Harry Potter, dan semua seluk beluk yang terkait dengannya adalah milik J.K Rowling. Tapi fanfic ini asli tulisan saya.
No Copy Paste. No Plagiarism
Fic ini fem!Harry (di mana Harry di cast sebagai perempuan tapi tomboy dan senang berpenampilan seperti laki-laki), jadi untuk yang tidak suka, silakan ketik tombol back.
Warning : Fem!Harry, semi-AU atau modif canon (saya ga terlalu mikirin itu, yang jelas banyak yang tidak sesuai cerita asli, entah itu saya sengaja maupun tidak saya sengaja), typhooosss (meskipun sudah saya cek ulang), tidak sesuai EYD dan diksi yang mungkin bertele-tele, alur lambat, cerita membosankan, OOC, OC bermunculan, etc
Ketokan berirama dilanjutkan dengan bunyi berdecit pintu yang dibuka. Harry tersenyum lebar melihat sang tuan rumah yang tengah membukakan pintu sambil mengelap sisa tepung pada pipi tua yang sudah dipenuhi oleh banyak kerutan. Meskipun terlihat lelah, namun wajah itu berubah sumringah melihat tamunya yang sudah ia tunggu begitu lama.
"Harry … masuklah Dear!" ucap wanitu tua itu setelah sebuah pelukan ia berikan kepada sang tamu.
"Terima kasih, Madam. Ah, anda pasti sedang membuat kue lezat lagi, bukan? Katakan kepadaku, apa yang sedang anda masak saat ini?"
"Hanya kue dan limun jahe. Kau tahu, persediaan jaheku agak banyak akhir-akhir ini. Lagipula pesanan dari Hogsmeade sedang lumayan ramai," Madam Sue menutup kembali pintu rumahnya sambil berjalan memimpin menuju dapur, sementara Harry hanya mengangguk sambil mengekor pergerakan wanita tua di hadapannya.
"Mana Tuan Malfoy junior?" wanita itu terlihat begitu antusias, hingga ia membalikkan badannya dan menatap mata Harry penuh tuntutan jawaban. Harry hanya menjawab dengan gelengan lemah, membuat wanita tua itu semakin penasaran.
"Ada sedikit masalah, sehingga Malfoy tidak bisa ikut kemari, Madam,"
"Hmmm, itu bagus, Harry!" ucap Madam Sue. Kilatan aneh di matanya membuat Harry sedikit merasa curiga, lantaran ia baru kali ini melihat ekspresi seperti itu pada wajah sang wanita tua, namun kecurigaan itu segera ditepiskannya.
"Oh iya, aku butuh sesorang untuk mencicipi kue buatanku ini, Harry. Aku takut kue jaheku terlalu manis karena aku memang punya ketertarikan yang berlebih terhadap gula," wanita tua itu menyodorkan sepiring kue jahe ke hadapan Harry yang sudah duduk di kursi makan dapur.
"Anda bersama orang yang tepat, Madam!" canda Harry sambil meraih satu potong kue dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Madam Sue tertawa mendengar ucapan gadis itu.
"Makan saja yang banyak. Aku masih punya dua toples penuh,"
"Aku tidak akan sungkan!" Harry kembali memasukkan makanan manis dengan cita rasa sedikit pedas itu ke dalam mulutnya. Nampaknya ia sangat sulit untuk menghentikan acara makannya.
Hanya limabelas menit berselang, seluruh kue jahe itu sudah berpindah tempat ke dalam perut Harry. Tanpa Harry sadari, Madam Sue tersenyum puas saat melihat kudapan buatannya sudah licin tandas. Bukan tersenyum, namun lebih tepatnya menyeringai tak kentara. Entah apa yang tengah ada dalam pikiran wanita tua itu.
"Madam, mungkin aku sedang terlalu lelah. Tapi bolehkah aku meminjam sofa di kamar tamumu?" ucap Harry yang tiba-tiba menguap lebar beberapa kali secara beruntun.
"Kau kenapa Harry?" tanya wanita tua itu sembari tidak mengalihkan pandangannya pada adonan kue yang tengah ia aduk perlahan.
"Aku juga tidak tahu. Mendadak aku mengantuk … " dan sebuah kuapan panjang membuat Harry harus mengelap tetesan air di sudut matanya.
"Mungkin kau memang harus beristirahat. Sana, cari tempat yang menurutmu nyaman," senyum Madam Sue.
"Terima kasih Madam. Bukannya membantu, tapi aku malah merepotkanmu," ucap Harry malu-malu.
