Meng-update chapter ini butuh waktu yang lama... dan mungkin saya telah melewatinya dengan baik... saya harap =_=;;
Disclaimer: saya ga punya Hetalia... *dan selalu berharap, minimal punya action figurenya*
(This chapter inspired by: Detonautas – Olhos Certos-Piano Instrumental-)
~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~
Sejujurnya, Rio juga tidak tahu kenapa dia begitu terganggu dengan reaksi Dirk.
Tentu saja, 'keeksistensian'-nya bagi Dirk bukan apa-apa. Hanya sebatas teman lama yang terpaksa menjadi pembantu. Memang akhir-akhir ini Dirk berbuat baik padanya tapi tetap...
Rio memukul kepalanya sendiri dengan kamus Jerman super-tebal yang dipegangnya.
Lalu meringis kesakitan sambil mengusap kepalanya.
"Bodoh..." umpatnya pada diri sendiri. "Gitu aja dipikirin..."
Rio menaruh kamusnya di atas meja dan menyadari bahwa dari tadi HP-nya menyala. Dia mengambilnya, SMS dari Lee.
Katanya mau dateng?
~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~
"Rio!!" seru Lee senang saat melihat Rio sudah berdiri di depan pintu.
Rio hanya tersenyum kecil. "Hey, adik kecil. Lama ga ketemu, makin manis aja muka," kata Rio jail sambil mencubit pipi Lee.
"Diem," kata Lee manyun sambil menyingkirkan tangan Rio.
Rio tertawa. "Oh ya, yang lain pada kemana?"
"Mama pergi lagi kemarin," kata Lee pelan. "Ga tau kemana, tapi katanya sih pulang minggu depan."
"Oh... Razak?"
"Pergi," kata Lee. "Ayo, ayo, masuk dulu!"
Lee menuntun Rio masuk ke rumah. Rumah itu tidak pernah berubah sejak Rio pindah dari tempat itu beberapa tahun lalu. Furnitur masih sama, masih di posisi itu-itu saja, yang berbeda adalah sepinya suasana rumah.
"Kau jadi pergi?" tanya Lee saat mereka sudah nongkrong di dapur.
Rio mengangguk. "Ya iyalah," katanya sambil mencomot kue coklat. "Oh ya, gimana keadaan disini?"
"Gitu-gitu aja," kata Lee, mengangkat bahu. "Cuma... rada sepi. Razak ama mama kebanyakan ke luar sih... palingan juga aku di kamar, main piano."
"Hmm..."
Hening.
"Oh ya, reaksi Dirk pas tau kau mau pindah gimana?"
"Biasa aja," kata Rio, berusaha terlihat datar.
"Kalo Kiku?"
"Kenapa tiba-tiba lompat ke dia?"
"Cuma nanya. Kau udah ngasih tau dia belum?"
"Sekalian aja semua orang dikasih tau..."
"Oi, jawab dong."
"Belum, aku belum ketemu dia akhir-akhir ini. Btw, ngapain juga aku ngasih tau Kiku?"
"Yaah... melihat fakta kalian lumayan deket pas sekolah... kenapa enggak?"
"Iya juga sih..." Rio terdiam sebentar.
Hening.
Sampai suara HP Rio menganggu semua.
Rio mengambil HP-nya dan mengecek SMS.
"Dari siapa?"
"Operator," kata Rio cuek, mengantongi HP-nya lagi. "Oh ya, aku lupa aku harus siap-siap buat nanti..."
Rio bangkit dari kursinya, diikuti Lee. "Yaah... nanti lama ga ketemu deh," kata Lee, tersenyum sedih.
Rio mengacak-acak rambut adiknya itu. "Nanti aku pulang deh, kalo ada libur panjang. Jangan sedih gitu dong, dasar baby face."
Lee manyun, tapi ujung-ujungnya juga tersenyum kecil. "Nanti aku ikut ke bandara, deh."
"Jadi penumpang gelap aja," kata Rio, nyengir. "See ya later, baby face."
"Daah, big bro," kata Lee, tersenyum saat Rio berjalan menjauhi rumahnya.
~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~
Rio baru saja keluar dari sebuah toko buku dengan buku-buku berbahasa Jerman berjubel di tangannya. Sebenarnya tabungannya untuk membeli buku-buku Sejarah tapi jadinya malah buku-buku sastra Jerman. Yaah... yang penting uang itu ada gunanya.
Baru saja dia keluar dari toko buku, seseorang berjalan ke arah sebaliknya dan Rio menyadarinya langsung begitu melihat wajahnya.
"Kiku?"
Orang itu berbalik, dan tampak sama kagetnya seperti Rio.
"Rio-kun?" balasnya. "Selamat sore. Umm, buku apa itu?"
"Oh, ini?" kata Rio, mengindikasikan buku-buku yang dia pegang. "Buku-buku bahasa Jerman."
