"Hey, Saskeh."

"Wut?"

"Kudengar Authornya kembali. Apa itu benar?"

"Peduli amat."


AUTHOR'S NOT— Ehem. STORY


Entah berapa tahun, bulan, dan hari, waktu telah berhenti. Membiarkan satu peristiwa tak terganti. Namun, kini semua kembali. Jam berputar kembali, air menetes kembali, angin berhembus kembali. Siang malam silih berganti, menghasilkan berbagai peristiwa yang tak kuanggap rugi. Aku bertanya dalam hati, adakah yang selalu menanti? Kuharap ya.

Aku terbangun dari kasurku. Imajinasi tak mengiringi, inspirasi tak kutemui. Hanya kehangatan dalam selimut yang kurasai. Dalam hati kubertanya kembali, adakah yang selalu menanti?

Aku bangkit dari kasurku, melihat kalender kecil di atas mejaku. 2 Februari 2017. Apa yang akan kuhadapi? Aku bersiap. Sekolah sudah menanti, tak dapat kukhianati. Aku mengerti.

Dari jauh, kulihat laptop hitam yang dulu selalu kubawa pergi. Kenangan menghiasi. Apa aku dapat seperti dulu lagi?

Kudengar bisikan pelan dalam hati. Suara yang sudah lama kunanti.

"Yo! Lama tidak bertemu!" Ah, rupanya dia. Seorang karakter di dalam anime yang sewaktu kecil selalu kutonton. Akankah aku dapat sepertinya? Seorang ninja yang bertarung demi orang lain. Diam-diam aku buat sebuah petualangan rahasia untuknya. Tentunya, di dalam laptop hitam yang dulu selalu kubawa pergi itu.

Sepulang sekolah, berbisiklah kembali ia padaku, "Aku menantikannya."

Kubuka laptop hitamku itu. Rasanya sudah lama sekali. Langsung saja kuketik sebuah alamat yang dulu sempat mengubah diriku. Tak lama, sampailah aku pada sebuah web. Sebuah web, di mana banyak petualangan menanti untuk dibaca. Sebuah web, di mana banyak masalah yang menanti untuk diselesaikan. Begitu pula dengan masalah yang kumiliki.

Dari masalah tersebut, kulihat berbagai kata yang menghiasinya.

gan lama bener ente updatnya, ane sampai jamuran nih nunggu cerita ente. Yah tapi tak apalah, capter ini juga cukup memuaskan, untuk ksealahan penulisan dan typo sepertinya sudah tidak ada. Oh ya ane mau berisaran untuk guild kami jangan buat terlalu besar seperti khink of blod yg guildnya terlalu besar, buat aja yang tidak terlalu besar ataupun kecil, tetapi memiliki kekuatan yang besar. Dan ane nyaranin untuk julukan anggotanya adalah the goldden army karena emas adalah lambang kemuliaan. Sekian reviw dari ane, tetap semangat gan.

Sebenernya ceritanya bagus, tapi judulnya berbeda dengan isinya. Dragon Slayer atau Carnivor Slayer

saran lagu buat pertarungan Naruto...
- -O (hiphop version)

wuooh lanjut

bagus senpai lanjutkan karyamu

kalo menurut ane sih naruko nya pegang Lbg ato ngga Hbg aja, bantuin tenten di belakang, pokok nya sekian lanjutkan thor

apa nanti ada karakter hinata dan sakura

lanjut,,,

chapnya seru desu nyaw :3

Sekarang guild kami level dan rank berapa?

lanjut terus kan thor.?

Lanjut broo... :D

Lanjut

Hahahaha thor lu kejem amat sama si leader yang tadi, gila udah dibantai sama di khianati eh si duo killer malah masih hidup. Tapi ceritanya keren meski ada beberapa kata yang berantakan tapi it's ok lah idenya bagus antimainstream ok segini aja review nya tetap semangat nulisnya dan ditunggu kelanjutan ficnya

Lanjut author, Up-date ( maaf kalau saya egois saya hanya anak berumur 11 tahun)

Melihat tulisan-tulisan tersebut, aku tertawa pelan. Rasanya bagai dekat dengan mereka, meskipun aku tak tahu siapa mereka.

Ohayou senpai 0
saya reader baru... Maaf juga baru review sekarang.

Awalnya saya agak ragu pas pertama lihat judulnya, takut narutonya bakalan overstrong kek di ff lainnya (maaf kalo ada yg tersinggung.), tapi pas baca ... Wow pikir saya :D

Emang sih narutonya cepet banget kuat. Padahal dia masih newbie -_-) tapi saya udah pernah main MH sih. Emg lvl gak terlalu berpengaruh, yg penting pinter mainnya aja. (di game aja sistem lvl gak ada xD)

Cuman pas saat-saat genting kek lawan tigrex dan lawan hampir 80 org nih saya agak kecewa senpai O.O

terlalu berlebihan di narutonya, lagian ini kan game berbasisi rpg. Jadi pengalaman bakalan jadi pembeda player satu dengan lainnya. Nah, disini kan naruto 'masih beberapa hari' main MHR. Rasanya agak mustahil dah dia ngalahin belasan player 'yang lebih pengalaman' dengan mudahnya.

Saran saya sih senpai. Mau di terima alhamdulillah, di tolak juga gpp. O.o
coba jangan terlalu bikin char naruto 'wah' banget biar char yang lain bisa kelihatan. Soalnya kebanyakan disini naruto itu kek pahlawan yang datang di saat-saat terakhir (namanya juga tokoh utama.), jadi char lainnya redup. Cuman naruto yang bercahaya, sementara temennya cuman kek tokoh sampingan.

