.

.

.


Detective Conan / Case Closed

DISCLAIMER : Aoyama Gosho

by Arashi Kachigawa

AFTER MARRIED—

.

.

.

CAST : [Shinichi.K/Shiho.M] | Hurts again, and again | Angst | More like lanjutan dari chapter 6 sebelumnya | Too Long, maybe, eh? | WARNING, SIFAT SHIHO YANG OOT (digambarkan cenderung mempunyai anxiety dan depression) also Shinichi and Ran maybe OOT too hahaha

Whatever it is, happy reading anyway. . .


"Kamu akan segera menikah? Sama siapa? Aku senang mendengar kabar baik ini!" Ran dengan antusias membalas pengakuanku yang akan segera menikah, dengan cewek sok misterius itu, Shiho Miyano.

"Ya begitulah.." ujarku sembari tertawa malu-malu. Akhirnya, sesuai seperti apa yang diharapkan Ran, aku bisa memberikan kabar baik bahwa aku akan segera menikah dan akan memperoleh kebahagiaan seperti yang diharapkan Ran. Dengan wanita yang kucintai. Shiho Miyano.

"Heei! Shinichi! Kamu tidak menjawab, akan menikah dengan siapa!" seru Ran yang masih penasaran dan terdengar nada kesalnya karena belum kubalas pertanyaan itu.

"Ah, ya, Ran… dengan.. Um, wanita yang kamu selalu temui… Ai Haibara, juga diketahui sebagai Shiho Miyano," jawabku pelan, namun ada nada yang menandakan bahwa aku benar-benar menyayangi Shiho Miyano selama ini.

Di sisi yang tidak kuketahui, di balik telepon itu, Ran terdiam agak lama, aku pun tidak harus membalas apa lagi untuk memecahkan keheningan. Apakah Ran merasakan sakit hati? Tidak mungkin kan.

"O..Oh, Ai Haibara, yang selalu bersamamu ketika menjadi Conan? Ah, ya… Ya, Shiho Miyano.. Kalau begitu, selamat ya, Shinichi!" balas Ran dengan nada yang terdengar ceria, namun terpaksa.

Aku menjadi agak bersalah saat itu, namun merasa lega dan.. bangga juga, memperkenalkan tunanganku yang terkenal pintar, cerdas, walau di balik sifat dinginnya, sebenarnya wanita itu memiliki hati yang lembut. Hanya saja harus pintar memperilakukannya. Walau suasana hatinya gampang berubah-ubah. Itulah Shiho Miyano, yang sangat kukenal dengan baik. Partner seumur hidupku yang dapat kuandalkan kapanpun dan dimanapun.

"Ya begitulah.. Aku akan segera mengirimkan undangan pernikahannya. Alamat barumu ada di mana?" tanyaku.

"Se, sebentar.. ini, alamat rumahku.. Dengarkan baik-baik dan catat ya, Shin," balasnya. Aku segera menyiapkan note kecil dan pulpen mungil untuk mencatat alamatnya.

/ / / . . .

"Shinichi? Barusan menelpon dengan siapa?" tanyaku seraya membuat makan malam. "Tadi kedengaran sampai di dapur." lanjutku.

"Dengan Ran. Uh, jangan bertingkah salah, ya? Hanya mengabarkan tentang pernikahan kita nanti," jawab Shinichi. Aku kemudian melirik matanya dengan penuh godaan. Lalu aku tertawa kecil.

"Kenapa harus salah tingkah ketika kita sudah bertunangan?" balasku dengan godaan, sembari pamer cincin yang sudah disematkan oleh Shinichi di jari manisku ini.

"Ya.. ya, aku kan.. sudah cukup trauma dan tidak ingin melihatmu menangis lagi, ketika kejadian tempo lalu. Hanya karena melihat aku dengan dia… Jadi…," sahut Shinichi, dan segera dipotong oleh ciuman sejenak yang kuberikan pada pipinya.

"Jangan khawatir, Shinichi, aku tidak apa-apa. Yang penting sekarang kita sudah bersama," kataku setelah melepaskan ciuman penuh goda tersebut.

