I Don't Care

Cast: Kim Jongin, Do Kyungsoo, Park Chanyeol dan Byun Baekhyun

Pairing: Kaisoo

Genre: YAOI, Romance, Hurt/Comfort

Rating: T (mungkin)

Warning: OOC, typo, bahasa berantakan, alur yang terlalu cepat, bisa menyebabkan sakit mata dan mual-mual. Waspadalah!

Disclaimer: Maunya sih mereka itu punya saya, tapi fakta yang ada mutlak mengatakan kalau mereka itu punya Tuhan. Tapi cerita ini hasil dari otak saya sendiri. Jangan ditiru apalagi ngaku-ngaku. Kalau mau buat cerita pakai otak masing-masing. Intinya jangan nyakitin perasaan orang lain dengan tindakan yang tidak bertanggung jawab!

Summary: Do Kyungsoo akan tetap berusaha—walaupun sosok yang dicintainya tak pernah mempedulikannya.

.

.

Tulisan italic tanpa bold itu untuk flashback. Dan ada sedikit bacotanku di bawah, jika tidak berkenan membacanya bisa diabaikan, oke (y) hehehehe ^^

.

.

Chapter 7

.

.

Selamat membaca ;)

.

.

.

.

.

Bel istirahat sekolah baru saja terdengar beberapa detik yang lalu, namun hampir semua murid yang berada di kelasnya masing-masing sudah melangkah ke luar kelas dan singgah di kantin untuk mengisi perut mereka yang sejak tadi meronta minta diisi. Mengabaikan peralatan sekolah mereka yang masih berantakan di mejanya masing-masing.

Byun Baekhyun—sosok namja mungil bermata sipit—bangun dari duduknya setelah beberapa menit bel istirahat sekolah berbunyi. Dengan sebuah buku yang berada di tangan kanannya, ia hendak melangkah keluar kelas dan pergi menuju perpustakaan. Namun, belum sempat ia melangkah ia harus mengurungkan niatnya itu saat indera penglihatannya melihat sesuatu yang dua hari ini selalu membuatnya tidak nyaman.

Wajah muram seorang Park Chanyeol.

Ya… Sudah dua hari ini Baekhyun selalu melihat ekspresi muram yang terlukis di wajah tampan Chanyeol. Baekhyun tidak lagi melihat cengiran lebar yang selalu terulas di bibir Chanyeol dengan ekspresi wajah yang selalu ceria. Baekhyun juga tidak lagi melihat Chanyeol yang begitu hyperaktif setiap harinya. Sekarang Baekhyun hanya melihat sosok Chanyeol yang berubah menjadi pendiam dengan wajah muramnya.

Masih dengan posisi berdirinya, kedua mata sipit Baekhyun terus saja fokus mengamati Chanyeol yang saat ini tengah membenamkan wajahnya di atas lipatan tangannya sendiri. Menghela napas pelan, sebelum melangkahkan kakinya untuk mendekati Chanyeol.

.

.

.

Tubuh tegapnya sedikit tersentak ketika merasakan adanya tepukan pelan yang terjadi pada bahu sebelah kanannya. Mengangkat kepalanya dari atas lipatan tangannya, kemudian menolehkan kepalanya dan kedua matanya menemukan sosok namja mungil bermata sipit yang berada di sebelahnya. Besar kemungkinan sosok yang teridentifikasi bernama Byun Baekhyun itulah yang tadi menepuk bahu sebelah kanannya.

Chanyeol terdiam dengan fokus mata menatap wajah manis Baekhyun. Dan hal itu menghasilkan senyum canggung yang terulas di belahan bibir Baekhyun.

" C—chanyeol…" panggil Baekhyun gugup.

Chanyeol masih terdiam menatap Baekhyun. Namun detik berikutnya, kedua sudut bibirnya sedikit tertarik berlawanan yang menghasilkan sebuah senyum simpul terulas di bibirnya.

" Ya?" jawab Chanyeol seadanya.

Baekhyun terlihat membungkam bibirnya rapat-rapat dengan kedua tangannya yang saling bertautan, lantas kemudian meremasnya cukup kuat.

Chanyeol menaikkan sebelah alisnya saat melihat ekspresi Baekhyun saat ini.

" Baek? Ada apa?" tanya Chanyeol heran.

Baekhyun melepaskan tautan kedua tangannya seraya menghembuskan napas pelan. Dan setelahnya ia memerintahkan kepalanya untuk menunduk dengan fokus mata memandang sepatunya sendiri.

" A—apa aku boleh duduk di sebelahmu?" tanya Baekhyun pelan namun tak juga menghilangkan nada gugup dalam suaranya.

Chanyeol tidak merespon pertanyaan Baekhyun. Dan hal itu sukses membuat sosok namja mungil bermata sipit itu menghela napas kecewa.

" B—baiklah… Aku… A—aku akan per—"

" Silakan jika kau ingin duduk di sebelahku Baek," Chanyeol memotong ucapan Baekhyun.

Seketika Baekhyun mengangkat kepalanya dan menatap wajah tampan Chanyeol dengan kedua matanya yang sedikit membesar.

" A—apa?"

Chanyeol sedikit terkekeh ketika melihat ekspresi Baekhyun yang menurutnya sangat lucu.

" Aku mempersilakanmu untuk duduk di sebelahku Baekhyun…" sahut Chanyeol dengan lembut. Dan kali ini ia menunjukkan senyum manisnya pada Baekhyun.

Senyum manis yang Chanyeol berikan untuk Baekhyun seolah merambat, yang menyebabkan sosok namja mungil bermata sipit itu ikut mengulas senyum manis di bibirnya.

" Terimakasih," ucap Baekhyun dan segera mendudukkan dirinya di sebelah Chanyeol.

Selama beberapa menit hanya keheningan yang menemani keduanya. Baik Chanyeol maupun Baekhyun bersikap seolah-olah tak ada gunanya mereka saling berbicara. Hingga terdengar helaan napas berat, membuat salah satu dari mereka menoleh ke arah sumber suara.

