Title: What If?
Pairing: Yewook, kyuwook
Author: Lee Hyora
Cast :
Ryeowook (yeoja) — author gak rela T.T
Yesung (namja)
Kyuhyun(namja)
Rated: T
Genre: Romance, Tragedy
Warning: If you don't like, don't read.
Diclaimar: All cast adalah milik diri mereka sendiri, kecuali Kim Ryeowook sebagai milik sah author =p #abaikan
Summary: Meskipun cinta begitu sakit. Namun aku tahu kau akan datang kepadaku jika menunggu sedikit saja. Dengan perasaan seperti ini, aku tidak bisa meninggalkanmu. Bahkan di saat kematian datang, hanya senyummu yang ingin kulihat. Bukankah itu berarti aku pun hanya milikmu?
Seorang namja tampan berlari menembus hujan siang itu tanpa menggunakan payung atau mantel yang bisa menutupi tubuhnya dari guyuran air hujan. Dia tidak peduli jika tubuhnya harus basah, ia terus berlari tak ingin menghentikan kaki nya walau sedetik. Yang ia inginkan hanya bertemu dengan pujaan hatinya.
"walau aku harus melanggar janjiku, aku tak peduli, aku ingin bertemu denganmu Ryeowook-ah..." Ia masih terus berlari, senyum terkembang ketika akhirnya ia sampai di tempat tujuannya. Matanya tak lepas menatap rumah megah didiepannya kini.
"Ryeowook-ah...keluarlah ini oppa..." pintanya dalam hati. Ia terus menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya mengurangi dingin yang mulai menyergapnya. Sesungguhnya ada hal yang lebih menggangunya daripada rasa dingin itu sendiri, rasa rindunya yang tak tertahan pada Ryeowook.
"Keluarlah...oppa mohon, ini hari terakhir oppa bisa bertemu denganmu..." Namja itu mengeluarkan ponsel dari saku bajunya, menekan nomor yang dihafalnya diluar kepala, menghubungi Ryeowook, berharap akhirnya Ryeowook tahu bahwa ia menunggunya disana.
Tak lama kemudian, sosok Ryeowook akhirnya tertangkap di bola mata coklatnya. Ryeowook berlarian kecil sambil memegang payung kecil melindungi dirinya dari hujan ke arah Yesung.
"Yesung oppa... apa yang kau lakukan di luar sini? dan...kenapa kau tidak pakai mantelmu?!" Nada suara Ryeowook menggambarkan kecemasannya melihat Yesung yang basah kuyup.
"ayo ikut oppa..." Tanpa isyarat apapun Yesung menarik lengan kecil Ryeowook untuk mengikutinya. Ryeowook patuh. Yeoja itu tersenyum senang menatap Yesung. Selama beberapa hari tak melihat namja itu, ia juga diliputi rasa rindu yang mungkin sama besarnya dengan apa yang di rasakan Yesung.
Perasaan Ryeowook melambung tinggi. Entahlah, yeoja itu masih berharap Yesung masih ingin memperjuangkan cinta mereka. Setidaknya bukan hanya dia yang terus mempertahankan perasaan cinta itu.
Setelah beberapa menit berlarian dibawah hujan, akhirnya Yesung melepaskan pegangannya pada tangan Ryeowook. Mereka berdua diam mengatur nafas masing-masing.
"hah..oppa, kenapa...mengajakku kesini?" Ryeowook kesulitan berbicara karna nafasny yang tersengal.
"Happy anniversary Ryeowook-ah..." Yesung berteriak senang sambil merentangkan tangan. Dibelakangnya sebuah meja makan tertata rapi dengan lilin di tengahnya. Semua makanan yang tersaji sepertinya terlihat enak dan mewah.
"Mwo? happy..anniversary?"
"Ne..bukankah ini tanggal 20 juni? hari dimana 3 tahun lalu kita akhirnya memutuskan untuk bersama?" Jelas Yesung tanpa mengalihkan tatapan matanya pada Ryeowook yang kebingungan.
"oppa...bukankah kita..."
"sstt... aku tahu itu. tidak perlu mengingatkan oppa tentang itu..." Yesung menempelkan jarinya di bibir Ryeowook, menghentikan kata-kata yang tidak ingin di dengarnya saat ini terlontar dari bibir mungil Ryeowook. Namja bermata sipit itu memluk tubuh yeoja di depannya. Hanya hari ini bisakah ia memiliki Ryeowook lagi.
