Remake dari Novel milik E.L James.

Fifty Shades of Choi.

Rate : T, BL, Romance, OOC.

Choi Siwon x Cho Kyuhyun.

Disclaimer : Cerita asli milik EL James, saya hanya meremake dengan citarasa Korea.

~Fifty Shades of Choi~

Siwon membuka pintu penumpang audi hitam, aku merangkak masuk ke dalam mobil. Dia tidak menyinggung sama sekali luapan gairah yang meledak di lift. Haruskah aku mengungkitnya? Haruskah kita membicarakan tentang hal itu atau berpura-pura bahwa hal itu tak pernah terjadi? Aku melirik dia. Siwon sedang dalam kondisi biasa, dia tenang dan sedikit menjauhkan diri.

Dia menyalakan mesin lalu keluar dari tempat parkir. Kami masih saling diam dan kecanggung semakin jelas terasa. Tiba-tiba terdengar dering ponsel dari speaker phone di mobil Siwon. "Iya." bentak dia, dia begitu kasar.

"Mr. Choi, aku punya informasi yang kau butuhkan." Sebuah suara, suaranya terdengar serak.

"Bagus, kirim segera padaku!''

Dia menekan tombol end maka panggilan berhenti. Tidak ada selamat tinggal atau terima kasih, dia terlalu mengontrol dan dingin pada karyawannya. Dering telepon kembali berbunyi, dia kembali bicara dengan penelepon lalu menutupnya. Belum lama, telepon masuk kembali berdering. Apa ini hidupnya? Panggilan beruntun datang dan sepertinya tidak ada kata istirahat.

"Hai, Siwon. Apakah kau bercinta semalam?"

"Halo, Zhoumi. Aku tidak sendirian di mobil dan panggilan di speaker.'' Desah Siwon.

"Kau dengan siapa, Siwon?"

Siwon memutar matanya. "Kyuhyun Cho."

"Hai, Kyuhyun!"

Zhoumi bicara padaku? Pria yang semalam menari dengan Henry.

"Halo, Zhoumi." Aku bicara canggung.

"Aku sudah mendengar banyak hal tentangmu." Gumam Zhoumi parau, Siwon terlihat mengerutkan kening.

"Jangan percaya pada kata-kata Henry.''

Zhoumi terdengar tertawa, tapi Siwon sepertinya tidak mengijinkan kami banyak bicara, sekilas kilau jahat di matanya.

"Aku sedang mengantar Kyuhyun pulang sekarang." Siwon menekankan namaku. "Mau aku jemput?"

"Tentu."

"Sampai ketemu nanti." Siwon menutup telepon.

Kita hampir sampai di apartemenku. Tiba-tiba Siwon kembali bicara, "Apa yang terjadi di lift tidak akan terjadi lagi.'' Aku terkejut mendengarnya tapi aku tidak berani menatap matanya.

Dia berhenti di depan apartemenku, aku terlambat menyadari dia tidak bertanya di mana aku tinggal. Tapi dia sudah mengirim buku waktu itu, tentu saja dia tahu di mana aku tinggal. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang pelacakan ponsel, pemilik helikopter dan penguntit.

Kenapa dia tidak akan menciumku lagi? Aku cemberut memikirkan itu. Dia keluar dari mobil, berjalan dengan kaki panjangnya dengan mudah pada sisiku untuk membuka pintu, tetap bersikap gentleman. Aku memerah mengingat saat mulutnya ada di mulutku. Aku ingin mengeluskan jariku melalui rambutnya tapi aku tidak bisa menggerakkan tanganku.

"Aku suka apa yang terjadi di lift." Gumamku saat aku keluar dari mobil. Aku tidak yakin jika aku mendengar dia terkesiap, tapi aku memilih untuk mengabaikannya dan menaiki tangga menuju pintu depan.

Henry dan Zhoumi sedang duduk di meja makan, ternyata Zhoumi semalam tidur di apartemen kami. ''Hallo.'' aku berjalan menuju kulkas untuk mengambil air dan aku tahu Siwon mengikutiku. Henry terlihat mengawasi Siwon dengan serius, tidak peduli Zhoumi pun menatap Henry.

"Pagi Kyuhyun!" Henry melompat memelukku, kemudian memeriksa tubuhku. Ia mengerutkan kening dan berbalik ke arah Siwon. "Selamat pagi, Siwon.'' Nada suara Henry terdengar sedikit bermusuhan.

