Disclaimer : DMC dan DXD bukan punya saya
Rate : M
Genre : Advanture, Action, Family, Romance
Pair : ?
Warning : insides


Life 7 : Pawn or Pizza?


- Dante P.O.V

'tok.. tok..

"Dante-san, bangun! Sudah pagi, kita harus ke sekolah!"

Suara Asia dari balik pintu kamar membangunkanku.

"Iya Asia! Aku sudah bangun!"

"Cepatlah Dante-san! Saya tunggu di meja makan!"

"Ha-i."

Memang sudah seperti biasanya Asia selalu membangunkanku setiap pagi, bahkan aku sudah tak perlu lagi jam weker cewek tsundere itu, karena sekarang sudah ada cewek asli yang selalu membangunkanku. Fufufu, terimakasih Asia.

Ah iya, 2 minggu berlalu sejak saat itu. Jadi selama 2 minggu itu juga Asia tinggal di rumah ini. Awalnya aku sedikit was-was kalau nantinya Asia tidak betah. Tapi sebaliknya, Asia begitu bahagia tinggal disini. Tou-san dan kaa-san sangat menyayanginya, bahkan aku merasa rasa sayang mereka ke Asia jauh lebih besar daripada kepadaku dan Vergil. Maklumlah, Asia kan sudah dianggap sebagai anak perempuan sendiri. Tapi aku justru senang. Dengan begini Asia bisa punya figur orang tua, serta aku dan Vergil yang merupakan figur kakak baginya.

Mengenai kehidupan sekolah kami, bisa dibilang mengalami kemajuan. Kalau saat hari pertama aku berangkatnya cuma berdua dengan Vergil, tapi sekarang sudah bertiga karena ada Asia. Rias juga sudah mengatur agar Asia bisa satu kelas denganku. Di kelas, Asia punya begitu banyak teman. Yah, dia kan manis dan lugu, jadi para gadis begitu senang berteman dengannya. Bahkan tak jarang kaum cowok berlomba-lomba untuk bisa mendekatinya, namun Asia hanya menanggapinya dengan senyum manis yang membuat mereka begitu tergila-gila. Asia begitu bahagia dengan kehidupan barunya. Impiannya untuk memiliki teman banyak telah terwujud. Tapi tetap saja, tak akan kubiarkan ada cowok brengsek yang mendekatinya. Asia itu milikku!

Sedangkan aku sendiri, di sekolah aku juga akrab dengan beberapa siswa. Diantaranya Matsuda dan Motohama, walau mereka dijuluki duo mesum, tapi sebenarnya mereka baik. Bahkan mereka sering menunjukan koleksi majalah dan DVD pornonya padaku. Gfufu. Tapi dengan catatan, tak boleh ada seorang pun dirumah yang tahu. Umm, apa kalian berfikir aku melampiaskan hasrat seksualku pada Asia karena Asia tinggal di rumahku? Tidak, tidak! Walau aku ingin, tapi tidak! Asia sudah seperti adikku sendiri, jadi aku harus melindunginya dari apapun, termasuk dari diriku sendiri! Lalu apa kalian berfikir aku melampiaskannya pada para fansgirl ku di sekolah? Jawabannya juga tidak! Memang sih aku begitu populer di kalangan gadis-gadis di Akademi Kuou, juga aku ingin mendirikan kerajaan haremku sendiri, tapi tidak semudah itu! Aku tidak suka yang instant-instant, aku lebih suka berusaha mulai dari nol untuk menahlukan hati para wanita untuk dijadikan haremku, begitulah!

Ah iya, aku harus bersiap ke sekolah.

.
Seperti biasa, setiap berangkat pasti kami selalu bertiga, ini sudah menjadi keseharian kami. Sekarang kami sudah sampai di gerbang sekolah.

"Dante, tunggu!"

Suara Rias. Kami bertiga berhenti lalu berbalik. Rias agak tergesa-gesa menghampiriku, huh?

"Ada apa?"

"Aku ada keperluan sebentar denganmu. Bisa kita bicara berdua saja?"

