31 Desember, 2016

Ujung mantel tebal milik Taehyung menyentuh tanah berlapis salju saat ia duduk di depan sebuah makam. Dengan sebuah senyum tipis, jemarinya mengusap pelan nisan di depannya. Sebenarnya, Taehyung merasa tidak pantas berada di depan makam yang ia kunjungi hari ini. Figur yang kini terbaring damai di hadapannya, terlalu banyak mengorbankan segala sesuatunya untuk Taehyung. Meskipun caranya salah, setidaknya ia berusaha sekuat mungkin supaya Taehyung bahagia.

"Appa, ini Taehyung-ie. Maaf baru sempat mengunjungi appa setelah sekian lama," Taehyung berbisik selirih hembusan angin musim dingin, "Kemarin aku berulang tahun, dan appa pasti ingat itu. Dan hari ini, Jimin akan menikah…" Ia menarik napas berat sebelum menggigit bibirnya sendiri.

"Appa, seandainya saja appa mau bersabar menungguku mengetahui segala sesuatu yang sudah terjadi, mungkin hari ini appa bisa mendapatkan keringanan untuk menghadiri pernikahan Jimin. Lagipula, Jungkook sudah memaafkan appa…"

Taehyung kemudian terdiam, tetapi jemarinya masih belum berhenti mengusap permukaan dingin nisan yang menghiasi makam Ayahnya. Hembusan napas Taehyung kembali terdengar ketika semua memori dalam otaknya kembali berputar dengan durasi pelan yang beruntun.

"Taehyung-hyung," Panggilan sehalus genta angin dari Jungkook mengalihkan atensi Taehyung dari mengingat semua memorinya. Ia mengulum sebuah senyum ketika figur yang lebih muda darinya berjalan mendekat.

"Pemberkatannya sebentar lagi, pendamping pengantin tidak boleh terlambat kan ?" Jungkook membantu Taehyung untuk berdiri lewat uluran tangannya, kemudian ia membungkuk ringan ke arah makam Ayah Taehyung.

"Maaf, ternyata aku terlalu lama disini dan membuatmu menunggu," Taehyung menepuk lembut puncak kepala Jungkook, dan yang lebih muda kemudian menggeleng pelan.

"Tidak, lagipula aku juga harus memberi salam kepada Paman Kim. Selamat pagi, Paman…" Jungkook mengulas senyum ceria dan menular secara langsung kepada Taehyung. Ia kemudian menautkan jemarinya di sela-sela ruang jemari Jungkook yang kosong, kemudian menarik genggaman tangan mereka ke dalam saku mantelnya.

"Ayo, lain kali kita bisa mengunjungi appa lagi. Jimin dan Yoongi-hyung sudah menunggu di katedral…"


A Vkook/TaeKook Fanfiction

(Kim Taehyung x Jeon Jungkook of BTS)

.

An Epilogue for 여름방학(Once Again)©peachpeach

.

Too-much-drama, R-18, pointless, etc.

.

All cast belongs to God, themselves, family and management. Story line is mine. No profit taken.

.

We could built an universe right here

The world could dissapear,

I just need you near.

[Zara Larsson – Uncover]

.

.

Januari, 2002

"Taehyung-ah, eomma memanggil untuk makan malam…" Taehyung mendengar Jimin yang memanggilnya untuk turun dan makan malam, tapi Taehyung sama sekali tidak berniat membuka pintu kemudian turun dengan sebuah senyuman bersama Jimin menuju ruang makan. Pintu kamarnya di kunci rapat, jendela tertutup tirai, hanya lampu tidur yang dinyalakan, dan pendingin ruangan diatur pada titik terendah, padahal hari ini Seoul sedang berada pada musim dingin yang menyiksa.

Taehyung bergelung dalam selimut hangat berwarna turqois sembari menggenggam erat sepusuk surat dengan tulisan yang sangat ia kenali. Di atas meja belajarnya, sebuah kotak berwarna cokelat terbuka dan memamerkan kamera Canon seri EOS D60 di dalamnya.

Selamat Tahun Baru, jagoan Appa !

Ah, ya…selamat ulang tahun juga, jagoan !

Appa tidak terlambat bukan untuk mengucapkan selamat ?

Appa sekarang berada di Wina, bekerja untuk bisa menemui Taehyung-ie suatu hari nanti.

Maaf jika Appa tidak bisa menemani ulang tahun Taehyung-ie untuk yang kesekian kalinya.

Tapi doa terbaik untuk Taehyung-ie selalu Appa panjatkan.

Semoga Taehyung-ie bisa menjadi lebih baik lagi tahun ini dan seterusnya.

