Bab 5

1986: Recruit

Sore itu, sepulang kerja di Kafe Maid'Armour, Yuri tidak langsung pulang. Ia membelokkan mobilnya ke arah pinggir kota. Siang tadi, Master menerima telepon dari Shima untuk disampaikan pada Yuri. Yuri merasa panggilannya ke markas Aozora Shibarashi bukan karena adanya tugas mendadak. Pasti ada keperluan konfirmasi atau koordinasi.

Setiap pagi, para pemburu yang baru saja melaksanakan tugas diwajibkan langsung melapor pada Shima. Shima tipe orang yang ingin mengetahui gambaran atau sinopsis di depan. Ia ingin segera tahu dan tidak sabar mendengar jawaban tugas-tugas yang telah ia berikan. Shima orang yang tegas tapi bukan tipe penghukum yang tidak mudah menerima suatu kegagalan sehingga hampir tidak ada kengganan untuk tidak menceritakan apa pun yang telah terjadi meski vampir buruannya lolos. Setelah laporan singkat, pemburu kemudian wajib menulis laporan tertulis secara lengkap dan menyerahkannya kepada sekretaris untuk diedit lalu disimpan dalam folder file. Pada tahap ini, entah kapan waktu yang digunakan Shima untuk membacanya satu per satu karena selain mengelola organisasi, Shima juga merupakan presiden direktur sebuah perusahaan bisnis yang mana sebagian uangnya didanakan untuk keperluan Aozora. Tapi, Yuri yakin bahwa Shima pasti menyempatkan waktu untuk membaca semuanya di ruang kerjanya. Dari situ, ia dapat meneliti, menganalisis, dan menemukan ciri-ciri, kebiasaan, atau pengetahuan terbaru tentang vampir yang kemudian akan ditransferkan dan didiskusikan ke semua pemburu lewat sesi pertemuan. Saat organisasi ini didirikan, memang pengetahuan akan vampirnya bisa dibilang nol selain dikenal sebagai makhluk penghisap darah manusia seperti yang digambarkan dalam fiksi-fiksi dan fiksi tidak selalu menggambarkan aslinya.

Yuri lalu menemui Shima di ruang kerjanya. Ia melihat bosnya yang mengenakan kacamata baca sedang membuka folder yang bertuliskan namanya di sampul depan. Ia juga melihat tiga folder file milik rekan-rekannya yang lain tertumpuk di meja kerja Shima.

"Jadi, ini kedua kalinya kau bertemu Kurenai Otoya?" tanya Shima masih memperhatikan bacaannya.

Yuri menjawab pelan, "Ya."

"Aku paling suka laporanmu, Yuri. Kurasa kau yang paling rajin dalam menuliskan deskripsi peristiwa yang dihadapi. Kebetulan, baru saja aku membaca file-mu mulai file ke- 24. Pada perburuan sebelum yang terakhir ini, kau tidak mengatakan apa-apa soal pemuda ini."

"Maafkan saya," kata Yuri membungkuk. "Saya kira hal itu tidak penting. Sebab, dalam situasi saat itu, dia tidak dalam keadaan sebagai seorang saksi mata. Tapi, saya akui sayalah yang sempat melibatkannya."

Pantas saja Shima memanggilnya ke markas sore itu. File ke-24 berarti berisi laporan tertanggal bulan Februari tahun ini, dan Yuri ingat ia sudah menjalani empat kasus sejak itu. Dalam laporan singkat soal tugas ke-28, ia hanya mengatakan bahwa Kurenai Otoya, guru dari Miyazawa Hitomi yang ia incar malam itu telah menjadi saksi mata. Tapi dalam laporan tertulis tentang pemburuan Kaoru Tsugami, ia menuliskan tentang seorang pemuda yang sempat mengganggunya dan ia menyinggung hal ini kembali pada laporan berikutnya. Artinya, Shima menangkap adanya koneksi antara keduanya. Dan Yuri tidak ingin Shima merasa tertarik pada Otoya. Ia lupa bahwa ia menuliskan cerita terlalu lengkap karena terbiasa ingin melaporkan yang terbaik. Ia kira Shima sudah cukup lama membaca folder-nya sampai ke file nomor 27, sehingga mungkin tidak akan menemukan keganjilan pada sosok pemuda yang ditemuinya di dua kasus berurutan.

"Kau bisa mencarikannya untukku? Sepertinya ia memiliki pontensi," lanjut Shima meletakkan folder dan melepas kacamatanya.

Sudah kuduga, pikir Yuri. Ia ingin menolak.

"Kau tidak menuliskan tentang emosi yang kau alami di sini karena menghindari kesubjektifan. Mungkin ada yang ingin kau sampaikan sekarang mengenai dirinya?"

"Apa itu bisa menjadi pertimbangan?" tanya Yuri.

"Kenapa? Apa dia seburuk itu sampai kau tidak ingin aku merekrutnya? Dari yang kau tulis, sepertinya dia pribadi yang sangat santun karena seorang maestro biola. Kecuali kau mengatakan tidak mungkin merekrut seorang violinist yang sudah mempunyai jalan hidupnya sendiri. Tapi kau juga memberi keterangan di sini bahwa ia telah keluar dari jalur profesional."

Santun? Astaga! Otoya saat memainkan musik dengan sifat aslinya sungguh berbeda. Tapi jika aku mengatakan bahwa ia lelaki mesum dan menyebalkan tentu itu tetap tak akan menjadi bahan pertimbangan bagi Shima. Yang penting adalah melakukan pendekatan terlebih dahulu sebelum menawarinya.

Semua pemburu di sini adalah para saksi mata hidup yang telah mengetahui keberadaan vampir. Sebagian dari saksi mata ini shock berat karena anggota keluarganya dibunuh dan Shima kemudian menawari mereka untuk bergabung. Dendam itulah yang juga membuat Yuri berada di dalamnya. Tapi Otoya tidak punya alasan kuat untuk bergabung. Kalau pun ada, itu pasti bukan karena ia masih mencari Hitomi. Yuri bisa menebak motif terselubungnya dibaca dari sifatnya.

"Ia cukup merepotkan," kata Yuri.

"Hanya itu?"

"Ada alasan khusus sebenarnya tapi saya tahu hal itu tak akan menghalangi Anda untuk merekrutnya."

"Alasan khusus? Jika itu artinya menyinggung seorang wanita, apa dia telah berbuat tidak senonoh padamu?"

Yuri mengernyit. Kata-kata senonoh mungkin tidak cukup tepat. Shima tahu bahwa ia sanggup menghajar laki-laki dan jika ia gagal berarti Shima semakin melihat betapa kuatnya laki-laki itu dan menjadi sangat disayangkan untuk dilewatkan menjadi pemburu.

"Sepertinya dia sangat unik. Aku sendiri masih tak tahu apa korelasi antara maestro biola, pemuda mesum, dengan kemampuannya menghadapi vampir. Tapi, instingku mengatakan ia akan menjadi pemburu hebat."

Sepertinya telalu jauh untuk mengatakannya hebat. Tapi Yuri sendiri mengakui dalam laporannya bahwa Otoya sendirilah yang telah mencoba melawan vampir dan ajaib hanya luka kecil. Yuri tidak yakin Hitomi merasa sedikit kasihan pada gurunya dan memilih melepaskannya begitu saja. Tampaknya yang terjadi justru sebaliknya, bahwa Hitomi kerepotan dan memilih kabur. Mungkin saja ia tetap segan melawan gurunya sendiri.

"Maaf, Yuri," lanjut Shima. "Kau benar bahwa hal itu tak akan mengubah penilaianku sampai aku membuktikan sendiri sejauh mana perlakuan buruknya terhadapmu. Kau putri Akane, sahabatku, aku juga tak ingin siapa pun menyakiti hatimu. Tapi kekuatannya kubutuhkan Ini demi organisasi, demi melindungi umat manusia. Kau harus mengorbankan kepentinganmu untuk hal ini. Berharap sajalah bahwa dia akan menolak tawaranku untuk mengubah jalan hidupnya menjadi seorang pemburu."

Otoya mengincarku, batin Yuri. Tapi ia tidak mengatakan hal itu pada Shima, tidak ingin terlihat lemah, dan dianggap tidak bisa melawannya. Jika melawan manusia biasa saja tidak bisa, bagaimana dapat melawan vampir? Dan, Yuri tidak bisa menghindar. Menolak pun Shima pasti tetap akan mengutus yang lain untuk menyelidiki Otoya dan menariknya masuk ke dalam kehidupannya.


Suatu malam di hari yang lain, sepasang kekasih sedang melihat-lihat etalase toko busana. Mereka sedang menghabiskan waktu bersama dan melintas di Shinjuku.

"Gaun itu indah sekali, bisa kau belikan untukku?" kata si wanita manja. Ia menunjuk sebuah gaun merah

"Murah," kata sang pria memperhatikan tulisan 5 juta yen di bawah kaki manekin yang mengenakan gaun tersebut.

"Kalau begitu, belikan."

"Tentu saja, sayang. Apa pun yang kau minta pasti akan kuberikan, "kata pria bergaya parlente itu.

"Stop!" sebuah seruan asing menyita perhatian mereka. Mereka pun menoleh ke belakang. Otoya muncul dan langsung meraih pundak sang wanita. "Barang murah itu tidak cocok untukmu," lanjutnya mendekatkan wajah.

Sang pria pun gregetan. Ada pria lain yang berani menggoda kekasihnya. "Hei, kamu!"

Otoya pun menyingkir mundur.

"Tunggu!" pria itu mulai marah dan hendak meninju Otoya.

Otoya hanya menunduk dan tinju itu meleset. Pria itu dengan sendirinya terdorong ke depan. Ia tak bisa mengendalikan keseimbangan dan terjatuh.

"Lady. Lupakanlah pernikahan," Otoya tak memedulikan si pria. Pandangan matanya tak pernah beralih dari tadi.

"Lady?" kata si wanita merasa tersanjung.

"Bidadari sepertimu sebaiknya tak menikah," lanjut Otoya menyindir gaun mahal pernikahan yang tak mungkin sanggup dibelinya. Materi tak penting, batinnya. Itu hanya barang murah.

"Bidadari? Maksudmu aku?" si wanita pun semakin terpesona dengan kata-kata Otoya.

"Kurang ajar!" pria tadi masih sanggup berdiri. Ia bangkit dan hendak menyeruduk Otoya.

Otoya kali ini menoleh menatapnya. Ia menghindar ke samping dan dengan cepat menendang bokong pria itu. Pria itu kembali tersungkur. Ia mencoba berdiri lagi dan kali ini melayangkan kaki kanannya. Otoya menangkisnya dengan telapak kaki kiri –sepatunya– dan dengan cepat ia hentakkan punggung kakinya ke kepala pria itu. Pria itu lagi-lagi tersungkur.

"Wow! Keren..."Bukannya menolong kekasihnya, sang wanita malah berlari ke arah Otoya.

"Keiko..." rintih pria itu mencoba menghalangi langkah kekasihnya. Tapi, wanita bernama Keiko itu menampiknya dengan ayunan tas.

"Bisakah kau melindungi wanita sepertinya?" kata Keiko. Ia pun memalingkan muka dan menghampiri Otoya.

Otoya tersenyum. Ia mengulurkan tangannya. "Sekarang, ayo pergi."

Keiko langsung menggandeng lengan Otoya.

"Cuacanya bagus ya?" kata Otoya bermaksud membuka topik pembicaraan. "Saar aku memandangmu, hatiku tiba-tiba menjadi cerah padahal malam ini dingin."

Namun, baru berjalan beberapa langkah, mata Otoya tertuju pada wanita lain yang berpapasan dengannya. Gadis itu mengenakan topi kabaret dan kacamata. Ia juga mengenakan celana panjang dan blazer bermotif kotak-kotak. Wanita itu tampak lebih muda dan enerjik, pikir Otoya. Otoya lalu memandang Keiko sekali lagi. Di mata Otoya, Keiko menjadi seperti sosok tante-tante matre dan erotis dilihat dari tasnya yang bermerek, gaya pakaiannya yang mengenakan rok mini, stocking hitam, dan hak tinggi.

"Maaf," kata Otoya pada Keiko. Ia menarik mundur Keiko dan mendorongnya terjatuh di tempat kekasihnya yang tadi. "Ternyata kalian sangat cocok. Kudoakan agar selalu bahagia."

Keiko melongo tidak percaya. Ia melihat sosok hero-nya itu berganti menggandeng wanita lain. Yang membuatnya semakin kaget adalah kata-kata yang digunakan Otoya untuknya sama dengan yg yg digunakan untuk wanita lain itu.

"Bidadariku, kali ini aku benar-benar menemukanmu. Cuacanya bersahabat ya? Malam yang dingin, namun saat aku menatapmu, hatiku berubah cerah," kata Otoya mengajak wanita lain yang baru dirayunya itu berbalik arah..

"APA?" Keiko hanya bisa melihat Otoya melewatinya begitu saja dan berbelok di samping toko hingga ia tak melihatnya lagi.

"Siapa namamu, Lady," tanya Otoya pada wanita yg digandengnya sambil terus berjalan.

"Na..Natsukawa," jawab wanita itu sedikit malu.

Wanita itu tersipu dan Otoya merasa tergoda. Wanita ini sungguh manis, batinnya.

"Akhirnya kutemukan kau, Kurenai Otoya!"

Otoya mendengar suara wanita ketiga yang muncul di belakangnya. Ia merasa tak pernah melupakan suara wanita pun yang pernah dekat dengannya. Suara ini... "Oh, my woman of fate! Asou Yuri, aku tahu kau merindukanku."

Otoya melepaskan gandengan tangan Natsukawa dan beralih pada Yuri yang masih membelakanginya. Saat Otoya sudah berada di samping Yuri untuk menatap wajahnya, Yuri pun memalingkan muka. Ia benar-benar ingin menghindari pekerjaan ini.

"Ayo pergi," kata Yuri.

Otoya pun semakin bersemangat. "Kau selalu mengikutiku kan. Pantas saja. Aku senang akhirnya kau jujur pada perasaanmu."

"Jangan sinting. Lagipula siapa yang mau mengikutimu!" sergah Yuri.

"Lho? Akhir-akhir ini aku merasa diikuti seseorang. Kalau bukan kau siapa lagi."

Tampaknya selain dirinya, Shima juga mengutus orang lain untuk menyelidiki Otoya, pikir Yuri..Lalu untuk apa aku melakukan hal ini juga?

"Sudahlah, itu kita bahas di tempat lain saja." Kata Otoya mengajak Yuri berjalan.

"Aku memang mau membawamu," kata Yuri sungkan.

"Wah, tak ku sangka. Seharusnya sejak saat itu, aku mencarimu saja daripada memnghabiskan waktu seperti ini. Kukira kau meragukanku."

Apa Otoya begitu inginnya bergabung dengan Aozora, pikir Yuri. Yuri ingat bahwa Otoya tampak sangat antusias malam itu. Seorang saksi mata biasanya masih membutuhkan waktu untuk mencerna apa yg barusan terjadi. Mereka pun masih memikirkan ulang untuk memutuskan apakah akan menerima tawaran Shima atau tidak. Kebanyakan tidak tertarik, mengucapkan terima kasih karena pernah ditolong dan ditawari, lalu mendoakan agar Aozora berkinerja lebih baik lagi. Tapi, Otoya sudah selangkah di depan. Ia sudah melawan vampir. Hal itu di luar logika! Orang yang sampai berani ke tahap itu biasanya karena ia melihat orang yg dikasihinya, termasuk teman atau anggota keluarga, tengah dimangsa vampir di depan matanya dan ia akan menggunakan cara apa pun untuk menolongnya, mengalahkan ketakutannya. Otoya tidak. Yang lain berharap tidak ingin berurusan dengan vampir lagi, cukup sekali saja. Otoya sebaliknya. Justru karena ia merasa gagal, ia ingin mencoba lagi dengan bergabung, dengan menyandang nama resmi sebagai pemburu. Belum pernah ada yang beralasan insting bertempurnya bangkit seperti dirinya. Sungguh aneh! Saat mengetahui kenyataan ini, Shima pasti semakin mengingnkan Otoya. Namun, Yuri tetap merasa alasan Otoya yang sesungguhnya adalah karena mengincar dirinya. Apaagi barusan ia melihat Otoya merayu cewek lain. Yuri merasa cewek yang barusan terlalu polos dan mudah mengikuti bujukan maut Otoya begitu saja. Ia tak tahan melihat hal itu dan terpaksa keluar menegurnya.