"Shiho.." Shinichi terlihat memerah mukanya, namun berubah menjadi serius seketika. "Tetapi aku tidak bisa memprediksikan, bagaimana kehidupan kita selanjutnya. Bagaimana kalau aku kekurangan finansial? Bagaimana kalau aku tidak mampu membangun rumah tangga? Bagaimana kalau—"

Aku segera membungkam bibirnya. "Shinichi, dengarkan aku. Aku tidak suka kamu sudah membicarakan hal-hal negatif seperti itu. Kita jalani dulu saja, yang penting itu kan? Ada aku di sini, ada kamu pula untuk aku, kita sama-sama saling mendukung kan?" nasihatku dengan menekankan nada yang tinggi, karena aku sangat tidak suka suasana yang muram ini. Padahal, aku juga memiliki kecemasan dan depresi yang tinggi, apalagi perihal Shinichi dan Ran waktu itu.. seharusnya aku tidak apa-apa sekarang.

"Ya.. benar, maafkan aku, Shiho, aku berpikir seperti ini. Aku memang terlalu banyak berpikir kemungknan-kemungkinan terburuk," balas Shinichi, yang tampaknya agak lega dan merasa sedikit semangat berkat ceramahku.

"Kamu sih, murder magnet. Jadi kamu terbiasa memakai cara pikir begitu karena memikirkan segala kemungkinan dalam kasus-kasus, kan! Dampaknya ya jadi begini, haha," candaku tetapi ada benarnya juga.

"Shiho, bagaimana wujud anak-anak kita kelak, ya? Hahaha," goda Shinichi.

"Iih kamu, belum datang juga hari pernikahan, sudah mikirin anak-anak saja. Mau berapa anak memangnya?" tanyaku yang juga membalas godaannya dengan godaan pula.

"Ingin banyak anak sehingga bisa tim futsal," canda Shinichi. "Kamu kan suka dunia sepak bola, apalagi Higo. Aku cemburu nih," lanjutnya sembari memajukan bibirnya, seperti anak kecil yang main bebek-bebekan.

"Ah, kamu! Siapa yang repot mengurusnya nanti. Keluarga berencana saja lah," timpalku. "Huh, Higo itu terkenal, tidak akan pernah bersama dia, aku apalah bagaikan butiran debu yang bekerja di balik layar, laboratorium pribadi kita," balasku dengan nada bercanda.

"Ah kamu, calon istriku, justru yang paling istimewa, dan pasti banyak laki-laki di sana yang merasa menyesal tidak bersamamu. Apakah kamu punya mantan? Aku merasa tersanjung lho, kamu mau bersama aku yang kayak gini," Shinichi melingkari pinggangku dengan kedua lengannya, seolah-olah mau memeluk erat.

"Aku.. tidak punya mantan, hanya kamu saja.. pacar pertama sekaligus pacar terakhir, sayang," balasku sembari mengingat masa laluku. Ya, memang ada yang mengejarku, tetapi tidak termasuk tipeku, atau aku yang terlalu tergila-gila dengan pekerjaanku sebagai ilmuwan muda waktu itu.

"Ah, begitukah.. Jadi ini pertama kalinya untukmu? Pantas, kamu baru mengalami kecemburuan saja sudah merasa ingin memulai hidup baru lagi.." analisa Shinichi.

"Hmm ya bisa dibilang begitu lah.. Haha, aku memang payah dalam hal romantis dan sedikit bahkan nyaris tidak berpengalaman," sahutku.

Sejujurnya, aku merasa senang, bisa memiliki seseorang yang abadi untuk selamanya. Namun Shinichi… ada satu. Ran Mouri. Tetapi, aku tidak boleh egois lagi..Setidaknya kita sudah bersama sekarang kan? Ya, walau aku masih sakit hati mengingat masa lalu mereka yang super mesra, sih… Shinichi bahkan sudah melakukan 'hal-hal lain' yang tidak pernah kualami, bersama teman masa kecilnya itu.

Aku kemudian terdiam cukup lama.

"Shiho? Kenapa, sayang?" tanya Shinichi yang mulai khawatir, dengan ekspresiku yang perlahan membeku.

"Tidak.. tidak ada apa-apa.. Hanya saja… jangan tinggalkan aku lagi…" pintaku sembari memeluk Shinichi seerat-eratnya.

Shinichi kemudian terdiam pula. "Tidak akan," balasnya.

Aku kemudian tersenyum hangat, dan rasanya tidak ingin melepas pelukan ini. Aku tidak mau ditinggalkan oleh Shinichi atau menyerahkan Shinichi-ku pada orang lain. Tidak akan. Jahat juga ya, pikiran aku?

