MoonStar
.
By : Reii Harumi
.
Disclamier : Naruto Milik Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFem!Naru
Warn : GenderBender , typo(s) , DLL , AU!
Genre : Romance , Friendship , Comedy , School Life.
.
Here we go ..
.
.
Chapter 7
Naruto berjalan menuju bangku ia berada. Ketika ia sampai di tempat duduknya, ia melemparkan tatapan hangat kepada Hinata yang duduk di sampingnya. Dan suara Kakashi pun di pagi hari itu menjadi awal memulainya pelajaran di Otoha High School.
"Baiklah, kita akhir pertemuan kali ini. Jangan lupa untuk mengerjakan tugas yang telah sensei berikan." Ujar Kakashi diakhir pembelajaran yang langsung dibalas kompak oleh seluruh kelas.
"Naruto.. kau benar-benar Naruto?" Ujar Hinata yang masih tidak percaya dengan sosok yang tersenyum manis kepadanya.
"Mou~~ Hinata sudah melupakanku ya sampai-sampai tidak percaya ini aku ?" Ujar Naruto – pura-pura mengambek-.
Hinata langsung memeluk erat Naruto, "Naru… aitakatta! Atashi ureshii wa." Ujar Hinata lembut.
"Aku juga kok, dan lagi kau benar-benar bertambah manis deh." Puji Naruto yang takjub melihat perubahan Hinata.
"B-bicara apa kau Naru? Kau jauh lebih manis dariku." Ujar Hinata, malu.
"Hm? Neji kemana?" Tanya Naruto seraya menatap seisi kelas yang hampir kosong karena memang sedang waktunya istirahat.
"Ah, dia ikut pergi Kaka-sensei untuk membantunya membawakan beberapa berkas yang tadi dibawakan Kaka-sensei." Jelas Hinata.
"Ne~ Hina-chan, kau kenal gadis ini?"
Naruto melirik kearah dua orang gadis yang berdiri dibelakang Hinata. Yang satu tampak begitu manis dan salahsatunya berwajah tomboy.
"Ah, Tenten, Ino-chan." Panggil Hinata kepada kedua gadis tersebut.
"Hai! Namaku Yamanaka Ino, kau bisa memanggilku Ino-chan. Yoroshiku ne, Namikaze-san." Ujar gadis manis berambut pirang pucat berponi sebelah.
"Yo, namaku Kiyomizu Tenten, cukup panggil aku Tenten. Salam kenal." Ujar gadis tomboy tersebut.
"A- ah, salam kenal juga. Kalian juga boleh kok memanggil aku Naruto." Ujar Naruto dengan senyum khas miliknya.
"Tenten, Ino-chan, ini adalah sahabatku yang pernahku ceritakan." Ujar Hinata seraya menatap Naruto dan kedua gadis itu bergantian.
"Hee? Kau yang pernah tinggal Praha itu? Bagaimana iklim disana? Apa bangunan tuanya begitu megah? Banyak cowok ganteng kah?" Tanya Ino dengan semangat.
"E-etto.."
"Urusai na ahoo onna." Ujar Tenten dengan datarnya.
"Tenten-chan, hidoi-ssu~~" Ujar Ino dengan wajah yang merengut manis.
Kedutan kecil menghiasi kening Tenten, "Dakara berhentilah memanggilku dengan sebutan Tenten-chan, ahoo."
"Ma, ma, Tenten jangan terlalu kasar pada Ino-chan." Ujar Hinata melerainya.
"Hina-chan, kau memang yang terbaik." Ujar Ino seraya memeluk tubuh Hinata.
"Hee.. kalian cukup dekat ya." Ujar Naruto yang sedaritadi melihat interaksi antar ketiga gadis tadi.
"Kita ini satu SMP loh, bahkan selalu satu kelas, Naruto-chan." Balas Ino.
"Naru-chan, apa kau juga memiliki teman dekat selama di Praha?" Tanya Hinata, selama ini ia selalu agak khawatir dengan teman-teman disekitar Naruto, maklum Naruto terlalu polos untuk ukuran anak SMA.
