Aku tahu kau menyukai misteri… Maka bukalah satu demi satu kebenarannya untukku, seperti kau membuka pembungkus hadiah yang telah kusiapkan dengan baik. Hanya untukmu.
Carpe Noctem
Fantasy AU
Tom Riddle x Harry Potter + other undecided pairings
I don't own Harry Potter.
.
.
Chapter 7: The Riddle
Setelah seminggu berlalu tanpa kejadian apapun, insiden pembunuhan Magus-Magus di desa kembali terjadi dengan pesan berdarah yang sama, kali ini membawa lebih banyak korban.
Dalam waktu lima hari, terdapat lima Magus yang telah menjadi korban. Seorang wanita, anak laki-laki kecil, gadis, pria, dan satu lagi pria. Kelimanya, sama seperti korban pertama, ditemukan dalam kondisi tewas tanpa magical core. Kenyataan itu mengonfirmasi spekulasi Hermione bahwa pelaku pembunuhan ini memang mengincar magical core dari semua korban.
Walau begitu, apapun niat sebenarnya dari si pelaku, Harry sulit menebaknya. Lima korban berturut-turut usai seminggu tak ada kabar. Entah dia menunggu waktu yang tepat untuk memberi sensasi kaget yang lebih heboh, entah ada niat tersembunyi lainnya—tak ada yang tahu.
Satu hal yang pasti, si pelaku berhasil menanamkan teror dalam diri setiap orang dengan sangat baik.
Dari semua penghuni The Burrow, Molly adalah yang paling ketakutan. Kendati dia masih membolehkan mereka berada di halaman rumah—karena wanita itu baru saja mendirikan sihir pelindung di sekitar rumah—mereka cukup tertekan dengan pengawasan ketat yang dilakukan sang ibu rumah tangga. Muncul peraturan-peraturan baru seperti masuk rumah sebelum jam tiga sore, masuk kamar sebelum jam delapan malam, jangan terlalu jauh dari pintu rumah, jangan membukakan pintu untuk siapapun…
Fred dan George, meski begitu, mengatakan kepada mereka untuk 'bersyukur saja'. Ini bukan mode khawatir Molly yang paling parah menurut keduanya. Harry harus menyetujui perkataan mereka, karena dia juga merasakan sentimen yang sama—bisa keluar di halaman jauh lebih baik daripada terkurung di dalam rumah seharian.
Di sisi lain, Hermione terlihat semakin gelisah dengan bertambahnya korban. Harry yakin dia merasa bersalah karena tak lekas menemukan petunjuk baru tentang Kamar Rahasia. Sekonyol apapun ide bahwa mereka bisa menghentikan insiden ini, setidaknya lebih baik daripada mereka diam saja.
Lagipula, Harry sudah memutuskan, bukan? Berjuang atau mati…
Pagi itu, Harry dibangunkan perlahan oleh terpaan sinar mentari yang terlampau silau di atas wajahnya. Sejak Molly melarang mereka untuk tidur terlalu larut, Harry tak bisa melakukan apapun kecuali bengong di dalam kamar, sesekali melewatkan waktu dengan membaca-baca majalah Ron. Semua energi yang terkumpul di dalam diri Harry membuatnya selalu bangun pagi. Tidurnya tidak buruk, tetapi kebosanannya sudah menumpuk, dan dia tak sabar untuk melakukan sesuatu yang produktif.
Dan yang dimaksudnya produktif, tentu saja, adalah melakukan sesuatu terhadap insiden 'Kamar Rahasia' ini.
Harry mengayunkan kakinya ke samping dan beranjak turun dari tempat tidur milik Bill, kakak tertua Ron. Jendela kamar dibukanya lebar-lebar, dan seketika, Harry disambut dengan udara sejuk dan sinar hangat yang tak menyengat. Di luar sana, permadani hijau dari padang rumput terhampar infinit. Harry mencoba mengingat-ingat di mana persisnya letak Desa Coalfell, karena desa itu tak bisa dilihat jika dia tidak memijak langsung di dalamnya.
Sudah hampir seminggu sejak dia terakhir pergi ke desa. Harry mau tak mau merasa rindu juga. Dia rindu merasakan butterbeer, rindu melihat cokelat-cokelat aneh di toko favorit Ron, rindu mengunjungi pasar yang selalu ramai…
Dan Tom. Waktu seakan telah berlalu lama sejak pertemuan pertamanya dengan Tom. Harry tak mau mengakui jika dia rindu, tetapi memori tentang percakapan mereka selalu mengambang dengan mudah di barisan depan batinnya. Tom yang tampan, cerdas, dan jenaka. Tom yang tersenyum dengan begitu sempurna. Tom yang mengatakan bahwa Harry sangat indah…
"Oh-ho? Apakah itu adalah—"
"—ekspresi orang yang sedang jatuh cinta?"
Dikagetkan dengan kehadiran suara identik di belakang tubuhnya, Harry hampir terjungkal dari jendela.
"Blimey!" Harry memutar tubuh sambil memegangi dadanya yang bergemuruh. "Jangan tiba-tiba muncul seperti itu!"
Fred hanya menyeringai tanpa dosa. "Yah, kita tidak bisa menahan diri, kan, Gred? Apalagi setelah melihat kau yang sedang senyum-senyum sendiri."
"Huh?" Harry mengedip-ngedipkan matanya dengan cepat. "Senyum-senyum… Aku tidak melakukan itu!"
Sesuatu menyerupai rasa malu merambati dirinya. Astaga, jangan bilang apa yang mereka katakan benar—dia tersenyum sendiri gara-gara seorang pria yang baru ditemuinya sekali. Gara-gara Tom.
"Yeah, dan kita bisa melihat wajahmu dengan jelas dari sini, Harry." George menyikut bahu Harry dengan pandangan jahil. "Jadi, siapa yang barusan kau pikirkan, huh? Tidak mungkin Hermione, kan, soalnya kau tidak bertingkah begini sebelum kau ke desa."
"Itu dia!" Fred menjentikkan jarinya. "Dia jadi begini setelah pergi ke desa. Oooh. Harry, apakah kau terjerat salah satu pesona gadis desa?"
"Ap—bukan!" Harry menggeleng frantik. Semua ini masih terlalu pagi untuk jiwanya yang sedang mencari kedamaian. "Kau bilang apa, sih? Aku tidak ketemu gadis desa manapun!"
"Oke, bukan gadis desa." George menggerak-gerakkan kedua alisnya. "Tapi lelaki desa, ya?"
Lelaki desa? Harry memang bertemu dengan seorang lelaki, dan itu adalah Tom. Namun dia jelas bukan 'lelaki desa' yang diimplikasi oleh si kembar—orang yang mereka kira berhasil memikat hati Harry.
Baiklah, Harry akui bahwa dia memang tertarik untuk bergaul dengan Tom, tetapi hanya sebagai teman, dan sama sekali bukan seperti apa yang Fred dan George kira.
"Nah, dia bengong lagi." Fred terkekeh, lalu melingkarkan sebelah lengannya pada bahu Harry. "Oh, tidak apa-apa, Harry! Kau sudah kami anggap adik sendiri! Tidak usah malu-malu, semua orang juga pasti akan mengalami jatuh cinta."
Harry hampir tersedak ludahnya sendiri. "Jatuh cin—kubilang bukan seperti itu…"
"Jadi. Seperti apa orangnya? Apakah dia tampan?"
"Kaya dan seksi?"
"Atau ketiga-tiganya?"
Balasan 'Dengarkan perkataanku' sudah sampai di ujung lidah Harry, dan berakhir tertelan karena dia rasa si kembar pasti tidak akan menghiraukannya. Desahan lelah terembus dari bibir Harry. Barangkali lebih mudah jika dia mengikuti arus saja. "Oh, ya, ya, dia tampan, kaya, dan seksi," jawabnya asal.
Di luar dugaan, Fred dan George menarik napas keras-keras melalui mulut mereka yang terbuka. Ketika Harry mendongak, mereka terlihat sungguhan terkejut, tetapi juga senang.
Pada saat itu, Harry segera tahu bahwa dia baru saja salah bicara.
"Forge, Forge. Ini gila. Harrykins sedang jatuh cinta!"
Fred mengulangi dengan lebih keras, "Harrykins sedang jatuh cinta!"
Dan si kembar saling rangkul sambil terus melantunkan nyanyian asal dengan kalimat "Harrykins sedang jatuh cinta" yang diulang-ulang.
Tunggu. Mereka benar-benar percaya?
"Hentikan itu, kalian!" Harry setengah kesal, setengah geli dengan tingkah keduanya. "Kalau ada yang dengar, mereka bisa berpikir yang tidak-tidak…"
"Ini bukan hal baik buat Ginny, huh?"
"Dia bakal patah hati," George membuat suara seperti menyedot ingus. "Oh, poor little Ginny! Cintanya sejak lama tidak terbalas."
"Kami ingin melihat Ginny bahagia, tapi kami juga tidak bisa memaksamu." Fred mengangguk dengan sok bijak dan menepuk-nepuk bahu Harry. "Yah, siapapun orang beruntung yang bisa mendapatkanmu, aku bahagia untukmu, Harry! Semoga sukses dan langgeng."
Harry sudah lama menyerah untuk membuat mereka mendengar. "Jadi, kenapa kalian masuk ke kamarku pagi-pagi sekali?"
Fred dan George saling pandang, lalu berjengit.
"Ohh, right," gerutu Fred. "Titah Sang Ratu."
"Huh?"
"Maksudnya, Mum," sambung George. "Dia ingin kami membawamu ke bawah untuk sarapan."
"Dan kita harus bergegas, sebelum—"
Sebuah suara menggelegar menggema dari lantai satu, meneriakkan nama Fred dan George dengan suara melengking yang galak, dan Harry menyaksikan dengan geli ketika si kembar bergetar mendengarnya. Hanya Molly yang bisa menjinakkan keduanya.
George menahan napas. "Itu dia."
"Ayo," kata Fred, "sebelum pantat kita ditaboki karena kita terlalu lama."
Sepanjang perjalanan mereka turun ke bawah, Harry mendengar Fred dan George membuat rencana untuk menggoda Ginny karena Harry agaknya punya pacar baru. Namun ketika mereka sampai di dapur, Harry kembali dihadapkan dengan suasana yang terlalu tegang. Ditambah lagi, Ginny terlihat luar biasa pucat hari ini, dan Harry yakin penyebabnya bukan karena dia gugup lagi di sekitarnya.
"Lama sekali!" Molly berkacak pinggang. "Sudah kubilang, jangan mengerjai Harry!"
"Darimana dia tahu?" bisik Fred, yang dijawab dengan kedikan bahu oleh George.
Sarapan berlangsung dengan cukup normal, meskipun segalanya terasa kurang tanpa kemeriahan dan keceriaan keluarga Weasley yang biasanya. Satu-satunya yang berani berbicara di tengah atmosfer tebal itu hanyalah Fred dan George, yang tidak jadi mengerjai Ginny karena mereka juga khawatir terhadap adik perempuan mereka.
"Kenapa Ginny?" tanya Harry kepada Ron di sebelahnya, yang entah kenapa tidak mengunyah secepat biasanya.
"Entah," jawab Ron, suaranya sedikit inkoheren karena makanan setengah terproses di dalam mulutnya. "Sejak pagi sudah begitu."
"Mungkin dia sakit?" Hermione menggigiti garpunya dengan cemas. "Stres bisa menyebabkan itu kepada setiap orang."
Selesai sarapan, Ginny langsung kembali ke kamarnya sehingga Hermione tidak sempat menanyakan kondisinya. Ketiganya memutuskan untuk mengatakan kecemasan mereka kepada Molly, yang mengangguk pengertian. "Biar aku yang urus dia," katanya.
Dengan penenangan itu, Harry, Ron, dan Hermione naik ke atas menuju kamar Ron sekali lagi untuk mengadakan apa yang Hermione sebut sebagai 'pertemuan urgen'—Ron terang-terangan memutar matanya, sebuah ejekan non verbal, tetapi diabaikan begitu saja oleh Hermione yang sedang serius. Ketiganya duduk dengan nyaman di atas kasur Ron, dan setelah memastikan tak ada yang mengganggu, mereka memulai.
