu keluar dengan banyak menembus kepala zombie-zombie itu membuatnya hancur lantas meluruh jatuh pada tanah.

Mobil patroli semakin dekat. Chanyeol menuju kemudi dan Baekhyun duduk pada sisinya. Sehun, Yerin dan Sinbi pada jok belakang dan membanting pintu dalam bantingan.

DORR!

Baekhyun menembak zombie itu di tengah usaha Chanyeol memutar kunci. Deru mesin mobil terdengar, tanpa menyisakan detik pegal gas segera Chanyeol injak keras membuat mobil itu terguncang dalam hentakkan sebelum benar mengisi jalanan beraspal kembali meninggalkan bangunan minimarket yang terbakar dengan bau daging busuk hangus berasal dari mayat-mayat hidup itu.

Hujan mengguyur tak sampai setengah jam ketika mobil patroli itu melintas di jalanan. Aspal itu berubah licin memaksa Chanyeol menurunkan kecepatan laju mobilnya pun dengan kabut yang menyelimuti pandangan pula. Cuaca berubah buruk dengan pandangan yang ikut terbatas pula.

Di antara fokusnya pada kemudi, Chanyeol membuka radio mencoba mencari sinyal saluran yang mungkin akan memberikan informasi tentang situasi yang terjadi. Namun nyatanya nihil tanpa satupun yang dia dapati.

"Chan," Baekhyun memanggil pelan pacarnya itu. Chanyeol menoleh menatap pandangannya di depannya lagi bersamaan dengan laju mobil dia hentikan.

"Ada apa?" Sehun pada jok belakang bertanya.

Di depan sana, deretan mobil terlihat memenuhi seisi jalanan. Tak ada satupun yang bergerak, beberapa pintunya bahkan terbuka tanpa tuan di tinggalkan begitu saja.

Pandangan mata dipicingkan, menatap sekali lagi dengan jeli atas keadaan itu.

"Orang-orang mungkin memutuskan untuk berjalan dan meninggalkan mobil mereka." Chanyeol berguman dalam kesimpulannya.

"Tidak ada celah?" Yerin bertanya.

"Aku akan turun." Kata Chanyeol. Baekhyun membola dalam keterkejutan.

"Aku ikut denganmu." Si mungil itu lekas membuka pintu mobil dan melangkah besar-besar mengikuti Chanyeol. Detektif itu tak sempat mencegah dan keduanya berakhir dengan keadaan basah oleh hujan yang mengguyur.

"Kau seharusnya menunggu di mobil saja Baek." Chanyeol berucap.

Baekhyun tak menyahut, selagi langkah di tapak bersamaan dengan Chanyeol.

Mobil-mobil yang berjejer di jalanan itu benar kosong tanpa pemiliknya. Tetesan darah yang menggering menggenang dari badan mobil menetes pelan pada jalanan oleh rintikkan hujan. Chanyeol membungkuk, menatap ke dalam mobil dan Baekhyun melakukan hal yang sama sisiannya.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Baekhyun bertanya seraya menyapu wajahnya yang basah. Dia berjinjit untuk melihat jauh ke depannya. "Kemacetannya panjang sekali."

"Tidak ada celah?"

Baekhyun menggeleng. Dia menuju sisian jalan berharap menemukan kiranya celah yang cukup untuk mobil mereka. Namun sisi kanan kiri merupakan hutan dengan pohon-pohon besar tumbuh dengan rimbunnya disana, membuat keadaan kian tak membantu sama sekali.

Baekhyun menyipitkan mata sampai kelopak matanya menjadi segaris. Detik berselang, sipit itu melebarㅡmembelalak dengan apa yang di lihatnya.

"Chan." Baekhyun menahan pekikan. Tangannya menunjuk pada ke depan sana pada segerombolan zombie yang datang.

Keduanya sontak membungkuk dan beringsut berjalan cepat menuju mobil kembali.