Kan mau bikin guild hebat? Harusnya tiap member punya keahlian yang emg bisa di sebut ahli dan bisa di andalkan pas saat-saat tertentu. Pujian jgn terlalu fokus ke naruto sendiri, itu namanya pilih kasih :o

sampe kasihan saya ma sasuke, udah hampir bunuh boss... Malah di ambil sama naruto T.T

mungkin itu aja. Maaf kalo agak menyinggung dan semerawut tulisannya, saya ngetik di hp.

Akhir kata, saya suka banget ama ide senpai. Lanjutkan ya \\(0)/

Melihat tulisan panjang seperti itu, aku diam. Bukan karena membencinya, tetapi menyukainya. Mengetahui bahwa ada orang yang memerhatikan entah kenapa membuatku berdebar. Perasaan seperti ini tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata. Aku yakin, yang lain, yang sama sepertiku pun pasti pernah merasakannya; Dorongan-dorongan keinginan. Ya, semangat.

Sudah lama tak kurasakan rasa rindu ini. Sebuah web yang tak asing lagi. Tata letak dan tema darinya. Beserta font default-nya, Verdana. Tak lupa sebuah tulisan yang sewaktu dulu mendorongku, 'unleash your imagination'.

Dalam pikiran, hening tercipta. Akankah kau kembali berperan, di dalam cerita yang kucipta? Jawabannya ada pada diriku, yang tlah lama ragu. Janji yang menunggu tuk ditepati, seharusnya tak kukhianati. Malulah aku pada diriku, jika kuberikan janji-janji palsu.

Seketika, aku bulatkan tekadku. Kuperintahkan diriku, melanjutkan tujuanku. Akan kuciptakan akhir yang pantas bagi Naruto, calon Dragon Slayer.

Aku melakukan persiapan. Kubaca kembali file yang kusimpan dalam folder FanFiction selama beberapa waktu. Aku buat sebuah storyboard agar lebih mudah, dan agar aku tak kehilangan arah (lagi). Setelah kudapatkan tujuanku kembali, barulah kuketik alamat web itu.

Loading...

Loading...

Loading...

Ah. Internet Positif...


:: Dragon Slayer ::

:: Special Chapter: Days Without Senpai (Naruto's POV) ::

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto.

Warning: Alternative universe, out of character, typo(s)(mungkin), perfect Naruto. Terdapat banyak istilah game yang berbahasa Inggris.

Terinspirasi dari Sword Art Online dan Monster Hunter.

::Happy Reading~! ::


"Hah, mati lagi, ya..."

Hening. Tak ada satu pun suara yang menggangguku. Nerve Gear masih menutupi kepalaku. Tak ada niat bagiku untuk melepaskannya karena sekarang ini, aku sedang pewe. Hmph... meskipun bantal yang kugunakan tidak terpakai karena helm ini menghalangi, badanku masih dapat merasakan empuknya kasur yang kutiduri. Namun, aku harus berhati-hati karena sebelum log in tadi siang, aku sempat mengganti sprei kasurku dengan yang baru kubeli kemarin. Aku takut ada bekas cairan yang kukeluarkan lewat mulut secara tak sengaja lalu mengenai sprei baruku. Meskipun aku memakai helm, tentu ada kemungkinan bahwa air liur yang kukeluarkan dapat mengenai spreiku secara langsung.

Yah, aku hanya khawatir tubuhku dapat bergerak meskipun aku sedang dalam full dive— Ah, juga karena aku tidak ingin spreiku bau jigong. Motif spreinya sebenarya kekanak-kanakan, yaitu motif sebuah kartun berjudul Horray Katty dengan warna merah muda mendominasi, sehingga membuatku tak tertarik. Namun, pada kotak sprei itu tertulis, 'Halus, lembut, pas di hati'. Oleh karena itu, aku tertarik untuk membelinya. Hmph... sekarang aku mengerti kebenaran kotak sprei itu. Good job, produsen sprei! Tunggu, ini kenapa malah promosi?

::

[Monday, -/-/-, 06.15 AM - Namikaze Residence]

"Kriiiii~ng!" Ah. Bunyi itu lagi. Aku membuka mataku sesaat, lalu menutupnya kembali, kemudian menguap selama delapan detik. Kumatikan alarm di handphone-ku dengan keadaan setengah sadar. Sejak kemarin, aku semakin jatuh cinta pada kasurku. Rasanya aku tidak ingin berpisah dengannya. Ia telah memberiku banyak kehangatan. Kelembutannya terasa sangat nyaman saat bersentuhan dengan tubuhku. Aku juga tak melupakan jasa selimut. Ia terus melindungiku sepanjang malam dari udara yang dapat membuatku kedinginan. Ada beberapa kemungkinan semua itu terasa nyaman. Dua diantaranya mungkin karena kemarin aku sedang dalam kondisi mengantuk atau aku baru menyadari bahwa itu terasa nyaman.

Ah, kurasa ini sudah pagi. Aku baru menyadari alarm yang kusetel telah berbunyi. Aku membuka mata, lalu bangkit ke posisi duduk selonjor, kemudian membuka selimut. Aku mengambil handphone-ku. Di sana tertera empat angka, yaitu 0, 0, 3, dan 6. Bila diurutkan berdasarkan yang kulihat, akan nampak angka 0630 dengan titik yang memisahkan angka 06 dengan 30. Setengah tujuh. Saat itu, aku terdiam. Pikiranku kembali. Delapan jam yang lalu, tepatnya. Setengah sebelas malam. Kuingat saat itu aku sedang semangat berburu hingga tak memikirkan waktu. Saat itu aku lupa bahwa besok hari Senin. Setelah lewat beberapa jam, aku log out dengan keadaan mengantuk. Aku pun tak mengetahui bahwa alarm yang kusetel terlambat dua jam. Yah, biasanya aku bangun dengan alami pada jam setengah lima. Ah, lupakan. Sudah tak ada waktu lagi.