Yuri tiba-tiba tersadar bahwa justru ialah yang mengikuti jalan Otoya. Otoya ternyata mengarahkannya ke tempat lain. "Hei, jadi kenapa ke arah sini. Kau yang seharusnya mengikuti aku."

"Bukankah sama saja? Kau dari tadi memang ingin ke suatu tempat yang gelap bukan? Kau mencintaiku bukan? Karena itu kau mencariku bukan?"

Apa, pikir Yuri. Jadi dari tadi hanya itu saja yang ada di otaknya? Yuri kira Otoya sudah paham arah pembicaraannya bahwa ia bermaksud mengajak Otoya ke markas pemburu vampir seperti yang dulu pernah diutarakannya.

"Ayo," seru Otoya menarik lengan Yuri, mengajaknya mempercepat langkah.

Yuri melihat papan nama hotel di depannya. Ia menghela napas. Lalu ia mencengkeram tangan Otoya, menariknya lebih kuat, dan memuntirnya ke belakang.

"Dengarkan aku baik-baik atau kupatahkan lenganmu," kata Yuri menekan lengan Otoya semakin ke belakang.

"Auw Auw. Sabar, Sayang. Kalau bukan ini lalu apa?"

"Kau sudah lupa? Katanya kau mau bertanggung jawab."

"Wow, apa-apaan? Kita kan belum jadi masuk ke sana," kata Otoya menunjuk hotel di depannya dengan tangan satunya yang memengang kotak biola.

Yuri kehilangan kesabaran. Ia tak ingin berbasa-basi lagi. Ia pun membisiki Otoya. "Vampir."

"Aku mengerti," kata Otoya. "Sekarang, lepaskan aku."

Yuri pun mengendurkan kunciannya. Tapi Otoya memutar dirinya dan merangkul Yuri.

"Kau? Lepaskan!" seru Yuri.

Otoya tertawa. "Aku sudah lupa. HAHAHA. Kalau kau sudah berada di sini, aku tak perlu bergabung ke sana."

"Kurang ajar. Padahal aku percaya kata-katamu waktu itu." Yuri masih berusaha melepaskan pelukan Otoya.

Otoya masih tertawa. "Aku sudah tidak semarah waktu itu. Lagipula, yang kuincar hanyalah dirimu. Persetan dengan vampir."

"Jangan keras-keras menyebutnya," kata Yuri. Astaga, Shima-san. Apakah orang ini pantas masuk ke dalam organisasi kita? Yuri merasa apa yang dilamunkannya tadi menamparnya begitu keras. Ia merasa terseret dengan perkataan Shima yang memandang Otoya terlalu tinggi.

Tiba-tiba Otoya merasakah hawa pembunuh begitu lekat masuk ke tubuhnya. Ia pun memandang ke depan, melihat seorang wanita berdiri menatapnya dengan haus. Raut wanita itu perlahan berubah. Otoya melihat perubahan yang sama seperti yang ia lihat pada diri Hitomi tempo hari. Gawat, pikirnya. Sepertinya ia ingin menerkamku bulat-bulat. Rasanya berbeda dengan saat berhadapan dengan Hitomi.

"Kita ke markas," kata Otoya melepas rangkulannya.

"Hah?" seru Yuri.

"Kau tadi ingin merekrutku kan? Ayo, tunjukkan padaku di mana markasmu." Otoya kembali meraih lengan Yuri. Kali ini dengan lembut dan tanpa paksaan. Ia mengajak Yuri membelok ke arah lain, jalan di seberang hotel.

Yuri tak mengerti dengan perubahan sikap Otoya yang tiba-tiba. Ia pun menengok ke belakang. Sepertinya ada sesuatu yang dilihat Otoya. Tapi tidak ada siapa-siapa yang memperhatikan mereka. Hanya orang berlalu-lalang biasa.


Malam itu juga, Otoya sudah berada di depan sebuah bangunan yg asing baginya. Ternyata lokasinya tidak terlalu jauh dari kota, pikir Otoya. Ia memperhatikan markas Aozora dari luar, hanya bertingkat dua. Tapi ia merasa isinya jauh lebih luas dari apa yang terlihat nampak depan. Otoya berjalan ke samping. Ia tak bisa melihat bagian belakang gedung, entah karena terlalu gelap atau memang ujungnya masih jauh ke belakang dari jarak pandangannya. Bangunan itu lumayan masuk dari jalam utama dan tertutupi . Tidak ada papan namanya tapi Otoya yakin bangunan itu sudah ada izin pendiriannya. Ataukah memang organisasi macam pemburu vampir tidak terdaftar dan rahasia? Menyebut kata vampir di muka umum saja sepertinya terlarang.

Yuri tidak suka melihat tingkah aneh Otoya. Ia terpaksa menggeretnya masuk lewat pintu utama. Tidak ada yang menyambut mereka. Otoya tetap mengikuti Yuri yg berjalan cepat. Mereka lalu naik ke lantai atas. Yuri mengetuk pintu.

"Shima-san, aku sudah membawa Kurenai Otoya."

"Masuklah," jawab Shima. Ia tidak kaget karena sebelumnya ia diberitahu Yuri lewat telepon umum agar tidak pulang awal.

Otoya dan Yuri pun menghadap Shima. Shima menyuruh Otoya duduk di kursi di depan mejanya sementara Yuri tetap berdiri. Otoya memperhatikan Shima, seorang pria eksekutif yang menjadi bos para pemburu vampir.

"Selamat datang di markas Perfect Blue Sky Organization. Namaku Mamoru Shima, seperti yang kau lihat, aku bos di sini."

"Perfect... apa tadi?" kata Otoya. Ia merasa namanya terlalu panjang untuk diingat. Ugh, bahasa Inggris ya? Kalau bahasa asing, aku justru lebih menguasai bahasa Perancis dan Jerman.

"Otoya!" seru Yuri melihat perlakuan tidak sopannya.

Shima mengangkat tangannya ke Yuri untuk tidak menyelanya Ia menoleh tersenyum mengisyaratkan bahwa tidak apa-apa Otoya bersikap demikian. "Perfect Blue Sky Organization. Kau bisa menyebutnya cukup Aozora saja agar lebih familiar."

"Jadi, apa yang kau inginkan dariku?" kata Otoya tanpa basa-basi.

Shima mengambil sebuah kertas di lacinya. Ia lalu mengenakan kacamata dan membacanya. "Kurenai Otoya, 23 tahun. Lahir di Saitama pada tanggal 14 Januari 1963. Keluarga terdiri dari ayah seorang pegawai pemerintahan, ibu seorang guru musik, dan adik perempuan yang masih SMA. Pertama kali mengenal biola saat umur 5 tahun. Pendidikan dasar dan menengahnya dienyam di sekolah negeri biasa perfektur setempat. Bahkan, saat SMP pernah terlibat tawuran pelajar dan memiliki kemampuan berkelahi meski tidak ada dasar beladiri secara khusus. Namun, SMA-nya pindah ke sekolah khusus musik. Menjelang tahun ketiga, mendapat beasiswa ke Conservatoire di Paris dan lulus pada usia 21 tahun. Selama 5 tahun itu kau juga magang ke beberapa kelompok orkestra di Eropa, sempat merekam 2 CD karya musikmu sendiri, dan beberapa kali mengadakan resital kecil. Hmm, penghargaan musikmu dari sejak SD ada lumayan banyak kalau aku sebutkan satu-satu di sini. Tahun kemarin kamu baru saja pulang ke Jepang dan menetap di mansion peninggalan kakekmu di Tokyo ini."

Otoya mengernyit. Ia merampas kertas yg dipegang Shima dan membaca isinya. Yang barusan dibaca Shima ternyata hanya sekitar ringkasannya saja. "Apa-apaan ini? Kau menyelidiku ya? Pantas saja aku merasa akhir-akhir ini ada yang mengikutiku."

"Bukankah kau tak suka basa-basi?" lanjut Shima. "Sebelum memutuskan untuk merekrut orang, kami memang menggunakan cara ini. Organisasi ini masih kecil, usianya baru lima tahun sehingga aku masih sangat membutuhkan pembasmi-pembasmi potensial di sini. Pembasmi atau Pemburu, terserah kau menyebutnya. Aku tetap ingin hasil terbaik tapi akan lebih baik kalau anak buahku itu tetap dapat pulang hidup-hidup daripada memaksakan diri melawan vampir yang kekuatannya sangat jauh di atasnya. Setidaknya dalam lima tahun ini aku masih toleran sabab kami baru memiliki sembilan pembasmi dan itu aset berharga kami. Yuri salah satunya, ia baru resmi bergabung di sini begitu lulus SMA setahun lalu. Padahal entah ada berapa total populasi vampir yang harus dibasmi di Jepang ini."

"Masyarakat tidak mengetahui hal ini? Maksudku, bahkan nampaknya Yuri tak ingin aku menyebut kata vampir begitu keras."

"Kau sendiri baru mengetahui keberadaan para makhluk malam itu saat menjadi guru dari Miyazawa Hitomi bukan? Kami tak ingin ada kepanikan meski kata vampir tidak begitu familiar bagi masyarakat Jepang. Kita tak mengenal legenda itu di literatur. Kurasa mereka datang dari Eropa entah sejak kapan. Bahkan, di dunia modern sekarang masyarakat Eropa pun sudah tak percaya lagi dengan adanya vampir. Aku pun sebenarnya tak ingin percaya, nyatanya mereka benar-benar ada. Beberapa kasus kriminal seperti pembunuhan sadis, multilasi, dan kebrutalan berantai lainnya yang pelakunya tak pernah terungkap oleh polisi adalah ulah mereka. Aku mengumpulkan beberapa saksi mata hidup dan membangun organisasi ini."

"Kupikir vampir cuma legenda atau mitos," kata Otoya. "Sebenarnya aku tak yakin memiliki kualifikasi yang baik untuk menjadi pembasmi, apa kau sengaja merekrut mereka-mereka yang sudah pernah melihat vampir?"

"Memang lebih mudah untuk mengajak para saksi mata ini namun sebagian menolak berurusan dengan vampir kembali karena shock yang lebih besar. Lagipula, aku tidak harus menempatkan mereka menjadi pembasmi bukan? Di sini juga ada laboran, akuntan, sekretaris, dan tenaga medis. Tentu saja mencari pembasmi adalah hal tersulit. Jika kau bergabung, hal ini sungguh langka. Pembasmi di sini adalah orang-orang bermental kuat yang selamat dari pembantaian dan karena itulah mereka mendendam terhadap vampir sampai ke akar-akarnya."

"Yuri juga?" tanya Otoya langsung memotong.

Shima memutar bola matanya ke arah Yuri. Yuri menggeleng tanda tak ingin menyinggungnya. Ia lalu menatap Otoya kembali. "Kurang lebih memang seperti itu. Motivasi apapun aku terima. Sudah kukatakan sebelumnya bahwa aku sangat membutuhkan orang di sini bukan?"

Pantas saja dulu Yuri tampak marah saat ia melontarkan kalimat ingin menjadi pemburu sepertinya, pikir Otoya. Karena aku terkesan main-main.

"Jadi, bagaimana denganmu? Apa kau bersedia mengubah duniamu? Jujur aku tak begitu mengenal namamu sebagai seorang musikus karena itu bukan duniaku tapi rasa-rasanya di kalangan para akademisi musik kau sangat terkenal," lanjut Shima mengingat file laporan Yuri soal Miyazawa Hitomi.

"Aku memang sempat berniat lebih menekuni musik lewat jalur mengajar seperti ibuku, karena itu aku kembali ke sini."

"Lima tahun menimba ilmu di Eropa sudah membuatmu puas kah?"

"Susah mengatakannya. Aku mencintai musik, itu saja. Aku bukan tipe orang ambisius yang ingin mencapai tingkat kesuksesan tertinggi dan meraih segala-galanya, namun bukan berarti aku sudah puas. Aku hanya lebih ingin mengenalkan karya musik, lebih ingin mengisi dunia dengan musik. Musik itu tidak untuk diri sendiri. Musik itu universal. Sayangnya, aku jarang menemukan sebaya yang sepemahaman denganku. Mereka terlalu mengejar karier dan ingin segera diakui di usia muda dan bisa dipandang sejajar dengan para musisi senior. Bisa dibilang aku masih ingin belajar, aku hanya berhenti di jalur profesional."

"Berarti kau menolak bergabung?"

"Jika alasanku bergabung demi agar lebih dekat dengan gadis yang kucintai bagaimana? Apa itu tidak boleh?" Bagaimana pun juga, tak ada yang lebih menarik dari hal tersebut untuk saat ini, pikir Otoya.

"Wow, motivasi yang aneh. Tapi aku tak keberatan."

Yuri menyelanya, "Shima-san!"

Shima sekali lagi mengangkat tangannya untuk meredam Yuri. Ia tetap berbicara pada Otoya. "Apapun motivasimu, kuharap hal itu dapat menjadi motivasi kuat. Aku tak mau ada nyawa terbuang sia-sia hanya karena kau tidak serius menjadi seorang pembasmi. Jadi, kau harus dapat melindungi Yuri dari apa pun jika memang mencintainya. Dan ingat, kau tidak boleh berbuat hal-hal tidak senonoh yang melukai hatinya."

"Tenang saja. Mana mungkin aku melakukannya hahaha... Yuri hanya melebih-lebihkan pada Anda," kata Otoya tertawa.

Yuri menggeram dalam hati. Apa tak ada motivasi lain yang lebih masuk akal, batinnya. Dan bagaimana Otoya bisa terus terang seperti itu?

"Yuri memang belum punya pasangan pembasmi di sini. Aku lebih suka memasangkan mereka. Lebih baik menghadapi satu vampir dengan dua orang. Ini bukan masalah adil tak adil dalam pertempuran. Ini urusan mempertahankan hidup diri sendiri dan orang banyak. Apalagi jika vampir sudah berubah ke tahap Chimera, aku bahkan pernah kehilangan seorang pembasmi karenanya."

"Chimera?" kata Otoya tidak mengerti.

"Oh, maaf. Jika kau memang sudah membulatkan tekad untuk bergabung dengan Aozora, kau akan segera mempelajari detil-detil tentang pervampiran yang sejauh ini telah kami analisis. Kau juga harus melatih diri di sasana dan lapangan tembak untuk membiasakan diri menjadi seorang petarung. Jujur, aku tak terlalu yakin kau sudah dapat langsung terjun menghadapi vampir lain yang tidak memiliki ikatan emosional seperti saat kau melawan muridmu. Tapi aku percaya kau punya potensi."

