Author : Chapter 7 update! mau tau kegilaan Akatsuki selanjutnya, silahkan baca~ gak suka ceritanya ngapain baca, aneh banget gak suka ceritanya masih tetep baca!

Warning : Gak nyambung, menyebabkan stress berlanjut, jatungan, full adegan berdarah-darah, amnesia, gak nurut EYD, typo, mati karena gila, dan narkolepsi

Disclaimer : Akatsuki beserta Naruto dkk milik Masashi Kishimoto. Kecuali para OC yang saya buat dan para review

HOPE YOU LIKE IT


Story of Konoha High Shcool

Chapter 7

(Kebahagiaan Sasori)

Flashback on

Sementara itu Harumi berjalan lunglai menuju toilet. Sebenarnya ia pengen ke toilet karena ia kebelet pengen nangis. Saat akan menuruni tangga ada seseorang yang menubruknya dari belakang hingga ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terguling-guling dari pucuk tangga sampai bawah tangga. Sesampai sudah berhenti dari aksi gegulingannya ia melihat seseorang yang berada di atasnya tubuhnya yang ternyata adalah Sasori. Tangan Sasori masih menopang tubuhnya supaya tak menindihi Harumi (Author : tisu, mana, tisu?!). Sedetik itu kemudian wajah mereka berdua merah padam, tapi Harumi dan Sasori masih membeku dalam posisinya. Dan pada saat itu juga mereka..

Flashback off

Wajah mereka berdua saling berdekatan. Hampir saudara-saurdara, hampir! Hampir mereka melakukan hal yang seperti ci-ciuman. Apalagi mereka berdua sudah menutup mata.

JPRET! JPRET! JPRET!

Datanglah trio makhluk dari klub koran yang mengusik kemesraan Sasori dan Harumi. Dua makhluk dari klub koran itu tak lain dan tak bukan adalah Sai, Suigetsu, dan Juugo (Readers : *yang tadi udah nosebleed jadi bawa bacok untuk bantai Author*). Detik itu juga Sasori langsung sadar diri dan segera menjauh dari Harumi, kira-kira 5 meter lah. Sai mendekati Sasori dan mewawancarainya, sedangkan Juugo dan Suigetsu mewawancarai Harumi sambil foto-foto.

"Gimana perasaan anda tadi?" tanya Sai sambil nyodorin mic ke jidat Sasori.

"GANGGU AJA LO!" Sasori yang udah ngamuk nguber-nguber Sai sampai ke ujung dunia *lebay* dan di sana tersisalah Harumi yang lagi speechless dan Juugo-Suigetsu yang masih mewawancari dengan gaje.

"Mbak, tolong jawab pertanyaan saya! MBAK! NENG! NEE-CHAN! PLEASE JAWAB!" teriak Suigetsu sambil nangis lava *ebuset* karena Harumi yang masih diam tak bergeming. Saat Juugo menyentuh pundaknya Harumi, ternyata Harumi pingsan dengan gaya yang masih terduduk.

"LO APAIN HARUMI?!" teriak Sasori yang baru saja ngebogem Sai melihat Harumi yang di gendong ala bridal style oleh Juugo dan Suigetsu ngipas-ngipasin Harumi pakai tisu. Sementara itu Juugo dan Suigetsu jadi bingung plus takut.

"Kami, kami cuma mau bawa dia ke ruang UKS!" jawab Juugo gugup.

"ALESAN LO GAK BERMUTU! PASTI LO MAU NGAPA-NGAPAIN HARUMI DI UKS, KAN?" Sasori parno-nya gak ketulungan.

"Nggak dia.. dia.." Belum sempet Juugo dan Suigetsu ngelanjutin kata-katanya udah kena kugutsu milik Sasori dan Harumi langsung ditangkep pakek jaring oleh Sasori (ckckckck bener-bener, nih, anak!).

.

Di UKS Sasori nemenin Harumi yang lagi pingsan. Sasori menggenggam tangan Harumi yang lagi berbaring di ranjang UKS. Tanpa ia sadari 8 pasang mata mengintip Sasori dan Harumi. 8 pasang mata itu tak lain dan tak bukan adalah para anggota Akatsuki sendiri. Mereka yang kebetulan lagi bersih-bersih di sekitar sana nglihat Sasori yang lagi gendong Harumi ke UKS dan mengikutinya. Para pengintip makin bertambah, mulai dari Sayuri dan Nanami yang kebetulan lewat, Kaiya dan Tenten yang ngeliat aksi intip-mengintip Sayuri dan Nanami, Sakura dan Ino, Ume yang mau cari obat mules di UKS, dan sampai-sampai Tsunade dan Shizune ngintip kejadian itu.