"Aku tidak menemukan banyak hal, tapi ada yang menarik di salah satu buku yang kubaca." Hermione mengeluarkan secarik kertas dari sakunya yang penuh dengan catatan. Bagaimana dia bisa menemukan begitu banyak hal hanya dengan membaca buku dalam waktu singkat, Harry tak tahu. "Ini tentang legenda Magus of Hogwarts."
"Apa hubungannya mereka dengan Kamar Rahasia?" tanya Ron.
"Kita akan membahas itu setelah ini." Hermione mendelik sebagai sebuah isyarat bagi mereka untuk menutup mulut. "Sekarang, dengarkan dulu ceritaku baik-baik."
Meski terlihat tidak rela, Ron menurut, meraih bantal oranyenya dan meletakkannya di atas pangkuan.
"Oke, mungkin kalian sudah tahu sejarah Magus of Hogwarts di mana mereka melakukan berbagai kehebatan demi melindungi Arcus, kan? Nah, di balik keberhasilan keempat Magus itu, ada sedikit… kejadian. Tak banyak orang yang tahu, tapi kejadian ini menyebabkan Slytherin dan pewarisnya dicap sebagai pengkhianat." Hermione menjeda, memberi waktu bagi Harry dan Ron untuk mencerna. "Di dalam buku, dikatakan bahwa Salazar Slytherin sempat berdebat hebat dengan ketiga rekannya, dan terutama, dengan Godric Gryffindor."
Harry menekuk kedua alisnya. "Slytherin dengan Gryffindor?"
"Setelah invasi Muggle kedua, Slytherin mengusulkan penggunaan sihir yang lebih kuat untuk melawan mereka." Hermione memandangi Harry dan Ron secara bergantian, seakan meminta pendapat mereka. "Sihir yang sangat destruktif, tapi terlarang, karena itu bisa merusak jiwa dan kewarasanmu."
Tubuh Ron mendadak kaku seperti patung. "Sihir dari elemen kegelapan…" bisiknya lambat-lambat.
"Benar." Hermione mengangguk, dan kali ini saja, dia menahan komentar pedasnya tentang Ron yang mendadak cerdas. "Slytherin mengusulkan kepada ketiga Magus lainnya agar mereka menggunakan elemen kegelapan. Dia berkata bahwa itu satu-satunya cara, agar semua Muggle jera, dan agar mereka tak lagi berpikir bahwa mereka bisa melebihi Magus… Agar Arcus bisa terlindungi. Tapi tentu saja, ketiga Magus lainnya, yang tahu persis betapa buruknya elemen kegelapan, menolak mentah-mentah usulan Slytherin."
Harry menunggu dengan napas tertahan. "Dan…?"
Hermione mengambil udara sejenak sebelum melanjutkan, "Karena perbedaan pandangan ini, Slytherin merasa bahwa dia tak lagi bisa bekerja sama dengan ketiga rekannya. Dia pergi meninggalkan Arcus menuju Domus untuk melawan Muggle dengan caranya sendiri. Dan… ini hanya legenda yang belum pasti, tapi ada yang mengatakan bahwa di Domus, dia membuat sebuah kamar rahasia."
"Serius?" Ron berbisik keras. "Kau pikir… itu kamar rahasia yang…"
Helai tebal Hermione bergoyang ketika dia menggeleng. "Entahlah. Yang jelas, kamar rahasia itu hanya bisa dibuka oleh pewaris sejati Slytherin—ya, dia yang memiliki Mark of Legacy dari Slytherin. Slytherin berharap bahwa pewarisnya kelak akan membuka kamar rahasia itu, dan mengeluarkan… horor yang ada di dalamnya, untuk membasmi semua Muggle."
"Apa itu 'horor yang ada di dalamnya'?" Harry mengerutkan kening. "Apa yang ada di dalam kamar itu?"
"Sesuatu yang mengerikan, itu jelas," Ron berkata dengan susah payah, seakan rongga pernapasannya tiba-tiba menyempit. "Kalau memang Kamar Rahasia yang ada di cerita itu sama dengan yang dimaksud di pembunuhan ini…"
"Tunggu. Ada yang tidak beres," sela Harry. Tubuhnya bergerak maju, antusias sekaligus tegang. "Slytherin menggunakannya untuk membasmi Muggle—tapi seisi desa ini adalah Magus. Kalau memang benar pelakunya adalah Slytherin dan pewarisnya, kenapa dia menyerang Magus, bangsanya sendiri?"
"Itulah yang membuatku bingung, Harry," Hermione mengusap dagunya. "Ada titik besar yang menghilang dari sini… Sebelum kita menemukannya, segalanya tidak masuk akal."
"Bisa saja pewaris Slytherin ini memiliki visi berbeda, dan dia justru membenci Magus karena ada dendam tertentu?" Ron menawarkan pendapatnya. "Just saying."
"Bagaimanapun juga, kita butuh petunjuk baru," Hermione menegaskan. "Aku hampir mendapatkan sesuatu, tapi masih belum cukup. Semua bukti yang ada belum hadir."
Harry jadi teringat akan pertemuannya dengan si ular. Bila Hermione butuh bukti, barangkali ceritanya akan membantu.
"Aku baru ingat," celetuk Harry. "Beberapa hari yang lalu, ketika kita pergi ke perpustakaan, aku bertemu seekor ular."
Hermione memandanginya dengan skeptis. "Ular?"
Harry mengangguk. "Ular itu berkata kalau Sang Raja datang… Aku tidak tahu siapa Sang Raja itu, tapi bisa saja dia semacam raja ular. Daripada itu, karena kedatangan Sang Raja ini, semua ular merasa resah, dan mereka semua terdengar sangat ketakutan dengannya," ungkapnya. "Mungkin 'horor' yang dimaksud adalah Sang Raja ini?"
Dengan ungkapan kecil itu, Harry mengharapkan gelontoran spekulasi baru dari kedua temannya. Namun ketika dia mendongak, ekspresi Ron dan Hermione sama-sama membeku, seolah mereka baru saja mendengar hal yang semestinya tidak mereka dengar.
"Harry," Ron memulai dengan suara gemetar. "Kau bisa bicara dengan ular?"
"Yeah," Harry mengiyakan dengan mudah. "Tapi, itu bukan hal aneh untuk seorang Magus, kan? Ular itu bilang aku spesial, tapi pasti hanya karena aku adalah Magus…"
Hermione memandangi Ron cukup lama, sebelum dia beralih kepada Harry ekspresi yang tidak sepenuhnya menyenangkan. "Harry," panggilnya lambat sekali. "Mereka yang bisa bicara bahasa ular—Parseltongue—hanyalah Parselmouth. Dan tidak ada Parselmouth di dunia ini selain Salazar Slytherin sendiri dan semua pewarisnya."
Darah di dalam tubuh Harry berdesir keras.
Bohong.
Dirinya adalah Parselmouth?
…Pewaris Slytherin?
Tidak mungkin. Pasti ada yang salah. Pasti ada kemampuan berbicara dengan ular selain Parseltongue, semacam kemampuan magis lain yang tidak mereka ketahui. Pasti ada…
"Parsel…? Tapi—" Harry memulai, tetapi setelah mulutnya membuka, ada begitu banyak penolakan yang ingin dia sampaikan hingga dia tak tahu harus berkata apa. "T-Tapi aku adalah pewaris Gryffindor!" Harry menunjukkan tanda singa merah pada tangannya, bukan untuk membuktikan perkataannya, tetapi lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri. "Lihat! Mana mungkin aku pewaris Slytherin, kan?"
Hermione terdiam cukup lama, merenung, lalu mencetus, "Walaupun keadaan ini membingungkan, kau benar, Harry. Kau adalah pewaris Gryffindor. Dan dari apa yang aku baca, pewaris Slytherin terakhir adalah keluarga Gaunt, yang anggota terakhirnya meninggal sejak tahun 1940-an."
Ron menatap Hermione dan Harry secara bergantian, luar biasa bingung. "Lalu kenapa Harry…?"
"Entahlah," jawab Hermione. Kerutan-kerutan pada dahinya belum menghilang dan justru bertambah banyak. "Entahlah. Terlalu banyak pertanyaan yang belum bisa terjawab sekarang."
Ketiganya diselimuti keheningan yang tidak mengenakkan.
"Kita perlu investigasi lebih lanjut. Dan, Harry." Hermione tersenyum kaku. "Untuk saat ini, kau tidak perlu khawatir. Bisa saja ada kakek atau nenek moyangmu yang memiliki sedikit darah Slytherin. Tapi tentu saja, itu tidak mengubah fakta bahwa kau pewaris Gryffindor."
Sayangnya, penenangan Hermione kurang bekerja, dan Harry justru bertambah khawatir lebih dari biasanya.
XOXO
Siang itu, Harry sedikit terdistraksi berkat ajakan Fred dan George untuk mengurusi hewan-hewan di kandang.
Tepat di samping The Burrow, keluarga Weasley memiliki sebuah kandang besar untuk hewan-hewan ternak, dan satu kandang kecil berisi ayam-ayam. Fred dan George membimbing Harry, dan Ron—yang ikut karena dipaksa—menuju kandang besar berisi dua sapi dan lima kambing.
"Dulunya kami punya banyak babi," terang George, yang sedang mempersiapkan dan mengaduk-aduk campuran pakan dalam sebuah wadah besar. "Tapi berhenti memeliharanya karena Mum tidak suka kekotoran yang mereka buat."
"Yeah, babi memang suka kotor," renung Fred. "Pahlawan pemberani, mereka itu… Padahal manusia menjerit hanya karena setitik lumpur di baju mereka."
Semua hewan di dalam kandang memiliki badan gemuk dan sehat. Sepertinya keluarga Weasley merawat mereka dengan baik.
"Nah, pertama, kita akan beri mereka pakan," George memberi Harry sebuah ember dan mulai menuangkan sebagian pakan berbau tidak enak ke dalamnya. "Kalau jijik, tidak usah dipegang. Langsung tuangkan saja pada tempatnya."
Harry melakukan apa yang George instruksikan, menuangkan sedikit demi sedikit pakan ke setiap boks besar di depan masing-masing hewan ternak. Setelahnya, dia menyaksikan Ron dan Fred mendekati salah satu sapi, dan meletakkan satu lagi ember di bawah kelenjar susunya.
"Oi, Ron, jangan asal-asalan!" Fred berjongkok, memandangi Ron yang sedang mengusap punggung si sapi. "Kau harus memastikan si sapi benar-benar tenang! Kalau perlu, cium dia!"
Sapi itu mengeluarkan 'moo' pelan, seakan setuju dengan perkataan Fred.
Ron memutar mata. "Ya, ya, kenapa tidak kau saja yang mencium pantatnya?"
Dengan sebuah cengiran, Fred mulai bekerja dengan semangat untuk memerah susu dari si sapi. Gerakan tangannya praktis dan lihai, akibat dari rutinitas yang telah melekat baik ke dalam memori. Fred bersikap luar biasa santai di dekat sapi itu, tak sedikitpun ketakutan kalau-kalau si sapi akan menendangnya. Justru, dia bersiul dan bernyanyi, dan si sapi terlihat semakin nyaman.
"Kalian sepertinya sudah terbiasa sekali mengurusi mereka," Harry menemukan dirinya menyeletuk setengah sadar. "Sudah lama berternak?"
"Kau bisa katakan itu." George meletakkan ember-ember kosong di bawah salah satu kran dan mulai mengalirinya dengan air. "Tapi, aku rasa kami sudah diberkati dengan afinitas terhadap hewan sejak lahir, kau tahu."
"Afinitas terhadap hewan?" ulang Harry, sekarang berjongkok dan membantu George membersihkan ember itu.
"Yep." George mengangguk. "Sebagian Magus lahir dengan afinitas terhadap makhluk tertentu. Ada, tetapi tidak sering dijumpai."
Harry teringat akan Quirinus dan kemampuannya mengendalikan Troll, lalu merinding.