Memang benar sih, pikir Otoya. Tadi, nyatanya aku tetap takut melihat vampir. Ikatan emosional ya? Mungkin kasusnya dapat disamakan dengan para pembasmi lain yang memiliki tingkat emosional tinggi berupa dendam terhadap vampir karena telah membunuh keluarga mereka. Apa aku juga begitu? Apa aku dendam terhadap vampir yang sudah merusak keindahan musik? Apa benar tujuanku bergabung karena masih ingin mengejar Hitomi? Otoya tahu bahwa dendam itu mungkin tidak berakhir begitu saja setelah kami semua dapat menemukan vampir yang bersangkutan. Seperti sudah terseret, terlanjur menjadi pembasmi, dan rasanya tidak mudah untuk kembali ke kehidupan normal. Bukan karena sekarang aku telah menjejakkan kaki di sini sehingga merasa tak bisa mundur lagi, pikirnya lagi. Saat melawan Hitomi dulu, ia merasa benar-benar ada sesuatu yang seolah bangkit dari dalam dirinya. Bukan hanya sekedar marah karena Hitomi menyalahgunakan musik. Dua hal itu bercampur menjadi satu. Otoya tidak tahu pasti. Ia merasa tergiring ke sesuatu dunia baru yang sepertinya telah ia kenal sebelumnya. Dirinya yang lain. Yang jelas beberapa hari setelah itu, rasanya motivasi kuatnya menguap begitu saja sampai ia melihat vampir kembali hari ini. Mungkin itu yang disebut potensi. Mungkin hal itu muncul karena ia terusik, bukan dendam. Dan Otoya bukan orang yang bisa menahan rasa penasarannya. Bernarkah aku ditakdirkan menjadi pembasmi vampir? Adalah tepat di Aozora, bahwa ia bisa menyalurkan dan menambal rasa penasarannya dengan terjawab perlahan.

"Jadi, kita sepakat?" tanya Shima.

Otoya memandang kotak biolanya yang dari tadi ia bawa. Apa aku akan meninggalkan semua ini? Ia lalu menatap Shima kembali. "Shima-san, boleh aku terus membawa biola? Meski aku sudah menjadi seorang pembasmi, aku tak ingin kehilangan musik." Ya, dengan musik setidaknya aku tidak akan berubah menjadi pembasmi yang haus darah vampir. Musik akan mengendalikanku, aku tidak sama dengan para pembasmi pendendam di sini. Yuri pun harus kubuat lebih terbuka dan ceria. Mungkin kesan diriku menyebalkan di matanya bisa efektif.

"Silakan. Ini adalah Aozora. Aku tak memasang peraturan ketat asal ada kekeluargaan di sini. Kuharap kau tetap mau bekerja sama dan tidak mengecewakanku."

"Aku akan dipasangkan dengan Yuri kan? Jika tidak, aku tidak ingin berurusan dengan vampir." Langit biru, simbol kebebasan, pikir Otoya. Sebagian dari diriku berkata bahwa aku sebaiknya menghindari vampir atau mungkin aku akan berubah kecanduan dengan adanya "bakat" tadi. Tapi dengan Yuri –selain dengan musik–, rasanya fokusku akan lebih banyak terarah padanya. Itu lebih baik. Tentu saja, tujuanku untuk mendapatkannya tidak berubah. Bukan Kurenai Otoya namaku kalau aku tidak bisa mendapatkan gadis yang kuincar.

"Tentu saja, tapi kau harus pantas dulu untuk dapat sejajar dengannya. Mungkin di sini tak ada yang bisa menyaingi dan mengalahkanmu soal musik, maka aku tetap ingin mengujimu dengan pembasmi lain di sasana. Untuk pertama-tama, besok ini kau akan menjalani serangkaian tes," jawab Shima.

"Apa! Tes?" Otoya sangat terkejut mendengar kata itu. Ia sungguh merasa alergi dengan yg namanya tes dan segala bentuk ujian lainnya.

"Tenang, kau sudah diterima. Itu hanya tes kesehatan dan tes psikologi. Sebagai bos, aku tetap harus mengenal dan memahami kepribadian anak buahku agar dapat lebih mengorganisir dan memfasilitasi kalian. Kau boleh pulang sekarang. Besok tolong datang pukul 9 pagi."

"Tunggu!" seru Otoya. "Aku sudah sampai kemari masa langsung pulang? Bisa aku melihat-lihat markas malam ini?"

Shima tersenyum. "Oh, aku tak menyangka kau justru kelihatan tak sabaran, Kurenai-san. Tentu saja kau boleh melihat-lihat markas ini. Yuri akan memandumu."

"Panggil aku Otoya, Bos. Kita lebih baik cepat akrab bukan?"

Sepertinya Otoya sangat cepat mengambil hati Shima, pikir Yuri. Tidak, tampaknya Otoya memang tipe yang mudah akrab dengan siapa saja. Yuri menghela napas. Yang jelas, ia sudah melihat gelagat penasaran Otoya sejak di depan markas dan bisa menebak bahwa Otoya tentu saja ingin berjalan-jalan menjelajahi sudut-sudut markas malam ini juga. Dan ia rasa, Shima tak akan kesulitan merekrut Otoya sehingga pembicaraan ini akan lebih cepat selesai.

Yuri pun mengantar Otoya keluar ruangan Bos. Shima sendiri sudah dapat sedikit menilai Otoya meski tetap butuh laporan tes yang lengkap. Menurut Shima, Otoya adalah orang yang sangat jujur dan terbuka dalam mengungkapkan apa saja. Ia tidak tanggung-tanggung menyatakan motivasi dan tujuan bergabungnya yang terdengar tidak pada tempatnya. Ia langsung memotong pembicaraan jika ada yang tidak ia paham. Shima menyukainya, ingin ada suasana baru di kalangan pembasmi yang lebih banyak berkarakter dingin karena masa lalu pahit mereka. Otoya jelas berbeda dan Shima membutuhkan orang sepertinya. Shima tidak lupa bahwa tipe yang sangat berjiwa bebas seperti Otoya juga ada sisi merepotkannya. Ia bisa melihat Otoya sedikit berperilaku seenaknya dan ia harap hal itu bisa ditutup dengan kinerjanya dalam pembasmian vampir. Ia tidak sabar ingin mengadu Otoya dengan pembasmi lain dalam latihan. Apakah instingnya benar?

Di luar ruangan, Yuri sebenarnya merasa ogah harus memandu Otoya berkeliling. Jangankan saat itu, tapi untuk kapan pun. Dan ia harus pasrah bahwa Otoya akhirnya benar-benar menjadi rekannya meski mungkin tugas resmi penurunannya masih beberapa pekan ke depan. Yuri berdoa semoga Otoya tidak terlalu cepat menguasai semua pelatihan yang diberikan sehingga waktu beraksinya akan semakin lama. Motivasinya tidak kuat, pikir Yuri. Lagipula, bukankah sejatinya Otoya adalah seorang violinist? Ia tidak cocok dengan pekerjaan kasar ini, kalau image rocker mungkin masih pantas.

"Kau serius, Otoya? Jalan untuk menolak masih terbuka lebar," kata Yuri.

"Kau kenapa sih? Masih meragukan keseriusanku? Bukankah sebelumnya kau sempat kecewa saat aku berkata tidak jadi bergabung kemari? Kau masih memikirkan kata-kataku di Shinjuku tadi? Aku hanya bercanda." Tidak bercanda sebenarnya, batin Otoya. Hanya berubah pikiran dalam sekejap karena melihat vampir lagi.

"Bukan begitu. Aku peduli dengan musikmu. Kau tidak cocok menjadi pemburu. Kembalilah ke jalanmu, ajarkan keindahan musik seperti yang kulihat saat menjadi manajer Hitomi." Yuri ingin Otoya berubah pikiran. Belum terlambat, pikirnya. Ia memang tak ingin Otoya bergabung dan membuatnya menjadi lebih sering berinteraksi dengannya, tapi ia lebih tak suka lagi jika Otoya hanya main-main dengan ucapannya.

"Musik? Aku sudah bilang tidak akan meninggalkan musik kan? Selain mengajar aku bisa menempuh cara lain kok."

"Apa itu?"

"Setiap manusia memiliki musik masing-masing. Musik itu terus bermain dalam hati kita saat kau tidak menyadarinya. Dan aku ada untuk melindungi musik itu."

"Aku tak mengerti. Kau mengucapkannya terlalu mengandung kiasan."

"Kau kan sudah mendengarkan hal ini saat aku tengah mengajar Hitomi. Musik memang tercipta keluar dari alat musik, tapi bukan berarti yang tak menguasainya tidak memilikinya. Saat musik keluar, orang lain akan dapat lebih memahami karakter kita. Musik di hatimu hanya kau sendiri yang paham tapi aku bisa mendengarnya."

"Tapi bagaimana jika kau terluka lalu kau tidak dapat memainkan alat musik lagi?" sergah Yuri.

"Tentu saja aku tak akan kalah dari mereka. Mana ada orang ingin terluka?"

"Optimis sekali. Tapi risiko itu tetap ada."

"Kalau begitu kita harus meminimalisir risiko."

Yuri menyerah. Otoya benar-benar sudah membulatkan tekad untuk menjadi pemburu, pikirnya. Ia rasa ada tujuan lain yang hendak dicapai Otoya tidak hanya demi mendapat dirinya saja, tapi ia tidak tahu apa itu. Yang jelas, sepertinya tidak sesederhana itu jika hanya ingin melindungi manusia dari vampir –yang Otoya konotasikan dengan kata musik tadi–. Heroik sekali. Tapi, itu tidak salah. Yuri lupa kalau Otoya memang lain dari para pembasmi yang ada. Alih-alih mengubah pikiran Otoya, justru Yuri-lah yang berubah pikiran. Kini, ia menjadi penasaran dengan kinerjanya. Alangkah baiknya jika selama bekerja dengannya, Otoya lebih termotivasi akan tujuan heroiknya daripada terlalu banyak memikirkan dirinya.

Yuri membawa Otoya ke ruangan di samping ruangan Shima. Ia pun mulai memandunya tentang isi markas. "Semua ruangan di lantai 2 ini lebih berfungsi sebagai kantor sedangkan lantai bawah adalah fasilitas. Pintu di depanmu ini adalah ruangan sekretaris. Setelah kau melaporkan hasil kerja secara singkat pada Shima langsung pagi harinya, kau wajib membuat laporan tertulis dan diserahkan kepada sekretaris, atau kau yang mengatakan laporan lengkap padanya dan ia yang akan mengetik. Biasanya batasnya 3 hari. Lalu di sebelahnya lagi ada ruangan akuntan dan keuangan, kau bisa minta gaji di sana."

"Akuntan? Kalo pos-pos pengeluarannya sih jelas tapi darimana sumber pendanaannya?" tanya Otoya.

"Mamoru Shima adalah seorang jutawan, ia memiki dua perusahaan besar dan juga bertindak sebagai CEO di salah satunya. Ia menyisihkan uangnya untuk organisasi ini yang juga ia miliki sepenuhnya. Selain itu, kadang-kadang kami menerima klien."

"Klien? Bukankah vampir sendiri dan organisasi ini tidak diketahui oleh publik?"

"Tidak semua saksi mata atau orang-orang yang terlibat dan pernah bersinggungan langsung dengan vampir mau diajak kemari. Mereka lebih memilih menyerahkan urusan pemburuan pada kami yang lebih ahli daripada menempa diri untuk misi pribadi dengan bergabung di sini. Dan mengejar serta mendeteksi vampir yang bersangkutan membutuhkan perhatian khusus sehingga kami bisa mengabaikan yang lain. Karena itu mereka membayar kami."

"Oke, lanjut ke ruangan lain," kata Otoya.

Mereka berjalan lagi semakin ke dalam. Tiga ruangan tadi dekat dengan tangga di serambi utama saat mereka pertama masuk ke dalam gedung. Lalu, Otoya melihat pintu besar.

"Ini Ruang Pertemuan. Segala hal didiskusikan di sini: Info terbaru soal vampir, presentasi hasil riset, rapat administrasi, rapat koordinasi, dan macam-macam. Notulennya disimpan di sana." Yuri menunjuk koridor di samping ruangan itu, mereka lalu berjalan di koridor tersebut.

"Ini ruang arsip dan perpustakaan. Laporan pemburu, laporan hasil riset, notulen rapat, segala catatan tentang vampir dan literaturnya berada di sana. Kau mau masuk?"

"Tidak, terima kasih," jawab Otoya. Ia tidak terlalu suka membaca, apalagi kalau sudah berhadapan dengan buku-buku.

"Kau tidak suka membaca? Lalu bagaimana kau bisa mendapat beasiswa untuk sekolah di luar negeri?"

"Aku kan jenius yang hanya ada dalam 100 tahun."

Yuri menghela napas. "Oh iya, tadi kita melewati pusat informasi dan deteksi. Sebelum menerjunkan pemburu, orang-orang bagian ini terlebih dahulu mencari target buruan di dalam ruangan itu. Pembersihan lokasi biasanya pembasmi yang lakukan tapi mereka juga berperan untuk menutupi jejak lainnya. Misalnya saja konfirmasi soal hilangnya Hitomi."

Yuri lalu mengajak Otoya turun di tangga kecil di ujung koridor. Otoya melihat halaman belakang yang sangat luas. Ia juga melihat koridor lain yang sepertinya masih berlanjut semakin ke belakang, padahal lantai di atasnya sudah habis.

"Ruangan yang sejajar dengan perpustakaan di atas adalah gymnasium. Agar tubuh selalu fit, para pembasmi sangat dianjurkan untuk berolahraga. Tapi, gymnasium itu terbuka untuk seluruh karyawan yang ingin fitness. Lebih ke depan lagi, kira-kira sejajar dengan ruang pertemuan, ada semacam klinik untuk mengobati para pembasmi yang terluka. Kadang kita tak semudah itu pergi ke rumah sakit karena dokter mungkin akan bertanya macam-macam tentang luka misterius yang kita dapat. Selain itu biaya pengobatan di sini gratis, sudah termasuk faslitas. Dokter di sini memiliki rekam medis masing-masing pembasmi. Misalnya saja kau pernah terluka tiga kali di bagian yang sama, nanti mereka akan menasihatimu dan juga melaporkan perkembangan tubuhmu ke Shima. Namun, sekali lagi sebenarnya fasilitas ini boleh juga digunakan oleh karyawan lain hanya saja pembasmi tetap diutamakan. Jika memang lukanya sudah tingkat berat, kamu tetap akan dirujuk ke rumah sakit."

Mereka lalu melanjutkan berkeliling ke belakang. Kali ini, Yuri membuka pintunya. Otoya bisa melihat hamparan matras di lantainya. Ia tahu ruangan yang ia masuki adalah sebuah sasana.

"Hai, Asou!" kata seseorang menyapanya.

Yuri melihat dua pria tergeletak di matras dengan badan penuh keringat. "Kano, Tajima, ternyata kalian di sini?" Ia lalu berjongkok. "Bagaimana perburuan kalian kemarin?"

"Vampirnya ternyata ada dua. Satu berhasil kami basmi tapi yang satu lagi meloloskan diri. Membasmi satu saja sudah membuat kami kerepotan apalagi dua. Karena kesal, kami bermain di sini," jawab orang yang berambut disemir coklat.

"Menurutku itu sudah hasli bagus, Tajima," komentar Yuri.

"Hei, siapa dia?" tunjuk Tajima ke Otoya yang celingukan mengamati keseluruhan sasana.

"Dia anggota baru di sini," jawab Yuri.

Tajima memperhatikan penampilan Otoya yang cukup elegan dengan jaket kulit berwarna merahnya. "Kau mengajaknya berkeliling ya? Apa dia akuntan atau pustakawan baru?"

"Kenalkan namaku Kurenai Otoya, mulai sekarang aku menjadi rekan Yuri," sambung Otoya.

Kano yang dari tadi berbaring langsung bangkit duduk. Ia terkejut. "Kau pembasmi? Tidak kelihatan seperti itu. Tapi benar juga sih, siapa lagi orang yang direkrut bekerja di sini pada malam hari selain pembasmi."

"Aku jadi ingin mencobanya," sambung Tajima.