"Sasori?" panggil Harumi yang mulai membuka matanya dan melihat Sasori yang lagi memejamkan mata sambil menggenggam tangan Harumi.

"Lho?! Udah sadar?" tanya Sasori yang juga membuka matanya, tangannya masih berada diposisinya.

"Pasti ini mimpi bisa liat Sasori di hadepan gue" guman Harumi sambil memalingkan wajah.

1 detik

2 detik

3 detik

"WUUAA!" jerit Harumi yang baru sadar akan Sasori yang ada di sisinya.

"Santai, woi! Santai!" Sasori telinganya budeg sesaat berkat jeritannya Harumi yang kenceng. Sementara para pengintip mulutnya sudah berbusa karena teriakan maut Harumi.

"Lho, kok, aku bisa ada di sini?" tanya Harumi sambil celingukan.

"Tadi kamu pingsan, toh" ingat Sasori, Harumi hanya manggut-manggut.

"Kok, bisa pingsan?" tanya Harumi lagi.

"Karena kamu jatuh dari tangga"

"Kok, aku bisa jatuh dari tangga?"

"Karena aku tubruk!"

"Jahat! Masa aku kamu tubruk!"

"Kan, gak sengaja!"

"Masa gak sengaja?"

"CEREWET!" Sasori sudah emosi tinggat dewa.

"Santai, bro! Santai!" tenang Harumi. "Lalu kejadian selanjutnya gimana?" tanya Harumi yang kelihatannya amnesia sesaat karena adegan romantis tapi gak jadi di atas.

"Itu.." Sasori udah nosebleed mengingat kejadian di dekat tangga itu. Harumi sama sekali gak ingat.

"Itu.. Itu.. Itu.. I-tu.. Itu.. It-It- Itu.." jawab Sasori gugup sementara para penguping udah gregetan pengen tahu penjelas Sasori yang lebih lanjut.

BRAK! GEDUBRAK! PRAK!

Tiba-tiba pintu UKS jadi roboh seketika, karena kelebihan muatan (?). Tampaklah wajah-wajah shock para penguping itu. Sedangkan jendela UKS pecah karena ulah Tobi dan Deidara yang main lempar-lemparan sapu. Wajah para anggota Akatsuki gak kalah shocknya.

Hening...

.

1

.

2

.

3

.

"WUUUUUAAAAA!" jerit mereka semua, gak tahu kenapa mereka jejeritan sampai-sampai jeritan mereka ngerobohin semua gedung pencakar langit seantero 'DUNIA' -ebuset-.


IN KUTA ROCK CITY! WHERE THE EVIL DANCE! KUTA ROCK CITY! WHERE THE HERO DIES! KUTA ROCK CITY! WHERE'S ALL MY CASH? KUTA ROCK CITY! PLEASE DON'T BREAK MY HEART AGAIN! Bel absurd Konoha Gakuen berbunyi. Para murid segera pulang sekolah dari pada jadi gila kelamaan di sekolah itu terus. Dan juga para Akatsuki yang langsung kabur sebelum selesaiin tugas mereka.

"Sas, lu tadi ngapain aja di UKS bareng Harumi?" tanya Pein mesumnya kumat.

"Gak ngapa-ngapain, kok!" jawab Sasori ketus.

"Ngaku aja, un!" Deidara ketularan virusnya Pein.

"Berisik!" Sasori ngusir-ngusir Deidara dan Pein kemudian langsung ilang entah kemana.

"Tuh, bocah kenapa? Dari tadi senyam-senyum gaje?" tanya Konan dari belakang.

"Gak tahu (un)" jawab Deidara dan Pein berjamaah.

"Terus, Itachi, Kisame, Zetsu, Kakuzu, Hidan mana, un?" tanya Deidara celingukan.

"Itachi dan Kisame lagi renang di kolam renang deket sekolah, katanya, sih, mumpung lagi gratisan" jawab Pein.

Konan hanya sweatdrop. "Idih! Adem-adem kayak gini lagi renang? Mending ke onsen, deh!"