"Tak banyak yang memahami, tapi ini juga salah satu bentuk kemampuan sihir." George membalikkan ember yang selesai dicuci. "Soalnya, sihir tidak melulu berbentuk elemen-elemen ngeri seperti api atau listrik. Kadang orang-orang melupakan hal ini dan menganggap bahwa memiliki sihir destruktif yang berdampak langsung adalah salah satu syarat menuju kehebatan."
Harry menggumam untuk menunjukkan bahwa dia mendengarkan. "Dan, terhadap hewan apa kalian memiliki afinitas itu?"
"Aku sudah menantikan pertanyaan itu!" George tidak repot-repot menyembunyikan cengirannya. Dengan ibu jari menunjuk ke dirinya sendiri, dia melanjutkan dengan bangga, "Aku dan Fred—kami bisa mengendalikan hampir semua hewan!"
"Hampir semua…?" Harry mengedip lambat-lambat. "Hei, bukankah itu terlalu keren?"
"Benar, kan? Terlalu keren, kan?" George terkekeh dan merangkul bahu Harry seperti seorang bro. "Aku senang kau mengerti, Harry! Hanya karena Percy dan Ron bisa elemen listrik, bukan berarti kami kalah hebat! Maksudku, kami bisa memerintahkan seekor sapi untuk menggigit pantat seorang musuh—literally—dan mereka tidak akan pernah mengiranya."
Harry tergelak. "Itu rencana brilian! Sangat Gryffindor."
"Wow, Harry, dari mana kau tahu?" Terhadap wajah bingung Harry, George menggulung kemejanya lebih banyak untuk menunjukkan kulit di atas siku kirinya, di mana sebuah tanda kemerahan familier berada. "Aku tidak bercanda. Lihat ini, Gryffindor asli! Sama seperti Mum dan Dad dan Fred dan Ron dan kakak-kakakku tercinta… Oh, tapi Ginny belum mendapatkan tandanya."
"Luar biasa," Harry berbisik takzim. "Kalian sekeluarga… adalah pewaris Gryffindor?"
"Well, yeah. Sekali lagi, kecuali Ginny." George mengedikkan bahu. "Dengan sifatnya kalau kau ada di dekatnya, aku yakin dia bisa saja jadi pewaris Hufflepuff. Oh—tapi jangan beritahu dia, nanti aku dihajar habis-habisan."
Dari belakang Harry, sebuah suara dari ember yang dipukul-pukul terdengar tiba-tiba. Sementara George terlihat biasa saja, Harry hampir mengeluarkan pekikan tidak jantan saking kagetnya.
"Oh, hei." George nyengir kepada kembarannya. "Cepat sekali?"
"Tidak seperti kau, bermalas-malasan saja!" Fred menggerutu dengan nada yang terlampau tinggi, dan baru setelah George tertawa, Harry menyadari bahwa Fred sedang menirukan Molly. "Nih, susu segarnya."
Di sebelah Fred, Ron menggumam, "Kualat kau nanti."
"Baiklah. Dengan ini, selesai!" George menerima ember susu dari Fred. "Sekarang, kita pindah ke ayam-ayam."
Kandang ayam mereka berjarak lima langkah dari kandang sapi dan kambing. Lampu kekuningan menyala dari dalamnya, kentara bahkan di tengah teriknya matahari. Namun entah mengapa, Harry merasa ada yang tidak beres. Kandang itu terkesan terlalu sunyi.
Dan benar saja.
Ketika Fred membuka pintu kandang, dia membeku cukup lama sebelum berteriak, "Bloody hell!"
George ikut memucat, dan tanpa mengatakan apapun, dia ikut melongok ke dalam kandang. Tidak seperti Fred, dia terdiam lebih lama, tetapi kedua bahunya yang melemas mengatakan semua perasaannya.
"Kenapa?" tanya Ron, tiba-tiba merasa panik. "Ada apa?"
Fred berbagi pandangan gelap dengan George, mengangguk, lalu menyingkir dari depan pintu untuk membiarkan Ron melihat sendiri.
Sekilas, Harry dapat menemukan bulu-bulu keputihan yang tercerai berai di atas lantai berjerami kandang. Kemudian pandangannya naik, semakin naik, dan—
"Blimey!" Ron terjengkang ke belakang. "H-Hei… Kenapa… Kenapa semua ayam kita mati!?"
"Aku juga ingin tahu itu!" Fred membentak frustrasi kepada Ron, tetapi Harry yakin dia melakukannya karena terguncang. "Siapa yang melakukan ini? Tetangga? Tidak—kita sudah memelihara hewan selama bertahun-tahun dan ini belum pernah terjadi…"
"Apa kau pikir ini ada hubungannya dengan semua pembunuhan di desa?" tanya Harry. Suara yang keluar jauh lebih kecil daripada yang diharapkan.
"Kalau memang iya, kenapa mereka harus membunuh ayam-ayam kita?" George memandang ke dalam kandang sekali lagi, menghela napas berat, dan menutup pintu kayu dengan pelan. "Kita perlu beritahu Mum."
Keempatnya berjalan kembali ke The Burrow dengan sedikit tergesa-gesa. Namun setibanya mereka di dalam rumah, Harry menyaksikan sesuatu yang sama tidak biasanya.
Di ruang keluarga, dua orang berjubah putih sedang berjalan di kedua sisi dari benda yang Harry kenali sebagai tandu. Tandu itu melayang karena sihir, dan di atasnya terbaring sosok berselimut yang dikenalinya—Arthur Weasley.
Harry akan berasumsi yang tidak-tidak bila saja sosok Molly tidak tampak di dekat tandu. Wajah sang ibu tidak dirambati dengan ekspresi panik apapun, meskipun dia terlihat sedikit cemas. Itu berarti, kedua orang tadi tidak datang tanpa diundang.
"Oh, dear, bertahanlah…" Molly berbisik selagi dia mengikuti tandu itu bergerak menuju perapian. Dia mengenakan pakaian bepergiannya, dan di tangannya adalah koper hitam yang sudah usang. Apapun yang akan Molly lakukan, dia tampak sangat siap bepergian.
"Mum!" Ron adalah yang pertama bereaksi. "Mum, kau memanggil Healer?"
Molly—yang sedari tadi fokus hanya kepada suaminya—melompat tekejut ketika dia mendengar suara menggelegar Ron. "Oh, kalian sudah pulang?" tanyanya. "Bagus, bagus… Ke sinilah sebentar, aku ingin beritahu sesuatu."
Menurut dengan patuh, Harry bersama ketiga Weasley berdiri atentif di hadapan Molly membentuk setengah lingkaran. Fred dan George seperti tidak tahan untuk melaporkan masalah di kandang ayam, tetapi urung setelah mendengar kegentingan dalam suara Molly.
"Dengar, aku mengekspektasi kalian untuk bertingkah baik-baik di rumah," Molly memulai, memandangi mereka satu demi satu dengan sorotan tajam. "Soalnya, aku akan pergi ke St. Mungo. Selama dua hari."
St. Mungo, Harry duga, adalah sebuah rumah sakit untuk Magus. Namun, alasan Arthur mendadak dibawa ke sana juga masih belum jelas. Ketiga putra Weasley juga sama tidak tahunya, karena mereka terkaget-kaget mendengar pernyataan dadakan Molly.
"Apakah Mr. Weasley baik-baik saja?" tanya Harry dengan suara serak.
"Oh, dia baik-baik saja." Molly tersenyum menenangkan. "Sejak meminum cairan dari batu itu, sihirnya berfluktuasi—sebuah efek samping, kata para Healer—tetapi dia masih sangat sehat. Hanya saja, dia harus dibawa ke rumah sakit yang pantas agar sihirnya tidak berubah kasar dan menyerang tubuhnya sendiri."
Kedua mata Harry membola. "A-Aku tidak tahu—"
"Nak, ini sama sekali bukan salahmu. Kalau bukan karenamu, Arthur tidak akan memiliki kesempatan untuk sembuh secepat ini," Molly memberitahunya dengan halus. Kepala merahnya terangkat, dan setelah melihat bahwa kedua sosok berjubah yang dia sebut Healer itu telah bersiap di depan perapian, Molly lekas menciumi dahi keempat lelaki di hadapannya satu per satu dan berkata, "Nah, sudah waktunya pergi. Kalian baik-baiklah di rumah, mengerti? Terutama kau, Fred, George."
Mereka bahkan tidak sempat mengutarakan jawaban hingga selesai sebelum Molly meraih kopernya dan berjalan menuju perapian, di mana tandu Arthur, kedua Healer, dan terakhir Molly, menghilang di dalam api kehijauannya.
Kegaduhan sementara tersebut meninggalkan keheningan yang mengganjal.
"Sekarang, apa?" tanya Ron.
"Apa," ulang Fred hampa.
"Mungkin kita harus membersihkan kandang ayam itu," usul George. Menyaksikan wajah murung Fred, dia menambahkan, "Kalau begitu nanti. Kita juga bisa memasang jebakan untuk menangkap pelakunya—kalau-kalau dia kembali untuk mengincar hewan lain."
"Benar—hewan lain!" Ekspresi Fred menyala seperti petasan. "Aku harus melindungi mereka! Ayo, George, malam ini kita akan tidur di kandang!"
"Beritahu yang lainnya tentang Mum, Ron!" George melambai, sebelum keduanya menghilang di balik pintu depan.
Mereka pergi, meninggalkan Harry dan Ron yang saling pandang dalam diam, tetapi tidak untuk lama. Sesaat, terdengar gemuruh kaki yang menjejak anak tangga, dan sosok Hermione muncul dengan muka tidak percaya.
"Apakah aku melihatnya dengan benar?" tanya Hermione dengan sangat cepat. Harry kagum kata-katanya masih bisa terdengar jelas. "Mr. Weasley dibawa ke St. Mungo?"
Ron berbalik untuk menghadapinya. "Kau menonton dari tadi?"
"Yah, bagaimana tidak dengan semua keributan itu?" Hermione menelan ludah. "Aku berharap Mr. Weasley lekas sembuh."
Mulanya Harry tidak begitu yakin, tetapi setiap bagian tubuh Hermione meneriakkan ketegangan dan kegugupan dan… sedikit antisipasi, barangkali. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung karena sebuah alasan.
Maka, Harry memutuskan untuk bertanya, "Ada apa, Hermione?"
Seolah telah menunggu seseorang berkata demikian, wajah Hermione berubah sedikit cerah. "A-Aku hanya berpikir…" mulainya, "Yah, aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi… Kau tahu, bukankah ini kesempatan kita untuk pergi menginvestigasi?"
Ron menatap Hermione seakan dia baru saja bicara bahasa alien. Dari semua yang bisa diutarakannya, mulutnya memilih untuk mengeluarkan sebuah "Huh?" lirih.
"Investigasi untuk apa?" tanya Harry lagi. "Kamar Rahasia?"
"Apa lagi?" Hermione mengangkat bahu. "Buku saja tidak cukup untuk mengumpulkan bukti. Kita harus pergi ke sana dan melihat keadaannya langsung." Ketika Harry dan Ron saling lirik, dia buru-buru menambahkan, "Tentu saja, aku merasa tidak enak kepada Mrs. Weasley karena memanfaatkan suasana seperti ini, tapi kapan lagi kita bisa keluar? Dan sebelum kalian memprotes, ini bukan paksaan—aku bisa mengerti kalau kau memilih untuk menunggu kabar tentang Mr. Weasley, tapi…"
"Aku setuju, sih," sahut Harry. "Bagaimana denganmu, Ron? Menurutku kau sebaiknya tetap ada di rumah untuk menunggu kabar ayahmu."
"Nah." Ron menggeleng. "Aku ikut. Menunggu di rumah terlalu membosankan. Dan aku bakal kepikiran yang tidak-tidak."
"Kalian serius?" Kedua mata Hermione membuka lebar, seakan dia tak menyangka rencananya akan disetujui begitu saja. Ekspektasi pertamanya adalah penolakan mentah-mentah dan barangkali kekesalan. Kedua lelaki yang mendadak lebih kooperatif itu membuat segalanya berkali-kali lipat lebih baik. "Baiklah. Kalau begitu, kita pergi ke desa dalam lima menit, mengerti?"