"Ada kok. Dia baik dan bisa diandalkan, ya walaupun sering menjahiliku." Ujar Naruto yang kembali mengingat teman pertamanya di Praha.
"Yokatta, aku ikut senang Naru-chan." Ujar Hinata dengan senyuman manisnya.
Naruto asik berbincang dengan Hinata, Ino, dan Tenten sampai akhirnya tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan punggung sosok yang ia kenal.
'Sasuke !'
Naruto langsung membalikkan badannya dan membuka pintu geser jendela kelasnya. Baru saja ia akan memanggil …
"Kyaa itu ada Sasuke-kun!"
"Mana? Mana?"
"Ah~ dia selalu saja keren setiap hari ya."
"Aku ingin menjadi pacarnya."
Naruto terdiam mendengar ucapan teman-teman gadis dikelasnya. Ia tatap kembali punggung Sasuke yang kian menghilang memasuki bangunan diseberangnya.
"Ah~ lagi-lagi si muka es bikin gempar kelas ini." Ujar bosan Tenten.
"Sudahlah, Uchiha-kun memang keren bukan?" Ujar Ino.
"Ino, kalau ku adukan kepada Gaara, pasti Gaara akan langsung memutuskanmu kalau ternyata kau memuji laki-laki lain selain dirinya." Ancam Tenten dengan santainya.
"Tenten-chanJangan jahat begitu padaku." Ujar Ino memelas.
"Ne.."
"Ada apa Naru-chan?" Tanya Hinata, heran.
"Bangunan diseberang sana itu apa?" Tanya Naruto seraya menunjuk bangunan didepannya.
"Itu bangunan khusus untuk anak-anak kelas akselerasi." Ujar Tenten.
"Kelas akselerasi itu apa?"
"Aku juga kurang banyak tahu, tapi disana tempat anak-anak yang sewaktu masuk ke sini mendapat peringkat tiga besar dalam ujian dari setiap sekolah masing-masing. Makanya bangunan dan dasi yang mereka kenakan berbeda." Jelas Ino.
"Kumpulan orang-orang keren dan berotak cerdas. Tapi yang paling popular itu, ya Uchiha Sasuke itu." Ujar Tenten sambil membenarkan letak dasinya.
"Sasuke sih memang sedari kecil juga sudah popular." Ujar pelan Naruto.
"Sedari kecil? Kau sama seperti Hinata, teman masa kecilnya juga?" Tanya Tenten, heran.
"Tenten, Naru-chan dan Sasuke-kun sudah berteman jauh sebelum mengenal aku." Jelas Hinata yang sontak membuat Ino dan Tenten kaget.
"Hontou ka? Sugoii, Naruto-chan." Ujar takjub Ino.
"Ahaha biasa saja kok. Lagian aku kenal dia karena kedua orangtua ku." Ujar Naruto dengan senyum maklum.
"Eh? Kok bisa?" Ujar Tenten.
Naruto menyenderkan punggungnya pada dinding dibelakangnya, "Kaa-san dan Tou-san ku adalah sahabat kedua orangtua Sasuke sejak SMA,"
"Hee.. fakta yang cukup mengejutkan." Ujar Tenten dengan senyuman kecil.
Naruto tersenyum kikuk,"Ah, kudengar dari beberapa hari lagi nanti ada festival olahraga ya?" Ujar Naruto, mengalihkan pembicaraan.
"Ah, benar juga. Tapi ya, mungkin aku akan ikut lomba sepakbola putri." Ujar Tenten.
"Aku akan ikut volley." Timpal Ino.
"Kalau Hinata mau ikut apa?" Tanya Naruto.
"Aku.. mungkin akan ikut lomba lari 100 m, Naru-chan." Ujar Hinata kalem.
"Hee.. Mungkin aku akan ikut lomba pinjam barang." Gumam pelan Naruto.
"Naruto-chan." Panggil Ino.
"Eh? Ada apa, Ino-chan?"
"Kau… akan ikut klub apa?" Tanya Ino.
"Eh? Klub?" Ujar Naruto, agak tersentak.
