"Oy, Deku..." Katsuki bergumam. "Kau mau?"

Katsuki menunjukkan dari kantongnya sebuah bungkusan kecil berbahan kertas aluminium. Izuku merona. Ia membuang muka dengan kikuk ketika senyuman Katsuki merekah semakin lebar.

"Aku...tidak..." Izuku tergugu.

"Ayolah..." Katsuki melemparkan tubuhnya ke arah Izuku, merapatkannya dalam pelukan. "Aku janji nggak akan memperlakukan oppai-mu seperti adonan roti."

Izuku terdiam. Ia bisa mendengar detak jantung Katsuki yang berdentum tak karuan. Belaian lembut ia rasakan dari puncak kepalanya. Ia tahu Katsuki tidak memaksa. Ia memohon. Bukan kebiasaan Izuku menolak lelaki berambut ash blonde itu. Hanya saja, baginya ini keputusan besar.

"Aku..." Izuku bergumam.

"Karena aku yakin kaulah satu-satunya." Katsuki berbisik dengan nada memohon. "Maka hanya denganku. Dengan hidupku."

Izuku memejamkan mata. Ia bahkan tidak melawan ketika Katsuki mendorong pundaknya hingga rebah. Zamrud cemerlang tersembunyi di balik kelopak mata ketika tangan besar yang terasa panas bak cetakan bara itu melecuti segala yang ia pakai hingga tersisa kulit semata. Izuku gemetar, memberanikan diri membuka mata. Ia melihat Katsuki yang memandangi tubuhnya dengan begitu takjub.

"Ukh! Jangan li—"

"Kau lebih cantik tidak pakai baju." Katsuki menyeringai, mengecup lekukan pinggang Izuku.

"A...apa-apaan perkataanmu itu, Kacchan!? Dasar ca—hey, hey, jangan di—aaahhh!"

Paha mulus Izuku direntangkan paksa. Ia menggelinjang saat Katsuki merapatkan bibirnya ke dalam selangkangannya, memberikan sentuhan untuk pertama kalinya pada bibir bisu di bawah sana. Izuku mendorong kepala Katsuki, merasa malu ketika ciumannya terasa semakin liar dan menjadi-jadi. Padahal, Izuku menganggap bagian itu adalah daerah paling hina di tubuhnya. Kenapa bahkan Katsuki begitu bernafsu menyusupkan lidahnya dan mencicip liang sanggama Izuku dengan mulutnya? Rangsangan di daerah sana terasa geli, dan juga mengganggu. Katsuki meninggalkan bekas gigitan kecil di pinggir si bibir bisu sebelum merentangkan paha Izuku lebih lebar. Kali ini, ia mencekoki si bibir bisu dengan jari-jari tangannya. Izuku kali ini meronta, panik melanda ketika merasa dijelajahi secara tidak hormat. Namun dengan kasar, Katsuki menampar tangannya dan menarik paksa pinggul Izuku agar mempermudah pekerjaannya.

"Diam! Aku tahu caranya, Deku teme!" hardiknya kasar. "Aku hanya ngetes."

Katsuki mengeluarkan jarinya, lalu lanjut membongkar busana. Tubuh kokoh dengan kulit kuning langsat cerah itu membuat Izuku memalingkan wajah. Katsuki mendesah lega ketika membebaskan jagoan dari dalam kandang.

"Jangan pasang wajah menyesal begitu." Katsuki merobek bungkusan kecil yang ia tunjukkan tadi. "Besok kita farewell, lho."

Izuku membuang muka. "Uhm."

"Tunggu aku." Gumam Katsuki, memposisikan dirinya mendominasi Izuku. "Tunggu aku berjuang di cruise. Bikin wedding reception itu mahal, tahu."

"Wakatteru yo!" sergah Izuku. "Memangnya Kacchan lupa, aku enam bulan magang di banquet kitchen? Masak untuk wedding reception itu pekerjaanku setiap minggu! Aku tahu semahal apa..."

"Good." Katsuki mencium kening Izuku. "Bersabarlah, sampai aku bisa membuatmu menikmati wedding reception-mu sendiri, kuso Deku."