"Jadi, Shiho-ku apakah sudah siap menjadi istriku?" tanya Shinichi yang mencoba menghiburku dengan segala perkataannya yang sok romantis.

"Hahaha, justru kamu yang sudah siap menjadi suamiku dan siap menghadapi sifat-sifatku yang asli, nggak?" ledekku.

"Hmm.. Shinichi Kudo ini akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Shiho Miyano yang merupakan little trouble-maker ini,"balasnya. Ukh, bisa aja Shinichi, membuat hatiku meleleh. Tapi aku tetap bersikap sok dingin.

Namun yang pasti, kami saling tersenyum hangat. Kami yakin semuanya akan baik-baik saja, menghitung mundurnya hari hingga hari sakral kita.

/ / / . . .

Pada hari yang cerah, terpampang di mana-mana papan besar yang mengumumkan bahwa ada upacara pernikahan hari itu, di dalam taman yang serba hijau dan rindang. Pernikahan dua orang itu diadakan di tengah taman, istlahnya outdoor. Dekorasinya banyak renda putih cerah dan hiasan bunga-bunga yang bervariasi layaknya berada di dunia dongeng, karena permintaan sang mempelai wanita yang suka berfantasi.

Digambarkan di sana ada suasana yang ramai, alunan musik klasik kesukaan calon pasutri muda itu, makanan-makanan bintang lima dengan indah diletakkan di beberapa meja bundarm serta banyak pakaian tuxedo atau dress berwarna putih cerah dikenakan oleh sebagian orang-orang yang terkenal, ya mereka lah kenalan dua orang yang sangat tinggi kedudukannya sebagai Detektif dan Ilmuwan yang sama-sama cerdas, Shinichi Kudo dan Shiho Miyano.

Hari ini Shiho Miyano akan berubah nama belakangnya, menjadi Shiho Kudo. Mereka akan mengikat janji suci mereka untuk menjadi suami istri di kehidupan selanjutnya. Shiho mengenakan pakaian bagaikan yang dikenakan oleh malaikat atau goddes, dan tentu saja itu memikat perhatian Shinichi, dan membuatnya jatuh cinta dua kali lebih lipat. Shiho sangat cantik dengan pakaian klasik, dan mengenakan mahkota bunga di kepalanya.

Setelah disaksikan oleh pendeta, mereka pun dinyatakan menjadi suami istri secara resmi. Kemudian mereka berciuman, untuk waktu yang cukup lama, seolah-olah mereka tidak mau berpisah satu sama lainnya. Padahal, adegan itu disaksikan oleh banyak tamu, termasuk Ran Mouri.

"Itu, ya, Shiho Miyano," celetuk Sonoko, menghampiri Ran. "Kupikir, kamu sama Shinichi…"

Ran kemudian tersenyum. "Sonoko, hidup itu selalu tidak bisa ditebak dan kita tidak tahu ke mana tujuan akhir kita. Ikuti saja, seperti aliran sungai," sembari mengelus rambut buah hatinya yang baru berusia beberapa bulan.

"Ran.. Kamu sekarang sudah bahagia, kan?" tanya Sonoko khawatir.

"Jangan khawatir, suamiku yang sekarang lebih mapan dan bertanggung jawab. Anakku jadi gembul begini dan inilah bukti cinta kami berdua," Ran tersenyum, menyerahkan buah hatinya pada Sonoko untuk digendong oleh sahabat baiknya itu.

Kemudian Ran dan Sonoko dihampiri oleh Shinichi yang bergandengan erat dengan Shiho, dan sangat terasa Shiho tidak mau melepaskannya. Jelas, Shiho mengapit lengan Shinichi dengan erat, dan jemari mungil Shiho berkaitan pula dengan jemari Shinichi. Kecemasan Shiho benar-benar bukan main, apalagi ketika di depan Ran, yang pernah mengalami masa-masa cinta pada masa remaja Shinichi dan Ran.

"Shiho..," bisik Shinichi, sembari mengusap kepala Shiho, menandakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Shiho, aku turut senang atas pernikahanmu. Semoga kamu dan Shinichi bisa segera dikaruniai anak dan membangun keluarga yang baik di rumah tangga..," ucap Ran, tersenyum hangat.

"Terima kasih," balas Shiho singkat. Shinichi pun hanya menghela nafas, ya, wajar saja, ia harus sabar menghadapi istrinya yang baru pertama kalinya memiliki masa-masa cinta dalam seumur hidupnya.