Ron mendengus setelah Hermione naik menuju kamar tempatnya menginap. "Memangnya dia perlu sekali memerintah seperti itu?"
"Begitulah Hermione," Harry tertawa.
XOXO
Dihadapi dengan insiden pembunuhan beruntun, hampir semua orang di desa memutuskan untuk bertingkah cerdas dengan bersembunyi di balik pintu rumah yang terkunci. Karenanya, saat Harry tiba di desa, setiap sudut dipenuhi dengan kehampaan yang sangat ganjil, yang memberinya perasaan bahwa sesuatu bisa terjadi kapan saja. Jalanan penuh dedaun rontok hanya dilewati oleh satu atau dua Magus sukarelawan yang memang bertugas layaknya polisi di desa itu.
"Usahakan jangan kelihatan Magus manapun, tapi jangan juga bertingkah mencurigakan," Hermione berkata selagi menggumamkan mantra pengalih perhatian—agar lebih sedikit orang menyadari keberadaan mereka. "Tujuan kita adalah untuk mencari tahu hal tidak biasa, sesuatu sesepele apapun yang mungkin bisa jadi petunjuk."
Ron mengeluarkan gerutu malas. "Maksudmu, kita harus menjelajahi satu desa?"
"Jangan komplain," Hermione membalas tajam, "Kau sendiri yang memutuskan untuk ikut."
Dengan itu, ketiganya mulai berjalan mengelilingi desa, mencari di setiap celah dan lekukan sekecil apapun, dan mengais-ngais bukti seperti kucing liar yang mencari sisa makanan di tong sampah. Hermione terus memperingati mereka untuk tetap awas, dan lama-lama, Harry mulai mencurigai dedaunan inosen yang baginya mendadak terlihat seperti monster jelmaan.
Seorang Magus sempat bertanya dengan curiga tentang tujuan mereka berkeliaran di desa, tetapi Ron menjawab dengan santai bahwa mereka disuruh Molly membeli sesuatu—bagaimanapun, wajahnya sudah dikenal di desa itu.
Sayangnya, desa itu nyaris benar-benar kosong, bukan hanya soal manusia, tetapi juga soal hal mencurigakan apapun. Tiga puluh menit telah berjalan dan mereka belum menemukan apapun. Ron yang berubah putus asa mulai mengada-ada dan menyebutkan bahwa air mancur di tengah desa adalah tempat mandi si pembunuh.
"Hermione." Harry menendang batu kerikil di sampingnya. "Ada semut berbaris di sini."
"Oh, ayolah," Hermione menggeram, dan dia menatap kedua teman laki-lakinya dengan sorot galak yang menusuk. "Kalau kalian tidak bisa bekerja dengan benar, lebih baik diam saja."
"Yeah, benar, ada semut," timpal Ron asal. "Ada semut, ada daun, ada batu, lalu ada—"
Suara Ron terbunuh begitu saja di dalam rongga tenggorokannya. Warna wajahnya berubah menjadi biru yang tidak sehat, dan dengan tangan yang gemetar, dia menunjuk ke sebelah kanannya.
"A-Ada," Ron menelan ludah dengan keras. "Ada… laba-laba."
Pada pinggiran jalan hingga pepohon di sekitarnya, barisan laba-laba dalam jumlah besar terlihat seperti pasukan yang siap berperang. Harry berjengit. Jangankan laba-laba, melihat semut dalam jumlah besar saja membuatnya risih. Dia yakin, siapapun yang tak memiliki fobia khusus terhadap laba-laba akan merinding setelah melihat barisan sebanyak ini.
"Iya." Hermione melipat dahi. "Laba-laba. Kuberitahu sekali lagi, kalau kalian tidak bisa bekerja, lebih baik diam saja daripada mengatakan hal-hal tidak masuk akal yang bisa membuatku buyar."
"Dan kuberitahu, ada laba-laba!" Ron menggigil, tetapi bukan karena udara dingin yang menusuk. "C-Cepat pergi dari sini!"
Samar-samar, Harry mengingat percakapannya dengan Ron di mana anak laki-laki Molly itu pernah dikerjai si kembar—bonekanya diubah menjadi laba-laba. Barangkali, sejak saat itu, Ron jadi trauma berat dengan si hewan berbuku-buku.
Meski begitu, di sela-sela rasa kasihan dan gelinya kepada Ron, Harry menyadari sesuatu yang dia harap cukup krusial. "Hei," panggilnya. "Hanya perasaanku, atau hewan-hewan ini tiba-tiba saja muncul dalam jumlah besar? Maksudku, kita tidak melihatnya saat pertama jalan-jalan di desa, kan?"
"Y-Ya, kau benar." Ron beringsut semakin mundur, mengamati barisan laba-laba dengan kelewat waspada. "Biasanya juga… tidak ada ular apapun yang muncul, mate. Makanya aku kaget ketika kau bilang baru bertemu ular."
Dan benar, ada pula ular kehijauan yang Harry temui beberapa hari yang lalu. Bila tidak salah menyimpulkan, gerombolan mereka pada normalnya tidak pernah keluar dari sarangnya, setidaknya tak terlalu jauh.
Hermione terdiam sejenak, membolak-balikkan perkataan Harry dan Ron di dalam otaknya. "Ular, semut, dan sekarang laba-laba. Bukan masalah kalau hanya barisan kecil, tapi ini dalam jumlah besar… Yang berarti, ada sebuah gangguan di tempat mereka tinggal."
Baiklah, investigasi kecil-kecilan ini sepertinya mendapat sedikit proses.
"Di mana tempat mereka tinggal?" Harry berpikir, mendorong otaknya untuk mulai berkerja. "Tanah? Pepohonan? Mungkin kita bisa mulai mencari dari sana. Akan lebih bagus kalau berhasil menemukan penyebab gangguannya."
Hermione mengangguk cepat, segera semangat setelah mengerti bahwa pencarian mereka masih memiliki sedikit harapan. "Itu dia!" serunya. "Kita bisa mengikuti laba-laba itu untuk menemukan sarangnya."
"Apa!?" Ron menoleh secepat kilat kepada Hermione, dan Harry heran lehernya tidak terasa ngilu. "Bloody hell, no! Kau gila!? Tidak akan! Aku tidak mau! Aku masih mau hidup!"
Hermione menatap Ron tanpa berkedip. "Kau tahu? Fine. Kalau kau memang tidak mau, terserah kau, Ron, aku tidak memaksamu ikut sampai akhir." Mengamati barisan laba-laba itu sekali lagi, muka Hermione terkontorsi menjadi ekspresi ragu sekaligus horor, tetapi dia sudah membulatkan tekadnya. "Aku ingin semua ini selesai sebelum malam. Kalau bisa, aku juga tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Kita sudah sampai sejauh ini!"
"Kau dengar dia." Harry menepuk bahu Ron. "Jangan memaksakan diri."
"Segera putuskan, oke? Aku pergi sekarang," ucap Hermione terakhir kalinya sebelum dia berjalan mengikuti arah di mana barisan laba-laba itu datang.
"Tunggu, Hermione! Jangan pergi sendirian!" Harry menyeru kepada punggung Hermione yang semakin menjauh. "Dasar anak itu…"
Di luar dugaan, Ron justru mengekor di belakangnya, meskipun dia tampak seperti bisa pingsan kapan saja saking takutnya.
"Ron!" Harry menatap figur gemetar Ron dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kau yakin?"
Ron menutup mulut dan mengerang stres, tetapi pada akhirnya mengangguk juga. "Kau mengatakannya seperti itu, sih… Kau bilang kalau kita sudah sampai sejauh ini, jadi mana bisa aku kembali begitu saja!"
Hermione melemparkan sebuah senyuman. "Baguslah kalau kau mengerti," balasnya senang. "Dan ingat, tetaplah waspada ketika melangkah!"
Dengan peringatan itu, keduanya melangkah mengikuti barisan laba-laba berjumlah besar, membelah semak-semak dan memasuki daerah penuh pepohonan yang sama sekali tidak mereka sangka ada di desa itu. Beberapa langkah ke dalam daerah tersembunyi itu dan tiga sibakan semak-semak lebat kemudian, mereka sampai di sebuah tanah yang menurun menuju sebuah lekukan besar di dasarnya. Semua laba-laba sedang berjalan keluar dari lekukan itu, yang Harry duga adalah sarang mereka, bergerak teratur seperti tentara yang sigap.
Hanya saja, bukan itu yang membuat napas Harry tercekat.
Di dalam sarang itu adalah sesosok makhluk sebesar gajah kecil, berukuran sekitar delapan belas kaki.
Dia adalah laba-laba, tetapi jauh lebih besar dari koloni kecil yang diikuti Harry.
"L-L-Laba-laba!" Ron setengah berteriak dan setengah berbisik, tetapi suaranya hampir tidak terdengar seakan telah terbunuh di dalam tenggorokannya. "Laba-laba raksasa!"
"Oh. Oh, astaga," Hermione berbisik, dan suaranya kental akan realisasi mendadak. "Kenapa aku tidak menyadari ini sebelumnya?"
"Ada apa?" Harry bertanya, dan kedua matanya sama sekali tak lepas dari laba-laba raksasa itu. "Kau menyadari apa? Apakah—Jangan-jangan laba-laba itu adalah horor yang ada di dalam Kamar Rahasia?"
"Kalau itu aku tidak tahu." Hermione menggeleng. Kakinya sedikit mengejang seakan dia ingin sekali berbalik badan. "Tapi aku tahu, mereka bukan laba-laba biasa. Mereka adalah Acromantula."
"Apa!?" Ron mencicit dengan nada tinggi. Melihat sekali lagi pada tubuh masif si laba-laba, Harry merasa sedikit bersimpati terhadap Ron. "Mereka adalah apa!? Kau—Kau y-y-yakin!?"
"Memangnya apa itu Acromantula?" Harry mengendalikan suaranya agar keberadaan mereka tak lekas diketahui oleh si laba-laba. "Sebahaya itukah?"
"Acromantula adalah spesies laba-laba raksasa yang dikawinkan secara magis sehingga mereka berbeda dari laba-laba biasa. Mereka suka daging manusia…" Sepasang mata laba-laba raksasa itu berpindah kepada mereka, dan suara Hermione semakin lirih. "Dan kita baru saja berjalan tepat menuju sarang mereka."
Yah.
Bukankah itu bagus sekali?
"Pantat Merlin." Kulit Ron terlihat putih sekali hingga Harry tidak yakin dia masih sadar diri. "T-Tidak… Tidak mau… M-Mum, tolong aku, m-maafkan aku!"
"Tenanglah, Ron." Harry mencoba menarik Ron dari histerianya, meskipun suaranya sendiri sedikit bergetar. "Tidak apa-apa, kita juga punya sihir. Kalau ada sesuatu, kita bisa melawan."
Hermione membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, hanya untuk disela dengan suara lain yang dalam, mengerikan, dan menyerupai bisikan, meskipun pada kenyataannya dia menggema ke seluruh penjuru.
"Apa yang kalian lakukan di sarangku, Anak Manusia?"
Ketiganya sama-sama menelan ludah, sebelum mereka membawa tatapan mereka dengan lambat sekali ke arah sarang raksasa tadi.
Sepasang kelereng hitam dari Raja Acromantula terpancang pada ketiganya.
Harry harap tatapan itu bukan berarti bahwa dia sedang kelaparan.
Di sampingnya, Ron mengeluarkan jeritan tidak jantan dan bersembunyi di belakang Harry, yang sebenarnya tidak merasa seberani itu dibandingkan Ron.
Hermione juga berubah sedikit gentar, tetapi sorot matanya yang kuat masih ada. Layaknya seorang pewaris Gryffindor sejati yang lebih jantan dari Harry, dia meneguhkan diri dan mengumpulkan sedikit keberanian untuk membalas, "Maafkan kelancangan kami. Kami sedang mencari tahu apa yang membuat kawananmu berpindah tempat."