"Sembunyi." Chanyeol mentitih, menyuruh tiga orang yang berada disana untuk lekas membungkuk.

Ketiganya tak sempat bertanya tentang apa yang terjadi, cepat-cepat melakukan apa yang Chanyeol pinta.

Chanyeol dan Baekhyun masuk pada mobil yang lain dan menempatkan diri pada jok belakang, bersembunyi dengan degup jantung bertalu keras dalam dada.

Suara hujan beradu dengan suara geraman zombie-zombie yang berdatangan. Jumlah mereka banyak, melintasi tiap mobil yang ada di atas jalanan itu.

"Mereka banyak sekali." Sinbi dalam bisikan berkata pada Yerin dan Sehun. Dia melirik pada luaran jendela mobil dan nyatanya zombie-zombie masih terlihat disana.

Jalanan taunya bukanlah tempat aman. Ruang luas itu nyatanya menjadi tempat menyeramkan dengan jumlah mayat itu tak terhitung jumlahnya.

Punggung mulai terasa pegal dipaksa dalam posisi yang sama namun nyatanya mereka tak memiliki pilihan yang lain.

Menit terlewati, perlahan rombongan mayat hidup itu berkurang menyisakan satu dua pada urutan terakhir melintasi mobil yang mereka tempati.

Chanyeol menegakkan tubuhnya mengintip pada belakang kaca mobil dan mendapati kumpulan zombie itu telah cukup jauh dari mereka.

"Kita tak bisa terus disini, mereka bisa datang dari mana saja." Chanyeol berkata pada Baekhyun.

"Haruskah kita kembali dan mencari jalan pintas yang lain?"

"Kawanan itu banyak sekali, jika kita kembali ke jalan tadi kita akan bertemu dengan mereka." Nada bicara Chanyeol resah terdengar. Pandangannya berpendar lagi pada luar jendela pada hutan yang terletak pada samping kanan kirinya.

"Kita berjalan kaki masuk ke hutan."

Baekhyun terkesiap. "Kau tidak serius 'kan?"

"Kita akan tetap pergi dan menemukan mobil di ujung jalan dan kembali melanjutkan perjalanan." Chanyeol menjelaskan.

Masuk akal, Baekhyun bergumam dalam hatinya.

Dia menganggukkan kepala pada Chanyeol menyetujui rencana itu. Pintu mobil Chanyeol buka pertama kali, diikuti Baekhyun di belakangnya. Keduanya berjalan mengendap di antara celah kecil menuju mobil patroli yang di tempati Sehun, Yerin dan Sinbi.

"Ambil semua barang, kita akan jalan kaki sampai ke depan." Chanyeol berkata sembari mengambil satu tas berisi senjata miliknya dan satu tas lain kepada Baekhyun.

"Apa? Jalan kaki?" Sehun memekik. "Hyung bagaimana jika zombie itu ada diluar?" sarat ngeri terpancar dari wajahnya yang rupawan.

"Kita tak bisa menunggu disini, terlalu bahaya. Akan lebih baik kita masuk ke hutan menuju ujung jalan dan menemukan mobil yang lain menuju Seoul." Jelas Chanyeol.

Sehun tak lagi memberikan bantahan dengan penjelasan itu. Dia menjadi yang pertama keluar, diikuti Yerin dan Sinbi kemudian.

Hujan masih mengguyur membuat pakaian ketiganya ikut basah akan Chanyeol dan Baekhyun. Tapak kaki lekas dibawa pada sisi jalan dan masuk ke dalam hutan.

Pepohonan lebat itu sedikit banyak membantu menghalangi rintikkan hujan yang mengguyur, hanya saja membuat jarak pandang menjadi lebih terbatas dengan kabut yang ikut menghiasi sela batang-batan pohon itu.

Tanah yang ditutupi rumput dan daun kering itu basah dan membuatnya menjadi licin. Chanyeol memimpin di depan bersama Baekhyun di sampingnya. Sesekali mereka melirik pada samping kiri mengikuti mobil-mobil yang tertinggal di belakang sana dan memastikan seberapa panjang kemacetan itu.