"Terima kasih, Ran. Anakmu sangat lucu," Shinichi kemudian membalas dan mengusap kepala buah hati Ran. Shiho mengamati buah hati Ran, dan ia berpikir kalau ia masih tidak siap menjadi ibu. Shiho tidak siap mengasuh dan mendidik anak, apa lagi ia tida pernah memiliki kasih sayang yang cukup dari orangtuanya, setelah ditinggal mati oleh orangtuanya.

Shiho hanya mencengkeram lengan Shinichi semakin erat. Shinichi menoleh ke istrinya yang menunduk, kemudian pamit pada Ran, "Kami harus menemui tamu yang lain lagi. Bersenang-senanglah di sini, Ran."

Ran mengangguk sembari melihat Shinichi dan Shiho yang mulai jauh dari mereka.

"Istrinya sepertinya terlalu cemas, ya. Aku berharap tidak ada apa-apa di antara mereka dengan kamu, Ran," ujar Sonoko yang memerhatikan mereka sedari tadi.

"Tidak boleh begitu, Sonoko. Kita tidak boleh ikut campur dengan mereka. Well, aku paham kalau Shiho itu sebenarnya memiliki kecemasan atau ketakutan walaupun sikapnya dewasa.. Aku tahu, saat ia menjadi Ai Haibara..," timpal Ran, "Dan sekarang Shiho ingin bahagia. Aku juga ingin Shinichi bahagia, dan mereka mutual. Biarkanlah, Sonoko. Aku sudah bahagia sekarang, dan aku tidak ada apa-apa lagi ke Shinichi. Jangan khawatir, Sonoko," lanjut Ran, menenangkan sahabatnya, berharap Sonoko tidak bertindak seenaknya lagi.

"Ran.." Sonoko hanya menjawab dengan anggukan kepala.

/ / / . . .

Setelah mengalami hari yang sungguh panjang, akhirnya pasutri muda itu terdampar di atas ranjang. "Haah, capek juga ya ternyata," keluh Shinichi, dengan pakaiannya yang mulai dibuka satu persatunya. Shiho hanya tersenyum, "Tetapi aku senang.. Kita sudah menjadi suami istri, kan." ujar Shiho dengan nada imut.

"Oh, Shiho, itu berarti kita akan melakukan itu malam ini?" goda balik Shinichi.

"Uh, tidak, jangan. Aku sangat capek hari ini. Lebih baik kita rileks dulu, dan itunya nanti saja lah saat bulan madu," ujar Shiho yang merasa keberatan.

"O..okay," Shinichi tampak kecewa sedikit, istrinya sungguh susah ditebak, Shinichi mengira mereka akan main bersama-sama di atas ranjang setelah pernikahan selesai dilangsungkan. Tetapi harus jadi pengertian lah, Shinichi memaklumi Shiho yang cepat lelah akhir-akhir ini, apalagi begadang bahkan lembur menyelesaikan pekerjaan mereka berdua yang dikejar deadline-nya agar tenang saat bulan madu nanti.

Shiho menyadari raut muka suaminya yang tampak lesu. "Gini saja deh, bagaimana kalau kita bermain game? Tapi bukan game beneran," tawar Shiho.

"Apa itu?" Shinichi penasaran.

"Kita ini.. belum mengetahui masing-masing kan. Bagaimana kalau aku membuat sejumlah pertanyaan atau permintaan di atas kertas, dan kita mengambilnya secara acak, lalu harus menjawab pertanyaan itu dengan sejujur-jujurnya atau melakukan permintaan itu dengan sukarela! Hahaha."

"Woaah? Kamu kayak anak kecil! Tapi gapapalah, sini, menarik juga, lumayan lah untuk lebih mengenal lebih dalam," Shinichi tertawa kecil, sembari mengacak-acak rambut Shiho. Padahal mereka sudah lama bersama-sama dari masa Conan dan Ai, bertahun-tahun bahkan.

"Bawel, detektif bodoh!" seru Shiho. "Oke, aku mulai,ya," lanjutnya, mengambil bolpen dan kertas putih, lalu merobek kertas putih tersebut menjadi beberapa bagian. Shiho mulai menulis pertanyaan-pertanyaan di beberapa robekan tersebut, dan menggulungnya.