Dia sangat sadar apa dan bagaimana hubungannya dengan Ryeowook sekarang. Serba tidak jelas, mereka masih saling mencintai, tapi hubungan mereka sudah berakhir karna ia sendiri yang memutuskan untuk meninggalkan Ryeowook dan melepaskan yeoja itu untuk Kyuhyun. Tapi bisakah hari ini saja ia bersama Ryeowook melupakan semuanya?
Ryeowook membalas pelukan Yesung dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Yesung. Merasakan kehangatan yang telah lama tak ia rasakan. Seakan ini adalah pelukan terakhir yang ia bisa dapatkan dari Yesung. Ia tersenyum dalam pelukan Yesung, mengingat kembali tahun keduanya bersama Yesung.
Flasback on
"isshh...oppa, dia kemana sih? mengajakku bertemu tapi dia sendiri belum datang!" Yeoja itu mengembungkan pipinya pertanda ia kesal. Ia memperhatikan sekitarnya, taman tempatnya berdiri sekarang. Kembali ia menggerutu kesal.
"kenapa mengajakku bertemu di taman seperti ini?" pikirnya heran. "Mana ada pasangan yang merayakan anniversary di taman tempat yang banyak anak-anak bermain?"
Lama yeoja itu berdiri. Matanya terus tertuju pada pintu masuk ke taman itu, menanti seseorang yang di tunggunya datang. Lamunannya buyar ketika mendengar suara ricuh dari sudut lain taman itu. Ia mengedarkan pandangannya mencari sumber suara. Yeoja itu membelalakkan bola mata tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seseorang yang ditunggu-tunggunya kini sedang asyik membagi-bagikan balon di tangannya pada anak-anak yang mengerumuni nya.
"Yesung oppa?" Yeoja itu memicingkan mata nya yang sebenarnya sudah sipit itu untuk memperjelas apa yang dilihatnya.
Yesung berjalan pelan mendekati yeoja yang sudah dibuatnya menunggu kedatangannya. Beberapa balon di tangannya masih di genggamnya dengan erat. "Agassi... apa kau mau membeli balonku?" tanyanya pada Ryeowook dengan nada menggoda yeoja itu.
"oppa, ige mwoya? apa yang kau lakukan?keke...kenapa berubah jadi penjual balon, eoh?" Ryeowook tak bisa berhenti terkikik melihat Yesung. Namja didepannya hanya mengulas senyum di bibirny, menatap Ryeowook dengan sayang.
"Maukah Agassi menolongku memegang balon-balon ini?" Yesung menarik tangan kanan Ryeowook dan menempatkan balon-balon itu di genggaman Ryeowook. Ryeowook menerimanya pasrah meski sedikit bingung. "saat aku bilang lepaskan, Agassi harus melepaskan balon-balon itu, arasseo?"
"berhentilah memanggilku agassi, oppa..." Protes Ryeowook mengerucutkan bibirnya tapi tak digubris oleh Yesung.
Yesung menggegam tangan Ryeowook dan memerintah Ryeowook melepaskan tali-tali pengikat balon di genggaman yeoja itu. "kajja...lepaskan agassi, hana...dul..set..."
Ryeowook membuka sedikit genggamannya dan membiarkan balon-balon itu terbang dari tangannya. Ia tersenyum melihat balon-balon itu terbang tinggi ke atas semakin jauh, semakin tinggi dan tak dapat lagi dilihat dengan jelas. Sadar akan Yesung yang masih menatapnya lembut, Ryeowook balik menatap Yesung. Sesuatu di dalam genggamanya kini menarik tatapan matanya dari wajah Yesung. Benda berbentuk lingkaran yang dipikirnya tadi adalah pengait balon itu membuatnya terpana.
"Oppa..apa ini?" Ryeowook memperhatikan benda itu sekali lagi. Ia kembali melihat Yesung meminta penjelasan kenapa yesung memberikannya benda itu. Sebuah cincin. Ya. Cincin yang indah, dan terukir inisial nama mereka di tengahnya. YW.