"Hm, baiklah. Vergil, Asia, kalian duluan saja."

Aku meninggalkan Vergil dan Asia lalu mengikuti Rias. Yah memang sih, selama 2 minggu ini hubunganku dengan kelompok Gremory semakin membaik. Terlebih lagi Asia juga merupakan bagian dari kelompok Gremory. Awalnya aku pikir Rias selaku ketuanya bersifat arogan pada budak-budaknya, namun aku salah, Rias justru begitu sayang dan peduli terhadap budak-budaknya. Bahkan Rias menganggap mereka seperti keluarganya sendiri. Jadi tidak salah jika Asia berada disini, mereka begitu baik terhadap Asia, itu sudah cukup untuk membuatku lega. Aku sendiri juga sering berkunjung ke ruang club mereka. Club mereka dinamakan club penelitian gaib, dimana Rias kaptennya, Akeno-san sebagai wakil kapten, lalu yang lain sebagai membernya.

Kalau aku berkunjung, paling-paling hanya sekedar melihat-lihat serta ngobrol-ngobrol dengan orang-orang disana. Tak jarang juga aku membantu Asia dalam menjalankan tugasnya sebagai iblis, yaitu membuat kontrak dengan manusia, dan Rias juga mengijinkanku membantu Asia.

Ah aku hampir lupa. Vergil, saudara kembarku juga kadang-kadang ikut berkunjung. Alasannya sih cuma mau melihat-lihat saja. Tapi aku tahu kalau alasan sebenarnya karena dia ingin lebih dekat dengan Akeno-san. Sedangkan Akeno-san sendiri juga terlihat sangat senang jika Vergil datang berkunjung. Huh, mereka berdua benar-benar membuatku iri!

Ngomong-ngomong, Rias mau membawaku kemana? Jarang sekali Rias mengajakku berduaan seperti ini. Atau jangan-jangan? Gfufufu. Tidak, tidak! Aku tidak boleh berfikiran mesum terhadapnya! Memang sih dia cantik, rambut merah panjangnya juga indah, terlebih lagi, oppainya besar! Tapi, tidak mungkin Rias mengajakku melakukan itu, dia iblis bangsawan Gremory, sedangkan aku cuma manusia setengah iblis. Lagipula, sekarang waktunya tidak tepat karena setengah jam lagi bel masuk sekolah berbunyi. Tapi, kemana dia akan membawaku?

Setelah jalan beberapa saat, kami sampai di hutan dekat gedung sekolah lama. Kami duduk berdua di sebuah bangku yang agak panjang. Tempat ini begitu sepi. Tak ada siapapun disini selain kami berdua. Jangan-jangan? Gfufufu, tidak, tunggu dulu! Pepatah mengatakan, orang berduaan maka yang ketiga adalah iblis. Tapi disini, siapa iblisnya? Rias, iblis murni. Aku, manusia setengah iblis. Huh, pepatah yang aneh. Aku menghela nafas lalu membuka percakapan.

"Jadi Rias, ada perlu apa sampai membawaku kesini?"

"Begini, Dante. Kau tahu kan saat ini aku masih punyak bidak yang belum terpakai? Diantaranya, 1 kuda, 1 benteng, serta 8 pion."

"Ya aku tahu. Lantas?"

Rias lalu menatapku dengan tatapan memelas yang begitu imut. Sial, aku harus bertahan! Aku harus bertahan!

"Ma-maukah.. K-kau menjadi.. Bi-bidak pionku?"

Pinta Rias terbata-bata. Hening sesaat. Aku juga masih mencerna ucapannya barusan. Hmm,,

"EEEHHHHH?! J-jadi pionmu? A-apa maksudmu?!"

Aku begitu terkejut mendengar permintaannya. A-apa-apaan itu, hah?!