"Tidak masalah Harry, suatu kehormatan bisa menjamu pahlawan dunia sihir di rumahku,"
…
Draco tengah menenteng sapu terbangnya melintasi aula besar saat seekor burung hantu berbulu hitam terbang melintasinya dan menjatuhkan sesuatu tepat di hadapannya, kemudian kembali terbang berlalu dalam hitungan detik. Keadaan aula besar yang tengah lenggang tanpa seorangpun di sana membuat Draco yakin jika burung hantu hitam itu menjatuhkan surat khusus untuknya. Ia memungut perkamen kecoklatan yang terikat pita berwarna senada, membuka dan mulai membaca perihal apapun yang tertulis di dalamnya. Detik semi detik, wajah Draco terlihat semakin menegang dan mengeras. Ia yakin bahwa setelah ini ia akan menghadapi pertarungan yang tidak mudah.
'Luis, kau sudah tahu bukan, apa yang kemungkinan besar akan kita hadapi setelah ini?' Draco berucap tanpa suara.
'Terlalu berbahaya jika Master datang sendiri. Sudah pasti akan ada banyak jebakan di sana,' jawab Luis penuh kekhawatiran.
'Aku tahu. Tapi jika sampai aku tidak datang sendiri, maka Harry akan …' Draco tidak melanjutkan ucapannya. Wajahnya berubah menjadi semakin cemas.
'Tapi Master, Anda tetap harus menulis pesan kepada seseorang. Sekedar untuk berjaga seandainya terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan.'
'Kita ke kandang burung hantu,' titah Draco kemudian kembali berlari menuju tempat yang ia maksud.
…
Sapu terbang yang dikendarai pemuda berambut pirang itu melaju dengan sangat kencang, menembus kawanan awan yang berarak mengikuti aliran angin. Tak dihiraukannya badan lemahnya yang sedikit bergetar lantaran ia belum mengisi perut semenjak pagi. Fokus pikirannya saat ini hanya ada satu, yaitu sosok gadis yang mungkin keselamatannya saat ini tengah berada di ujung tanduk.
Draco, pemuda itu, sebenarnya tidak terlalu paham dengan alasan wanita tua yang bahkan baru bertemu sekali dengannya itu menyandera Harry dan menginginkan dirinya datang sendirian jika ingin gadis yang ia sukai itu selamat. Ia tidak tahu apa dosa yang sudah diperbuatnya kepada wanita tua itu atau keluarganya, sehingga harus menghadapi keadaan yang sangat tidak ia inginkan ini.
'Luis, aku ingin kali ini kau tidak memprioritaskan aku untuk berada di bawah penjagaanmu,' titah Draco saat ia rasa kediaman Madam Sue sudah berada pada radius yang tidak terlalu jauh.
'Apa maksud Anda, Master? Anda satu-satunya prioritas untuk saya. Tidak mungkin saya akan memprioritaskan menjaga orang lain lebih dari Anda!'
'Tapi ini perintahku, sebagai Mastermu. Untuk kali ini kau harus menjaga Harry. Dia yang menjadi prioritasmu sekarang. Keselamatannya lebih penting dari nyawaku. Apakah kau paham?'
'Tapi Master, saya tidak mungkin untuk …'
"Ini perintah Mastermu, Luis. Kalau kau menolak melaksanakannya, berarti kau sudah mengkhianatiku!" ucap Draco dengan nada keras dan tegas.
'Baiklah kalau itu perintah dari Master Draco, saya pasti akan mematuhinya.'
…
Sapu terbang Draco mendarat perlahan di depan peternakan kecil yang pernah dikunjunginya seminggu yang lalu bersama Harry. Tidak ada yang berubah meskipun Draco yakin jika wanita tua itu pasti sudah menyiapkan semuanya, jebakan atau apapun untuk menyerangnya. Namun sepanjang jalan masuk hingga mencapai pintu rumah, pemuda itu tidak menemukan sesuatu yang bisa dikategorikan sebagai ancaman.
Pemuda itu hampir mengetuk pintu sebelum menemukan fakta bahwa pintunya tidak dikunci. Tanpa sungkan maupun gentar, Draco berjalan penuh percaya diri memasuki ruang tamu yang sudah sedikit dikenalnya lantaran minggu lalu sempat berada di sana selama beberapa waktu.
