Halo ini Rika Miyake! Long time no see all of you, readers! Ga kerasa udah 2 tahun lebih lel, saya bener-bener minta maaf kepada pembaca karena bukannya mengerjakan fanfic yang sudah lama sekali diabaikan, malah sibuk baca fanfic orang lain (eng, saya sebenernya pindah situs bukan baca di lagi tapi di AO3 dan kadang-kadang wattpad hehe). Sebenernya ini fanfic udah selesai dari lamaa banget tapi gatau kenapa saya merasa di tengah jalan "kok ffn saya ga ada yang sesuai harapan saya? kenapa bahasanya jadi begini?" dll yang artinya saya ribet sendiri atau self depressed lel dan akhirnya saya memutuskan untuk leave dari FFN. net untuk sementara waktu. Tapi emang dari dulu udah bertekad nyelesain karena alasan fic ini ga selesai cuma karena belom di edit, ga kaya dua fanfiction saya yang lain(yang dihentikan) karena filenya ilang semua dan saya rasanya mau banting laptop :') (masalahnya, laptop yang saya pakai itu sering mati sendiri pas dipake, jadi pas sekali ilang file, masih tabah eh pas berkali-kali yaudahlah ya udah pasrah :') ). Setelah chapter ini, ada satu chapter lagi yang saya planning upload minggu depan dan kemudian cerita ini selesai. Yak, akhirnya! Sudah cukup cerita saya, mohon sekip saja omongan saya ini.
Rika miyake proudly present
Writer Story
Vocaloid belongs to Crypton
Story by me
Don't like don't read, simple as that..
Enjoy
.
.
.
7. Hanya berdua saja
Normal POV
Kumohon! Izinkan aku mengubah ceritanya! Aku akan mengubah endingnya!
"Hah? Apa yang barusan kau katakan?" Tanya Kaito seraya sweatdrop. Moga aja dia gak salah denger gitu, supaya dia ga disuruh gambar ulang dengan naskah yang baru diberikan Rin.
"Ano, Rin, naskahnya baru saja selesai dikerjakan.." Kata Ring.
"Eh?" Tanya Rin kaget. Dia tak mengira bahwa Kaito bersedia menggambar chapter yang ia tolak mentah-mentah.
"Kan, sudah kubilang kalau ceritamu yang sebelumnya sudah bagus, Rin. Kau tak perlu mengganti dengan yang kau bawa sekarang itu," kata Ring seraya menghela napas. Memijat sedikit pelipisnya, baru kali ini ada orang macam Rin yang hendak mengganti cerita saat cerita tersebut sudah selesai di buat.
"Aku sudah memikirkannya! Ceritaku sendiri! Cerita yang bukan menyerupai Kaiko Shion!" Seru Rin.
"Eh? Ceritamu memang tidak menyerupai Kaiko Shion, ko—" Ucapan Ring di potong oleh Kaito.
"Sudah, dengarkan alasan ia ingin mengganti ceritanya, Ring," ujar Kaito.
"Aku sangat memohon untuk mengganti ceritanya! Bagiku, ending yang itu kurang tepat!" Seruku. Suaraku sedikit terputus-putus karena aku belum bisa mengatur napas karena berlari-lari tadi.
"Demo, Rin, deadlinenya.." Kata Ring keberatan. Walau Kaito ini baru saja menghabiskan uangnya semalam, ia tidak mau menyusahkan Kaito dengan harus menggambar dengan plot yang baru.
"Coba kulihat," kata Kaito. Benar-benar di luar ekspetasi Ring! Ring tahu Kaito ini orang yang benar-benar tidak mau membuang waktunya. Jadi, kenapa ia tertarik untuk menggambar dengan plot berbeda yang jelas membuang waktunya?
"Kaito!" Seru Ring.