"Ini bukan penyambutan spesial untuk anak baru kan? Nanti akan ada waktunya ia diuji," kata Yuri.

"Hei apa yang kau bawa itu?" tanya Kano pada Otoya.

"Ini?" kata Otoya mengangkatnya. "Kotak biola."

"Wow. Kamu pemusik?" kata Kano. "Tapi, kurasa biola tidak cocok dengan image pembasmi. Terlalu lembut, tidak sangar"

Otoya tersenyum. Ia membuka kotaknya dan mengeluarkan biolanya. "Kau suka musik Rock? Aku bisa memainkannya dengan biola," tebaknya melihat Kano memiliki tato bergambar tengkorak di lengannya.

"Hah?"

"Kau mau lagu apa? Queen? Rolling Stone? Van Halen? Led Zeppelin?"

Ketakjuban Yuri bertambah lagi. Ia kira Otoya hanya mengenal musik klasik.

"Memang biola lebih dicirikan untuk musik klasik. Tapi biola juga cocok untuk progressive rock. Akan lebih bagus dengan biola listrik, bukan seperti biola yang kubawa ini. Gitar dan biola kan alat musik sejenis dengan dawai, kau kira tak cocok ya? Kau pernah dengar Electric Light Orchestra? Mereka adalah Symphonic Rock Group. Kau tahu band bernama Kansas dan Crimson King? Mereka juga punya personil violinist," kata Otoya. "Coba dengarkan!"

Otoya pun mulai unjuk gigi. Ia menggesek senarnya dengan kencang dan berjingkrak-jingkrak. Ia menambah ketakjuban penontonnya dengan teknik menggesek ke belakang. Biolanya ia pindahkan ke balik punggung dan ia menggeseknya tanpa melihat. Ia juga memegang biola dengan pose seperti orang memetik gitar. Biolanya sejajar dengan perut dan ia menggeseknya ke arah bawah. Lalu ia mengakhirinya dengan gerakan berlutut seperti pesepakbola yang berlari gembira setelah melesakkan gol lalu terpeleset sambil membuka tangan kemenangan.

"Bravo!" seru Kano. "Daripada menjadi pembasmi, kau jadi penghibur tetap saja di sini agar kami tidak stres."

"Oh, kamu harus membayarku dengan spesial whisky paling mahal jika aku harus beralih status profesi menjadi badut di sini." Otoya menunjuk Kano dengan busurnya.

"Hahahaha... Kau orang yang sangat menarik, Kurenai," Kano tertawa. "Aku Harada Kano. Dia rekanku, Takenori Tajima."

"Pembukaan perkenalan yang bagus, Kurenai. Tapi jangan harap kami melunak saat disuruh untuk mengujimu di ruangan sebelah," sambung Tajima.

"Ruangan apa?" tanya Otoya.

"Sasana khusus," jawab Yuri. "Didesain gelap gulita untuk membiasakan indera dalam menghadapi vampir yang memiliki kecepatan di malam hari. Shima bisa menyaksikannya dari balik kaca susu yang dilengkapi teknologi infra merah."

Otoya tersenyum. "Sasana gelap ya? Itu menguntungkanku."

"Kau bermaksud sombong?" kata Tajima.

"Bukan. Pada dasarnya aku lebih lemah dari kalian yang lebih terlatih dariku. Tapi, entah kenapa firasatku mengatakan justru aku lebih sanggup mengatasi kalian di sana daripada di ruang terang ini jika kekuatan kita setara," jawab Otoya.

Ada apa gerangan, pikir Yuri. Apa Otoya masih menyimpan kelebihan lain?

"Senang berkenalan denganmu, Kurenai. Kau belum selesai berkeliling kan? Nanti kita akan punya banyak waktu untuk mengenal lebih," kata Kano.

"Sama-sama," kata Otoya memasukkan biolanya.

Tadi Shima, dan sekarang Otoya begitu mudah akrab dengan pasangan Tajima-Kano? Mungkin karena awal perkenalannya lewat dirinya yang sesama pemburu bukan lewat Shima yang lebih formal yang biasanya lebih ditanggapi dingin. Terutama Tajima, dia langsung ingin menjajal kemampuan pemburu baru. Awalnya, Yuri sempat khawatir Otoya akan dicap sok oleh Tajima. Tajima bukan orang terkuat di Aozora, pikir Yuri. Di antara sesama pembasmi laki-laki, Yuri menilai kekuatan mereka seimbang. Kami semua sama-sama berlatih dari nol di sini. Terlebih lagi, Tajima akan respect dengan orang yang sudah mengalahkannya. Mungkin Kano sudah tertarik dengan Otoya karena pengaruh musiknya, tapi Tajima belum tertarik sampai Otoya bisa mengalahkannya di sasana gelap. Yuri berpikir bahwa beberapa tahun ke depan pastilah Shima berusaha merekrut orang-orang yang lebih ahli bertarung dan memang berlatar belakang beladiri.

Yuri pun mengajak Otoya keluar. Mereka berjalan kembali.

"Hei, dengan orang lain kau tidak sedingin ini," kata Otoya. "Kamu setahun lalu lulus SMA kan? Usiamu belum ada 20 tahun, cerialah sedikit. Nanti kau cepat kelihatan tua. Apa masa lalumu dengan vampir sekelam itu?"

Yuri menghentikan langkah Ia menoleh pada Otoya. "Tolong, jangan bicarakan itu."

"Baiklah, aku tak memaksamu untuk menceritakannya. Tapi, kau harus lebih sering tersenyum. Itu senam muka yang paling sederhana. Kujamin akan membuatmu lebih cantik"

"Gombal!" kata Yuri merengut.

"Kano juga sama kan? Aku tak tahu motivasinya menjadi pembasmi, tapi aku senang bisa membuatnya tertawa. Seharusnya seperti itulah kita menikmati hidup. Dia ada benarnya bahwa aku cocok menjadi penghibur kalian agar tidak stres. Hahaha..."

"Kau masih mau berkeliling tidak?"

"Ugh, oke," kata Otoya menurut.

Mereka lalu sampai ke pintu lainnya. Namun Yuri terdiam.

"Hei, kenapa?" tanya Otoya.

"Ini adalah laboratorium," kata Yuri akhirnya. "Sayangnya vampir saat tewas langsung berubah menjadi abu. Jika saja jasadnya bisa dibawa untuk divisum di sini mungkin akan banyak sekali yang banyak diungkapkan. Tapi, sampel darah bisa dibawa. Dan benar seperti yang dikisahkan dalam legenda, darah mereka memang mengandung semacam Bacillus dan ... yang membuat mereka tak tahan di bawah sinar matahari langsung dan benda-benda yang terbuat dari perak. Dari situ, lab bisa mendesain senjata khusus untuk menghadapi mereka. Sekarang kita ke gudang senjata."

Mereka melanjutkan berjalan menuju pintu lainnya. Sesuai namanya, gudang senjata adalah ruangan yang cukup berbahaya. Tidak seperti pintu lainnya, di samping pintu tersebut ada semacam alat untuk memasukkan username dan password. Yuri memencet tombol angkanya. Pintu kemudian terbuka, Otoya merasa takjub dengan kumpulan senjata yang tersusun berderet di rak. Ia pun mendekat.

"Ini senjata betulan ya?" tanyanya masih merasa takjub.

"Nyalimu tidak lantas ciut kan? Aku kan sudah bilang, kalau kau masih bisa mundur sekarang."

Otoya memandang senjata-senjata itu. Ia merasa ingin menyentuhnya, ingin segera mencobanya. Saat melihat tangannya terulur ke depan, ia menghentikan gerakannya. Ia lalu memandang telapak tangannya. Benarkah tangan ini mulai besok untuk memegang senjata? Ia merasa lagi-lagi ada sesuatu di kepalanya yang mendorongnya untuk menyentuh senjata itu, tapi seketika itu juga otak kanannya seolah mengingatkannya bahwa tangannya itu selama ini menggesek biola.

Yuri memperhatikan Otoya yang termenung dalam. Pandangan yang serius itu seolah belahan jiwa Otoya yang satunya, pikirnya. Ini penglihatan yang sama seperti saat Otoya hanyut dalam alunan musiknya di sekolah musik saat menunjukkan cara bermainnya pada Hitomi. Ketakjuban tadi bukan seperti tanda orang yang belum siap menggunakan senjata.

Otoya pun berkomentar. "Pistol-pistol ini apa bedanya dengan yang biasanya digunakan polisi?"

"Pelurunya berbahan perak."

"Bukankah memang berwarna perak ya?"

"Itu timah. Masa kau tidak tahu? Warnanya memang mirip sih," Yuri menggeleng-geleng. "Oh iya. Ada jenis peluru yang satu lagi, yaitu yang mengandung ultraviolet. Tapi jumlahnya belum banyak, untuk memproduksinya butuh biaya yang besar karena teknologi yang digunakan. Kalo peluru biasa, vampir sanggup menahan rasa sakit dan jika pelurunya dapat mereka keluarkan, mereka bisa melakukan regenerasi."

"Hei, bagaimana cara mengeluarkan peluru sendirian? Peluru kan bukan sesuatu yang bisa dicabut. Butuh dokter bahkan sampai operasi kan?"

"Salah satu pasangan pembasmi pernah melihatnya. Mereka mengira sudah membunuh vampir targetnya. Mereka mungkin lupa bahwa jika vampir mati, tubuhnya pasti berubah. Vampir itu berdiri, ia mengerang dan mengejan, lalu peluru itu perlahan keluar dari tubuhnya. Akhirnya mereka mengalahkannya dengan tebasan katana."

"Hii, seram." Otoya menjauhi senjata api dan beralih memperhatikan deretan senjata tajam. "Mata katana dan belati ini juga berbahan dasar perak?"

"Tentu saja."

"Kau lebih suka menggunakan belati ini kan?" kata Otoya mengambil salah satunya. "Bentuknya agak aneh dan bisa diutak-utik. Aku sudah menebak bahwa kalau cuma belati rasanya tidak efektif untuk menghadapi vampir, ternyata keluar rantainya."

"Kau tidak kesusahan dulu saat menggunakannya?"

"Untung rantai ini bisa memanjang dan memendek sendiri. Kalau langsung terjulur panjang, kita perlu terus menyesuaikan jangkauan dan itu repot karena gerakan vampir tak terduga. Cukup efektif untuk membuat vampir tercambuk, mungkin seperti katamu karena berbahan dasar perak. Sambil terus mencambuk, kita bisa terus mendekat –sekali lagi, ini diuntungkan dengan panjang rantai yang justru menyesuaikan kita– lalu menghujamkan belati pada jantung vampir. Begitu kan cara menggunakannya?"

"Hoo, tak kusangka kmu bisa langsung menguasainya," kata Yuri menyilangkan tangan di dadanya. "Lantas, kenapa Hitomi masih bisa kabur?"

"Melontarkan rantainya itu yang susah, aku belum terbiasa. Kadang tidak tepat sasaran," kata Otoya menggaruk kepalanya.

"Itu karena kau terlalu percaya diri padahal kau belum mengukur kemampuanmu. Dasar!" Yuri mengambil satu pistol dan selongsong peluru lalu mengajak Otoya keluar. "Kita lihat kemampuanmu menembak."

"Hei, tunggu. Jangan kau kunci aku di dalam," kata Otoya melihat Yuri bergegas keluar. Ia pun buru-buru meletakkan belati ke tempatnya.

Kali ini mereka keluar gedung, tepatnya di halaman belakang. Otoya melihat kertas sasaran bergambar lingkaran yang di dalamnya ada lingkaran lagi dan begitu seterusnya.

"Ini coba tembak!" kata Yuri menyerahkan pistol pada Otoya.

Kesempatan menembak ternyata datang sangat cepat, batin Otoya. Ia meletakkan kotak biolanya dan memegang pistol dengan kedua tangan, mulai fokus. Ia pun menekan pelatuk.

CKLEK...CEKLEK...

"Hei, Yuri. Kau belum memasukkan pelurunya ya?"

Yuri lalu menekan bagian ujung belakang atas pistol. "Meski tidak ada pelurunya, pistol kalo pelatuknya ditekan tetap akan mengeluarkan suara letusan. Begini deh kalau baru pertama kali memegang pistol. Safety Tokalev-nya dibuka dulu."

Otoya merasa malu, "Eh, iya." Ia lalu mencobanya sekali lagi.

DOR!

"Wow. Lingkaran kedua dari dalam," kata Yuri melihat letak lubangnya.

"Aku kan jenius."

"Oh ya?" Yuri berjalan ke pinggir lapangan, Otoya tidak tahu apa yang hendak dilakukannya. Ia lalu melihat bahwa papan sasaran itu kini bergerak ke kanan dan ke kiri. Sepertinya ada alat untuk mengaturnya. "Coba, sekarang tembak. Kecepatan itu baru level satu, yang diam tadi level nol. Kau tidak lupa kan bahwa target kita bergerak? Dan ingat bahwa kecepatan gerakan vampir tidak sama dengan manusia."

Hah? Setahu Otoya, di arena olahraga, tidak ada pertandingan menembak dengan sasaran yang bergerak. Otoya merasa gerakan papan itu masih lamban. Ia lalu berjalan cepat ke samping untuk mengikutinya.

"Hei, jangan seperti itu! Tetaplah di tempat," kata Yuri.

Otoya belum jadi menembak. "Lho, kalau target bergerak kita juga bergerak kan?"

"Kamu ini bego ya? Justru kalau kita diam di tempat, kita bisa fokus pada sasaran. Begitu juga dengan posisi tubuh saat menembak, sikap berdiri seperti kau awal tadi adalah posisi dasar. Coba misalnya papan itu berada di seberang kirimu dan kau menembak dari titik ini tidak perlu menunggu papan itu sampai di depan. Apa kau langsung bisa? Tidak juga kan? Nah, kalau semua fokus sasaran sudah dikuasai dan kau bisa menembak dari derajat sudut berapapun, saat tubuh ikut bergerak bahkan berlari, tembakanmu tak akan meleset. Kalau diam saja belum bisa menembak apalagi berlari. Kau kira menembak itu asal tekan pelatuk? Itu sih balita pun bisa. Kamu tidak bisa menembak asal-asalan, itu namanya penghamburan peluru."

"Wah, kau sangat pintar rupanya," puji Otoya.

"Itu baru teori. Secara praktik, aku baru bisa menembak di kecepatan level tiga dari lima. Penguasaan berbagai sudut tembakan aku juga belum bisa. Makanya aku lebih memilih menggunakan belati berantai tadi. Kalau katana, terbatas hanya jarak dekat. Padahal kecepatanku belum bisa mengimbangi vampir untuk mendekatinya. Kau juga pasti akan menemukan senjata yang lebih cocok untukmu."

Otoya menghela napas. Ternyata menjadi pemburu itu sulit.

Yuri mengambil pistol dari tangan Otoya. "Aku sudah menunjukkan semua ruangan Aozora. Sekarang pulanglah, Latihan menembaknya dilanjutkan besok, tadi aku hanya ingin menunjukkan sedikit cara kerjanya," katanya.

Otoya lalu menenteng kembali biolanya. "Kalau begitu, ayo kita pulang," katanya melingkarkan lengan di bahu Yuri.

"Kita? Pulang saja kau sendiri!" kata Yuri mengenyahkan tangan Otoya.

"Ini sudah malam, berbahaya cewek pulang sendirian. Jangan-jangan nanti kau dimangsa vampir."

"Aku bisa jaga diri. Tempat paling berbahaya bagiku adalah tempat di mana ada kau di dekatku." Yuri lalu mengacungkan pistol ke kepala Otoya.

"Hei kau bercanda kan?"

Otoya mendengar bunyi klik tanda Safety Tokalev dibuka untuk tembakan berikutnya. "Balik kanan!" seru Yuri galak.

Otoya menurutinya.