"Happy anniversary chagiya..." Yesung mendaratkan ciuman di kening yeoja itu dan mengelus rambutnya. Yesung mengambil cincin di tangan Ryeowook yang membuat yeoja-nya itu berbinar senang.
"sini... oppa, pasangkan." Ia berjalan dan berdiri di belakang tubuh Ryeowook, menyibakkan rambut Ryeowook hingga ia bisa melihat tengkuk yeoja itu. Yesung membuka pengait kalung Ryeowook dan menjadikan cincin itu sebagai bandul di kalung yang melingkar di leher Ryeowook.
"oppa..." Ryeowook menoleh ke belakang, dan menampakkan wajah herannya kepada Yesung. Kenapa cincin itu malah dijadikan bandul kalungnya. Bukannya di pasangan di jari manisnya?
"kenapa tidak melingkarkan cincin itu di jari ku?" Ryeowook menarik tangannya yang tadi sudah bersiap menerima cincin itu dijarinya. Namun Yesung menjawabnya hanya dengan tersenyum. Ia memeluk tubuh Ryeowook dari belakang dan menempatkan dagunya di pundak yeoja itu.
"Belum saatnya..." Bisik Yesung.
"mwo? belum saatnya...apa?" Ryeowook semakin bingung, ia mengeucutkan bibirnya, membuat yesung gemas untuk menicumnya.
"Ne...belum saatnya. Itu adalah cincin yang menandakan betapa oppa sangat mencintaimu, dan serius untuk menjalani hidup ini denganmu. Nanti saat kau sudah siap...oppa akan melamarmu. Dan kita akan menikah..." Jelas Yesung lembut tanpa mengalihkan pandangannya dari bola mata Ryeowook. Wajah Ryeowook memerah mendengar penuturan dari Yesung, ia tersipu malu.
Seketika itu Ryeowook membayangkan bagiamana jika ia akhirnya nanti menikah dengan Yesung. Tapi sesungguhnya ia memang belum siapa untuk itu.
"Lamar saja aku sekarang..." Goda Ryeowook sambil mengerlingkan satu matanya.
"Hah? hehee...kalau sekarang oppa juga belum siap..." Yesung menunduk malu, dan menyembunyikan wajahnya di lekukan lehar Ryeowook. Ryeowook tertawa lepas mendapati Yesung yang menggaruk tengkukknya sendiri.
"oppa...haha, gomawo untuk hari ini, dan juga cincin ini. Aku akan menjaganya..." Janji Ryeowook. Yesung mengencangkan pelukannya pada tubuh Ryeowook. Ia akan sabar menunggu saat dimana ia bisa memasangkan cincin itu di jari manis Ryeowook. Dia akan menunggunya.
Flasback off
Cincin itu, hingga kini masih setia menghiasi kalung yang tak pernah yeoja itu lepaskan. Dalam pelukan namja yang ia cintai itu, ia terus menyentuh dan mengelus cincin pemberian Yesung.
Bukankah ia sudah berjanji untuk tak pernah melepaskannya?
Dan janji itu sampai sekarang masih ia pegang.
Yesung menciumi wangi rambut Ryeowook dan sesekali menciumi ubun-ubun Ryeowook, satu hal yang sering ia lakukan dulu. Hingga beberapa menit, mereka masih berdiam diari dalam posisi semula. Saling berpelukan dan mengenang semua hal yang mereka lewati berdua. Semua itu adalah hal berharga yang mereka miliki. Sampai sebuah nada dering terdengar dari ponsel Ryeowook dan membangunkan keduany dari dunia khayalan mereka.
Ryeowook mengambil ponselnya yang terus saja berdering, padahal ia sengaja untuk tak mengangkatnya. Ia menatap layar ponselnya, mengetahui siapa yang yang menelponnya, Ryeowook sedikit tercekat. Ia mendongakkan kepala melihat Yesung bertanya apa yang harus ia lakukan.
"angkatlah..." Yesung memberi tanda kepada Ryeowook agar yeoja itu menjawab panggilan tersebut.
"Yeoboseyo?" Ucap Ryeowook dengan ragu.
"Ryeowook-ah...kau di mana?" tanya seseorang di sebrang sana. Dari nadanya ia terdengar khawatir.
"A..aku. aku...di rumah teman, di rumah sangat sepi. Eomma...dan Appa pergi, jadi aku memutuskan untuk mampir ke rumah temanku.." Bohong Ryeowook. Sebisa mungkin ia berbicara tanpa memperlihatkan kegugupannya karna telah berdusta.