Kaito melihat kearah storyboard yang Rin buat, tersenyum setelah membacanya. Kemudian, mata Kaito menatap kearah mata milik Ring yang warnanya hampir sama namun lebih muda daripada milik dirinya tersebut.
"Er..Jangan bilang kau—"
"Berikan aku waktu 3 hari, kurasa masih sempat. Lagipula, plot untuk ending yang ini lebih sedikit untuk digambar," kata Kaito. Ring tentu saja shock.
"Tunggu! Jangan seenaknya—"
"Dia membawakan ending yang lebih bagus dari sebelumnya. Apa ini harus di sia-siakan, Ring? Apa ini sampah?" Tanya Kaito dingin. Ring terkejut mendengar Kaito berkata demikian.
"H-hah?! Tentu saja tidak!" Kata Ring gugup. Ia tak mengira kalau Kaito akan berkata demikian.
Rin speechless sekali mengetahui Kaito rela melakukan hal yang 'membuang waktu' bagi Kaito hanya untuk Rin. Wajahnya juga sedikit merona.
"Kaito, Arigatou.." Lirih Rin. Matanya berbinar bahagia. Kaito melihat senyuman itu, tersenyum membalas.
"Doita," balasnya.
"Sampai jumpa 3 hari lagi, Ring. Jaa.." Kata Kaito dengan nada datar plus wajah datar. Kaito pun menutup pintu.
Ring POV
Aku masih terdiam beberapa saat di depan pintu, mencerna semuanya.
"A-apa itu tadi.." Kataku seraya mengucek mataku, memastikan aku tidak bermimpi. Aku bisa serangan jantung di usia muda karena mendapati banyak kejutan yang aku terima dari Kaito.
Pertama, Kaito rela menggambar yang pasti bikin dia kelelahan, apalagi Kaito sebentar lagi ada ujian. Walaupun Kaito tipe yang cuek, dia sebenarnya jauh dari cuek untuk urusan pelajaran dan sekolah.
Kedua, Kaito membalas senyum! Astaga, aku belum pernah melihat Kaito membalas senyum..ya, mungkin sebenarnya pernah aku lihat, tapi senyuman yang di sunggingkan Kaito berbeda dari biasanya! Senyum yang ini memancarkan aura ketulusan!
"Astaga, ada apa dengan dia? Dia kerasukan apa!" Kataku seraya menghela napas. Memencet tombol lift, kemudian menunggu hingga lift sampai di lantai tempat aku berada.
"Tidak, tidak! Dia tidak kerasukan atau sesuatu! Dia.." Aku terdiam sebentar lalu tersenyum. "Ah, hanya satu yang menyebabkan dia seperti itu!"
"Dia jatuh cinta atau menyukai Rin Kagamine.." Aku tersenyum miring. Itulah dugaanku untuk sementara, mungkin aku bisa memata-matai mereka besok dengan alasan membawakan sarapan. Kuduga, Rin akan menginap di rumah Kaito.
"Eh, tunggu..menginap di apartemen Kai—" Seketika aku membayangkan sesuatu. Sesuatu yang nggak pas buat rated T. Segera, Ring mengusir bayangan tersebut.
"Aku ini ketularan mesumnya Kiyoteru-san, " kataku mendesah pelan. Si terkutuk yang lagi ketemuan sama Furukawa Miki, bersin.
Ting!
Lift membuka dan kebetulan kosong, aku masuk dan memencet tombol untuk menuju lantai dasar. Sementara menunggu lift hingga terbuka di lantai dasar, aku menyadarkan diriku di dinding lift serta sedikit berkaca. Di mobil, aku tinggal mengganti sepatu, melakukan touch-up, serta membuka mantel yang membukus tubuhku ini. Aku harus tampil prima di depan 'dia'.
"Aku sebenarnya mendukung mereka berdua, tapi.." Aku menghela napas dan menatap bayanganku sendiri di depan dinding lift yang terpasang kaca.