" Chanyeol, kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun. Ia memutuskan untuk bertanya ketika indera pendengarannya mendengar helaan napas berat yang berasal dari sosok di sebelahnya.

Semula Chanyeol memandang papan tulis yang ada di depannya, tapi kali ini ia membawa pandangannya untuk menatap wajah manis Baekhyun yang ada di sebelahnya. Masih menatap lekat wajah manis Baekhyun, sebelum fokus matanya ia alihkan untuk menatap kursi yang tengah Baekhyun duduki.

Baekhyun mengikuti arah pandang Chanyeol dan menemukan jika Chanyeol tengah menatap kursi yang berada di bawah bokongnya. Baekhyun ingat sesuatu.

" A—ah, Kyungsoo…" ucap Baekhyun.

Chanyeol mendengar apa yang Baekhyun ucapkan, tapi ia lebih memilih untuk mengabaikannya dan tetap fokus pada apa yang tengah dipandangnya.

" Terakhir kali Kyungsoo masuk kelas, ia terlihat sangat berbeda. Wajahnya begitu pucat ditambah cara berjalannya cukup aneh. Apa… Ada sesuatu yang terjadi pada Kyungsoo?" tanya Baekhyun. Ia berharap kali ini Chanyeol tidak mengabaikannya.

Lagi-lagi Chanyeol menghela napas berat. Mengalihkan pandangannya dari kursi yang tengah diduduki Baekhyun dan memilih untuk kembali menatap wajah manis Baekhyun. Namun kali ini, ekspresi kesedihan terlukis dengan jelas di wajah tampannya.

" Kyungsoo… Kyungsoo sedang dirawat di rumah sakit," ucap Chanyeol lemah.

Suara Chanyeol memang terdengar lemah, namun Baekhyun masih bisa mendengarnya dengan baik.

" APA?!" tanya Baekhyun. Nada suaranya sedikit meninggi karena ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Chanyeol masih menatap Baekhyun dengan raut kesedihan yang semakin mengental di wajah tampannya.

" Bagaimana bisa Kyungsoo dirawat di rumah sakit? Apa sakitnya begitu parah?" tanya Baekhyun khawatir.

" Aku tidak tahu sakitnya bisa dibilang parah atau tidak, yang jelas… Aku ingin Kyungsoo kembali seperti dulu."

Baekhyun memberanikan dirinya utuk menyentuh salah satu bagian dari tubuh Chanyeol. Dengan sebelah tangannya yang terangkat ke udara, Baekhyun dengan segera mendaratkan sebelah tangannya itu pada salah satu bahu Chanyeol lantas mengusapnya dengan pelan dan ragu-ragu. Ia takut Chanyeol menolak sentuhannya.

Namun sudah beberapa menit terlewati, Chanyeol tetap membiarkan tangan mungil yang saat ini berada di bahunya bergerak naik turun dengan gerakan pelan. Ia tahu, Baekhyun bermaksud untuk menenangkannya.

" Boleh aku tahu penyakit apa yang tengah bersarang di tubuh Kyungsoo?"

Chanyeol menghela napas berat.

" Aku tidak tahu nama penyakit ini dalam bahasa kedokteran, karena dokter yang tengah menangani penyakit Kyungsoo pun tidak memberitahukannya. Yang aku tahu… Kyungsoo mengalami infeksi pada persendian kakinya yang sebelah kanan."

Baekhyun terdiam dan otomatis pergerakan tangannya di bahu Chanyeol pun ikut terdiam.

" Aku tidak mengerti," ucap Baekhyun jujur.

Chanyeol kembali menghela napas berat sebelum kembali membuka suaranya. Kedua matanya masih menatap lekat wajah Baekhyun dengan pancaran kesedihan di kedua bola matanya.

" Terdapat infeksi pada persedian kaki sebelah kanan Kyungsoo—" Chanyeol mulai menjelaskan dengan pelan. Dan Baekhyun terlihat serius mendengarkan apa yang akan Chanyeol jelaskan padanya.

"—dan infeksi itu menyebabkan luka dalam cukup parah di persendian kakinya. Hal itu yang menyebabkan Kyungsoo merasakan sakit yang amat sangat di kaki sebelah kanannya, bahkan ia tidak bisa berjalan. Ahh tidak! Jangankan untuk berjalan, untuk digerakkan saja kakinya tidak bisa," lanjut Chanyeol.

Baekhyun terdiam. Tubuhnya terasa kaku saat indera pendengarannya mendengar penjelasan yang Chanyeol berikan untuknya.

Do Kyungsoo. Teman yang—pernah—dekat dengannya, memiliki penyakit semacam itu?

Baekhyun lantas menggeleng-gelengkan kepalanya dan detik berikutnya ia sudah memerintahkan kepalanya untuk menunduk. Matanya tiba-tiba saja terasa memanas dengan buliran bening yang mengancam untuk keluar dari kedua mata sipitnya.

" A—apa penyebabnya? B—bagaimana bisa Kyungsoo memiliki penyakit semacam itu?" Baekhyun bertanya dengan suara paraunya. Ia benar-benar ingin menangis sekarang.

Chanyeol mengalihkan pandangannya dari Baekhyun. Menatap ke arah luar yang menampilkan lalu-lalang murid-murid yang lain. Ia rindu dengan kelakuan Kyungsoo yang terkadang kekanak-kanakan.

" Dokter yang menangani Kyungsoo mengatakan… Jika virus penyebab seseorang terkena flu yang menyebabkan Kyungsoo memiliki penyakit seperti itu…" jawab Chanyeol.

" Maksudmu?" tanya Baekhyun tak mengerti. Suaranya masih terdengar parau. Dan kepalanya refleks ia dongakkan lantas menatap Chanyeol bersamaan dengan setetes buliran bening yang mengalir dari kedua mata sipitnya.