"Ha...hai. Aku akan bersab—aaaahhhh! Kacchan! Itte! Itteee! Pelan-pelan! Kacchaann! Kuso...aahhh...ngaaaaahhh!"


Lalu perlahan-lahan segalanya terkuak.

Mimpi...

Pandangan buram lalu menerang. Kamarnya yang lama. Tangan dingin yang sangat familiar. Shoto yang tertidur duduk dengan kepala menyandar kasur Izuku. Tangan dinginnya bertautan dengan tangan Izuku.

Kenapa?

Kenapa Izuku memimpikan hal itu? Apa karena Katsuki kembali lagi? Tidak juga. Tetapi, Izuku bukannya melupakan. Ia bukan tipe orang yang pelupa. Ia mengingat segala detil kejadian yang dialaminya. Hanya saja, yang itu merupakan keping kenangan yang ingin ia bakar, ingin ia lenyapkan saja selamanya.

Kenangan ketika Izuku berkomitmen untuk melakukan hubungan seks pranikah dengan mantan kekasihnya dulu, Bakugo Katsuki.

Kenangan itu bagaikan aib yang menggelapkan hati Izuku setiap kali ia melihat Shoto. Sekalipun, ia belum pernah menceritakan tentang masa lalu asmaranya dengan Shoto. Izuku takut hal itu akan melukai hati suaminya. Tetapi, mustahil bahwa Shoto tidak menyadari istri yang ia setubuhi bukanlah perawan ketika pertama kali mereka saling menggauli. Shoto nampak tetap bergairah dan kelelahan, dan juga begitu bahagia. Ia yakin saat itu bahwa ia sudah berhasil membuat dirinya jatuh cinta dengan Izuku. Titik balik yang membuat Shoto tidak bisa berhenti menyentuh Izuku—dalam konteks harafiah dan kiasan.

Ah, pemikiran yang sangat naif.

Izuku mengusap rambut suaminya. Shoto nampak begitu damai dan polos saat terlelap. Lelaki itu adalah tipe deep sleeper yang super pulas dan sulit dibangunkan. Izuku mempelajari bahwa ia harus membiarkan Shoto bangun dengan sendirinya, bukan membangunkannya. Atau, Izuku akan menghadapi dinginnya badai badmood bangun tidur Shoto yang akan berpura-pura menjadi si-bisu-tuli-pemarah-yang-berharap-istrinya-peka-dan-memberinya-kecup-manja.

Wanita itu mendekat. Ia mencium kening Shoto dan membelai helai-helai tipis yang lurus dan lemas itu, kontras dengan rambutnya yang bergelombang dan cenderung kaku—sulit diatur. Izuku tahu, suatu hari ia harus melakukan pengakuan dosa. Shoto harus mengetahui intisari jiwa seorang Izuku secara penuh.

Kepala merah-putih itu tiba-tiba menegak. Matanya memicing, melihat ke segala arah. Izuku memeluk kepalanya dan mencium ujung bibir Shoto dengan penuh kasih.

"Jam berapa?" gumamnya.

Izuku menoleh. "Jam 3 pagi."

Shoto mengerjapkan matanya. Setengah sadar, ia naik ke kasur Izuku dan membenamkan wajahnya ke kasur. Izuku tahu bahwa Shoto sudah dalam fase setengah bangun. Ia kembali berbaring dan membawa Shoto ke dalam pelukannya.

"Ayo bangun, sayangku...cintaku..." bisik Izuku. "Nanti kerja, kan?"

"...bur..." gumam Shoto. "Proyeknya sudah kelar kan..."

"Hai..hai..." Izuku terkekeh. Ia menepuk-nepuk lembut punggung Shoto.

Lelaki berambut nyentrik itu balas mendekap izuku. Hidung mungilnya mengendus ceruk bahu sang istri dan ia mulai bergelung manja.

"Izuku wangi..." gumamnya lagi.

"Shoto, apa kau menggantikan pakaianku?" tanya Izuku.

Shoto mengangguk dalam pelukan Izuku.

"Tahu darimana aku disini?"

