AMERU KEMBALEEEE! /perusuh dateng/
Sekian kalinya, Ameru minta maaf banget gapernah apdet lagi, terakhir mungkin hampir 6 bulan yang lalu, minta maaf bangeet /sujud/ Ameru awali kebangkitan-Ameru-yang-kayaknya-cuma-bentar dengan apdet final chapter Coincidence !
Apa? Terakhir? Lah emang, kan? /dor/
Daaann Ameru juga minta maaf kalo chapter terakhirnya nggak ngena, karena hasrat nulis Ameru berkurang cukup banyak TT_TT semoga kalian tetap suka!
.
.
COINCIDENCE
Genre : Romance/ Friendship
Rate : T…?
Pair : KarmaxNagisa, MaeharaxIsogai
Setting : College!AU
Warnings : Typo(s) , grammar ancur, nano nano, roman kurang, amburegul, emeseyu, de-el-el
.
.
#HappyReading!
.
.
Assassination Classroom © Matsui Yuusei
FanFiction © Ameru Sawada
.
Pada akhirnya, jatuh cinta berawal dari sebuah kebetulan.
.
Nagisa mematut diri di depan cermin. Memandang kembali pantulan dirinya dari atas sampai bawah. Yukata biru laut yang dikenakannya sudah pas, sesuai dengan ukuran tubuh Nagisa. Nagisa tersenyum bangga, kemudian iseng mengikat obi-nya lebih kuat.
Tunggu.
Nagisa tersadar. Ia seperti hendak pergi kencan saja. Ia nampak seperti wanita yang melihat penampilannya, berharap sang kekasih akan menatapnya takjub. Pipi Nagisa memerah.
"Nagisa-kun, temanmu datang!"
Suara ibunya bergema dari lantai bawah. Nagisa tersadar dari lamunannya, lalu membuka pintu kamarnya.
"Iya, bu!"
.
.
"Yukata yang bagus, Nagisa!" Puji Sugino ketika melihat sosok Nagisa muncul. Nagisa tersenyum seraya berkata 'Terima kasih' . Kemudian ia menyusul Sugino dan Nakamura.
"Ittekimasu!"
Setelah pamit pada ibunya, mereka bertiga lantas pergi menuju kuil. Dalam perjalanan, Nakamura—seperti biasa—menjahili Nagisa yang nampak cantik dengan warna yukata-nya.
Tiba-tiba Nakamura berkata, "Katakan Nagisa, apakah senior tercintamu itu ikut juga?" Dengan senyum jahilnya yang biasa.
Karma-kun?
"Umm… kurasa iya, " justru aku datang karenanya, ujar Nagisa. Pipinya memerah hangat kala ia ingat pesan yang Karma kirim dua hari yang lalu. Menurutnya, Karma menjadi sedikit romantis. Entahlah juga.
"Eh Nagisa, pipimu merah, " Tukas Sugino polos. Mendengarnya, Nagisa terkejut dan kalap. Senyum Nakamura mengembang makin lebar.
"Pasti memikirkan seniormu, " Ledeknya. Nagisa menggeleng.
"Tidak!"
"Ahahaha, Nagisa kau lucu sekali~"
"Hentikan, Nakamura-san!"
Pembicaraan itu terus berlanjut hingga mereka memasuki halaman kuil.
.
.
Kuil Kunugigaoka menjadi padat oleh masyarakat yang ingin merayakan malam musim panas sekaligus menikmati pertunjukkan kembang api yang akan diadakan larut malam nanti. Lapangan depan kuil penuh oleh pedagang stand makanan dan permainan-permainan. Topeng-topeng menyeramkan dan lucu khas musim panas digantung dimana-mana. Pengunjung yang kebanyakan adalah remaja dan anak-anak asyik berkeliling stand, baik itu mencicipi jajanan maupun mencoba berbagai permainan di sana.
Nakamura, Sugino dan Nagisa berkeliling stand. Mereka berhenti ketika Nakamura ingin membeli takoyaki. Nagisa hendak menemani Nakamura ketika mendengar seseorang memanggil namanya.
Nagisa menengok, lantas berbalik memanggil orang tadi, "Isogai-senpai! Maehara-senpai!"
Isogai dan Maehara datang bersama. Isogai mengenakan yukata bermotif ikan mas berwarna emas cerah, sementara Maehara mengenakan yukata bermotif kembang api berwarna orange pucat. Warna yang kontras membuat yukata yang mereka kenakan nampak serasi. Nagisa terkikik melihat mereka berdua.
"Kalian nampak serasi, " Goda Nagisa, dan ia kembali terkikik geli melihat keduanya sama-sama salah tingkah. Isogai tersedak ludahnya sendiri, dan Maehara memalingkan wajahnya.
"Kau berisik, Nagisa, " Gumam Maehara. Nagisa tersenyum kecil, kemudian melirik kesekeliling, merasa ada yang kurang.
"Kemana Karma-kun?" Tanya Nagisa. Isogai mendelik Maehara dan sang cassanova hanya mengendikkan bahu.