Harry menelan ludah. Dia tidak percaya ini—mereka sedang bicara dengan seekor laba-laba. Hanya saja, Harry berharap, pembicaraan mereka tidak akan mengalir dengan kata-kata seperti 'aku lapar' atau 'enyah kalian' atau 'kubunuh kalian'. Bagaimanapun juga, sepintar apapun hewan-hewan magis di luar sana, mereka tetap memiliki perbedaan logika dengan manusia.
"Kenapa kami pindah dari sarang, katamu?" Raja Acromantula mengeluarkan suara yang mirip dengan dengusan manusia. "Pertanyaan yang sia-sia, karena kau sudah tahu jawabannya. Dengan kembalinya makhluk itu, tidak ada hewan yang cukup berani untuk menetap di sarangnya."
"Dan, yang kau maksud 'makhluk itu' adalah…?" Hermione mendorongnya untuk melanjutkan.
"Basilisk, tentu saja," jawab si Acromantula. Basilisk. Entah kenapa, Harry mendapat perasaan bahwa kata itu adalah kunci yang sangat krusial. "Sangat merepotkan, hewan itu. Selalu bertindak seenaknya. Sudah menjadi naluri alamiah spesies kami untuk memusuhinya. Ketika dia datang, kami harus pergi sejauh mungkin. Tidak ada yang bisa kami lakukan."
Basilisk adalah sesuatu yang sangat asing pada telinga Harry, tetapi rupanya tidak dengan Hermione.
"Kau bilang, ada Basilisk di sekitar sini?" tanya Hermione. Determinasinya dinodai dengan kengerian sekarang, air mukanya terguncang, dan napasnya terlalu cepat. "Tapi bagaimana mungkin? Basilisk seharusnya berukuran besar, dan kalaupun dia memang kembali seperti yang kau katakan, seseorang seharusnya telah melihatnya—"
"Kau meragukanku, Anak Manusia?" Pertanyaan itu bergemuruh, mencekam, membuat bulu kuduk meremang. Harry sedikit kaget karena kedua kakinya yang mulai gemetar masih bisa menopang tubuhnya.
"Maafkan aku." Hermione buru-buru menunduk. Dia melempar pandang kepada Harry, seakan meminta dukungannya. "Aku terlalu lancang barusan."
Tak tahu lagi apa yang harus dilakukan, Harry mencetuskan satu lagi pertanyaan yang terlintas di benaknya.
"Kalau begitu, bolehkah aku bertanya satu hal lagi?" tanya Harry, dan dia lega mendapati suaranya mengalir keluar dengan lancar. Melihat Acromantula yang bergeming, Harry menganggap itu sebagai perizinan. "Pembunuhan warga desa yang terjadi beberapa hari belakangan… apakah kau tahu pelakunya?"
Raja Acromantula memandangi Harry lama sekali, menimbulkan kesepian yang mencekik sampai-sampai degup jantung Harry terdengar begitu keras.
"Kau mencurigai kami," tuding si Acromantula. "Hanya karena kami menyukai daging manusia?"
Oh. Gawat.
Apakah dia telah membuatnya marah?
Harry tak peduli bila harus dicurigai sebagai salah satu keturunan jahat Slytherin, tetapi percakapan dengan seekor ular jauh lebih menyenangkan. Bicara Parseltongue dengan seekor ular lebih menyenangkan. Ular sedikit lebih lucu daripada laba-laba.
"Kami hanya ingin mengetahui kebenarannya," bujuk Hermione. "Kami tidak menuding siapapun."
Raja Acromantula memandangi ketiganya dengan sepasang mata hitam yang terlalu mengerikan. Ketika sorot matanya jatuh pada Ron, lelaki itu menyembunyikan kepalanya di balik punggung Harry, dan itu adalah hal konyol karena dia lebih tinggi dari dua temannya.
"Tidak," Si Acromantula menjawab dengan final. "Kami tidak melakukannya. Bukan kami." Berpasang-pasang kakinya bergerak, dan dia bangun dari posisinya beristirahat di dalam sarang. "Kau tahu jawabannya sekarang, Anak Manusia."
"T-Terima kasih," Harry membantu menjawab, tetapi ada sesuatu yang aneh dengan keadaan sekitarnya. Sesuara halus yang datang dengan serentak terdengar semakin dekat dan semakin dekat, dan setelah Ron mengeluarkan teriakan horor, barulah Harry menyadarinya.
Dari segala arah, gerombolan Acromantula seukuran kucing mengepung mereka dengan mata-mata hitam yang berkilat kelaparan.
"Gawat," bisik Harry, tangannya dengan siaga jatuh di atas gagang pedangnya. "Itu adalah tatapan 'aku-kelaparan-dan-kalian-harus-jadi-makananku'. Aku tahu."
"Jenggot seksi Merlin!" Ron berteriak histeris. "Astaga. Astaga. Aku mulai menyesal. Aku menyesalmenyesalmenyesal—"
"Apa yang kalian lakukan?" Hermione mulai mengeluarkan buku sihirnya dan mendekapnya erat. Sepasang mata jelinya bergerak-gerak dengan awas, mencari celah. "Kami tidak melakukan apapun untuk mengganggu kalian!"
"Memang tidak," Si Raja Acromantula terkekeh. "Tetapi kalian telah datang secara sukarela ke sarang kami, Anak Manusia… Dan kami sudah lama sekali tidak merasakan daging manusia. Karena itu, kupikir anak-anakku ini pantas mendapatkan sedikit hadiah."
Ron mengeluarkan suara lemah, dan Harry mengguncang bahunya agar dia tidak lebih dulu pingsan.
Gerombolan Acromantula mendekat perlahan-lahan, seperti menunggu momen yang tepat untuk menyerang. Hermione bertukar pandang dengan Harry, mengangguk selambat mungkin.
Lalu—
"Lumos!"
Kilatan cahaya yang sangat terang muncul dan melebar seperti awan, membuat semua Acromantula terhenti untuk sementara. Seketika itu, Harry, Hermione, dan Ron berlari sekencang mungkin, terpeleset dan tersandung dan tergores dedurian atau reranting, tetapi mereka tidak pernah berhenti. Di belakang mereka adalah suara hentakan berpasang-pasang kaki Acromantula di atas dedaun dan ranting yang jatuh. Harry tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka berhenti—tidak, bahkan jika mereka melambat sebentar saja.
Seekor Arcomantula berhasil mengejar di sisi Hermione, dan sang gadis menyerangnya dengan sebuah mantra, "Arania Exumai!"
Tubuh Acromantula itu terbalik. Ketiganya terus bergerak, tidak repot-repot mengecek dua kali apakah laba-laba itu masih hidup. Ron adalah yang paling cepat berlari, semua ototnya ditendang oleh adrenalin. Ketika dua Acromantula muncul dari atasnya, Ron berteriak keras, lalu menunduk, dan satu ledakan listrik aksidental muncul dari tubuhnya. Dua Acromantula tersetrum hingga gosong.
"Bagus, Ron," Harry memberinya semangat dengan sebuah cengiran. Beberapa Acromantula mulai berhasil mengejar, dan Harry menyabet mereka dengan pedangnya. "Sebentar lagi kita keluar—bertahanlah!"
Agaknya, beberapa gelombang Acromantula memang telah bersembunyi di sela-sela pepohonan dan semak-semak sejak awal, karena Harry dikagetkan dengan kemunculan gerombolan baru dari arah depan. Sekuat tenaga, dia mengeluarkan semburan api dari telapak tangannya, sementara Hermione dan Ron bertarung menghabisi Acromantula di dekat mereka.
"Dalam hitungan tiga, lari sekuat tenaga! Kalau perlu sampai kau kehabisan napas!" Hermione berteriak memberi instruksi, lalu menghitung mundur dari tiga.
"Satu…"
Ron mengerluarkan lecutan listrik.
"Dua…"
Pedang Harry menebas tiga Acromantula sekaligus.
"Tiga! Sekarang!" teriak Hermione. "Lumos!"
Sekali lagi, cahaya yang sangat terang menyinari ruang di sekitar mereka, dan selagi semua Acromantula terhenti, ketiganya berlari dengan sisa-sisa tenaga yang mereka miliki, berlari dan berlari dan berlari…
Hingga akhirnya, cahaya baru muncul—bukan cahaya sihir dari Lumos, tetapi cahaya dari desa di siang hari. Ketiganya baru berhenti setelah berada di dekat rumah-rumah penduduk, langsung tergeletak lemas di depan pagar rumah orang dengan napas memburu seperti banteng. Pemilik rumah bisa saja keluar dan mengira mereka anak-anak iseng atau orang aneh. Namun mereka terlalu lelah untuk mempedulikan hal itu.
"Wow." Harry terlentang dengan mata terbuka lebar. "Wow. Barusan itu… Wow."
"T-Tidak lagi." Ron terengah dengan posisi tertelungkup. "Aku tidak mau lagi mengikuti laba-laba manapun."
"Ide bagus," timpal Hermione, yang agaknya terlihat sedikit menyesal. Meski begitu, senyuman yang merekah setelahnya benar-benar lebar dan sangat puas. "Tapi tidak sia-sia, kan? Kita mendapatkan sesuatu yang sangat penting! Aku rasa aku mulai paham arah misteri ini."
"Apa?" Ron bertanya dengan serak. Setelah semua adrenalin itu menghilang, pastilah tulang-tulangnya terasa seperti jelly. "Kita masih bermain detektif-detektifan?"
"Ini bukan bermain, Ron." Hermione menatapnya tidak setuju. "Misteri ini menyangkut pembunuhan—menyangkut nyawa orang. Kalau terus dibiarkan, entah berapa banyak lagi yang akan jadi korban."
"Benar." Harry berjengit ketika otot tangannya berdenyut memprotes. "Yah. Aku tidak tahu apakah kita bisa mengalahkan pelaku pembunuhan ini. Tapi setidaknya kita berjuang. Lagipula, sejak awal kita sudah siap mati. Entah di tangan Voldemort, entah bukan."
"Harry." Hermione merengut. "Jangan berkata sepesimis itu."
Ron tidak membalas, dan Harry membiarkannya berkontemplasi dalam diam. Selama beberapa saat, ketiganya berbaring di sana dengan lemas, energi mereka terkuras. Harry telah berhasil mengatur napasnya kembali, tetapi dia cukup malas bergerak. Begitu adrenalin meninggalkan kendali atas tubuhnya, setiap otot dan tulang Harry terasa lembek.
Harry mengerjap letih. Kalau saja dia bisa tertidur saat itu juga…
"Datang… Datanglah padaku…"
Kedua mata Harry terbuka lebar-lebar. Secara impuls, tubuhnya yang masih pegal tergerak bangkit dengan begitu cepat. Harry bahkan tak mempedulikan gejolak dari otot-ototnya, sibuk menoleh ke kanan kiri dengan takut sekaligus waspada.
"S-Suara apa itu?" tanya Harry. Hermione dan Ron memandanginya dengan aneh. "Barusan… Ada yang berbicara! Tidakkah kalian mendengarnya?"
"Biarkan aku merobekmu… Biarkan aku mencabikmu… Biarkan aku membunuhmu."
"Itu dia!" teriak Harry, hampir-hampir putus asa. "Barusan muncul lagi! Kalian pasti dengar!"
Hermione mendudukkan dirinya pelan-pelan, dan selama itu, sorot inteleknya sama sekali tak lepas dari Harry. "Aku tidak mendengar apapun, Harry."
"Sama," sahut Ron, yang ikut-ikut duduk. "Kau yakin tidak salah dengar?"
"Ssh—diam sebentar." Harry memasang telinganya baik-baik, tetapi suaranya itu sudah pergi. Menghadapi pandangan tidak paham dari kedua temannya, Harry mengerang. "Aku serius, aku mendengar sesuatu berkata tentang membunuh… Aku yakin sekali!"
Ron dan Hermione sama-sama memandanginya dengan heran, dan sekali lagi, Harry merasakan sesuatu yang mengerikan merambat dari dasar perutnya.
Firasat buruk.
Sebelum keduanya sempat mengatakan apapun, Ron menegakkan punggungnya dan menoleh ke samping dengan dahi terlipat.