"Sssstt! Jangan keras-keras! Begini, walau bidak pion terlihat lemah, tapi ia bisa berpromosi menjadi kuda, benteng, bishop, bahkan ratu. Atau kalau kau tidak mau menjadi pion, kau bisa memilih bidak kuda atau bidak benteng. Jadi aku mohon-"

"Tidak, bukan itu! Hanya saja, kenapa kau memilihku?! Kalau cuma kekuatan, kekuatan Vergil juga kurang lebih hampir sama denganku, mungkin sekarang dia lebih kuat. Lebih dari itu, hubungan Vergil dengan Akeno-san yang merupakan ratumu juga semakin dekat, jadi Vergil pasti cocok berada di timmu. Juga-"

"KARENA AKU SANGAT NYAMAN SAAT DI DEKATMU!"

Seru Rias memotong ucapanku sehingga membuatku langsung terdiam. A-ada sesuatu yang bergemuruh dalam dadaku. A-apa ini? Aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

"Aku... Merasa begitu nyaman saat didekatmu... Sangat nyaman... Hanya itu..."

Ucapan Rias begitu lirih, Namun aku masih bisa mendengarnya. Kulihat setitik air mata jatuh dari sudut kedua matanya. Aku merasa tak tega, kuberanikan diri membelai rambut merah indahnya.

"Aku minta maaf. Hanya saja, aku memiliki pengalaman buruk dengan bangsa iblis. Dari latar belakangku, aku yakin tak ada iblis yang bisa menerimaku. Tapi Rias, kau berbeda. Kau menerima keberadaanku tanpa memandang siapa dan apa aku ini. Kau dan kelompokmu begitu baik terhadapku. Tapi maaf Rias, memang sih kebencianku terhadap bangsa iblis telah berkurang semenjak bisa kembali berkumpul dengan keluargaku, tapi tetap saja, rasa trauma di masa laluku sampai sekarang masih ada. Jadi tolong, beri aku waktu untuk berfikir."

"Ya, aku mengerti."

Hening, tak satupun dari kami yang berbicara lagi. Huh, aku benci suasana macam ini.

"Nah Rias, ayo kembali ke kelas. Sepertinya sedikit lagi bel berbunyi."

"Hm, ya. Ah Dante, nanti sore kami ada pertemuan club, maukah kau datang?"

"Huh? Aku? Jika cuma dikasih teh buatan Akeno-san aku tidak mau."

"Mou, jadi kau tidak mau?"

Rias bertanya sambil cemberut. Sial! Ini terlalu imut! Aku tak menyangka perannya sebagai great-oneesama yang begitu elegan di sekolah langsung hilang saat ini juga. Ini tidak adil!

"B-baiklah. Tapi dengan 1 syarat. Kau harus mentratirku pizza. Bagaimana?"

"Setuju."

Rias menjawab permintaanku dengan senyum lalu menarikku untuk kembali ke sekolah. Tapi rasanya ada yang janggal. Hm, senyum itu... Itu senyum yang dipaksakan.

.
Sepulang sekolah, lagi-lagi aku tak langsung pulang. Saat ini aku tengah duduk bersandar di bawah rindangnya pohon besar di pinggir sungai. Aku hanya bersantai, memandangi air sungai yang mengalir dengan tenang serta ada beberapa ikak kecil yang berlompatan. Sebenarnya, aku masih kepikiran ucapan Rias tadi pagi. Di satu sisi, aku senang jika menjadi bagian dari kelompok Rias. Tapi di sisi lain, entahlah. Rasanya masih sulit jika harus menjadi iblis sepenuhnya. Saat aku masih memikirkan keputusanku, seorang pria dengan membawa alat pancing datang ke arahku.

"Hah, panasnya siang ini. Anak muda, boleh aku duduk?"

"Ya silakan."

Pria beryukata hitam itu duduk di sampingku, merakit alat pancingnya lalu melempar umpan pancingnya ke sungai. Hm, dari auranya, dia bukan manusia, tapi malaikat jatuh. Tapi baru kali ini aku melihat malaikat jatuh sesantai dia. Hm, lebih baik aku diamkan saja. Mencoba sesantai mungkin bersandar di bawah rindangnya pohon ini untuk menenangkan segala pikiranku.

"Sepertinya kau sedang ada masalah, anak muda?"

Pria itu mengajakku bicara.