"Pagi Mr. Lau." Balas Choi dengan suara kaku dan formal seperti biasa.

"Siwon, namanya Henry. Lebih baik kau memanggilnya begitu." Omel Zhoumi.

"Henry." Siwon mengangguk sopan dan melototi Zhoumi yang menyeringai dan bangkit memelukku juga. "Hai, Kyuhyun." Zhoumi tersenyum, dia jelas tidak seperti Siwon karena mereka saudara adopsi. Mata Zhoumi berwarna cokelat gelap, walaupun hanya sedikit mirip Siwon jika sekilas.

"Hai, Zhoumi." Aku tersenyum padanya dan aku sadar bahwa aku menggigit bibirku.

"Zhoumi, sebaiknya kita pergi." Siwon berkata pelan.

"Tentu." Zhoumi berbalik ke arah Henry dan menariknya ke dalam pelukannya lalu memberinya ciuman panjang. Aku terperangah melihatnya, apa yang terjadi pada mereka berdua semalam. Aku jadi ingat pada kejadian di lift, aku melirik Siwon dan dia menatapku dengan penuh perhatian. Aku menyipitkan mata padanya.

Mengapa kau tidak bisa menciumku seperti itu? Zhoumi terus mencium Henry, memeluk Henry dalam suatu pelukan erat. "Sampai nanti, sayang." Zhoumi menyeringai. Henry seperti terhipnotis, aku belum pernah melihat dia seperti itu sebelumnya. Henry tertunduk, malu padanya.

Siwon memutar matanya dan menatap ke arahku, ekspresinya tidak terbaca meskipun mungkin dia agak geli. Dia menyentuh pucuk kepalaku, napas terasa memburu saat jari-jarinya menyentuh rambutku. Dia mengeluskan ibu jarinya di bibir bawahku. Darahku terbakar di pembuluh darahku. Dan secepat itu pula, sentuhannya menghilang.

"Sampai nanti, sayang." Bisiknya penuh godaan. Apa aku harus tertawa karena itu bukanlah diri dia. Tapi meskipun aku tahu ia bersikap kurang hormat, itu memberikan suatu sentakan tanda sayang pada diriku.

"Aku akan menjemputmu jam delapan." Dia berbalik untuk pergi, membuka pintu depan dan melangkah keluar. Zhoumi mengikutinya ke mobil tetapi berbalik dan memberi Henry ciuman lain, dan dalam diriku muncul rasa iri yang bisa kucegah.

"Jadi, apa kau...?" Henry bertanya padaku saat mereka naik ke mobil dan pergi, rasa ingin tahunya tergambar jelas dalam suaranya.

"Tidak!" tukasku kesal, berharap akan menghentikan pertanyaan. Kami kembali ke dalam apartemen.

"Tapi aku akan bertemu dengannya malam ini."

Henry bertepuk tangan dan melompat-lompat seperti anak kecil. Dia tidak bisa menahan kegembiraan dan kebahagiaannya.

"Siwon akan membawaku ke Seoul malam ini."

"Seoul?"

''Yup!"

"Mungkinkah kalian akan melakukannya disana?"

''Oh, jangan gila Henry.''

"Tapi kau suka dia kan?" Henry kembali menggoda.

"Iya, lumayan.''

Dia mengangkat alisnya. "Wow. Kyuhyun akhirnya bertekuk lutut pada seorang pria, dan itu adalah Siwon Choi. Billioner yang hot dan seksi."

"Apa dia sudah menciummu?" Tanya dia lagi.

"Sekali." Aku merasa wajahku memerah parah.

"Sekali?" Dia mencemooh.

Aku mengangguk, sedikit merasa malu. "Dia sangat menahan diri."

Ia mengerutkan kening, "Itu aneh."

"Aku pikir juga begitu.'' Gumamku.

"Kita harus pergi bekerja." Aku beranjak dari dudukku lalu berjalan ke kamar, Henry pun mengikuti hal yang sama.

~Fifty Shades of Choi~

Hari terasa lambat di Toko meskipun kita sedang sibuk, aku dan Henry kerja keras bekerja sambil melawan musim panas. Aku juga harus meyakinkan Henry bahwa aku akan baik-baik saja. Tapi Henry sepertinya masih belum bisa percaya pada Choi secara penuh. Dia masih ragu dan khawatir, walaupun hati kecilku juga sedikit merasakan hal itu. Aku teringat kembali pada Siwon yang menyebutkan semacam perjanjian tertulis tapi aku tidak tahu apakah dia sedang bercanda atau tidak.