Aku segera bersiap-siap, lalu berangkat ke sekolah dengan berlari terburu-buru. Adikku, Naruko sepertinya sudah berangkat terlebih dahulu.

::

[Monday, -/-/-, 06.44.59 AM - Shiranatsu Gakuen]

Tak lama berlari, sampailah aku di sekolah, Shiranatsu Gakuen. Gerbangnya masih terbuka. Hah… aku selamat, terbayar oleh berkeringat. Aku segera masuk ke kelas, lalu pergi ke lapangan untuk bersiap upacara.

Pada saat upacara berlangsung, aku melihatnya. Lagi. Seorang lelaki berambut panjang, berbicara di depan semuanya. Ketua OSIS Konoha Gakuen, Hyuuga Neji-senpai. Wah… aku melihatnya di sekolah baru dua kali. Biasanya yang berada di sana adalah Tenten-senpai, selaku wakil ketua OSIS. Selain itu, aku pun mulai curiga bahwa ada hubungan yang terjalin di antara mereka.

Ketua OSIS Konoha Gakuen merupakan orang yang populer. Hanya orang yang memiliki keberuntungan tinggilah yang akan mendapatkan sebuah kalimat yang terlontar dari mulut Neji-senpai. Yah, berbicara padanya sih, semua orang pun bisa. Tetapi, tidak semua orang dapat mendapatkan balasan dari perkataan yang mereka lontarkan. Sungguh menyedihkan.

Kalau dipikir-pikir, aku merupakan orang yang super untung. Pertama kalinya aku berbicara pada Neji-senpai adalah ketika aku belum memainkan MHR. Saat itu, ia meminta tolong padaku untuk menggantikannya presentasi pada kegiatan yang ia selenggarakan. Namun, aku menolaknya karena aku sedang sibuk. Ya, saat itu aku sibuk bermain MMORPG. Kalau saja waktu itu aku tahu bahwa kemungkinan untuk berbicara dengannya adalah kurang dari 5 persen, permintaannya akan aku terima tanpa ragu. Namun, siapa sangka ia malah mendatangiku kembali di dalam game, Monster Hunter Reborn. Aku langsung menyadarinya saat ia berbicara padaku. Karena itulah aku memanggilnya senpai.

Ah, saat bertemu dengan Tenten-senpai di dalam MHR juga aku merasa tidak asing. Namun, saat itu aku tidak menyadarinya begitu saja. Sepertinya aku baru menyadarinya saat kami berkumpul. Tidak, bukan. Aku menyadarinya saat kami akan melakukan guild war. Benar juga. Tanpa sadar aku memanggilnya senpai. Kalau tidak salah, Shino juga memanggilnya senpai. Mungkinkah dia juniornya Tenten-senpai sewaktu dulu? Atau mungkin, dia satu sekolah denganku?

Tak ada gunanya melamunkan hal itu. Kali ini, seperti biasa rangkaian kalimat yang diucapkan Neji-senpai membangkitkan semangat. Namun, angin apa yang membuatnya berbicara di depan semua? Mungkinkah akan ada acara penting yang diadakan oleh OSIS?

Saat aku sadar dari lamunan, semua bertepuk tangan. Apa ada yang aku lewatkan? Sudahlah, mungkin itu hanya penutup.

"Naruto, PR dari Hatake-sensei sudah kau kerjakan?" tanya temanku, Sakura setibanya di kelas. Aku berbalik, menatapnya, lalu mengangguk sambil berdeham. Sakura merupakan teman dekatku sejak SMP, karena itu, kami cukup akrab hingga saling memanggil dengan nama depan. Entah kenapa, ia selalu berada di kelas yang sama denganku. Jika di rumah aku mengurung diri, berbincang dengan teman dunia virtual, di sini aku bersama dengan Sakura. Mungkin orang-orang mengira hubungan kami itu spesial. Namun, tidak. Baik Sakura dan aku tidak menyimpan perasaan yang seperti mereka pikirkan. Benar sekali. Aku sudah memastikannya sejak naik ke kelas 2.

Saat itu, mulai beredar rumor aneh tentangku dan Sakura. Yah, tak aneh sih. Dia orang yang baik, meski kadang memarahiku. Dia orang yang pandai bersosialisasi, meski ia pernah bertengkar denganku. Dia juga orang yang pintar, meski kadang melirik-lirik lembar kerjaku saat praktik. Selain itu parasnya rupawan, tak heran banyak pemuda menyukainya. Ah, Riajuu...

Rumor itu beredar cepat, berkat kepopuleran Sakura. Aku tak tahan akan hal itu, sehingga aku memastikan hal itu padanya. Tak ragu aku katakan apakah dia memiliki perasaan padaku. Aku juga menjelaskan aku tak memiliki perasaan khusus padanya. Saat itu ia menyuruhku untuk tidak memedulikan rumor itu, karena itulah aku tak memedulikannya. Aku tetap seperti ini hingga sekarang.

Terhanyut dalam lamunan, Sakura menepuk tangannya di depan wajahku.

"Kalau begitu, pinjamkan aku. Kumohon!" ujarnya sambil tersenyum. Ah, tidak seperti biasanya. Akulah yang sesekali meminjam PRnya, meskipun hanya untuk menyamakan.

Aku mengambil buku di dalam tasku, lalu memberikannya kepada Sakura. "Tetapi tumben sekali, ya. Tidak biasanya kau belum selesai…."

Sakura hanya sedikit tertawa. Ia menyalin pekerjaanku sambil menjelaskan, "Yah… itu karena akhir-akhir ini aku disibukkan oleh tugas-tugas lain."