Gulungan-gulungan kertas tersebut ditaruh di atas telapak tangan, "Nah, kamu duluan! Pilih sekarang!" Shiho menjulurkan kedua tangannya. "Oh, sambal tutup mata ya, Shin!"

"Oke," Shinichi menutup matanya dan tangan kekarnya bergerak kemana-mana, memilih salah satu gulungan yang akan dibuka, sembari deg-degan. Ia mengambil satu gulungan yang paling kecil, "Yang ini," ucapnya.

"Nah, buka mata dan bukalah gulungan itu! Apakah yang kau dapat?" Shiho tampak tidak sabaran, sembari tertawa kecil seperti anak kecil yang terlalu girang.

"Uuuum, sebentaaar.. Sabar ya sayang," Shinichi yang sengaja membuat Shiho kesal agar ia belajar apa arti kesabaran itu. Shinichi sengaja membuka gulungan kertas tersebut dengan sangat pelan.

"Oh…" Shinichi tampak terkejut saat membacanya.

"Aku mau memeriksa hapemu..." ucap Shinichi mengikuti perintah dalam gulungan tersebut.

"Wah! Kamu dapat itu! Nah, sekarang handphonemu! Aku ingin melihat hapemu, hehehe, semua akan kuakses," Shiho menjulurkan telapak tangannya yang kosong pada suaminya itu.

Pada awalnya, Shinichi terlihat santai saja dan kemudian menyerahkan handphonenya pada Shiho. Lalu, Shiho terlihat asyik mengakses seluruh data Shinichi di hape. Tidak terlalu penting sih, isinya hanya kasus-kasus atau percakapan Shinichi dengan orang-orang penting.

"Ppuuh, dasar magnet pembunuhan memang. Tidak bosan seperti ini setiap hari?" celetuk Shiho yang mencairkan suasana, sesekali terkikik membaca pesan-pesan dari Shinichi.

"Ya, mau apa lagi, memang mau apa yang kau harapkan? Pesan selingkuh?" canda Shinichi.

"Oh, kuharap tidak seperti itu," Shiho balas dengan sedikit serius. Shinichi kemudian terdiam, dan satu tetes keringatnya jatuh.

Pesan-pesan sudah selesai dibaca semua oleh Shiho, dan tidak ada yang menarik. Kemudian Shiho mengakses galeri foto di hp pribadi Shinichi. Ya seperti dugaannya, foto korban semua. Huh, darah di mana-mana.. Scroll.. scroll..

Sementara itu, Shinichi semakin jatuh cinta dengan tatapan bosan Shiho, serta rambutnya yang berantakan. Itu justru membuat Shiho terlihat lebih imut dan cantik alamiah di depan Shinichi. Sedari tadi ia diam-diam memperhatikan muka Shiho. Lama kemudian, raut muka Shiho perlahan berubah. Shinichi segera menyadarinya.

"Shiho? Ada apa?" tanya Shinichi, setelah merasakan aura badmood dari Shiho.

"Kamu.. pernah.. begini?" Shiho membalikkan hp Shinichi sehingga dapat dilihat oleh Shinichi. Mata Shinichi pun terbelalak kaget, ya, layar hp Shinichi, menampilkan foto Ran dan Shinichi yang berciuman di kuil.

"Shiho, itu—" Shinichi berkeringat dingin, berusaha menenangkan Shiho yang mulai merasa sangat cemburu. "Dengarkan, aku, Shiho," Shinichi segera memegang kedua tangan Shiho untuk mencegah pemberontakan Shiho.

"Itu foto ketika study tour di SMA-ku. Saat itu aku menjadi Shinichi dengan antidote, kau yang membantuku saat itu. Ingat?" Shinichi menjelaskan dengan agak terpotong-potong.

Shiho hanya mengangguk pelan, sembari menahan air matanya keluar. Dia sedang berusaha memendam perasaannya dengan sekuat tenaga.

"Shiho… Itu.. Saat aku sedang dalam masa-masa ketidakpastian, aku menyatakan perasaanku pada Ran dan aku digantungin dia. Ran yang duluan menciumku sebagai jawaban pengakuan rasa sukaku padanya.."

"Ya, aku tahu.." lirih Shiho. "Maaf.. aku.. jadi cemburu seperti ini.. tapi.. aku tidak kuat, bisa kau hapus foto ini?" Shiho mulai meneteskan air matanya.

"Tentu saja," Shinichi segera mengambil balik handphonenya, dan segera menghapus foto skandal tersebut.

"Tetapi tidak akan hilang dari ingatanku.. Sudah terjadi.. Kenapa kamu tidak bilang ini sebelumnya?" Shiho kemudian mengeluarkan suara tangisannya yang terisak-isak.

"Shiho, aku mohon, jangan menangis. Shiho, aku tidak pernah bilang ini karena masa laluku sudah dianggap tidak penting. Sekarang sudah berbeda ceritanya. Sekarang, aku sama kamu, di sini." balas Shinichi yang berusaha menenangkan istrinya yang posesif.

"Shinichi! Bahkan sebelum kamu meminum antidotenya, aku sudah mengingatkan kau jangan terlalu banyak flirting dengan dia! Kau tidak peka! Teruskan saja foto skandalnya!" seru Shiho, yang mulai lepas kendali emosinya. Shiho tidak ingin ada rahasia apapun di antara mereka, namun justru Shiho yang mendapatkan dampaknya, merasakan sakit hati yang dalam.

"Shiho.." panggil Shinichi. Ia sungguh merasa menyesal, lupa membersihkan data handphonenya sebelum diperiksa oleh Shiho. Ia sungguh menyesal siapapun yang mengambil foto tersebut, dan sungguh menyesal berciuman dengan Ran. Tetapi pada saat itu Shinichi memang masih memiliki perasaan pada Ran.

"Lihat aku," Shinichi memegang kedua pipi Shiho. "Lihat mataku," tegas Shinichi sekali lagi. Shinichi kemudian menghapus air mata yang melintasi pipi Shiho.

"Di sini, aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu dan aku tidak akan meninggalkan kamu lagi. Mungkin masa-masa kita berdua tidak sebanyak apa yang aku alami dengan Ran, tetapi aku janji, aku akan menghadirkan lebih banyak lagi kisah kasih, hanya dengan kamu, di hidup kita berdua, tentu saja. Sebagai status suami istri. Dan jangka waktunya tidak akan terbatas, hingga ajal menjemput kita berdua. Aku janji," Shinichi mengutarakan komitmennya dengan sungguh-sungguh.

Shiho kemudian berusaha menenangkan dirinya, setelah merasa baikan sedikit mendengar ucapan suaminya barusan. "Maafkan aku, Shinichi.. Aku.. Kamu, bisakah kamu membuatku melupakan hal-hal masa lalu, apa yang terjadi kamu dengan Ran, sekarang?" Shiho masih merasakan sesuatu yang sangat mendesak dadanya.

"Maafkan aku Shinichi.. Aku.. tidak bisa mengontrol perasaan cemburuku. Ini sangat tidak sehat," ucap Shiho sekali lagi. Suara tangisannya yang lemah, masih terdengar sedikit.

"Tidak apa-apa, kita jalani dulu, kita akan membuat banyak momen yang berharga! Kita juga akan mempunyai anak dan kita akan bahagia, selalu. Aku janji," Shinichi memeluk Shiho erat.

"Terima kasih banyak, maafkan aku… Aku capek, aku ingin tidur.. Aku capek," Shiho membenamkan kepalanya di dada Shinichi cukup lama. "Aku tidak mau ditinggal sama kamu lagi," pinta tambahnya.

"TIdak akan, ayo kita tidur sekarang. Kamu butuh istirahat, kamu sudah kecapekan, tadi kita sudah melayani banyak tamu di pernikahan kita tadi." Shinichi memandu Shiho untuk berbaring di atas ranjang.

"Shinichi, jangan lepaskan aku," Shiho berbaring, sembari memegang lengan Shinichi erat. "Aku tidak mau merasakan kesepian lagi, seperti waktu dikurung dulu di markas organisasi hitam," lirih Shiho yang lemah.

"Aku mengerti, sayang. Di sini, ada aku," Shinichi mengusap kepala Shiho serta dahi Shiho yang dipenuhi oleh keringat Shiho, dan membersihkan air mata Shiho.

Shiho kemudian menutup kelopak matanya, dan tertidur, walau bisa dibilang tidak nyenyak tidurnya, karena, rasa sakit hatinya itu tetap berada di memori otak Shiho, hingga mempengaruhi mimpinya.