Appa sayang, Taehyung-ie

ps : Appa kirimkan kamera untukmu, kalau sempat, kau bisa minta tolong Ayah Jimin untuk mengirim hasil potretnya kepada Appa.

Semoga kau suka !

Sekali lagi, selamat ulang tahun dan Tahun Baru, jagoan !

Taehyung menghela napas sekali lagi, dalam hatinya bimbang bukan main. Ia hanya remaja tanggung dan ini pertama kalinya ia mengetahui kabar mengenai Ayahnya setelah dua tahun ditinggalkan. Taehyung sebenarnya rindu pada Ayahnya, tapi ia juga masih menyimpan rasa marah untuk Ayahnya. Jika bukan karena Ayahnya pergi untuk bekerja, Ibunya mungkin tidak akan pergi bersama orang lain dan meninggalkan Taehyung sendirian. Tapi surat yang datang bersama sebuah kamera keluaran terbaru yang harganya tidak murah, Taehyung diam-diam ingin menangis sambil memeluk Ayahnya dan berkata maaf dan terima kasih sebanyak mungkin.

"Taehyung-ie, kau sudah tidur ?" Ketukan dari luar kamarnya kembali terdengar, kali ini Ibu Jimin yang berusaha membujuknya untuk turun dan makan malam. Tapi Taehyung kembali menghiraukannya. Ia kemudian berusaha memejamkan matanya setelah selesai berdoa, mencoba untuk terlelap dengan sepucuk surat dalam genggamannya. Sepucuk surat penyambung rindu dengan Ayahnya yang berada pada belahan bumi yang berbeda dengannya.

"Appa, cepat pulang. Taehyung-ie rindu Appa…"

여름방학(Once Again)©peachpeach

"Mereka bahagia sekali ya," Jungkook berbisik samar pada dirinya sendiri di tengah hiruk pikuk pesta resepsi pernikahan Jimin dan Yoongi hari ini. Manik kembarnya juga berbinar senang ketika melihat keduanya berputar di atas lantai dansa dan mengikuti irama musik. Jungkook juga dapat menangkap semburat merah muda di bawah lapisan kulit putih Yoongi ketika Jimin memutar tubuhnya kemudian melabuhkan satu kecupan ringan di hidungnya. Taehyung diam-diam tersenyum saat ia mendengar bisikan pelan Jungkook. Ia yakin, jika Jungkook mengira bahwa tidak ada yang mendengarkan bisikan pelannya.

Taehyung kemudian menggeser posisi duduknya supaya lebih dekat dengan Jungkook, "Semua orang pasti bahagia saat mereka menikah dengan orang yang mereka cintai…"

"Huh ?" Jungkook mengerjap pelan, atensinya untuk mengamati Jimin dan Yoongi teralihkan. Taehyung masih mempertahankan senyum di bibirnya, kemudian membawa tangan Jungkook untuk di genggam.

"Aku juga ingin seperti mereka," Iris kelam Taehyung tampak menerawang, sedangkan Jungkook masih belum mengerti apa yang hendak Taehyung sampaikan kepadanya.

"Setelah Yoongi mengatakan terapiku menunjukkan hasil yang signifikan, aku pasti akan menikahimu…" Satu kecupan pada punggung tangan Jungkook membuatnya berdeham canggung dengan semburat merah muda di pipinya, sama seperti Yoongi.

"Hyung harus fokus terlebih dahulu dengan terapinya, jangan pikirkan hal lain dulu. Masalah menikah, uhm—aku bisa menunggu kan ?"

"Aku selalu membuatmu menunggu ya ?" Jungkook menggeleng, ia kemudian mengusap lembut punggung tangan Taehyung yang kini semakin erat menggenggam tangannya.

"Tidak, tidak apa-apa jika aku menunggu. Lagipula, jika imbalannya adalah bahagia denganmu, semua tidak masalah. Kita sudah melewati banyak hal, dan aku yakin jika kita bisa melewati apapun yang terjadi di masa depan…" Taehyung menghela napas pelan, dalam hatinya ia bersyukur jika Jungkook yang sekarang di hadapannya adalah figur baru dengan segala kedewasaan sikapnya.

"Mhm, mau jalan-jalan setelah ini ?" tawar Taehyung.

"Kemana ?"

"Kemana saja, mengingat ketika kita pergi kabur dengan mobil pinjaman ?" Jungkook tersenyum, kemudian mengangguk setuju. Ya, Taehyung bisa membawanya kemana saja. Asal ada Taehyung, Jungkook yakin pasti semuanya akan baik-baik saja.