"Tugas lain? Tugas seperti apa? Kau tak pernah mengatakannya padaku. Apa kau tidak memercayaiku?"

"Hmmm… tugas yang paling menyulitkanku adalah… oh! Soal dispensasi yang tadi Hyuuga-senpai katakan. Tunggu dulu, rasanya kau berbicara seperti kekasihku. Hentikan," ujarnya sambil terus menulis. Bukannya melambat karena kuajak berbincang, tangannya malah lebih cepat. Hebat sekali…

"Oh, maaf. Saat Neji— Ehem. Saat Hyuuga-senpai berbicara, aku melamun. Jadi, dispensasi mengenai apa?" tanyaku semakin penasaran. Aku terus memerhatikannya. Mengobrol dengan perempuan memang menyenangkan rasanya. Entah kenapa, mereka selalu mempunyai topik untuk dibicarakan. Tak ada habis setiap harinya. Myth or Fact? Entahlah.

"Mulai besok akan ada kegiatan yang diselenggarakan di Kuro selama seminggu penuh. Karena mendadak, sekolah tidak sempat menyeleksi siswa yang akan diikutsertakan pada kegiatan tersebut. Hasilnya, sekolah langsung saja menunjuk OSIS," jelas Sakura. Ia menghembus napas panjang. Hal ini pasti sulit baginya, mengingat dia adalah salah satu anggota OSIS. Terlebih lagi, Kuro, ya? Kurofuyu Gakuen, tepatnya. Rival sekolah kami, Shiranatsu. Semoga saja ia tidak dibully di kandang lawan.

"Hanya kau seorang, kah?" tanyaku sambil menopang pipiku dengan tangan di atas meja. Sakura menggeleng pelan. Tunggu dulu. Apa itu artinya—

"Ketua OSIS dan wakilnya?!" tanyaku sedikit keras. Sakura terkejut.

"Ada apa? Tentu saja mereka ikut. Sudah diumumkan bukan?" ujar Sakura sambil tertawa. Ia menutup buku di depannya, lalu memberikannya padaku. "Nih. Terima kasih, ya."

"Y-ya, sama-sama." Ujarku sambil menerima bukuku kembali. Rupanya Sakura menyelesaikannya pada waktu yang tepat, karena ia selesai tepat sebelum Hatake-sensei masuk ke ruang kelas.

"Baiklah, mari kita mulai pelajarannya."

::

[Monday, -/-/-, 09.30 AM - Shiranatsu Gakuen (Canteen)]

Neji-senpai dan Tenten-senpai akan pergi besok. Terlebih lagi, seminggu penuh. Mereka tak pernah membicarakan hal itu sebelumnya. Apa yang akan terjadi pada guild? Mereka adalah pusat kegiatan guild, yang menentukan tujuan-tujuan yang akan dicapai guild. Lagipula, mengapa tidak mereka katakan hal ini lebih awal?!

"Pagi, Naruto."

"Ah, iya. Pagi," ucapku tanpa menghiraukan siapa yang menyapaku. Pikiranku hanya terfokus pada mereka, Neji-senpai dan Tenten-senpai. Jika mereka pergi, kekuatan guild akan berkurang puluhan persen. Belum lagi anggota yang lain. Jika kegiatan yang diadakan adalah kegiatan setingkat provinsi, mungkinkah anggota yang lain juga akan mengikutinya? Uh... seperti Kiba, Shino, Sasuke, dan Lee. Tunggu... Kiba dan Shino kukira adalah siswa di sekolah ini. Apakah benar? Kebetulan macam apa ini?

"Naruto?"

Jika benar mereka bersekolah di sini, mungkin mereka tidak akan ikut pada kegiatan itu, karena bukan anggota OSIS. Aku ingin menemui mereka, tetapi aku tak tahu mereka ada di mana. Yang terpenting, kami tidak memiliki tujuan apapun saat ini. Mungkinkah aku harus menetapkan tujuan 'bertambah kuat'? Atau 'beli markas'? Ataukah 'guild rank up'? Hmm, boleh juga. Akan kutargetkan rank 1000 besar saat mereka tidak ada.

"Hoi, Naruto?"

Sekarang aku harus menyusun formasi— Tidak. Pertama-tama aku harus menghubungi anggota guild lainnya, mengabarkan bahwa daya tempur guild KAMI akan berkurang selama seminggu. Ah! Bagaimana jika Neji-senpai dan Tenten-senpai membawa Nerve Gear mereka ke— Ah, kurasa tidak akan. Pada kegiatan yang diadakan selama seminggu penuh, mungkin mereka tak akan ada waktu untuk bermain game.

"Naruto!?"

Kalau begitu, mungkin aku harus menyiapkan formasi yang cocok apabila Neji-senpai dan Tenten-senpai tidak ada. Setelah itu, akan kuadakan latihan melawan monster. Akan lebih beruntung jika ada naga yang keluar. Jika kurasa sudah pas, maka kami akan melakukan guild war! Tunggu. Sepertinya tidak usah bertanding melawan monster. Pergerakan mereka dibatasi oleh program, tidak dapat berkembang, sedangkan jika melawan player, pergerakan mereka akan sulit terbaca. Hal ini jelas lebih efektif dipakai untuk latihan. Kalau begitu, langsung saja kuarah guild war. Benar juga, jika menang pada guild war, kami akan mendapatkan banyak keuntungan. Selain mendapat peringkat yang lebih tinggi, guild pun akan mendapatkan hadiah uang, sehingga kami dapat membeli bangunan guild untuk markas kami. Hah! Benar-benar sempurna. Apa dengan ini aku dapat menjadi ahli strategi?