"Hei," katanya pelan. "Kau dengar itu? Suara ribut-ribut?"
Ketiganya terdiam dalam horor, lalu perlahan berdiri dengan kedua lutut yang masih bergeletar.
Tepat di depan air mancur, warga desa kembali berkerumun, dan Harry tidak perlu menyibak orang-orang itu untuk tahu apa yang sedang terjadi.
Satu lagi korban muncul.
Seekor kneazle—kucing magis—terbunuh.
XOXO
Ketika berita itu sampai di meja makan keluarga The Burrow malam harinya, Ginny langsung menangis keras-keras.
Fred dan George bahkan tidak terlalu bergairah untuk melawak kali ini, dan keduanya menyibukkan diri untuk menghibur adik perempuan mereka. Percy yang biasanya berspekulasi dengan bahasa rumitnya mendadak diam saja. Ron dan Hermione pun sama, barangkali masih merenungkan semua kejadian yang mereka alami hari itu.
Makan bersama keluarga Weasley malam itu tidak terasa tepat. Terlalu sunyi, terlalu singkat. Terlalu hambar. Di akhir makan malam, Harry menyaksikan si kembar membawa Ginny kembali ke kamarnya dengan hati-hati—keduanya menunjukkan sisi kakak yang baik dalam diri mereka yang biasanya tertutup oleh kebandelan masif.
Hanya tersisa Harry, Ron, dan Hermione di meja makan. Harry tidak merasa selapar itu, tetapi tubuhnya membutuhkan semua tenaga yang telah dia gunakan hari ini. Jika biasanya Ron yang sibuk makan, kali ini Harry yang melakukannya—menyendok sesuap demi sesuap sup yang terasa lebih hambar dari biasanya.
"Ginny terlihat terpukul sekali," gumam Hermione dengan ketegangan yang kentara. Dia makan sedikit sekali.
Ron mengangkat bahu. "Tidak bisa menyalahkannya. Dia takut, dan terlebih, korban barunya adalah hewan. Ginny sangat suka hewan, terutama kucing. Makanya dia sedih sekali."
"Dia sampai menangis," sambung Hermione.
"Itu karena dia tidak tega membayangkan kalau sampai kucing yang tidak berdosa harus terbunuh!" balas Ron dengan sedikit terlalu ngotot.
"Ron, aku tidak bermaksud apa-apa." Hermione meletakkan sendoknya dan menautkan jari-jari dari kedua tangannya dengan erat. "Tapi, kau tahu, akhir-akhir ini Ginny terlihat aneh. Aku cukup sering menemaninya selama menginap di sini, dan… dan aku tahu ada sesuatu yang tidak benar, Ron. Kemarin, dia pulang malam-malam sekali dan langsung mandi—"
"Mungkin dia hanya kepanasan," sela Ron.
"Dan dia menangis di dalam kamar mandi!" Hermione melanjutkan dengan suara sepelan mungkin. "Ron, mungkin kau harus mengawasinya—"
"Apa maksudmu berkata seperti itu?" Suara Ron mendadak berubah dingin. "Kau menuduh adikku, Hermione?"
"Bukan seperti itu!" Hermione menggeleng dengan mata melebar maksimal. "Aku hanya mengkhawatirkannya!"
Harry memutar otak dengan keras, berusaha untuk mengucapkan apapun untuk mencairkan suasana, tetapi semua yang bisa dikatakannya hanyalah lawakan yang tidak lucu.
"Mungkin dia sedang patah hati?"
"Yeah, ide bagus, mate," dengus Ron, dan dia pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Benar dugaan Harry—lawakan yang tidak lucu.
Harry melirik Hermione yang terlihat luar biasa menyesal. "Kau membuatnya marah," katanya, dan setelah menyadari bahwa dia menaburi garam di atas luka, Harry menambahkan, "Pendapatmu terlalu jujur, Hermione, tapi bukan salahmu. Menurutku, Ron akan kembali normal lagi besok. Jangan khawatir."
Hermione mengeluarkan embusan napas panjang. Surai cokelatnya menggantung ke bawah ketika dia menunduk. "Aku harap begitu." Gadis itu lantas mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Selembar kertas penuh coretan di atasnya. "Awalnya, aku berencana mendiskusikan temuanku pada kalian. Tapi sepertinya, hanya kau yang akan mendengarkan malam ini."
"Tidak bisakah kau menunggu sampai Ron kembali?" Harry menyendokkan suapan terakhir dari makanannya.
Hermione menggeleng dengan tidak bergairah. "Kita tidak tahu kapan si pelaku kembali menyerang. Bisa nanti malam, bisa besok pagi… Makanya, aku ingin memberitahukannya secepat mungkin."
"Oke." Harry mengangguk. "Aku mendengarkan."
Hermione menggunakan sihirnya untuk menerbangkan piring-piring di atas meja menuju bak cuci dan membuat mereka membersihkan diri mereka sendiri. Setelah segalanya menjadi lebih nyaman, dia memulai, "Aku akan langsung mengatakannya tanpa berbelit-belit, oke? Jadi, pertanyaan besar kita sebelum ini adalah 'horor' macam apa yang ada di Kamar Rahasia."
"Apa kau sudah mengetahuinya?" tanya Harry antusias, tetapi Hermione mengangkat sebelah tangannya.
"Sebentar lagi, aku sedang mengarah ke sana." Alis Hermione tertekuk, dan Harry nyengir tanpa dosa. "Ada petunjuk yang mendukung bahwa insiden pembunuhan dan Kamar Rahasia memang terhubung. Pertama, kesaksianmu bahwa ular-ular terganggu dan menjauh dari sarang mereka, mengaku bahwa makhluk bernama Sang Raja telah kembali." Setelah Harry mengangguk paham, dia melanjutkan, "Kedua, petunjuk yang kita dapatkan hari ini. Seperti yang telah kita lihat, para Acromantula berpindah dari sarang mereka, menunjukkan kalau ada semacam gangguan di sana. Dan Raja Acromantula mengklarifikasikan gangguan macam apa yang mereka dapat secara gamblang. Ingatkan kau dengan perkataannya?"
"Basilisk," sahut Harry. Merasa bahwa pembicaraan semakin serius, dia mendekatkan kursinya kepada Hermione. "Dia menyebut nama itu, kan?"
Hermione mengangguk. "Tepat. Dan hal itu cocok dengan pengetahuan bahwa Acromantula adalah makhluk yang secara naluriah bermusuhan dengan sebuah entitas bernama Basilisk. Kalau ada yang bisa memaksa Acromantula untuk berpindah sarang, dia adalah Basilisk."
Harry menggumam tertarik. "Dan makhluk seperti apa Basilisk ini?"
Tatapan Hermione menusuk, sedikit bergetar karena keresahan, tetapi luar biasa yakin.
"Seekor ular," jawabnya. "Basilisk adalah seekor ular."
"Ular," ulang Harry, seakan dia yakin sekali baru saja salah dengar.
"Lebih tepatnya, dia adalah ular raksasa yang disebut dengan King of Serpents." Hermione menjeda, lalu menatap Harry dengan penuh makna. "Kalau tidak salah, ular yang kau ajak bicara menyebut sesuatu tentang Sang Raja."
"Maksudmu," Harry menarik napas dalam-dalam, "Sang Raja yang dimaksud adalah Basilisk?"
"Bisa jadi." Hermione mengangguk. "Basilisk bisa hidup selama ratusan tahun dan sangat berbahaya. Legenda mengatakan bahwa satu tatapan langsung terhadap matanya bisa membunuhmu. Dan satu tatapan tidak langsung bisa membuatmu berubah menjadi batu." Di sini, baik Harry maupun Hermione bergidik ngeri. "Jika Acromantula lari dari Basilisk, maka Basilisk lari dari suara kokokan ayam jantan."
"Suara… ayam jantan," gumam Harry, berpikir sejenak, sebelum kepalanya mendongak dengan gerakan cepat. "Tunggu. Semua ayam Fred dan George ditemukan mati hari ini… Mungkinkah—"
"Entah Basilisk sendiri yang membunuhnya, atau manusia yang mengendalikan Basilisk itu yang membunuhkannya," Hermione berspekulasi. "Jika Basilisk itu bergerak sendiri, yang jadi masalah adalah tempat pergerakannya. The Burrow dikelilingi tanah lapang, tidak ada lubang apapun yang kemungkinan bisa membuat tubuh Basilisk mengecil secara signifikan."
"Jadi, menurutmu… ada manusia yang mungkin mengendalikan Basilisk ini?" Harry meremas fabrik celananya.
"Tentu saja ada." Selama beberapa saat, kedua mata cokelat Hermione jatuh dengan tegas pada Harry. "Parselmouth, Harry. Mereka yang bisa berbicara dengan ular bisa mengendalikan Basilisk, atau ular manapun. Mengabaikan anomali tentang dirimu yang ternyata juga Parselmouth, kita bisa mengecilkan daftar orang yang kemungkinan besar adalah pelakunya."
Jantung Harry mulai berdebar sedikit lebih keras. Entah kenapa, segala sesuatu bertambah lebih jelas sekarang, terbuka dan tersibak sedikit demi sedikit. Hermione memang hebat.
"Pikirkan, Harry. Parselmouth hanya datang dari keturunan asli Salazar Slytherin—yah, sekali lagi, kau adalah pengecualian yang saat ini bisa diabaikan sementara. Maka, pelaku dari insiden ini bisa jadi adalah—"
"Pewaris Slytherin," sambung Harry.
Hermione membenarkannya dengan anggukan singkat. "Tapi sejauh ini kita masih belum tahu bagaimana dia mengendalikan Basilisk. Apakah secara langsung? Apakah dia menggunakan orang lain? Pokoknya, orang nomor satu yang harus kita curigai adalah pewaris Slytherin. Meskipun… aku akui, kau tidak bisa tahu kalau seseorang adalah pewaris Slytherin hanya dengan melihatnya."
Harry menggaruk rambutnya dengan lelah. "Kau benar. Tapi, itu bisa dipikirkan belakangan, bukan? Maksudku, bisa tahu sebanyak ini saja sudah merupakan pencapaian besar bagiku."
"Terima kasih." Hermione tersenyum simpul. "Melanjutkan yang tadi—pembahasan ini, tentu saja, berujung pada Kamar Rahasia. Apa hubungan semua ini dengan Kamar Rahasia?" Gadis itu menyelipkan helai rambut tebalnya di balik telinga. "Kamar Rahasia adalah tempat yang dibuat Salazar Slytherin di Domus, dengan sebuah horor yang suatu saat akan dilepaskan oleh pewarisnya untuk membasmi Muggle. Basilisk adalah ular yang sangat berbahaya. Salazar Slytherin adalah Parselmouth. Bukankah kau harusnya sudah tahu 'horor' macam apa yang ada di dalam kamar rahasia itu?"
"Basilisk." Iris hijau Harry menyala dengan realisasi. "Tapi, semua ini tetap tidak menjelaskan motif si pelaku. Jika dia memang meneruskan keinginan Slytherin, kenapa dia menyerang Magus—atau setidaknya, makhluk magis seperti seekor kneazle—dan bukan Muggle?"
"Itulah yang belum bisa kumengerti." Hermione menggaruk dagunya. "Bagaimanapun juga, pembuka Kamar Rahasia di masa ini pastilah pewaris dari Slytherin… Seperti kata Ron, bisa saja dia memiliki keinginan yang beda dengan kakek moyangnya, sehingga dia mengincar makhluk magis."
"Masuk akal," Harry menyetujui dengan anggukan yakin. "Tapi, Hermione, jika memang benar Basilisk berukuran sebesar itu, bagaimana dia bergerak tanpa terlihat selama ini?"
"Aku akan mengatakan kalau pelaku menggunakan sihir untuk memperkecil tubuh Basilisk, tapi itu hampir tidak mungkin. Aku pernah membaca kalau kulit Basilisk cukup resistan dengan sihir-sihir umum, jadi ide ini tidak bisa dipakai. Kalau boleh menebak, kemungkinan dia bergerak lewat bawah tanah," terang Hermione. "Soalnya, para ular dan laba-laba ketakutan untuk berada di sarangnya, kan? Dan alasannya pasti karena sarang mereka dilewati, atau dekat dengan keberadaan si Basilisk. Tempat tersembunyi yang memiliki ruang cukup besar dan dekat dengan sarang ular dan laba-laba—aku tidak kepikiran tempat selain bawah tanah."