"Uhm...mama yang nyuruh." Shoto mencium belahan payudara Izuku. "Dikira berantem."

"Maaf membuatmu khawatir." Izuku berkata gamang.

"Uhm..."

Izuku berdiam diri, menikmati hawa tubuh Shoto. Meskipun pasif dan tidak banyak memberikan dukungan emosional, keberadaan Shoto dirasa Izuku bagaikan kompres gel dingin yang meredakan nyeri luka. Mengurus perilakunya yang tak tertebak kadang membuat urat-urat kesabaran Izuku menegang, namun Todoroki Shoto selalu pantas dihadiahi sebongkah cinta atas segala usahanya demi Izuku. Sungguh, ia tidak meminta Shoto datang—ataupun menyuruh mamanya menghubungi sang suami. Tetapi, kedatangannya memberikan kesenangan yang sedikit-sedikit mengobati luka emosional Izuku.

Wanita berambut panjang berombak itu menyelipkan lututnya menggesek selangkangan sang suami. Shoto menggeram malas, namun mengeratkan dekapannya pada sang istri.

"Sayang..." Izuku berbisik manja. "Pagi-pagi jangan malas. Olahraga dong..."

Shoto tampak tercekat ketika Izuku menggesekkan lututnya ke selangkangan sang suami sedikit lebih keras.

"Misalkan..." Izuku menurunkan sedikit baju tidurnya. "...marathon..."

Alis Shoto bertaut. Ia membiarkan Izuku memancing gairahnya perlahan-lahan. Wanita mungil itu lalu merangkak naik, menduduki perut kokoh Shoto dan melepas pakaiannya. Shoto mengerjap-ngerjapkan matanya. Tangan dinginnya mengusap paha telanjang Izuku dan tersenyum tipis, namun begitu manis.

"Aku masih ngantuk." Shoto membelai betis Izuku. "Mohon bimbingannya..."

"Hai..." Izuku mencondongkan badannya, membelai pipi gembul Shoto dengan payudaranya. "Jangan berisik, ya. ini rumah mama, lho..."

Shoto terkekeh. "Harusnya aku yang bilang begitu."

"Kan aku yang 'nyetir'." Izuku merajuk. "Pura-puranya aku jadi Sho-chan..."

Shoto tertawa kecil. Ia menarik nafas pendek, membiarkan istrinya yang memimpin pertandingan. Rambut panjang Izuku tergerai-gerai, sebagian menutupi dadanya. Shoto bangkit untuk sekedar merapikannya, memperindah pandangannya nanti di bawah sana. Ia menyambut lembut bibir Izuku, menatapnya dengan lembut sampai akhirnya Izuku mau balas menatapnya.

Bibir indah itu terbuka, membentuk rangkaian kata. Sebuah melodi muram yang sumbang, bagai petir di siang bolong. Alunannya membuat detak jantung Shoto terasa berhenti sejenak sebelum berdentum-dentum gelisah.

"Shoto...kau tahu, kan? Kalau...kau bukan yang pertama. Aku pernah melakukan ini sebelumnya. Dengan...orang lain. Dulu sekali...dengan mantan pacarku..."

Izuku tertunduk. Pandangannya mendadak mengabur. Segala gundah dan risau menyeruak menjadi isakan pedih yang menganak sungai di pipinya yang berbintik-bintik. Shoto perlahan-lahan meraih bahu Izuku, menariknya dalam dekapan lembut yang bahkan tidak terasa kencang sama sekali, seperti balutan selimut di tengah udara dingin.

"Aku tahu." Gumam Shoto. "Tetapi, aku segan menanyakannya."

Izuku terdiam. Suaranya masih parau bergetar. "Kenapa?"

"Aku takut..." balas Shoto, memperlebar jarak mereka agar ia bisa menatap wajah Izuku. "Bisa banyak kemungkinannya. Kecelakaan fisik, sekuhara, petualangan—"

"Hey, aku bukan perempuan murahan!" suara Izuku meninggi karena tersinggung.

Shoto terperanjat, namun ia tetap melanjutkan kalimatnya. "Atau komitmen."