Chanyeol menyadari sosok namja mungil bermata sipit yang ada di sebelahnya tengah menahan tangis, jadi ia segera menggerakkan kedua tangannya saat indera penglihatannya melihat buliran bening yang mengalir di kedua pipi Baekhyun.

" Jangan menangis, wajahmu terlihat tidak manis jika dihalangi dengan airmata ini…" ucap Chanyeol lembut dengan kedua tangannya yang masih mengusap airmata Baekhyun.

Baekhyun merasakan wajahnya ikut memanas ketika sosok yang ia cintai memperhatikannya, menyentuh wajahnya dan juga berbicara lembut padanya. Tanpa diperintah, bibirnya mengulas senyum tipis namun terlihat manis.

" Aku tidak mengerti Chanyeol…" ucap Baekhyun.

Chanyeol menghentikan pergerakan tangannya ketika dirasa tidak ada lagi airmata yang akan mengalir di kedua pipi Baekhyun. Dan kedua matanya kembali ia gunakan untuk menatap wajah Baekhyun.

" Sebenarnya aku juga tidak mengerti Baek. Mungkin sebelum-sebelumnya Kyungsoo pernah terkena flu dan dokter itu mengatakan, virus penyebab seseorang terkena flu harusnya keluar dari dalam tubuh Kyungsoo namun nyatanya virus itu mengendap di dalam tubuh Kyungsoo dan terus berkembang. Akibatnya virus itu menjadi luka dalam—dan persendian kaki sebelah kanan Kyungsoo lah yang menjadi tempat endapan virus tersebut yang menyebabkan Kyungsoo memiliki penyakit seperti itu."

Baekhyun sebenarnya masih tidak mengerti dengan apa yang Chanyeol jelaskan, tapi ia memilih untuk diam dan bertanya hal yang lain.

" Apa… penyakit itu berakibat fatal untuk penderitanya?" tanya Baekhyun.

Beberapa menit yang lalu ekspresi kesedihan Chanyeol sedikit berkurang di wajah tampannya. Namun kali ini, ekspresi itu kembali bertambah bahkan semakin mengental—membuktikan jika Chanyeol benar-benar sedih.

Selama beberapa detik Chanyeol hanya terdiam tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Baekhyun. Hatinya seolah teriris saat Baekhyun bertanya seperti itu. Ia tidak mau, bahkan tidak pernah mau jika Kyungsoo mengalami hal yang dokter katakan padanya. Sementara itu Baekhyun terlihat menatap Chanyeol khawatir. Ia benar-benar menyadari perubahan ekspresi Chanyeol.

Chanyeol kembali menghela napas berat, sebelum—

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"—penyakit ini bisa menyebabkan kelumpuhan untuk orang yang menderitanya…." jawab Chanyeol lemah.

Menegang dan kaku. Itulah yang Baekhyun rasakan pada tubuh mungilnya saat ini. Kedua mata sipitnya melebar bersamaan dengan bibirnya yang mengatup rapat. Ia tidak bisa mengeluarkan suaranya, bahkan ia tidak bisa membuka bibirnya. Ia terkejut. Amat sangat terkejut!

" L—lalu K—kyungsoo…" Baekhyun berucap dengan terbata. Ia memaksakan mulutnya untuk mengeluarkan suaranya walaupun sebenarnya ia kesulitan untuk mengucapkan kalimat tersebut.

" Aku belum tahu. Dokter yang menangani Kyungsoo mengatakan jika aku dan keluarga Kyungsoo harus melihat bagaimana perkembangan Kyungsoo. Jika semakin membaik, besar kemungkinan Kyungsoo akan sembuh. Jika tidak—" Chanyeol tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat dirasa tenggorokannya seperti dicekik dengan kuat oleh beribu tangan tak kasat mata. Dadanya lantas berdenyut nyeri dengan sesak yang mulai terasa.

Ia tidak mau Kyungsoo mengalami hal semenyakitkan itu.

Baekhyun sendiri kembali menumpahkan airmatanya. Ia tidak berniat untuk menyembunyikannya lagi, karena itu membuatnya semakin sesak.

" Kyungsoo…" lirihnya.

.

.

.

Detik terus berputar hingga berganti menjadi menit. Dan menit terus berputar sampai waktu limabelas menit terlewati. Dua sosok bergender sama dengan tinggi tubuh yang berbeda itu masih saja mengizinkan keheningan menyelimuti mereka. Seolah melarang sebuah percakapan untuk masuk ke dalam ruang lingkup mereka.

Sosok yang lebih mungil terlihat memejamkan kedua mata sipitnya dengan sebelah tangannya yang menutupi bibirnya. Dan sosok yang lebih tinggi terlihat menatap kosong papan tulis yang ada di depannya dengan sebelah tangannya yang terkulai lemah di samping mejanya.

Keduanya seolah tengah sibuk dengan dunia mereka sendiri. Namun apa yang ada di pikiran mereka saat ini adalah sama. Mengkhawatirkan sosok mungil bermata bulat yang memiliki nama kelahiran Do Kyungsoo.

Seperti tertarik kembali ke alam nyata. Chanyeol lantas membuka suaranya, walaupun tatapannya masih terlihat kosong.

" Baek…"

Baekhyun membuka kedua mata sipitnya yang terpejam. Menurunkan sebelah tangannya yang menutupi bibirnya, lantas menoleh ke arah Chanyeol.

" Ya Chanyeol," jawabnya pelan.

" Ada satu hal lagi yang belum aku katakan padamu…" ucap Chanyeol.

" Apa?"

Chanyeol menoleh dan menatap Baekhyun.

" Sekalipun Kyungsoo bisa sembuh…. Kakinya tidak akan normal seperti dulu."

" Maksudmu?" Baekhyun tak mengerti.

Chanyeol masih menatap Baekhyun.

" Kyungsoo bisa berjalan seperti biasanya, namun—" Chanyeol menggantung ucapannya. Dan ia melihat wajah Baekhyun yang menunjukkan raut penasaran.