"Jalan!"

"Hei, Yuri, sampai ketemu besok ya?" kata Otoya menoleh.

"Aku bilang jalan." Yuri menembak rumput di dekat kaki kiri Otoya.

"Iya deh..." Otoya pun meninggalkan Yuri.

Sial, mengusirnya sekarang pun ia akan kembali besok, keluh Yuri. Padahal tadi ia sempat serius ternyata perilakunya sama saja. Tapi Yuri menyadari satu hal. Meskipun bodoh dan kikuk saat memegang pistol tadi, Otoya menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan menguasai teknik menembak dengan cepat. Tembakan pertama saja sudah lingkaran kedua dari dalam. Jangan-jangan tadi ia bermaksud berlari karena memang sudah bisa? Selain itu, meski lontaran rantainya masih meleset, tapi ia tahu jelas cara menggunakan belatinya. Tampaknya ia juga tak mengada-ngada sanggup mengalahkan Tajima di sasana gelap. Seperti kata Shima, tampaknya benar bahwa Otoya memiliki potensi besar.


Sudah beberapa hari ini Otoya mulai membiasakan diri di Aozora. Serelah hari kedua ia menjalani serangkaian tes psikologi dan kesehatan, ia pun mencoba melatih tubuhnya di sasana dengan menghajar sand sack. Ia berhati-hati agar jarinya tidak terluka. Jika capek, ia akan duduk sambil bermain musik. Membosankan, pikirnya. Tidak ada Yuri di sini. Kata salah seorang pegawai yang berkenalanan dengannya, Yuri memiliki pekerjaan lain di siang hari. Dan memang, para pembasmi tidak menjadikan profesi itu menjadi pekerjaan utama. Lalu, mengapa siang hari itu Otoya sudah rajin berada di markas?

Otoya tiba-tiba menghentikan permainan biolanya saat melihat seseorang masuk ke sasana.

"Kurenai-san, Anda di sini rupanya," kata pria itu menegurnya. "Saya mendengar suara biola Anda. Anda tidak bekerja?"

"Pekerjaan terakhirku adalah mengajar seorang vampir. Dan sejak saat itu, aku belum kembali ke Akademi."

Orang itu mengangguk. Ia sudah mendengar kabar Otoya mengapa ia ditarik menjadi pembasmi baru. "Kalau begitu, bisa ikut saya ke perpustakaan? Bagaimana pun saya harus menjelaskan pada Anda mengenai seluk-beluk vampir."

Otoya mengernyit. Sebelum ini ia pernah ke perpustakaan bersama Yuri. Yuri bermaksud untuk menjelaskan soal vampir padanya. Saat mereka duduk berhadapan dan Yuri menaruh beberapa buku serta arsip di atas meja, Otoya pun mulai fokus. Fokus pada wajah Yuri yang terlihat cantik di matanya saat mulai berbicara. Dan Yuri pun tersadar, bahwa yang diperhatikan Otoya bukan penjelasannya. Ia lalu berteriak memanggil Kazuo Yamada, pustakawan yang berada di sana, melimpahkan tugasnya begitu saja kepadanya. Yuri pun pergi dengan kesal setelah menampar Otoya. Yamada mencoba memahami situasi dan tetap bersikap ramah terhadap Otoya. Ia pun memperkenalkan diri dan hendak masuk ke topik pembicaraan, Otoya mulai bertanya. Pertanyaan seperti berikut: Sejauh mana kau kenal Yuri, apa saja yang menjadi favortinya, di mana rumahnya, dan pertanyaan lain sejenisnya. Dari Yamada-lah, Otoya tahu bahwa Yuri kerja di sebuah kafe yang juga kafe langganan bos mereka. Yamada mengaku tak begitu mengenal Yuri, ia hanya bisa menilai bahwa Yuri tipe cewek dingin dan mandiri. Tapi ia punya kunci arsip para pembasmi yang memuat masa lalu dan latar belakang mereka. Dan Yamada mengetahui semuanya. Karena itulah, pria itu selalu tersenyum ramah pada siapa pun dan berusaha memahami kehidupan para pembasmi dan pekerjaan mereka yang berat. Ia pun tak keberatan mengenal Otoya lebih jauh dan segala keunikan lain yang dimilikinya.

Dan karena kala itu waktu justru lebih banyak dihabiskan Otoya dengan saling mengenal dan pertanyaan-pertanyaan di luar konteks, Yamada malah belum menjelaskan apapun tentang vampir. Dan mereka berjanji lagi untuk bertemu. Namun, Yamada menemui kesulitan karena Otoya tampak selalu menghindari perpustakaan.

"Sesekali Anda harus membaca," lanjut Yamada. "Tapi, okelah. Nanti saya saja yang akan lebih banyak menjelaskan."

Otoya pun berdiri. Ia menyeka keringatnya dengan handuk lalu mengikuti Yamada naik ke lantai atas. Yamada lalu menujukkan bagian-bagian rak buku di sana. Pertama, mereka ke rak yang memuat literatur tentang vampir, fiksi maupun nonfiksi. Beberapa belum diterjemahkan ke bahasa Jepang. Otoya lalu mengambil sebuah buku berbahasa latin yang sepetinya cukup tua. Ia melihat gambar-gambar yang cukup mengerikan baginya, ada yang berupa sketsa vampir pria menggigit leher seorang wanita di sofa, ada yang berupa gambar monster bersayap dengan brutal memangsa hewan ternak, ada yang berupa seorang berjubah panjang dengan latar belakang kastil kuno. Otoya mengenali bahwa itu cerita-cerita sejak zaman kuno.

Yamada lalu menunjukkan rak berikutnya, berupa kumpulan file vampir yang selama ini diburu Aozora. Ia mengambil satu dan memperlihatkannya pada Otoya. Bagian yang Otoya buka langsung menunjukkan Hitomi. Ia melihat foto Hitomi yang menggunakan gaun putih seperti malam terakhir mereka bertemu dan berpose anggun dengan biola. Ia membaca tulisan di bawahnya, beberapa informasi identitas yang sudah didapatkan dan tertuang di dalamnya sama dengan yang Otoya tahu mengenai Hitomi, disebutkan juga ciri-ciri dan pola makannya sebagai vampir yang menggunakan biola untuk menghipnotis mangsa, daftar korbannya, dan keterangan terakhir bahwa hasil akhir dari perburuan itu adalah Hitomi kabur atau lolos. Ia melihat keterangan tambahan mengenai siapa pembasmi yang saat itu memburunya, ia melihat nama Yuri dan keterangan tambahan bahwa dirinya menjadi saksi mata.

Otoya lalu membuka beberapa halaman sebelumnya, ia melihat foto seorang pria bernama Kaoru Tsugami. Ia mencoba mengingat-mengingat bahwa pria ini sepertinya tidak asing di matanya. Dan saat membaca informasi serta keterangan di bawahnya, ternyata lagi-lagi kebetulan saja ia selalu membuka file vampir yang diburu Yuri, bahwa Kaoru adalah vampir yang sempat ia kira sebagai pria yang sepertinya telah mencampakkan Yuri sehingga gadis itu seolah ingin membunuhnya. Otoya pun tersadar. Jadi malam itu aku telah membantu meloloskan seorang vampir?

Saat Otoya hendak mengembalikan buku-buku yang dipegangnya, Yamada mengisyaratkan bahwa buku itu dibawa saja ke meja biar ia nanti yang mengembalikan ke posisi semula. Rak berikutnya adalah kumpulan hasil-hasil riset. Otoya langsung pusing membayangkan berbagai angka ilmiah tertuang di dalamnya. Lalu, mereka ke kumpulan notulen rapat. Rak itu memiliki pintu kaca dan terkunci, sama halnya dengan rak arsip yang berisi data-data kepegawaian yang di dalamnya termuat juga file pembasmi. Tampaknya, hanya bos Shima yang boleh mengaksesnya.

Akhirnya mereka pun duduk.

"Anda bisa bahasa latin, Kurenai-san?" tanya Yamada menunjuk buku yang dibawa Otoya.

"Ah, aku hanya tertarik dengan gambarnya. Tapi, aku bisa sedikit bahasa Perancis, Jerman, dan Italia. Kau sudah tahu kan bahwa aku selama lima tahun pernah berkelana di Eropa."
"Wow. Berarti Anda sudah familiar dengan mitos-mitos ini bukan?"

"Aku hanya tahu saja. Jadi tidak terlalu terkejut."

"Berarti benar yang saya dengar bahwa Anda mengagumkan."

"Haha, tentu saja."

"Kalau begitu, saya ingin tahu terlebih dahulu apa saja yang Anda ketahui tentang vampir. Nanti saya akan meralat dan menambahi."

"Sebenarnya aku hanya tahu mitos yang umum sih. Bahwa mereka berwajah pucat, memiliki taring yang bisa disembunyikan kecuali saat hendak memangsa, lemah terhadap sinar matahari langsung, tak tahan dengan benda-benda berbahan perak, tak doyan bawang putih, immortal, dan tentu saja meminum darah. Tapi ada mitos lain yang juga berkembang di Rusia, Rumania, dan Inggris bahwa penampakan vampir tidak seperti itu, begitu pula dengan berbagai variasi mengenai asal-muasal mereka. Pernah dengar Upir, Drakula, Warlock, dan Elizabeth Bathory? Yang jelas kesamaan dari semua mitos itu adalah bahwa mereka mengkonsumsi darah manusia."

"Anda bahkan bisa menyebutkan bahwa ada perbedaan mitos di berbagai belahan Eropa. Mungkin bagi saya dan semua pembasmi yang asli besar di Jepang ini hanya tahu mengenai mitos lokal saja. Mitos-mitos yang Anda katakan tadi baru saya temukan setelah membaca kumpulan literatur di sini."

Berarti Aozora benar-benar seperti baru belajar mengenal vampir, pikir Otoya. Di Eropa, mungkin saja mitos vampir ada yang didiskusikan di Universitas. Dan, ia hanya sekedar dengar dari teman-temannya sesama pelajar di sana. Apalagi teman-temannya itu memang ada yang dari Rusia, Rumania, dan Inggris. Sesekali saat mengobrol, tidak selalu membicarakan musik kan? Ia malah bertukar cerita dengan menjelaskan mitos hantu Jepang seperti Hanako, Yuki-Onna, Oni, dan sebagainya. Tapi hebat juga ya orang Jepang sampai mengetahui keberadaan vampir dan membentuk organisasi ini. Atau jangan-jangan di belahan negara lain juga ada semacam Aozora?

"Lalu," kata Otoya. "Seperti apakah bentuk vampir yang sesungguhnya? Dan apakah kaum ini terorganisir? Ada kan mitos yang menyebutkan kedudukan vampir bangsawan atau pangeran vampir, bahwa mereka bertingkat-tingkat, dan memiliki Coven, semacam perkumpulan."

"Kami pernah mencoba menyelidiki keberadaan mereka di siang hari," Yamada lalu membuka file Kaoru Tsugami. "Direktur Perusahaan Fuudo ini pernah terlihat berjalan di siang hari, waktu itu saat turun dari mobilnya di perusahaan lain, sepertinya ada rapat yang tak bisa ia tinggalkan. Ia berjalan dengan cepat berusaha menghindari sinar matahari langsung yang bisa mengenai kulitnya. Sepertinya tidak ada yang menyadari bahwa dari lehernya keluar asap putih."

"Leher?"

"Bukan. Saat itu ia mengenakan sarung tangan dan topi. Pastinya ia sudah mempersiapkan diri bahwa akan keluar gedung pada siang hari yang terik. Di perusahaannya sendiri, ada kanopi besar di depan lobi untuk menurunkan penumpang dari mobil."

"Jadi bisa disimpulkan bahwa vampir itu ternyata tidak tidur di peti mati pada siang hari."

"Peti?"

"Ada kan mitos seperti itu?"

"Ah, saya mungkin belum membacanya," ungkap Yamada malu. "Yang jelas, bisa disimpulkan bahwa orang yang mengenakan kelengkapan pakaian seperti ini di cuaca yang sangat panas kemungkinan besar adalah vampir. Dan benar bahwa vampir bisa terbakar di bawah matahari. Namun karena mereka ternyata tetap bisa melenggang di siang hari, kami menyebutnya Daywalker. Sedangkan riset dari laboratium menunjukkan adanya bakteri porphyra dalam darah mereka yang memang membuat mereka lemas di bawah matahari. Namun, anehnya vampir yang kami temui dapat menyembuhkan luka dengan cepat jika bukan karena perak. Padahal, seharusnya bakteri itu justru membuat luka sukar menutup, itu seperti penyakit kelainan darah pada manusia. Mengenai bawang putih juga belum ditemukan kebenarannya. Soal ciri-ciri lain seperti yang tadi sudah Anda sebutkan. Lalu soal pucat, kondisirnya mirip dengan manusia biasa yang tampak tidak sehat. Dalam kondisi Daywalker, susah membedakan manusia dengan vampir kecuali mereka dalam kondisi half-way."

"Half-way?"

"Anda sudah pernah menghadapi vampir. Anda pasti tahu."

"Apa itu bola mata merah, urat nadi leher yang mencuat terlihat sampai ke pipi, taring, dan kuku yang menajam?"

Yamada mengangguk. "Benar. Half-way hanya terlihat saat vampir hendak memangsa atau marah saat bertemu pembasmi."

Ya, ia pernah menghadapi Hitomi. Namun yang membuat Otoya ingat justru vampir terakhir yang ditemuinya di Shinjuku pada malam ia ke Aozora. Saat itu jika bukan marah karena harus menghadapi pembasmi berarti vampir itu benar-benar hendak memangsanya? Pantas saja, rasanya ia begitu ketakutan.

"Sebentar!" seru Otoya. "Apa yang terjadi dengan direktur itu sekarang? Sepertinya aku pernah melihat berita di TV bahwa ada direktur yang menghilang. Apa kalian memburunya lagi dan berhasil membasminya?"

"Itu dia, Kurenai-san. Kami belum bisa mendapatkan alasan dengan jelas. Tidak hanya pada Kaoru Tsugami, tapi semua vampir yang pernah lolos dari kami. Mungkin ini terkait dengan yang Anda katakan bahwa kaum vampir terorganisir. Mungkin saja mereka memiliki peraturan bahwa vampir tidak boleh sampai ketahuan oleh manusia, bahwa mereka terus menyembunyikan identitasnya di tengah-tengah manusia. Mungkin saja ada yang menghukum mereka."

Ya, Hiromi tak pernah muncul lagi di Akademi. Ia sendiri merasa tak nyaman karena sepertinya semua orang di sana mencurigainya. Itulah mengapa saat siang hari begini ia seperti menganggur dan memilih menghabiskan waktu di Aozora. Tapi, urusan dengan polisi terkait dengan korban-korbannya yang sebelumnya pasti sudah dibereskan oleh Aozora.

Ia lalu berpikir kembali. "Mengenai penghukuman itu, kurasa tidak. Hitomi lebih takut dengan kaum pembasmi daripada lolos jika memang ia juga akan mendapat hukuman serupa dari pemimpinnya. Bagaimana jika mereka justru melindunginya? Mungkin saja ia tetap dihukum tapi setelah itu mereka dilepas dengan identitas baru atau muncul setelah sekian lama orang mulai melupakan mereka."

'Mungkin saja. Dua tahun lalu, ada vampir yang mengamuk di laboratorium kami..."

"Kalian pernah menangkap vampir hidup-hidup?" potong Otoya terkejut.

"Bukan," kata Yamada tiba-tiba berkata pelan.

"Ada apa?"