"Yah, kau benar, paman. Tapi tumben-tumbenan seorang malaikat jatuh sepertimu keluar di siang bolong begini."

"Hahaha, jadi kau sudah tahu. Yah maklum sih, wajahmu memang benar-benar mirip dengannya. Coba kalau misal kalian memiliki model rambut yang sama, maka aku tak akan bisa membedakan kalian berdua."

"Oh, jadi kau Azazel. Terimakasih telah menjaga Vergil selama ini. Tapi aku tak yakin orang sepertimu menjadi pimpinan tertinggi malaikat jatuh."

"Hei, hei, jaga ucapanmu anak muda! Biar begini aku ini seorang gurbernur malaikat jatuh tahu. Jadi kau harus memanggilku gurbernur."

"Ogah."

Seenaknya saja orang ini. Masa iya orang semacam ini menjadi gurbernur. Jika saja aku warganya, maka aku yang akan melengserkannya.

"Nah anak muda, atau harus kupanggil Dante. Ada masalah apa? Aku punya banyak waktu luang untuk mendengarkan ceritamu."

"Hm, begini. Aku sedang dekat dengan seorang wanita iblis. Dia wanita yang baik. Dia mengajakku bergabung dengan timnya. Di satu sisi aku sangat senang. Tapi di sisi lain, yah kau tahulah bagaimana masa laluku dan Vergil."

Pada akhirnya aku curhat juga pada orang ini.

"Begitu, yah memang sulit untuk masuk ke dunia dimana dunia itu menolakmu. Semuanya kembali padamu. Tapi ingatlah 1 hal Dante. Tak peduli apapun kau sekarang dan jadi apa kau kelak, kau tetaplah kau, dari sekarang dan seterusnya."
"Hm, kau benar."

Sungguh kalimat yang luar biasa untuk seukuran gurbenrnur seperti dia. Yah, dia benar. Apapun aku sekarang, dan jadi apa aku kelak, maka aku tetaplah aku.

"Huh, ada apa melihatku seperti itu? Ada yang aneh?"

"Tidak, walau penampilanku kurang meyakinkan, tapi kata-katamu bagus juga."

"Hey! Sudah kubilang aku ini gurbernur malaikat jatuh!"

"Ya ya. Aku mau tidur sebentar. Kalau kau berniat menculik dan mengambil sacred gearku sebaiknya lain kali saja."

"A-anak ini! Dia jauh lebih menyebalkan daripada Vergil, huh!"

Begitulah awal pertemuanku dengan gurbenur malaikat jatuh Azazel. Walau penampilannya kurang meyakinkan, tapi ku rasa dia akan selalu hadir dan berperan penting dalam kehidupanku. Hanya saja, aku berharap dia tak banyak menggangguku di ke depannya. Aku lalu mencoba tidur sejenak, dan Azazel kembali melanjutkan mancingnya.

Tak terasa sudah sore, matahari sebentar lagi akan terbenam. Saat ini aku tengah dalam perjalanan menuju gedung sekolah lama, tepatnya ruang club peneliti gaib. Hanya jalan kaki, yah jalan kaki, soalnya masih banyak manusia yang berlalu-lalang, jadi aku tak mungkin menggunakan Tricker ku, apalagi sayap nagaku, jadi aku jalan kaki saja, toh sudah dekat.

Akhirnya sampai juga, aku ketuk pintu.

"Ya, silakan masuk!"

Akupun masuk. Di dalam ramai sekali. Ada Rias, Akeno-san, Kiba, Koneko-chan, Asia, serta, huh? Siapa maid berambut perak itu? Dari auranya, dia jelas iblis. Juga 1 lagi, lelaki berambut kuning dan tampangnya ngeselin. Tapi kenapa dia duduk di samping Rias? Lebih dari itu, kenapa si brengsek itu berani sekali memainkan rambut indah Rias? Apa dia pacarnya dari dunia iblis? Ah sudahlah, itu tidak penting. Yang terpenting, mana Pizzanya? Ya, hanya itulah satu-satunya alasanku datang kesini!