"Hoi, Naruto!?"

Mungkinkah ini yang disebut sekali dayung, dua— Ehem, tiga pulau terlampaui. Pulau pertama adalah kekuatan. Dengan berlatih melawan player lain, guild KAMI akan menjadi lebih kuat karena memiliki banyak pengalaman. Pulau kedua adalah kehormatan. Dengan melakukan guild war, rank guild tentu saja akan naik. Pulau ketiga adalah kediaman. Uang yang didapat dari kemenangan guild war akan dibelikan bangunan untuk guild. Dengan begini, rencanaku sempurna.

Saat aku sadar, Neji-senpai dan Tenten-senpai sedang duduk di depanku, di meja yang sama denganku, menyeruput teh hijau dalam gelas yang ia pegang. A. Mereka. Di depanku. Menatapku. Melihatku. Memerhatikanku.

"Pagi, senpai," kubuka percakapan antara kami.

"Oh, Naruto. Apa yang sedang kau pikirkan pagi-pagi seperti ini hingga tak menyahut panggilan senpai-mu?" tanya Tenten-senpai dengan nada merendahkan. Ugh... ia marah.

"Maaf, aku sedang memikirkan kalian."

"Oh, begitu? Romantis sekali," ujar Tenten-senpai santai.

"Kau tahu apa maksudku, bukan, Neji— Ehem. Hyuuga-senpai?"

Neji-senpai berhenti meneguk tehnya, lalu menaruh gelasnya di meja. "Kukira kau akan melakukan sesuatu. Benar, bukan?"

Ah, seperti biasa. Ia bijak. Mendengar percakapan kami, Tenten-senpai menyipitkan kedua matanya. Ia kebingungan. Aku menjawab pertanyaan Neji-senpai, "Oh, sudah kuduga. Tentu saja. Malah sudah kusiapkan. Tantangan seperti ini mudah untukku, Hyuuga-senpai. Kuharap aku dapat membuatmu puas."

Pandangan anatara kami semakin menajam. Seringai di antara kami juga semakin terlihat. Perang dingin kami dimulai di sini, tanpa melibatkan Tenten-senpai.

"Oh, sungguh rasa percaya diri yang tinggi. Aku harap dapat melihatnya," ujar Neji-senpai sambil menyerutput kembali tehnya.

Aku membalasnya dengan serangkaian kata, "Tenang saja. Kekuatan, kehormatan, dan kediaman akan kuraih dengan satu komando pamungkas."

"Kau yakin akan begitu, Naruto? Kita juga memiliki siswa Kurofuyu, lho," ujar Neji-senpai sambil menyeringai. Aku hanya bisa diam. Apa itu artinya? Siapa? Kiba? Kurasa dia di sini. Shino? Aku juga menyangkanya di sini. Mungkinkah Lee? Atau Sasuke? Sial, gertakannya benar-benar menakutkan.

"Kalau begitu, aku menantikan hasilnya, Leader," ujar Neji-senpai lalu pergi bersama Tenten-senpai yang kebingungan. Mungkin ia bertanya-tanya apa yang sedang kami bicarakan. Ah, aku kalah dalam perang dingin ini. Seperti yang kuharapkan dari Neji-senpai, dia hebat sekali.

Aku memerhatikan sekelilingku. Ah, gawat. Berapa menit yang kuhabiskan dengan senior-senior populer tadi hingga semuanya memandangiku?!

::

[Monday, -/-/-, 14.05 PM - Namikaze Residence]

"Aku pulang~!"

Mendapatkan ucapan selamat datang kembali merupakan salah satu impianku yang telah dipenuhi oleh Naru. Seperti sekarang. Aku mendengar suara langkah kaki. Cepat sekali, sepertinya ia sedang berlari. Mendengarnya saja membuatku ingin tertawa. Apalagi saat-saat di mana ia kelelahan karena turun dari lantai tiga, kamarnya. Yah, rumah kami memang besar.

"Seh... lamath... dah... tangh... kembah... lih!"

"Kau tidak perlu memaksakannya, lho. Aku tidak apa," ujarku sambil tersenyum. "Omong-omong, staminamu lemah sekali... kau sudah makan dengan teratur, kan? Pastikan berolahraga setiap minggunya."

"Tidak ada masalah. Selain itu, aku tidak ingin melihatmu menangis lagi."

"Ah! Tolong lupakan hal itu. Sudah kubilang, bukan?" ujarku sambil menaruh sepatu pada rak sepatu di samping pintu, lalu mencubit pipi Naru.

"Haha... iya, iya," ujarnya sambil tertawa.

"Kalau begitu, aku akan langsung ke kamar. Kau sudah makan, bukan?" tanyaku sambil berjalan ke lantai tiga, yang juga merupakan kamarku. Naru mengangguk sambil mengikutiku.

"Buru-buru sekali. VR lagi, ya?" tanya Naru sambil cemberut. Aku yakin ia habiskan setiap harinya dalam keheningan karena aku berada dalam dunia virtual. Kenapa aku baru memikirkannya sekarang, ya?

Aku mengelus kepalanya. "Iya, tapi kali ini aku tidak akan melakukan full dive."

"Benarkah?! Kalau begitu, bisakah kita gunakan ruang keluarga? Tidak masalah, kan? Atau... mungkinkah kau membutuhkan komputer, Onii-chan?" tanya Naru. Ia terhenti. Wajar saja, sudah lama ruang keluarga di lantai dua rumah kami tidak digunakan. Hanya dilewati setiap harinya.

"Kau tunggu saja... Dengan laptop pun aku bisa."