여름방학(Once Again)©peachpeach

Pertengahan musim semi, 2016

Jungkook menata semua dokumen yang ia bawa di atas meja Taehyung. Ia juga mengeluarkan sebuah kaset yang sepertinya berisi rekaman suara. Sudut mata Taehyung tampak meruncing ketika ia menangkap sebaris kalimat yang tertera pada kop dokumen yang di bawa oleh Jungkook.

"Perlindungan saksi ?" Napas Taehyung terdengar tercekat ketika ia mendapati Jungkook mengangguk pelan, membenarkan perkataan Taehyung. Taehyung meraih selembar dokumen yang paling dekat dengannya dan membacanya dengan cepat.

"Katakan padaku, kau terlibat kasus kriminal apa hingga membuatmu masuk dalam daftar Lembaga Perlindungan Saksi ?" Jungkook tidak menjawab dengan segera, ia hanya menyodorkan sebuah dokumen lagi ke arah Taehyung.

"Kasus mark-up dana perusahaan dan—" Jungkook menghela napas pelan dan menatap Taehyung dengan matanya yang berair, "—Pembunuhan berencana yang menghabisi seluruh anggota keluargaku."

"A-apa ?! Kau—" Kata-kata Taehyung tertahan di ujung tenggorokannya dan genggamannya pada kertas dokumen yang menjadi semakin erat, sedangkan Jungkook menatapnya dengan mata berair dan bibir bergetar menahan tangis. Pandangan Taehyung kemudian beralih dari iris Jungkook menuju barisan kalimat penyusun dokumen yang sekarang berada di tangannya.

Hanya perlu beberapa detik untuk Taehyung menjatuhkan kertas dokumen dalam genggamannya dan menggeleng panik, "Tidak, tidak…Ayahku tidak mungkin melakukan itu ! Ayahku sedang bekerja di Wina ! Jangan mengarang cerita untuk melindungi dirimu sendiri Jeon Jungkook !" Taehyung berdiri, kemudian berjalan mendekat ke arah Jungkook dengan penuh peringatan pada iris gelapnya.

"Katakan padaku, katakan padaku jika Ayahku tidak membunuh seluruh anggota keluargamu !" Taehyung berteriak tepat di depan wajah Jungkook, sedangkan pergelangan tangannya digenggam terlalu erat dan menyakitkan. Jungkook bisa saja membanting Taehyung dengan seluruh ilmu bela diri yang ia pelajari selama berada dalam program perlindungan saksi, tapi pemuda yang lebih muda dari Taehyung itu hanya bisa terisak dengan pandangan terluka yang paling dalam.

"Hyung, sakit—tolong, lepaskan. Biar aku bisa menjelaskan semuanya," Rahang Taehyung mengeras, ia melihat jika air mata Jungkook mulai turun membasahi pipi. Ia mengerjap pelan, kemudian melepas pergelangan tangan Jungkook dengan sorot mata yang tak terbaca. Ia menyesal ketika air mata Jungkook masih turun membasahi pipi. Dalam hati, Taehyung mengutuk dirinya sendiri yang sama sekali tidak bisa mengontrol emosinya dan menyakiti Jungkook lagi.

Jungkook menyentuh perlahan punggung tangan Taehyung, membimbing figur yang lebih tua untuk duduk di sampingnya.

"Hyung pasti tidak pernah percaya setelah aku pergi meninggalkan hyung delapan tahun yang lalu. Tapi yang hyung lihat sekarang, semuanya adalah fakta. Semua dokumen yang aku bawa asli, dan aku sama sekali tidak mempunyai niat untuk mengarang cerita. Apalagi hanya untuk melindungi diriku, aku hanya terlalu lelah terus bersembunyi tanpa tahu kondisimu…"

"Jadi, benar jika Ayahku adalah seorang pembunuh ? Lalu, kenapa kau masih mau menemui anak dari seseorang yang telah mengambil nyawa seluruh keluargamu tanpa ampun ? Aku—bahkan, mungkin saja bisa membunuhmu, Jungkook-ah." Taehyung berbisik lirih, bibirnya mengulum sebuah senyum miris, dan manik kembarnya tampak penuh rasa kebingungan yang besar. Jungkook tidak menjawab, ia hanya menggigit bibir bawahnya sendiri. Telapak tangannya menangkup kedua sisi wajah Taehyung, dan ibu jarinya mengusap lembut air mata Taehyung yang turun dengan sendirinya.

Jungkook mendekatkan wajahnya, mengecup bibir bergetar Taehyung dengan pelan. Ia semakin terisak ketika ia mengulum lembut bilah apel Taehyung dan merasakan air mata mereka berdua. Jungkook bertahan dalam posisinya, ia meremas kuat bagian depan jaket Taehyung saat pinggangnya ditarik semakin dekat.