"Kalau Zetsu lagi mampir ke toko bunga bangkai di pinggir Konoha, Kakuzu asik jualan dipinggir sana, tuh!" Pein nunjuk-nunjuk penampakan setan bercadar di pinggir trotoar. "Hidan kayak biasa, lagi nge-date sama Anko-sensei dan Tsunade-sensei di ruang BP"

"Kakuzu-senpai jualan apa?" tanya Tobi sambil ngemut lollipop. "Kok, yang beli laki-laki semua?" tambah Tobi dengan wajah abstrak.

"Nggak tau" jawab Pein.

"Dijual-dijual! Majalah PlayBoy edisi terbaru! Murah, permajalah Rp 25.000!" tawar Kakuzu sambil teriak pakek toa colongan.

"Apa? Majalah PlayBoy yang terbaru?! Gue harus beli!" Pein langsung lari menuju stand Kakuzu untuk membeli buku yang paling berharga untuknya.

Konan hanya menghela nafas dan nyeret Deidara-Tobi pulang ke markas terindah mereka. "Ayo! Pulang!"

.

Sementara itu Sasori yang entah bagaimana ia bisa nyasar ke alun-alun (?) Konoha. Sekarang ini ia sedang duduk di salah satu bangku di sana sambil senyam-senyum gak jelas, bikin orang-orang yang lewat lari kocar-kacir. Ternyata Sasori sedang memikirkan kejadian-kejadian di sekolah tadi, tentang bagaimana ia menggendong Harumi sampai berduaan di UKS sama Harumi.

"Sas, lo kenapa?" tanya seorang cewek berambut coklat lurus ini takut-taku lihat keadaan Sasori. Kebetulan ia kalau pulang sekolah lewat situ.

"Eh, Harumi.. Gue, gue hanya mikirin sesuatu, kok!" jawab Sasori yang langsung pasang pose lagi mikir serius.

"Mikirin apa?" tanya Harumi langsung membuat Sasori speechless.

Sasori mikir keras buat cari-cari alasan. "Ano.. Aku.. Kesasar!" jawab Sasori yang bikin author dan readers ngegubrak.

"Kalau begitu gue anter lo pulang, deh" tawar Harumi hanya sweatdrop mendengar jawaban sasori. 'Udah gede, kesasar, dideket lingkungan sekolah lagi!'

"Boleh!" Mata Sasori langsung berbinar mendengar tawaran Harumi.

Sepanjang perjalanan ke goa Akatsuki, Harumi dan Sasori tampak mesra sekali. Gimana gak mesra kalau mereka 'tanpa sadar' gandengan tangan. Orang-orang yang lihat jadi salah paham dan membatin kalau mereka cocok juga.

Sampai di goa Akatsuki Sasori menggenggam erat kedua tangan Harumi. Sementara yang punya tangan yang digenggam Sasori mukanya langsung blushing.

"Anu.. Harumi. Makasih, ya" ucap Sasori yang tanganya masih pada posisinya.

"Uhm" Harumi hanya mengangguk dengan wajah semerah kepiting rebus.

"Err.. Ada hal yang ingin.. Aku omongin ke kamu" Akhirnya Sasori akan mengungkapkan kata-kata yang sedari dulu ingin diucapkannya.

"Apa?"

"Begini... Uhm... Etto... Aku..." Sasori gugup setengah mati untuk mengungkapkan perasaannya.

"Woi! Sasori, darimana aja, lu! Waktunya cuci baju bersama, nih!" panggil seorang duren busuk tiba-tiba yang menganggu acara romantis mereka. Dan para readers saat itu juga gebukin si Pein.

"Eh, iya, leader!" jawab Sasori langsung melepaskan genggamanya pada Harumi. "Bye!"

"Bye, juga!" Seketika itu juga Harumi langsung ngacir pulang ke rumahnya dengan wajah yang memerah.


Di kamar mandi Akatsuki yang bisa dibiliang cukup besar dan seram ini, semua anggota Akatsuki minus Konan sedang mengadakan cuci pakaian besar-besaran. Di dalam sana suasana bagai sebuah pesta ulang tahun yang ke 17. Mulai dari Pein yang nyuci baju pakek mesin cuci, Kakuzu yang ngomelin Tobi karena buang-buang detergen, Zetsu mandiin bunga bangke yang tadi di belinya, Hidan yang baru pulang dari acara ngedatenya, dan masih banyak, deh.