" Namun?" ulang Baekhyun.

Lagi—Chanyeol menghela napas berat.

"—ia tidak akan sanggup menggunakan kakinya untuk melompat. Ia tidak akan sanggup menggunakan kakinya untuk berlari dengan cepat. Jangankan untuk melakukan kedua hal tersebut, untuk berdiri dalam jangka waktu yang lama pun ia tidak akan sanggup lagi. Di luar kakinya memang terlihat normal. Namun di dalam, kakinya seolah berpencar dari tempat asalnya," jelas Chanyeol.

Baekhyun tertegun lantas menundukkan kepalanya.

" Aku lebih memilih Kyungsoo seperti itu… Daripada kelumpuhan yang akan terjadi pada kaki sebelah kanannya…" lirih Baekhyun kemudian memejamkan kedua mata sipitnya. Hatinya langsung berdoa untuk kesembuhan Kyungsoo. Orang yang juga ia sayangi.

Chanyeol sedikit tersenyum seraya mengusap pelan helaian rambut Baekhyun dengan tangan sebelah kanannya.

" Kita doakan yang terbaik untuk Kyungsoo Baek…" ucap Chanyeol lembut yang dibalas anggukkan patuh kepala Baekhyun

.

.

Ryeoby Rin

.

.

.

.

Jongin menyampirkan salah satu tali tas punggung pada bahu sebelah kanannya dengan gerakan malas. Kepalanya tertunduk dengan fokus mata menatap tanpa minat pada sepatu yang tengah dikenakannya. Sedikit menghembuskan napasnya dengan kasar, kemudian mengangkat kepalanya yang tertunduk. Kedua matanya melihat ke seisi kelas yang sudah sepi. Lagi—ia menghembuskan napasnya dengan kasar sebelum melangkahkan kakinya untuk keluar kelas.

Langkahnya pelan dengan kepala yang kembali menunduk. Dan karena hal itu tidak jarang tubuh tegapnya menabrak tubuh orang lain karena fokus kedua matanya yang tidak mengarah ke depan dan tentu saja mendapat tambahan sebuah makian dari orang yang ditabraknya—atau mungkin menabrak tubuhnya?

Tidak ingin lagi mendapat makian yang bisa membuat kedua telinganya panas, Jongin dengan segera mengangkat kepalanya seraya fokus kedua matanya mengarah ke depan. Dan langkahnya berubah menjadi cepat saat indera penglihatannya melihat siluet seseorang yang sangat dikenalnya.

Merasa tak cukup mempercepat langkahnya, Jongin memilih untuk berlari dan beberapa detik setelahnya ia sudah berada di dekat sosok itu.

" Baekhyun," panggilnya dengan sebelah tangannya yang menggenggam sebelah tangan Baekhyun.

Baekhyun sedikit terkejut saat tiba-tiba saja ada yang menggenggam sebelah tangannya dengan suara yang memanggil namanya. Dan ia sangat kenal dengan suara seseorang yang baru saja memanggilnya. Memilih mengabaikan, Baekhyun dengan segera menyentakkan tangan tersebut kemudian kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

" Baekhyun tunggu!" Jongin tidak ingin menyerah. Ia kembali memanggil Baekhyun yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya.

Baekhyun tidak menghiraukan panggilan Jongin dan tetap fokus pada langkah kakinya.

Jongin menghela napas berat, sebelum—

" BAEKHYUN!"—berteriak dengan keras.

Dan teriakan itu sukses membuat Baekhyun menghentikan langkahnya.

Jongin dengan segera membawa tubuhnya untuk mendekati Baekhyun.

" Baek—" panggil Jongin pelan.

Namun tidak ada respon apapun yang Baekhyun berikan untuk panggilan Jongin tadi. Ia hanya terdiam di tempat dengan posisi tubuh membelakangi Jongin.

" Baekhyun…" panggil Jongin sekali lagi.

Tetap tak ada respon.

Jongin kembali menghela napas berat. Ia tahu, Baekhyun masih sangat marah padanya.

" Baek… Jawab panggilanku dan kumohon, balikkan tubuhmu untuk menghadapku," pinta Jongin.

Selama beberapa detik Baekhyun tetap tak memberikan respon apapun. Namun di detik berikutnya, ia memutuskan untuk membalikkan tubuh mungilnya dan menatap wajah tampan Jongin dengan tatapan datarnya.

Di detik awal ekspresi muram terlukis di wajah tampan Jongin dengan sedikit senyum miris yang terulas di bibirnya. Namun setelahnya, ia memilih untuk membuat ekspresi bahagia dengan senyuman manis di bibirnya. Mengabaikan denyutan nyeri yang dengan telak menyerang hatinya.

" Baek, a—aku… Aku ingin bertanya sesuatu padamu…" ucap Jongin.

Dan lagi-lagi tak ada suara yang dikeluarkan sosok namja mungil bermata sipit yang ada di hadapan Jongin. Sosok namja mungil bermata sipit itu seolah enggan mengeluarkan suaranya untuk namja tampan yang sejak tadi mengajaknya berbicara.

" Kyungsoo… Bagaimana keadaannya?" Jongin kembali bertanya walaupun ia yakin Baekhyun akan tetap mengabaikan pertanyaannya.

Semuanya terjadi begitu cepat. Tatapan datar yang sejak tadi Baekhyun berikan untuk Jongin kini berganti menjadi tatapan meremehkan dengan senyuman sinis yang terulas sempurna di bibirnya.

" Untuk apa kau menanyakan keadaan Kyungsoo, Kim Jongin?" dan Baekhyun memutuskan untuk membuka suaranya setelah cukup lama terdiam. Nada suaranya terdengar berbeda dari biasanya.

Jongin menelan ludahnya susah payah.

" A—aku… A—aku…"

Baekhyun berdecih cukup keras ketika indera pendengarannya mendengar suara Jongin yang terbata.