"Apa perlu kau kujemput? Sudah hampir malam, dan sekarang masih hujan.. Dimana rumah temanmu?" Namja itu terdengar begitu antusias untuk menjemput Ryeowook. Yeoaj itu gelapapan.
ottoke?
apa yang harus kulakukan?
Ryeowook mengerjap-ngerjapkan matanya, memandang Yesung, meminta bantuan pada namja yang terus diam di sampingnya itu. Tapi Yesung mengangkat bahunya, tak mau ikut dalam kebohongan Ryeowook. Ia juga ingin tahu sejauh mana yeoja itu berusaha berbohong tentang keberadaanya di rumahnya itu, pada orang yang menelponnya.
"Andwae...tidak perlu Kyu, aku akan menginap disini."
"Jinjayo? apa kau baik-baik saja disana?"
"Ne...aku baik-baik saja disini. Gwenchana, tak perlu memikirkanku." Ryeowook tersnyum seolah senyumannya dapat di lihat oleh Kyuhyun. Ia sedkit bingung dengan keadaannya sekarang. Apa ia sedang berselingkuh?
Kenapa pikiran seperti ini selalu saja datang?
Jika bersama dengan Kyuhyun, ia merasa sudah menduakan Yesung.
Tapi, bersama Yesung pun ia merasa sedang mencampakkan Kyuhyun.
'Aissh...ini membingungkan' Batin Ryeowook. Ia menarik nafas panjang, menunggu jawaban dari Kyuhyun. Yesung yang berdiri diruangan yang sama dengannya terseyum geli melihat Ryeowook. Ia senang Ryeowook hari ini memilih untuk bersamanya.
"Euhmm..baiklah. Telpon aku jika kau butuh sesuatu..." Suara Kyuhyun terdengar tak yakin dengan semua kata-kata Ryeowook tadi, meskipun ia disebrang sana ia juga berusaha meyakinkan diri.
"Nee..."
"Ryeowook-ah.." Panggil Kyuhyun, sepertinya masih belum rela menutup telpon itu. "Sarang-"
Yesung buru-buru menutup telinga Ryeowook dengan kedua telapak tangannya ketika ia sadar apa yang akan di ucapkan Kyuhyun. Ia tak ingin ada namja lain yang mengatakan kata-kata "saranghae" pada Ryeowook selain dirinya. Hari ini hanya boleh ia yang mengucapkannya. Ryeowook sendiri tak bisa menahan tawa dengan tingkah Yesung yang begitu posesif padanya hari ini.
Ia melepaskan tangan Yesung di kedua sisi wajanya hanya untuk menutup telpon dari Kyuhyun.
"Ryeowook-ah...apa kau masih disana?"
"Ne Kyu..."
"Euhmm.. kalau begitu baiklah, Bye Ryeowook-ah..."
"Bye..Kyuhyun-ah..."
Ryeowook kembali tertawaa setelah menutup telpon dari Kyuhyun dan mentap Yesung. Apa ia tertawa senang karna telah membohongi Kyuhyun?
Tidak. Ia hanya tertawa mendapati Yesung yang menautkan kedua alisnya karna tak suka mendengar percakapan Ryeowook dan Kyuhyun yang sedikit mesra itu.
Kenapa Yesung harus cemburu?
Bahkan Ryeowook akan menikah dengan Kyuhyun suatu hari nanti.
Tapi, bukankah ia sudah mengatakannya tadi, ia ingin menjadi orang egois hari ini dan memiliki Ryeowook seutuhnya lagi.
"Oppa...kau itu. aish..." Ryeowook mencubit perut Yesung karna gemas.
"Malam ini kau adalah milikku Ryeowook-ah..." Yesung mengambil ponsel Ryeowook, melemparkannya ke sebuah sofa di ruangan itu, dan menarik Ryeowook ke dalam pelukannya. Ia memegang dagu Ryeowook, membawa wajah yeoja itu lebih dekat dengan wajahnya, menucmbunya dengan hingga yeoja itu susah untuk bernafas. Tapi Ryeowook tak menolak sedikit pun dan membalas ciuman Yesung dengan gairah yang sama. Dilingkarkan tangannya di leher Yesung dan sedikit berjinjit. Yesung melonggarkan sedikit kemejanya sebelum akhirnya mendekap Ryeowook lebih dalam. Ia ingin menjadikan Ryeowook miliknya malam ini.