Shinichi hanya tersenyum pahit, di dalam lubuk hatinya, ia sangat bersalah, melihat pujaan hatinya—yang sudah menjadi istrinya sekarang, menangis lagi. Hanya karena kekasih lama. Sesimple itulah. Padahal, semuanya seharusnya sudah benar-benar berakhir sekarang, Ran dengan orang lain, dan Shinichi dengan Shiho sekarang. Tetapi tidak bisa dipungkirkan bahwa di luar sikap Shiho yang dingin, Shiho adalah orang yang sangat sensitif dan rapuh hatinya.

/ / / . . .

Masih terdengar suara tidur Shiho yang cukup tidak nyenyak, terngiang di telingaku. Aku mengamatinya dalam-dalam. Beberapa jam yang lalu, ia menangis tersendak-sendak. Sekarang, aku masih terjaga, di subuh hari, mengamati wajah istriku yang sangat kecapekan. Aku tidak bisa tidur, seolah-olah aku harus menjaga wanita mungil ini dengan hati yang rapuh, sembari memutar banyak adegan kilas balik di kepalaku. Aku merasa bersalah. Apakah aku harus memberitahu hal ini pada Ran? Tidak, tidak. Shiho pasti tidak mau, secara ia sangat khas tidak mau membebankan orang lain, terutama Ran yang sudah punya anak semata wayangnya.

Kemudian aku mengusap kepalanya. Rambut pirang strawberry-nya, wangi khasnya, muka orientalnya, kulit putih pucatnya, bibirnya yang seksi, hidungnya yang cukup mancung, bulu matanya yang lentik.. harus kujaga erat-erat. Demi masa depan kita, demi masa depan Shiho yang lebih baik. Aku harus sanggup membahagiakan dia.

Shiho, kaulah alasan pertamaku untuk bekerja keras kedepannya. Aku janji, aku tidak akan mengungkit kasus Ran lagi di depan Shiho atau hanya akan membuatnya sedih lagi—aku harus menemani dia ke manapun untuk menciptakan kisah yang indah bagi kita berdua. Aku janji, Shiho. Masa kecilmu yang kurang bahagia, terkurung di tempat terkutuk, dipaksakan untuk menjadi ilmuwan muda di usia yang sangat muda namun sesungguhnya kau sangat cerdas, dan kurang mengalami masa kanak-kanak atau remaja yang seharusnya, akan kukorbankan semuanya demi kebahagiaanmu. Aku akan melindungi kamu, istriku tersayang.

Lalu aku mengecup dahinya, dan memeluknya erat. Tidak lama kemudian, Shiho mengigau, "Aku mencintaimu, Shinichi.." dalam kondisi masih tidur dan raut muka yang cukup tidak enak.

Aku terkejut mendengarnya, dan aku tersenyum. Kemudian aku mendekatkan ke telinganya dan membisik, "Aku juga mencintaimu."

Setelah itu, kami sama-sama tertidur lelap dalam kondisi saling berpelukan erat.

.

.

.

.

Di akhir musim gugur sebelum pergantian ke musim dingin, seperti biasa ada tanda-tanda khasnya, yaitu jatuhnya daun maple. Pemandangan indah itu akan membuat siapapun yang melihatnya menjadi bahagia dan merasakan perasaan hangat berkat warna psikologi merah.

Di sisi lain, pada pagi hari sebelum mulai turun salju yang lebat di malam hari, bisa dikatakan masih sempat ada bumbu musim gugurnya, memberikan perasaan bahagia pada Shiho Miyano pula. Namun, perasaan bahagia yang dialami oleh Shiho, menjadi dua kali lipat berkat apa saja yang baru ditemukannya. Ia senang bukan main, di atas kloset, di dalam toilet, dan berada di kediaman Kudo. Ia memegang benda kecil yang pasti dipakai untuk memeriksa valid tidaknya seorang ibu hamil, test-pack. Ya, ia menemukan dua garis, positif!

"Aku hamil!"

.

.

.

Berlanjut ke chapter Hadiah dari Kamu, yang sebelumnya.

.

.

.

Fin


A/N : Shiho atau Ai Haibara pernah memberikan perintah yang intinya Conan/Shinichi jangan terlalu banyak flirting sama Ran, di chapter terbaru Detective Conan (1000+). Mungkin saat itu Ai Haibara/Shiho Miyano sudah merasa posesif sama Shinichi/Conan, hehehe.

Terima kasih sudah membaca! (Tumben sekali ya, saya nulis fic ginian dan update lagi setelah 2 tahun nggak update)