Izuku memandang Shoto dengan sejuta tanda tanya.

"Walaupun perbuatanmu dulu tentu saja tidak bisa dibilang betul..." Shoto membelai punggung Izuku. "Tetapi, aku harap dulu kau melakukannya dengan orang yang kau cintai, Izuku."

Shoto menggenggam tangan Izuku, mencium buku-buku jemarinya dengan lembut dan khidmat hingga sang istri dibuat salah tingkah. Lelaki itu menaruh tangan Izuku di pipinya dan melempar pandangan terhangat yang pernah dilihat Izuku sepanjang hidup pernikahannya dengan Todoroki Shoto.

"Aku ini suamimu." Bisiknya. "Jangan hanya berbagi bahagia. Aku akan menerima sakitmu, sedihmu, marahmu dan laramu dengan senang hati. Karena tugasku, adalah membuatmu bahagia selamanya."

Zamrud itu berkilauan, tangisan yang semakin keras pecah. Izuku menghambur memeluk Shoto, meski isakan ia hujuk kala itu, senyumannya terulas. Kehadiran Shoto benar-benar seperti kompres pereda nyeri. Hujaman pedih yang Izuku dera semalam seakan hanyalah bualan semata. Kebahagiaan terasa membuncah dari relung hatinya, menyeruak menjadi tangis karena tak tertahankan. Shoto membelai punggung Izuku, lalu kembali mengambil dominasi yang tadi ia pinjamkan. Wanita berambut panjang berombak itu rebah dengan patuh. Tangan dingin itu menghapus jejak airmatanya perlahan.

"Shoto..." Izuku menelusuri garis rahang suaminya. "Arigatou..."

"Tidak, harusnya aku yang bilang begitu." Shoto menurunkuan tubuhnya, mencium ujung bibir Izuku.

Shoto merelakan dirinya ditelan kegembiraan. Kecup demi kecup, telusuran tangan mungil itu mulai melecuti lapis pakaiannya, menjelajahi lekuk ototnya. Izuku membiarkan Shoto mempimpin, berawal dari langkah ringan. Tangan dingin itu memijat lembut buah dada Izuku, perlahan mulai meningkatkan ritme ketika mendengar lirih nikmat Izuku terlantun. Bunyi derit ranjang menjadi gangguan baru yang terasa asing, namun birahi menumpulkan akal sehat Shoto. Lelaki itu merunduk, mengecap puting mulus istrinya untuk meredam suara nikmatnya sendiri.

"Nnn..." Izuku menggigit bibir. Ia berusaha membalas kayuhan Shoto yang makin lama terasa cepat dan kasar sampai membuat perutnya terasa seperti diaduk-aduk. "Shoto...hnnhh..nghahhh..."

"Uhm?" Shoto mengalah. Ia menarik Izuku hingga kini ia yang merebah, membelai lekuk pinggang istrinya. "Sini. Tunggangi aku."

"Hee?! Nggak mau...malu..." Izuku menolak. Rambutnya bergoyang-goyang lucu saat ia menggeleng. "Shoto cabul."

"Memang." Shoto menggigit sisi payudara Izuku, meninggalkan bekas cetakan gigi berwarna merah padam basah. "Izuku enak untuk dicabuli."

"Hngghhh..."

Izuku meneggakkan punggungnya, berusaha mengayuh masuk kejantanan suaminya. Ia mengusap perutnya yang mulai terasa penuh. Payudaranya yang besar memantul-mantul ketika Izuku mulai bergerak naik turun. Shoto merasa darahnya mendidih, naik hingga ubun-ubunnya terasa berdenyut saking bernafsu. Ini debut pertama Izuku memegang kendali. Ia bahkan tidak pernah berpikir Izuku terlihat lebih seksi ketika berusaha menemukan ritmenya sendiri. Shoto merangkul pinggul bulat itu dan membantu istrinya mengayuh.

"Hngh...yahh...begitu...enak...Izuku...hnhhh..."alis Shoto bertaut, berusaha tidak menerkam dan mengambil alih kembali dominasi.