Miliknya seutuhnya.
Bisakah?
Yesung termenung mentap Ryeowook yang kini masih tertidur dengan pulas. Ia duduk disamping tempat tidurnya, sedang jari-jarinya menyingkap sebagian poni yang menutupi mata Ryeowook. Ternyata ia masih punya hati semalam, dan tak membiarkan dirinya dikuasai keinginan untuk menyentuh Ryeowook.
Meskipun ingin, toh ia masih bisa berpikir dengan jernih untuk tak melakukan perbuatan yang akan membuatnya semakin tak bisa melepaskan Ryeowook. Perbuatan yang menuntut sebuah tanggung jawab nantinya, dan dia tak mungkin membiarkan Ryeowook nantinya sendiri menanggung semuanya bukan?
Semalam saat keduanya benar-benar tak bisa mengendalikan diri, Yesung lah yang pertama kali tersadar, bahwa yang mereka lakukan adalah salah. Dan apa yang Yesung sebut dengan "egois" juga tak bisa ia lakukan dengan gampangnya. Setelah melepaskan tautan bibirnya di bibir Ryeowook, Yesung membawa tubuh Ryeowook ke sebuah sofa dan memeluk yeoja itu hingga tertidur di pelukannya.
Ya. Hanya sebuah ciuman panas yang terjadi diantara mereka. Tak lebih. Bagaimana bisa dia meminta lebih pada yeoja yang akan ia relakan dengan namja lain itu.
Kembali mengalah pada keadaan. Kau bodoh atau apa Yesung?
Yesung beranjak dari duduknya, menatap ke arah jalan di luar rumahnya. Wangi embun pagi, dan sisa hujan semalam tercampur menjadi satu. Beberapa kali ia memandang Ryeowook yang masih tertidur di balik selimut sambil mengelilingi kamarnya.
Bagaimana ia bisa membiarkan Ryeowook tinggal di tempatnya yang kecil itu.
Dia tidak mungkin bisa membahagiakan Ryeowook. Dia juga ingin Ryeowook hidup dengan layak nantinya. Meskipun Ryeowook pernah mengatakan bahwa ia bisa menerima keadaan Yesung yang seperti itu. Tapi tetap saja ia tak bisa melihat yeoja itu nantinya tak bahagia jika bersamanya.
Yesung kembali duduk disamping Ryeowook, mengelus wajah yeoja itu untuk terakhir kalinya. Keputusannya sudah bulat. Ia yang akan pergi dari Ryeowook. Walau itu takkan semudah pemikirannya sekarang, setidaknya dia beranggapan bahwa yang ia lakukan juga demi kebaikan Ryeowook.
Yesung menundukkan kepalanya, mengecup pelan mata yeoja yang terbaring di depannya itu lembut. Air mata kembali menetes dari pelupuk matanya, padahal ia sudah sekuat tenaga menahannya.
"Mianhae Ryeowook-ah... oppa... tidak akan bisa membahagiakanmu. oppa akan benar-benar pergi sekarang. Berbahagialah... dengan Kyuhyun." Ujarnya lagi dengan suara terisak.
Ryeowook berjalan dengan langkah lemah, tatapannya kosong, seolah jiwanya tak berada di dalam tubuhnya. Kebimbangan kembali menguasai hati dan pikirannya. Ryeowook kembali teringat ketika di suatu pagi ia menemukan dirinya terbangun di kamarnya sendiri.
Apanya yang aneh?
Tentu saja aneh, karna seingatnya malam itu ia tertidur di rumah Yesung, dipelukan namja itu. Jadi bagaimana bisa ia berada di dalam kamarnya sendiri.
Apa Yesung yang mengantarkannya pulang tanpa sepengetahuan nya?
Entahlah, memikirkan itu membuatnya pusing.