Waktu berlalu, jam kerjaku sudah berakhir. Aku berjalan ke loker dan berganti pakaian. Saat aku keluar, mobil Siwon sudah terparkir di depan toko. Dia tepat waktu, tentu saja karena dia orang yang perfeksionis. Setelah pamit pada Henry, aku keluar dari Toko. Siwon keluar dari Audi untuk membuka pintu dan tersenyum hangat padaku.

"Selamat malam." Katanya.

"Malam." Aku mengangguk sopan padanya saat aku naik ke kursi belakang mobil, Teddy duduk di kursi pengemudi. "Halo, Teddy." Kataku berusaha ramah.

"Selamat malam, Mr. Cho." Suaranya sopan dan profesional. Siwon naik di sisi lain dan menggenggam tanganku, memberikan meremas lembut yang aku rasa menembus ke seluruh tubuhku.

"Bagaimana pekerjaanmu?" Tanya dia.

"Seperti biasa, lelah tapi aku sudah terbiasa." Jawabku, suaraku serak dan terlalu rendah.

"Ya, hari ini juga jadi hari yang melelahkan untukku." Nada suaranya serius.

"Memangnya apa yang kau lakukan?" Tanyaku.

"Hanya bermain bola dengan Zhoumi, permainan anak laki-laki." Jawabnya santai. Hah! Apa dia menyindirku. Di musim panas ini, aku tentu sangat enggan keluar rumah hanya untuk bermain bola seperti itu. Tidak butuh waktu lama, sekarang kami sampai di tempat helikopter berada.

"Sampai jumpa, Teddy!" Dia mengangguk singkat pada sopirnya. Kami menuju ke dalam gedung, langsung ke satu deret lift. Lift! Memori ciuman kami pagi ini datang kembali menghantuiku. Siwon melirik ke arahku, sedikit senyum di bibirnya. Ha! Dia berpikir tentang hal itu juga.

"Ini hanya tiga lantai." Katanya datar.

Aku mencoba untuk tetap menunjukkan wajah tenang saat lift mulai naik. Aku menutup mata, berusaha untuk mengabaikannya. Dia mengencangkan cengkeramannya pada tanganku, lima detik kemudian pintu terbuka di atap gedung. Dan itu dia, sebuah helikopter putih dengan nama Choi Enterprises Holdings Inc. Ditulis dengan warna biru dengan logo perusahaan di samping. Dia membawaku ke sebuah kantor kecil di mana seorang pria tua duduk di belakang meja.

"Ini rencana penerbangan anda, Mr. Choi. Semua pemeriksaan eksternal telah dilakukan.''

"Terima kasih, Tuan Kim." Siwon tersenyum hangat padanya.

Ternyata ada yang layak mendapatkan perlakuan sopan dari Siwon, mungkin dia bukan seorang karyawan. Aku menatap pria tua itu kagum.

"Ayo berangkat."

Kami berjalan menuju helikopter. Saat sudah dekat, helikopter ini jauh lebih besar daripada yang aku pikir. Siwon membuka pintu dan mengarahkanku ke salah satu kursi di bagian paling depan.

"Duduklah dan jangan menyentuh apa pun." Perintahnya saat ia naik di belakangku.

Siwon menutup pintu dengan keras. Aku duduk di kursi yang ditunjuk, dia membungkuk disampingku untuk memasang sabuk pengaman ke tubuhku. Ini adalah sabuk pengaman empat titik dengan semua tali yang menghubungkan satu gesper pusat.

"Kau aman bersamaku." Dia berbisik, matanya membakar. "Tarik napas, Kyuhyun." tambahnya lirih.

Tangannya terangkat membelai pipiku, menelusuri wajahku dengan jarinya yang panjang sampai ke daguku yang ia genggam dengan ibu jari dan telunjuk. Dia membungkuk ke depan dan memberikan ciuman singkat di bibirku. "Aku suka memanfaatkan kondisi ini." bisiknya.

Apa?

Dia duduk di sampingku dan menyesuaikan diri ke tempat duduknya, kemudian memulai prosedur untuk memeriksa alat pengukur, memencet saklar dan tombol-tombol di depanku. Sedikit kedipan lampu, cahaya dari berbagai pengaturan dan seluruh lampu panel instrumen menyala.

"Pasang headphonenya!" Perintahnya sambil menunjuk satu set headphone di depanku. Aku memasangnya dan baling-baling mulai berputar. Dia memakai headphonenya dan terus sibuk dengan tombol-tombol yang aku tidak ketahui apa fungsinya.

"Aku akan melakukan semua pengecekan sebelum terbang." Suara Siwon ada di telingaku melalui headphone. Aku menoleh dan tersenyum padanya. "Apa kau bisa menerbangkan helikopter? Maksudku, apa kau punya lisensi sebagai pilot?" Aku bertanya.

Dia berbalik dan tersenyum padaku. "Aku sudah menjadi pilot selama empat tahun dan aku punya lisensinya. Kau aman bersamaku." Dia memberikanku sebuah seringai, "Kita segera terbang! "Tambahnya dan mengedipkan mata padaku.

Main mata! Apa dia sedang menggodaku!

"Apakah kau siap?"

Aku mengangguk dengan mata terbuka lebar. Aku mulai tidak fokus dan tidak mendengarkan ucapannya. Aku hanya mendengar kata over berkali-kali dia katakan sampai helikopter naik perlahan-lahan sampai di udara. Setelah kita lebih tinggi, memang tidak ada yang bisa dilihat. Ini gelap gulita, bahkan bulan tidak terlihat. Bagaimana dia bisa melihat jalan?

"Menakutkan bukan?" Suara Siwon di telingaku.

"Bagaimana kau bisa tahu kau menuju ke arah yang benar?"

"Ini." Dia menunjuk jari telunjuk yang panjang di salah satu alat pengukur dan itu menunjukkan kompas elektronik. "Ini adalah Eurocopter EC135. Salah satu yang paling aman di kelasnya. Ini dilengkapi alat untuk penerbangan malam." Dia melirik dan nyengir padaku.

"Ada helipad di atas gedung tempatku tinggal. Disitulah kita sedang menuju."

Tentu saja ada helipad di tempat tinggalnya. Aku sangat tidak sepadan jika dibandingkan dengannya. Wajahnya yang lembut diterangi oleh lampu pada panel instrumen. Dia berkonsentrasi keras dan dia terus-menerus melirik berbagai indikator di depannya. Aku menikmati wajahnya dari bawah bulu mataku. Lama aku terus memandanginya dengan segala imajinasi yang muncul di kepalaku.

"Ketika kau terbang di malam hari, kau terbang buta. Kau harus percaya pada instrumentasi." Ia menyela lamunanku.

"Berapa lama penerbangannya?" Ujarku.

"Kurang dari satu jam, anginnya mendukung kita."

Waktu yang tidak lama jika dibanding pergi dengan jalur darat. Dia kembali fokus tanpa suara, aku berusaha tenang dan terbiasa dengan penerbangan pertamaku ini. Kembali menatapnya, aku larut lagi dengan segala hayalanku tentangnya.

"Lihat, di sana!" Dia menunjuk ke sebuah titik kecil cahaya di kejauhan. "Itu Seoul." Aku tidak sadar berteriak kecil, aku malu setelahnya.

"Apakah kau terkesan?"

"Aku terpesona, Siwon."

Dia tersenyum, "Terpesona?" Dan untuk sesaat, dia sesuai umurnya lagi.

Aku mengangguk., "Kau begitu kompeten."

"Terima kasih, Mr. Cho." Katanya sopan.

Kami terbang dalam malam yang gelap dengan diam untuk sementara waktu. Titik terang yang tadi disebut sebagai Seoul perlahan-lahan semakin besar.

"Penerbangan tepat waktu. Standing by and over out."

"Kau jelas menikmati ini." Bisikku.

"Apa?" Dia melirikku. Dia tampak bingung dalam penerangan redup dari instrumen.

"Terbang." Jawabku.

"Ini membutuhkan kontrol dan konsentrasi. Bagaimana aku bisa tidak menyukainya? Favoritku adalah melayang."

"Melayang?"

"Menerbangkan sesuatu, helikopter contohnya."

Hobi mahal? Aku ingat dia mengatakan itu selama wawancara.

"Silahkan masuk, over." Suara kontrol lalu lintas udara menginterupsi lamunanku. Siwon menjawab, terdengar berkuasa dan percaya diri.

