Main Cast :

Jeon Jeong Guk / Jungkook.

Kim Tae Hyung / V.

.

Support Cast :

Min Yoon Gi / Suga.

Park Ji Min.

Kim Seok Jin / Jin.

Kim Nam Joon / Rapmon.

Jung Ho Seok / JHope.

.

Genre : Yaoi, Romance, Brothership, School life, Incest.

.

Rated : T-M.

.

.

ADA YANG NUNGGU FF INI? NGGA ADA? SEDIHHHHHH HUHUHU

MAAF YAA AKU LELET APDET SOALNYA ABIS PINDAHAN RUMAH HUHUHU.

OYA BUAT YANG BILANG KENAPA GA CHANBAEK AJA, DI CHAPTER KEMARIN AKU UDAH JELASKAN YA KALAU AKU BIKIN MASALAH GOLONGAN DARAH MEREKA ITU SESUAI FAKTANYA, JADI KALO AKU BIKIN CHANBAEK GA NYAMBUNG NTAR WKWKWK MAAF YAAA.

OKE LANGSUNG AJA CEK DIS AUT!

.

.

.

Previous Chapter

.

"Dan setelah kau berumur 2 tahun, lahir lah Jungkook, kami tak pernah memberi tahumu bukan karena kami tak ingin, kami hanya takut kau merasa terpukul dan tertekan, kami juga sengaja tak membawa mu ke kakek dan nenek mu karena kami tak ingin kau hidup terkekang seperti ayah mu" ujar Chanyeol mengakhiri ceritanya.

"Kami menyayangi mu seperti keluarga kami sendiri Tae, kami tak mau kehilangan mu" terang Kyungsoo sambil memeluk Taehyung erat.

Taehyung membalas pelukan Kyungsoo "Jadi.. ayah kandung ku masih hidup?" lirih Taehyung.

Kyungsoo tersenyum "Iya sayang, kau mau menemuinya?"

Taehyung melepaskan pelukan Kyungsoo, menatap wajah ibu angkatnya dan beralih menatap Chanyeol "Ya.. aku.. aku ingin melihat ayah ku.."

.

.

Chapter 7

.

Bau menyengat khas rumah sakit langsung menabrak indra penciuman Taehyung saat dirinya melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit itu. Sesekali tubuhnya bergidik ngeri menatap tingkah orang- orang aneh yang berlalu- lalang di sekitarnya, bahkan Taehyung sempat tersentak saat seorang wanita tua berhenti dihadapannya dengan senyuman yang begitu lebar dan memberikan setangkai lollipop yang di terimanya dengan pandangan blank.

Taehyung mencengkram erat lollipop nya saat Chanyeol bilang kalau ini adalah kamar ayahnya. Jantungnya berdegup kencang menerka- nerka akan seperti apakah ayahnya nanti?

Pintu kamar terbuka dengan perlahan, menampakkan lelaki yang Taehyung akui sangat tampan dengan surai blondenya sedang duduk termenung sambil menggenggam erat sebuah foto yang Taehyung yakini adalah foto ibunya. Langkah kaki yang sangat hati- hati dan pelan Taehyung bawa untuk mendekatkan dirinya pada sang ayah, tubuhnya gemetar, dirinya tak bisa menampik kegugupan yang seolah memeluknya.

Jemari lentiknya terjulur untuk menggapai sang ayah, namun urung, tangan itu tak pernah sampai, hanya menggantung diatas udara seolah memohon untuk diraih. Dan pada akhirnya, Taehyung hanya diam, menatap ayahnya dengan mata yang basah oleh air mata dan keinginan untuk merengkuh yang begitu membludak di hatinya.

"Ada apa Tae?" tanya Kyungsoo yang mengerti kebingungan Taehyung.

"Aku.. aku harus apa?" lirih Taehyung.

Kyungsoo tersenyum lembut dan sangat tulus, mengusap penuh perasaan surai jeruk Taehyung yang lembut, "Rengkuhlah.. dia ayah mu.. dan dia membutuhkan mu.." bisik Kyungsoo membuat Taehyung menunduk, membisikkan 'Eomma' dengan lirih sebelum menghambur memeluk ayahnya yang tampak terkejut dan berontak karena tiba- tiba direngkuh.

"SIAPA KAU?! LEPAS! APA KAU ORANG SURUHAN BAJINGAN ITU?! KEMBALIKAN JOONMYEON KU BRENGSEK! LEPAS! KAU TUL-"

"Appa.." berhenti, semua berhenti, rontaan Kris, raungan Kris, pukulan dan pemberontakkan Kris, semuanya berhenti, menyisakan sunyi dan isakkan lirih Taehyung.

"Appa.." lirih Taehyung lagi.

Perlahan, tangan Kris yang menggantung diudara terarah secara pelan- pelan dan begitu penuh ketakutan untuk membalas rengkuhan hangat itu. Namun entah bagaimana caranya, Taehyung berhasil membuat Kris merengkuhnya erat dengan nyaman, bahkan begitu nyaman.. dan tenang.