"Sas, gue boleh tanya gak sama elu?" tanya Itachi sambil ngucek baju yang warnanya hitamnya sampai putih.

"Boleh" jawab Sasori.

"Kenapa dari tadi lu senyam-senyum terus kayak orang gila?" tanya Itachi membuat Sasori sadar akan tindakan abnormalnya itu.

"Kata siapa gue senyam-senyum sendiri?" Sasori mengelak dengan cara pasang tampang serius kayak baca buku, padahal lagi nyuci.

"Kata gue, soalnya elu kayak orang abnormal" jawab Itachi kemudian kembali ke aktivitasnya.

Sasori hanya ngebatin, 'Kayak elu gak abnormal aja ngomong gitu ke gue'

"Oi, Sas, un, lo nyuci apaan, un?" tanya Deidara yang penasaran sama 'sesuatu' yang Sasori cuci.

"Ya, nyuci baju lah!" jawab Sasori yang masih tetep nyuci.

"Tapi yang lo cuci, un, itu bukan baju, deh, un"

Sasori segera melihat apa yang ia cuci sedari tadi. Ternyata yang ia cuci adalah majalah PlayBoy barunya Pein. Sang empu majalah laknat itu hanya teriak histeris layaknya ada sebuah tsunami menerjang.

"Ma-ja-lah-kuuuuuu!" teriak Pein bikin markas Akatsuki mau rubuh.

"Sori, mas bro!" ucap Sasori dengan wajah yang innocent.

"Gak ada kata maaf! Sekarang juga lo harus ngeganti itu majalah! Sekarang!" Pein udah kalap sampai-sampai banting mesin cuci dan sukses buat Kakuzu ngomel.

"Oke mas bro!" Sasori langsung ngacir begitu Pein mau melancarkan shinra tensei-nya.

"Jangan harap lu bisa pulang sebelum dapet, tuh, majalah!" teriak Pein pakek toa colongan.


"Ketua sarap!" umpat Sasori yang sedari tadi keliling Konoha gak dapet-dapet itu majalah bokep. Gimana dari tadi gak dapet kalau Sasori carinya di toko bahan bangunan. "Padahal gue udah cari di semua toko bahan bangunan Konoha tetep aja gak ada! Mana udah malem lagi!"

"Emang elu cari apaan, Sas?" tanya seorang cewek berambut putih gelombang panjang.

"Eh, Kaiya. Gini, nih, gue udah cari majalah PlayBoy keseluruh toko bahan bangunan di Konoha" curhat Sasori.

Kaiya hanya jawdrop liat kebegoan temennya ini. "Aduh, Sas, cari majalah di toko bahan bangunan. Cari, tuh, di toko buku!"

"Emang di toko buku ada? Bukannya di toko buku itu adanya semen, batu bata, sama bahan-bahan untuk membuat bangunan?" Kaiya facepalm sekaligus gondok karena kedodolan temen sekelasnya ini.

"Kebalik bego!" Kaiya mencak-mencak.

"Pantesan, saat gue di toko bahan bangunan gue diusir!"

"Oh, Tuhan, berilah sedikit kepintaran pada teman hamba ini, Ya Allah!" doa Kaiya yang udah mulai gondok disertai tangisan krystal.

"Kalau gitu, sampai jumpa di sekolah, ye!" Sasori pamit ke Kaiya yang masih berdoa.

"Eh, tunggu, kebetulan gue juga pengen ke toko buku. Jadi kesananya bareng saja!" Akhirnya Kaiya dan Sasori pergi ke toko buku bersama-sama.

.

Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah sampai di toko buku, bukan toko bahan bangunan. Mereka mulai menginjakkan kaki masuk ke neraka, salah, maksudnya masuk ke toko buku.

"Elu mau beli apaan, Sas?" tanya Kaiya sambil berjalan di sebelah Sasori.

"Beli majalah PlayBoy buat ganti punyaan Pein yang gue cuci!" jawab Sasori agak sebel mengingat kejadian barusan waktu cuci baju besar-besaran.

"Oh," sahut Kaiya sweatdrop.

"Kalau elu sendiri mau beli apa?" tanya Sasori sambil berjalan menuju rak paling laknat di toko buku sana.

"Buku tentang resep masakan," jawab Kaiya santai.

