MOANA

.

.

.

Moana kini beristirahat di rumah Alelo. wajahnya langsung pucat ketika dibawa kesini, kohinya kambuh lagi.

"Moana..." Maui memanggil, memastikan Moana mendengar suaranya, berharap dia tidak pingsan.

"Aku tahu apa yang terjadi di fale tele tadi, kuharap Maelo segera mengerti" kata Alelo pada Tui.

Tui menghela nafas pasrah. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, Moana... anakku..."

"Dia akan baik-baik saja Tui, kau harus percaya padanya" ucap Sina, suaranya terdengar agak serak karena isak tangis.

"Kalau Kepala suku terus mengeluarkan darah seiring batuknya, dia bisa cepat lemas dan meninggal"

"Berhenti mengucapkan kalimat itu!" Maui menyela. "Moana tidak akan mati! kau ingin tinju di wajahmu juga!?"

"Aah ti-tidak tidak! maafkan aku Maui!" kata Alelo, ketakutan. "Tapi itu benar, tubuh yang terlalu banyak mengeluarkan darah akan membuat penderita semakin lemas, aku tidak punya pengetahuan tentang bagaimana caranya menambah darah-"

"KAU INI KAN TABIBNYA!"

"Maui! sudah cukup!" Tui membentak, Maui langsung diam.

"Kau membuat Moana pusing, berhentilah berteriak!"

"Kumohon... hentikan..." Moana merintih.

"Moana!?"

"Uhuk! gara-gara aku, semuanya jadi bertengkar... i-ni salahku, kumohon maafkan aku..." ucapnya lagi, hampir tak bersuara.

"Ini bukan salahmu sayang, kau bukan penyebabnya" Sina meyakinkan, tapi Moana menggeleng.

"Maelo benar, aku penyebabnya, aku... tidak tahu kalau kohi menular"

"Moana, berhenti pesimis, kau harus kuat!" Maui langsung mendekap tangan Moana kuat-kuat, memberinya cengkraman keberanian. "Jangan pedulikan kepala suku botak itu! dia hanya menakutimu!"

"Bagaimana kau tahu kalau dia botak? kan dia pakai Tuiga?" tanya Alelo.

"Pfft, aku tahu dia memang botak sejak datang kemari" jawab Maui.

Moana terkekeh, di sela-sela kepanikan seperti ini, ada saja bagi Maui untuk melucu.

"Ayah, maafkan aku atas semua ini"

"Sudah, tidak apa-apa" Tui tersenyum. "Ini bukan salahmu, ayah tak ingin kau menahannya lagi"

"Sekarang kau tidur saja, Kepala suku. tidak apa-apa, kami semua akan menjagamu disini" kata Alelo.

Moana menghembus nafas lega, dia sangat membutuhkan tidur hari ini. dia ingin melupakan segala kekacauan yang terjadi di fale tele. jujur, dia merasa sangat bersalah.

"Apa, Kohi itu menular?"

Semua langsung memandangi Moana yang sudah memejamkan matanya.

"Jika itu benar... berarti kalian..."

"Tidak" kata Maui. "Kami takkan tertular, Mo. kau punya orang-orang tersayang disini, mereka akan terus bersamamu"

"Bagaimana kalau ucapan Maelo itu benar?"

"Minnow, seperti apapun penyakit yang kau derita, ibu akan tetap bersamamu" kata Sina.

"Jika penyakitku memang menular, aku ingin di buatkan fale untukku sendiri"

"Tidak, kau harus bersama kami" kata Tui. "Ayah takkan membiarkanmu hidup sendirian hanya karena kohi menular, itu takkan terjadi"

Untuk hari ini baginya, sangat tidak di duga-duga. mengacaukan pertemuan, mulai batuk-batuk di hadapan tamu besar dan yang lebih buruk lagi, mereka mengatakan kalau kohi bisa menular lebih cepat.

Moana merasa terkutuk, kehidupan yang ia miliki selama ini, perlahan-lahan akan lenyap selamanya...


Sementara di tempat lain

"Maafkan kami atas kejadian tadi, Maelo. Kepala suku Moana memang sedang sakit, kuharap kau cepat mengerti pada apa yang terjadi padanya" kata Kaele.