Terlebih lagi saat ia membaca surat dari Yesung yang tergeletak begitu saja di bantalnya. Surat yang mengatakn bahwa Yesung akan benar-benar pergi dan menghilang dari hidupnya. Ryeowook tak kuasa menahan air matanya saat sadar bahwa malam itu adalah malam terkakhirnya bersama Yesung. Ia berlari keluar dari rumahnya untuk mencari Yesung, meskipun ia sendiri tak tahu dimana ia bisa menemukan Yesung. Ia terus berlari hingga akhirnya ikut menyerah pada keputusan namja yang dicintainya itu untuk benar-benar berpisah.
Ia benar-benar telah kehilangan Yesung.
Mengingat kejadian di pagi itu membuat Ryeowook sakit. Sudah lebih dari seeminggu kejadian itu berlalu, tapi ia masih mengingatnya dengan jelas.
Ryeowook menarik nafas panjang, menetralisirkan kegelisahan di hatinya.
Ia berdiri memandangi langit yang mulai kemerahan. Waktu terlalu cepat berlalu, hingga tak terasa ia sudah lama berdiri di tempat itu. Mata cantiknya tak lepas menatap aliran air Sungai Han di depannya. Ia tersenyum simpul, melihat aliran air sungai ternyata mampu menengangkan seperti terbawa masuk ke dalam dimensi yang berbeda.
Bukankah pemandangan Sungai Han di malam hari akan menjadi begitu indah?
Tiba-tiba saja terbesit suatu keinginan di dalam hatinya untuk berlama-lama disana, ia akan menunggu hingga matahari terbenam, dan langit Seoul berubah gelap. Sudah lama sekali ia tidak menikmati bias cahaya lampu yang terpantul di Sungai Han. Ia duduk di rumput hijau dengan kedua kakinya tejulur ke depan tanpa alas apapun, membiarkan angin sore meniup dan menyegarkan jiwanya.
"kau disini rupanya Ryeowook-ah, aku mencarimu daritadi..." Suara namja yang begitu dikenali oleh Ryeowook terdengar di telinganya. Tanpa menoleh untuk memastikan siapa itu, Ryeowook sudah mengetahui siapa namja yang berdiri di belakangnya tersebut.
Ryeowook masih tetap pada posisinya semula, tetap sibuk memandangi sungai di depannya, tak menggubris namja tadi yang kini telah duduk disampingnya.
"matahari masih akan terbenam satu jam lagi, apa kau masih ingin menunggunya?"
"heum.. itu bukan waktu yang lama, aku akan menunggu, aku masih ingin disini Kyuhyun-ah.. kau pulanglah."
"kalau itu mau mu...aku akan menemanimu."
Ryeowook tak menjawab lagi setiap perkataan Kyuhyun, lebih memilih diam. Dia bukan dengan sengaja mengacuhkan Kyuhyun. Hanya saja dia ingin memiliki waktunya sendiri sekarang. Kyuhyun yang juga perlahan mengetahui bagaimana sifat Ryeowook yang terkadang bisa begitu diam, mulai bisa memahaminya. Ya, bukankah sudah seharusnya begitu jika memang benar pernikahan mereka akan terjadi.
Kyuhyun yang sedari tadi memandangi wajah tenang Ryeowook, mulai mengalihkan pandangannya, menatap langit yang sama yang di pandangi Ryeowook. Ia tersenyum, meskipun yang mereka lakukan hanya lah berdiam diri, tapi itu sudah membuat Kyuhyun puas. Setidaknya dia bisa melihat Ryeowook dengan jarak yang sangat dekat untuk kesekian kalinya.
Perlahan semburat merah keemasan mulai memudar, matahari yang dengan gagahnya telah mengelilingi bumi seharian ini kini kembali ke peraduannya. Langit berubah gelap dalam hitungan detik. Diam-diam Kyuhyun kembali memandangi Ryeowook yang sepertinya masih belum bisa menarik diri dari dunianya sendiri. Ia menikmati setiap lekuk wajah Ryeowook.
Bukan kah dia cantik dengan tulang pipi yang tegas itu? dan bibir tipis yang dulu sempat ia rasakan manisnya. Kyuhyun tergoda untuk merasakannya lagi. Dengan kuat Kyuhyun menahan diri dari keinginannya itu, ia tak ingin membuat Ryeowook berpkir yang tidak-tidak nanti tentang dirinya. Ia berusaha memalingkan matanya dari wajah Ryeowook tapi ternyata hal itu begitu sulit. Sebelum sempat mengalihkan matanya, Ryeowook-lah yang terlebih dulu memergoki Kyuhyun sedang menatapnya dengan tatapan aneh.