" Kau mulai mempedulikannya?" tanya Baekhyun sinis.

" Baek, a—aku…" lidah Jongin terasa kelu. Semua kalimat yang hendak terlontar dari mulutnya seperti tertahan begitu saja. Dan menghasilkan dirinya yang tak bisa melanjutkan ucapannya.

" Kurasa otakmu sedang bermasalah Tuan Kim. Untuk apa kau menanyakan keadaan seseorang yang bahkan sangat kau benci—?"

Jongin terdiam dengan kepala yang menunduk. Ucapan Baekhyun tadi sedikit banyak mengganggu hatinya.

" Kau menyesali perbuatanmu pada Kyungsoo setelah dirinya terbaring di rumah sakit?" tanya Baekhyun lagi. Namun kali ini suaranya terdengar pelan.

" Baek… Beritahu aku penyakit apa yang tengah bersarang dalam tubuh Kyungsoo," mengabaikan pertanyaan Baekhyun, Jongin lebih memilih untuk menanyakan pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikirannya.

Baekhyun terlihat menghela napas pelan dengan tatapan yang berubah sendu. Dadanya terasa sesak saat otaknya kembali mengingat percakapannya bersama Chanyeol.

" Baek…" Jongin memanggil Baekhyun dengan nada khawatir ketika dilihatnya tatapan Baekhyun menyiratkan sebuah kesedihan yang mendalam. Dan bersamaan dengan itu, jantungnya berdegup cepat dengan pikirannya yang tidak fokus. Satu hal yang paling menonjol di dalam pikirannya—

—terjadi sesuatu pada Kyungsoo. Dan itu membuatnya takut.

Refleks Jongin memejamkan kedua matanya dengan hatinya yang memanjatkan doa untuk sosok namja mungil bermata bulat—Do Kyungsoo.

" Ikut aku! Aku akan memberitahukan semuanya padamu…"

Jongin membuka kedua matanya yang terpejam dan melihat Baekhyun yang sudah lebih dulu melangkah. Kedua telinganya mendengar dengan jelas apa yang tadi Baekhyun ucapkan padanya. Jadi ia memutuskan untuk mengikuti langkah Baekhyun dengan posisi yang berada di belakang tubuh mungil Baekhyun.

.

.

Ryeoby Rin

.

.

.

.

Jongin duduk diam di atas tempat tidurnya dengan posisi kaki yang diluruskan dan punggung yang menyandar pada sandaran tempat tidurnya. Kepalanya mendongak dengan kedua matanya yang terpejam. Napasnya terlihat memburu dengan dadanya yang terus saja bergerak naik turun dengan cepat. Pikirannya kembali membawa dirinya untuk mengingat hal-hal yang sudah Baekhyun katakan padanya, yang dengan sukses membuatnya terkejut setengah mati.

" Kyungsoo akan mengalami kelumpuhan." Sebaris kalimat itulah yang selalu melintas di dalam pikirannya.

Membuka kedua matanya yang terpejam, Jongin lantas memerintahkan sebelah tangannya untuk mengambil sebuah figura yang tersimpan di dalam laci meja nakas yang ada di sebelah tempat tidurnya. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, kedua matanya dengan segera ia gunakan untuk menatap salah satu dari dua sosok namja yang ada di dalam figura tersebut. Kedua bibirnya refleks tertarik secara berlawanan yang menghasilkan senyum manis terulas di bibirnya. Namun hal itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja, karena setelahnya senyum miris-lah yang mengambil alih senyum manis di bibir Jongin.

Memilih kembali memejamkan kedua matanya, Jongin lantas membawa figura tersebut ke dalam dekapannya. Dan pikirannya kembali melayang pada kejadian masalalu-nya.

.

.

.

.

.

Dua sosok bergender sama dengan wajah yang berbeda itu terlihat tengah duduk berdua dengan posisi saling berhadapan di salah satu tempat duduk yang terdapat di dalam kantin. Sosok yang memiliki wajah lebih manis itu dikenal dengan nama Do Kyungsoo dan sosok yang memiliki wajah lebih tampan itu dikenal dengan nama Kim Jongin.

Keduanya terlihat begitu akrab dengan sebuah obrolan yang terus saja berlangsung di antara mereka. Sesekali gelak tawa keduanya terdengar jika salah satunya memberikan sebuah lelucon yang dapat menggelitik perut mereka seketika. Namun tidak jarang juga sebuah ringisan sakit akan terdengar jika salah satunya mendaratkan tindakan-tindakan kriminal kecil pada tubuh sosok yang lain.

" Kyung, aku ingin bertanya sesuatu padamu…" sosok yang lebih tampan—Kim Jongin—membuka suaranya untuk bertanya pada sosok yang lebih manis—Do Kyungsoo.

" Apa?" sahut Kyungsoo.

" Kenapa matamu begitu bulat?" tanya Jongin seraya memasukkan sepotong tomat ke dalam mulutnya.

Kyungsoo menjauhkan sedotan yang berada di depan bibirnya dan kedua mata bulatnya segera menatap Jongin dengan sebelah alisnya yang terangkat saat indera pendengarannya mendengar pertanyaan Jongin yang menurutnya aneh.

" Jangan bertanya hal bodoh Kim Jongin! Tuhan yang menciptakan mata ini untukku, jadi aku tidak tahu kenapa mataku bulat!" jawab Kyungsoo seraya sebelah tangannya ia gunakan untuk memukul kepala Jongin dengan sendok yang ada di piringnya.

Jongin meringis dengan sebelah tangannya mengusap-usap bekas pukulan Kyungsoo di kepalanya.

" Kau suka sekali memukul kepalaku," keluh Jongin dan Kyungsoo hanya menunjukkan senyum manis di bibirnya.

" Maaf Jongin—" ucap Kyungsoo dengan lembut. Dan Jongin menganggukkan kepalanya memberi tanda jika ia memaafkan Kyungsoo.

"—tapi Jongin, aku juga ingin bertanya sesuatu padamu," lanjut Kyungsoo.