"Tapi, aku lega. Dia sudah..." Yaampun, aku tidak mau membahas masa lalu. Seperti apa yang telah diajarkan ibu, tidak baik namanya untuk terperangkap dalam masa lalu.
Yang harus kupikirkan sekarang adalah betapa menyenangkan bertemu dengan dia dan alasan apa yang akan kukatakan kepada Kokone, asisten pemilik slash direktur majalah komik Girls. Karena Kaito dan Rin, bisa saja membuat jadwal terbit majalah komik Girls terlambat. Ah, sudahlah, ia bisa mengarang alasan. Kokone sendiri paling juga maklum kalau yang berbuat itu Kaito.
Ngomong-ngomong, aku akan bercerita soal Luka. Biasa kan cewek, aku suka bergosip, yah gak suka juga sih, ini kan juga nggak ngomongin dia yang buruk. Luka ini adalah Megurine Luka alias anak dari pemilik perusaahan Megurine corp, sebuah perusahaan yang menggurita di Asia Timur. Luka sendiri, mendirikan redaksi girls dengan usahanya sediri tanpa bantuan ayahnya, Yuuma Megurine, yang notabene sang pemilik Megurine corp. Banyak desas-desus bahwa mungkin saja Luka mendirikan perusahaan sendiri, karena ia memiliki bakat potensial untuk mendirikan sebuah perusahaan sukses seperti yang ayahnya miliki. Luka segera menolak, ia berkata bahwa ia akan melanjutkan perusahaan ayahnya. Yang kini sudah melebarkan sayapnya ke bidang sastra tulis, desain baju, restoran, dan masih banyak lagi. Benar-benar perusahaan sukses yang sangat meng-gurita di Asia Timur.
Luka kini memegang sebagai pemilik saham sekaligus bos besar di redaksi Girls, dan butik yang dinamai Megurine boutique yang stylenya bersaing dengan butik terkenal dari Prancis. Luka juga menjadi pop idol yang membuat ia sangat sibuk, namun ia ini sosok yang sangat care kepada bawahannya. Setidaknya, Luka menyempatkan diri 5 kali berkunjung dalam 2 bulan ke redaksi Girls untuk memeriksa keadaan. Selama Luka tidak berkunjung, kekuasaan di percayaan oleh Kokone.
Lift membuka dan aku keluar dari lift, berjalan menuju lobi apartemen dan terkejut melihat sebuah toyota Prius bewarna hitam dengan plat mobil yang sangat aku kenali. Kaca depan di turunkan, dan terlihatlah sosok yang mengenakan kacamata hitam dan tersenyum miring. Aku tertawa melihat gayanya itu. Setelah itu, ia membuka pintu mobil disebelahnya, turun dari mobil dan membukakan mobil untukku.
"Perubahan rencana," katanya saat ia sudah duduk di depan setir mobil dan mengenakan sabuk.
"Eh?" Tanyaku.
"Orang tua juga memutuskan untuk ikut, aku tidak bisa menolak.." kata pemuda di sebelahku seraya menghela napas, ia telah melewati pintu keluar apartemen ini. Pemuda yang di sebelahku ini, anak seorang agen rahasia CIA* ups, maaf aku membocorkan ini. Tapi, yah setidaknya aku tahu kalian bisa di percaya. Pemuda ini sendiri bekerja sebagai FBI jepang di tambah dulu seorang Hacker. Namun hacker telah menjadi hobinya saja.
Aku mendesah lalu memasang wajah cemberutku, momen kami berdua pasti akan hilang.
"Tenang saja, nanti kita ke taman yang ada arena luncur es itu, kamu suka kan?" tanyanya . Aku tersenyum dan mengangguk. Siapa yang tidak suka dengan taman yang sangat romantis tempat para anak muda kencan di malam minggu?