"Oh Dante-kun. Sendirian saja kah? Mana Vergil-kun?" sapa Akeno-san

"Ya Akeno-san. Aku sendirian. Soal Vergil, hm, entahlah. Aku belum tahu. Oh iya, Asia, mana Vergil?"

"Tadi Vergil-nii hanya mengantar saya sampai gerbang. Setelah itu dia bilang mau pergi ada urusan katanya. Oh iya Dante-san, tadi kaa-sama mencarimu. Katanya kalau nanti Dante-san pulang akan diberi hadiah yang besar." ucap Asia dengan polosnya

"I-iya."

Ke-kenapa kau belum mengerti juga Asia? Hadiah yang dimaksud itu adalah sebuah siksaan mengerikan yang bahkan lebih mengerikan daripada dikeroyok 1000 iblis! Huh, aku bisa membayangkan bagaimana nasibku setelah ini.

"Ara-ara, kaa-sama memang penyayang ya." ucap Akeno-san tersenyum manis

"I-iya."

A-akeno-san ternyata mengerti? Ya mau bagaimana lagi, Akeno-san dan Kaa-san adalah type yang sama. Sama-sama Sadistic. Aku heran kenapa orang seperti Tou-san dan Vergil menyukai type wanita seperti itu.

"Nah, Dante-kun, duduklah, mau ku bikinin teh?"

"Ha'i, terimakasih Akeno-san."

Aku mengambil duduk di sofa sudut ruangan, yah, ini tempat favoritku kalau aku berkunjung kesini.

Sambil menunggu teh bikinan Akeno-san, aku hanya diam sambil melihat-lihat sekeliling. Mana Pizzanya?

"Heh, seorang manusia rendahan bisa-bisanya hadir di acara penting ini."

Lelaki rambut kuning itu bicara padaku. Arogan sekali cara bicaranya. Apa dia iblis bangsawan?

"Namamu Dante-kun kan? Perkenalkan, saya Grayfia, maid di keluarga Gremory. Lalu dia Raiser Phenex-sama."

Maid berambut perak memperkenalkan dirinya juga si lelaki congkak itu.

"Jadi Phenex ya? Bagiku tak lebih dari sekedar Yakitori."

Mendengar ucapanku semua orang menahan tawa, kecuali, si Yakitori itu.

"Y-yakitori?! Berani-beraninya kau manusia rendahan!"

Si Yakitori itu meningkatkan intensitasnya membuat ruangan ini cukup panas, sampai-sampai kelompok Gremory berkeringat. Sedangkan aku, panas seperti ini bukan apa-apa. Aku masih bersikap tenang. Meskipun saat ini aku tidak bawa pedang, hanya 2 pistol Ebony dan Ivory di tasku saja sudah cukup untuk membungkam mulut sampahnya.

"Cukup Raiser! Dan lagi, aku juga tak akan menikah denganmu!" bentak Rias

Ada apa ini? Serius amat. Menikah? Apa Yakitori ini calon suami Rias? Begitu ya? Ah, tapi aku juga tidak berhak ikut campur urusan iblis bangsawan semacam mereka.

"Hahahaha, apa kau lupa dengan perjanjiannya, hey, Rias?"

Si Yakitori itu tertawa dengan fulgarnya. Sedangkan Rias, dia nampak begitu marah. Semua orang dalam suasana yang begitu serius. Kecuali aku tentunya. Lalu si maid Grayfia angkat bicara.

"Oujou-sama. Sesuai kesepakatan antar kedua keluarga setelah pertunganmu dan Raiser-sama. Oujou-sama diijinkan menolak pernikahan dengan syarat harus mengalahkan Raiser-sama dalam rating game. Namun sampai sekarang yang merupakan batas waktunya, Rias-oujou belum memiliki type bidak yang lengkap. Baru ada ratu, 1 benteng, 1 kuda, serta 2 bishop walau 1 bishop yang itu belum boleh digunakan. Tapi tetap saja Rias-oujou kekurangan pion sehingga tidak bisa mengadakan rating game melawan Raiser-sama yang sudah memiliki budak lengkap. Sekarang batas waktunya sudah habis Rias-oujou. Malam ini juga anda harus menikah dengan Raiser-sama."