"Kenapa saat itu kau tidak langsung datang padaku, hmm ? Kita tidak akan berakhir menyakiti diri kita sendiri selama delapan tahun, Jungkook-ah…" Taehyung berbisik tepat di atas bibir Jungkook yang terbuka usai tautan mereka terlepas. Suaranya masih serak dan terdengar pedih, jadi Jungkook hanya bisa memeluk erat tubuh Taehyung yang masih belum berhenti bergetar.

"Aku…positif mengalami anxiety disorder ketika kau pergi. Saat itu bahkan aku sama sekali tidak tahu harus melakukan apa untuk mencari dan menemukanmu kembali. Aku selalu hidup dalam ketakutan dan rasa cemas berlebihan setiap harinya," Taehyung menarik napasnya dalam-dalam, kemudian menyembunyikan kepalanya pada lekukan leher Jungkook.

"Maaf hyung, maaf jika aku menyebabkan semua kesulitan bagimu. Aku—aku hanya tidak siap menghadapimu saat itu. Aku terlalu pengecut untuk menemuimu dan memilih untuk kabur dari kenyataan yang seharusnya aku hadapi."

Taehyung memejamkan matanya, ketika usapan Jungkook pada punggungnya berangsur-angsur menenangkan irama detak jantungnya yang kacau. Taehyung merasakan bahunya basah, tapi itu sama sekali tidak masalah. Ia memiliki Jungkook dalam pelukannya sekarang, meskipun semua fakta tentang masa lalu kelam mereka masih sangat samar baginya.

Jungkook menarik dirinya sendiri setelah beberapa menit bertahan dalam posisinya, ia kemudian menggenggam pergelangan tangan Taehyung.

"Putusan vonis hakim sebenarnya adalah penjara seumur hidup, tapi Ayahmu memilih bunuh diri. Tiga hari setelah beliau menemuiku. Dan, beliau menitipkan ini padaku lewat polisi yang sekarang merupakan kerabatku…" Sebuah amplop dengan ukuran lebih kecil ditarik keluar dari saku celana denim Jungkook, "Ini masih tersegel dengan rapat selama delapan tahun, jadi aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya."

"Ayahku memang selalu menulis surat untukku semenjak ia pergi meninggalkan aku," Taehyung menerima amplop yang disodorkan oleh Jungkook, kemudian menatap lurus manik kembar Jungkook.

"Mungkin maaf tidak akan pernah cukup untuk semua yang Ayahku lakukan padamu," Gelengan pelan diterima Taehyung dari Jungkook dan genggaman tangannya semakin erat.

"Mungkin setelah kau membuka surat dari beliau, kau akan mengerti kenapa Ayahmu melalukan hal tersebut. Jauh dalam hati terdalamku, aku telah berdamai dengan masa lalu dan memaafkan Ayahmu…"

여름방학(Once Again)©peachpeach

Malam seusai pesta resepsi pernikahan Jimin dan Yoongi selesai, Taehyung membawa Jungkook menyusuri sepanjang jalanan Seoul menuju Busan. Mereka menyempatkan diri untuk berhenti sejenak di sebuah coffee shop untuk memesan dua gelas latte hangat berukuran medium, air mineral, dan kukis cokelat jahe. Mereka melewati jalanan Seoul yang sama sekali tidak menunjukkan kata lelah meskipun hari telah beranjak semakin tua. Sepanjang jalan, mereka juga melihat banyak sekali billboard dengan wajah Jungkook dan Wonwoo untuk promosi musim dingin brand clothing milik Seokjin. Ia bersyukur, setidaknya tidak terjebak macet karena agenda perayaan malam tahun baru.

Taehyung menepikan mobilnya tepat di samping dermaga pelabuhan Busan yang berada paling ujung, sedangkan Jungkook tampak terlelap di kursi penumpang. Taehyung mengulum sebuah senyum, kemudian melepas sabuk pengamannya dan membetulkan letak mantelnya yang menutupi tubuh Jungkook dengan hangat. Mereka baru sampai ketika jam digital pada dashboard mobil Taehyung menunjukkan pukul sebelas malam. Jungkook sudah tertidur ketika mereka baru menempuh setengah perjalanan. Latte mereka bahkan sudah dingin dan masih tersimpan pada glass container.

Ia menurunkan kaca jendela mobilnya sedikit, membiarkan angin musim dingin dari laut membuat tidur Jungkook semakin lelap. Taehyung menumpukan dagunya pada kemudi, menatap gemerlap lampu dari kapal-kapal besar yang melintas dan terlihat dari tempatnya sekarang. Pikirannya berkelana, memutar kembali banyak peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Terkadang, dalam hatinya, Taehyung sama sekali tidak pernah membayangkan jika hidupnya akan sekompleks ini.