"Wih, jadi lu pinter masak, nih?" tanya Sasori kepo lagi.

"Nggak terlalu, sih," jawab Kaiya sambil malu-malu singa (?).

Tak beberapa lama kemudian mereka berpisah. Sasori ke tempat paling pojok toko buku, tempat barang-barang laknat tersebut. Kaiya ke tempat buku-buku resep makanan berkumpul.

"Sas?" panggil seseorang tiba-tiba yang suaranya udah Sasori hafal banget.

Mata Sasori langsung blink-blink begitu ia menoleh ke penampakan seorang cewek yang cantik banget dengan senyuman bidadarinya yang tadi memanggilnya. Sesosok bidadari yang turun dari kayangan itu adalah..

.

.

.

"Harumi?" balas Sasori yang masih melongo+ngeces.

"Iya," jawab Harumi dengan senyum malaikatnya. "Sedang cari apa disini?" tanyanya.

'TUHAAAAN! TERIMA KASIH TELAH MEMPERTEMUKANKU DENGAN HARUMI BERKALI-KALI DALAM SEHARI INIIIIII! OH, AUTHOR, TERIMA KASIH ENGKAU TELAH MEMBERIKU HADIAAAAAHH! MUMUMUMUCH!' teriak Sasori dalam hati lebeh beudt.

"Eh, ini, cari.. cari.. cari hadiah buat si Pein. Maklumlah dia, kan, suka majalah bokep!" jawab Sasori gugup. Gimana gak gugup kalau ketemu orang yang disukai di tempat majalah-majalah laknat bersarang.

"Oh, gitu ya" Harumi hanya tersenyum manis membuat Sasori speechless.

"Err.. tadi makasih, ya udah mau nganterin aku pulang" ucap Sasori sedikit basa-basi.

"Iya, sama-sama" balas Harumi. "Gimana kalau kita nanti pulang bareng?" tawar Harumi yang langsung disetujui Sasori.

Sementara itu Kaiya yang sedang nguping pembicaraan mereka hanya manggut-manggut. Ia langsung melengos pulang ke rumah meninggalkan Sasori dan Harumi yang lagi asik bercakap-cakap.

"Hohoho.. selamat 'Saos Saori'. Semoga berbahagia!" guman Kaiya sambil senyam-senyum nista disepanjang jalan kenangan -coret-.

..

.

Setelah mendapatkan buku, Sasori dan Harumi jalan berdua dibawah indahnya pohon sakura. Sekalian nge-date, lah. Meskipun secara gak langsung, sih.

"Eh, katanya musim panas nanti sekolah akan mengadakan liburan musim panas ke pantai, ya?" tanya Harumi sedikit basa-basi.

"Masa, sih? Yang ikut kelas berapa aja?" tanya Sasori antusias.

"Katanya yang ikut kelas 2 sama 3"

"Kamu ikut gak?"

"Jelas ikut, dong!" jawab Harumi sambil senyum maniiis banget, bikin orang yang lihat pengen ngemut Harumi. "Ah, ada stand takoyaki, beli, yuk!"

"Terserah"

Sampai di stand takoyaki Sasori yang mesan sekaligus yang bayarin. Yah, itung-itung biar kelihatan keren di mata orang yang disukai, sih. Modus lu, Sas.

"Bang, beli takoyakinya satu aja, ya!" pesen Sasori dengan gaya yang sok cool.

"Ini, mbak, semuanya 5 rebu!" sahut abang-abang penjual takoyaki itu.

"ENAK AJA NGATAIN GUE MBAK-MBAK! GUE ITU COWOOOOK!" sembur Sasori tiba-tiba membuat hujan lokal di wajah abang-abang penjual takoyaki itu. "DAN, NIH, DUITNYAAAA!"

"Gile, catik-cantik ternyata crossdresser!" ucap abang itu keceplosan ngebuat Sasori pundung di tengah jalan -ngeri bro-.

"Eh, Sasori ayo makan, nih, takoyaki berdua! Jangan pundung terus!" Harumi bingung menghadapi kepundungan Sasori yang udah overdosis.

"Gak mau! Gue pengen mati aja!" bantah Sasori yang masih pundung di tengah jalan membuat jalan macet total gara-gara Sasori.

Mau gak mau Harumi nyeret langsung kaki Sasori ke trotoar. "Jangan galau terus hanya dikatain crossdresser! Nih, takoyaki, aaaah" tenang Harumi sambil nyuapin sesunduk (?) takoyaki kemulut Sasori dan itu membuat Sasori blushing tingkat dewo.

