[Kim Taehyung, 29 tahun, CEO]
[Jeon Jungkook, 21 tahun, Idol, Mahasiswa]
.
.
VKOOK
.
Biasanya konser di mulai sore hingga menjelang malam. Tapi untuk kali ini, konser di mulai siang hari. Membuat Jungkook terus menerus berdiri di bawah air conditioner yang menyala di ruang itu. Sekarang mereka tengah berisap untuk naik ke atas panggung.
Jungkook sempat melihat notifikasi di ponselnya, ternyata ada lima panggilan tidak terjawab dari Taehyung. Dengan semangat menggebu dia langsung menelfon balik namun ternyata nomor itu sedang tidak aktif.
"Huh selalu seperti ini" serunya kesal.
"Lima menit lagi kita akan mulai. Stand by"
Salah satu kru itu berteriak, membuat para member langsung bersiap. Tidak terkecuali Jungkook. Dia langsung memberi ponselnya ke menejernya dan melakukan pemanasan sekali lagi.
.
.
Mereka sudah membawakan tiga lagu. Sekarang Bangtan tengah menyanyikan lagu beautiful. Dan setelah lagu itu berhenti, lampu kemudian menyala dengan terang.
"Hallo semua"
Teriak Namjoon dengan bahasa Jepang yang kaku. Teriakan fans-fans itu semakin memekakan telinga.
"Bagaimana kabar kalian?" kali ini Jimin yang berbicara, "apa penampilan kami bagus?" Jungkook langsung berbicara dan langsung dihadiahi teriakan yang lebih nyaring.
"Mari kita buat kenangan indah ini bersama!"
Kemudian mereka kembali bernyanyi.
Sementara di ujung sana, tepat di tingkat kedua Taehyung tengah berdiam sambil terus mengarahkan kamera dengan lensa panjang itu tepat ke sosok Jungkook. Ternyata Jungkook yang berada di atas panggung terlihat jauh berbeda di banding aslinya.
Jika di panggung sosok Jungkook sangat terlihat dewasa—dan seksi. Aslinya dia hanyalah seorang pemuda manja yang ingin selalu di perhatikan.
Taehyung tersenyum senang melihat hasil fotonya. Dia pun mendapat tempat yang aman untuk terus memfoto tanpa takut diketahui oleh Jungkook. Tapi teriakan sekretasisnya ini mampu membuat Taehyung migraine seketika.
Bagaimana tidak, Hoseok berteriak seperti orang yang tengah kerasukan roh jahat. Dia terus menggoyangkan kedua tangannya ke atas dan berteriak bahwa dia mencintai mereka semua. Taehyung bahkan berpikir apa memang sebenarnya Hoseok itu fansnya Bangtan?
Tidak terasa sudah dua jam mereka berdiri disini. Taehyung mengangkat tangan kirinya yang terdapat sebuah jam tangan hitam melekat manis di pergelangan tangannya. Ini sudah hampir sore—Taehyung harus kembali ke Korea untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Hoseok, kita kembali" titah Taehyung yang mampu membuat Hoseok berhenti dari acara berteriaknya. Dia lalu berdehem dan merapikan rambutnya yang terlihat berantakan "baik Presdir!"
Di detik yang sama Seokjin menatap seseorang yang jauh disana. Matanya membulat sempurna, dia lalu memekik kaget karena dia yakin bahwa matanya menangkap sosok Taehyung berdiri di tribune.
"Kook! Aku melihat kekasihmu!" ucapan Seokjin membuat mata Jungkook membulat sempurna "serius hyung?! dimana dimana?" Seokjin lalu menunjuk ke atas. Membuat para fans berteriak kesenangan akibat ulah mereka.
"Hei jangan menunjuk mereka seperti itu! Apa kalian tidak dengar tadi Namjoon hyung baru saja membacakan nomor acak untuk fans beruntung itu"
Ucapan Jimin membuat Seokjin menurunkan tangannya. Dia sampai lupa kalau sekarang mereka tengah membacakan nomor undian yang nantinya jika fans itu mempunyai nomor yang sama akan mempunyai kesempatan untuk naik ke atas panggung.
"Ku ulangi, nomornya adalah 13403" Namjoon berbicara dengan lantang. Suasana di dalam Tokyo Dome ini semakin tidak terkendali.
Taehyung berhenti sebentar, dia kemudian merogoh sesuatu ke dalam saku jeansnya dan melihat nomor itu di sana. 13403, "OMO Presdir anda beruntung!" Hoseok yang memang memiliki rasa penasaran tinggi itu langsung melihat tiket yang Taehyung pegang.
"Angkat tangan saja Presdir!" Hoseok berteriak senang. Tapi Taehyung menggeleng, dia lalu melihat jam tangannya lagi "ayo kita sudah tidak punya banyak waktu" kemudian mereka berdua pergi.
