Kehamilan mikasa masuk bulan kesembilan dan ia akan melahirkan seminggu lagi. Saat-saat seperti ini yang membuat revaille kebingungan untuk mempersiapkan semuanya. Revaille dan mikasa membeli perlengkapan bayi perempuan dan laki-laki dan menata ruangan bayi mereka seindah mungkin tentu dengan kebersihan menjadi prioritas utamanya karna sifat clean-freak revaille masih belum luntur.

Walaupun seminggu lagi mikasa akan melahirkan revaille masih harus bolak-balik ke markas utama untuk mengerjakan pekerjaannya. Ingin rasanya revaille untuk terus berada disisi mikasa namun ia tidak boleh egois karna revaille tahu dan sadar betul bagaimana kewajibannya sebagai seorang prajurit. Bahkan Irvin sudah memberinya keringanan untuk tidak misi di luar dinding sampai mikasa melahirkan.

Bagaimana kondisi revaille jelas hanji tahu bahwa sahabatnya itu sedang gelisah karna semakin dekat waktu mikasa melahirkan dan hanji selalu saja menghibur revaille sebisanya dengan kelakuannya yang aneh namun sikap acuh revaille yang ia terima. Hal seperti itu tidak membuat hanji berhenti untuk terus mencoba menghibur revaille agar sahabatnya itu bisa tenang.

"revaille!" panggil hanji dan sukses membuat revaille terkejut dengan hampir menyemburkan jus yang sedang diminumnya.

"ahh mata empat apa yang kau lakukan." gertak revaille namun tetap dengan nada datarnya.

"berapa hari lagi mikasa akan melahirkan ? kau lebih baik mencari orang yang golongan darahnya sama sepertinya karna orang melahirkan bisa mengalami pendarahan dan harus segera membutuhkan donor darah atau yah kau tahu lah."

"kenapa kau tahu hal seperti itu ? kau belum pernah melahirkan." Tanya revaille.

JLEB.

"jahat kau." Hanji memalingkan wajahnya.

"cepat kau putuskan untuk menikahi mike atau Irvin sebelum kau menjadi tua." Ledek revaille.

"menyebalkan. Aku lebih baik pergi." Hanji bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan revaille.

Revaille pun sukses membuat hanji kesal. Namun semua perkataan hanji menjadi beban baru dalam pikirannya.

"kopral." Panggil eren.

"oi. Ada apa ?" jawab revaille.

"aku, jean, sasha, armin, connie akan berkunjung menemui mikasa kopral. Apa boleh ?"

"tentu."

Setelah itu revaille, eren, connie, armin, jean, dan sasha pulang bareng menuju apartemen revaille. Sesampainya diapartemen perasaan revaille menjadi tidak karuan dan tidak juga tenang seperti ada hal yang menganggunya namun ia sendiri tidak tahu apa. Saat revaille mengetuk pintu apartemennya tidak ada sahutan atau suara orang membukakan pintu. Dan ia mencoba membuka pintunya namun pintu itu tidak terkunci. Hal aneh karna mikasa selalu mengunci pintu saat dirinya keluar.

"mikasa." Pangill revaille namun tidak ada balasan.

Setelah itu ia masuk kedalam kamar dan menemukan mikasa duduk disamping kasur dengan darah yang mengalir dari selangkangannya dan mikasa merintih kesakitan.

"apa yang terjadi mikasa ?" revaille langsung mendekat kemikasa.

"sakit sekali revaille. Perut ku sakit sekali." Mikasa memeluk revaille dan menangis.

Eren dan yang lainnya melihat itu langsung ikut panik.

"kau kenapa mikasa ? dan darah itu ?" Tanya eren panik.

Namun mikasa tidak menjawab dan terus merintih kesakitan. Revaille langsung mengendong mikasa dan membawanya ke rumah sakit.

Dirumah sakit…

Revaille, eren, dan lainnya menunggu diluar ruangan tempat mikasa diperiksa dengan hawa panik yang masih menyelimuti mereka.

"kalian mau minum ? aku akan membelikan minum untuk kalian."sasha menawarkan diri untuk membelikan diri minum.