"Jika saja Tui sejak awal sudah memberitahu padaku bahwa anaknya kena gejala kohi, aku masih bisa maafkan, untung hanya kena tanganku saja" kata Maelo, seolah acuh.

"Ahh, maaf sekali lagi, kuharap kau ingin segera mengunjungi Motunui la-"

"Tidak" Maelo menyela, kemudian dia menyuruh dewan-dewannya untuk segera naik ke perahu. "Kami melakukan perjalanan kemari selama empat hari, berharap membawa hasil besar dengan pulau ini, tapi yang kami dapat adalah bertemu dengan kepala suku yang penyakitan"

"Anakku tidak penyakitan" sambung Tui, langsung datang ke fale khusus untuk tamu.

"Tui?"

Tui menghadap ke arah Maelo, wajahnya terlihat agak suram, dia belum terima kalau anaknya di bilang 'penyakitan' oleh kepala suku yang berasal dari pulau tetangga tersebut.

"Percayalah padaku, anakku akan segera sembuh dalam waktu dekat. itu hanya kohi sementara" jawabnya lagi.

Maelo mendengus tak percaya "Sungguh? bagaimana kau bisa yakin secepat itu bahwa anakmu akan segera sembuh? dengarkan aku Tui, Kohi bukan penyakit paru-paru sembarangan. penyakit itu bisa membawa kematian seseorang lebih dekat, dan di tambah, anakmu masih muda, apa kau akan terima kalau suatu saat dia meninggal?"

Meninggal?

Entah mengapa, rasanya Tui meringis mendengar kalimat itu.

Di dalam hidupnya, dia sudah banyak kehilangan orang. pertama ayahnya, kedua adalah sahabat masa mudanya (yang tenggelam di laut), dan ketiga adalah ibunya...

Andai saja ibunya (nenek Tala) disini... dia pasti bisa menyelesaikan segalanya. Tui jadi rindu ibunya, terlebih Moana juga dekat dengan neneknya semasa beliau masih hidup.

"Selama aku berada di dekatnya, anakku takkan meninggal secepat itu. jadi... jika kau ingin pergi dari sini, aku bisa memahaminya, maafkan kami atas kejadian tadi" kata Tui, berusaha mengatur nafasnya untuk tidak langsung emosi pada Maelo. dia bisa memahami situasi apa yang telah terjadi pada pertemuan tadi.

"Akan ku katakan sesuatu padamu, Tui. Kohi bukanlah penyakit sembarangan, paru-parunya bisa menyerang tubuhnya sewaktu-waktu. dan anakmu, bisa kehilangan nafas dan takkan ada yang bisa membantunya!"

"Anakku adalah gadis yang kuat, Moana pasti sembuh" Tui sangat yakin.

"Bagaimana kau bisa seyakin itu!? semua orang tahu Kohi takkan pernah ada obatnya! sekalipun tabib hebat di desamu ini yakin bisa menyembuhkannya, itu takkan berhasil. kau juga tak bisa memaksa anakmu bekerja sebagai Kepala Suku. lagipula, pulau mana yang ingin punya kepala suku penyakitan macam anakmu? heh?"

DEG!?

Tui benar-benar emosi, satu kalimat yang menghina anaknya, akan membuatnya meluap seperti lava.

Tui mencoba melangkahkan kakinya ke depan menghampiri Maleo, mengepalkan tinjunya erat-erat, namun Kaele langsung menahan bahunya. memberi kode bahwa dia harus menenangkan diri.

"Ugghh..." Tui menghela nafas menurut.

"Dan pertanyaanku untukmu adalah : Apa kau percaya anakmu akan sembuh?" tanya Maelo.

Tui pun berpikir, Ayah macam apa yang tidak percaya pada putrinya sendiri? gumamnya. dia tahu segalanya tentang Moana. dia tahu ketika Moana lahir, dia tahu kalimat pertama putrinya ketika belajar bicara, dia tahu langkah pertamanya ketika berjalan, dia tahu makanan favorit putrinya, dan dia tahu semua tentang Moana, itu lebih dari cukup melihat Moana tumbuh di depan matanya.

"Heh, terserah apa yang kau yakinkan. Tui, terima kasih atas perhatianmu. ayo semua, kita pulang!"

Akhirnya, Maelo dan dewan-dewannya pun pulang.