"Hyung…" Jungkook memanggil dengan suara serak khas bangun tidur, ia mengerjap sejenak dan menyadari jika mereka berdua sudah terlalu jauh pergi dari Seoul, "—Ini, dimana ?"

Taehyung tersenyum, kemudian tangannya bergerak merapikan helaian raven Jungkook yang terlihat berantakan, "Kita di dermaga paling ujung pelabuhan Busan. Mau turun atau di sini saja ?" Jungkook meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena posisi tidurnya yang kurang nyaman, kemudian menguap sebentar.

"Ayo keluar saja hyung, aku rindu angin laut Busan…" Jungkook melepas sabuk pengamannya dan menyodorkan mantel Taehyung kembali. Taehyung hanya mengangguk sembari tersenyum, kemudian mengambil sebotol air mineral yang ia beli dalam perjalanan sebelum mengikuti Jungkook untuk turun dan duduk pada ujung dermaga. Jungkook menarik napas dalam-dalam, mambiarkan angin musim dingin Busan memenuhi paru-parunya, lalu mengayunkan sepasang tungkainya yang menggantung di ujung dermaga. Ia mendongak, menatap langit musim dingin yang bebas dari awan hari ini. Taehyung kemudian meyodorkan air mineral kepada Jungkook dan menghabiskan sisanya setelah Jungkook selesai minum.

"Langitnya cerah ya…" Jungkook mengguman samar ketika merasakan Taehyung duduk di sampingnya dan mereka hanya terpisah dengan botol kosong bekas air mineral. Taehyung mengikuti arah pandangan Jungkook dan mengamati langit malam yang menaungi mereka berdua.

"Ya, tapi sayang…konstelasi Winter Triangle tidak terlihat. Padahal langit secerah ini." Satu helaan napas dan membawa uap dingin dari Taehyung terdengar oleh Jungkook, tapi tidak cukup mampu mengalihkan atensinya dari bintang-bintang yang sedang ia amati.

"Tidak apa-apa. setidaknya ada Betelgeuse yang menemani kita malam ini," Telunjuk Jungkook menunjuk sebuah satu bintang di atas langit dan membuat Taehyung tersenyum ketika menemukan bintang yang Jungkook tunjuk.

"Kau masih mengingingat semuanya ?" Tanya Taehyung setelah mengalihkan pandangannya dari langit malam, dan Jungkook menoleh sembari tersenyum ketika pandangan mereka bertemu dalam satu garis lurus.

"Aku menyukai astronomi semenjak hyung mengenalkannya padaku, jadi aku belajar banyak dan mengingat apa saja yang menurutku menarik…"

Taehyung terdiam, manik kembarnya menatap Jungkook dalam-dalam, "Apa saja yang terlewatkan olehku selama delapan tahun ini ?" Jungkook mengerjap pelan, dan menunggu kalimat selanjutnya dari Taehyung, "Yah, kita sudah sepakat untuk memulai semua dari awal dan menyimpan semua memori buruk di masa lalu kita. Tapi aku merasa, ada banyak sekali hal yang aku lewatkan tentangmu dan hidupmu. Semenjak kita bertemu, kita belum memiliki waktu lebih untuk bicara satu sama lain seperti ini."

"Tidak ada yang istimewa, hyung," Jungkook tersenyum tipis. Kemudian iris sewarna hazelnut miliknya kembali menatap si terang dari rasi bintang Alpha Orion, "Aku bahkan menghabiskan waktu hampir dua tahun untuk terapi setelah bertemu Ayahmu dan pergi ke Jepang. Ibuku yang mengusulkan untuk pindah ke Jepang, dengan harapan semoga traumaku sedikit demi sedikit membaik. Tapi, dalam hati kecilku sadar. Jika aku masih saja terus menyalahkan semua yang terjadi dan menyimpan dendam, sampai kapanpun traumaku tidak akan pernah membaik."

"Apa yang kau lakukan di Jepang setelah terapimu berakhir ?"