Lagipula, aku dengan dia ini di jodohkan oleh kedua orang tua kami yang bersahabat dekat. Aku sebenarnya saat mengetahui dia—orang yang sudah jadi teman masa kecilku—telah menjadi agen FBI sejak ia berumur 17 tahun. Tapi, tentu saja ia tetap menyayangiku walau jelas kami sangat berbeda profesinya. Aku sebagai editor, translator dan dia sebagai agen FBI. Walaupun kami dijodohkan, kami ini juga sebenarnya saling menyukai dari kecil.
"Jadi, kau sudah move on dariku?"
Kaito POV
Aku menutup pintu dan tidak lupa juga menarik tangan seseorang.
"Chotto! Apa yang kau lakukan?!" Seru Rin saat tangannya ditarik masuk ke dalam apartemen milikku. Wajahnya merona. Huh, memangnya di mikir apa sampai merona begitu?
"Kau juga harus membantuku, soalnya nggak ada waktu lagi. Jarang-jarang juga, Ring mau mengundurkan waktu deadline. Jadi, sebaiknya kita tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sudah di berikan Ring," jelasku.
"Ehh? Aku boleh membantu?!" Serunya bersemangat. Sepertinya ia melupakan fakta, bahwa tadi dia sempat panik dan marah-marah.
"Kau harus tanggung jawab atas perbuatanmu sendiri yang membuat Ring memutuskan hal yang tidak kukira," kata Kaito. Terdiam sebentar lalu berbicara, "yah, aku yang memaksanya, sih. Selain itu, ini komik buatanmu kan?"
Rin tersenyum senang dan mengangguk kencang, lalu kemudian dia bertanya, "Jadi, apa yang bisa aku bantu?" Tanyanya.
"Mungkin memasakkan sesuatu? Aku lapar." Kataku. Rin terlihat terdiam sebentar lalu mengangguk.
"Baiklah! Kau tidak akan menyesal minta di masakkan oleh Rin Kagamine ini! Aku paling jago memasak!" Seru Rin bersemangat, ia pun lari ke arah dapur. Melihat itu, aku hanya menggelengkan kepala dan mendesah.
"Hm, sebaiknya aku siapkan peralatan untuk menggambar," kataku sambil bertopang dagu, "Ah, pasti hari ini begadang deh."
3 menit kemudian..
"Bau apa ini?" Tanyaku. Tidak-tidak, ini bukan bau wangi yang semerbak yang kalian pikirkan! Ini bau..AH YAAMPUN! Segera, aku berlari menuju dapur. Disana, Rin terlihat tengah mengaduk sesuatu yang sangat berantakan dan mengerikan.
"APA YANG SEDANG KAMU BUAT?!" Seruku panik.
"Eh? Curry*, dengan aku revisi sedikit!" Jelas Rin riang.
"Ini dinamakan Curry?! Astaga! Bilang dong, kalau kamu nggak bisa masak!" Seruku seraya mematikan kompor dan membuang panci serta isinya ke dalam tong sampah. Toh, sepertinya apapun itu yang di dalam panci, lengket ke pancinya jadi susah di hilangkan. Panci kan masih bisa beli.
"G-gomen, aku hanya ingin membantu.." Ujar Rin lirih, malah terlihat mau menangis. Melihat itu, aku menurunkan suaraku dan mendesah pelan.
"Sudahlah, kamu duduk saja sana, aku yang buatkan makan malam, oke?" Tanyaku. Rin mengangguk dan keluar dari dapur dengan wajah muram.
Aku memutuskan untuk membuat ramen sederhana, setelah itu membawanya dan memberikan ke Rin.
"Hati-hati masih panas," kataku. Ia mengangguk namun hanya memperhatikan ramen miliknya.
"Apa? Kamu jangan-jangan alergi ramen atau meremehkan buatanku atau—" sebelum aku mengira macam-macam, ia sudah memotong.
"Maaf," ujarnya pelan.
Aku mendesah, "Tidak apa-apa. Sekarang, mari kita habiskan ramen ini terus kamu bantu aku membuat komikmu."