.
.
"Sayang sekali orang pertama yang di panggil tadi tidak ada"
Saat ini Bangtan tengah beristirahat di aula belakang konser. Sebuah ruangan luas yang telah diisi oleh berbagai macam makanan maupun minuman. Yoongi berbicara penasaran akan fans beruntung itu. "Yeah mungkin dia sudah terlalu lelah hingga memutuskan untuk pulang terlebih dahulu" jawab Jimin asal.
Jungkook hanya meneguk cola itu dengan rakus. Dia haus sekali saat berada di panggung tadi. Seokjin lalu menepuk pelan pundaknya "aku sungguh melihatnya, dia memakai topi putih dan tengah memotret"
"Kenapa aku tidak melihatnya ya hyung?" jawab Jungkook dengan suara yang pelan. Nafasnya masih naik turun akibat dance di sesi terakhir tadi.
"Sepertinya Tae hyung sibuk jadi tidak sempat menonton konser hingga akhir. Yang penting dia sudah datang kan? senang tidak?"
Seokjin mencubit pelan pipi Jungkook lalu tertawa. "Senang apanya ponselnya saja tidak aktif" jungkook lalu berjalan ke kamar mandi.
.
"Bagaimana langkah selanjutnya Presdir?"
Salah satu pegawai berkacamata itu bertanya. Taehyung tengah serius membaca sesuatu yang tertulis di kertas itu. Kini dia tengah mengevaluasi semuanya. Rapat yang sudah berlangsung selama lima jam masih belum membuahkan hasil.
"Kita harus menciptakan isu positif, agar para investor itu tetap mempertahankan kepemilikan sahamnya—isu positif dapat diciptakan dengan menampilkan rasio keuangan yang baik atau membicarakan tentang pembagian dividen"
"Pertama-tama kita harus membuat laporan keuangan, dan membagikannya kepada investor agar transparan, kau bisa kan?"
Taehyung bertanya kepada salah satu pegawainya di bagian accounting. "tentu Presdir!" dia mengangguk dan kembali terfokus dengan apa yang sekarang sedang di bacanya.
"Hoseok, apa kau tau sekarang Mr Park Yoon Anh sedang berada dimana?"
"Beliau sedang berada di London, sajangnim. Mengurusi cabang perusahannya di Inggris"
"Jika dia mencabut semua kepemilikan sahamnya, perusahaan ini akan goyah. Aku harus menemuinya secara langsung. Tolong pesankan tiket untuk besok, penerbangan jam pertama"
Dia memerintah, Hoseok pun langsung mengiyakan dan mulai memesan tiket secara online.
Entah mengapa sekarang Taehyung sulit untuk fokus kepada pekerjaannya. Dulu bahkan untuk membuat perusahaan ini semakin terdepan adalah hal yang mudah baginya—tapi sekarang menaikan harga saham, kenapa begitu sulit?
Apa benar apa yang ayahnya katakan itu? Dia terlalu fokus kepada Jungkook hingga melalaikan kewajibannya?
'Aku harus melupakanmu sebentar, Jungkook-ah'
.
.
Konser boyband Bangtan akhirnya selesai. Menejernya berkata bahwa konser yang akan datang akan di adakan tiga bulan lagi, mereka semua bisa beristirahat dengan tenang—dan untuk Jungkook dia bisa kembali berkuliah seperti biasa.
Ini hari sabtu, saat yang lain tengah bersantai di ruang tengah dorm mereka, Jungkook disuruh membeli bahan-bahan kue oleh hyung tertua—Seokjin di swalayan yang berada di depan jalan. Karena dia pun tidak tau ingin melakukan apalagi, Jungkook segera mengiyakan.
"Jika ada lebihnya, kau boleh membeli apapun. Tapi yang terpenting semua bahan harus dapat oke?" ucap Jin di depan pintu, Jungkook hanya mengangguk lalu memakai masker hitamnya.
Dia berjalan sambil mendengarkan lagu, tidak memerlukan waktu lama baginya untuk sampai di swalayan tersebut. Segera tangannya mendorong pintu kaca itu dan masuk.
Mengeluarkan secarik kertas yang di beri, dan langsung mengambil trolley di ujung dekat kasir.
Baking Soda, check
Mentega, check
Cokelat bubuk, check
Susu steam, check
Gula pasir, check
Strawberry, check
Balon untuk pisang, eh?!
Retina Jungkook melebar, mendekatkan kertas putih itu agar bisa melihat dengan jelas apa yang tertulis. "Demi tuhan! Jin hyung memesan sebuah kon*om?!" Tidak, tidak. Pasti bukan Seokjin. Pasti ini ulah leader atau Jimin.