"Kau belum tahu? Gakinchou memberikan peraturan bahwa minimal seorang siswi atau siswa memiliki satu kegiatan klub." Ujar Ino mengingatkan.
'Ah! Benar juga, aku harus ikut minimal satu klub, kenapa aku bisa lupa?' Batin Naruto merutuki kebodohannya.
"Aku.. masih kurang tahu mau masuk klub apa, tapi aku senang memotret." Balas Naruto jujur.
"Kalau begitu, ikut aku saja masuk klub fotografi!" Ajak Ino semangat.
"Klub fotografi?"
"Ikut klub fotografi saja, rame loh! Dan lagi sekarang klub masih mencari anggota baru kok." Tawar Ino.
"H-hontou ka? Daijoubu?" Tanya Naruto, sedikit bimbang antara ingin menerima atau menolaknya.
"Daijoubu desu yo~ Nanti saat pulang sekolah, kita datang ke ruang guru dan meminta formulir pendaftaran klub." Ujar Ino.
"Eh? P-pulang sekolah ?"
Ino mendekatkan wajahnya kearah Naruto, "Kau mau kan?" Tanya Ino dengan senyum 'manis' miliknya.
"H-ha'i" Ujar Naruto kikuk.
"Ha'i, kore! Formulir pendaftaran klub sudah diterima oleh sekolah, besok kau datang ke ruang klub bersamaku, oke?" Ujar Ino seraya menyerahkan formulir yang sudah dicap kepala sekolah kepada Naruto.
"Ah, besok apa aku perlu membawa kamera ?" Tanya Naruto.
"Hm~ Jika kau punya, bawa saja. Ohiya, klub fotografi selalu memberikan tugas dengan memotret sesuai dengan tema. Tiap minggu tema selalu berbeda dan setiap foto yang di dapat akan dipajang di ruang aula dan dinding sekolah. Nanti dibawah foto itu , ada tempat khusus untuk memberi komentar dengan kertas temple dan pulpen yang sudah klub siapkan." Jelas Ino.
"Di pajang?" Beo Naruto.
"Bagi yang mendapat komentar paling banyak, bakalan sama buchou di beri kupon gratis makan di kantin selama satu minggu loh. Seru kan?" Ujar Ino dengan cerianya.
"Kupon gratis makan ? Kau tidak sedang bercandakan?" Tanya Naruto serius. Tentu siapa yang tidak mau makan gratis di kantin apalagi selama satu minggu? Membayangkannya saja sudah membuat Naruto melayang.
"Mochiron-ssu, makanya kau semakin tertarik kan?"
Naruto menganggukkan kepalanya,"Ah, sudah waktunya aku harus pulang." Gumam Naruto.
"Ya sudah, osaki ni, Ino-chan. Mata ashita." Pamit Naruto.
"Hm! Ogenki de!" Balas Ino dengan senyum yang terpantri diwajah manisnya.
"Osoi! "
Naruto tertegun mendengar ucapan dari balik punggungnya, "S-sasuke."
Sasuke berjalan mendekat kearah Naruto, "Kau itu lama sekali, beruntung tidak ku tinggal kau."
"He?! Kau menungguku?"
"Jika bukan karena permintaan Kaa-san, sudah sejak tigapuluh menit yang lalu aku pulang." Ujar ketus Sasuke.
Naruto menatap tak percaya Sasuke,"Gomen ne Sasuke."
"Ii yo, betsuni. Tapi karena kau, aku jadi bisa menyelesaikan catatan tugasku." Ujar datar Sasuke.
"Memangnya klub basket harus menulis catatan tugas?" Tanya Naruto, bingung.
"Bukan basket. Aku juga anggota kesehatan sekolah." Balas Sasuke.
"Kau ikut dua klub?!"
"Hn."
"Memangnya tidak lelah? Basket saja sudah melelahkan bukan?"
"Tidak. Aku hanya perlu duduk diam di unit kesehatan, membantu sensei, atau membantu merawat luka para murid saja." Ujar Sasuke.
"Tunggu, ada berapa murid yang jadi anggota kesehatan sekolah?"
"Lima orang, dibagi beberapa hari."