"Mungkin sama seperti kami yang dendam pada kaum vampir yang sudah memangsa keluarga atau orang-orang terdekat yang kami kenal. Pasti ada juga vampir yang demikian. Bisa saja ia vampir yang salah satu keluarganya pernah kami basmi. Dan entah bagaimana caranya, mungkin saja ia lalu mengumpulkan informasi tentang kami, dan balas dendam. Saat itu, laboratorium kami masih terpisah dengan markas. Hanya seperti pusat penelitian biasa di mata masyarakat. Ia membunuh sebagian ilmuwan kami yang memang sedang berada di tempat kejadian dan seorang petugas keamanan. Semenjak itu, belum pernah ada lagi vampir yang seperti itu lagi, Kami berkesimpulan demkian. Mendengar perkataan Anda, saya jadi berpikir bisa juga ia datang bukan karena motivasi balas dendam. Bisa saja ia memang diperintah oleh vampir yang pangkatnya di atas untuk membuka perang terhadap kita."

"Vampir itu pergi begitu saja? Bagaimana kalian tahu itu perbuatan vampir?" Otoya tak tahu ada berita pembantaian misterius sepert itu. Pasti diberitakan di media. Dua tahun lalu, ia masih di Eropa.

"Ada saksi hidupnya."

"Tadi kau bilang ia membantai semua orang yg ada di tempat."

Tenggorokan Yamada seperti tercekat. Ia seharusnya tidak menggiring Otoya sampai ke sana. Tapi Otoya nampaknya terlalu jenius dan selalu menarik pertanyaan ke depan, seperti soal organisasi vampir yang sampai sekarang belum pernah terpikirkan. Yamada meyakini bahwa Aozora masih fokus membangun kekuatan dan baru bisa melenyapkan vampir-vampir yang tampak di permukaan. Belum pernah ada yang tanya sampai sejauh itu dan sepertinya malah Yamada yang seperti belajar banyak dari Otoya. Dan Yamada takut Otoya bereaksi lain karena...

"Asou Yuri."

"APA?" Otoya begitu terkejut sampai berdiri.

"Ia sepertinya cemas dengan ibunya yang terlambat pulang malam itu karena memang kami tengah mengerjakan sebuah proyek riset. Ia datang untuk membawakan bekal makan malam. Di depan, ia bertemu salah seorang petugas keamanan masih hidup dan berkata vampir padanya sebelum menghembuskan nafas terakhir. Ia lalu melihat seseorang berlumuran darah keluar dari halaman dan melesat dengan motornya. Vampir itu sepertinya tidak menyadari kedatangan Yuri barusan atau memang ia sengaja melewatkannya."

Otoya menggeram, ia mengepalkan tangannya. "Kurang ajar. Jadi itu sebabnya, Yuri..."

"Ibu Yuri, Asou Akane, adalah teman dekat Tuan Mamoru Shima. Bisa dikatakan, ia juga termasuk salah satu pendiri Aozora. Kami mencoba menutupi peristiwa ini dari media. Dan Yuri minta penjelasan akan semua itu, ia tak tahu bahwa ibunya terlibat dengan organisasi berbahaya. Shima pun terpaksa merekrutnya. Sampai sekarang Yuri pasti masih mencari vampir itu. Ia melihat ciri-cirinya bahwa vampir itu mengenakan jaket kulit dengan logo seperti bidak catur."

"Catur?"

"Tidak jelas. Yuri sendiri menamai vampir itu Knight untuk memudahkannya menyebut. Mungkin itu mengacu pada motif logo yang ia lihat. Kami pun mencatat datanya di file nomor tiga," kata Yamada menunjuk sampul depan berkas vampir yang ada di meja. Itu berkas terbaru, nomor enam.

"Vampir seperti itu tidak pantas disebut Knight," kata Otoya duduk kembali. "Memang begitulah, Kurenai-san. Khusus para pembasmi, memang mereka mempunyai pengalaman pahit yang membuat mereka bertahan di pekerjaan berbahaya seperti ini. Saya hanya seorang pustakawan, namun saya berusaha memahami mereka. Tapi Anda berbeda, sangat berbeda. Sebagai partner Yuri, saya harap Anda bisa membuatnya lebih banyak tersenyum."

"Tentu saja, tanpa kau minta." Aku yang akan menjadi Knight bagi Yuri, pikirnya.

Tapi bagaimana jika memang vampir itu memiliki motivasi yang pertama disebutkan? Bagaimana mengatasi dendam demi dendam yang berkelanjutan? Otoya mencoba berpikir betapa naifnya dirinya. Ia bisa berpikiran seperti itu karena memang tak pernah mengalami seperti yang lain di sini. Mungkin benar, aku tak bisa merasakannya, tapi bukan berarti aku tak mau mengerti. Ah, lebih baik pembicaraan dilanjutkan saja, batinnya.

Otoya lalu membuka buku berbahasa latinnya tepat di halaman yang terdapat gambar seperti monster kelelawar. "Bagaimana dengan bentuk vampir yang seperti ini? Mitos atau sungguhan?"

"Saya hampir lupa menjelaskannya." Yamada berdiri dan mengambil file nomor empat. Ia membuka-buka halaman dan menemukannya. Lalu, menyodorkan pada Otoya. "Kami menyebutnya Chimera."

Otoya memperhatikan gambar yang ditunjukkan Yamada dan membandingkannya dengan gambar yang ada di buku. Hanya berupa sketsa tangan, mungkin saat kejadian tidak ada yang membawa kamera. "Mirip. Apa ini jenis vampir yang sama atau monster lain?"

"Ya. Ini baru pernah kami temui sekali. Chimera begitu kuat. Bahkan, menurut Endo, pembasmi yang selamat saat itu, Chimera lebih seperti hewan buas. Ia menyerang membabi-buta, benar-benar serampangan, tak terlihat kecerdasan vampir seperti kondisi sebelum berubah. Kulitnya sulit dilukai dan ia sanggup terbang. Pasangannya, Saori, tewas. Endo berhasil membunuhnya dengan susah payah dan sejak saat itu ia mengundurkan diri. Kami benar-benar kehilangan, apalagi proyek riset yang diserang vampir itu saat kami tengah membuat senjata khusus untuk menghadapi Chimera. Namun, seperti yang Anda lihat, Aozora tidak menyerah."

"Tidakkah itu sangat kebetulan? Kalian bertemu Chimera dan saat membuat senjata kalian diserang."

"Memang. Tapi itu hampir berselang setahun."

"Bidak catur," Otoya mencoba berpikir. "Tidakkah itu menujukkan pangkat? Bagaimana jika vampir memiliki sebuah kerajaan besar yang terdiri dari Raja dan para Checkmate Four-nya?"

"Masuk akal. Karena sebelumnya bahkan kami tidak sampai terpikirkan tentang sebuah organisasi yang mewadahi mereka, perkara Knight ini pun sampai terlewatkan. Kita harus segera mengumpulkan informasi dan bukti-buktinya."

"Lalu, apa yang membuat vampir berubah menjadi Chimera?" Otoya ingat Shima pernah menyebut kata Chimera dan berkata bahwa ia kehilangan pembasmi.

"Hal itu belum diteliti lebih lanjut Kemungkinan besar karena terdesak. Sepertinya, vampir memiliki semacam kekuatan bawah sadar yang bisa terlepas dengan sendirinya. Jika dilihat dari kondisi Chimera yang kehilangan akal dan kesadaran, mungkin saja para vampir sendiri tidak menginginkannya. Makanya kasus ini sangat jarang terjadi."

"Kupikir karena nafsu makan yang besar sehingga vampir kehilangan kontrol atas dirinya."

"Benar juga. Naoto Furuhata, sang vampir, sejauh ini adalah vampir yang daftar korbannya paling banyak jika ditelusur. Bahkan, pola makan antara korban satu dengan korban lainnya sangat berdekatan."

"Memangnya rata-rata vampir yang sudah kalian buru selama ini, pola makannya bagaimana?"

"Tiga korban dalam sebulan, bahkan kurang dari itu. Tapi kasus Naoto ini paling menggegerkan masyarakat karena lima orang tewas dalam sebulan." Yamada lalu membaca file Naoto sekali lagi. "Ah, benar. Di sini disebutkan, bahwa Naoto sudah dalam kondisi sakaw saat ditemukan. Ternyata memangsa manusia bisa berubah menjadi seperti kecanduan."

"Seram," Otoya merinding. "Mengingatkanku akan kasus Jack The Ripper di Inggris. Jangan-jangan itu ulah vampir juga karena sampai sekarang tetap misterius."

"Jack apa tadi?"

"Ah, itu cerita dari temanku yang orang Inggris. Itu kasus pada akhir abad ke-19 di London. Jack membunuh lima wanita dengan kejam dalam beberapa hari. Jack The Ripper hanya julukan karena memang pelakunya tak pernah terungkap."

Berarti sosok vampir ada tiga, pikir Otoya menyimpulkan. Pertama adalah Daywalker, kondisi normal yang membuat mereka nyaris tidak bisa dibedakan dengan manusia kecuali bisa membuat mereka mengeluarkan asap di bawah sinar matahari. Lalu, Half-way yang menunjukkan identitas sejati mereka seperti di mitos-mitos (kebanyakan mitos bahkan hanya mengatakan taring saja). Dan yang terakhir adalah Chimera; monster bersayap kelelawar, berkulit kasar, dan bermuka buruk.

Melihat Otoya tampak berpikir, Yamada pun semakin terkagum-kagum dengannya. "Kurenai-san, rasanya tak banyak yang bisa saya ungkapkan pada Anda. Anda justru banyak menghadirkan cerita baru kepada saya seperti mengenai keberadaan organisasi vampir dan asumsi lain bahwa Chimera muncul karena pola makan yang terlalu rakus."

Otoya menggaruk kepalanya. "Itu hanya kebetulan saja aku tercetus demikian."

"Itu sudah sangat membantu sekali. Sekarang ini teori mengenai vampir masih banyak yang berdasarkan asumsi. Tuan Mamoru beruntung sekali mendapatkan orang seperti Anda."

Tadinya ia merendah tapi jika terus disanjung seperti itu Otoya akan merasa besar kepala, "Hahahaha... Memang aku jenius yang hanya ada sekali dalam 100 tahun."

Yamada pun ikut tertawa. "Benar, hahahaha..."

Tak ada orang lain selain mereka di dalam perpustakaan, dan tak ada yang merasa keributan mendengarnya. Yamada senang bisa bercanda dengan salah seorang pembasmi. Mana pernah ia merasakan aura seceria ini jika berbicara dengan pembasmi, apalagi ketika membicarakan vampir. Yang ada justru kesuraman karena pekerjaan mereka selalu berhubungan dengan darah dan kelamnya malam. Bahkan hawa dingin itu sudah terasa sebelum mereka memulai misi pertama karena pahitnya masa lalu mereka. Otoya memang belum diterjunkan. Ia jadi ingat betapa merdu suara biola yang ia dengat tadi, berharap hati Otoya tidak akan berubah gelap setelah menjalani pekerjaan ini. Ia pun meminta Otoya memainkan biolanya yang tadi ia potong.


"Shima-san," kata Yuri masuk ke ruangan bosnya. "Katanya Anda ingin menunjukkan hasil tes Kurenai Otoya pada saya."

"Tentu saja, kau kan pasangannya. Jadi, setidaknya kau harus tahu hal ini agar dapat bekerjasama dengannya."

Yuri memperhatikan wajah Shima yang tampak berseri-seri. Memangnya tes Otoya sebagus itu ya? "Lalu, seperti apa hasilnya?"

"Kita sekalian membahasnya di sasana khusus saja. Otoya sedang menjalani tes di sana. Dia diuji oleh Tajima."

"Sasana khusus? Bagaimana hasil di sasana biasa?"

"Biasa saja sebenarnya, Kano yang berotot besar membantingnya beberapa kali. Tapi tak terlalu buruk. Ia hanya perlu banyak latihan. Tekniknya masih kurang karena beladiri bukan basic-nya. Tapi, ia menguasai apa yang dipelajarinya dengan cepat. Kurasa ia punya bakat lain selain menjadi pemusik. Bakat yang tak pernah dikembangkannya."

"Oh," ucap Yuri pendek. Ia tak tahu harus berkomentar apa. Ia tak terlalu terkejut karena sudah melihat tanda-tanda akan kemampuan Otoya sebelum ini. Hanya saja ia masih tak ingin percaya. Dan jika memang Otoya sehebat itu, ia perlu penjelasan logis.

Seperti biasa, Yuri menyempatkan diri untuk ke markas pada sore hari sepulang kerja meski tak ada misi malam itu. Ia merasa masih perlu latihan dan rugi rasanya jika tak memanfaatkan semua fasilitas yang ada. Dan ia berharap tak menemukan Otoya di sana. Tapi saat membuka pintu sasana, ia justru melihat Otoya terduduk sambil memainkan biola. Meski mengintip, ia bisa melihat keringat yang menetes di leher Otoya. Yuri tak tahu apa yang Otoya lakukan sendirian. Setidaknya jika ada Kano atau Tajima, mungkin menarik melihatnya dihajar. Agar tidak ketahuan, Yuri pun pergi ke gym. Dan sepertinya Otoya tak terlalu suka ke ruangan itu. Memangnya latihan dua minggu ini sudah cukup ya untuk membentuk Otoya menjadi seorang pembasmi tangguh? Entahlah, semua serba cepat. Yuri sendiri juga dulu masih merasa belum siap hanya dengan gemblengan sebulan meski hatinya begitu menggebu-gebu untuk segera balas dendam. Tapi ia tahu bahwa vampir yang ia incar bukan vampir biasa.

Yuri memikirkan semua hal itu sambil berjalan bersama Shima. Mereka berdua masuk melalui pintu kecil seperti pintu untuk bagian staf di belakang panggung. Di dalamnya ada sebuah tirai besar yg menutupi kaca susu, kaca yang jika dilihat dari arah sebaliknya tampak seperti cermin. Dan cermin itu menghadap pada posisi di mana Otoya berdiri. Ia memegang tongkat sepanjang badannya yang ia ayunkan ke sana ke mari. Bukan ayunan sembarangan karena Otoya tengah menghadapi Tajima yang amat bernafsu mengalahkannya di dalam kegelapan. Shima dan Yuri lalu mengenakan sebuah google berlensa merah. Shima mematikan lampu ruangan tempatnya Yuri membuka tirai.

"Sepertinya ia sangat gesit dalam mengelak," komentar Yuri melihat Otoya.

"Kau ingin tahu alasannya?" tanya Shima.

"Ya. Apa hubungannya seorang pemain biola, pemuda mesum, dan pembasmi vampir?" kata Yuri tanpa basa-basi mengulang apa yang pernah dikatakan Shima dulu.

Shima tertawa. "Bisa kau kesampingkan hal pemuda mesumnya?"

"Berarti tetap ada pengaruhnya antara pemusik dan pembasmi?"

"Ya," jwab Shima. "Kau tahu cara memainkan biola?"

Yuri menggeleng. "Anda tahu?"

"Tentu tidak. Tapi bukan berarti aku tak membaca teorinya. Biola tak memiliki fret sebagai penanda jari seperti gitar. Kau tahu artinya?"

"Sebenarnya saya juga tidak bisa memainkan gitar. Tapi bukankah dengan adanya fret tersebut, nada kita tak akan meleset saat menekan senar?"

"Lalu bagaimana cara kita menghapal kunci-kunci nada pada biola?"

Yuri bingung. "Entahlah, pastinya perlu latihan keras."

"Benar. Pemain biola menggunakan ingatan otot jari tangan untuk menghapal nada. Selain melatih jari, pemain biola juga harus melatih telinga sehingga dapat membedakan nada-nada sumbang, walaupun hanya sedikit saja. Namun, itu semua bukan masalah bagi Otoya."

"Ia pasti mampu menguasainya dengan cepat bukan? Saya tak terkejut untuk soal itu."