"kenapa kau melihatku seperti itu? kau... menakutkan."
"ani...aku hanya. ahh.. apa kau tak kedinginan? pakailah..." Kyuhyun melingkarkan syal tebal yang dipakainya di sekitar leher Ryeowook.
"kenapa kau tidak pulang?"
"aku ingin menemanimu..." Kyuhyun memberikan senyumnya pada Ryeowook membuat yeoja itu tersipu.
"tapi...kau sudah kelihatan lelah, dan lihat tubuhmu kurus sekali..." Ryeowook memperhatikan tubuh Kyuhyun yang sepertinya telah ditempa begitu keras oleh si empunya.
"apa kau mengkhawatirkan ku?" tanya Kyuhyun penasaran melihat wajah cemas Ryeowook dan Ryeowook mengangguk. "kalau begitu kau harus secepatnya menikah denganku."
Ryeowook terdiam. Sebesar itukah harapan Kyuhyun padanya? Tapi ia tidak tahu harus bagaimana. Bayangan Yesung masih terus terlihat jelas di matanya, meskipun ia tak bisa mengelak perlahan Kyunyun mulai menempati ruang dihatinya. Sekali lagi, Ryeowook membenci posisinya saat ini.
Apa ia bisa membalas semua cinta yang Kyuhyun berikan nantinya?
Kyuhyun menundukkan kepalanya, tersenyum kecut di dalam hati, bahkan hingga kini Ryeowook masih belum bisa membalas cintanya yang sepenuh hati itu. Ia berdiri dan beranjak ke tepian sungai.
"kau tahu Ryeowook-ah.. menunggu itu, benar-benar membosankan. Dan ini lah yang aku lakukan jika aku merasa bosan." Kyuhyun mengambil sebuah batu kecil dan melemparkannya ke dalam sungai, membuang kekesalannya. Ryeowook yang merasa tersindir dengan kata-kata Kyuhyun hanya bisa menatap punggung namja itu sedih.
"Mianhae Kyu..." Lirihnya. Kyuhyun memutar sedikit badannya melihat mata Ryeowook yang berkaca-kaca. Ia tak bisa melihat Ryeowook bersedih lagi, dan itu lagi-lagi karnya.
Apa Kyuhyun lupa dengan kata-katanya sendiri bahwa ia akan menunggu Ryeowook sampai kapan pun? Tapi tentu saja ia tak bisa begitu terus bukan?
"Ryeowook-ah..." panggilnya ingin memeluk yeoja itu. Kyuhyun mendekati Ryeowook dan merapatkan tubuhnya ke tubuh Ryeowook. "maafkan aku... aku, selalu memaksamu untuk membalas cintaku. Aku tahu itu semua butuh waktu.. hanya saja aku..."
"ssstt...Kyuhyun-ah. Gwenchana... kau, tak salah dalam hal ini. Hanya berikan aku waktu untuk itu..." Ryeowook sedikit memohon, meminta Kyuhyun untuk sekali lagi memaklumi ketidak-siapan hatinya.
Tiba-tiba Ryeowook tersenyum. Ia berjalan ke tepian sungai. Ia juga melakukan hal yang Kyuhyun lakukan, melemparkan batu kecil ke arah sungai dengan keras.
"kenapa batu yang kulemparkan langsung tenggelam? kenapa tidak melompat-lompat dulu di permukaan air seperti punyamu?" Ryeowook mengerucutkan bibirnya dan memiringkan kepala menghadap Kyuhyun. Kyuhyun tercengang melihat tingkah Ryeowook yang selalu berhasil membuatnya bingung. Dalam hitungan detik mood-nya tiba-tiba saja bisa berubah. Bahkan wajah sedihnya tadi kini tak terlihat lagi.
"Kyu...ayo lempar lagi batunya. aku ingin melihatnya sekali lagi..." Ryeowook merajuk. Kyuhyun hanya bisa menurutinya dan menerima batu kecil yang dberikan Ryeowook. Sekali lagi Ryeowook berteriak heboh melihat batu yang dilemparkan Kyuhyun seperti sedang beratraksi di permukaan sungai.
