Chapter 7
.
.
.
Sudah seminggu lebih Mark tidak pernah lagi datang ke rumah sakit untuk menjenguk Jaemin. Mark telalu takut untuk menghadapi kenyataan bahwa semua yang dialaminya hanyalah mimpi. Dan dia takut jika Jaemin menolak kehadirannya. Dia masih menanyakan kepada ibunya perihal keadaan Jaemin dan dia mendapat kabar bahwa Jaemin sudah keluar dari rumah sakit seminggu setelah dia sadar, tepatnya dua hari lalu. Ibunya bahkan berkata bahwa ini seperti keajaiban. Jaemin tidak pernah menunjukkan tanda-tanda akan sadar, justru keadaanya sempat memburuk. Namun setelah Mark datang kesana tiba-tiba Jaemin terbangun. Ibunya tak lupa menanyakan bagaimana Mark tahu tentang Jaemin. Apa hubungan Mark dengan Jaemin karena jujur ibunya tidak pernah melihat Mark mengkhawatirkan seseorang seperti kepada Jaemin. Tapi Mark hanya mengatakan kalau mereka satu sekolah dan tidak lebih. Jika ibunya bertanya lebih lanjut maka Mark akan cepat-cepat mengalihkan pembicaraan mereka.
Ibunya sudah jarang lembur sehingga bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Mark dan memasakkan makan malam untuk Mark sehingga mark tidak perlu lagi menghabiskan malam-malam dengan makanan sisa sarapan, mie instan ataupun delivery food. Ibunya juga sudah mulai berkomunikasi lagi dengan ayah Mark. Walaupun kemungkinan mereka untuk rujuk sangat kecil, paling tidak hubungan mereka tidak sedingin dulu bahkan ayah Mark juga berjanji untuk berkunjung di akhir pekan.
Kehidupan sosial Mark juga jauh lebih baik sekarang. Sejak Mark bergabung dengan club rap, teman-temannya tidak ada yang berani membully atau mengejek Mark lagi. Karena club rap merupakan club yang cukup prestigius di sekolah mereka selain club dance. Club rap mereka sering memenangkan kompetisi rap antar sekolah dan kerap mengisi Pensi. Para siswa mengagumi dan menyegani anggota club rap. Apalagi tampang ketua club, Lee Taeyong yang mengintimidasi membuat tidak ada siswa yang berani macam-macam dengan anggota mereka karena takut akan dilaporkan kepada Taeyong. Walaupun Mark bukanlah tipe pengadu, tapi teman-teman sekelasnya tetap saja was-was. Para siswi pun banyak yang mulai menaruh perhatian kepada Mark sejak penampilannya berubah. Mereka mulai bersikap ramah terhadap Mark bahkan ada yang terang-terangan menyatakan perasaanya kepada Mark yang tentu saja langsung ditolak oleh Mark secara halus. Mark pun mulai mendapatkan teman. Teman-teman satu clubnya seperti Lucas Wong, Park Woojin dan Seo Changbin sering mengajaknya bermain atau berkumpul bersama ketika istirahat maupun pulang sekolah.
Semua hal yang selama ini diimpikan oleh Mark terwujud satu per satu, perhatian kedua orang tuanya, hubungan dengan teman sekolahnya bahkan kepercaya diriannya untuk menjadi seorang rapper. Namun walaupun begitu Mark tetap merasa hidupnya hampa dan kurang. Itu semua karean absennya Jaemin dalam kehidupan Mark. Mark sadar jika teman-temannya menerima dirinya setelah dia berubah. Tapi Jaemin, dia menerima Mark saat dia dalam keterpurukkan. Di saat yang lain memilih untuk memalingkan wajah mereka dari keberadaan Mark, Jaemin datang meraih tangannya dengan senyum ketulusannya. Jaemin yang menerima dirinya apa adanya. Jaemin yang pantang menyerah walupun diacuhkan Mark berkali-kali. Jaemin yang membangkitkan kembali semangat hidupnya. Jaemin yang dirindukannya. Jaemin yang dicintainya. Mark kini sadar bahwa perasaannya kepada Jaemin bukanlah sebatas teman semata. Namun di kala Mark sudah menyadari perasaannya, semuanya harus berakhir.
.
.
.
Mark melihatnya kembali. Mata kopi bersinar dan senyum secerah matahari yang dirindukannya serta wajah manis yang selalu diimpikannya. Namun mata itu tidak menatap ke arahnya dan senyum itu tidak diperuntukkan untuk dirinya.
Na Jaemin. Dia duduk di salah satu bangku di kantin sekolah, bercerita dengan menggebu-gebu penuh semangat kepada Ten, sepupunya yang duduk di sebelahnya.
'Akhirnya dia sudah kembali ke sekolah ya,' batin Mark.