" Apa?"

" Hmm… Kenapa warna kulitmu hitam?" tanya Kyungsoo dengan ekspresi polosnya.

Jongin sempat terdiam mendengar pertanyaan Kyungsoo, namun detik berikutnya bibirnya bergerak untuk menjawab pertanyaan Kyungsoo.

" Hey! Ini tidak hitam Kyung, hanya tidak putih saja!" sahut Jongin dengan cengiran lebar yang terulas di bibirnya.

" Itu sama saja bodoh!"

Jongin lantas tertawa ketika melihat wajah Kyungsoo yang cemberut.

" Kyungsoo…" panggil Jongin setelah dirinya berhasil menghentikan tawanya.

" Ya Jongin?" sahut Kyungsoo.

" Aku ingin memberitahumu satu hal."

" Apa itu?"

" Aku tertarik dengan seseorang… Dan pulang sekolah nanti—aku ingin menyatakan perasaanku padanya," Jongin berucap dengan senyuman manis yang terulas di bibirnya.

Awalnya Kyungsoo menatap wajah Jongin dengan raut wajah penuh minat. Namun setelah mendengar sebaris kalimat yang terlontar dari bibir Jongin, seketika itu juga raut wajahnya berubah muram.

" Benarkah?" tanya Kyungsoo pelan.

Dan Jongin menganggukkan kepalanya dengan semangat. Tak menyadari jika sosok yang berada di hadapannya tengah menahan denyutan nyeri yang tiba-tiba menyerang hatinya.

.

.

.

Kyungsoo segera memasukkan barang-barang miliknya ketika bel pulang sekolah sudah berbunyi dengan nyaring. Kedua matanya melihat ke seisi kelas dan menemukan beberapa temannya yang sudah melangkah lebih dulu untuk meninggalkan ruangan yang sejak pagi mereka singgahi. Memasukkan buku tulisnya yang terakhir, sebelum menarik resleting tasnya untuk menutup.

Kedua tali tasnya dengan segara ia sampirkan di masing-masing bahunya, lantas berdiri dari duduknya kemudian segera melangkah untuk keluar kelas. Namun baru beberapa detik ia melangkah, ia terpaksa menghentikan langkahnya itu saat indera penglihatannya melihat sosok yang ia kenal berlari keluar kelas.

Kyungsoo sedikit mengernyit sebelum otaknya mengingat sebaris kalimat yang terlontar dari bibir Jongin saat di kantin tadi. Menganggukkan kepalanya pelan, sebelum kembali melangkahkan kakinya keluar kelas.

.

.

.

Jongin berdiri beberapa meter dari pinggiran danau yang ada di taman belakang sekolah. Di sebelah kanannya terdapat balon udara berbentuk love yang sangat besar dengan sebuah tulisan ' Will you be My Boyfriend ' yang berada tepat di tengah-tengah balon tersebut. Ia akan menggunakan balon udara itu sebagai bahan pernyataan cintanya pada seseorang.

Masih dengan posisi berdirinya, Jongin terlihat menautkan kedua tangannya dan meremasnya cukup kuat. Jantungnya yang berdetak begitu cepat memberikan efek gugup pada tubuhnya. Dan sedikit peluh terlihat di pelipis sebelah kirinya. Napasnya menjadi tidak teratur karena kegugupan yang tengah menyerangnya. Menarik napas dalam-dalam, sebelum menghembuskannya perlahan-lahan.

Jongin terus melakukan hal tersebut hingga sosok namja manis yang tengah ditunggunya datang menghampirinya.

" Maaf Jongin aku terlambat, apa kau sudah lama menungguku?" tanya sosok namja manis itu seraya memberikan senyum manisnya pada Jongin.

Jongin merasakan tubuhnya menegang seketika saat sosok namja manis yang sejak tadi ditunggunya datang menghampirinya dan mengambil posisi dengan jarak yang cukup dekat dengannya.

" T—tidak. Aku baru saja sampai," jawab Jongin dengan nada bicara yang ia buat senormal mungkin. Ia mengutuk kegugupannya yang semakin menjadi-jadi.

Dan senyuman manis yang terus diberikan sosok namja manis yang ada di hadapannya sukses membuat jantungnya berdegup semakin cepat.

" Baiklah kalau begitu. Hmm… memangnya ada apa kau memanggilku ke sini?" tanya sosok namja manis itu yang teridentifikasi bernama Lee Taemin.

Jongin kembali menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan-lahan. Dan detik berikutnya ia sudah mengulas senyum manis di bibirnya.

" Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu…" ucap Jongin dengan lancar namun lembut. Kegugupan yang sejak tadi menghampirinya sudah pergi entah ke mana.

Taemin memiringkan kepalanya ke sebelah kanan dengan kedua matanya yang menatap polos wajah tampan Jongin.

" Apa?"

Selama beberapa detik hanya keheningan yang terjadi di antara mereka. Keduanya seolah enggan untuk melanjutkan pembicaraan yang beberapa detik lalu terjadi. Jongin tengah mempersiapkan dirinya untuk menyatakan cinta pada sosok namja manis yang ada di hadapannya. Sementara sosok namja manis yang ada di hadapan Jongin masih setia menatap Jongin dengan tatapan polosnya.

Setelah merasa kepercayaan dirinya sudah kembali, Jongin dengan segera memerintahkan kedua tangannya untuk menggenggam kedua tangan mungil Taemin dengan erat, yang menghasilkan ekspresi terkejut terlukis di wajah manis Taemin.

" J—jongin…" panggil Taemin terbata seraya kedua matanya menatap tangan Jongin yang tengah menggenggam tangannya erat.

Jongin hanya memberikan senyum manisnya saat melihat ekpresi terkejut Taemin.

" Lihat ke sebelah kananku—dan segera dongakkan kepalamu Taemin," perintah Jongin dengan lembut.