"Aku melanjutkan pendidikanku yang sempat tertinggal, bekerja paruh waktu di toko buku, dan hal normal lainnya untuk mengalihkan atensiku dari kenangan masa lalu. Sampai Wonwoo-hyung mendapatkan kontrak dari brand clothing milik Seokjin-hyung di Seoul dan memberitahuku jika aku punya kesempatan untuk bertemu denganmu dan menyelesaikan semua salah paham yang membuat kita sama-sama sakit. Sebelumnya, aku tidak punya keberanian sedikitpun untuk mengingat Seoul. Apalagi bayangan bisa menginjakkan kaki lagi disini…"

Jungkook memasukkan kedua tangannya pada saku di sisi mantelnya, membiarkan angin dingin menemani diam mereka yang nyaman. Jungkook sengaja tidak bertanya apapun tentang masa lalu Taehyung, Yoongi menyarankan supaya menunggu Taehyung untuk menunggu dirinya sendiri bercerita kepada Jungkook.

"Kau tidak merasa jika kita sedikit—hmm, canggung ?" ujar Taehyung memecah keheningan. Jungkook tertawa pelan, kemudian mengubah posisi duduknya menjadi lebih nyaman dengan kedua lututnya yang ditekuk dan menumpukan dagunya disana.

"Memang apa yang bisa di harapkan dari perpisahan selama delapan tahun dan kembali bertemu dengan pertemuan pertama yang tidak begitu baik ?" Jungkook mengulum senyum jenaka sembari menumpukan pipinya pada lututnya.

"Mungkin aku satu-satunya orang yang membuat hubungan kita terasa canggung," Taehyung menggaruk tengkuknya dengan kikuk, "Entahlah, bagaimanapun aku masih merasa sangat bersalah dan bingung harus bersikap seperti apa…"

Jungkook mengulum senyum, kemudian menggeser posisinya supaya lebih dekat dengan Taehyung dan membiarkan botol kosong diantara mereka berguling jatuh. Binar cemerlangnya tampak bersinar di tengah keremangan malam musim dingin, ia menangkup kedua sisi wajah tampan Taehyung dengan telapak tangannya yang dingin dan menghiraukan hiruk pikuk perayaan pergantian tahun yang terdengar samar-samar dari tempat mereka. Dengan gerakan perlahan yang seanggun kepakan sayap kupu-kupu, Jungkook mendekatkan wajahnya dan menyentuh bilah apel Taehyung dengan bilah cerinya.

Jungkook yang pertama menjauhkan diri dari kecupan selama beberapa detik tanpa lumatan selembut marshmellow tapi memiliki efek yang begitu dahsyat bagi mereka, sedangkan Taehyung masih mengerjap pelan.

"Apa yang baru saja bisa membuat kita tidak canggung lagi ?" Jarak mereka hanya dipisahkan oleh selapis udara sampai Taehyung menarik pinggang Jungkook dan menghapus spasi diantara mereka dengan kecupan lembut dan lumatan selembut permen kapas di atas ceri Jungkook. Taehyung menghisap bibir bawah Jungkook dengan gerakan lamban yang basah dan membiarkan Jungkook membuka mulutnya untuk mengambil napas. Ia menekan lidahnya pada lidah Jungkook, membelai langit-lagit mulut Jungkook dan dua gigi serinya yang menggemaskan seperti kelinci. Yang lebih muda melenguh pelan serta meremas bagian depan mantel milik Taehyung ketika Taehyung menggigit pelan bibirnya dan membelai lembut sisi wajahnya dengan ibu jari.

Taehyung melepas tautan intim mereka ketika Jungkook menepuk pundaknya karena kehabisan napas. Ia mengusap sudut bibir Jungkook yang basah, membiarkan figur yang lebih muda untuk mengistirahatkan kepalanya di lekuk leher Taehyung dan mengatur napas disana.

"Orang yang canggung satu sama lain tidak akan saling melumat sampai kehabisan napas seperti tadi," Jungkook mengguman pelan dan Taehyung hanya bisa tertawa pelan sembari mengusap punggung Jungkook, "Maaf. Aku hanya tidak bisa menahan diriku, Jungkook-ah. Ini kali pertamanya setelah sekian lama kita tidak bertemu dan tidak dalam kondisi melankolis yang memuakkan…"

"Hyung…" Jungkook mendengung pelan, kemudian mengecup sisi leher Taehyung, "Aku, menginginkanmu—"

. . .

Mereka tidak punya ide yang lebih baik ketika sama-sama saling membutuhkan dan memilih opsi berakhir di kursi belakang mobil Taehyung dengan seluruh kaca tertutup dan menyisakan sedkit celah untuk sirkulasi udara. Jam di atas dashboard mobil Taehyung menunjukkan pukul dua dini hari dan Jungkook berada di atas pangkuannya. Sweater Jungkook sudah tersingkap sampai dada, memamerkan dadanya yang cukup padat dan mengundang jemari Taehyung untuk menjepit gemas putingnya. Tautan Taehyung dibibir Jungkook terlepas saat pemuda tersebut memilih untuk mengecupi sekitar aerola Jungkook, menjilatnya sesekali, atau menghisapnya dengan kuat sampai Jungkook melenguh kencang, bergerak gelisah di atas pangkuan Taehyung, dan menarik helaian bruenette-nya, sedangkan mantel keduanya sudah teronggok tidak berdaya di bawah kursi. Leher putih Jungkook juga sudah penuh dengan ruam kemerahan hasil hisapan kuat Taehyung.