"Hermione," kata Harry setelah sedetak keheningan berlalu. Keseriusan meleleh dari wajahnya yang sekarang dipenuhi dengan senyuman cerah. "Kau brilian. Sungguh. Aku tidak akan bisa mengetahui semua itu tanpamu."
"Oh, kau berlebihan. Tapi, yah. Aku senang kau menganggapku berguna," Hermione tertawa. "Bagaimanapun juga, ini adalah keahlianku. Makanya, aku ingin membantu sebisa mungkin."
"Berguna?" Harry nyengir. "Tentu saja kau lebih dari berguna, Hermione. Kau brilian."
"Oke, berhenti mengatakan itu." Hermione menghela napas dengan wajah memerah. "Kau membuatku malu."
Keduanya terdiam selama beberapa waktu.
"Mungkin kita harus beristirahat untuk malam ini," usul Harry, yang masih ingin tersenyum saking bahagianya. Dia tidak bisa menahan diri—semua penemuan ini mengingatkan bahwa dirinya sudah berada beberapa langkah lebih jauh di dalam misteri ini, dan dia hampir meraih kebenarannya.
Masih di ujung jarinya. Masih belum, tetapi sebentar lagi.
"Kau benar." Hermione melemparkan senyuman kecil yang dipaksakan. Kedua bahunya melemas bukan karena masalah fisik, tetapi lebih kepada beban emosi. Harry menepuk bahunya dengan harapan hal itu dapat sedikit menenangkannya, dan Hermione membisikkan sebuah 'Trims.'
Dengan itu, keduanya beranjak dari dapur menuju anak tangga, lebih dari siap untuk beristirahat. Meski begitu, Harry tidak bisa menghentikan rasa ingin tahunya tatkala sebuah buku hitam bersampul kulit tergeletak di atas meja kecil ruang tamu.
"Apa itu?" tanya Harry, dan dia memungut buku itu dengan hati-hati.
Pada detik kulitnya bersentuhan dengan buku itu, muncul sebuah geletar listrik yang mampu membuat Harry terkaget.
Cepat-cepat, Harry menarik tangannya kembali.
"Kenapa?" Hermione bertanya dengan khawatir, sementara Harry menatap tangannya dengan heran.
Barusan itu… apa?
Harry yakin sekali dia bisa merasakan sesuatu… tetapi dia tidak dapat menerjemahkannya ke dalam kata-kata. Sensasi barusan terasa abstrak, aneh, tetapi tidak ofensif. Harry sama sekali tidak terluka dan tidak merasa terancam, walaupun jantungnya berdegup kencang.
Dengan gerakan pelan, Harry mencoba menyentuh buku itu sekali lagi. Tidak ada yang terjadi. Yang dapat Harry rasakan hanyalah tekstur kasar dan dingin dari sampulnya.
Buku itu kelihatannya adalah semacam jurnal, dan sudah bertanggal tua sekali. Harry membuka-buka isi buku itu, tetapi semuanya kosong, kecuali halaman pertama di mana tulisan T.M. Riddle terpatri.
T. M. Riddle… Nama orang?
Harry melipat dahi. Buku yang aneh. Kalau memang buku itu adalah diari seseorang, satu-satunya pemilik yang masuk akal adalah orang dengan nama tertera di sampul, tetapi Harry yakin keluarga Weasley tak pernah menyebut siapapun bernama Riddle.
"Oh." Hermione meraih buku itu dari Harry. "Ini diari punya Ginny."
"Buku tua ini?" Harry menatapnya dengan ragu. "Ada nama orang di depannya."
"Yah, mungkin saja dia membeli diari bekas di desa, kan? Diari ini praktis sekali, ngomong-ngomong. Isinya tidak kelihatan orang luar." Hermione membuka-buka hingga halaman terakhir, dan sama dengan ketika Harry menyentuhnya—semua halamannya kosong. "Aku akan mengembalikannya ke Ginny. Aku yakin dia sedang tidak ingin dikunjungi oleh siapapun," Dia melirik Harry dengan senyuman jahil, "terutama orang yang membuatnya gugup."
"Oh, sudahlah." Harry mendengus. "Baiklah kalau begitu. Aku ke atas duluan. Selamat tidur, Hermione."
"Selamat tidur," Hermione berbisik lirih, "Harry."
Dengan benak penuh kepuasan dari diskusinya dengan Hermione, Harry tertidur cukup nyenyak malam itu.
XOXO
Keesokan paginya, Hermione sudah menyelinap ke desa. Tanpa Harry atau Ron, atau seseorang yang mungkin bisa melindunginya. Gadis itu hanya meninggalkan secarik kertas berupa pesan singkat:
Aku ingin cari tahu sesuatu di desa. Akan segera kembali, jangan khawatir. –Hermione.
'Jangan khawatir' di atas kertas sobekan itu justru membuat kepanikan besar dalam The Burrow, terutama pada Harry dan Ron. Mereka tak habis pikir mengapa Hermione harus pergi sendirian dalam kondisi seriskan ini. Si pelaku bisa mengincarnya kapan saja, terlebih dengan segala pengetahuannya tentang Kamar Rahasia dan Slytherin.
Kalau Harry jadi pelakunya, dia tidak akan membiarkan Hermione hidup-hidup.
"Si bodoh itu!" Ron meraung marah, tidak henti-hentinya mondar-mandir dalam ruang tamu. Meskipun tidak mau mengaku, dia sebenarnya sangat khawatir. "Kenapa dia pergi sendirian!? Padahal biasanya dia ngotot agar kita pergi… Sial, apa yang dia pikirkan, sih!?"
"Hermione tidak ingin melibatkan kita kali ini," Harry berkomentar dari tempatnya menunduk di atas sofa usang ruang tamu. "Apapun yang dia coba cari tahu di desa… dia pasti merasa bahwa hal itu terlalu berbahaya."
"Yah, sudah terlalu terlambat!" Ron mengacak rambut kemerahannya. "Kita sudah terlibat di dalam hal ini sejak awal! Kenapa dia harus melakukan ini sekarang!?"
Suasana The Burrow sepi karena Fred dan George telah sekali lagi pergi ke kandang mereka, mendadak super posesif dengan para sapi dan kambing. Ginny tidak keluar dari kamarnya sejak kemarin. Tanpa Molly dan kebahagiaan mereka yang biasanya, rumah yang biasanya cerah itu mendadak berubah kelam, dan Harry sama sekali tidak menyukainya.
"Hermione mungkin ada dalam bahaya," desis Harry.
"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?" Ron terlihat sama gusarnya. "Kita juga harus menjaga Ginny…"
"Tunggu sampai siang atau sore." Harry saling menautkan jarinya dan melihat ke depan dengan tatapan serius yang menerawang. "Kalau Hermione belum kembali juga… kita bilang Fred dan George kalau kita akan mencarinya. Mereka berdua pasti paham."
"Baiklah." Ron menghela napas panjang. "Baiklah, kita menunggu."
Hanya saja, Hermione tidak sekalipun menampakkan batang hidungnya hingga warna langit dipulas dengan sedikit jingga. Harry dan Ron, yang pada saat itu tidak tahan berdiam diri lagi, meraih senjata dan jubah mereka sebelum bergegas ke desa.
"Mungkin sebaiknya kita berpencar," usul Harry setiba mereka di sana. "Aku akan pergi ke arah sini. Titik kumpulnya adalah air mancur ini. Tembakkan sihir apapun ke udara kalau ada sesuatu yang gawat. Oh, dan jangan sungkan meminta tolong kepada Magus dewasa yang bisa kau temui—mereka pasti akan mengerti."
Ron mengangguk mantap. "Oke. Aku mengerti. Kalau begitu, hati-hati, mate."
Setelah sama-sama melambai, Harry berlari di sepanjang jalanan desa yang sepi. Sepatu bootsnya menghantam dedaunan di atas bumi, membunyikan suara renyah yang terlalu keras. Harry membuka kedua matanya lebar-lebar, melihat setiap sudut dengan atentif, mencari kalau-kalau ada tempat aneh yang patut diselidiki, memindai rambut kecokelatan Hermione yang tak pernah tampak.
Untuk sesaat, Harry mengira dia telah menemukan Hermione berjongkok di belakang sebuah tong besar, tetapi warna cokelat di dekat tong itu rupanya hanyalah kemoceng rusak. Satu helaan penuh kekecewaan kemudian, Harry mencari dengan lebih panik. Rumah-rumah penduduk, lapangan kecil, jalanan sempit bau apak, tempat pemancingan—
Masih tidak ada tanda-tanda Hermione.
Dengan horor mendalam yang menggedor-gedor rongga dada, Harry berhenti di pinggiran sungai. Kedua tangan tertumpu di atas lututnya, dan badannya membungkuk seraya mengambil napas dalam-dalam. Hampir semua tempat telah diperiksanya, dan nihil. Ke mana lagi Harry harus mencari?
"Harry?"
Seketika, kepala Harry mendongak dengan begitu cepat hingga dia merasa sedikit pusing, karena tidak—
Dia pasti baru saja salah mendengar. Tidak mungkin suara barusan benar-benar berasal dari orang itu…
"Kau…" bisik Harry.
Sebab, Harry tidak pernah menyangka dia akan kembali dipertemukan dengan Tom.
Namun, di sanalah dia berada. Duduk di atas rerumputan liar di pinggir sungai dengan syal hijaunya yang biasa, memandangi Harry dengan mata cokelat atraktif dan senyuman mempesona. Harry tak paham mengapa pemandangan dari sosok Tom bisa menenangkan sedikit perasaannya yang berkecamuk hebat.
"Tom." Harry membiarkan senyumannya muncul dengan sebuah embusan napas. Seperti bergerak sendiri karena tarikan alamiah, kedua kakinya melangkah mendekati Tom yang masih terlihat pucat. "Kenapa kau ada di sini? Tidakkah kau takut dengan kasus pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini?"
"Aku bisa mengatakan hal yang sama kepadamu," balas Tom santai.
Harry jadi teringat akan pertemuan mereka.
"Oh," kata Harry dengan nada datar. "Lucu sekali, Tom."
"Duduklah." Tom mendengus dan menepuk tempat di sampingnya. "Kau terlihat seperti akan pingsan. Mungkin kau bisa sedikit lebih tenang setelah menceritakannya kepadaku."
Mulut Harry terbuka dengan sebuah rejeksi di ujung lidah—Hermione adalah prioritas utama, dan dia tidak punya waktu untuk berelaksasi, tidak bahkan dengan Tom. Saat ini, gadis itu bisa saja sedang bertarung, sedang dalam bahaya, menunggu diselamatkan…
Harry menghirup napas dengan penuh getaran.
Sepertinya Tom benar. Jika Harry merasakan nausea hebat seperti ini, mungkin dia benar-benar terlihat seperti akan pingsan. Dengan sedikit enggan, Harry menyeret kakinya menuju Tom dan mendudukkan tubuh lelahnya di atas rumput.
"Ada apa, Harry?" Tom bertanya dengan sangat lembut, seakan dia tidak ingin menginterupsi kecamuk dalam benak Harry. "Apa yang membuatmu begitu panik?"
Harry menggigiti bibir bawahnya, memandangi Tom dengan bola mata kehijauan yang berkaca-kaca.
Dia tidak bisa menahannya. Pertanyaan Tom begitu mengundang, menggoda, hangat.