"Aku tidak tahu kau tertarik dengan bahasa Jerman, Rio-kun."
"Enggak... ini... aku... err... aku diterima di universitas di Jerman."
Kiku terdiam sebentar. "Benarkah? Selamat, Rio-kun," katanya, tersenyum sambil menyodorkan tangannya.
"Err, ya... terima kasih," kata Rio, agak susah payah menerima tangan Kiku. "Kau sendiri mau beli apa?"
"Oh, aku sedang mencari bacaan menarik, beberapa hari ini rumah terasa membosankan," kata Kiku, tersenyum kecil. "Oh ya, kapan kau pergi Rio-kun?"
"Minggu depan... kalau tidak ada arang melintang. Memang sih tidak akan ada arang melintang, sejak kapan arang punya kaki?"
Kiku tersenyum kecil. "Minggu depan... waktu yang sangat dekat."
"Memang," kata Rio, mengangkat bahu. "Rada berat juga sih, pergi kesana... Dirk masih membutuhkanku tapi sudah jadi mimpiku kuliah di luar negeri."
Kiku menunduk sedikit. "Oh ya... Rio-kun," kata Kiku pelan. "Aku... ada yang ingin aku katakan..."
"Hmm? Apa?" tanya Rio.
Kiku terdiam sebentar, lalu menggeleng. "Tidak, tidak ada apa-apa."
Rio hanya mengerutkan kening. "Oh ya, aku pergi dulu ya Kiku. Mau siap-siap dulu," katanya sambil nyengir kecil.
Kiku mengangguk, tersenyum kecil. "Selamat tinggal, Rio-kun," katanya sambil melambaikan tangan.
"Daah, Kiku!" kata Rio lalu berbalik ke arah apartemennya.
Saat Rio menjauh, tangan Kiku perlahan terkulai di sampingnya, senyumnya memudar.
"Daisuki..."
~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~
Rio memasukkan semuanya ke kopernya, kecuali beberapa bukunya yang akan dia masukkan ke backpack, untuk dibaca selama perjalanan.
Dia melihat kembali selebaran tentang universitas yang akan dia datangi. Dan entah kenapa, sekeras apapun dia berusaha, dia tidak bisa merasa bahagia.
Bukankah ini impiannya? Harapannya sejak kecil? Sejak dia masih setinggi CPU komputer? (ahem... oke, ga segitunya)
Lalu kenapa?
Dia menghela nafas dan melihat sebuah foto yang dia taruh di atas mejanya. Foto itu ditaruh di figura kayu sederhana dengan hiasan pohon kelapa, dan foto itu adalah foto dia, Dirk, Kiku dan Heracles yang sedang menikmati libur musim panas di pantai di dekat Hetalia Academy.
Dia melihat lagi foto itu, dan menyadari bahwa beberapa oknum juga ikut terfoto. Seperti misalnya Alfred dan Feliciano.
Dia tersenyum, kenangan saat musim panas itu memang menyenangkan. Dia masih ingat Ivan yang masih memakai syalnya dikejar-kejar oleh adiknya, Natasha. Dia masih ingat Feliciano berteriak-teriak saat dia masuk ke air hanya untuk bilang, "aku belum makan pasta~!" pada Ludwig yang khawatiran. Dia masih ingat Gilbert yang dikubur sampai leher oleh Francis dan Antonio. Ingatan itu masih ada, dan selalu membuat Rio tertawa sendiri.
Tapi ada satu hal yang sulit dilupakan.
Saat Dirk sedang tertidur, Rio sempat mendengarnya menggumamkan namanya.
Dan Rio kembali memukul kepalanya lagi dengan bukunya, hanya untuk meringis kesakitan lagi.
"Kenapa...? Itu kan bukan hal yang perlu dibesar-besarkan... napa sih? Bodoh bodoh bodoh bodoh..."
Rio menatap keluar jendela, melihat langit yang sudah mulai gelap.
~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~
Selesai!! Selesai!! Chapter ini selesai!! *senam SKJ. Loh?!* saya begitu bersemangat nulis chapter ini tapi jadinya pendek X3 saya pengen menyimpan semua ide fantastik nan absurd saya di chapter terakhir. Hmm... chapter terakhir 8 ato 9 ya? Any suggestions? XD
Aah... saya begitu naksir ama lagu Detonautas – Olhos Certos versi piano-nya :D berkat ini saya bisa mengupdate chapter ini! Btw, lagu itu cocok buat orang yang lagi melancholy atau mau tidur. Highly recommended.
Ada yang setuju dengan pairing Indo-Japan? =w= karena saya mayan rada bosen ama Nether-Indo (biarpun saya menyukainya XD) tapi emang aneh sih kalo mereka berdua... sama-sama uke.
Reviews!! Reviews!! Reviews!!