Setelah berganti pakaian, aku segera turun ke lantai dua sambil membawa sebuah laptop. Di sana sudah terlihat Naru yang tertawa menonton anime di televisi. Ah... rasanya nostalgia. Sudah berapa lama televisi itu tak dinyalakan? Aku hanya menonton lewat komputer.

"Naru, kenapa kau tidak menabung untuk membeli Nerve Gear agar dapat bermain bersamaku?" tanyaku sambil duduk di sofa, lalu membuka laptop, kemudian menyalakannya.

Naru menatapku, lalu berkata, "Sudah kulakukan. Namun untuk membeli AmuSphere pada bulan Desember nanti. Karena itulah aku harus bersabar."

"Oh! Anak baik!"

"Onii-chan, sepertinya kau terlalu menganggapku anak kecil," ujar Naru cemberut. Tak lama ia melanjutkan, "Aku tak yakin Onii-chan ingat kelas berapa aku sekarang."

Aku terkejut. "Tentu tidak, Naru! Kau sudah kelas tiga SMP, bukan? Namun, di mataku kau tetaplah anak kecil."

"Ucapan Onii-chan mirip seperti orang tua yang membesarkan anaknya. Ah... apa ini daughter zone?" Naru mendekatiku, lalu bertanya, "Lalu... apa yang sedang kau kerjakan, Onii-chan?"

Aku memperlihatkan profil guild KAMI pada Naru, lalu berkata, "Ini guild-ku. Mulai besok, aku ditantang oleh seniorku untuk melakukan sesuatu pada guild. Jadi, aku sedang menyiapkan rencananya."

"Begitukah? Merepotkan, ya? Tunggu... nama macam apa ini? xX—KAMI—Xx? Sungguh kekanak-kanakan. Mengapa pakai XX?"

Ah. Aku tidak bisa bilang. Itu semua ulah Neji-senpai. Sebenarnya aku pun ingin mengganti nama itu. Seperti... Golden Army atau Silver Troops. Bisa juga Black Knight atau White Emperor. Tunggu, sepertinya yang kusebutkan malah mirip seperti julukan. Ah, sudahlah. Aku akan minta izin Neji-senpai untuk mengganti namanya nanti. Apa yang Naru tanyakan hanya kujawab dengan, "Entahlah..."

"Heh... Jadi, apa yang akan kau lakukan, Onii-chan?"

"Mungkin aku akan berperang dengan guild lain."

"Perang, ya? Ah... padahal aku ingin melihat Onii-chan menggunakan pedang," keluhnya sambil menghembuskan napas, menutup matanya.

"Aku menggunakannya seperti biasa, lho. Kau sudah tahu, kan?"

"Ya, tapi Onii-chan selalu dikalahkan oleh Jiraiya Ojii-chan, bukan?"

Aku diam. Itu benar. Setiap kali aku mengunjungi rumah Jiji, ia selalu menantangku untuk bertarung. Lebih parahnya lagi, ia menggunakan tombak yang pada umumnya lebih unggul daripada pedang. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Namun, berkat hal itulah aku mendapat pengalaman berpedang. Awalnya aku tidak tahu untuk apa Jiji mengajariku teknik berpedang. Namun, kurasa kini aku dapat memanfaatkannya untuk bertarung di dunia virtual.

"Kalau begitu, mudah, kan? Untuk apa kau repot-repot mengurusinya, Onii-chan?" tanya Naru sambil mengangkat kakinya ke atas sofa. Ia memeluk kakinya. Kepalanya bersandar pada lututnya.

Aku mengangguk, mengiyakannya. "Saat ini aku hanya sedang mengumpulkan informasi. Kalau soal formasi, kami pasti akan mengetahuinya setelah bertemu mu— Ah."

Sebuah pop-up keluar. Di sana terdapat sebuah pesan dari Kiba.

'Naruto, mau log in kapan? Aku menunggumu...'

Ah, dia lagi. Haruskah kubalas? Jika kubalas, mungkin ia malah akan cerewet... Ya sudahlah.

'Ntar, lagi sibuk. Jangan ganggu.'

Semoga dengan pesan ini, ia tak akan banyak bicara. Kuharap. Namun, sepertinya malah berefek sebaliknya.

'Wih, ada yang sibuk... Sibuk ngapain? Naruto no kuse ni.'

'Ah, mungkinkah kau tak sedang berada di rumah? Ha! Mungkinkah kau sedang kencan dengan Haruno-san?'

'Oh, atau mungkin kau sedang bingung memikirkan nasib guild karena kepergian Neji-sensei dan Tenten-senpai?'

Ugh... kurasa kita benar-benar bersekolah di tempat yang sama. Aku yakin ia mengerti apa yang tengah terjadi. Baguslah, aku tidak perlu menjelaskan lagi padanya.

'Sehubungan dengan itu, Kiba. Kita akan melakukan guild war besok, sepulang sekolah. Kabari yang lain.'

'Guild war? Besok? Mendadak sekali. Yah, apa boleh buat. Lagipula, tujuan kita sebelumnya sudah tercapai.'

'Akan kuberikan info mengenai rencanaku nanti malam lewat surel. Hari ini aku tak akan log in.'

'Oke...'

Dengan ini, kami hanya harus menunggu waktu tiba. Jika semuanya berjalan lancar, entah apa yang akan dikatakan Neji-senpai, tetapi—

::

::| Dragon Slayer |::

::

[Tuesday, -/-/-, 14.30 PM - Hidden Leaf Village]

"— Kenapa hanya ada kita berdua, Kiba?! Kukira kau sudah mengundang semuanya!" teriakku kencang. Kiba yang mendengarnya langsung menunduk, meminta maaf padaku.

"Maafkan aku! Aku sudah menghubungi semuanya, tapi..." Ia terhenti. Ia kembali menegakkan tubuhnya, lalu menatapku dengan serius.