Pinggul Jungkook semakin bergerak antusias ketika menyadari betapa kerasnya Taehyung di bawah sana dan waistband celananya diturunkan dengan cepat oleh Taehyung. Jemari Jungkook meraba cepat untuk mencari zipper celana Taehyung dan membukanya dengan gerakan tidak sabar.

"Hyung—hh," Napas Jungkook memberat saat ujung telunjuk Taehyung menggoda cincin rapatnya, sedangkan Taehyung mengulum sebuah senyum ketika menyadari tubuh Jungkook sama responsifnya seperti delapan tahun yang lalu. Kepala Jungkook mendadak pening dengan semua rangsangan yang Taehyung berikan pada tubuhnya. Ia nyaris menjerit kencang saat telunjuk Taehyung menembus pertahanannya, tapi bibirnya sudah lebih dahulu di bungkam oleh ciuman Taehyung yang membuatnya sekali lagi lupa sekitarnya. Jungkook bahkan sejenak buta untuk bisa membedakan sakit dan nikmat saat telunjuk Taehyung bergerak aktif di dalam tubuhnya yang basah.

Jungkook mengerang, menyebut nama Taehyung dalam setiap tarikan napasnya yang memberat diiringi sentuhan Taehyung yang terasa membakar gairahnya supaya melejit semakin tinggi. Jemarinya kini melingkari bagian tubuh Taehyung yang sudah sangat siap untuknya. Sebelah tangannya ia gunakan untuk meremas pundak Taehyung saat jemari Taehyung bertambah di dalam tubuhnya dan bergerak dengan tempo semakin cepat.

"Tae—hyung…" Jungkook menangis, air matanya turun membasahi kedua pipi putihnya, dan napasnya berdeguk putus asa ketika Taehyung menarik kedua jarinya dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih daripada dua jarinya tadi.

"Jungkook—" Taehyung menggeram rendah, berusaha mendesak lebih dalam tubuh Jungkook dengan rasa sakit seminimal mungkin, walau ia sendiri tahu hal tersebut mustahil mengingat rapatnya kerutan Jungkook, "Jangan diremas terlalu kuat, sweetheart. Relax, nanti semakin perih." Taehyung berbisik, bibirnya mengecupi kening Jungkook yang dibasahi titik-titik keringat.

Taehyung membiarkan Jungkook mengatur napasnya dan membiasakan diri dengan ukuran Taehyung di dalam tubuhnya sebelum memberi izin lewat anggukan lemah. Taehyung mengecup bibir Jungkook yang sudah merekah seperti delima, kemudian mengangkat pinggul Jungkook sedikit lebih tinggi dan membantunya untuk turun kembali.

"Oh !" Jungkook memekik dan kehabisan kata-kata saat gesekan basah dalam tubuhnya terasa terlalu nyata untuk dinikmati saat Taehyung menyentuh titik manisnya di dalam sana dan membuatnya pening. Mereka terus bergerak bersama dalam menit-menit berikutnya, mencari momentum dari setiap gaya dan impuls yang mereka buat untuk mencapai titik tertinggi, sampai fajar muncul di ufuk timur. Menyongsong hari baru untuk mereka. Hari baru dimana hanya ada mereka yang menjadi pribadi baru yang lebih dewasa dan lebih kuat menghadapi dunia. Hari dimana mereka akan menjaga satu sama lain dan belajar dari rasa sakit yang pernah mereka rasakan di masa lalu.

여름방학(Once Again)©peachpeach

Taehyung yang pertama kali membuka mata saat pagi hari menyambutnya di hari berikutnya dan di tahun yang baru. Ia menggeliat pelan, terdiam beberapa saat sebelum ia sadar jika berada dalam kamarnya di apartemen dan Jungkook berada dalam pelukannya. Kemudian ia mengecup kening Jungkook yang masih terlelap di sampingnya. Ia mengulum senyum ketika mengingat momen yang mereka habiskan di Busan kemarin malam. Ia menaikkan selimut sampai leher Jungkook, kemudian turun dengan gerakan sepelan mungkin menuju kamar mandi dan tidak bermaksud membangungkan Jungkook.