"Appa.." dan setelah itu, isakkan lirih Kris terdengar, bersamaan dengan dirinya yang melepaskan foto Joonmyeon dan memeluk erat Taehyung yang terus berucap lirih 'Appa' ditelinganya, membuat Kris tiba- tiba merasa terpukul dan tercambuk. Sudah berapa tahun dia melewati waktunya dengan sia- sia?

"Taehyung" dan dengan panggilan lirih dari Kris, Taehyung menumpahkan semua airmatanya tanpa bisa ditahan, menangis dan meraung, meluapkan semua kesedihan yang selama ini ditahannya. Kesedihannya yang bercerita tentang Jungkook, tentang perasaannya, dan tentang.. mereka.


"Bagaimana dok?" tanya Chanyeol kepada dokter Kim, dokter yang selama ini mengurusi Kris.

Dokter itu tersenyum "Kemajuannya sangat pesat, dia bahkan sudah dapat merespon dengan baik meskipun masih minim. Semua ini berkat anaknya, kenapa tak dari dulu saja anaknya dibawa kemari?"

Chanyeol terkekeh, menatap Taehyung yang hanya diam lalu merangkulnya "Ah.. dia juga anak ku, jadi hanya sedikit tak rela saja walaupun Kris itu ayah biologisnya"

Taehyung tersentak lalu menatap Chanyeol yang tersenyum padanya, entah kenapa ada perasaan hangat yang mengalir di dadanya mengingat Chanyeol lah yang menjadi ayahnya selama ini.

"Ada baiknya kalau Taehyung selalu menemani dan membantu Kris karena melihat perkembangan Kris yang begitu pesat jika bersama Taehyung, aku yakin Kris akan lebih cepat pulih"

Taehyung mengangguk "Tentu saja, aku akan menemani Appa ku" tutur Taehyung membuat Chanyeol mengusap kepalanya pelan.

Ya itu benar, lagipula Taehyung tak mungkin meninggalkan ayahnya sendiri bukan?

.

Taehyung merenung di atap rumah sakit, dia bimbang, hatinya bimbang, apa yang harus dilakukannya? Perkataan Chanyeol tadi siang selalu terngiang di benak nya,

.

"Sebenarnya aku dan Kyungsoo sudah lama sekali ingin membawa Kris ke Jepang untuk pengobatan lebih lanjut agar dia cepat pulih, tapi aku takut dan tak bisa memberitahumu, sementara itu adalah suatu hal yang perlu kami lakukan. Dan sekarang kau sudah tau, apa pendapat mu Tae? Maukah kau menemani appa mu selama masa pengobatan disana? Apapun keputusanmu, ayah akan selalu mendukung mu."

.

Sampai saat ini Jungkook masih belum siuman, sementara kalau dirinya setuju, Taehyung dan ayahnya akan berangkat ke Jepang malam ini. Taehyung menatap langit senja yang temaram, menghela nafas lelah sebelum bangkit dari duduknya, apapun jalan yang akan dipilihnya nanti, Taehyung harap ini yang terbaik untuk semuanya.


Taehyung menatap Jungkook yang masih terpejam, begitu asyik dengan tidur panjangnya. Jemari panjang Taehyung meraih jemari mungil Jungkook, menautkannya penuh kasih dan kelembutan, seolah bahasa tubuhnya berbicara seberapa besar dia mencintai Jungkook.

"Hai manis, bangunlah.." lirih Taehyung, matanya terasa panas, perasaan yang selalu menggebu- gebu dan terasa menyesakkan itu seolah membludak di seluruh ruang hatinya, membuatnya merasa luar biasa rapuh dan tenggelam.

"Aku mencintai mu, Jungkook" Taehyung merendahkan tubuhnya, menempelkan keningnya dengan kening Jungkook "Sangat mencintai mu.." kecupan hangat itu Taehyung daratkan dengan lembut di kening Jungkook bersamaan dengan setetes airmata yang mengalir dari pelupuk matanya,

"Maafkan aku"

Dan setelah itu, pintu kamar inap Jungkook tertutup, meninggalkan Jungkook dalam kesunyian di tidur panjangnya.


"Jimin!" panggil Taehyung saat melihat anak itu hendak masuk kedalam gerbang asrama, kebetulan sekali.

"Aku perlu bicara" ujar Taehyung cepat yang di respon Jimin dengan pandangan yang menyatakan kalau Taehyung bisa berbicara disini, sekarang.

"Kau harus memperbaiki hubungan mu dengan Yoongi hyung, sebelum kau menyesal."

Jimin menatap Taehyung heran "Ada apa?"

Taehyung tersenyum "Kau sudah tidak mencintai Jungkook bodoh! Jangan bohongi perasaan mu lagi!"

Jimin terkekeh miris, "Aku tau itu bodoh!"

Taehyung mengangguk "Yasudah, aku titip Jungkook ya!"