Rin pun dengan semangat memakan ramen miliknya setelah mendengar kata-kataku, aku hanya tersenyum melihatnya.
Aku tengah konsentrasi membuat tokoh bernama Gumi di cerita milik Rin. Menggambar rambutnya yang hijau—
Aku gak bisa konsentrasi.
Bukan, ini bukan masalah utang lah, Ring lah—ngapain mikirin dia?—redaksi lah, atasan yang cantik lah (Kokone bersin gak elit) yang sering aku ributkan. Tapi, ini..
Sungguh..
"Hebat! Baru kali ini aku melihat Kaito-kun menggambar!"
"Gambarnya cepat sekali!"
"Cantiknya"
"Bagus sekali! Seperti yang aku pikirkan!"
"Ini draft?!"
Suara annoying dari seorang gadis ber-iris mata indah berwarna cerulean, berambut honeyblonde dengan pita putih super besar. Sabar Kaito, sabar..
"Uwaah lihat-lihat!" ia sedikit mendorongku membuat aku tak sengaja mencoret gambar yang sedang kubuat.
C. U. K. U. P S. U. D. A. H
"JANGAN GANGGU! PERGI SANA!" Seruku seraya menjitak kepala Rin.
"PADAHAL NGGAK ADA WAKTU, CUMAN 3 HARI! TAPI KAU MALAH BERISIK DAN MENGANGGUKU!"
"KENAPA TADI AKU BERPIKIR KAMU BISA MEMBANTUKU, YA?!"
Aku mengeluarkan semua emosiku, mengesalkan sekali gadis itu!
"Plinplan sekali sih jadi orang! Tadi, kau menyeretku untuk membantumu dan kau malah sekarang berkata demikian!" Seru Rin yang merasa dirinya tidak salah sekaligus marah karena dijitak.
"Aku nggak menyuruhmu memperhatikanku dan membuatku kesal!" Seruku.
"Habis, dari tadi tugasku menghapus melulu! Aku nggak suka! Setidaknya berikan aku tugas yang lebih sulit!" Seruku.
"Tugas yang mudah seperti memasak saja, kau tidak bisa. Bagaimana caranya aku memberikanmu tugas yang sulit tanpa berusaha untuk tidak was-was kau nggak melakukan kesalahan?" Tanyaku. Wajah Rin merah padam karena malu.
"Yasudah sih! Maaf aja ya, aku memang nggak bisa masak! Dasar sombong! Baru juga bisa masak!"
"Kau membuatku menghabiskan waktu dengan percuma! Lihat, kita sudah beragumen 2 menit!"
"Kalau begitu, berikan aku tugas selain menghapus! Aku bosan setengah mati!"
"Setidaknya kau sudah dapat tugas!"
"Aku tidak suka tugas itu!"
"Membantu ya, membantu! Bukan berarti kau bisa nggak melakukan bantuan itu karena kau anggap sepele atau tidak suka, ya!"
"Argh, ceramah terus! Bisa nggak kau turuti aja gitu?!"
"Kalau begitu, tebalkan gambarnya dan jangan berisik! Kalau gagal, aku akan menghukummu!" Seruku lelah sekali beragumen denganya. Rin terlihat terkejut, saat menatap gambar yang kuberikan.
"Baiklah," ujarnya. Tak kusangka dia akan menurut tanpa protes!
4 menit kemudian..
Ini kenapa hening?
Bukan berarti aku suka berisik, tapi heran saja dengan sifat Rin yang tidak bisa diam itu dan sekarang malah hening..
"Apa dia mengerjakan dengan baik, ya? Kenapa diam saja?" pikirku bingung, "check saja deh!"
Aku menghampiri Rin dan hampir membenturkan kepala ke arah dinding melihat apa yang ia lakukan.
"KENAPA KAU MENGHAPUS LATARNYA DAN MEMBUAT CORAT-CORET INI?!" Seruku kesal saat melihat bunga-bunga di latarnya.