"Tapi apa?"

"Seperti yang kau tahu, Neji-sensei dan Tenten-senpai sedang ada kegiatan di Kurofuyu Gakuen. Namun, dari kegiatan itu, aku tak menyangka Sasuke, Lee, dan Shino pun mengikuti—"

"APPAAAAAAAAAAA?!" Tak menunggu Kiba menyelesaikan kalimatnya, langsung saja aku berteriak sekencang mungkin. Ia kaget bukan main hingga melompat menjauhiku. Jadi inikah yang dimaksud Neji-senpai tentang siswa Kurofuyu itu? Tak kusangka ada tiga orang di sana. Bahkan Shino, yang kukira siswa satu sekolah denganku ternyata bersekolah di Kurofuyu. Jika aku melakukan guild war, itu namanya bukan pertarungan, tapi pembantaian! Cih, jika hanya dua orang dalam satu guild, apa yang dapat kuubah?

"Na, Naru—"

"APA?!" Aku berteriak lagi. Aku yakin dia pasti ketakutan.

"Ha, haruskah kita menyewa player?" tanyanya sambil mendekatiku kembali.

"Eh?"

::

"Yah, tak kusangka di game ini ada seorang pembunuh bayaran. Aku masih harus belajar banyak, rupanya," ujarku dengan santai. Di sampingku ada Kiba dan tiga pembunuh bayaran. Meskipun mereka hanya PK dengan kristal oranye, tak sepertiku. Kristal milikku jauh lebih indah. Saat para pembunuh bayaran itu melihatnya, langsung saja mereka membantu kami tanpa meminta bayaran satu keping Gold pun. Ah, rasanya aku menjadi seperti seorang cheater.

"Apa yang kau pikirkan, Naruto? Kau benar-benar menyewa mereka," ujar Kiba lesu. Sepertinya ia menjadi tak semangat dalam melakukan guild war. Yah, peraturannya sederhana. Aku menyuruh pembunuh bayaran itu masuk guild, lalu melakukan guild war, kemudian menendang mereka keluar guild. Kiba mendekat, lalu berbisik, "Sebenarnya apa yang kau rencanakan? Sepenting itukah guild war hingga kita harus menyewa PK?"

"Tenang saja, mereka hanya PK ampas. Tidak berbahaya... Selain itu, aku tidak akan mundur dari tantangan Neji-senpai," bisikku pada Kiba.

Tak lama berjalan, sampailah kami di arena. Langsung saja aku menekan 'Quick Match' pada meja pendaftaran hingga keluar sebuah tulisan di samping nama guild kami. Akatsuki.

"AKATSUKI KAU BILANG?!" teriak Kiba sangat keras. Entah kenapa, rasanya nyawaku terancam. Aku hanya mengangguk perlahan. Mendengar teriakan Kiba, tiga PK yang aku sewa sepertinya mendadak keluar dari guild. Kini hanya tinggal aku dan Kiba. Gawat. "Hah... kau menyeretku ke dalam kekacauan ini, Naruto. KENAPA KAU MENANTANG GUILD PK RANK SSS?!"

"S, WOI, RANK S! SSS CUMA MITOS!"

"PEDULI AMAT, NARUTO!"

"Maaf."

"MAAF?! SETELAH SEMUA YANG TERJADI?!" KIBA TERIAK-TERIAK! AH! TOLONG AKU! AKU INGIN PULANG! NARU, JEMPUT AKU, KUMOHON!

"Oh, jadi kalian guild KAMI, ya?" tanya orang dari belakangku. Aku berbalik, mendapati dua orang player berkristal merah mendekatiku.

Tunggu dulu... motif dalam pakaian mereka itu... "HA, HA, HAKATSUKEEH!"

"Akastuki. Untuk guild rank D, sepertinya kalian cukup berani untuk menantang kami hanya dengan dua orang. Tidakkah kalian meremehkan kami?" ujar salah seorang player Akatsuki itu. Rambut karakternya berwarna merah. Di sebelahnya, ada seorang player berambut kuning.

"Itu... kecelakaan."

"Kecelakaan? Kau ingin melarikan diri? Menyerahlah. Lagipula kau tidak akan menang," ujar player berambut merah itu.

Entah kenapa, saat ini ada bagian dari diriku yang tidak mau menerima perkataannya. Bagian itu terus mendorongku, memberiku keberanian untuk mengatakan hal yang saat ini ingin kusampaikan. Saat ini merupakan saat di mana aku berdiri membawa nama guild. Tak peduli apa yang mau orang katakan mengenai player bernama Naruto, jika orang merendahkan guild kami, akan kuberi mereka pelajaran. "Aku tidak akan mundur. Tak peduli siapa yang jadi lawan, tak akan kubiarkan kalian merendahkan!"

Di balikku, kudengar Kiba menyebut-nyebut namaku. "Na, Naruto..."

"Kalau begitu, hancurlah," ujar player berambut merah itu. "Sebelumnya, akan kuberitahu namaku, orang yang akan menghabisimu. Sasori, si Pasir Merah. Ingat itu."

::

Sudah tiga puluh menit semenjak pertandingan dimulai. Siapa sangka aku akan dipojokkan seperti ini. Saat ini, Kiba sudah mati. Ia mati tanpa meninggalkan sedikit luka pun pada lawannya, Deidara. Sungguh kemampuan yang hebat untuk menggunakan bom. Baik waktu saat ia mengeluarkannya, sudut yang ia perlukan untuk melemparnya, tenaga yang ia gunakan, kecepatan dan arah angin, dan juga lokasi target. Semuanya ia atur, sehingga bom langsung meledak saat berdekatan dengan target. Sungguh kemampuan yang mengerikan sehingga membuat Kiba tewas dalam satu serangan.