"Bicara mu semakin aneh"

Taehyung tertawa "Aku memang aneh" Taehyung menatap Jimin sebentar, sebelum menepuk pundak sahabatnya pelan "Selamat malam Jim! Jaga dirimu baik- baik" dan setelah nya, pemuda itu menghilang dari hadapan Jimin tanpa sepatah katapun lagi, meninggalkan Jimin dalam kebingungan namun Jimin memutuskan untuk tidak ambil pusing, ada yang lebih penting yang harus dikerjakannya disini.

Ya.. Yoongi.

Dia harus bersikap, tak ada guna membohongi diri sendiri untuk hal yang sudah jelas- jelas Jimin tau kebenarannya, jadi Jimin ingin meluruskan semuanya dan membuat Yoongi kembali menjadi miliknya.

"Hyung!" sapa Jimin begitu pemuda itu sampai di kamar asramanya, mendapati Yoongi yang sedang duduk di atas kasur dengan secangkir coklat panas.

"Ada apa Jim?"

"Aku mencintai mu, tolong jangan memotong ucapan ku.." ujar Jimin saat melihat Yoongi hendak membuka mulutnya "Aku tau aku bodoh karena terlalu buta, aku tau aku bodoh karena terlambat menyadari kalau apa yang kulakukan itu sebenarnya salah, aku tau aku bodoh karena terlambat mengucapkan 'aku mencintaimu' padamu. Aku tahu hyung, tapi kumohon kali ini maafkan aku, tapi aku benar- benar mencintaimu, maaf aku tak bisa menahan perasaan ku lagi, ini sungguh menyiksaku, kau seolah membawa sebagian diriku yang lain, membuat ku merasa hidup tapi mati. Ku mohon hyung, berikan aku satu kesempatan lagi untuk memiliki mu, aku.. aku hancur hyung, melihat mu yang tak bisa ku genggam, disini-" Jimin mencengkram dada kirinya "-ada yang hilang disini. Sekuat apapun aku mengelak, aku tak bisa hyung, aku sudah terlalu mencintaimu namun maaf karena terlambat menyadari nya, jadi kumohon, kembalilah padaku hyung, kumohon.." tutur Jimin panjang lebar.

Yoongi tertegun, tak pernah melihat Jimin sebegini hancurnya, hatinya menghangat, sekuat apapun Yoongi mencoba melupakan Jimin, tapi perasaan itu tak pernah sirna, bahkan masih melekat dengan begitu kuat dihati nya, sampai kapanpun, Yoongi takkan pernah bisa berhenti mencintai Jimin, takkan pernah bisa.

"Aku tau kau bodoh.." kekeh Yoongi "..tapi aku tak tau kalau kau sebodoh ini." Lanjut nya sambil menatap lurus mata Jimin dengan matanya yang mulai basah. Yoongi meletakkan coklat panasnya di atas meja nakas disamping tempat tidurnya,

"Rengkuh aku Jim.." lirih Yoongi.

Dan setelahnya Jimin mendekap Yoongi dan melumat bibir nya seolah tak ada hari esok, menyalurkan semua gejolak emosinya dalam ciuman lembut yang menggairahkan, membawa Yoongi menuju keintiman yang luar biasa panas dan melebur menjadi satu.

"Jangan tinggalkan aku lagi.." bisik Yoongi di sela- sela ciuman panas mereka.

"I won't.."


Taehyung menatap keluar jendela, tak ada pemandangan apapun, hanya hamparan awan putih yang menggelap karena malam. Pandangannya beralih kesamping, mendapati Kris yang tertidur pulas dengan selimut yang menutupi nya hingga dagu, Taehyung tersenyum, mengusap lembut rambut ayahnya dan membetulkan letak selimutnya, setelah itu matanya menerawang, mungkin Taehyung akan menyesali keputusannya, tapi untuk saat ini Taehyung hanya ingin yang terbaik untuk ayahnya.

"I'm sorry Jungkook, I love you.." bisik Taehyung, setetes airmata jatuh dari pelupuk matanya, membasahi foto Jungkook yang tak pernah lepas dari genggamannya.

Sekarang Taehyung sadar, kalau permainan takdir itu nyata...

.

To be continue..

.

.

MAAAFFFFFFFFFFFF!

SEJUTA MAAF KARENA LELET APDET, DAN SEJUTA MAAF KALAU JELEK. INI DILUAR PERKIRAANKU, TIBA- TIBA AKU GA DAPET FEEL BUAT CHAPTER YANG INI DAN BINGUN SENDIRI MAU NULIS APA. AKU BENAR- BENAR MINTA MAAF KALAU KALIAN GAPUAS HUHUHU.

CHAPTER DEPAN KAYANYA TAMAT, DAN AKU MAU MENGUCAPKAN BANYAK- BANYAK TERIMAKASIH BUAT YANG SELALU NGIKUTIN FF INI. WALAUPUN AKU GABISA BALAS COMENT KALIAN SATU- SATU TAPI AKU SELALU BACA KOK HUHU.

MAKASIH YA BUAT SEMUANYA, TETAP DITUNGGU UNTUK AKHIR CERITA INI YA! *BOW*

#CAPSLOCKJEBOL