Seoul semakin dekat. Kita berada di pinggirannya sekarang. Ini terlihat benar-benar menakjubkan, Seoul pada malam hari yang indah.

"Terlihat bagus, kan?" Gumam Siwon, aku mengangguk antusias.

"Kita akan sampai di sana dalam beberapa menit." Gumam Siwon.

Tiba-tiba darahku seperti berdebur di telingaku saat detak jantungku meningkat dan adrenalin merajalela melalui sistemku. Dia mulai berbicara dengan pengatur lalu lintas udara lagi, tapi aku tidak bisa fokus lagi. Aku pikir aku akan pingsan. Kita sekarang terbang diantara gedung, di depanku dapat melihat gedung pencakar langit tinggi dengan helipad di atasnya.

Helikopter melambat dan melayang. Siwon mendarat di helipad diatas gedung. Dia mematikan pengapian dan baling-baling melambat dan tenang sampai semua yang aku dengar adalah suara napasku sendiri yang tidak menentu. Siwon melepas headphonenya, dan menarik punyaku juga. "Kita sudah sampai." Katanya lembut.

Wajahnya menunjukkan sikap yang begitu kuat, setengah dalam bayangan dan setengah dalam cahaya putih terang dari lampu pendaratan. Dia tampak tegang, rahangnya terkatup dan matanya ketat. Dia melepas sabuk pengamannya dan menggapai sabukku untuk melepaskanku. Wajahnya hanya beberapa inci dari wajahku.

"Kita tidak akan melakukan hal yang tidak kau inginkan, kau tenang saja.'' Nada suaranya begitu sungguh-sungguh, mata hitam kelamnya berapi-api. Dia membuatku terkejut.

"Aku tidak pernah melakukan apa yang tidak aku inginkan." Dan saat aku mengucapkan kata itu, aku tidak merasa yakin karena pada saat ini, aku mungkin akan melakukan apa saja untuk pria yang duduk sampingku.

Dia mengamatiku hati-hati sejenak dan entah bagaimana meskipun dia begitu tinggi, ia berhasil keluar dengan anggun ke pintu helikopter dan membukanya. Dia melompat keluar, menungguku untuk mengikutinya dan meraih tanganku saat aku merangkak turun ke helipad. Ini sangat berangin di atas gedung, aku gugup menyadari bahwa aku berdiri setidaknya tiga puluh lantai di atas ruang terbuka.

Siwon meraih pinggangku dengan lengannya, menarikku erat-erat. "Ayo!" teriak dia di antara suara angin. Dia menyeretku ke sebuah lift. Setelah menekan nomor ke tombol, pintu terbuka. Aku bisa melihat Siwon hingga tidak terbatas, dia memelukku dan ini mengejutkan! Siwon menekan kode lain ke tombol, maka pintu tertutup dan lift turun.

Beberapa saat kemudian, kami berada dalam sebuah ruang tunggu serba putih. Di tengah ada sebuah meja kayu bulat gelap, di dinding ada lukisan yang indah dan pastinya mahal. Dia membuka dua pintu ganda, ruang mewah terbuka. Ini adalah ruang tamu utama dengan dinding kaca yang mengarah ke balkon. Dimana ada sofa mengesankan berbentuk 'U' yang bisa untuk duduk sepuluh orang dewasa dengan nyaman.

Sofa itu menghadap perapian modern yang terbuat dari baja model paling mutakhir atau mungkin platinum. Pada bagian kiri di samping kami adalah area dapur. Semua putih dengan bagian atas dari kayu gelap dan bar untuk sarapan yang besar dengan kursi enam buah. Dekat area dapur, di depan dinding kaca adalah meja makan yang di kelilingi oleh enam belas kursi. Apartemen yang luar biasa luas, milik pria luar biasa.

"Apa kau ingin minum?" Tanya dia. Aku berkedip padanya. Setelah kejadian kemarin, apa dia mencoba untuk melucu?

"Aku ingin wine putih, apa kau ingin minum denganku?''

"Ya, boleh." Bisikku.

Aku berdiri di ruangan yang sangat besar, aku berjalan ke dinding kaca. Pemandangan Seoul menyala dan aku menyaksikannya dengan senyuman. Aku berjalan kembali ke area dapur, terlihat Siwon sedang membuka sebotol wine. Dia sudah menanggalkan jasnya.

''Segelas?''