"ide bagus. Lebih baik kau beli minum dan beberapa makanan saja." Jawab eren.

"aku akan menemani sasha." Tawar connie.

"baiklah, ayo kita pergi."

Setelah itu sasha dan connie langsung pergi membeli makanan dan minuman.

Revaille masih mondar-mandir menunggu dokter memberitahu keadaan mikasa. Dan dokter itu keluar. Revaille dengan cepat menghampiri dokter itu.

"bagaimana keadaannya dokter ?" Tanya revaille panik.

"nyonya mikasa akan segera melahirkan hari ini." Jawab dokter itu.

"apa saya boleh menemaninya didalam ?" Tanya revaille.

"apa anda suaminya ?"

"iya."

Lalu revaille masuk dan melihat mikasa masih merintih. Dirinya sempat terdiam sebentar dan memastikan dirinya untuk tenang dan memberi semangat untuk mikasa. Setelah itu revaille mendekat ke mikasa dan memegang tangannya erat-erat.

"berjuanglah sayang." Bisik revaille di telinga mikasa.

Oprasi pun dimulai…

Dokter dan suster disana meminta mikasa untuk menarik nafas dan mengelurkannya perlahan. Mikasa sudah hampir mandi keringat dan revaille mencoba untuk terus menyemangati mikasa. Tidak lama setelah itu…

Tangis bayi memenuhi ruangan itu.

Revaille dan mikasa saling bertatapan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar lalu revaille melepaskan tangannya yang sedari tadi memegang tangan mikasa untuk menghampiri dokter.

"selamat tuan, anak anda laki-laki." Dokter itu memberi selamat kepada revaille.

Revaille melihat bayi kecil itu ditangan suster dengan terus menangis.

"baiklah tuan, saya akan membersihkan anak anda dulu ya." Lalu suster itu pergi membawa bayi kecil itu.

Revaille lalu kembali ke sisi mikasa.

"anak kita laki-laki." Bisik revaille ditelinga mikasa.

Sontak mikasa menangis bahagian mendengarnya. Namun tidak lama mikasa merasakan sakit kembali diperutnya seperti ia akan melahirkan lagi dan dokter langsung memeriksa kondisi mikasa.

"tuan, nyonya sepertinya nyonya akan melahirkan lagi." Dokter itu teriak memberitahukan kondisi mikasa.

Revaille menatap mikasa dan begitupun mikasa. Namun rasa sakit yang dialami mikasa membuat kebingungannya tersampingkan. Dan mikasa menjalani proses kelahirkan kembali. Dan tidak lama lagi-lagi suara tangis bayi mengisi ruangan itu.

"selamat tuan, nyonya anak anda kembar." Dokter itu menggendong bayi yang baru saja dilahirkan mikasa.

"bayi perempuan." Ucap revaille setelah melihat jenis kelamin anak keduanya itu.

"jadi anak kita kembar laki-laki dan perempuan.?" Tanya mikasa ke revaille.

"iya sayang." Kini wajah revaille penuh senyum bahagia.

Mikasa pun tersenyum namun tiba-tiba mikasa memejamkan matanya.

"dokter, mikasa kenapa mikasa menutup matanya ?" Tanya revaille panik.

Dokter dengan sigap memeriksa kondisi mikasa.

"istri anda mengalami pendarahan tuan dan sesegera mungkin membutuhkan donor darah." Penjelasan dokter itu ke revaille.

"sebaiknya tuan keluar saja dulu biar kami yang mencoba menolong nyonya mikasa." Perintah perawat yang menghampiri revaille.

Revaille keluar dengan wajah yang pucat pasi dan tentu aneh dilihat oleh eren dan yang lainnya.

"bagaimana keadaan mikasa ? bagaimana dengan bayinya ?" Tanya jean ke revaille.

"bayinya kembar dan mereka lahir dengan selamat. Namun mikasa mengalami pendarahan dan membutuhkan donor darah."

"eren apa golongan darah mu sama dengan mikasa ?" Tanya connie.

"tidak. Aku dan mikasa hanya saudara angkat."