"Sho-chan...ngahh...pegal..." Izuku mencondongkan badannya, bertumpu pada perut Shoto yang kokoh agar ia bisa mempercepat ritme. "..nghaah...aahh...ungh...oohh..."

"Ngh...urgh...aku melakukannya setiap malam, Izuku." Shoto terkekeh, mengangkat kepalanya dan memberikan dukungan kecil dengan mencium Izuku dengan ganas dan intens. "Memang kapan lagi aku bisa lihat oppai-mu di angle sebagus ini?"

Saat keduanya mulai mendapat ritmik yang ideal, Izuku mulai melenguh. Shoto dengan panik menjambak lengan Izuku dan membungkamnya dengan ciuman, takut bahwa efek marathon mereka mungkin mengganggu Mama Izuku. Tetapi Shoto tidak bisa bohong, bahwa segalanya terasa jauh lebih nikmat dan menggairahkan ketika Izuku mendominasi. Bahkan Shoto bisa mendengar seberapa intens kelelakiannya melumat liang sanggama Izuku. Wanita berambut panjang berombak itu melepas ciuman mereka, memilih menggigit bibirnya sendiri. Izuku nampak bergelimang nikmat, terlihat pada ketika Shoto membantunya mengayuh Izuku memilin putingnya dan memainkan payudaranya sendiri, seakan menggoda agar tangan Shoto-lah yang melakukannya. Shoto berpura-pura tidak peka, menikmati sebaik mungkin pemandangan Izuku yang seperti ini sambil diam-diam menggodanya.

Lalu terlintas ide busuk di kepala Shoto.

Dengan sekali hentak, ia membalik posisi mereka. Izuku limbung, pasrah ketika Shoto merentangkan pahanya dan menarik keluar miliknya yang bahkan terlihat belum puas sama sekali. Wajah Shoto merah padam, titik-titik peluh mulai bergulir di pelipisnya.

"Ah? Udahan?" Izuku merengut kecewa. "Nggak enak, ya?"

"Kata siapa?" Shoto mencium lekukan paha Izuku. "Aku mau ganti gaya."

"Ehe..." Izuku terkekeh. "Boleh."

Izuku memasrahkan dirinya, ketika Shoto membalik punggungnya, memposisikannya menelungkup. Izuku bergidik, kegelian ketika Shoto mencium lekukan punggungnya, pinggang, pinggul, lalu memulai kecupan kecil pada liang ketat di baliknya.

Punggung Izuku menegang. Ia berusaha meronta, mendorong kepala Shoto agar tidak menciumnya di sana. Wajah lelaki dengan bekas luka bakar di mata kirinya itu tampak kesal ketika Izuku menginterupsi sesi enaknya.

"Jangan disitu, ah!" sentaknya. "Kan kotor."

"Nggak kotor." Balas Shoto polos. "Mulus begitu."

"Tapi kan nggak perlu di—huwaaaah! Shoto! Dame! Dameee!"

Wanita itu menjerit ketika Shoto menjejalkan miliknya masuk, menghentakkannya dengan keras hingga pinggul Izuku meliuk, menggelinjang melawan rasa sakit melilit yang tiba-tiba menghajar perutnya. Bantal ia peluk dan remas demi meredakan perasaan aneh itu. Shoto mengerenyit. Ia mencondongkan tubuhnya dan merangkul pinggang ramping Izuku.

"Tahan sedikit, ya." Shoto berbisik mesra. "Ini bakal agak sakit."

"Memang! Jangan disana kenap—aanghh!"

Shoto tidak menghiraukan Izuku. Ia mengayun panggulnya, membenamkan dirinya semakin dalam. Izuku mendekap bantal demi meredam hentakan-hentakan kasar karena Shoto mengayuhnya lebih cepat. Ada sensasi aneh yang perlahan-lahan menjalar. Seperti geli, tetapi sakit. Lalu lebih banyak geli sehingga rasa sakitnya bisa dihiraukan. Izuku merasa benar-benar malu, bahkan ia bisa mendengar ketika Shoto memasukkan atau mengeluarkan. Tetapi Izuku tidak lagi protes, kala ia melihat bagaimana Shoto menggauli istrinya dengan cara menyimpang seperti ini. Shoto meremas rambut Izuku, memberinya ciuman lembut yang terasa seperti melelehkan bibir.