" S-souka." Ujar Naruto pelan.
"Kertas apa itu?" Tanya Sasuke.
"Kertas ?"
"Itu yang ada di saku kiri jasmu." Ujar Sasuke seraya menunjuk serpihan kertas di saku jas Naruto.
"Ah, ini formulir pendaftaran klub. Aku ikut klub fotografi dan katanya bagi yang bisa mengumpulkan komentar terbanyak akan mendapatkan kupon gratis makan di kantin, hebat bukan?" Ujar Naruto dengan wajah sumringah.
"Hn, baguslah." Ujar singkat Sasuke.
"Mou~~ Sasuke tidak asyik." Balas Naruto dengan tatapan sinis.
"Warukattana." Ujar Sasuke dengan senyum tipis.
Asyik berbincang-bincang sepanjang lorong menuju pintu gerbang tanpa menyadari adanya sosok lain yang menunggu kedatangan Sasuke di depan gerbang depan sekolah.
"Sasuke-kun kemana ya?" Gumam Sakura,lirih.
"Ahaha ittai yo Sasuke."
"Hn, Tarik semua perkataanmu itu, Naruto."
"Gak bakalan sebelum kau menaktirku ramen,baka."
Sakura langsung membalikkan badannya ketika mendengar suara Sasuke dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati Sasuke dengan seorang gadis yang bahkan belum pernah ia lihat. Untuk sesaat hatinya sedikit sakit melihatnya.
"Ah! Itu siapa?" Tanya Naruto yang menyadari Sakura di dekat pintu gerbang.
Sasuke melepaskan lengannya yang sedaritadi melingkar di bahu Naruto , "Itu Haruno Sakura, manajer tim basketku."
"Hee? Gadis cantik itu? Hebat sekali klub basketmu Sasuke." Puji Naruto dengan senyum khasnya.
Sakura datang mendekati Sasuke dan Naruto, "Sasuke-kun." Panggil Sakura.
"Hn, ada apa?"
"Lusa kau akan latihan bukan? Hidan-senpai bilang latihan lusa mulai dari pukul tiga sore." Ujar Sakura.
"Mendokusai."
CTAAK
"Kau ini harusnya bilang terima kasih, bukannya mengumpat." Tegur Naruto.
Sasuke mengusap-usap dahinya yang tadi sentil, "Hn."
"Gomen ne, dia memang suka begitu." Ujar Naruto meminta maaf pada Sasuke.
"Ah, Iie, heki desu. Ah, kita belum berkenalan bukan? Namaku Haruno Sakura, kelas akselerasi, yoroshiku onegaishimasu." Ujar Sakura memperkenalkan diri.
"Namaku Namikaze Naruto, kelas A. Boleh ku panggil kau Sa-chan? Kau juga boleh panggil aku Naruto." Ujar Naruto dengan senyum manis.
'Dia.. manis. Aura yang terang dan ceria, seperti matahari.' Batin Sakura ketika melihat senyum Naruto.
"Ah, boleh kok. Kalau begitu kupanggil Naruto-san bagaimana?" Ujar Sakura.
"Boleh kok, Sa-chan."
"Ehem! Pembicaraannya sudah beres?" Tegur Sasuke yang sedaritadi hanya diam.
"Ah, iya sebentar lagi. Osaki ni, Sa-chan, mata ashita ne." Pamit Naruto.
"Ogenki de, Naruto-san." Ujar Sakura.
Sakura memandang Sasuke dan Naruto yang berjalan dengan sesekali candaan dari Naruto yang dibalas tatapan Sasuke. Ia memalingkan wajahnya, ia… iri dengan Naruto yang bisa berbicara santai dengan Sasuke. Bahkan ia belum pernah melihat Sasuke menatap seorang gadis seperti tadi.
"Naruto-san.. kamu itu siapa?" Ujar lirih Sakura yang terbawa hembusan angin sore hari.
"Sasuke! Sa-chan tadi itu pacarmu?" Tanya Naruto untuk ke limabelas kalinya.