"apa golongan darah mikasa?" Tanya sasha.

"golongan darah mikasa O." jawab revaille.

"golongan darah ku O." jean langsung menjawab dengan semangat.

"ku mohon donorkan darah mu untuk mikasa." Eren meminta tolong ke jean.

"apakah boleh aku mendonorkan darah untuk mikasa, kopral ?" Tanya kean ke revaille.

"dokter akan memeriksa kondisi mu dulu sebelum kau mendonorkan darah."

Setelah itu revaille minta jean untuk ikut denganya menenui dokter. Saat jean berjalan melewati eren, tangan jean menepuk pundak eren dan berkata "aku akan menolong mikasa tanpa kau minta eren. Jadi tenanglah."

Eren langsung merasa tenang dan senang mendengar ucapan jean. Walaupun jean sudah ditolak ratusan kali oleh mikasa namun jean masih terus memperhatikan mikasa.

Jean pun mulai mendonorkan darahnya untuk mikasa dan revaille menemani jean disana untuk memastikan bahwa darah jean itu sehat untuk di donorkan ke mikasa. Setelah selesai revaille menghampiri jean mengulurkan tangannya untuk mengucapkan terima kasih dan jean menjabat tangan itu.

"terima kasih jean."

"sama-sama kopral. Dan tolong jaga mikasa untuk ku."

"baiklah. Aku berjanji akan menjaganya baik-baik."

Setelah itu revaille menuju ruangan bayi untuk memeriksa keadaan kedua anaknya. Sampai diruangan bayi ternyata bayinya sudah selesai dimandikan dan perawat itu meletakan kedua bayi itu ditempat tidurnya masing-masing.

"pak revaille, silakan untuk mendekati anak anda." Salah satu perawat memperilakan revaille mendekati anaknya.

Revaille menggendong bayi laki-lakinya dan menciumnya dan anehnya bayi itu berhenti menangis dan revaille memegang tangan kecil bayi merasakan hangat tubuh kecil bayi itu dan bayi kecil itu juga merasakan hangat tubuh ayahnya. Setelah itu revaille menaruh bayi laki-lakinya dikasurnya lalu menggendong bayi perempuannya dan melakukan hal yang sama.

Kedua bayi itu kini tidur ditempatnya masing-masing dan revaille memandangi kedua anaknya itu. Berharap mikasa pun bisa melihat betapa lucunya anak-anak mereka. Revaille kembali keruangan pemeriksaan mikasa dan pas sekali dokter yang menangani mikasa keluar dan memberi tahu bahwa keadaan mikasa sudah membaik dan sudah melewati masa kritisnya dan sudah dapat dipindahkan keruangan rawat. Perasaan revaille kali ini tenang dan senang. Begitupun eren dan lainnya yang mendengar keadaan mikasa itu.

"kopral dimana kami bisa melihat anak mu ?" Tanya sasha.

"kalian kalau ingin melihat keruangan bayi saja."

.

.

.

Setelah itu eren dan yang lainnya menuju ruangan bayi untuk melihat anak revaille dan diruangan itu sasha menghampiri perawat yang menjaga ruangan itu dan meminta izin untuk menengok bayi revaille dan mikasa. Perawat itu mengizinkan namun hanya 2 orang yang boleh masuk bila yang ingin melihat banyak maka harus bergiliran. Setelah itu sasha menghampiri yang lainnya.

"kita boleh melihat bayi itu Cuma kita harus bergiliran dan sekali masuk hanya 2 orang." Penjelasan sasha ke yang lainnya.

"baiklah. Armin dengan connie, sahsa dengan jean, dan aku sendiri." Eren langsung membagi.

Armin dan connie mendapat giliran pertama untuk melihat bayi kembar itu. Saat masuk keruangan bayi connie langsung meminta izin perawat yang mendapampingi mereka untuk menggendong bayi itu dan perawat itu mengizinkan.

"kau lihat armin bayi laki-laki ini sangat mirip kopral revaille." Connie menggendong dan terus menciumi bayi itu.