Taehyung baru saja akan menarik sebuah kaus lengan panjang dari dalam lemarinya seusai mandi, tapi kemudian atensinya beralih pada sebuah kotak yang di letakkan pada bagian paling bawah lemari. Ia menunduk setelah memakai kausnya, kemudian menarik kotak tersebut dari dalam sana. Taehyung baru menyadari jika semua dokumen perlindungan saksi Jungkook tidak ia letakkan di dalam kamar rahasianya, melainkan di bagian bawah lemari pakaian. Ia menemukan sebuah amplop yang baru saja ia ingat jika itu titipan Ayahnya yang diberikan kepada Jungkook.

Dengan langkah perlahan, Taehyung membawa amplop tersebut ke arah jendela besar yang masih tertutup tirai. Ia menyingkap sedikit tirainya dan membuat secercah cahaya masuk. Taehyung membuka segel amplopnya dengan hati-hati, kemudian menarik secarik kertas di dalamnya.

Juli, 2009

Taehyung, appa menulis surat ini saat Seoul sedang dalam musim panas yang terik. Mungkin saat surat ini sampai padamu, kau sedang menikmati sarapan bersama Jungkook atau menghabiskan waktu jelas, appa sudah pergi terlalu jauh

Taehyung-ah, appa hanya ingin minta maaf atas semua yang appa perbuat selama ini. Kau mungkin tidak akan menerima fakta jika appa adalah seorang pembunuh. Apalagi, appa adalah pembunuh seluruh anggota Keluarga Jeon—kekasihmu. Tapi appa yakin, jika Jungkook bisa menjelaskan semuanya kepadamu.

Ada banyak hal yang tidak kau ketahui di balik tindakanku yang di butakan oleh dendam. Salah satunya affair yang dilakukan oleh eomma-mu dan Ayah Jungkook. Seharusnya appa berpikir lebih jernih, dan tidak mengikuti amarah.

Jika appa berpikir lebih jernih, mungkin appa akan melihatmu di altar bersama Jungkook.

Appa tidak bisa memberikan apapun padamu, Nak. Appa hanya menginginkan putranya bahagia, tapi apa yang appa lakukan adalah salah.

Satu-satunya yang appa bisa lakukan untuk yang terakhir kalinya adalah menitipkanmu pada Jungkook.

Appa tahu, jika kalian saling mencintai dan appa sama sekali tidak mempermasalahkan itu.

Hiduplah bahagia dengan Jungkook. Saling menjagalah dengan segenap cinta yang kalian miliki.

Sampaikan terima kasih appa kepada Paman Park dan keluarganya. Juga kepada Jungkook yang telah memaafkan dan bersedia memenuhi permintaan dari seseorang yang telah membunuh seluruh anggota keluarganya.

Appa menyayangi Taehyung-ie, selamanya.

"Hyung, menangis…" Taehyung cepat-cepat menghapus air matanya ketika Jungkook memeluknya dari belakang. Ia melipat kertas yang dipegangnya sebelum mengubah posisinya untuk menghadap Jungkook dan menghadiahi sebuah senyum kepada figur yang lebih muda.

"Sudah bangun rupanya," Jungkook membalas senyum Taehyung, kemudian memeluk Taehyung dengan erat.

"Hyung, ingat kata-kataku dulu ? Jangan pernah membenci seseorang tanpa tahu alasan di balik semuanya. Pandanglah sesuatu dari dua sisi yang berbeda, maka hyung akan menemukan kesimpulannya tanpa membuat salah satunya menerima vonis benar atau salah." Jungkook menarik napasnya dalam-dalam, "Ayahmu sangat mencintai dan menyayangimu. Aku sudah menceritakan semua alasan kenapa Ayahmu melakukan itu sebelum kau membaca surat darinya. Sekarang, yang perlu kita lakukan adalah memenuhi permintaannya."

Taehyung mengangguk, kemudian mengecup puncak kepala Jungkook dengan penuh kasih.

"Terima kasih untuk segalanya, Jeon Jungkook. Terima kasih telah kembali pulang kepadaku dan mau memulainya lagi dari awal. Terima kasih karena telah memenuhi permintaan Ayahku. Terima kasih karena telah memilihku. Aku memang tidak bisa menjanjikan semesta padamu, tapi satu yang perlu kau tahu. Aku, mencintaimu…"


*END*

a/n : yas ! Selesai yaa epilog-nya XD

Maafkan diriku yang kemarin gagal mengeksekusi ending TT

Setelah ini aku bakalan hiatus, karena banyak alasan personal.

Terima kasih sudah mendukung cerita ini dari awal~ ^^

Aku sayang kalian :3