Sasuke hanya diam tidak menjawab pertanyaan Naruto. Ia terus menulikan telinganya dari ocehan Naruto tentang "Sa-chan itu pacarmu?".
"Sasu –"
"Urusai, dia bukan pacarku. Mengerti?" Desis Sasuke seraya membalikkan badannya menghadap Naruto. Menatapnya tajam.
"Kau marah? Gomen ne." Ujar pelan Naruto sambil meremat erat pegangan tas tentengnya.
Sasuke menghembuskan napas secara kasar," Dengar, untuk saat ini aku tidak memiliki pacar. Jadi, berhentilah untuk bertanya."
"Jika kau tidak punya pacar saat ini, berarti kau punya orang yang kau sukai kan?" Ujar Naruto. Mata birunya menatap langsung mata Sasuke.
"Bukan urusanmu." Ujar Sasuke seraya membalikkan badannya dan melanjutkan kembali perjalanannya.
Naruto masih terpaku di tempatnya. Ia tersenyum miris menatap punggung lebar Sasuke.
'Kenapa… kenapa kau memiliki pandangan yang begitu kering dan dingin? Kemana dirimu yang dulu, …
…Sasuke.'
"Dei-chan, mau kah kencan denganku?"
"Tidak dan menyingkirlah dari hadapanku, cowok murahan."
"N-nani?! Kau—kau perempuan brengsek!"
"Apa?! Mau memukulku? Pengecut."
"Teme.."
"Hentikan atau ku panggil polisi."
Deidara yang saat itu dicegat oleh salahsatu mahasiswa , memandang sinis sosok yang sangat ia benci tapi ia cintai juga. Mahasiswa itupun mendecih ketika sosok mahasiswa lainnya berdiri di ujung lorong dengan ponsel berada di telinganya. Tangan Mahasiswa yang mencengkram lengan Deidara ia hempaskan kasar hingga tubuh Deidara merosot jatuh.
"Dei.." Ujar pemuda yang menolongnya setelah mahasiswa itu pergi.
"Tiga tahunkah Sasori? Hahaha, tiga tahun aku dengan bodoh menunggumu. Kau menyukai Shion bukan? Harusnya kau tidak perlu repot-repot menolongku!" Desis Deidara menahan amarah.
"Dei! Kau salahpaham, aku-"
"Kalau begitu kenapa hanya aku yang tidak mengetahui soal kepindahanmu huh? Kenapa di saat aku khawatir hingga rasanya ingin mati, kau hanya berbicara pada Shion? Kau pikir aku apa huh?! Kau tidak benar-benar mencintaiku kan?!" Ujar Deidara dengan tatapan tajam.
"Dei, dengar ada alasan kenapa aku melakukan itu." Ujar Sasori seraya mencengkram pergelangan tangan Deidara.
"Heh, alasan? Alasan apa?" Tanya lirih Deidara.
Sasori terdiam sejenak, "Aku… tidak ingin kau menungguku."
"Tapi pada akhirnya aku menunggumu hingga kau kembali bukan? Kau tahu Sas? Saat aku tanya pada Itachi dan Shion kemana kau pergi , mereka bilang tidak tahu." Ujar Deidara pelan.
"Aku terus mencari-cari dimana kamu berada, nomor ponselmu pun tidak aktif lagi. Aku membuang masa-masa SMA ku hanya demi menunggu orang yang ku cintai, menyedihkan bukan?" Lanjut Deidara dengan senyuman miris. Sasori tetap diam, menatap sendu Deidara.
"Aku bertanya pada Sasuke-kun dan teman-teman Naru-chan, mereka tampak menghindar soal kepindahanmu. Aku tidak mengerti tapi aku berusaha berpikir positif, namun.."
"…Tepat setahun yang lalu, aku tidak sengaja membuka ponsel Shion dan aku terkejut bahwa selama ini kau dan Shion terus berkomunikasi, bahkan dengan Itachi. Tidak masalah bagiku untuk terus menunggumu, tapi tolong jangan berbohong padaku! Padahal kalian adalah sahabat baikku, kenapa kalian tega melakukan itu semua?!" Ujar Deidara dengan isakkan tangis yang mulai keluar.