Maka, sebelum Harry sempat menemukan keteguhannya untuk menolak, dia melimpahkan segalanya kepada Tom. Tentang kecemasan dan ketakutannya dengan insiden pembunuhan ini. Tentang petualangan nekat yang dialami dirinya, Ron, dan Hermione. Pertemuannya dengan laba-laba raksasa. Percakapannya dengan seekor ular. Sang Raja…
"Dan Hermione belum kembali hingga sekarang," Harry berbisik dengan suara yang rapuh seperti gelas retak. "Aku sudah mencarinya ke mana-mana, tapi dia tidak pernah kelihatan. Tom, aku—aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Kalau sampai sesuatu terjadi kepadanya—"
"Sssh, Harry." Tom mengusap-usap punggung Harry dengan gerakan ritmis yang menenangkan. "Jangan. Berhenti berprasangka. Itu bisa menutupi benakmu dan membuatmu bertindak tanpa arah."
"Kau… Kau benar. Aku tidak boleh berpikir begitu." Harry mengatur pernapasannya, lalu mengeluarkan derai tawa gugup. "Kau pasti memikirkan tentang betapa bodohnya aku. Berlagak heroik, sok memecahkan misteri, padahal kekuatanku juga tidak seberapa…"
"Bodoh?" Tom menaikkan sebelah alisnya. "Jauh. Sangat jauh dari itu, Harry. Bagaimana bisa kau merasa bodoh ketika kau sudah sampai sejauh ini? Aku kagum dengan proses yang kau lalui sejak awal. Kau telah menemukan begitu banyak hal tentang insiden aneh ini. Tentang kebenaran dari Kamar Rahasia yang semula dianggap karangan orang." Untuk sebentar, tangan Tom mencengkeram fabrik jubah di punggung Harry, sebelum kembali melanjutkan gerakan mengusapnya. "Ya, kau telah menemukan begitu banyak…"
"Benarkah?" Harry mengawasi Tom dari sudut matanya. "Kau tidak terlihat terkejut dengan semua ini."
"Karena aku tahu sejak awal, Harry," gumam Tom. Nada suaranya sedikit… berbeda. Lebih rendah. Lebih datar. Harry tidak begitu menyukainya. "Aku tahu. Tentang Kamar Rahasia."
Tenggorokan Harry mendadak terasa mengecil dan mencekik. Napasnya tercekat. Harry membulatkan mata, menoleh lambat-lambat, dan ketika dia akhirnya menghadap Tom, pria itu memakai sebuah senyuman yang tidak terlalu mencapai matanya.
"Tom." Bibir Harry bergetar. "Apa maksudmu?"
"Aku tahu bahwa Kamar Rahasia dibuat oleh Salazar Slytherin, tersembunyi di sebuah tempat dalam Domus. Aku tahu apa tujuan Slytherin membuat kamar itu." Telapak Tom naik menuju tengkuk Harry, merambat pelan seperti seekor ular kelaparan. "Aku tahu tentang monster yang berada di dalam kamar itu…"
Harry tidak bisa menggerakkan tubuhnya, disengat keterkejutan. "Kenapa?" tanya Harry. "Bagaimana bisa?"
"Setelah lama menghabiskan hidupku untuk mengobservasi hal-hal di sekelilingku, tentu itu tidak mengherankan, bukan?" Tom menarik pelan helai rambut Harry di dasar kepalanya. "Aku tahu banyak hal, Harry…"
Alasan yang masuk akal, tetapi Harry merasa ada sesuatu yang tidak beres. Instingnya menendang-nendang batinnya, seperti sedang berteriak kepadanya untuk menjauh, berlari, pergi dari Tom.
Akan tetapi, ini adalah Tom.
Tom yang bernasib malang dan tidak bisa hidup lebih lama. Tom yang tampan dan karismatik dan lembut. Tom yang luar biasa menyayangi syal hijaunya.
Tom tidak mungkin melakukan ini, kan?
"K-Kenapa kau tidak memberitahuku?" Harry mengepalkan kedua tangannya. "Kalau kau tahu Kamar Rahasia memang ada, kenapa kau diam saja!? Kau tidak ingin menghentikan semua usaha pembunuhan ini!?"
Namun kedua mata Tom melebar, dan ada sebuah ekspresi kesakitan pada wajahnya yang tidak muncul dari penyakitnya. Harry tahu Tom baru saja tersayat, bukan karena benda tajam apapun, tetapi karena perkataannya.
"Aku… Maafkan aku, Harry." Sorot mata Tom begitu pedih hingga hati Harry ikut berdenyut sakit karenanya. "Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya berpikir… tak akan ada orang yang mau mempercayaiku kalau aku bercerita. Tetapi kau benar… aku bisa saja menghentikan pembunuhan ini, jika saja aku bukan seorang pengecut…"
Seruak rasa bersalah membanjiri Harry. "Tom." Tangannya jatuh tentatif di atas bahu sang pemuda. "Tom, aku juga—maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Maaf. Aku hanya—aku sudah terlalu lelah dengan semua ini, dan aku tidak seharusnya meluapkan amarahku padamu. Itu tidak benar."
Pasti begitu. Pasti Harry hanya kelelahan sehingga pikirannya tidak berjalan dengan jernih.
Harry jadi ingin tertawa sendiri. Bisa-bisanya dia mencurigai Tom semudah itu…
"Aku mengerti, Harry." Tom menatap Harry lekat-lekat. Untuk sebuah alasan, Harry tak bisa mengalihkan pandangannya dari dua pusaran cokelat gelap dari mata Tom. "Kau tidak perlu merasa bersalah." Dengan sebuah tawa pelan, dia menambahkan, "Dari dulu, aku memang mengetahui lebih banyak hal dari yang seharusnya kuketahui. Maka dari itu, banyak orang menganggapku tidak waras. Beberapa bahkan mengira aku adalah peramal. Padahal, satu-satunya modalku adalah perpustakaan dan telinga yang jernih."
Bayangan seorang Tom yang tenggelam di antara tumpukan buku membuat Harry tersenyum. "Kau tahu, kau sedikit mengingatkanku kepada Hermione."
Tom mengeluarkan gumaman tertarik. "Benarkah itu?"
"Yah. Kalian sama-sama cerdas, suka membaca, dan serba tahu… Hanya saja, kau tidak bossy seperti dia." Harry terkekeh. "Aku tahu Kamar Rahasia berkat dirinya, Tom. Kau lebih hebat lagi karena bisa menemukan semuanya seorang diri."
"Hanya karena aku tidak memiliki pekerjaan lain," Tom merendah. Dia lalu memandang ke depan dengan sorot yang sedikit berkilat. "Meski begitu, aku harus mengatakan bahwa aku kecewa dengan sikap kebanyakan Magus."
Harry memeluk kedua lututnya. "Kenapa?"
"Sebab mereka berprasangka terhadap Slytherin," jawab Tom. Ada sebuah ketegasan dan amarah di dalam suaranya, seakan dirinya sendiri yang diprasangkai dan bukan Slytherin. "Hanya karena dia mengusulkan untuk melawan Muggle menggunakan elemen kegelapan, bukan berarti dia betul-betul jahat. Dalam lubuk hatinya, Slytherin hanya ingin melindungi tanah tercintanya. Kalau saja Gryffindor," Tom mengatakannya seakan dia sedang meludah, "mau mendengarkan perkataannya dengan lebih tenang, dia tidak perlu diusir oleh ketiga temannya. Dia tidak perlu pergi ke Domus."
"Dan dia tidak akan pernah mendendam," sambung Harry. "Kau kelihatannya benci sekali dengan Gryffindor, Tom."
"Aku tidak menyukai orang yang memiliki pandangan berat sebelah. Mengumpamakan baik dan buruk hanya dari elemen cahaya dan kegelapan." Tom tersenyum getir. "Tidak ada yang pantas diusir seperti itu, Harry. Kau tidak bisa membayangkan betapa sakitnya ketika kau dipaksa pergi dari lingkungan yang kau cintai…"
Harry memandangi Tom dengan kedipan pelan. "Apa… Tom, apa kau juga pernah mengalaminya? Apa kau pernah… diusir?"
Satu-satunya jawaban Tom hanyalah tatapan nostalgik sedih yang ditujukannya kepada Harry. Baru saat itulah Harry menyadari bahwa selama ini Tom pasti menderita. Memikul penyakit yang tak tersembuhkan, dianggap sebagai Magus lemah dan aneh…
Sekelebat perasaan protektif mengambang begitu saja, mendorong Harry untuk berkeinginan memeluk Tom erat-erat. Namun tentu saja, dia tidak melakukannya karena hal itu memalukan, dan keduanya baru bertatap muka dua kali.
Sebelum Harry sempat mengatakan sesuatu untuk menghiburnya, dia diinterupsi oleh sebuah suara yang membuat bulu kuduknya meremang.
Desisan yang kejam, dingin, dan mengerikan.
"…lapar sssekali… setelah sekian lama…"
Suara yang sama dengan waktu itu.
Sekujur tubuh Harry menegang seperti tali busur yang siap dilepas. "Kau dengar suara itu?"
Akan tetapi, respon Tom sama dengan Ron dan Hermione. Dia menelengkan kepalanya dengan bingung, mengatakan, "Aku tidak mendengar apa-apa, Harry."
"…bunuh… waktunya membunuh… Aku mencium darah… AKU MENCIUM DARAH!"
Harry menarik napas tajam. "Dengar, suaranya lebih keras!"
"Aku benar-benar tidak tahu apa yang kau maksud, Harry," jawab Tom, yang terlihat semakin dan semakin heran. Seperti tak ingin membuat Harry sakit hati, dia membuat usaha untuk mendengarkan sekitarnya dengan baik. "Aku masih tidak mendengar apa-apa."
Harry menelan ludah. Kalau hanya dia yang bisa mendengar… jangan-jangan Parseltongue? Tetapi tidak ada ular di sekitar Harry, jadi kenapa—
Tubuh Harry membeku.
Tunggu dulu.
Jika bicara tentang ular yang bergerak diam-diam, jawabannya hanya satu.
Basilisk. Raja Para Ular.
Hermione sedang dalam bahaya.
Seakan tanah di bawahnya menyengat, Harry bangkit dari posisinya di atas rumput dengan gerakan cepat. Mendadak dia lupa dengan keberadaan Tom, karena isi kepalanya saat ini hanyalah Basilisk, Basilisk, Basilisk, Hermione, dan bahaya.
Menoleh kepada Tom, Harry tersenyum dan berkata, "Maaf, tapi aku benar-benar harus mencari temanku sekarang. Sampai jumpa," Dia susah payah mengatakannya—perpisahan dengan Tom entah mengapa begitu menyakitkan. "Tom."
Dan Harry berlari bahkan sebelum dia sempat mendengar respon Tom. Pikiran demi pikiran berdesakan di dalam benaknya. Aku harus mencari Ron. Aku harus menemukan Hermione. Aku harus memberitahu tentang Basilisk. Aku harus menyelamatkan mereka—
Namun, seakan didorong oleh sesuatu yang tak bisa dia identifikasi, Harry menolehkan kepalanya sekali lagi kepada Tom.
Pria itu masih duduk. Tangannya melambai, dan di sekitar lehernya adalah—
Adalah… seekor ular kehijauan?
Harry cepat-cepat mengedip, tetapi ular itu hilang digantikan syal hijaunya yang biasa.
Barusan itu…
…Apa?
Hanya imajinasinya. Pikiran Harry masih sesak dengan persoalan Parselmouth, Slytherin, dan Kamar Rahasia. Dia pasti jadi terbawa suasana, mengkhayalkan ular ke mana saja dia berada.
Seperti kata Ron dan Hermione, mungkin Harry hanya kelelahan.
Lamunan Harry buyar ketika dia tiba di air mancur sepuluh menit kemudian. Dua orang Magus telah berada di sana dengan wajah gelap, dan Ron yang melihat Harry telah kembali segera berteriak dengan gelagapan.
"Hermione… Harry, Hermione… Dia—"
Seseorang terbaring di dekat air mancur. Bergeming, karena sekujur tubuh berubah menjadi batu.
Harry menyadari dengan horor bahwa sosok itu adalah Hermione.
"—dia telah dibekukan."
To Be Continued
Oke, chapter ini sedikit sulit untuk ditulis karena sekolah saya sudah mulai. Next chapter sepertinya bakal dipending agak lama karena saya ingin fokus ke satu atau beberapa oneshot dulu.
See you next time.