"Izuku...hnnhhhhh..." Shoto membenamkan wajahnya di pundak sang istri. "...sangat...nikmat..."

"Hnggh...hhhngghhh!" izuku menoleh, melihat Shoto yang masih sibuk mengayuh. "Hnnn...sudahan, sakit..."

"Izuku belum pernah di anal, ya?" Shoto mengecup ujung hidung Izuku.

Sang istri menggeleng.

"Good." Shoto menyeringai. "Anggap saja debut pertama, oke?"

Shoto menghentak, hingga membuat Izuku kewalahan membalas. Izuku terengah, berusaha mengayuh sama cepat agar menikmati geletar nikmatnya lebih banyak lagi. Padahal, semakin cepat malah semakin sakit. Tetapi ia tidak ingin berlama-lama dalam posisi ini. "Shoto...ohh...hayaku...sakit..."

"Hmmm..." Shoto mengangguk, mempercepat kayuhannya hingga Izuku tak lagi sanggup mengimbangi. "Sebentar. Sedikit...lagi..."

Izuku merasa terlempar-lempar. Tubuhnya menggigil, sebab sakit yang dideranya datang bergantian dengan geletar geli yang menggairahkan. Tubuh Shoto mengejang sebentar, ia merasa luapan hangat yang perlahan membuat lelaki itu melemas, luruh bagaikan leleh. Izuku terkapar, merasa sama lemas dan lelehnya seperti Shoto. Lelaki itu memberikan kecupan lembut di kening Izuku, lalu perlahan melepaskannya.

"Izuku..." Shoto bergumam.

"Hnn?"

Tangan dingin itu meraihnya, membawanya dalam dekapan lembut. "Aku mencintaimu."

Izuku tersenyum.

"Jangan main rahasia-rahasiaan lagi." Shoto menelusupkan wajahnya di ceruk bahu Izuku. "Dan jangan pergi lama-lama tanpa bilang lagi."

Izuku menggangguk perlahan. Ia membelai rambut Shoto dengan penuh kasih, lalu berbisik lirih pada ubun-ubun rambut suaminya.

"Aku mencintaimu, Shoto."


Naskah hard copy. Enam belas halaman bab pertama yang diketik Izuku. Ia duduk manis di depan meja kerja Shinso Hitoshi. Orang yang dicari Izuku mohon diri untuk ke kamar kecil sebentar. Monoma melewati meja Shinso dan menghampiri Izuku.

"Oya, oya. Jangan lupa deadline-ku juga, ya." Monoma tertawa ramah. "Hey, wajahmu pucat."

Izuku mengangguk lemah. "Uhm. Aku bangun kesiangan. Nggak sempat dandan jadinya."

"Nggak biasanya Izuku bangun siang. Atau jangan-jangan semalam..."

Monoma menyerengai besar. Izuku menggeleng-geleng cepat karena salah tingkah. Monoma tertawa bahagia melihat gelagat lucu Izuku.

"Hey, punya anak nggak seburuk itu, kok." Ungkapnya. "Anakku, contohnya. Di umurnya yang masih 3.5 tahun, lagi lucu-lucunya dipakaikan baju-baju anak-anak yang macam-macam."

"Oh, Monoma-san sudah punya anak?" Izuku tersenyum.

"Baru 1." Balasnya ramah. "Dan dia cucu wanita pertama. Jadi keluarga istriku sangat senang menerimanya."

"Siapa namanya?"

"Jihye." Monoma menggaruk tengkuknya. "Monoma Jihye. Ibu mertuaku bersikeras anak kami harus punya nama Korea, meski tetap bermarga Jepang. Aku jadi bingung sendiri."

Izuku tersenyum. "Apa kabar istrimu?"

"Yah, meskipun istriku nggak semanja dulu, sih. Tapi—"

"Kalau aku jadi anakmu, aku akan memilih durhaka saja sekalian." Shinso membalas sinis. "Lalu kisah kedurhakaan anakmu bakal kubuatkan skrip dorama berjudul Tuhan, Mengapa Bapakku Nyinyir?"

Izuku terkikik. Monoma langsung memasang wajah cool meski sudut matanya berkedut-kedut karena kesal. Shinso mengusirnya dengan lambaian tangan. Selepas Monoma pergi, ia membaca naskah yang diberikan Izuku. Sebenarnya, Izuku sendiri juga tidak yakin. Ia bahkan hingga membeli 3 kamus Bahasa Jepang Klasik dan Modern demi mendapatkan pemilihan kata yang bagus. Membuat parafrase dalam kisah roman memerlukan keahlian khusus.

"Tentang Yanagi Fuwa, wanita bersuami yang bertemu dengan mantan pacarnya, Seijuro Yamamoto..." Shinso menggumam. "Krisis hubungan karena uang dan kepercayaan. Jadi kau mengambil tema domestic romance dengan alur yang gelap sebagai dasarnya?"

Izuku mengangguk.

"Bakal kau jadikan apa endingnya?" tanya Shinso.

"Aku..." Izuku terdiam. "Belum tahu."

Shinso menopang dagunya. "Kenapa?"

"Aku awalnya ingin membuat Yanagi Fuwa bahagia dengan Seijuro Yamamoto." Izuku menjelaskan. "Tetapi, karena Yanagi Fuwa sudah menikah dengan Yanagi Shirabu...apakah salah kalau kubuat Yanagi Fuwa belajar mencintai suaminya?"

"Tergantung." Shinso menggedikkan bahu. "Kau harus mengembangkan alurnya. Jangan saat kau membuat pembaca mengharapkan Yanagi Fuwa mau mencintai suaminya, tiba-tiba kau buat suaminya meninggal dan dia menikah dengan mantan pacarnya. Itu buruk."

Izuku menunduk.

"Kunci dari keberhasilan plotmu, adalah rasa cinta Yanagi Fuwa pada salah satu lelaki itu. Itu saja. Bagaimana sisanya terserah." Shinso mengangguk. "Kurasa oke. Kau boleh pulang, dan lanjutkan lagi. Aku minta gabungan bab 1, 2 dan 3—kalau bisa, akhir bulan ini."

"Hai." Izuku berdiri, kemudian pamit. "Shitsureishimasu..."

Izuku berjalan meninggalkan kantor penerbit FlashMight Publisher. Di depan mobilnya, Shoto bersandar di kap mobil sambil berkutat dengan tablet dan pena elektriknya. Dari gelagatnya, ia nampak hanya menggambar untuk iseng semata. Izuku menghampirinya, dan Shoto langsung mengumpulkan kembali atensi penuhnya pada sang istri.

"Kemana kita sekarang?"

Shoto tersenyum. Ia meraih tangan Izuku. "Kau yang tentukan, Nyonya Besar."

"Ke supermarket. Kita belanja buah dan sayur. Lalu makan malam di rumah. Setelah itu, aku mau menyetrika. Shoto bisa membalik-balikkan baju kering dan memasang gantungan."

Shoto terdiam sejenak, lalu mengangguk.

"Ide bagus."


chapter 7 update!

Hai semuanya. Maafkan author dan jadwal kuliah yang selalu ganti-ganti nggak jelas (tapi dua minggu ini maksimal selalu cuma sampai jam 12 siang, sisanya author bobo cantik di kosan xoxo). Anyway, di chapter ini banyak adegan enaena dan reveal masa lalu Izuku dan Kacchan sedikit-sedikit. Beberapa readers ada yang protes soal konten enanea dan penggunaan kata-kata. Mari kita perjelas bahwa sudah di warning dari chapter awal akan ada adultery dan disturbing content(s), jadi jangan kaget. Author sudah berusaha tidak membuatnya terlalu eksplisit dan tidak senonoh. Tapi namanya juga author amatiran yang bahasa penulisannya masih belajar, jadi maafkan kalau ada kesalahan ya.

sudahi saja bacotan ini. See you on the next chapter ya.