"Dei, aku –"
"Berhentilah merasa bersalah padaku, seharusnya aku yang cukup sadar diri." Ujar dingin Deidara setelah menghapus kasar air mata yang turun ia segera beranjak berdiri.
"Mulai sekarang, berhentilah untuk menggangguku, Namikaze-san."
"Matte, apa maksudmu? Oke, aku minta maaf dan kumohon jangan bersikap seperti ini." Ujar tegas Sasori mencegat lengan Deidara.
"Bukan urusanmu." Tukas Deidara seraya menarik kasar lengan yang tadi di cegat oleh Sasori.
"Kaa-san~" Sapa Naruto ketika memasuki dapur.
"Ara Naru-chan." Ujar Mikoto yang sedang sibuk memotong daun bawang.
"Hari ini masak apa? Teriyaki?" Tanya Naruto ketika melihat bahan-bahan yang tersedia.
"Bingo~ Naru-chan mau ikut bantu?"
"Mau!"
"Naru-chan, tadi sekolah ada kegiatan apa saja?" Tanya Mikoto memulai pembicaraan.
"Etto… tadi Naru bertemu Hinata dan Neji dan untungnya satu kelas, tapi Naru belum bertemu Shikamaru. Soalnya Shikamaru satu kelas sama Sasuke, kelas akselerasi. Terus Naru juga daoat teman baru. Namanya Ino-chan, Tenten, dan Sa-chan." Ujar Naruto sambil memotong paprika merah.
"Sa-chan?" Beo Mikoto.
"Ah, namanya Haruno Sakura tapi Naru panggil Sa-chan, manajer klub basket Sasuke." Jelas Naruto.
"Hee— Sasuke tidak pernah bilang jika klub basketnya memiliki manajer seorang gadis." Ujar Mikoto dengan nada sedikit terkejut.
"Hontou ka? Kaa-san tidak pernah datang ke pertandingan Sasuke?" Tanya Naruto.
"Belum." Ujar Mikoto dengan tatapan sendu.
"Eh? Kenapa?"
"Kaa-san bukannya tidak ingin datang, tapi tidak bisa karena kondisi Kaa-san akhir-akhir ini kurang stabil." Ujar Mikoto sambil menatap keibuan kearah Naruto.
"Ah, kalau begitu biar Naru saja yang membuat makan malam. Kaa-san istirahat saja." Ujar Naruto, khawatir.
"Arigatou Naru-chan sudah mengkhawatirkan Kaa-san, tapi tenang saja! Kaa-san sehat kok!" Ujar Mikoto dengan senyum lebar.
"Kalau Kaa-san merasa lelah atau sakit, Kaa-san bilang ke Naru ya? Janji?" Ujar Naruto kepada Mikoto.
"Janji. Nah, ayo lanjutkan ceritamu tadi."
Sebuah mobil Ferrari hitam melaju dengan kecepatan sedang di jalan besar kota Tokyo. Terlihat di dalam mobil tersebut Itachi tengah fokus mengendarai dan Sasori yang duduk di jok penumpang sebelahnya.
"Itachi,"
"Hn?"
"Apa yang gue lakuin selama ini sia-sia?" Tanya Sasori, pelan.
"Bukan sia-sia, tapi salah." Ujar singkat Itachi.
"Haha padahal gue ngelakuin itu semua demi kebaikannya tapi malah membuat ia seperti itu. Gue memang bodoh." Ujar Sasori, berusaha memaki dirinya.
Shock. Itulah kata yang pantas untuk mendeskripsikan isi hati Sasori sekarang. Saat ia baru awal menjadi seorang mahasiswa, ia dikejutkan bahwa Deidara telah berubah menjadi sosok playgirl no.1 di seluruh kampus. Tidak ada lagi sosok gadis yang pemalu dan tatapan lembut, yang ada sosok gadis yang suka kencan sana sini dengan tatapan kosong seperti boneka. Salah Sasori, ia tidak mengatakan dengan jujur kepindahannya dan berusaha menutupi. Ia tidak ingin Deidara terus menunggunya. Tapi ia salah besar, ia dikejutkan oleh sikap baru Deidara yang tidak biasa, bahkan mulai menjauhi Itachi dan Shion.