"Otoya tidak belajar memainkan biola dengan metode yang umum digunakan. Metode umum untuk pemula yaitu dengan menandai letak nada pada biola antara lain dengan selotip yang ditempelkan pada leher biola, atau dengan menggunakan correction pen putih untuk menandai posisi jari. Setelah latihan dengan rajin, seorang pemula diharapkan akan dapat mengingat-ingat dan meninggalkan metode-metode di atas dan mengandalkan refleks saja. Dari hasil tes yang kudapat, Otoya memiliki kemampuan auditori yang sangat baik bahkan melebihi manusia biasa."

"Bisa tolong dijelaskan?" Kali ini ia terkejut.

"Biasanya kondisi itu dialami oleh orang buta yang ketajaman iramanya meningkat seiring proses adaptasi tapi Otoya memilikinya. Ia bisa merasakan suara sampai belasan desibel. Kau tahu artinya? Bunyi daun jatuh saja ukuran kenyaringannya sampai 33 desibel. Ini berarti Otoya bisa mendengar setiap detak jantung manusia yang berpapasan dengannya, bahkan suara desiran angin sekalipun. Kemampuannya menghapal nada berasal dari situ. Dan ketajamannya semakin meningkat seiring jumlah intensitasnya bermain biola. Kau tahu kan bahwa dalam menghayati permainannya, para pemain biola cenderung memejamkan mata? Dalam bermain biola mengetahui posisi jari bukan melalui penglihatan, tapi perasaan. Tapi apa kau lihat pemain gitar yang melakukan hal serupa? Tidak, belajar gitar dimulai dari fret. Untuk kunci-kunci tertentu mereka hapal, tapi untuk melodi mereka tetap harus melihat fret."

Jadi Otoya tak mengada-ngada saat ia berkata bisa mendengar musik di hatinya, pikir Yuri. Bukan, itu pasti konotasi untuk menyebut detak jantungnya. Berarti ia juga bisa tahu orang berbohong atau tidak dengan merasakan deru nafas dan mendengar deru jantung. Dan benar, kegelapan bukan masalah bagi Otoya. Ia pasti bisa mendengar setiap langkah dan gerakan Tajima.

"Tapi, unggul di kegelapan saja tidak cukup. Bagaimana dengan kecepatan reaksinya?"

"Jika sudah berhubungan dengan indera pendengar, Otoya memiliki reflek dan daya tangkap yang sangat tinggi. Begitu Otoya mendengar suatu lagu untuk kali pertama, ia akan langsung hapal nadanya dan dapat memainkannya dengan biola tanpa meleset sekali coba. Tes menembaknya juga di luar dugaan. Saat kau bilang ia langsung mampu menembak di lingkaran kedua itu kebetulan. Ia tak terlalu mengandalkan indera penglihatannya. Beberapa tembakan dalam kondisi papan yang diam di tempat tak membuatnya menembak dengan mulus, persentase keberhasilannya hanya 40%. Tapi saat papan itu bergerak, entah apa yang ia dengar, mungkin saja decitan mesin, atau bisa jadi sapuan angin, keakuratannya justru meningkat menjadi 85%. Ia bahkan bisa menembak dengan ikut bergerak dari arah berlawanan. Mungkin itu sama halnya dengan orang yang memiliki ketajaman penglihatan. Yang jelas, ia mampu membaca arah gerakan dari suara. Bahkan, ninja yang melompati dua pohon paling cepat sekalipun seolah menghilangkan bayangannya di balik dedaunan untuk mengelabui penglihatan tetap tak bisa menyembunyikan suaranya dari Otoya. Dan Otoya masih bisa membidiknya."

"Tapi tetap ada kelemahannya kan? Jika terlalu peka terhadap suara, bagaimana jika berada di ruang yang sangat berisik? Bukankah itu untuk menyamarkan suara?"

"Katanya Otoya pernah didesak untuk pindah jurusan menjadi konduktor karena bisa mengenali jenis suara yang dihasilkan alat musik apapun dan membedakan nada sampai sekecil apapun dalam harmonisasi orkestra. Tapi ia tidak suka hanya karena ruang berekspresinya kurang bebas sebab ia menciptakan lagu dengan mencoba-coba nada dan itu berarti ia harus menguasai seluruh alat musik terlebih dahulu. Ia tak bisa optimal jika harus lebih banyak menghapal not balok dengan membaca dan mencatat partitur. Jika memang ia jenius, aku bisa membayangkan ia akan menciptakan suatu harmoni musik dari suara-suara apapun yang masuk ke telinganya. Entahlah, mungkin suara deru mobil, suara orang yang sedang memperbaiki got, suara klakson, bahkan suara langkah pejalan kaki, dan sebagainya saar melintas di jalanan. Memang itu perlu sedikit konsentrasi agar ia tak merasakan sekedar kebisingan seperti yang kita biasa rasakan. Intinya, kamu tak bisa menyetel radio terlalu keras jika isi acaranya tidak dapat membuat kosentrasinya menjadi menikmati radio untuk berharap ia tak mendengarmu kabur saat membuka pintu depan. Semuanya tergantung konsentrasinya ke mana dan ia bisa menciptakan kondisi itu. Jika memang ia konsentrasi untuk mendengar setiap gerakan lawan, suara lain dapat dihalaunya. Jika memang ia memutuskan konsentrasi di banyak hal, ya itu bisa saja ia lakukan meski tetap ada jeda waktu yang ia perlukan untuk mengubah reaksi dari konsentrasi satu ke lainnya."

Menyusahkan kalau begitu, pikir Yuri. Jadi, aku bahkan tak akan bisa kabur meski mengendap-endap di balik punggungnya saat Otoya sedang menerima telepon sekalipun?

"Kinetisnya juga bagus meski tak sebaik auditorinya. Tadi kukatakan bukan bahwa hal dasar yang harus dimiliki untuk memainkan biola adalah ingatan nada dan ingatan otot jari?"

Yuri mengangguk. Ah, itu sama juga dengan orang buta yang mempelajari dan memahami sesuatu dengan meraba.

"Kau lihat bagaimana Otoya menghapal gerakan Tajima? Ia menyerap semua serangan yang mengenainya, Teknik bertarungnya masih di bawah Tajima, kita bisa menilai dari jenis serangannya yang cukup monoton. Namun ia cenderung oportunis dan tak pernah ragu-ragu dalam mengambil tindakan. Jika Tajima tak mengubah pola menyerangnya, Otoya akan selalu mengambil celah. Dan ia belajar bertarung dengan meniru gerakan Tajima, mencoba melakukan teknik yang sama. Dan dalam kegelapan, gerakan Otoya tentunya menjadi lebih sulit ditebak bagi Tajima. Sebaliknya, apapun gerakan Tajima, Otoya bisa mengantisipasinya dari faktor suara."

Sambil mendengarkan penjelasan Shima, Yuri pun semakin memfokuskan diri melihat Otoya yang dengan tangkas mengindari tebasan tongkat Tajima. Sambil mengubah posisinya, ia menghunuskan tongkatnya ke samping dan menyapu kaki Tajima hingga pria itu harus menghindar. Jika tak menghindar dan andai itu katana betulan, betisnya pasti pergelangan kakinya sudah lepas dari pahanya Tajima jatuh terlentang dengan bunyi gedebuk.

"Tapi kemampuan visualnya rata-rata," lanjut Shima. "Otoya tak begitu suka membaca. Seperti yang kukatakan tadi, ia tak bisa menghapal lagu dengan hanya membaca not balok. Saat masih SMP dulu, ia lumayan sering membolos jika gurunya mulai mengulang-mengulang materi yang masih tak dipahami teman-temannya di kelas. Ia juga membolos jika gurunya lebih menekankan muridnya untuk membuka buku daripada menerangkan di depan. Ia tipe yang begitu saja mengekspresikan apa yang tak ia suka dan ia suka, benar-benar orang yang apa adanya, jujur, dan sangat terbuka. Yang jelas, saat membolos itu ia juga sempat terlibat beberapa tawuran. Mungkin kemampuan berkelahinya sedikit terasah karena hal ini."

Otoya menunggu Tajima berdiri. Ia sendiri merasakan beberapa memar di sekujur tubuhnya karena terkena pukulan tongkat tapi belum pernah Tajima membuatnya terjatuh. Mendengar saja tidak cukup, pikir Otoya. Ia sadar bahwa ia lebih banyak menghindar dan menangkis daripada membalas serangan Tajima. Semua serangan balasannya hanya karena memanfaatkan celah yang terbuka sesekali tapi selalu kena. Namun seiring ia menghapal setiap serangan yang ia terima, ia semakin bisa membuahkan serangan lain dengan menirutunya. Awalnya, Otoya monoton menebas secara vertikal ke bawah dan horizontal di daerah badan. Sebaliknya, Tajima banyak melakukan variasi seperti menusuk dengan ujung tongkat, menebas secara diagonal yang menyerang batas bahu dan leher, menebas ke atas, menebas kaki, menyelinap ke belakang lawan. Sebelunnya, Tajima mulai frustasi karena tebasannya seolah hanya membelah udara akibat Otoya selalu menghindar plus refleknya secepat serangannya datang. Otoya pun merasa harus cepat menyudahi latihan ini. Ia harus cepat menghapal dan meniru gerakan Tajima. Dan gotcha! Ia akhirnya membuat lawan tersungkur duluan.

Dari balik kegelapan, ia akhirnya merasakan Tajima memasang kuda-kuda kembali. Tajima pun menebaskan tongkatnya dari arah samping. Saat Otoya menghindarinya –dengan mudah– , Tajima mencekal lengan Otoya.

"Eit, kali ini serangan apa nih?" ujar Otoya. Mereka kan sedang menggunakan senjata? Otoya mulai memahami hal baru kembali, bahwa meski demikian, menggunakan tangan kosong tetap masih bisa dipakai.

Tajima memelintir lengan Otoya dan berusaha untuk membantingnya. Tapi Otoya lebih cepat. Dengan menggunakan momentum mereka, Otoya mendarat di atas kaki, berputar balik, hingga berhadapan kembali dengan Tajima. Lalu, ia yang baru saja mempelajari sesuatu kembali dari Tajima, langsung menarik singlet pria itu. Dengan satu gerakan manis, Otoya melompat ke belakang, dan dengan bantuan kakinya yang menjorok dada Tajima, ia melemparnya ke seberang.

"Oi, Tajima. Bagaimana jika sampai di sini saja?"

"Tidak," erang Tajima sambil berusaha berdiri.

"Apa maksud dari pelajaran ini?"

"Ketekunan," tukas Tajima. "Dan kesabaran dalam melawan musuh yang tidak tahu bahwa dirinya sudah kalah. Vampir selalu begitu, terlebih lagi dalam kondisi Chimera."

Tajima berusaha memukul Otoya dengan ujung tongkatnya. Lagi-lagi Otoya mampu mengindari serangan itu dengan mudah. Kali ini ia mencengkeram pergelangan tangan Tajima, memutar tangannya hingga tongkatnya terlepas, lalu menyikut dagu Tajima dengan cukup keras sehingga Tajima tahu bahwa Otoya bisa melakukannya. Selanjutnya, Otoya mengirim Tajima terbang lagi.

"Darimana kau pelajari gerakan itu?" tanya Tajima mengusap dagunya.

"Hanya mengingat cara berkelahi saat masih SMP," jawab Otoya enteng.

Di ruangan terpisah, Shima menyalakan lampu dan melepas google-nya. Tajima bisa melihat cahaya dari balik kaca susu yang menandakan bahwa tes sudah cukup dan selesai. Yuri pun ikut melepas google. Yuri mencoba menyimpulkan. Jadi, Otoya memiliki kelebihin auditori dan kinetis seperti orang buta? Yuri ingat saat pertama kali mencoba latihan di sasana khusus itu. Ia harus belajar menjadi seperti orang buta namun Otoya sudah memiliki bekal itu. Yuri menilai bahwa untuk saat ini Tajima tetap lebih berpengalaman. Semakin banyak pembasmi terjun dalam pertempuran maka kemampuan dan instingnya akan semakin meningkat. Jika mereka mengulang duel kembali di sasana satunya, bisa jadi Otoya kalah seperti saat melawan Kano. Namun seperti kata pepatah, practice make a perfect, Otoya pasti akan melampaui Tajima bahkan semua pembasmi di sini setelah beberapa bulan jika dilihat dari potensi tersembunyi yang memicu perkembangan pesatnya. Sepertinya, hasil keseluruhan tesnya sudah jelas. Oh iya, ada satu hasil yang belum disebut.

"Bagaimana dengan tes kesehatan?' tanya Yuri.

"Ia sangat prima,".jawab Shima. "Ada sedikit keanehan pada struktur tulangnya, aku tidak tahu secara tepatnya Yang jelas, hal itu justru membuat ketahanan tubuhnya sangat tinggi. Ia kuat menerima banyak serangan dan masih dapat berdiri."

Shima lalu mengangkat kepalanya tanda baru ingat sesuatu, "Soal apa hubungannya dengan pemuda mesum, bagaimana kalau langsung kau tes saja?"

Yuri tersenyum girang mendengarnya. Ia melihat Shima mengedipkan mata kirinya sebelum keluar ruangan. Tak lama, Otoya muncul dari balik pintu penghubung antara ruangan tempat Yuri berada dengan sasana tadi.

"Hai, Yuri. Kau pasti terpesona denganku tadi kan?" kata Otoya dengan nada mesumnya.

Yuri menoleh pada Otoya. "Belum."

"Wah, kalau begitu aku harus menunjukkan yang lebih hebat lagi," katanya semakin bergairah. "Mumpung aku masih dalam kondisi panas."

"Berarti kau tak keberatan kan?" tanya Yuri.

"Oh, tentu saja. Mari kita lanjutkan tes kekuatan pria di sasana. Tajima sudah keluar. Atau kalau kamu tak suka, kita pindah tempat saja di rumahku."

Yuri mengernyit. Pasti apa yang dipikirkannya sangat berbanding terbalik dengan apa yang dimaksudkan Otoya. Ia pun pura-pura merasa terbujuk."Aku senang kalau kau mau lanjut."

"Benarkah?"

"Tutup matamu."

Otoya pun menuruti Yuri. Ia sudah senyam-senyum dari tadi dan semakin bersemangat saat mendengar bunyi klik tanda saklar lampu kembali dimatikan. Namun bukan kecupan yang didapatnya, ia malah mendengar suara lemari terbuka, Yuri tampaknya mengambil sesuatu dari sana. Lalu ia mendengar bunyi gesekan yang beradu dengan logam seperti sebuah katana yang dilepas dari sarungnya. Otoya pun langsung menghindar saat suara desing logam yang menyibak udara itu mendekat dan melewati kepalanya.

"WHOAA! Apa-apaan ini, Yuri?" seru Otoya membuka mata.

"Lho? Katanya masih mau lanjut? Belum lelah kan?" tanya Yuri masih pura-pura tak tahu. Ia lalu menyodorkan ujung katana sejajar dengan mata Otoya dan menyerupai titik. Otoya bisa melihat kilat pedang itu yang menandakan ketajamannya. Ia pun mundur sampai ia masuk ke dalam sasana kembali.

"Itu katana tahu? KATANA!" kata Otoya mencoba mengingatkan. Bukan itu maksudnya/

Yuri tersenyum sambil terus melangkah maju, "Tentu saja aku tahu karena itu aku mengambilnya."

"Jangan bercanda. Itu bisa membunuhku"

"Sudah kukatakan aku tahu itu dan aku memang ingin membunuhmu sekarang," kata Yuri terkekeh-kekeh. "Hindarilah kalau kau memang jenius, Otoya. Lawanlah aku, jangan segan-segan."