E-eh? Yang maid itu katakan, pion? Kekurangan pion? Jadi ini alasan Rias tadi pagi yang mau merekrutku menjadi pionnya?

"Fufufufufufufufufufufu..."

Aku tak bisa membiarkan diriku sendiri untuk tertawa. Tak peduli walau tatapan semua orang beralih menatapku. Sungguhan, ini semua benar-benar,,

"Ahahahahaha, jadi ini alasanmu tadi pagi mencoba menjadikanku pionmu, heh, Rias? Kau tahu, tadinya aku sempat percaya kata-katamu yang mengatakan kau nyaman denganku serta ingin menjadikanku sebagai bagian dari keluargamu. Ya, tadinya aku benar-benar percaya itu semua. Namun, betapa bodohnya aku percaya itu. Seperti biasa, mulut iblis memang sulit dipercaya."

Mendengar ucapanku, Rias tertunduk sedih beruraikan air mata. Kelompok Gremory yang lain cuma bisa terdiam dan menundukan kepala, lalu Asia, dia menangis. Maafkan aku Asia, aku tak bermaksud membuatmu menangis. Sedangkan si maid dan yakitori, hanya memandang datar ke arahku. Aku lalu berdiri dan beranjak untuk pergi dari sini.

"Tu-tunggu Dante!"

Suara Rias menghentikan langkahku. Namun aku tak mau menolehkan wajahku ke arahnya, lalu kukatakan ini,,

"Kau tahu Rias? Andai saja dari awal kau bilang jujur ingin memimjan kekuatanku untuk mengalahkan Yakitori itu, bahkan membunuhnya kalau kau mau. Tinggal bilang saja dibunuh secara cepat atau lambat. Jangankan cuma Yakitori itu, Yondai-Maou pun akan kulenyapkan jika itu permintaan temanku. Tapi Rias, kau malah membohongiku, kau membuatku sakit."

Mendengar penuturanku, maid Grayfia serta si Yakitori itu mulai marah.

"Sekali lagi bilang Yakitori, kubunuh kau, manusia rendahan!"

"Jika anda berani menantang Maou-sama, sebagai ratu Lucifer-sama aku tak akan tinggal diam!"

Kedua iblis sialan itu maju hendak memukulku, tapi aku tak peduli. Saat jarak sudah dekat, aku menghilang menggunakan Trickster Style ku langsung muncul di atas mereka lalu menginjak kepala mereka hingga kepala mereka terjerembab ke lantai. Selanjutnya aku masih berdiri sambil tetap mengunci kepala mereka menggunakan kakiku. Rias dan kelompoknya hanya membelalakan mata melihat aksiku, tapi aku tak peduli. Aku harus pergi.

"Selamat tinggal."

"Dante-san tunggu!"

"Asia, maaf. Biarkan aku sendiri dulu. Sampai jumpa."

Aku pun langsung menghilang dan pergi dari sini.

.
Saat ini aku tengah berdiri di atap gedung tinggi pinggir kota. Yah, tempat-tempat tinggi ini yang paling bisa menenangkanku. Hanya sendiri, merutuki kebodohanku sendiri. Bisa-bisanya aku dengan mudah percaya dengan mulut iblis. Semula aku percaya kalau Rias merupakan iblis yang baik, tapi ternyata. Aku benar-benar kecewa.

Beberapa saat kemudian, lingkaran sihir crimson muncul di sampingku. Lambang Gremory, siapa?

"Ara-ara. Jadi kau disini, Dante-kun?"

"Akeno-san? Bagaimana kau tahu aku ada disini? Bukan, kenapa kau kesini? Sebagai ratu, seharusnya kan kau mendampingi Rias di acara pernikahannya."

"Ara-ara, ini kan wilayah kekuasanku juga, jadi mudah saja menemukanmu disini. Rias dan yang lainnya sudah pergi ke Underworld, tapi aku sengaja tidak ikut karena aku mau menemani calon adik iparku yang sedang bersedih, apa aku salah? Ufufufu..."