"Sas, kalau boleh saran, lo jangan bikin adik lo khawatir." Ujar Itachi.
"Eh?"
"Lihat tuh wajah lo, udah kayak orang kurang tidur. Setidaknya untuk sekarang,.. perlihatkan bahwa hari pertama lo masuk sekarang ini menyenangkan." Ujar tegas Itachi.
"Tapi, Chi.. bagaimana kalau sampai Naru nanyain Deidara?" Tanya Sasori.
"Otak jenius lo tuh kemana sih? Gue bilang gini untuk kebaikan lo dan adik lo. Lo sekarang aja udah shock berat gitu, jangan bikin adik lo ikut khawatir juga. Akan lebih gawat bila adik lo tahu Dei sekarang seperti apa." Jelas Itachi dengan nada jengkel.
Sasori terdiam. Ia membenarkan ucapan Itachi. Naruto untuk sekarang jangan tahu dahulu sikap Deidara sekarang. Bisa-bisa masalah akan tambah rumit. Memikirkan Deidara saja sudah membuat Sasori kehilangan nafsu makan siang hari ini, apalagi kalau sampai Naruto tahu? Ia tidak boleh membuat Naruto khawatir, itulah salahsatu pesan dari mama kepada Sasori. Sasori mencoba menetralkan deru nafasnya agar tenang.
"Lo benar, gue harus tetap tersenyum apapun yang terjadi. Naru… tidak boleh melihat sisi lemah dari kusonii-chan nya ini." Ujar Sasori dengan tawa miris.
"Jangan memaksakan diri, Sas." Ujar Itachi dengan senyum tipis.
"Sankyu, Itachi."
"Tadaima~"
"Ah, Okaeri Itachi-nii Saso-nii." Ujar riang Naruto.
"Woah… datang-datang sudah main peluk-peluk aja nih sama Saso-nii-nya." Cibir Itachi.
"Huu, Naru khawatir sama Saso-nii secara dia itu tipe cowok sok jual mahal." Ujar Naruto dengan bangganya.
"Apa maksudmu huh? Sok jual mahal? Sorry , tapi aku benar-benar popular. Yang ada tuh kamu yang sok jual mahal, kinpatsu." Ujar sarkas Sasori.
"Nani?"
"Sudah-sudah Naru-chan, lebih baik kita segara masuk. Tidak enak bukan berdiri di depan rumah seperti ini?" Lerai Itachi.
"Ah, maaf Itachi-nii."
"Iie, daijoubu. Tou-san sudah pulang?" Tanya Itachi lembut.
"Belum. Katanya hari ini akan pulang larut." Ujar Naruto.
"Hee—padahal sekarang sudah hampir pukul tujuh malam."
"Ohya, bagaimana kuliah hari?" Tanya Naruto.
"Eh? A- baik kok. Menyenangkan." Ujar Sasori dengan senyum 'palsu' khasnya.
"Syukurlah. Aku juga menyenangkan kok, bahkan dapat teman baru. Aku juga gabung klub fotografi di sekolah dan kalau bisa dapat komentar paling banyak bakalan dapat kupon gratis makan di kantin." Ujar Naruto dengan semangat.
"Baguslah, tapi nanti kuponnya buat aku ya?" Goda Sasori.
"GAK BAKALAN KUSONII-CHAN!"
"Sasuke~" Panggil Naruto dengan kepala menyembul diantara sela pintu yang ia buka.
"Hn?"
"Temani aku ngobrol ya?"
"Sekarang sudah pukul sepuluh malam, lebih baik kau segera tidur, Naruto." Ujar Sasuke setelah melirik jam dinding dikamarnya.
"Huu~ jika aku bisa tidur, maka aku tidak perlu datang ke sini." Ujar Naruto ketus.
"Baiklah, tapi hanya satu jam." Ujar Sasuke.
"Yey~ " Pekik pelan Naruto seraya masuk ke dalam kamar Sasuke.