Ingin rasanya Mark berlari dan memeluk Jaeminnya. Namun dia sadar bahwa hal itu tidaklah mungkin. Dan Mark pun berakhir dengan berdiri terdiam dengan nampan penuh makanan di tangannya.
"Hey Mark, ngapain bengong disini?" Taeyong yang kebetulan lewat menanyai dirinya.
"Eh, nggak papa hyung. Cuma bingung mau duduk dimana. Tempatnya penuh," sahut Mark asal. Tidak mungkin dia bilang kepada Taeyong kalau dia sibuk memperhatikan Jaemin.
"O kalo gitu duduk aja di meja gue. Masih ada satu kursi kosong. Sekalian gue kenalin sama temen gue," ajak Taeyong.
"Beneran nih cuma temen?" goda Mark yang tahu jika ketua rap nya ini sedang dilanda gosip sedang dekat dengan salah satu anak club dance.
"Sialan loe. Udah yuk gabung aja."
"Beneran nih, takutnya nanti ganggu."
"Nggak, loe tenang aja. Lagipula kalaupun keganggangu bukan gara-gara loe juga kali. Soalnya udah ada pengganggu duluan, malah loe bakal jadi penyelamat gue buat ngalihin perhatian si pengganggu hehehe," paksa Taeyong sembari menarik tangan Mark. Mark yang tidak bisa menolak lagi hanya bisa mengekori Taeyong walaupun dia bingung siapakah pengganggu yang dimaksud oleh Taeyong. Tapi ternyata pepatah yang mengatakan bahwa dunia tidak selebar daun kelor itu salah besar. Dunia memang sesempit daun kelor. Betapa terkejutnya Mark ketika diantara puluhan meja dan bangku di kantin sekolah ini, Taeyong justru menyeretnya ke meja Jaemin. Belum sempat Mark melarikan diri, Taeyong sudah terlanjur berkata,
"Ten, Mark biar gabung kita ya, dia gak dapet tempat duduk," ujar Taeyong sambil menempatkan dirinya duduk di depan Ten. Ucapan Taeyong jelas membuat kedua siswa yang sedang asik mengobrol itu mendongakkan kepala mereka. Mark mulai panik. Ten tentu mengenalinya. Bagaimana jika Ten dia bertanya soal hubungan dengan Jaemin. Namun kekalutan Mark langsung berhenti ketika netranya betabrakkan dengan mata kopi Jaemin. Pikiran Mark langsung kosong dan dia hanya mampu terpaku, hanyut oleh pesona mata kopi Jaemin.
"Boleh, silahkan duduk aja," jawab Ten yang langsung membuat Mark tersadar.
"Ii-iya makasih sunbae," jawab Mark dengan sedikit tergagap sembari duduk di depan Jaemin seraya berharap agar Ten tidak mengingatnya.
"Mark kenalin ini Ten, ehem pacar gue, ketua dance club," kata Taeyong. "Terus yang ini Jaemin, sepupu Ten. Dia baru masuk hari ini."
"Kita udah kenal koq. Dia kan temennya Nana," sahut Ten dengan santai sambil tersenyum yang tidak kalah manisnya dengan Jaemin. Nampaknya semua orang di keluarga mereka memang memiliki senyum yang indah.
"APA?" Jaemin tampak terkejut dengan penuturan Ten. Kepalanya menoleh secepat kilat ke arah Ten dan matanya menatap Ten penuh kebingungan yang menuntut tanya.
"Iya, Mark. Dia temanmu kan, Na?" ujar Ten masih dengan mata polosnya.
Mark tahu dia harus melakukan sesuatu sebelum ada masalah baru lagi. Jadi sebelum Jaemin menjawab atau Ten berbicara hal-hal lainnya lagi maka dengan terburu-buru dia berkata, "Aduh maaf hyung, aku baru ingat aku ada janji sama Lucas latihan basket. Aku pergi dulu hyung, udah telat banget ini."
Mark langsung berdiri dan berlari dengan tergesa-gesa hingga dia melupakan makanannya. Jujur Mark belum siap jika ditanya bagaimana dia bisa kenal Jaemin sedangkan Jaemin sendiri tidak mengingatnya. Walaupun Mark mengatakan yang sebenarnya, Mark yakin mereka tidak ada yang percaya. Mereka akan berpikir jika Mark hanya bermimpi. Atau yang lebih parah lagi mereka akan berpikir kalau dia berhalusinasi atau gila.
TBC
.
.
I'm so sorry…..seharusnya chapter ini jadi chapter terakhir, tapi ternyata panjang banget dan harus dipotong. Next chapter kemungkinan besar beneran jadi the last chapter (kali ini gak mau asal janji jadi pake kemungkinan aja). Semoga kalian mau nungguin ya. Anyway makasih banyak ya buat yang udah baca dan review di chapter-chapter sebelumnya. Jangan lupa review lagi buat chapter ini ya.
-Ang-