"Sepertinya tadi tertinggal—"
"Apa—"
"Wah, Nagisa, temanmu?" Nakamura bertanya seraya ia kembali dari stand takoyaki. Matanya mengerjap heran melihat ada dua orang tampan (itu menurutnya) berdiri di hadapan Nagisa.
"Ah ya, Nakamura-san, ini seniorku, Isogai-senpai dan Maehara-senpai, " Nagisa memperkenalkan keduanya pada Nakamura—yang nampak salah tingkah—lalu berbalik pada keduanya, "Senpai, ini teman-teman sekelasku, Nakamura dan Sugino…"
Mereka berkenalan sejenak. Sugino nampaknya cepat akrab dengan mereka berdua. Nagisa yang melihat itu tersenyum senang melihat kedua seniornya akrab dengan temannya. Tak lama, Nagisa merasakan getaran kecil dalam kantung yukata-nya. Nagisa lantas mengeluarkan ponselnya dan membuka pesan yang baru saja masuk.
Matanya melebar. Dari Karma.
To : Nagisa Shiota
From : Karma-kun
Subject : Tersesat
Sial, aku ditinggal duo itu! Apa kau bersama mereka?
Nagisa tertawa kecil membacanya. Bisa ia bayangkan wajah Karma yang tertekuk kesal. Dibalasnya pesan itu.
To : Karma-kun
Subject : re: Tersesat
Iya, mereka bersamaku. Kami tidak sengaja ketemu di depan stand takoyaki. Aku memperkenalkan mereka pada teman-teman sekelasku. Mereka nampak akrab^^
Nagisa kemudian mematikan ponselnya. Namun balasan datang dengan cepat. Nagisa kembali membuka pesan dari Karma.
To : Nagisa Shiota
Subject : re: Tersesat
Berani sekali mereka meninggalkanku. Ngomong-ngomong Nagisa, bisa kau jemput aku? Aku ada di stand menembak. Kutunggu.
Aquamarine milik Nagisa melebar dalam heran. Apa Karma sebegitu malasnya hingga minta dijemput? Tetapi Nagisa hanya bisa menurut. Ia memasukkan ponselnya kembali dalam kantungnya, lantas meminta izin pada yang lain untuk pergi.
Tak lama, Nagisa menghilang di balik lautan pengunjung.
.
.
"Karma-kun!"
Karma mengangkat kepalanya dan menemukan kepala biru menyembul dari ramainya pengunjung kuil. Karma senyum-senyum sendiri melihat Nagisa dalam balutan yukata biru langit itu. Nampak manis. Karma tidak bisa mengindahkan fakta bahwa Nagisa bukan lelaki.
"Hey, Nagisa, " Sapa Karma, "Yukata itu cocok untukmu." Katanya lembut.
Apa cuma perasaannya saja, atau Nagisa merasakan pipinya memanas?
"Ah—um… terima kasih…" Ujar Nagisa gugup, "Karma-kun sudah lama menunggu?" Tanya Nagisa. Karma menggeleng pelan, masih mengembangkan senyum, "Tidak, belum terlalu."
"Begitukah?"
"Ya, " Balas Karma, lalu melihat stand menembak di sampingnya yang nampak mulai sepi pengunjung, "Ayo, Nagisa, " Karma menggiring Nagisa ke depan stand.
Sambil menatap Karma bingung, Nagisa bertanya, "Um… Karma-kun, kita mau ngapain?" Kemudian kepalanya meneleng—menandakan kebingungannya. Karma menahan mati-matian untuk tidak mencubit pipi itu.
"Aku akan mencoba menembak hadiah-hadiah itu. Kau mau apa?" Ujar Karma, seraya memberikan 500 yen kepada si pemilik stand. Nagisa agak terkejut mendengarnya, namun akhirnya ia menuruti keinginan Karma. Nagisa melihat deretan hadiah-hadiah, dan matanya langsung tertuju pada sepasang gantungan kunci.
Sepasang gantungan kunci berbentuk kelinci, satu berwarna merah, satunya biru laut. Seperti Nagisa dan Karma.
"Karma-kun, " Panggil Nagisa, sambil menunjuk gantungan kunci itu, "Bagaimana kalau yang itu?" Tanyanya, sembari mengembangkan senyum.
Karma mengikuti arah telunjuk Nagisa. Sesaat kemudian, senyum Karma mengembang lebar. Ia mulai mengangkat senapan mainan itu, lantas berkata dengan suara rendah, "Akan kudapatkan."
DAAARR!
Suara senapan yang berbunyi, kemudian bapak pemilik stand bertepuk tangan dan tertawa bahagia. Diambilnya gantungan kunci yang kena bidik Karma dengan sempurna.
"Selamat, nak! Ini untukmu, " Kata si bapak, lalu ia agak merendah dan berbisik pada Karma, "Ngomong-ngomong, pacarmu cantik juga." Komentar si bapak sambil terkikik.
Karma mendelik, lalu memalingkan muka sejenak untuk menetralkan warna merah di pipinya. Lantas ia mengambil gantungan kunci itu, "Terima kasih, pak, " Bisiknya tak kalah ketus. Setelahnya, ia memberikan gantungan kunci itu pada Nagisa.