"Wah, kau tidak berubah. Selalu saja sebelum tidur membaca buku rumit." Ujar Naruto ketika duduk di tepi ranjang Sasuke.
"Kau pun tidak berubah, selalu ceroboh dengan masuk tanpa malu-malu ke kamar cowok." Ujar sarkas Sasuke.
"Tapi kamarmu dan Saso-nii pengecualian. Selebihnya aku tidak pernah masuk ke kamar cowok tanpa izin." Ujar Naruto tidak terima.
"Kenapa ?"
"Kenapa ? Y-ya karena kamu sahabat dan teman masa kecilku, jadi aku tidak terlalu malu untuk masuk ke dalam kamarmu." Ujar Naruto dengan telunjuk kanan diletakkan di dagu dan ekspresi wajah yang berpikir.
"Kalau aku sampai bertelanjang dada, kau pun tidak malu?" Tanya Sasuke.
"Tidaklah, kan sudah sering aku melihatmu bertelanjang dada sewaktu pelajaran renang di sekolah dasar dulu, saat liburan musim panas, ke pantai." Ujar polos Naruto.
"Benar-benar bodoh." Gumam lirih Sasuke.
"Eh, tadi kau bilang apa Sasuke?"
"Iie, tidak apa-apa."
"Sas, mau tidak hari minggu setelah minggu ini kita jalan?" Ajak Naruto.
"Kau mengajakku kencan?"
BUGH
"Enak saja. Terlalu percaya diri kau." Cibir Naruto setelah menghantam wajah Sasuke dengan bantal putih di sampingnya.
"Baiklah. Kalau jadwalku tidak padat, aku akan pergi bersamamu." Ujar Sasuke.
"Hehehe, tapi nanti aku yang menentukan akan pergi kemana ya?" Pinta Naruto.
"Terserah kau saja."
"Okay! Huaam~ aku mengantuk. Aku kembali dulu ya Sas, oyasumi~" Pamit Naruto yang dibalas lambaian tangan Sasuke.
"Aku benar-benar tidak mengerti , mengapa aku bisa jatuh cinta pada gadis sepertinya? Benar-benar aneh." Gumam Sasuke pada dirinya sendiri sebelum akhirnya menyalakan lampu tidurnya.
"Cecil-sama, apa Anda yakin akan datang ke Jepang?"
"Hm! Tentu saja."
"Tapi, Cecil-sama, bagaimana dengan sekolah Anda?"
"Ah, benar juga. Sekolah ya? Salahsatu hal membosankan dalam kehidupanku. Eh, tunggu… Aku sekolah di Jepang saja!"
"A-ah!—Cecil-sama, tidak apa-apakah? Bagaimana bila Tuan besar –"
"Ayahku tidak ada urusannya dengan ini. Neil, siapkan seluruh kebutuhanku dan jangan lupa cari juga dimana gadis itu sekolah, okay?"
"Baiklah, Cecil-sama."
Ruangan besar nan megah tadi kini hanya diisi oleh seorang pemuda dengan seragam elite berwarna hitam dengan lambang sekolah khusus laki-laki. Pemuda itu tersenyum begitu cantik namun berbahaya.
"Kita akan bertemu lagi~ Namikaze Naruto-chan." Ujar pemuda itu seraya melempar dart menuju papan dart dan lemparan tersebut tepat mengenai foto gadis berambut pirang dan bermata biru dengan pakaian dress putih selutut dan topi jerami besar.
"Aku sudah tidak sabar untuk melihatmu, Naru."
T.B.C
Hellow minna! Genki? Hahaha oke kali ini aku update chp lainnya. Konflik udah mulai terendus kah? Ohya, untuk sosok bernama "Cecil-sama" itu cukup dikenali kok. Sering banget muncul malah di beberapa fict. Ada yang mau nebak? Hehehe. Ohya, maaf ya bila yang lebih sering update tuh fict ini, ide + cara nuangin ketulisannya sedang mudah-mudahnya. Doakan agar aku bisa segera mengupdate fictku lainnya , readers-sama. Yosh, sekian dariku~
Mind to review?