Tanpa mengeluarkan pertanyaan apapun, Taemin dengan segera melakukan apa yang Jongin perintahkan padanya dan kedua matanya sukses terbelalak saat melihat sesuatu yang melayang di udara.

" J—jongin, ini…" tanya Taemin tak percaya.

Jongin tersenyum.

" Will you be My Boyfriend?" Jongin mengulangi kalimat yang tertera di tengah-tengah balon tersebut dengan kedua tangannya yang masih menggenggam kedua tangan Taemin. Namun kali ini genggamannya semakin mengerat.

Taemin terdiam dengan bibirnya yang ia biarkan mengatup rapat dan kedua matanya yang masih saja membulat (terbelalak). Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat sosok namja tampan yang ada di depannya menyatakan cinta padanya. Ya… yang jelas ia sangat senang ketika tahu jika cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Ternyata hubungan dekatnya bersama Jongin selama ini akan berubah menjadi lebih 'spesial'.

Menyembunyikan rona merah yang menjalar di kedua pipinya, Taemin lantas menundukkan kepalanya. Kedua tangannya balas menggenggam kedua tangan Jongin dengan erat dan mulutnya bersiap untuk memberikan jawaban atas pernyataan cinta Jongin.

" Ya Jongin… Aku ma—"

.

.

.

.

.

.

.

.

" JONGIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN!" namun ucapan Taemin harus terhenti ketika tiba-tiba saja ada sebuah teriakan keras yang memanggil nama Jongin.

Jongin dan Taemin refleks menoleh ke arah sumber teriakan tersebut dan melihat sosok namja mungil bermata bulat tengah berjalan dengan langkah yang santai menuju mereka.

Taemin mengerutkan keningnya saat ia sadar jika ia tidak mengenali sosok yang baru saja memanggil Jongin. Dan Jongin hanya menatap tidak percaya pada sosok yang ia kenal bernama Kyungsoo itu, saat Kyungsoo dengan suksesnya memotong sebaris kalimat yang akan terlontar dari bibir Taemin.

Setelah dirinya sudah berada di dekat Jongin, Kyungsoo dengan santainya melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Jongin bersamaan dengan senyum manis yang terulas di bibirnya.

Dan kerutan di dahi Taemin semakin bertambah saat sosok yang tidak ia kenal dengan lancangnya memeluk orang yang ia cintai.

" Jongin, siapa dia?" Taemin memilih bertanya langsung pada Jongin dengan raut wajah bingungnya.

Jongin awalnya tengah sibuk melepaskan kedua lengan Kyungsoo yang melingkar di pinggangnya, namun hal itu ia tunda sebentar untuk menatap wajah manis Taemin sekaligus menjawab pertanyaan Taemin.

" Dia tem—"

" Aku Do Kyungsoo. Kekasih Jongin," Kyungsoo memotong ucapan Jongin dengan sebaris kalimat yang mampu membuat Jongin dan Taemin terbelalak tak percaya.

" Yak! Kyungsoo! Apa yang kau katakan heh? Sejak kapan aku jadi kekasihmu?" tanya Jongin kesal.

Kyungsoo masih dengan kedua lengannya yang melingkar di pinggang Jongin segera menatap wajah tampan Jongin dengan tatapan polosnya.

" Kau tega sekali Jongin, kekasih sendiri kau lupakan…" ucap Kyungsoo bersamaan dengan ekspresi cemberut yang ia berikan pada wajah Jongin.

Lagi—Jongin dan Taemin terbelalak tak percaya.

" J—jongin?"

Jongin segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat saat melihat Taemin yang menatapnya seolah meminta Jongin untuk menjelaskan sesuatu padanya.

" Tidak Taemin. Itu tidak benar! Aku bukan kekasihnya," jelas Jongin.

" Jongin berbohong! Aku memang kekasihnya."

Taemin segera menundukkan kepalanya ketika dirasa airmata sudah mulai mengancam untuk keluar dari kedua matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang saat ini terjadi padanya.

Jongin sudah memiliki kekasih, lalu untuk apa namja tampan itu menyatakan cinta padanya dan meminta dirinya untuk menjadi kekasih namja tampan itu? Jongin ingin memiliki banyak kekasih, kah?

Sedikit menghembuskan napas pelan, sebelum kembali mengangkat kepalanya untuk melihat wajah tampan Jongin dan wajah sosok yang masih saja memeluk Jongin. Dan bibirnya sedikit terulas senyum, sebelum—

.

.

.

BUGH!

mendaratkan kepalan sebelah tangannya ke rahang sebelah kiri Jongin.

" Kau brengsek Kim Jongin!" desis Taemin sebelum melangkah meninggalkan area taman.

Jongin shock. Tubuhnya terasa kaku dengan kedua matanya yang seolah ingin keluar dari tempat persembunyiannya. Persendian kedua kakinya seketika melemas yang menyebabkan dirinya bersimpuh dengan kedua lututnya yang berpijak pada tanah. Kepalanya menunduk bersamaan dengan kedua tangannya yang terkepal kuat.

" Jongin…" Kyungsoo mencoba memanggil Jongin, namun tak ada jawaban apapun yang keluar dari bibir Jongin.

" J—jongin…" Kyungsoo mencoba memanggil Jongin sekali lagi. Dan kali ini Jongin meresponnya. Bukan dengan sebuah suara yang akan terlontar dari bibir Jongin, tapi sebuah tatapan nyalang yang ia berikan untuk sosok namja mungil berparas manis yang ada di dekatnya.

Kyungsoo seketika memundurkan tubuhnya saat Jongin menatapnya seperti itu. Jongin—terlihat menyeramkan.

" J—jongin…"

" SIALAN KAU DO KYUNGSOO!" bentak Jongin keras kemudian mendorong tubuh mungil Kyungsoo.

" Akhh—" dan Jongin tidak mempedulikan ringisan kesakitan yang keluar dari belahan heart shaped lips milik Kyungsoo. Ia terus saja melangkahkan kakinya menjauhi Kyungsoo—meninggalkan Kyungsoo yang saat ini tengah menatap sendu kepergiannya.