"Tui" Kaele langsung menepuk bahunya. "Kita harus bicara"

Tui paham dengan maksud tetua desanya, akhirnya ia mengangguk pelan.

"Baiklah"


Seharian penuh, Moana meringkuk di dalam kamarnya.

Masih menyesal karena pertemuan tadi, Moana tidak henti-hentinya menangis karena kesalahannya. dia mengacaukan segalanya yang bisa jadi kesempatannya, tapi yang terjadi kohinya malah kambuh lagi. jika yang di katakan Maelo benar, maka...

Moana takkan pernah memaafkan dirinya jika orang-orang desa ikut kena penyakitnya.

Moana mulai berpikir, andai kohi ini mulai menyebar, ia ingin pergi menjauh dari desa dan membangun fale-nya untuk dirinya sendiri. baginya, lebih baik hidup menderita sendirian daripada orang-orang di sekitarnya ikut kena gejalanya.

"Jangan menyerah, Princess" kata Maui.

Moana langsung menoleh ke si separuh dewa angin dan laut yang duduk di sebelahnya. Maui tak menatap matanya.

"Maui?"

"Kalau kau mati, aku akan sangat hancur" jawabnya lagi.

"Maui, a-aku..."

"Pokoknya, kau tidak boleh mati!" Maui menegaskan. matanya lurus menatap tajam-tajam pada Moana.

Moana agak terkejut, baru kali ini dia bisa melihat sisi serius dari kalimatnya Maui.

"Kenapa... Uhuk! kenapa... kau tidak ingin aku mati, Maui?"

"..."

Maui tak menjawab.

"Maui?"

"Ya, intinya, kau tidak boleh mati. aku menolak itu, akan ku lakukan berbagai cara untuk membuatmu terus hidup, Moana" jawabnya lagi.

Mini-Maui di dadanya pun ikut terdiam, si tato hanya memandang sedih ke arah Moana dan menggelengkan kepala kecilnya.

Moana menghela nafas kecil, tangan pucatnya langsung menepuk lutut besarnya Maui.

"Aku janji, aku takkan mati"

"Kau janji?"

"Kalau aku mati, aku takkan bisa mengingatmu" gumam Moana.

"Untuk itulah, aku paling benci melihat kematian. kau hanya satu Moana, kau lahir di pulau ini sebagai anak Kepala Suku, dan Motunui mencintaimu. kau harus ingat itu, kami semua ada untukmu. makanya kau tidak boleh mati"

"Baiklah, aku janji"

Moana meyakinkan, Maui bisa melihat senyuman kecil terukir di bibir pucatnya. dia tetap terlihat manis walau sedang sakit.

"Aku juga takkan meninggalkanmu"

"T-tapi... bagaimana dengan tugasmu sebagai dewa? uhukk! bu-bbukannya... kau... juga harus membantu mereka?"

"Aku tahu, Mo. tapi... jika aku pergi, aku takkan bisa berhenti memikirkanmu, aku khawatir, bagaimana saat aku kembali kesini dan kau sudah tidak ada? aku tak mau itu terjadi"

"Maui, jika kau terus berpikiran seperti itu, bagaimana kau bisa berhenti mengkhawatirkan aku? kau tahu? a-aku ini kuat... karena... kau selalu disini, Maui"

Maui terdiam.

"Uhuk! uhhuk!" Moana langsung menutup mulutnya, berusaha untuk menahan batuk.

"Jangan di tahan, keluarkan saja"

"Uhuk! uhukk!? UGhh!?"

Maui menggosok-gosok dadanya Moana, membantunya untuk bernafas. Moana nampak lelah, sepertinya ia akan kesulitan tidur jika kohi-nya kambuh lagi.

"sshhh, sudahlah... kau pejamkan matamu perlahan-lahan, dan tidur, mengerti?"

"Baiklah"

si ali'i matai pun menutup matanya untuk pergi tidur, Maui menghela nafas berat. sebetulnya dia tidak bisa melihat keadaan Moana sakit-sakitan begini. Maui pernah membayangkan sekali saja di otaknya, andai Moana mati (Tidak! itu takkan terjadi!) maka dirinya akan kesepian lagi...

Dia takkan punya teman berlayar...

Lautan akan menangis...

Dan semua menangisi kepergiannya...

"..."

Kematian itu mengerikan...

TO BE CONTINUED