Ujung jalanan masih tak terlihat dengan mobil tumpah ruah memenuhi jalanan tanpa celah sedikitpun.

Sinbi pada posisi paling belakang sesekali ikut membawa pandangannya ke belakang, memastikan tak ada satupun dari mayat hidup itu mengikuti. Dia bergegas setelahnya mengejar Yerin dan berjalan di samping sepupunya dan luput memperhatikan satu zombie dari sisi yang lain.

"KYAAAA~" Sinbi melolong merasakan pundaknya terkoyak bersama darah yang meluncur hebat oleh lahapan deretan gigi itu.

"SINBI!" Yerin berteriak keras menyerukan nama sepupunya sembari berusaha keras menarik sepupunya itu menjauh.

Chanyeol, Baekhyun dan Sehun kontan menoleh dengan mata nyaris meloncat keluar melihat apa yang terjadi.

"AAARRRGGHH HUWAAAA!" Sinbi melolong kesakitan, tubuhnya ambruk pada tanah dengan sekujur tubuh yang berdarah penuh luka oleh gigitan mayat hidup itu.

Chanyeol bergerak cepat meraih pistol dan siap untuk tembakan—

DOORRR

Ketika tembakan dari pistol lain terlebih dahulu meledak menghancurkan kepala mayat hidup itu.

"Sinbi tidak Sinbi~!" Yerin lekas menyongsong sepupunya itu namun apa yang dia temukan membuatnya tak mampu menahan tangisan. Sinbi bernafas satu-satu dengan leher nyaris putus dan darah mengucur bak air terjun membasahi tanah dibawahnya.

"RRRWWWWW~" geraman tiba-tiba terdengar ramai mendekat datang entah dari mana.

"CEPAT PERGI DARI SINI!" teriakan itu terdengar bersamaan dengan dua sosok datang mendahalui zombie-zombie itu. Salah satu dari mereka menarik Yerin menjauh dari Sinbi yang tak lagi bernyawa.

Chanyeol menyipitkan mata berusaha memastikan penglihatannya itu tak keliru di antara rintikan hujan yang tak jua berhenti. Geraman itu kian riuh, menjelaskan tentang posisi mayat-mayat itu semakin dekat pada posisinya. Chanyeol lekas menarik tungkai bersama Baekhyun dan Sehun yang masih terpaku atas apa yang terjadi.

"AYO CEPAT!" sosok itu berseru lagi. Suaranya terdengar familiar, ketika Chanyeol perhatikan sekali lagi nyatanya sosok itu benar merupakan seseorang yang dia kenal.

"KIM JONGIN!"


bersambung


Hai ketemu lagi, apa kabar weekend kalian?
Makasih beribu banget untuk kalian yang udah nyempetin baca ff ini terlebih yang udah ninggalin review makasih banget. Juga untuk Pitterluck yang udah repot2 rekomin ff ini makasih banget, aku terhura T.T

Sebelumnya Chanbaek Numero Uno nanya soal rekomen film zombie, aku sebenarnya penggemar film genre survival; entah itu tentang bencana alam, kecelakaan atau tentang penyebaran virus.

Untuk film survival bertema penyebaran virus, salah satunya tentang virus zombie yang paling aku favoritin, super duper aku favoritin adalah THE WALKING DEAD. Sumpah ini adalah serial yang aku udah nonton ribuan kali tanpa bosan2, khususnya untuk season 1-5 itu terdebes sih menurutku. Kalian wajib nonton ini banget ::D

Anyway aku juga mau bilang WELCOME TO TEMPO ERA, MANTUL GEWWLLLAAAAAA . walopun mv nya di luar ekspetasi sih, kirain ga bakal di kotak indomie (lagi) tapi yang penting lagunya super mantul, masa semua jadi kaporit tanpa terkecuali T.T

Terakhir, selamat berweekend dan see you lagi~