Huh,, aku hanya menghela nafas mendengarnya. Jadi Akeno-an benar-benar menyukai Vergil? Baguslah.

"Kau tahu Dante-kun? Rias itu tidak seperti yang ada dipikiranmu."

"Huh?"

"Dia berniat menjadikanmu pionnya bukan karena semata-mata ingin membatalkan pernikahan itu saja, tapi karena dia merasa benar-benar cocok denganmu. Begitu juga kami, Rias menjadikan kami budaknya karena Rias merasa cocok dengan kami. Termasuk Asia-chan juga."

"Begitukah?"

"Coba pikirkan lagi Dante-kun. Jika seandainya Rias mengumpulkan budak hanya untuk membatalkan pernikahannya, maka sudah dari dulu itu dilakukan. Tapi nyatanya, tidak. Meskipun dulu banyak iblis-iblis dan mahluk-mahluk kuat yang ingin menjadi budaknya, namun Rias sama sekali tak mengambil satu pun dari mereka karena tidak ada yang cocok. Sampai akhirnya sekarang Rias menemukanmu."

"Hm, kau mungkin benar, Akeno-san."

Aku tertunduk mendengar penuturan Akeno-san. Aku mengerti sekarang. Di satu sisi, Rias ingin membatalkan pernikahannya, tapi di sisi lain Rias tidak ingin sembarangan dalam memilih budaknya. Huh, mana tadi aku sempat berfikiran buruk tentangnya, setelah ini aku akan minta maaf padanya.

"Satu lagi, Dante-kun. Soal Pizza, Rias memang memesannya tadi, malahan 20 kotak ukuran jumbo dan berbagai toping. Dan karena Rias memesannya dengan menelpon restaurant Itali yang ada di Tokyo, jadi pengirimannya agak lama. Mungkin sekitar setengah jam lagi baru sampai."

"...! K-kenapa tidak bilang dari tadi?!"

"Kau mau kemana Dante-kun? Kyaaaa!"

Aku menarik lengan Akeno-san lalu melompat dari puncak gedung. Saat kami tengah terjun bebas di udara, aku langsung membentangkan sayap naga merahku. Aku tak peduli dengan keterkejutan Akeno-san melihat sayapku. Aku mengangkat Akeno-san dan meletakannya di punggungku.

"Da-Dante-kun?! Sa-sayap ini?!"

"Penjelasannya nanti saja Akeno-san! Aku mau pulang dulu mengambil pedangku. Setelah itu antarkan aku ke Underworld. Kau bisa kan, Akeno-san?"

"I-iya, tapi kenapa ke Underworld?"

"Tentu saja menjemput Rias. Mana mungkin aku membayar Pizza sebanyak itu, lagipula aku juga tak akan sanggup menghabiskan 20 Pizza jumbo sendirian. Jadi aku butuh kalian."

"Ara-ara, langsung mengubah keputusan hanya karena Pizza. Adik ipar yang menarik, ufufufu..."

Heh, tentu saja, tak ada yang boleh main-main dengan Pizza! Aku terbang dengan kecepatan maksimal membawa Akeno-san, terbang menuju rumahku untuk mengambil pedangku. Setelah itu, pergi ke dunia bawah, go to hell!

-TBC-


A/N : Umm, ternyata dalam seminggu cuma bisa update 4 chapter. Maklumlah, banyak kesibukan -_-
Dan untuk chapter 7 ini, isinya full sudut pandang pertama, yaitu Dante. Tapi tenang, untuk kedepannya akan selang-seling kok, bukan Dante saja, tetapi gak selalu selang-seling juga sih. Tetep Dante yang di utamain. Yah, walau nanti mungkin lebih banyak pakai sudut pandang ketiga (normal). Jadi saya harap Readers-san tetep suka :)
Jika ada pertanyaan, kritik, saran, pujian, tapi jangan makian -3-
Saya persilahkan untuk manyampaikannya di kolom review agar saya bisa koreksi dan membuat chapter-chapter kedepannya jadi lebih baik.

Akhir kata, Review ^_^
v
v
v