"Nanda yo?! Ini bukan corat-coret!" Seru Rin tidak terima.
"Terus, apa yang kau lakukan?!" Seruku.
"Bagian ini kesannya seperti ini, Kaito! Nggak bisa kalau nggak seperti ini!" Protes Rin seraya menujukkan gambar yang sudah ia tambahkan latar yang ia kreasikan sendiri.
"Ano, aku nggak terlalu suka dengan latar yang tadi dan kupikir tidak cocok dengan imajinasiku. Kumohon, tolong gambar seperti ini!" Kata Rin seraya menunjukkan hasilnya. Aku melihatnya dan tertegun.
"Dasar, apa boleh buat.." Erangku seraya menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Arigatou Kaito, kau memang hebat!" Seru Rin seraya memelukku. Aku yang kaget, hanya bisa mematung kaku. Wajahku seperti memerah..Astaga, dia terlalu dekat!
Lalu, kudengar suara dengkur halus, ternyata itu Rin! Dia tertidur sambil memelukku! Benar-benar posisi yang aneh!
"Oh iya, sudah jam 12, dia pasti kelelahan ya.." Desahku seraya tersenyum. Rin sendiri manis saat ia sedang diam dan tidak cerewet.
"Dasar, anak ini.." Keluhku. Aku mengangkatnya dan kemudian membawanya ke tempat tidur. Aku tidak bisa tidur jika ia memelukku sambil tidur, aku juga jadi tidak fokus kerja.
"Nah, anak yang sangat menyusahkan, mimpi indah!" Dengusku seraya menyelimutinya hingga ke leher.
"Bagus, malam ini aku tidur di sofa.." Keluhku seraya menatap miris ke arah sofa.
Normal POV
Lusa...
Ting tong!
Kaito mengerang pelan dan berjalan ke arah pintu. Ini hari senin pagi dan Kaito di bebas tugaskan untuk datang ke redaksi girls. Karena apa? Ia sudah menyelesaikan ending yang diinginkan Rin si anak yang nyusahin minta ampun itu, minggu sore.
"Ohayou gozaimasu, Kaito!" Seru Ring kelewat ceria. Kaito hanya mendengus.
"Ada apa?" tanyanya.
"Wah, pasti kau lelah sekali ya?" Tanya Ring.
"Sangat!" Seru Kaito dramatis. Ring tertawa.
"Ini sarapan untukmu, nikmati hari liburmu hari ini!"Seru Ring seraya menyerahkan bungkusan.
"Ya, ya, sudah kewajiban untukmu mengantar sarapan," kata Kaito seraya menyerigai. Walau mengantuk dan kelelahan, Kaito masih saja sempat bercanda dengan Ring.
"Jaga kesehatanmu, baiklah aku pergi. Jaa.." Kata Ring seraya berlalu. Kaito tertawa melihat kelakuan editornya tersebut.
"Hei, Ring!" Seru Kaito.
"Nani?" Tanyanya.
"Er, aku diliburkan bukan hari ini?" Tanya Kaito.
"Hm? Tentu saja, tapi kau tetap sekolah, bocah," ujar Ring seraya balik badan dan kembali berjalan kearah lift.
"KUSO! Aku gak boleh bolos, gitu?!" Protes Kaito layaknya anak kecil, Ring tertawa.
"Apa? Kau sendiri yang memperbolehkan Rin mengganti Endingnya plus itu berarti kau harus begadang bikin itu. Bukan aku yang mempunyai niat untuk mengganti Ending. Itu keinginanmu sendiri dan Rin," jelas Ring. Kaito menggerutu kesal.
"Kalau begini mah, aku nggak memenuhi permintaanya," kata Kaito seraya mengacak-acak rambutnya.
"Munafik, ah. Kau senang kan, Rin menginap di apartemenmu? Nah, have fun Kaito di sekolah," ledek Ring.