Tidak ada siapapun di tempat itu. Hanya selembar perkamen tua yang tergeletak malas di atas sofa. Segurat tulisan yang sama dengan surat yang diterimanya dari burung hantu berbulu hitam di aula besar tadi terlihat memenuhi perkamen itu. Juga gambar yang Draco belum bisa memahami apa maksudnya.
"Jika kau ingin Harry selamat, datanglah ke kediaman Darkforest di atas bukit selatan, sendirian. Ikuti peta yang kugambar di atas perkamen ini!" gumam Draco saat membaca tulisan yang tertera di atas perkamen itu.
"Jadi orang ini benar-benar sudah menawan Harry. Sue Darkforest, aku tidak akan melepaskanmu!"
Draco berlari keluar meninggalkan ruang tamu, begitu sampai di luar rumah, pemuda itu langsung menaiki sapu terbangnya dan memacunya dengan kekuatan penuh sambil sesekali memastikan rute perjalanannya dari peta yang berada di tangannya saat ini.
…
Tempat itu berada di tengah hutan yang berada di puncak bukit, lengkap dengan pepohonan tinggi menjulang yang menutupi akses sinar matahari untuk menyambangi tempat itu, sehingga kesan gelap dan suramlah yang memenuhinya.
Setelah meyakini bahwa tempat yang ia tuju sudah benar, Draco mendaratkan sapu terbangnya di lokasi yang area pepohonannya tidak terlalu perdu. Sekejap ia kembali menelusuri perkamen yang semenjak tadi tergenggam di tangannya, sedikit memastikan bahwa lokasi itulah yang dimaksud.
Draco berjalan penuh percaya diri memasuki area yang mungkin sudah menantinya dengan berbagai jebakan. Langkahnya pasti, tekadnya sudah bulat untuk menyelamatkan Harry, sekalipun nyawanya menjadi taruhan.
Semakin dekat Draco dengan rumah besar dan tua itu, semakin ia bisa merasakan hawa sihir hitam yang semakin pekat. Lama bersama dengan Dark Lord membuatnya lebih sensitif terhadap hawa-hawa kegelapan yang ada di sekitarnya.
Sesosok bayangan terlihat berjalan menghampirinya. Semakin mendekat, Draco semakin yakin bahwa itu adalah orang yang dicarinya. Ya, Sue Darkforest menyambut kedatangannya dengan seringai tidak menyenangkan di wajahnya. Draco menggenggam erat tongkat di tangan kanannya. Ia juga meminta Luis berada pada kondisi yang sama.
"Aku tidak percaya, anak pengecut sepertimu berani datang menantang maut sendirian," ejek Sue dengan suara lantang.
Draco memilih untuk tidak meladeni ucapan wanita tua itu. Otaknya malah tengah menyusun beberapa rencana antisipasi apapun yang akan ia hadapi beberapa saat ke depan.
'Madam Sue tidak sendirian, Master!' desis Luis sambil mengeratkan perlindungannya kepada Draco.
'Aku juga berpikir demikian, Luis. Kurasa hawa sihir hitam sekuat ini bukan dihasilkan oleh wanita itu,' jawab Draco menanggapi.
'Apakah saya boleh menyelidiki ke dalam, Master?' tanya Luis kembali.
'Tentusaja. Bukankah kali ini tugasmu adalah melindungi Harry, bukan aku. Jadi kau temukan Harry dan lindungi dia,' titah Draco. Sesaat kemudian terlihat sebuah bayangan hitam melesat dari sekitar tubuh Draco menuju ke dalam puri. Madam Sue terlihat berjenggit saat Luis melesat cepat di depan wajahnya. Wanita itu sangat terkejut, sehingga Draco ganti menyeringai melihatnya.
"Orang pengecut sepertiku tentunya tidak akan berani datang kemari tanpa membawa persiapan yang cukup," ganti Draco berbicara dengan nada mengejek.
"Katakan, makhluk apa yang kau bawa, Malfoy!"
"Oh, itu tidak terlalu penting, Darkforest! Sekarang, katakana di mana kau sembunyikan Harry!"
TBC
Maaf, updatenya lama, udah gitu makin sedikit juga ... ahahaha (ketawa garing).
Saya sebenarnya sudah punya plot cerita sampai tamat, tapi entah kenapa akhir-akhir ini mood menulis saya baru drop.
Makasih banget untuk semua yang memfavoritkan dan memfollow ff ini, terlebih untuk yang memberi review, maaf belum bisa membalas satu persatu, tapi saya pasti membaca reviewnya lebih dari sekali.
Mohon reviewnya lagi ya ...
Thanks ...