"kau pelan-pelan connie nanti bayi itu menangis. Tapi kau lihat bayi perempuan ini sangat cantik seperti mikasa ya." Armin begitu lembut mencium bayi perempuan mikasa.

Waktu armin dan connie pun habis dan harus bergiliran dengan yang lainnya.

Kali ini giliran sasha dan jean masuk keruangan bayi. Begitu melihat bayi mungil itu sasha teriak histeris sampai jean membekap mulut sasha.

"jangan berisik nanti menangis bayi ini." Pinta jean sambil membekap mulut sasha.

"maaf kan aku, bayi ini begitu imut sekali ya jean." Sasha sambil menggendong bayi perempuan.

"kau benar sa." Jean menggendong bayi laki-laki.

"kau tidak ingin menyusul seperti mikasa dan kopral revaille, jean." Tanya sasha.

Jean terkejut mendengar pertanyaan sasha.

"apa kau sangat berharap ?"

Sasha hanya tersenyum mendengar jawaban jean atas pertanyaannya. Dan mereka kembali sibuk menciumi bayi mungil itu. Dan waktu mereka pun habis.

Dan terakhir giliran eren.

"hai, kalian kenalkan aku paman eren." Eren mengenalkan dirinya kedua bayi yang berada didepannya.

"kalian sangat lucu dan imut seperti ayah dan ibu kalian. Mikasa ibu kalian pasti sangat senang saat sadar nanti melihat kalian."

Lalu eren menggendong kedua bayi itu secara bergantian dan menciuminya.

"kalian harus kuat seperti orang tua kalian dan kalian harus menurut kepada mereka ya." Eren tersenyum melihat kedua bayi itu yang menggulatkan badannya.

"maaf tuan, waktu anda sudah habis." Perawat yang mendampingi eren mengingatkannya.

.

.

.

.

Revaille menemani mikasa diruang rawat yang masih belum sadarkan diri.

Berselang 30 menit mikasa mulai sadarkan diri dan melihat revaille sedang tertidur disamping dan memegang tangannya.

"revaille..revaille…" mikasa membangunkan revaille.

"hem.. iya." Revaille bangun dan melihat mikasa sudah sadarkan diri.

"kau nampak lelah. Lebih baik istirahat di sofa saja."

"tidak apa. Aku tidak lelah tadi hanya tertidur saat menunggu mu."

"oh seperti itu. Mana anak kita ? aku ingin melihatnya."

"baiklah aku akan menemui perawat dulu untuk membawa mereka kemari."

Berselang 10 menit ada kedua perawat mendorong kereta bayi masuk kedalam ruang rawat mikasa. Mikasa pun tersenyum bahagia dan tidak sabar untuk memeluk dan mencium kedua anak kembarnya itu.

Revaille menggendong bayi perempuan dan memberikannya ke mikasa.

"berikan mereka berdua revaille aku ingin keduanya dalam dekapan ku."

Revaille pun mengabulkan permintaan mikasa dan kedua bayinya itu menangis dan kembali diam saat mikasa menciuminya seakan tahu kalau ibunya kini sedang mendekap mereka dengan hangat.

Eren, armin, jean, sasha, dan connie masuk keruangan mikasa.

"oi, mikasa kau sudah sadar ?" sapa sasha ke mikasa.

"halo sasha. Iya aku sudah sadar. Kemarilah lihat mereka sangat lucu ya." Mikasa tersenyum mengatakannya.

Dan wajah jean Nampak seperti sangat kagum melihat mikasa tersenyum.

"eren, armin, dan yang lainnya kesini juga." Pinta mikasa dan mereka semua mengabulkannya.

"bayi laki-laki itu mirip kopral revaille dan yang perempuan mirip kau mikasa." Ucap connie.

"ah terima kasih connie pujiannya." Balas mikasa.

Eren mendekati mikasa dan mencium kening mikasa. Sontak semuanya kaget terkecuali revaille hal seperti itu wajar saja karna eren merupakan saudara mikasa. Dan mikasa membalasnya dengan senyuman.

"kau akan menamainya siapa mikasa ?" Tanya armin.