'Wooww...bagiamana kau melakukannya. Ajari aku!" Kyuhyun membulatkan mata mendengar pemintaan Ryeowook. Apa nya yang harus ia ajarkan?
Kyuhun menggaruk tengkuknya bingung. Yeoja didepannya itu menampakkan mimik lucu, membuat Kyuhyun tak sanggup menahan diri untuk tidak mencubit pipinya.
"Ne... kemarilah... kau harus melakukannya seperti ini." Kyuhyun memutar tubuh Ryeowook dan berdiri di belakangnya. Tangan kirinya melingkar di tubuh Ryeowook, sedangkan satu tangannya lagi memegang tangan Ryeowook yang menggengam sebuah batu. Ia membantu Ryeowook memringkan tubuh ke samping dan memberi aba-aba kapan Ryeowook harus melemparkan batu tersebut ke arah sungai.
Cara itu memang berhasil, dan Ryeowook berteriak senang ketika melakukannya. Tapi saat mencobanya sendiri tanpa bantuan Kyuhyun, lagi-lagi ia hanya membuat batu itu tenggelam begitu saja. Akhirnya Kyuhyun juga harus turun tangan demi menyenangkan hati Ryeowook yang selalu menekuk wajah setiap ia gagal melihat batu itu memantukan diri di air.
Aneh memang.
Sebenarnya mereka juga tidak tahu apa yang mereka kerjakan?
Hanya menghabiskan separuh waktu mereka untuk menutupi rasa sakit. Kyuhyun tersenyum memperhatikan tingkah Ryeowook yang seperti anak kecil itu. Tanpa sebab apapun Ryeowook bisa berteriak girang. Inilah sosok Ryeowook yang ia cintai, seorang yeoja yang selalu tersenyum ceria.
Tangan Kyuhyun terangkat satu ingin meraih tubuh Ryeowook dan memeluknya. Pasti ia akan sangat bahagia memeluk yeoja itu ketika ia sedang tertawa lepas seperti ini, bukan hanya memeluknya ketika bersedih. Dengan tiba-tiba Kyuhyun mendekap Ryeowook dari belakang. Ryeowook terperanjat saat menemukan tangan Kyuhyun melingkar di sekitar tubuhnya. Yeoja itu kembali mematung karna merasakan hempusan nafas Kyuhyun di lehernya.
"Tak apa kan jika aku memelukmu seperti ini?" Bisik Kyuhyun di telinga Ryeowook. Ia membenamkan wajahnya di lekukan leher Ryeowook, mencuri kehangatan dari tubuh yeoja itu.
"Kyu..."
"Euhmm...? kenapa?" Kyunyun mendongkan kepala untuk melihat Ryeowook yang memanggilnya tadi.
"aniyo..."
"Ryeowook-ah..."
"Ne..." Ryeowook menjawab panggilan Kyuhyun dengan bingung. Ryeowook dan Kyuhyun saling bertatapan dengan kecanggungan diantara mereka. Ryeowook terseyum geli saat menyadari tingkah mereka yang aneh sedari tadi. Begitu juga dengan Kyuhyun.
Apa-apaan sih mereka itu?
Kenapa hanya saling memanggil nama mereka satu sama lain dan berpandangan aneh begitu.
'aigooo...' Ryeowook memegang kedua sisi wajahnya yang terasa panas.
"Ryeowook-ah..." Panggil Kyuhyun sekali lagi.
"Euhm...?"
"Suatu hari nanti... bisa kah aku mendengarmu mengatakan padaku bahwa kau menicintaiku?"
"Kyu...aku.." belum sempat Ryeowook meneruskan kata-katanya, Kyuhyun sudah terlebih dulu menyelanya.
"walau hanya sekali... dan, aku akan menunggu dengan sabar hari itu..." Senyum Kyuhyun memastikan ia takkan memaksa Ryeowook lagi. Dan diikuti sebuah anggukan dari Ryeowook. Ia tidak tahu kapan itu bisa terjadi.
Tapi bukankah cinta pada akhirnya bisa datang dengan sendirinya?
Ya. Ia hanya bisa menyerahkan semuanya pada takdir yang sering mempermainkan nya. Membiarkan waktu yang menjawab pada siapa akhirnya ia bersama.
Tbc...
Mianhae FF nya semakin gaje, dan lama updatenya...#bow...