"Segelas dan aku akan baik-baik saja.'' Suaraku lembut dan ragu-ragu, jantungku berdebar-debar.

"Ini." Dia mengulurkan segelas wine. Bahkan gelasnya pun berat, terbuat dari kristal kontemporer. Aku meneguknya, wine ini enak dan sedikit menenangkan.

"Kau sangat tenang, kau bahkan tidak memerah. Bahkan aku pikir ini keadaan paling pucat darimu yang pernah aku lihat, Kyuhyun." bisiknya. "Apa kamu lapar?"

Lapar dia bilang! Aku bahkan merasa mual sekarang. Jantungku berpacu cepat, wajahku semakin memucat karena gugup. Dia tidak melepaskan pandangan mata dariku. Aku merasa mata itu mengikutiku saat aku berbalik dan melihat ke sekeliling.

"Apa kau ingin duduk?"

Aku mengangguk, dia menarik tanganku dan membawaku ke sofa putih besar. Sofa yang empuk dan sangat nyaman. Hatiku bicara kalau aku mungkin adalah orang yang beruntung pernah datang ke tempat mewah ini.

"Apa yang kau pikirkan?" Dia duduk di sebelahku, berbalik menghadapku. Dia menyandarkan kepala di tangan kanannya, siku disangga pada bagian belakang sofa.

"Kyuhyun, aku minta berhenti menggigit bibirmu. Ini sangat mengganggu. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan saat ini."

"Aku masih tidak tahu kenapa aku disini." Bisikku padanya.

Dia mengernyit. "Tunggu sebentar disini." Dia menghilang melalui pintu lebar di ujung ruangan. Dia pergi selama beberapa menit dan kembali dengan sebuah dokumen.

"Ini adalah perjanjian rahasia yang tidak boleh dibocorkan." Dia mengangkat bahu dan sikapnya terlihat sedikit malu. "Pengacaraku bersikeras untuk itu." Dia menyerahkannya padaku. Aku benar-benar bingung. "Jika kau melihat opsi dua, kau harus menandatangani ini."

"Apa maksud kesepakatan ini dan kenapa aku harus menandatanganinya?"

"Ini berarti kau tidak bisa mengungkapkan semua tentang kita kepada siapapun.''

Aku menatapnya tidak percaya. Ini sangat buruk, aku tidak bisa jika tidak bicara. Paling tidak, aku harus bicara dengan Henry. Tapi aku tidak tahu apa perjanjiaannya, aku juga masih belum paham maksudnya membawaku kemari. Lalu kejadian beberapa hari terakhir yang membingungkan.

"Baik, aku akan menandatanganinya."

Dia mengulurkan pena. "Kau bahkan tidak membacanya?"

"Tidak."

Dia mengernyit. "Kyuhyun, kau harus selalu membaca apapun yang kau tandatangani." Dia menasihatiku.

"Siwon, kau melarangku membicarakan tentang kita kepada siapa pun, bahkan pada Henry juga. Jadi tidak penting apakah aku menandatangani kesepakatan atau tidak. Jika ini sangat berarti bagimu, aku akan menandatanganinya.''

Dia menatap ke arahku dan ia mengangguk serius. "Pernyataan bagus yang kau buat, Mr. Cho."

Aku dengan cepat menandatangani pada garis putus-putus dari kedua salinan dan mengembalikan padanya. Aku terdengar jauh lebih berani daripada yang benar-benar aku rasakan.

''Apa artinya ini semua? Apa kita akan tidur, memiliki hubungan atau semacamnya? Aku masih tidak mengerti, Siwon.''

"Tidak, itu tidak akan terjadi. Aku tidak melakukan yang namanya ML. Aku bermain seks dengan keras. Kau belum tahu apa yang sedang kau lakukan. Kau masih bisa lari. Mari, aku ingin menunjukkan ruang bermainku."

Mulutku menganga. Bermain seks dengan keras! Ya Tuhan, itu terdengar sangat kenapa kita melihat ruang bermain? Aku bingung sendiri.

''Ruang bermain? Kau ingin bermain playstation?''

Dia tertawa lalu berdiri sambil mengulurkan tangannya. Aku biarkan dia membawa aku kembali keluar ke koridor. Di sebelah kanan pintu ganda, pintu lain mengarah ke tangga. Kami naik ke lantai dua dan berbelok ke kanan. Mengambil kunci dari sakunya, ia membuka lagi pintu lain dan mengambil napas dalam-dalam.