"Yang merah saja, " Ujar Nagisa menunjuk kelinci merah bertampang ketus itu, "Biar aku teringat akan Karma-kun, " Lanjut Nagisa seraya tekekeh kecil.
Nagisa tidak melihat, bahwa pipi Karma merah sewarna rambutnya.
.
.
Tanpa sadar, malam semakin larut. Nagisa dan Karma berjalan tak tentu, mencoba stand makanan dan berbagai permainan yang ada. Mencoba apapun yang mereka mau dengan bebas. Tak peduli malam itu udara panas menggerahkan, Nagisa dan Karma tetap semangat menjelajahi kuil. Bulan purnama dengan setia menemani langit yang gelap.
"Pesta kembang api akan segera dimulai, " Karma berujar, menarik tangan kecil Nagisa dalam genggamannya, "Ayo ke jembatan dekat danau. Di sana kita bisa melihat pemandangan lebih jelas, " Lanjutnya, lalu berbalik arah.
Nagisa tidak bisa mengelak genggaman tangan Karma. Tangannya hangat, dan terasa lebih kasar darinya. Nagisa memerah dalam malu. Pelan-pelan ia menyusul langkah Karma, berjalan menyusuri pengunjung kuil, menuju sebuah danau kecil di kuil Kunugigaoka. Di tengah danau tersebut, sebuah jembatan kayu berdiri kokoh. Tidak dicat, dan tetap mempertahankan tekstur kayu alami. Mereka berdua bediri di atas sana, lalu memandang ke arah danau yang berkilauan karena lampion-lampion kertas. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup orang berbicara. Riuh.
Karma dan Nagisa membiarkan keheningan menjadi pembatas di antara mereka. Cukup lama, hingga Nagisa mulai gelisah. Ia memainkan kelinci merah itu sesekali, memelintir telinganya, ataupun menjawil pipi tembem penuh kapas itu. Kemudian Nagisa mendengar Karma menghela napas panjang.
"Maaf Nagisa, membuatmu menunggu."
Nagisa melebarkan matanya. Menunggu untuk apa?
"Err… menunggu untuk ap—"
DUAARR!
Kalimat Nagisa terpotong tatkala mendengar bunyi ledakan di langit. Keduanya mendongak dan menemukan langit gelap berubah menjadi langit penuh bunga api berbagai warna. Berbagai warna kembang api meledak di langit kuil Kunugigaoka, membuat Karma dan Nagisa keduanya berdecak kagum.
"Woah…"
Tak lama, Nagisa merasakan hangat di tangan kirinya. Karma menggenggam tangannya lembut, seraya menatapnya intens.
"Karma-kun?"
Ledakan kembang api masih mewarnai malam musim panas,
"Bagaimana, ya…, aku bukanlah orang yang terlalu romantis…" Karma menggaruk belakang lehernya dengan tangan kanannya.
Dan euphoria musim panas masih menggelegar,
"Heh?" Nagisa bisa melihat wajah tampan itu berkilau oleh kembang api. Menatapnya malu-malu, namun lembut.
Bulan purnama pun ikut berpesta,
"Nagisa, ini atas saran duo aneh itu, namun, " Genggamannya mengerat, "Tapi maukah… kau menjadi kekasihku, yang akan selalu bersamaku di setiap waktu?"
Oh,
Nagisa tidak merasakan detak jantungnya lagi.
"…"
Ledakan-ledakan kembang api masih riuh terdengar. Namun rasanya, suara dahsyat itu seakan hilang di pendengarannya.
"Aku…"
"Kau tidak harus menerimanya, " Nada bicara Karma melembut, mercury-nya berkilat sedih, "Kalau kau menolaknya—"
"Tidak."
Karma berhenti bicara. Melihat pemuda yang lebih pendek darinya itu, tengah memerah malu hingga ke telinga.
"Aku… juga suka Karma-kun…" Desahnya pelan. Ia sandarkan kepalanya pada dada Karma.
Dan Karma merasakan luapan madu memenuhi perutnya. Manis dan membahagiakan.
.
.
"Ah, aku ketinggalan momennya, Isogai, "
Isogai menghela napas lelah. Maehara masih memegang teleskop itu intens. Maish memandangi adegan duo senior-junior itu.
"Jangan jadi penguntit deh, Maehara, ayo pulang, " Isogai menarik lengan Maehara.
.
.
Dari awal cerita hingga akhir,
Rasa jatuh cinta muncul dari sebuah kebetulan,
Kebetulan bertemu denganmu,
Kebetulan bersama denganmu,
Hingga secara kebetulan,
Rasa cinta itu hadir dalam dadamu.
Namun rasa ini…,
Bukanlah sebuah kebetulan.
Ini kepastian.
==THE END==
DI EN! TERIMA KASIH SUDAH MENGIKUTI!
Gaje? Parah! Ini ngebuatnya udah makan waktu seharian, gomen kalau bener2 cepet TwT
Ameru sekarang akan rajin2 apdet /ga jadi sider terus/ /hush/ tetep dukung Ameru yaa!
Sampai jumpa di fanfic berikutnya~!