Semua bahan-bahan sudah berada manis di dalam trolley, Jungkook lalu berjalan ke kulkas yang berbaris rapi di sudut ruangan. Dia mengambil tiga buah es krim rasa cokelat, dan vanilla yang berukuran besar lalu memasukannya.
Dirasa sudah semua, Jungkook lalu mendorong trolley itu menuju kasir. Menaruh satu-satu barang yang ia beli, dan terdiam bingung.
'Haruskah aku membeli kondom?'
Dia bimbang.
Bagaimana kalau berita itu kembali menyebar?
Bagaimana kalau nanti Taehyung tau?
"Semuanya jadi 100,000 won tuan" Jungkook langsung tersadar, dia lalu mengeluarkan berlembar-lembar uang yang di beri oleh Seokjin dan memberikannya.
"Tolong, F-fi—fiestanya satu" ucapnya gugup. Penjaga kasir itu tertawa geli melihat tingkahnya, Jungkook dalam hati berdoa semoga penjaga itu tidak tau bahwa sekarang dia tengah berhadapan dengan idol—dan tidak menyebarkannya kepada wartawan.
"Ingin rasa apa?"
Aduh, rasa apa? apanya? Jungkook bertanya dalam hati. Walau sudah menjadi mahasiswa tapi pengetahuan Jungkook sangat minim, lagipula untuk apa membeli pengaman? Dia kan di masuki, bukan memasuki.
"Ngh, strawberry?"
Kemudian dia menaruh sebuah kotak berwarna merah muda itu ke dalam kantung belanjaan.
"Jadi 103,000 won, tuan" Jungkook langsung memberi uang itu dan berjalan pergi.
Tampak terburu-buru, dan akhirnya dia sampai. membuang sepatunya asal dan langsung berteriak nyaring. "Hei siapa yang memesan kondom itu?!" semuanya langsung keluar dari tempat masing-masing.
Namjoon yang sedang mengunyah makanan langsung tersedak, "Apa?! Kondom? Siapa?!"
Seokjin langsung memberi air mineral kepada leader tersebut, membantu menepuk pelan agar makanan itu cepat turun. Jungkook lalu mengambil kotak itu dan mengangkatnya "ini! aku sudah membelinya sialan, siapa yang menulis di kertas itu?!"
Seokjin lalu meminta kertas yang sudah ia tulis tadi, membacanya dengan pelan dan "astaga! Aku salah tulis"
Jungkook kehilangan seluruh sumpah serapah yang akan ia keluarkan tadi—salah tulis? Ke anehan apalagi ini.
"Maaf Kook, maksudku balon untuk mendekor kamarku—yang nantinya akan di buat untuk lokasi shooting eat Jin, dan pisang yeah Namjoon tadi menyuruhku memesan pisang, tapi sepertinya konsentrasiku terpecah dan malah menulis itu. Hehe" jelas Seokjin lancar.
"Astaga hyung! kau harus bertanggung jawab nanti jika namaku muncul di acara gosip murahan itu!"
Blam!
Jungkook menutup keras pintu kamarnya, menyisakan member lain yang menatap tak percaya dengan kelakuan tidak sopan sang maknae. "biar aku yang bicara" ucap Seokjin yang langsung di tahan oleh Namjoon, "biarlah, sepertinya mood Jungkook sedang tidak stabil"
Seokjin menatap pintu cokelat itu dengan tatapan prihatin "ku pikir juga begitu, apa dia sedang ada masalah dengan Tae hyung? mereka sudah jarang bertemu"
.
Di dalam kamar Jungkook merebahkan dirinya di kasur bergambar setan merah—klub bola kesukaannya sambil memainkan ponsel. Hari sudah beranjak sore saat dia menyelesaikan seratus episode webtoon favoritenya.
Matanya buram, terlalu lama menatap layar itu. Jungkook tidak tau lagi ingin melakukan apa di sisa liburannya ini.
Kemudian jemarinya secara tidak sadar mulai mencari nama Taehyung di kontak ponselnya, menekan kalimat call yang berada di samping dan dering tunggu itu terdengar.
'Nomor yang anda tuju sedang sibuk'
Jungkook dengan kasar langsung membuang ponselnya, menenggelamkan wajah putih itu dengan guling. "biasanya tidak seperti itu" gumamnya sendiri.
Lelah dengan pikirannya, Jungkook jatuh tertidur. Sampai Yoongi mengetuk brutal pintu kamarnya—kesal karena Jungkook tidak membukakan pintu, dan berakhir dengan Yoongi yang berteriak seperti orang gila, "JUNG BANGUN! KAMI SEMUA SUDAH LAPAR HEI! SEOKJIN TIDAK MAU MEMBAGIKAN MAKANAN ITU JIKA SEMUA MEMBER BELUM LENGKAP! JUNGKOOK!"