"Kau bisa pergi meninggalkan tempat ini kapan saja. Helikopter stand-by untuk membawamu setiap saat kau ingin pergi. Semuanya kau yang memutuskan.''

"Buka saja pintu ini, Siwon."

Dia membuka pintu dan mundur untuk membiarkanku masuk, aku menatap dia sekali lagi. Aku jadi ingin tahu apa yang ada di sini, mengambil napas dalam aku berjalan masuk. Pertama–tama yang aku perhatikan adalah aroma yang menusuk penciumanku. Aroma lavender yang sangat menyenangkan dan pencahayaan yang terang. Dinding dan langit-langit berwarna merah anggur gelap. Di samping pintu berdiri sebuah peti berlaci dari kayu mahoni besar.

Tapi yang mendominasi ruangan ini adalah ranjang. Yang mana lebih besar dari ukuran king-size, berukir terlalu megah bergaya rococo bertiang empat dengan bagian atas rata. Diatas buffet aku melihat rantai dan borgol. Kasurnya tidak ada seprei, hanya ditutup kulit merah dan bantal satin merah ditumpuk di salah satu sudutnya.

Aku berbalik, dia memperhatikanku dengan penuh perhatian karena aku tahu ekspresinya tidak dapat dibaca. Aku berjalan lebih jauh ke dalam ruangan dan dia mengikutiku. Apa tanggapan yang tepat mengetahui calon kekasihku ini? Aku mengaku kalau sekarang aku takut.

"Katakanlah sesuatu." Perintah Siwon, suaranya terasa lembut.

"Apakah kau melakukan ini kepada orang-orang atau mereka melakukannya untukmu?"

"Orang-orang?" Dia berkedip beberapa kali ia mempertimbangkan jawabannya. "Aku melakukan ini pada orang yang menginginkannya."

"Jadi kau memilihku? Kenapa harus aku?"

"Karena aku ingin melakukan hal ini denganmu, sangat ingin."

Aku terkesiap. Mengapa? Aku berjalan ke sudut ruangan dan menepuk bangku empuk bersandaran tinggi dan menjalankan jemariku di kulit. Apa dia orang yang kasar dan suka menyakiti? Pikiran itu menekanku.

"Apa kau orang yang sadis dan kasar?"

"Aku seorang dominan." Mata hitamnya tajam.

"Apa artinya itu?" Bisikku.

"Artinya aku ingin kau rela menyerahkan diri padaku, dalam segala hal."

Aku mengerutkan kening padanya saat aku mencoba untuk memahami pikiran itu. "Mengapa aku harus melakukan itu?"

"Untuk menyenangkanku." Bisiknya sambil memiringkan kepalanya ke satu sisi.

Menyenangkan dia! Dia ingin aku menyenangkannya! Aku pikir mulutku menganga. Aku menyadarinya, pada saat ini itulah yang ingin kulakukan. Aku ingin dia menjadi sangat senang denganku. Ini sebuah pengungkapan.

''Aku sangat ingin kau menyenangkanku. Dalam banyak hal dan untuk hal yang lebih intim juga.'' Katanya lembut.

"Bagaimana aku melakukannya?" Mulutku kering, aku mengerti sedikit maksudnya menyenangkan.

"Aku punya aturan dan aku ingin kau mematuhinya. Itu untuk keuntunganmu dan untuk kesenanganku. Jika kau ikuti aturan untuk kepuasanku, aku akan menghargaimu. Jika tidak, aku akan menghukummu, dan kau akan belajar." Bisiknya.

Aku melirik rak tongkat saat ia mengatakan ini lalu apa artinya ada rantai dan borgol disini? Permainan seperti apa yang dia maksud.

"Dan apa hubungannya dengan semua ini?" Aku melambaikan tanganku ke sekeliling ruangan.

"Ini yang aku maksud, semuanya ada disini baik untuk penghargaan maupun hukuman. Tinggal kau pilih, Mr. Cho. Menyenangkanku atau dihukum."

~Fifty Shades of Choi~

TBC.

Siwon ingin mempunyai hubungan rahasia sesuai dengan aturannya? Melanggar maka dapet hukuman?

Sebenernya pas baca novelnya ada beberapa poin yang tidak dimengerti jadi maaf kalau ff ini pun gagal untuk dipahami kkk~ Thanks for reading and don't forget to review.