"Sialan," umpat Kaito kesal.
Info:
*CIA atau Badan Intelijen Pusat adalah salah satu badan intelijen pemerintah federal Amerika Serikat. Sebagai lembaga eksekutif,
*Curry atau yang dikenal di Indonesia: Kare adalah nama untuk berbagai jenis hidangan berkuah yang dimasak dengan rempah-rempah hingga mempunyai cita rasa tajam dan pedas.
Yak kalian sudah sampai dipenghujung chapter! Terima kasih sudah membaca cerita yang akhirnya saya upload juga lel. Untuk Next update, tunggu minggu depan ya! (beneran minggu depan kok :') )
Saatnya membalas review~
Fuyuki25
Soal Len, dia gak terlalu di bahas di cerita ini sayangnya. Kalau nggak salah, aku pernah bilang Len meninggal karena dia seorang bayi premature yang meninggal karena underweight. Emang agak tragis dan agak 'yaela dimatiinnya kok gitu' tapi ini yang bikin karakter Rin layaknya Rin di FFN ini. Jika Len hidup, maka karakter Rin bakal berubah hehe. Kalau soal, Tsundere.. ehm..jelas-jelas Kaito memang tsundere ehe!
Panda dayo
Meiko sama Miku masih ada kok, masih sehat
Meiko: "*Deathglare* yaiyala masih sehat, aku kan karakter kesukaanmu!"
Rika *whisper* "Udah ganti sebenernya, saya pindah hati sama karakter bermata hijau.."
Intinya, saya sebenrnya udah pindah fandom panda-san ;-; tapi ga enak menelantarkan cerita ini.. Dan Meiko sama Miku memang ga dapat spot banyak karena mereka sebenernya cuma side character hehe. Kalau mereka dapat spot terus nanti jadi beda ceritanya heheh wkwkwk.. /tawagaje
Soal Kairing.. itu saya ga bisa ngasih tau lebih uhuf *Deritapenulisceritasendirigabisadiskusicerita* tapi yaa perhatikan hint-hint saja lha ya wkwk
Rui Megumi
Kamu gak tau alur kaya gitu udah bikin kejeng-kejeng apalagi saya yang nulis yang kejeng-kejeng kenapa cerita saya ga bisa selesai dengan sendirinya /nangis di pojokan karena banyak deadline/
Hirohikaru1412
waa makasih sudah meninggalkan review! sumpah, kalian lucu kakak adek pakai satu akun! Kakak saya? gak minat di fandom saya ;0;
lucky youuu!
Ehem soal Kaito.. mungkin dia udah peka dikit soal perasaanya? wkwkkw..
Loveyourbuddy
Rin: "APA NIKAH? AKU MASIH KELAS 6 SD MBA MASA NIKAH MUDA KAJFKAJFAJ.."
Rika: "Tenang anjier, kenapa anak ini tak bisa tenang ya tuhan apa salah hamba.."
Rin: "Saya gamau ditawarin nikah kaya di lagu Suki Kirai! Saya masih muda, saya ingin punya masa depaan!"
*panggil sekuriti buat nyeret Rin yang histeris, kayaknya anaknya butuh di ruqyah.
Kaito: "kalo gigitnya penuh cin-"
Miku: *nendang pala Kaito* *Kemudian berdiri seakan tak terjadi apa-apa*
Rika: "Maap si kaitongnya salah cerita.. tolong maafkan karakter karakter cerita ini yang udh ditinggalin lama makin menggila.."
suamiku? eh? ehhh.. aku punya suamiii? *terkejoed*
Pacar Rika : "mohon maaf Rika sudah properti saya terima kasih."
Rika: "a-apaan! properti! Emang dikira ini wattpad yang cowonya posesif-"
Miku: "saya mencium adanya skandal.."
yaudahlah makasih ya sudah mengrepiew! loph loph