.
.
Setelah selesai makan malam, semua member fokus kepada kegiatannya masing-masing. Minyoon couple yang berkencan di gedung agensi—Jimin berniat menemani kekasihnya untuk mengerjakan album baru.
Sementara Namjin sedang duduk—meminum teh di temani kue yang Seokjin buat tadi siang. Dan Jungkook, memilih berdiam diri di balkon kamarnya—menghirup udara malam yang segar namun dingin.
Tiba-tiba saja dia ingin keluar. Karena disini pikirannya selalu memikirkan Taehyung—CEO sibuk yang masih belum bisa di hubungi.
"Hyung, aku keluar sebentar ya? Ingin cari udara segar. Bye!" pamit Jungkook kepada dua hyungnya. Tidak menunggu restu dari yang bersangkutan, dirinya langsung berlari menjauh.
Memakai jaket berwarna hitam, dan menutupi kepalanya dengan tudung Jungkook berjalan pelan menyusuri ibukota. Dia tidak punya tujuan, hanya terpikir untuk berjalan dan sedikit menikmati waktu untuknya sendiri.
Sesaat hidungnya mencium aroma menyegarkan dari dalam kedai kue yang berjarak tiga puluh langkah dari lokasinya sekarang. Jungkook merasakan perutnya berbunyi kembali, dia terkikik pelan "aku lapar lagi ternyata"
Lonceng yang berada di atas pintu itu berbunyi, menandakan adanya seseorang yang masuk. Jungkook langsung berjalan kearah etalase yang menyuguhkan berbagai macam kue-kue manis menarik mata.
"Wah sepertinya enak" kagum Jungkook saat melihat kue strawberry yang di atasnya terdapat cream vanilla itu. "Aku mau ini ahjumma, dua ya?" pesan Jungkook, tanpa melepas masker putihnya itu.
Setelah membayar, dia membawa tubuhnya—mencari tempat strategis yang tidak akan di ketahui oleh wartawan maupun fansnya. Beruntunglah dia, tempat yang berada di ujung sana tampak memiliki privasi.
Jungkook membuka masker yang sedari tadi dipakainya, mulai menyuapi cake itu dan merasakan bagaimana lembutnya tekstur saat masuk ke dalam mulutnya.
"Kenapa aku baru tau ada kedai kue enak di sekitar sini ya?" dia berbicara sendiri, sambil memakan kue itu hingga habis.
Saat tengah melamun dan tidak fokus,
Tanpa Jungkook sadari, ada salah satu wartawan yang sedang memfoto dirinya dari tempat yang strategis pula.
.
.
Paginya saat semua member sudah terbangun—kecuali Jungkook mereka semua heboh melihat layar tv datar di hadapan mereka. Di dalam layar tersebut terdapat sebuah foto yang dirilis media terkenal dengan hasil yang sangat jelas.
Jungkook yang tengah melamun di dalam kedai kue yang terletak di wilayah Insadong. Pembawa acara itu kemudian berbicara dengan nada di buat-buat yang menjijikan—menurut Yoongi.
"Member termuda Bangtan tertangkap kamera tadi malam tengah sendirian di salah satu kedai daerah Insadong. Wajahnya terlihat sedih dan murung—apa ini ada hubungannya dengan jarangnya intensitas pertemuan Idol dengan Ceo bernama Kim Taehyung itu?"
"Apakah hubungan mereka tengah merenggang? Atau akhirnya hubungan itu kandas di tengah jalan?"
"Hyung—kalian sedang apa?"
Semuanya terkaget, sontak Jimin langsung mencari remote tv itu dan berniat mematikannya. Tapi terlambat, remote itu sekarang tengah berada di genggaman tangan Jungkook.
'Sial bagaimana bisa?!' batin Jimin.
Jungkook berjalan mendekat, menajamkan matanya dan memperbesar volume itu.
"Seperti yang kita tau bahwa saham dari perusahaan Kim Enterprise sedang mengalami penurunan yang drastis, apa ini salah satu penyebab renggangnya hubungan mereka? Ataukah—Jeon Jungkook lah penyebab turunnya harga saham itu?"
Kemudian, layar itu berganti menjadi sebuah gambar dengan grafik rumit di dalamnya. Mata Jungkook menelisik setiap deretan angka yang tertulis.
SAHAM KIM ENTERPRISE TAHUN 2016
"Ap—apa ini?!" teriak Jungkook, dia memaki dirinya sendiri karena tidak tau menau tentang masalah seserius ini. Jadi hyungnya sedang mengalami masalah? damn!
"Dimana Taehyung sekarang?!"
"Aku harus bertemu dengannya"
.
.
TBC