"Sungguh mengecewakan. Di mana bukti kristal merah yang ada di atas kepalamu jika kau hanya menghindari seranganku?"

Aku tak menghiraukan kata-katanya. Itu provokasi, aku yakin. Jika aku tidak bisa mengendalikan emosiku, aku terhasut, terpancing, bisa gawat nantinya. Bisa-bisa pola seranganku berantakan, seperti Berserker. Sekarang ini, yang harus kulakukan adalah mempelajari gerakan lawan. Di depanku, tombak Sasori terus menerjang. Tampak seperti tak ada celah sedikitpun. Jika aku berguling ke samping, aku khawatir akan ia lakukan tukik tombak padaku. Sungguh kuat. Teknik yang dipakainya beberapa kali lebih efektif dibanding Sasuke.

Dari belakang, sering terjadi ledakan bom yang dilemparkan oleh Deidara. Ia menahan jarak ledak bom dengan posisiku agar ledakan itu tidak mengenai Sasori. Namun, entah karena keberuntungan atau bukan aku sudah beberapa kali menghindarinya. Sekarang ini, aku seperti sedang berada di dalam putaran.

Lama aku berpikir hingga salah satu bom yang dikeluarkan Deidara mengenaiku. Dari depan, langsung Sasori hantamkan bagian samping tombaknya pada lengan kiri bagian atasku. Aku terjatuh beberapa meter di sebelah kanan Sasori. Daya ledak bom yang luar biasa hingga mampu mendorong— Itu dia!

Jika kugunakan momentum itu untuk mendorongku pada Sasori, mungkin aku dapat menebasnya! Akan kulakukan.

Saat aku terperangkap tombak Sasori, aku menunggu Deidara melempar bomnya. Saat tiba waktunya, aku sedikit melompat ke depan, ke arah samping tombak Sasori, agar tidak tertusuk. Saat bom Deidara meledak, aku terdorong. Langsung saja kuarahkan pedangku pada leher Sasori untuk menebasnya.

Set. Itu adalah waktu yang sangat cepat. Tak kusangka ia dapat menghindari seranganku.

"Ah, tak buruk. Kau menghasilkan goresan di leherku," ujar Sasori santai. Ia tersenyum. Dari jauh, Deidara pun tampak tak mengkhawatirkannya. Mungkinkah... ini jebakan? Tidak... mereka hanya saling percaya hingga tak ada rasa khawatir pada mereka.

Aku diam sejenak, lalu menatap Sasori dan berkata, "Aku... Kurasa aku sudah belajar banyak dari kalian. Aku ucapkan terima kasih."

Sasori tetap tersenyum. Ia katakan padaku, "Kalau begitu, kuhadiahkan padamu sebuah kemenangan atas keberanianmu."

"Eh?" Aku terdiam dibuatnya.

Dari jauh, Deidara berteriak, "Oi, Sasori, apa yang akan kau lakukan?! Tunggu! Apa kau akan melakukannya lagi?!"

Sementara itu Sasori dengan santainya berkata, "Resign."

"Perintah suara diterima, pemenang; KAMI."

APPAAAAAAAA?!

::

[Saturday, -/-/-, 19.30 PM - Hidden Leaf Village]

"Jadi, apa tujuanmu memanggilku ke sini setelah tidak log in berhari-hari?" tanyaku dengan tatapan tajam. Di depanku, Kiba terdiam sambil memainkan sedotan dari gelas minuman yang ia pesan.

"Maaf. Aku hanya—"

"Hanya?" Aku memotongnya, memotong perkataannya.

"Maaf," ujarnya pelan. Tampaknya ia trauma sampai harus menghabiskan waktu sepulang sekolahnya di dalam kamar. Sudah aku cari Kiba dalam sekolah. Namun, yang ada dia malah menghindariku. "Jadi... bisa kau katakan apa yang terjadi?"

"Kita menang," ujarku santai.

"Hah... sudah kuduga. Melawan guild PK rank SSS tentu saja kau sekalipun akan... heh? APPAAAAAAAAAAAAA?!"


Special Chapter: Days Without Senpai (Naruto's POV)

— End —


A/N: H, Hai minna. Lama, ya, nggak update... ,(._.), Untuk pesan kali ini, rasanya cerita gaje di bagian atas sudah cukup untuk saya tuliskan. Jadi... bay~

"AUTHOR KABUR! TANGKAP, SASKEH!"

"BRIZIK!"


"Jadi... apa hasil yang kau dapatkan saat aku tak ada, Naruto?"

Di depanku, seorang wakil ketua mendatangi ketuanya dengan seringai yang menakutkan. Haruskah kukatakan apa yang terjadi selama ia pergi? Haruskah aku beri bumbu rahasia pada ucapan-ucapanku? Ataukah aku beritahu saja kebenarannya? Jika begitu, mungkin ia akan menyalahkanku, tetapi tunggu! Sejak awal ini salah Kiba. Hmph... haruskah aku salahkan dia atas semuanya? Tidak, tidak. Aku adalah ketuanya. Itu semua tanggung jawabku. Aku tak boleh menyalahkan bawahanku. Namun, jika begi—

"Naruto?"

"Y, ya, Hyuuga-senpai?! Ada apa kau memanggilku?"

"Kau dengar perkataanku, bukan?"

Aku menundukkan kepalaku. Tampaknya aku hanya bisa pasrah di situasi seperti ini. "I, iya..."

"Jadi, apa yang terjadi?" tanya Neji-senpai sambil menyeruput tehnya seperti biasa. "Naruto?"

"M, ma, maaf."

"Eh?"


Special Chapter: Days Without Senpai (Naruto's POV)

— End (Really) —