Sasori hanya kerjap-kerjap dan langsung ke mode manjanya. "Suapin lagi, dong~" pinta Sasori manja dan hebatnya lagi, Harumi mau aja nurutin.

"Nih," suap Harumi. Orang-orang sekitar yang ngeliatin mereka pada ngebatin 'Pasangan yang manis, nih!'


Sasori pulang ke markas suram itu jam sudah menunjukan pukul 12 malem. Entah apa yang Sasori dan Harumi lakukan sampai jam 12 malem. Begitu mau buka pintu goa di dalam sana sudah ada Konan dengan roll rambut dan daster ala emak-emak yang lagi nungguin anaknya yang baru pulang jam segini.

"Ngapain jam segini bagu pulang? Hah!" bentak Konan horror. Apalagi eyes shadow Konan yang warnanya biru dongker menambah Sasori pengen pipis di celana.

"Anu.. tadi habis.. beli majalah pesenan si Pein" jawab Sasori takut-takut.

"Gue gak masalahin lu pulang malem apa kagak. Tapi.." ucapan Konan dia potong sambil nyeret Sasori ke suatu tempat.

"YANG MASALAH CUCIAN LO YANG MASIH NUMPUK DI KAMAR MANDI! LIAT KOLOR-KOLOR GAMBAR BARBIE LU BERTEBARAN DIMANA-MANA! JIJIK GUE LIATNYA, SAMPAI-SAMPAI GUE GAK SUDI GOSOK GIGI DISANA! CEPET BERESEIN CUCIAN LO!" sembur Konan sambil ngelempar Sasori yang udah tepat di depan pintu kamar mandi.

Yah, apa daya seseorang yang lagi kejatuhan dewi Fortuna. Omelan Konan yang cetar badai membahana bagai Sasori suara malaikat yang sedang menyanyi di telinganya. Dengan senang hati Sasori nyuci semua kolornya dengan lari-larian mengitari kamar mandi Akatsuki yang gede sambil tebar-tebaran kolor pink gambar barbienya. Imajinasinya, sih, kayak film India yang lagi kejar-kejaran mengelilingi pantai. Tapi kenyataannya...

"Oi, ngapain, tuh, bocah?" tanya Itachi jawdrop yang kebetulan lewat kamar mandi yang lagi ditempatin Sasori pintunya kagak ditutup.

"Bukannya tadi dia udah senyam-senyum sedari pulang sekolah?" tanya balik Hidan yang lagi main game bareng Deidara.

"Ketabrak mobil kali, un!" sahut Deidara. Ketiga makhluk jejadian itu hanya menghela nafas meratapi otak teman seteamnya.

TBC


Author : Yo, minna! Saya gak telat update, kan? -dibacok readers- Maap kalau saya hiatus sebentar (Readers : Lu kate sebentar?) Maap, ya mood ngetik saya anjlok, imajinasi luber, dan di chap ini aja ceritanya rada maksa. Maap sekali lagi kalau ceritanya boring, bertele-tele, typo, etc deh. Oh, iya, maap lagi kalau di chap ini Saso-Harumi gak jadi kisseu XD.

Review Answer :

nowan456 yoval : Kalau OC-mu, pasangannya sama siapa, ya? Kagak ada mungkin #KenaGaplok Saya pikirkan dulu *sok mikir serius*

akbar123 : Matur nuwun. Oke, sip!

Akasuna No Fuiin : Mepet gimana? Ceritanya, ya? Memang saya bikin supaya greget #GakNyambung

virman. viramancini : Saya cut, supaya main greget! Oke saya lanjut!

The Leader : Sip mas Bro!

Guest : Hah? Saya nggak ngerti maksud kamu, tapi oke saya lanjut ceritanya.

Author : Oh, iya, terima kasih bagi yang mau menjadi review setia di cerita ini juga reder setia yang senantiasa membaca FF ini dari tanggal 24 Mei 2013 sampai lebaran tahun ini -10 Agustus 2013-. Saya sekeluarga mengucapkan Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Salah Kirim #PLAK

.

[τ̲̅н̲̅a̲̅и̲̅κ̲̅ ч̲̅o̲̅u̲̅] for Read and please Review

.

MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN..

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN..