JUST YOUR ORDINARY ROMCOM STORY
A Beelzebub Fanfiction by Maplerivers
Chapter 7
Sebenarnya dianggap apa sih aku ini oleh mereka, aku juga punya perasaan tahu. Mendengar kata-kata kejam begitu hatiku juga merasa sakit. Apalagi mendengarnya langsung dari bibirmu sendiri. Aku kecewa.
~00~
Taman Ishiyama. Tempat rindang yang banyak dikunjungi oleh penduduk kota Ishiyama. Tempat umum bagi yang ingin melakukan debutnya. Bagi para ibu yang ingin mengenalkan bayinya kepada sesama ibu dan menambah kenalan maupun bagi para siswi yang ingin melakukan debutnya baru memasuki tingkat SMA.
Dan hari ini, aku Furuichi Takayuki, pemuda dengan segala daya tarik. Tampan, humoris, menawan dan juga baik hati akan dengan senang hati menolong siapa saja yang akan melakukan debutnya. Jangan salah, bukannya hanya gadis-gadis unyu itu yang akan kubantu. Kalian kan tahu, tidak boleh yang namanya memilih-memilih siapa itu yang akan kita bantu. Ibu-ibu muda yang akan melakukan debutnya juga, dengan senang hati akan kubantu.
'Takayuki-kun.. uh kamu imutnya..'
'Bayiku mungkin kalah imutnya deh sama kamu… uh~"
"Ehem." Baiklah aku bisa melakukannya. Aku menyemangati diriku sendiri, aku pasti bisa melakukannya sendiri kali ini, lagi pula tidak ada penghalang terbesarku hari ini. Hahaha, aku pasti berhasil kali ini. Oh kalian perlu ku jelaskan siapa penghalang terbesarku? Tentu saja Oga, kenapa kalian pura-pura gak tahu segala.
Kalian masih pengin tahu juga tentang si Oga itu? Huh, sebenarnya siapa yang perduli dengannya. Dia mungkin sedang menguras keringatnya sendiri dan membanting-banting tulangnya unuk mendapatkan uang. Tentu saja untuk beli susu, kalian pikir susu bayi semurah susu dewasa?
Oga seharusnya sudah tahu sebesar apa konsekuensinya dari awal sejak dia memutuskan untuk meletakan tangan kapalannya ke Hilda-san. Damn! Oga sialan, kalau dia bertemu dengan gadis cantik seperti Hilda-san saat karya wisata itu kenapa dia gak ngomong sih sama aku. Dasar nyebelin.
Baiklah tidak perlu memikirkan B*ajingan yang tidak pernah memikirkan orang lain sepertinya. Yang perlu kupikirkan adalah bagaimana menanggapi gadis-gadis atau ibu-ibu muda yang 'moe' itu. Hahaha.
…
Sebenarnya adanya Furuichi di taman itu malah semakin membuat mrinding ibu-ibu. Tak terkecuali dengan gadis berambut panjang dengan kacamata yang sukses menyembunyikan identitas aslinya. Tidak seperti kebanyakan gadis lain seusianya yang ingin melakukan debut untuk mendapatkan pacar, dia berada di taman itu hanya sekedar ingin mengajak jalan-jalan adiknya,
Fakta bahwa dia adalah mantan pemimpin geng cewek terkuat di Ishiyama, tidak bahkan di Kanto, tidak membuatnya lebih berani menghadapi ulah pemuda macam Furuichi yang-em, bagaimana menjelaskannya ya? Oh iya, kebanyakan baca komik hentai dan lolicon.
Bukan masalah identitasnya sebagai Aoi Kunieda, the Queen terancam terbongkar tapi memang berada di dekat Furuchi memang ngeselin.
Sebenarnya sebelum memutuskan untuk ke taman siang ini, dia sudah berdoa sekeras-kerasnya pada semua dewa agar dia tidak bertemu dengan Furuichi. Bukan hanya Furuichi sebenarnya tapi juga semua orang yang dikenalinya. Gadis itu hanya ingin sendirian sementara ini. Dia mengakui kalau kabar Oga Tatsumi yang sudah punya anak itu membuatnya cukup depresi dan frustrasi. Sulit mengakui kenyataanya ketika tinggal satu langkah lagi mengaku pada pemuda itu bahwa hatinya telah dicuri olehnya. Benar dia memang menyukainya, satu-satunya alasan dia turun tahta dan keluar dari kursi pemimpin redtail adalah karena dia telah jatuh hati pada pemuda yang telah menyandang predikat terkuat di SMA Ishiyama itu.
Tapi apakah karena dia telah menyepelekan dewa yang memberinya kekuatan sampai dia harus menerima kabar menyedihkan seperti ini. Memang dia dulu pernah hampir menolak kekuatan dewa hanya karena lukisan dewanya terlihat seperti gambar boneka. Tapi penderitaan hatinya ini sangat menyiksanya.
Gadis itu terduduk lesu di salah satu bangku taman, Kouta, adiknya dibiarkan bermain sendirian di kotak pasir di dekatnya. Topinya dibiarkan menutupi setengah wajahnya, dia tidak ingin orang-orang melihatnya dalam keadaan menyedihkan seperti itu. Dia tahu harusnya dia tidak berharap banyak pada orang brutal sepertinya. Namun hatinya tidak bisa berbohong.
Sejak pertama bertemu dengannya dia sudah memberikan kesan yang kuat pada gadis itu. Datang bagaikan kesatria yang memberinya kekuatan untuk menumpas angkara murka di Ishiyama. Memberi harapan bagi para gadis lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa karena para yankee kelas teri itu.
Tapi Aoi seharusnya lebih tahu, isi kepala yang sekeras beton itu tidaklah mungkin tersirat ada dirinya. Dia harusnya tahu bahwa berharap lebih akan Oga untuk melihatnya sebagai gadis tidak hanya sebagai nakama hanya akan menyakiti hatinya. Ternyata benar, hati yang teriris oleh luka karena perasaan cinta yang tak terbalas memang terasa lebih menyakitkan daripada luka fisik terkena sambitan pedang. (a/n: BRB muntah darah dulu)
Bruk!
Aoi Kunieda terbangun dari lamunannya. Di sebelahnya baru saja muncul orang tua besar yang sepertinya terluka parah. Orang tua besar itu sepertinya baru saja merubuhkan badannya di bangku yang juga diduduki oleh gadis itu. Nafasnya terengah-engah. Luka gores dan memar terlihat di setiap senti badannya. Aoi tercengang dengan semua itu, bagaimana bisa orang tua itu bertahan dengan semua luka di seluruh tubuhnya dan sampai di taman ini melewati rumah sakit yang berada dua blok dari taman. Apa orang tua besar ini sudah tidak waras?
Kalaupun dia bisa menyeret tubuhnya sampai sini, harusnya dia ke rumah sakit saja!
"O-oi.. Pak tua.. kamu…." Aoi bahkan tidak yakin mau menanyai bagaimana keadaannya. Kalau dipikir-pikir lama-lama orang tua besar ini mencurigakan. Jangan-jangan dia salah satu black list yakuza, atau malah dia orang yang baru melarikan diri dari penjara.
"TOLONG AKUUUU…?!"
THWAK! "Jangan mengagetkanku..!" Tiba-tiba saja orang tua itu terbangun dan langsung menempel ke Kunieda.
"Hai kamu orang tua mencurigakan, apa yang kamu lakukan pada ibu muda ini..? Apa kamu sudah bosan hidup?" Sekeras apapun Furuichi Takayuki mencoba terlihat cool seperti Tuxedo Bertopeng, dia malah terlihat semakin konyol. Seseorang setidaknya beri dia penghargaan untuk orang yang selalu bertindak konyol sepertinya.
'Bagus.. Keinginanku untuk tidak bertemu orang yang tidak kukenal… sia-sia. Dan apa-apan dengan orang tua besar ini kenapa dia belum mati juga sih..' monolog batin Kunieda.
"Sudah kubilangkan aku belum jadi ibu-ibu, aku hanya remaja yang ingin berjalan-jalan dengan adik bayiku.."ralat Kunieda dengan pernyataan Furuichi sebelumnya.
"Huh, benar wajahmu memang masih sangat imut seperti remaja putri,"
'Orang ini memang bebal, akan sia-sia tenagaku untuk mengajarinya yang benar.'
"Furuichi.. dia bukan orang yang jahat-sepertinya. Dia hanya luka parah-sepertinya, mungkin kamu harus menolongnya-sepertinya," Kata Kunieda dirinya sebenarnya tidak terlalu yakin dengan kalimatnya barusan.
"Huh, aku tidak bisa menolong orang yang penuh dengan aura kegelapan sepertinya, dia terlalu mencurigakan," Kata Furuichi masih dengan suara menawan yang pasti didengar, "tunggu dari mana kamu tahu namaku?"untuk beberapa saat suaranya kembali normal
"O? Eto… um.. um- nganu. Em, karena aku dulu pernah, pernah.. oh iya mendengar Oga memanggilmu dengan nama itu," Crap! Hampir saja penyamarannya terkuak. Tapi, bagaimana kalau Furuichi mulai curiga dengannya, dia terlalu terbata-bata saat memberinya alasan tadi. Memang sih penyamarannya ini terlalu biasa, orang lain mungkin sudah bisa menebak siapa sebenarnya yang berada di balik kacamata merah itu. 'Benar! Furuichi dan anak-anak Ishiyama 'kan bodo-eh tidak terlalu pintar' Kunieda coba berpikir lebih positif
"Oh iya, kamu si ibu muda yang pernah di tolong Oga itu ya…? Siapa namamu.. eng.. Aoi.. Aoi Kunie, benarkan?"
Benarkan apa yang dipikir Kunieda? Kunieda hanya menjawab Furuichi dengan anggukan. Dia bisa bernafas lega.
"Furuichi? Furuichi Takayuki kah?"
"Gyah?!" Furuichi menjerit dengan tidak jantannya ketika tiba-tiba orang tua besar itu melompat padanya dan memberinya tatapan penuh harap. "Dari mana pula kamu tahu namaku..?!" Furuichi belum juga berhenti bergidik.
"Mungkin dia penggemar rahasiamu Furuichi..?"
"Bagaimana kamu tega berkata seperti itu? Mana mungkin penggemarku om-om kumisan sepertinya, harusnya penggemarku itu para gadis-gadis yang imut-imut.." Kali ini Kunieda yang tidak berhenti bergidik.
Terdengar suara batuk dari orang tua itu awalnya batuk-batuk ringan namun lama kelamaan batuknya semakin keras sampai mengeluarkan darah, membuat dua remaja itu panic.
"O-oi Pak tua, kamu beneran gak apa-apa, kamu batuk darah loh. Harusnya kamu kerumah sakit, kenapa malah ke taman?"
"Tenang saja. Aku akan membuktikan perkataan Misaki Oga. Aku pria besar, aku bisa bertahan dengan luka kecil seperti ini.."
"Tunggu dulu, dari mana kamu tahu nama itu?" Furuichi kini mulai serius. Misaki Oga adalah nama kakak Oga, kalau sudah berhubungan dengan Oga, hal sekecil apapun akan jadi masalah besar nantinya.
"Sebenarnya sebelum kesini aku ke tempat Oga Tatsumi terlebih dulu.."
"Jadi luka-luka ini kamu dapatkan dari Oga?" tanya Aoi Kunie, atau Kunieda.
"Tidak-tidak.. bukan begitu, sebenarnya aku ke tempat Oga malah ingin meminta tolong.. tapi sepertinya dia juga tidak bisa menolongku.." Pak tua bertubuh besar itu kembali terbatuk-batuk.
"Apa maksudmu Oga tidak bisa membantumu?"
"Sebelumnya aku akan menceritakan sedikit tentang siapa aku sebenarnya. Agar kalian tidak bingung nantinya.."
THWAK! "kenapa gak dari tadi sih.!" Bentak kedua remaja itu.
"Aku adalah Alaindelon.. aku sebenarnya adalah bodyguard Hilda ojou-sama,"
"Hilda?" Kunieda kan belum pernah bertemu dengan gadis yang dihamili oleh Oga
"Nama ibu bayi Oga," jelas Furuichi. Mendengar bahwa gadis yang sekarang memiliki Oga mempunyai pengawal pribadi membuat Kunieda sedikit rendah diri. Pasti gadis itu kaya raya.
"aku kemari ingin memperingati Hilda-sama. Oh iya sebelumnya kalian harus berjanji kalau kalian tidak akan memberitahu Hilda-sama maupun Oga-dono tentang keberadaanku disini..?
"Kenapa?"
"Karena sebenarnya Hilda-sama telah diusir dari rumah dan sudah tidak boleh lagi melakukan segala bentuk hubungan dengan keluarganya, termasuk denganku,"
"em.. bukannya kamu tadi malah mau mencarinya ya?" tanya Kunieda datar. Sebenarnya orang tua ini eror ya?
"m-maka dari itu, keberadaanku tidak boleh diketahui oleh siapapun, aku babak belur begini juga karena niatku ingin bertemu dengan Hilda-sama terdengar. Pokoknya keberadaanku disini tidak boleh diketahui oleh Hilda-sama maupun Oga-dono atau mereka juga akan seperti ku, bahkan lebih buruk lagi.."
"Oke-oke.. sebenarnya apa sih yang mau kamu sampaikan sampai-sampai mempertaruhkan resiko besar seperti itu?" Kunieda sendiri penasaran, sebenarnya keluarga macam apa sih istri Oga ini.
"Janji kalian akan merahasiakannya?"
'Bawel banget sih orang tua ini..' "Iya deh iya, rahasiakan dari Oga, iya kan Furuichi..?"
"Iya harus dirahasiakan dari Oga. Jangan sampai Oga tahu, ya 'kan Oga?"
. . .
"WAHH.. SEJAK KAPAN KAMU DISINI OGA..?" Furuichi kembali menjerit dengan tidak jantannya ketika mengetahui kalau Oga Tatsumi ternyata ada di sebelahnya.
"Gak usah histeris Furuichin," kata Oga datar
"O-oga.. Ap-apa yang kau lakukan disini.. Pak tua cepat kamu sembunyi"
"Ngajakin jalan-jalan Baby Beel. Gak usah sembunyi Om-om besar, aku sebenarnya malah bersyukur bisa bertemu denganmu lagi," kata Oga.
"Be-benar kah?" Orang tua besar itu menangis sambil terbata-bata mendengar kalimat Oga.
"Lalu Baby Beel kemana Oga?" Furuichi penasaran dengan bayi hijau itu yang tidak terlihat di punggung Oga.
"Lagi beli es krim sama Hilda," jawab Oga singkat, jempolnya menunjuk arah belakang di mana terlihat gadis cantik berambut pirang berkilau yang tersenyum-senyum dengan bayi digendongannya. Kunieda yang baru pertama melihat gadis itu tercengang dengan penampilannya. Kalau harus dibandingkan, perbedaannya hampir 180 derajat. Dan Kunieda sendiri tidak mau menjelaskan bagian-bagian mana yang berbeda dan siapa yang lebih unggul.
Sakit. Sakit hatinya..
"ada yang ingin kubicarakan denganmu om-om besar."
"SAMA! AKU JUGA INGIN MEMBICARAKAN SESUATU DENGANMU. AKU INGIN KAMU SELALU BERADA DI DEKAT HILDA-OJOU-SAMA, AKU INGIN KAMU SELALU MELINDUNGINYA KARENA AKAN ADA ORANG BERBA-"
"AKU DULU YANG BICARA DASAR ORANG TUA.."tidak disangka-sanga Oga Punch melayang. Padahalkan Oga dulu yang menyatakan niatnya untuk bicara kenapa orang tua ini yang nyolot.
"Dengarkan baik-baik karena aku tidak mau mengulanginya lagi.." kata Oga, suaranya terdengar sangat serius, Furuichi saja kaget mendengarnya.
Bayangan Baby Beel yang tertawa riang saat menonton Gohan-kun terbesit di benak Oga. Senyuman simpul dari ibunda bayi hijau itu ketika menyuapi putranya. Dan wajah tersipu gadis pirang itu saat Oga berkata ,"terima kasih makan malamnya.." semuanya, Meski sulit mengakuinya, itu adalah kebahagian Oga. Karena Oga tahu dengan semua yang pernah dilakukan Oga, mendapat keluarga kecil seperti itu merupakan sebuah anugrah yang tidak ternilai harganya. (a/n: *BRB muntah darah lagi, tenang AKURAPOPO)
Dan Oga tidak akan membiarkan siapapun mengusik kebahagiannya.
"Tinggalkan Hilda sendiri, kamu sudah lihat kan reaksinya waktu dia melihatmu. Dan kamu pasti mengerti bagaimana perasaannya ketika dia harus terbuang, karena kamu adalah orang terdekatnya. Setidaknya hal yang bisa kamu lakukan adalah membiarkannya, karena saat ini dia sudah mulai menata hidupnya lagi. Jangan tambahi bebannya lagi, walaupun dia terlihat kuat seperti iblis wanita, tapi dia hanyalah gadis lemah.."(a/n: AKURAPOPO tenan!)
Alaindelon terdiam mendengar penuturan Oga. Wajahnya tak terbaca.
Furuichi lumayan terkejut mendengar temannya berkata demikian. Serius, bertahun-tahun bersamanya seakan sia-sia karena Furuichi merasa dia sama sekali tidak mengenal Oga ketika dia berkata demikian. Dan Kunieda, Kunieda terlihat kesakitan meremas dadanya. Hatinya yang sebelumnya perih kini bertambah ngilu. Melihat Oga berkata demikian semakin memantapkan pikirannya bahwa dia tidak pernah ada di benak Oga selama ini.
"Da nyah dahdabu…." Suara mungil terdengar menyadarkan orang-orang dari lamunannya. Baby Beel memanggil ayahnya.
"Dia bilang ayah ayo makan eskrimnya," suara datar milik Hilda juga terdengar, gadis itu berjalan menghampiri Oga. Berbeda dengan nada bicaranya yang sangat datar itu, wajahnya terlihat tersipu.
"Sejak kapan kamu mengerti omongan Baby Beel?"
"Aku ibunya, jelas aku mengerti, memangnya kamu enggak?"
"Enggak," jawab Oga santai. Dan Oga yakin Hilda Cuma mengada-ada.
"HOI, KALIAN KENAPA MALAH NGOBROL KAYA KELUARGA BAHAGIA.. DI SINI ADA ORANG TUA YANG TERLUKA PARAH-"
"FURUICHI BAKA, BUKANNYA DIA BILANG DIA ITU HARUS DIRAHASI- loh kemana perginya orang tua besar itu?" Kunieda menengok sisi kanan dan kirinya, tidak ada jejak dari Pak tua besar itu. Dia benar-benar menghilang.
Ajaib.
Oga tersenyum simpul menyadari bahwa Alaindelon mengerti apa yang dia maksud.
"Kalian siapa? Dan apa yang kalian maksud dengan Pak tua besar?" terdengar suara Hilda bertanya. Dia punya firasat orang tua besar itu adalah mantan bodyguardnya, yah siapa lagi sih yang lebih besar dari pada Alaindelon.
"Um," Furuichi gelagapan menjawab pertanyaan Hilda. Pertanyaan kedua maksudnya. Karena sebelumnya Furuichi sudah pernah berkenalan dengan Hilda.
"Hilda. Ini Furuichi, dulu sih kamu pernah bertemu dengannya, ku kenalkan lagi siapa tahu kamu lupa karena emang dia gak penting. Dan ini Kunieda.. ehm, dia teman sekelas," kata Oga, sebenarnya kalimat perkenalan itu ditujukan untuk mengalihkan perhatian Hilda dari kata-kata 'Pak Tua Besar' karena Oga yakin, Hilda pasti curiga.
"Teman sekelas?"
"Ehm, benar?"
"Kenapa kamu jawabnya gak yakin gitu? Kenapa harus pakai 'ehm' depannya? Benar dia cuman teman sekelasmu?"
Oke, Hilda memang teralih dari kata-kata 'Pak Tua Besar' yang menjerumus ke Alaindelon, tapi kenapa Oga merasa seperti masuk ke lubang buaya setelah keluar dari mulut harimau.
"Hei-hei.. kenapa kamu bertanya seperti itu..?" tanya Oga datar.
"Abisnya kamu gak meyakinkan jawabnya"
"Um.. Hilda-san, yang Oga-kun bilang memang benar, k-kami hanya teman sekelas.." Kunieda bertanya-tanya haruskah dia menelan pil pahit ini.
"Hmm, kenapa kamu ikut-ikut mencampuri urusan kami, heh jelek? Kalimatmu saja juga tidak meyakinkan, kenapa kamu tadi tergagap? Itu malah semakin membuatku curiga,"
"Apa maksudmu? Kami memang tidak ada hubungan apa-apa? Hmm.. apa kamu iri denganku sampai-sampai ketakutan Oga-kun mempunyai sesuatu denganku ha?" walaupun hatinya patah karena Oga, tapi Kunieda tidak terima mendengar dirinya disebut jelek oleh orang didepannya.
"cih, omong kosong macam apa itu, kenapa aku harus iri dengan cewek jelek sepertimu? Dan tidak ada yang perlu kutakutkan.."
"um.. Oga-kun? Apa kamu yakin gak mau menghentikan mereka?" tanya Furuichi pelan. Image pemuda dengan segala daya tarik. Tampan, humoris, menawan dan juga baik hati akan dengan senang hati menolong siapa saja itu hilang darinya saat melihat pertengkaran antar cewek itu. Yah walaupun memang Furuichi gak punya semua itu sih.
Oga menggaruk-garuk kepalanya ngasal, melihat dua gadis yang masih saling mengejek itu. Sebenarnya pada bayinya. Kasihan Baby Beel, dia pasti kebingungan.
"Yosh, ayo Baby Beel kita pulang saja. Hilda ayo pulang."
Kunieda terkejut dengan Oga yang tiba-tiba mengambil Baby Beel dari gendongan Hilda dan kemudian menarik tangan Hilda. Hilda juga sama terkejutnya tapi kemudian dia melirik Kunieda, seringainya menandai siapa pemenang pertengkaran mereka.
...bersambung
H-halo..
Bagaimana kabarnya minna-san?
Chapter terusan kemarin dan lebih nista dari yang sebelumnya. Tapi kalian gak boleh loh gak terima sama aku, karena udah kubela-belain muntah darah ini. Salah satu alasan kenapa ini adalah 'JUST YOUR ORDINARY ROMCOM STORY' karena dramanya.
Oh iya, kalau membuat Oga berfikir kaya gitu tadi bisa disebut bashing character gak?
Sila tinggalkan reviewnya, doakan semoga aku lekas sembuh. See you in next time minna..