" Maaf Jongin…" lirih Kyungsoo.

.

.

.

.

.

Jongin membuka kedua matanya yang terpejam kemudian kembali menatap satu sosok yang berada di dalam figura tersebut. Sebelah tangannya terangkat dan mendarat di permukaan kaca yang terdapat wajah sosok yang sejak tadi ia perhatikan, kemudian mengelusnya dengan pelan seolah dirinya memang tengah mengusap secara nyata wajah sosok itu.

Bibirnya terulas senyum manis ketika ingatannya kembali mengenang masa-masa indahnya bersama sosok itu. Namun beberapa detik setelahnya, senyum manis itu tergantikan dengan senyum miris yang terulas di bibirnya. Matanya sedikit memerah bersamaan dengan hatinya yang berdenyut nyeri yang setelahnya menghasilkan sesak merambat di dadanya.

Ia menyesal. Sungguh menyesal.

Sikap kasarnya pada sosok itu selama ini bisa dikatakan sebagai bentuk pelampiasan karena ia tidak bisa memiliki orang yang ia cintai dan hal itu terjadi karena perbuatan sosok itu yang menurutnya sangat keterlaluan. Setiap kali sosok itu mendekat padanya, dirinya seolah kehilangan akal yang membuat dirinya sanggup bersikap kasar pada sosok itu.

Jongin kembali memejamkan kedua matanya—

" Maaf Kyung—maafkan aku…" dan setetes airmata sukses mengalir di kedua pipinya.

.

.

.

To Be Continued…

.

.

.

Hai ^^

Aku kembali membawa chapter 7 untuk ff inih. Semoga suka dan gak mengecewakan yah :*

Hmm—gimana untuk penyakit Kyungsoo? Main stream apa engga? Aku sengaja gak buat Kyungsoo sakit di bagian kepala ato otaknya, karena ituh akan membuat konflik berat nantinya. Bahkan bisa jadi angst nanti, iyah kan?

Aku boleh cerita sedikit yah*senyum

Penyakit Kyungsoo yang aku buat di sinih aku ambil dari kisah nyataku sendiri. Aku gak tau nama penyakit ituh dalam bahasa kedokterannya, jadi aku menyebutnya infeksi persendian. Aku mengalaminya waktu aku masih kelas 2 SMP dan apa yang ada di dalam dialog ChanBaek ituh adalah percakapanku dengan dokter yang menanganiku dulu. Aku terbaring lemah di rumah sakit selama sebulan lebih, dan aku nangis waktu sadar kalo ternyata pahaku yang sebelah kanan (saat itu yang sakit memang yang kanan) sedikit lebih kecil ukurannya daripada pahaku yang sebelah kiri. Dan saat itu juga aku memutuskan untuk menyerah, aku pasrah. Karena memang keadaanku tak kunjung membaik waktu ituh. Apa yang akan terjadi padaku saat ituh, aku sudah mengikhlaskannya. Namun melihat keluargaku yang berjuang sangat keras untuk kesembuhanku (terutama ibuku) aku mencoba untuk bangkit dari rasa sakitku dan pelukan yang waktu itu aku rasakan dari ibuku, membuatku mampu melewati masa-masa sulitku dulu. Dalam sehari aku harus merasakan bagaimana sakitnya lima jarum suntik menembus kulit dan dagingku, ditambah lebih dari sepuluh butir obat yang harus kutelan setiap harinya. Tapi aku bersyukur, Alhamdulillah aku sembuh, aku bisa sembuh. Walopun kakiku tidak normal seperti sebelumnya. Aku gak sanggup lagi melompat, berlari cepat dan tidak bisa berdiri terlalu lama.

Ahh, curhatanku terlalu banyak, maaf yah ^^

Pesanku, jaga kesehatan kalian dengan baik yah. Jangan sampai sakit menyerang tubuh kalian. Mencegah lebih baik daripada mengobati, kan? ^^

Dan flashback Kaisoo udah muncul, berarti udah gak ada yang penasaran lagi dong yah? :D dan untuk chap inih spesial banget karena lebih panjang dari chap-chap sebelumnya, horeeeeeeeeeeee*tepuktangan.

Aku buatnya tergantung jalan ceritanya, jadi kalo misalnya chap depan lebih pendek dari inih, maafkan aku yah :D

.

.

Big Thanks To:

Kartikadyo96 ll dhyamanta ll ayusafitri35 ll meCa ll KyungiNoru ll lailatul. magfiroh.16 ll DahsyatNyaff ll DokimsoRoroNgin ll eunhaezha ll Maple fujoshi2309 ll Kyungra26 ll kyle ll dokydo91 ll dyofanz ll kyungie ll TKsit ll Sognatorel ll KaiSa ll flowerdyo ll Kim Leera ll ll Kaisooship ll 7D ll dhyamanta1214 ll dyopororoo ll Cactus93 ll Desta Soo ll nayah ll doaddict ll meliarisky7 ll Maurine Lau ll EarthDo ll ll Pcy ll 1004baekie ll ryanryu ll wanny ll BabyWolf Jonginnie'Kim ll sfsclouds ll minha ll cho suuya ll Guest ll Kaisoo addicted ll exindira ll Insooie baby ll Huang Zi Lien ll kyungsowl ll ll BibiGembalaSapi ll BangMinKi ll hea ll FitraBela

.

.

Terimakasih udah baca dan review ff inih :* semua yang kalian tulis di kotak review buatku senang dan semangat*peluksatu-satu. KALIAN PENYEMANGATKU!

Maaf jika ada salah penulisan nama atopun ada yang terlewatkan/bow/

Terakhir—

Yang berkenan dan ikhlas..

Bisa memberikan reviewnya untukku?

Kritik dan saran diterima dengan lapang dada dan tangan terbuka :*

.

.

.

Terimakasiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih ^^