"kalau untuk yang laki-laki akan ku berimana dia levi junior dan untuk yang wanita akan ku beri nama Carla. Apa kau setuju revaille ?"

"aku setuju mikasa."

"Carla itu nama ibu ya mikasa." Ucap eren mendengar mikasa menamai anaknya sama dengan nama ibunya.

"iya eren."

.

.

.

Mikasa sudah kembali kerumahnya dengan keluarga kecilnya yang baru. Eren dan yang lainnya selalu datang berkunjung setelah mereka selesai latihan untuk bermain bersama Carla dan levi junior. Seperti hari ini semua hadir begitu pula dengan hanji dan Irvin.

"revaille, mikasa boleh anak kalian aku jadikan penelitian ?" Tanya hanji dengan semangat yang mengebu-gebu.

"bodoh!" revaille sambil penjitak hanji.

"mereka sangat menggemaskan aku sangat ingin mempunyai anak seperti mereka juga." Hanji merengek kali ini.

"kau menikah saja dengan Irvin."

DEG. Sontak hanji terdiam dan Irvin menjadi salah tingkah.

"revaille, kau berkata apa?" Tanya Irvin malu-malu.

"kau tidak ingin segera menikahi hanji ?" Tanya revaille.

Dan hanji mengalihkan pembericaraan itu dengan menggendong bayi laki-laki revaille dan sontak bayi itu menangis dan revaille langsung merebutnya dan mencoba menenangkan anaknya itu setelah tenang revaille menaruhnya ditempat tidur dan terus mengawasi tingkah laku aneh hanji ke anaknya.

Mikasa berdiri disudut ruangan dan melihat keseleuruh ruangan yang dipenuhi kebahagian.

Eren dan sasha yang berebut untuk menggendong Carla. Dan armin coba menengahi keduanya.

Jean dan connie yang sedang sibuk menggambar untuk menjadi hiasan dikamar levi junior dan Carla.

Revaile yang terus mengawasi tingkah laku hanji.

Hanji yang mencoba meledek revaille dan Irvin yang hanya tersenyum melihat kelakuan anak buahnya.

Momen ini sangat indah dan mikasa ingat dia menyimpan sebuah kamera di lemarinya. Lalu ia mengambil kamera itu.

"hai kalian bagaimana kalau kita foto bersama ?" mikasa sambil memegang kamera.

"ide bagus." Sahut sasha.

"untuk pertama aku, revaille, Carla, dan levi junior akan foto bersama untuk foto keluarga kami yang pertama apa ada yang bersedia memfotokan ?" Tanya mikasa ke semua.

"baiklah aku saja." Jean menawarkan diri.

Setelah itu mikasa menggendong Carla dan revaille menggendong levi junior .

"baiklah setelah aku bilang 3 kalian tersenyum ya." Pinta jean.

"baiklah." Jawab mikasa.

"1…2…3 senyum."

Semua bergantian untuk berfoto sampai akhirnya mereka foto bersama-sama dan itu momen indah yang tidak akan pernah hilang dalam ingatan semua yang ada disini.

Lagi-lagi mikasa berdiri disudut ruangan dan ia teringat bagaimana pertama ia bertemu revaille dan rasanya ingin sekali membunuhnya karna kelakuannya pada eren tetapi lambat laun semua berubah saat revaille menolong mikasa dan mikasa mendapatkan penolakan dari eren. Revaille datang dan menyatakan perasaannya sampai akhirnya mikasa hamil lalu revaille melamar dan menikahinya.

Sadar mikasa yang beridri disudut ruangan revaille menghampiri mikasa.

"kau bahagia mikasa ?" Tanya revaille ke mikasa.

"tentu, sangat bahagia. Kau bagaimana ?" mikasa bertanya kembali ke revaille.

"aku pun sama. Semuanya bagaikan mimpi indah namun ini kenyataan."

"revaille." Mikasa memeluk revaille.

"terima kasih mikasa untuk semua kebahagian ini." Revaille berbisik ditelinga mikasa.

"aku mencintai mu revaille."

"aku juga mencintai mu, mikasa."

Lalu revaille mencium bibir mikasa.