Yuri benar-benar ingin menguji Otoya sekaligus menguji dirinya sendiri apakah ia bisa terbiasa dan bertahan di dalam kondisi gelap ini. Ia ingin menguji kekuatan dan kekompakan mereka. Sementara itu, Tajima yang berada di depan wastafel untuk menyeka keringat mendengar teriakan Otoya. Ia lalu mengabaikannya, tersenyum yakin bahwa Otoya mampu mengatasinya. Shima yang sedang membereskan berkas Otoya di ruangannya juga mendengar jeritan itu. Dan ia merasa tak perlu mengkhawatirkannya. Ia percaya sepenuhnya kepada pasangan pembasmi yang baru tersebut.


Akira memperhatikan Yuri yang masih merengut dari sejak ia datang tadi. Ia takut jika suasana hati Yuri sedang jelek, nanti gadis itu bisa-bisa bersikap tidak ramah saat menghadapi pelanggan. Akhir-akhir ini memang Yuri selalu terlihat begitu, Akira tidak tahu permasalahannya. Yang ia tahu, kadang memang Yuri terihat mengantuk namun bukan karena suasana hatinya sedang jelek. Akira tidak pernah memaksa Yuri jika gadis itu masih kecapekan akibat pertarungan semalam. Ia tahu apa yang Shima dan Yuri kerjakan tapi ia tak pernah berkomentar apa-apa. Dan, jika saat Shima datang pagi ini hendak berdiskusi dahulu dengan Yuri, berarti malamnya akan ada pekerjaan lain yang menunggu Yuri. Namun, seingat Akira, sudah dua minggu ini Yuri tidak didatangi Shima secara khusus. Dan, anehnya, memang dalam dua minggu ini suasana hatinya tidak seperti biasanya.

Akira melihat jam dinding di atas perabotnya, masih ada 30 menit lagi untuk membuka kafe dan biasanya Shima akan muncul menarik pintu. Ia lalu mendengar gemerincing bandul kecil yang ia taruh di atas pintu, menandakan ada pelanggan yang datang. Akira menoleh, namun ia melihat pria lain yang masih muda. Dan pria itu mengenakan setelan jas, seperti kurang pas dengan usianya.

"Mald'Amour, kedengarannya nama yang indah. Tapi tahukah Paman apa artinya dalam bahasa Perancis?" kata pemuda itu.

Akira menggeleng. Sebenarnya ia tak terlalu tahu artinya. Ia hanya menemukan kata itu saat membuka-buka majalah di toko buku.

"Apa Paman sengaja menamainya? Mald artinya orang jahat, d' berasal dari singkatan de yang artinya dari, lalu Amour itu nama sebuah propinsi di Perancis. Akan lebih bagus jika namanya Maid'Amore atau Aimer. Artinya pelayan wanita yang akan melayani dengan penuh cinta," lanjutnya menjelaskan.

Akira mengangguk-angguk mengerti. Untung saja ia belum pernah kedatangan tamu asing yang benar-benar tahu arti kata itu. Ia baru membuka kafe dua tahun lalu. Dan, hey! Siapa orang ini? Selain Shima, tak akan ada orang lain yang membuka pintu yang masih bertuliskan "CLOSED." Lagipula, seingatnya tidak ada pelanggannya yang menenteng koper kecil berbentuk aneh seperti itu.

"Ah, di mana bidadariku? Kurasa ia orang yang sangat rajin bukan? Tidak mungkin ia belum datang," katanya lagi sambil melihat sekeliling.

Bidadari? Apakah yg ia maksud adalah Yuri? Akira mencoba berpikir bahwa jangan-jangan orang itu adalah penguntit yang selama ini telah membuat Yuri resah. Jadi dia biang keladinya?

"Aku dengar kafe ini juga kafe langganan bos bukan? Kurasa sebentar lagi ia akan kemari mengingat kebiasaannya yang sudah kudengar."

Bos? Langganan? Kenapa orang ini bisa tahu Shima?

"Keluar kau, Otoya!" kata Yuri yang muncul dari dapur sambil membawa baki logam yang hendak ia layangkan pada Otoya. Yuri memukul-mukul Otoya dengan baki itu dan Otoya pun menahannya dengan tangan.

"Paman, ia mau mengusir pelanggan," kata Otoya menatap Akira.

"Pelanggan apa? Kau tidak lihat bahwa kafe ini masih tutup?" seru Yuri semakin bertambah kesal.

"Hanya kurang 30 menit lagi. Kalau belum siap, aku akan menunggu," jawab Otoya.

"Darimana kau bisa tahu kafe ini?"

"Yamada."

"Apa?" Kenapa Yamada harus memberitahu Otoya, keluh Yuri.

"Bukan. Ia tak memberitahu nama kafenya kok. Bos bilang aku disuruh kemari untuk tahu apakah ada pekerjaan atau tidak."

Aha, pikir Akira sambil menepuk tangannya. Pemuda ini pasti rekan baru Yuri. Tapi, kenapa Yuri harus kesal ya?

Otoya mendekat ke meja bar. Ia menarik kursi dan duduk menghadap Yuri. "Bukankah semalam kau sudah mengakuiku?"

Yuri tersipu. Sebenarnya ia sendiri juga masih meraba-raba dalam kegelapan. Dan, tampaknya Otoya masih ingat perkataannya sebelumnya bahwa ia sendiri tak begitu mahir menggunakan katana. Tapi Yuri serius menebaskannya karena ia yakin Otoya mampu menghindarinya. Otoya akhirnya memukul pergelangan tangan Yuri dengan tongkatnya sehingga katana-nya terlepas. Dan dalam ruangan seperti itu, Yuri sebenarnya sangat takut bahwa Otoya mungkin akan menyerangnya...dalam arti yang lain. Tapi, Otoya meraih lengan Yuri, membuatnya berdiri, dan mengusap pergelangan yang ia pukul tadi dengan lembut. Yuri pun spontan berkata bahwa besok ia sudah bersedia menerima Otoya.

"Kau lupa kalau kita sudah menjadi sepasang kekasih?" kata Otoya lagi.

Mendengar itu, Yuri langsung melempar bakinya ke muka Otoya, membuatnya terjungkal dengan kursinya. "Siapa yang bilang begitu? Aku menerimamu sebagai rekan tahu! Dan, dengan alasan itu, aku mengizinkanmu kemari. Jika sampai pukul sembilan nanti, Shima tidak datang, kau harus keluar dari kafe ini."

Otoya menyentuh hidungnya. "Lho? Kau mengakui kelembutanku kan? Aku tak akan menyerang wanita yang tidak siap." Ia segera berdiri dan menarik kedua tangan Yuri lalu menggenggamnya kuat-kuat. "Kemarin kau mungkin tak siap, tapi malam ini pasti kau mau jika kuajak sekali lagi."

"Sinting!" Yuri berusaha melepaskan diri dari Otoya. Kenapa di otak cowok ini hanya ada masalah itu saja? Tidak bisakah ia berhenti mengejarnya?

Akira bingung melihat kejadian itu. Pantas saja suasana hati Yuri selalu jelek. Pasti pemuda ini baru bergabung dua minggu lalu, pikirnya. Ia rasa ia tidak pantas mencampuri urusan anak muda, tapi Yuri jelas tak mau dipaksa.

Suara gemerincing bandul kecil kembali terdengar, kontan ketiga orang di dalamnya menoleh melihat siapa yang datang.

"Hoo, kalian berdua sudah bersemangat rupanya," kata Shima.

"Pagi, Shima-san," kata Akira menyapa temannya.

"Pagi, bos," kata Otoya semangat. Saat perhatian Otoya teralihkan, Yuri menarik tangannya dengan keras hingga terlepas dari genggaman cowok itu. Otoya lalu menoleh pada Yuri. "Tuh, apa kubilang."

Yuri tetap tidak suka dengan keadaan itu. Rasanya ia menyesal telah mencoba melunak pada Otoya semalam. Shima pun duduk di dekat Otoya, ia memesan secangkir kopi pada Akira. Saat Akira tengah meracik kopi, Shima berbicara lagi dengan kedua pemburunya.

"Otoya, jika memperhatikan sifatmu, aku yakin kaulah yang paling tepat untuk diserahi misi kali ini."

"Oh, bos memang paling mengerti aku. Kurenai Otoya siap untuk misi malam ini," kata Otoya menunduk dan memberi hormat dengan tangan kanan yang ia dekapkan ke dada.

Yuri sendiri sebenarnya tidak pernah bisa sabar untuk mendengar apa misi kali ini jika Shima sudah mulai menyinggungya Tapi karena ada Otoya, ia berusaha menahan diri. Nanti jangan-jangan Otoya akan berpikiran macam-macam bahwa ia mau segera beraksi dengannya. Padahal bukan itu.

"Kau pasti pernah ke Roppongi," lanjut Shima.

Yuri mendelik mendegar hal itu. Roppongi? Apa ia tidak salah dengar? Itu kan kawasan "panas" di Tokyo yang dipenuhi oleh klub dan para host maupun hostess. Kawasan yang juga didatangi remaja putri yang ingin mendapatkan uang dalam semalam. Kawasan penuh motel murah. Kawasan yang juga dipenuhi bar-bar dan hentakan house music sampai pagi menjelang. Kawasan yang menjadi lokasi pengambilan gambar untuk Japan Adult Video. Kawasan yang juga menjadi tempat pertemuan Yakuza dan adu balap mobil jalanan. Dan, tentunya kawasan yang menggeliat di malam hari seperti itu sangat cocok untuk vampir.

Otoya menggerak-gerakkan jarinya dengan meletakkan siku di atas meja. "Roppongi ya? Sudah lama aku tak ke sana. Aku lebih suka ke Ginza atau Shinjuku, hiburannya lebih berkelas. Apa vampirnya salah satu gigolo yang ada?"

"Kamu sudah bisa menebaknya. Beberapa pelanggan di klub yang bernama Dendrodium menghilang. Kemungkinan besar, vampirnya hanya satu orang. Mereka biasa menghilang di minggu pertama dan ketiga."

"Aku mau melakukannya dengan senang hati. Tapi, pasti ada uang untuk membayar mereka bukan? Gadis-gadis itu kadang rewel dan mampu membujuk untuk mengeluarkan biaya lebih demi menyenangkan mereka."

"Biaya penyelidikan pasti ada. Tapi, kau bisa patungan dengan Yuri." Shima lalu menggeser duduknya dan memandang Yuri. "Kau bersedia menyamar kembali? Nanti uang yang kau dapat dari hasil melayani bisa diberikan ke Otoya untuk membayarnya. Jadi ada perputaran uang di sana, biayanya tidak besar. Lagipula, akan lebih mudah dan cepat untuk mengawasi siapa yang kira-kira mencurigakan jika bersama-sama melihat dari sudut pandang berbeda."

Yuri belum sempat menjawab karena Otoya menyelanya, "Hoo, aku pasti akan memesanmu selalu."

"Otoya," ujar Shima. "Kalian tidak boleh terlihat saling kenal. Kau akan memesan yang lain dan Yuri akan melayani yang lain." Ia kembali lagi pada Yuri. "Ini bukan penyamaran pertamamu, tapi mungkin lebih berat. Jika kau keberatan, aku bisa menyuruh Otoya sendirian."

"Bukan begitu," tukas Yuri. "Saya justru ragu Anda memberikan misi ini kepada Otoya. Orang seperti dia justru akan terlena di dalam klub dan malah mudah terbunuh bukannya memancing vampir keluar." Ia ingat bagaimana Otoya mampu berpindah dari satu wanita ke wanita lain dengan cepat saat ia menjumpainya di Shinjuku.

"Bukankah ini misi yang bagus untuk menguji kesetiaannya?" jawab Shima pada Yuri. Shima tadi sebenarnya hendak berbisik tapi ia tahu bahwa Otoya pasti akan mendengarnya. "Kalau memang ia melupakan pekerjaan dan mudah terpikat dengan gadis lain, kurasa itu pantas untuk akhir hidupnya."

"Aku tak akan mengkhianatimu, Yuri," kata Otoya.

"Sejujurnya, aku justru ingin kau mati," jawab Yuri tajam lalu ia menoleh lagi pada Shima. "Saya anggap ini pengalaman. Menjadi gigolo itu hanya menemani bicara sebatas duduk-duduk saja bukan?"

"Kurasa demikian. Aku juga belum pernah ke sana," Shima mengerti kecemasan Yuri. Ia melirik Otoya yang menerawang ke atas dan tersenyum seolah tak sabar untuk pergi ke Roppongi. "Tanya saja padanya."

Mendengar itu, Otoya menoleh. "Mau kuajari tekniknya?" katanya mesum.

"Tidak sudi!" jawab Yuri langsung melempar pandangan ke Otoya sesaat.

Akira menyuguhkan secangkir kopi pada Shima. Shima mengangguk tanda berterima kasih. Ia menyeruputnya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan yen dari dompet di balik saku jasnya. Akira agak kaget melihat uangnya begitu banyak, ternyata uang itu diberikan pada Otoya, hanya recehan saja yang ia bayarkan ada Akira. Setelah selesai, Shima pun berdiri.

"Kalau begitu, aku mengandalkan kalian. Jika masih ada yang kurang jelas, sore nanti kalian bisa menghubungiku. Aku harus berangkat kerja sekarang," kata Shima melihat arlojinya. Ia menoleh pada Akira. "Sampai besok, Master."

Akira dan Yuri membungkuk menyalami Shima yang berjalan keluar dan mendorong pintu kafe. Sementara, Otoya masih terlihat sibuk dengan dirinya sendiri. Ia memandang uang yang dipegangnya dengan mata berbinar dan mulai membayangkan kehidupan malam nanti dikelilingi gadis-gadis. Tiba-tiba ia merasa kerahnya ditarik.

"Kenapa kamu masih di sini? Urusan pekerjaan sudah selesai kan?"

"Tak perlukah kita membicarakan taktik?" tanya Otoya.

"Aku tak punya waktu, ini sudah pukul sembilan. Pelanggan yang sebenarnya akan mulai berdatangan dan kau sangat mengganggu di sini." Yuri pun mendorong Otoya keluar.

"Hei, aku akan membeli sesuatu kok," kata Otoya tidak melawan.

Yuri terus mendorongnya dengan kasar sampai keluar pintu. Mereka berpapasan dengan seseorang yang mengenakan jaket kulit dengan motif bulu di kerahnya. Melihatnya, Yuri segera melepaskan Otoya dan membalik tanda "CLOSED" menjadi "OPEN" di pintunya. Otoya berbalik dan berusaha masuk kembali tapi ia dihalangi oleh orang itu.

"Nona, bisa saya bantu mengusirnya?" kata pria yang juga mengenakan kacamata berlensa coklat itu.

"Maaf merepotkan, tuan," jawab Yuri. Yuri berharap Otoya tidak membuat citra kafe Mald'amour turun gara-garanya. "Silakan Anda masuk saja."

"Tidak apa-apa," kata pria itu tersenyum. Ia lalu menarik punggung jas Otoya, mengangkatnya ke atas, dan melemparnya begitu saja seperti membuang barang.

Otoya mendarat dengan kedua kakinya meski terhuyung-huyung mencari keseimbangan. Ia melihat pria itu masuk dan pintu tertutup kembali. Otoya menilai kekuatannya melebihi Kano yang bertubuh kekar karena bisa melemparnya cukup jauh. Orang itu ramping tapi Otoya bisa merasakan struktur tulangnya yang besar dan kokoh. Otoya masih belum menyerah dan hendak kembali, sekaligus ia terlupa akan sesuatu.

"Ah, Yuri. Biolaku," katanya mendekat tapi dari dalam ia sudah disambut dengan lemparan kotak biola yang mengenai wajahnya. Kali ini ia tidak siap menerimanya. Dan, ia lebih khawatir biolanya mengalami kerusakan daripada wajahnya.


A/N: Kano, Tajima, dan Yamada adalah OC